Ilustrasi: magnific.com Puan pernah gak, merasa teman-teman lain sudah mencapai banyak goals hidup mereka, sedangkan Puan justru merasa hilang arah dan masih mencari tahu ingin mencapai hal apa? Semua perasaan itu mungkin terasa familiar bagi banyak anak muda. Kita hidup di tengah masyarakat dengan harapan atau ekspektasi yang tinggi. Tanpa kita sadari, pencapaian orang lain justru bisa menjadi standar untuk mengukur diri sendiri. Padahal, setiap orang punya waktu dan potensinya masing-masing. Our Unwritten Seoul , sebuah drama korea yang ceritanya sangat relate dengan anak muda saat ini, bisa jadi tontonan ringan yang pastinya meninggalkan kesan mendalam bagi Puan. Kisah dua saudara kembar, yaitu Yoo Mi-ji dan Yoo Mi-rae dalam drama ini mengajarkan bahwa berdamai dengan diri sendiri adalah proses panjang yang butuh keberanian. Berhenti Membandingkan Diri Drama ini menunjukkan bahwa kehidupan seseorang tidak selalu baik seperti apa yang terlihat dari luar. Seseorang yang terlihat ...
Ilustrasi seseorang yang mengalami perfectionism paralysis (rri.co.id) Pernah nggak sih Puan punya ide tulisan atau tugas yang bagus banget di kepala, tapi begitu mau ngetik kalimat pertama, Puan malah diam berjam-jam? Puan terus-terusan rapihin format, milih font, atau mikirin kata pembuka yang paling pas, sampai akhirnya Puan capek sendiri dan memilih buat buka TikTok? Kalau pernah, Puan lagi ngerasain yang namanya Perfectionism Paralysis. Secara psikologis, perfeksionisme itu sering kali disguise alias penyamaran dari rasa takut gagal. Puan netapin standar yang sangat tinggi, lalu otak Puan merasa terintimidasi sendiri dengan standar itu. Karena takut hasilnya nggak sempurna atau takut dinilai jelek, otak akhirnya mengambil jalan pintas: mending nggak usah dikerjain sekalian. "Done is Better than Perfect" Kata-kata di atas mungkin bukan cuma kata-kata mutiara biasa, tapi penenang paling ampuh buat perfectionism paralysis. Padahal, prinsip utama self-improvement yang sehat...