Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2023

Menemukan Ide dan Makna di Balik Rasa Bosan

      Photo by Kathy Jones Pernah gak Puan merasa sangat gatal ingin merogoh tas dan mencari ponsel padahal cuma sedang mengantre kasir selama satu menit? Atau mungkin saat lampu merah, tangan otomatis mencari ponsel seolah-olah menunggu 30 detik tanpa melakukan apa-apa itu sangat menyiksa?   Di zaman sekarang, rasanya aneh ya kalau kita tidak memegang ponsel meski hanya sebentar. Namun, tahukah Puan? Ternyata rasa bosan yang selama ini kita hindari habis-habisan itu adalah hal yang justru kita butuhkan.   Apakah Lebih Baik Kesetrum daripada Bosan? Ada eksperimen unik dari Harvard, Puan. Orang-orang diminta duduk diam di ruangan kosong selama 15 menit tanpa alat komunikasi. Pilihannya cuma dua, duduk diam dengan pikirannya sendiri, atau menekan tombol yang akan memberikan sengatan listrik kecil yang menyakitkan. Hasilnya mengejutkan! Mayoritas orang lebih memilih untuk menyengat diri sendiri dengan listrik daripada harus berlama-lama dengan kebosanan mereka. Bay...

Spotlight Effect : Seakan-akan Diperhatikan Oleh Banyak Mata, Padahal Mah… Belum Tentu!

Pernahkan Puan berada di suatu tempat keramaian seperti foodcourt dan hendak memesan makanan namun, secara tidak sengaja Puan menyenggol gelas di sekitar Puan dan gelas tersebut pecah. Lalu ketika sibuk membersihkan gelas tersebut, Puan Bisa merasa bahwa sorotan orang-orang di sekitar memperhatikan Puan secara seksama dan seketika Puan Bisa mendadak kaku akibat perasaan tersebut. Pernah mengalami hal tersebut? Jika pernah, hal tersebut dinamakan spotlight effect atau efek sorotan. Spotlight effect merupakan suatu fenomena dimana Puan Bisa berpikir bahwa semua orang memperhatikan Puan. Fenomena ini telah dikenal dalam ilmu psikologi sejak tahun 2000, persisnya ketika Thomas Gilovich, Victoria Husted Medvec, dan Kenneth Savitsky meluncurkan studi dengan judul “The Spotlight Effect in Social Judgment: An Egocentric Bias in Estimates of The Salience of One’s Own Actions and Appearance” Seorang dosen psikologi di University of California, Berkeley, Amerika Serikat bernama Rodolfo Mendoza...

Society’s Standards, Haruskah Kita Sempurna?

“Society’s Standards”. Pernahkah Puan mendengar istilah ini? Gampangnya, society’s standards adalah suatu standar yang dijadikan acuan seseorang dalam melakukan sesuatu. Society’s standards biasanya memegang prinsip kesempurnaan. Oleh karena itu, sebagian besar dari Puan Bisa pasti pernah merasakan tekanan dari society‘s standards . Tekanan yang kita rasakan akibat society‘s standards sudah sering kita rasakan bahkan sebelum kita mengenal kata “sempurna”. Banyak dari Puan pasti pernah didorong untuk menjadi seseorang yang bukan diri kita hanya untuk bisa beradaptasi dalam society . Society menginginkan kita untuk menjadi sempurna. Puan harus menjadi pintar, lucu, cantik, berbakat, dan masih banyak lagi terkadang hanya untuk bisa diterima di suatu lingkungan. Puan percayalah, bertahan di lingkungan seperti itu sangatlah tidak sehat. Banyak orang melakukan hal yang tidak mereka ingin lakukan agar bisa diterima dalam sebuah society . Seperti mengubah opini, gaya rambut, fitur wajah, dan...