Langsung ke konten utama

Postingan

This is Adulting: Makin Sibuk, Makin Sendirian

  Photo by Damla Karaağaçlı Pernah nggak sih Puan liat jadwal mingguan terus ngerasa bakalan sibuk karena isinya penuh? Mulai dari jadwal meeting kerjaan, janji nongkrong bareng temen, kelas olahraga, sampai acara keluarga, pokoknya sibuk banget deh. Tapi anehnya, begitu ada satu malam yang free , nggak ada deadline atau janji sama siapa pun, Puan malah ngerasa sendirian. Suasana kamar yang tenang malah bikin rasa sepi muncul gitu aja. Kalau Puan pernah atau lagi ngerasain ini , welcome to adulting! Ternyata, jadwal yang padat itu nggak otomatis bikin kebutuhan emosional kita terpenuhi. Kok bisa gitu, ya? Baca Juga: Menata Diri di Tengah Hidup yang Ramai   Kejebak di Lingkungan yang Sibuk Saat jadwal kita padat, kita emang terus-menerus dikelilingi orang. Tapi coba deh diingat-ingat lagi, interaksinya kayak gimana? Pasti kebanyakan cuma interaksi praktis, cepat, atau sekadar bahas kerjaan, tugas, dan obrolan basa-basi aja. Interaksi kayak gitu emang seru dan menyenangkan, t...
Postingan terbaru

LinkedIn dan Ilusi 'Semua Orang Sudah Lebih Maju'

  LinkedIn dan Ilusi 'Semua Orang Sudah Lebih Maju' Image by: Pinterest Di LinkedIn, Puan hampir setiap hari melihat kabar baik: diterima kerja, naik jabatan, lolos program bergengsi, atau menyelesaikan sertifikasi. Sekilas, semuanya tampak berjalan cepat dan terarah. Tanpa disadari, muncul perasaan bahwa orang lain sudah melangkah, sementara Puan masih di tempat yang sama. Padahal, yang ditampilkan sering kali hanyalah bagian terbaik dari perjalanan seseorang, bukan keseluruhan prosesnya. Ketika Timeline Jadi Tolok Ukur yang Tidak Adil Masalah mulai muncu ketika Puan menjadikan apa yang dilihat sebagai standar. Puan membandingkan proses yang masih berjalan dengan hasil akhir orang lain yang sudah dipoles rapi. Perbandingan ini tidak seimbang sejak awal. Akibatnya, rasa tertinggal itu bukan karena Puan benar-benar tidak berkembang, tetapi karena standar yang digunakan memang tidak realistis. Apa yang tampil di LinkedIn adalah "highlight", sementara yang Puan rasakan a...

Lagi Istirahat, tapi Malah Merasa Bersalah? Yuk, Kenalan Sama Rest Guilt

  Pernah nggak, Puan lagi rebahan setelah hari yang panjang, tapi bukannya merasa tenang, malah muncul rasa nggak nyaman? Rasanya seperti ada suara kecil di kepala yang bilang, “Harusnya aku lagi ngerjain sesuatu.” Atau mungkin, “Orang lain lagi produktif, kok aku malah santai?” Kalau iya, Puan nggak sendirian. Fenomena ini dikenal sebagai rest guilt , yaitu rasa bersalah saat beristirahat karena merasa belum cukup produktif, belum cukup bekerja keras, atau belum “layak” untuk berhenti sejenak. Di era hustle culture seperti sekarang, istirahat sering diposisikan seperti hadiah. Sesuatu yang baru boleh dinikmati setelah semua tugas selesai, target tercapai, dan checklist tercentang sempurna. Masalahnya, kapan semuanya benar-benar selesai? Baca Juga: https://puanbisa.blogspot.com/2026/03/tidak-semua-zona-nyaman-perlu.html   Kenapa Kita Merasa Bersalah Saat Istirahat? Banyak dari kita tumbuh dengan keyakinan bahwa sibuk adalah indikator kesuksesan. Semakin penuh jadwal kita, se...

The Power of Mengikhlaskan: Seni Melepaskan Tanpa Harus Kehilangan Arah

Ilustrasi Seseorang yang Melepaskan Suatu Dalam Hidupnya (tinybuddha.com) Pernah nggak sih Puan merasa capek banget, padahal seharian cuma rebahan? Bisa jadi yang capek bukan fisik Puan, tapi pikiran Puan yang lagi menggenggam sesuatu terlalu erat. Entah itu kenangan pahit, kegagalan masa lalu atau ekspektasi yang nggak kesampaian. Kita sering diajarkan untuk berjuang, bertahan, dan mengejar. Tapi jarang banget ada yang mengajarkan kita gimana caranya melepaskan. Padahal, ada kekuatan luar biasa di balik kata ikhlas atau melepaskan. The power of mengikhlaskan itu bukan soal menyerah, tapi soal memberi ruang baru untuk hal-hal yang lebih baik. Melepaskan Bukan Berarti Kalah Banyak orang salah arti, beberapa berpikir kalau Puan ikhlas, berarti Puan kalah atau lemah. Padahal, mengikhlaskan itu adalah tindakan paling berani yang bisa dilakukan manusia. Puan secara sadar memilih untuk berhenti berperang dengan kenyataan yang nggak bisa Puan ubah. Bayangkan Puan lagi memegang segenggam pasi...

Perempuan dan Overachievement Trap: Sisi Lain Produktivitas

  Pict by: Bustle.com Pernahkah Puan merasa sudah berusaha dengan maksimal, tetapi merasa performa yang ditampilkan kurang ataupun berusaha untuk mengejar ekspektasi agar bisa selalu dihargai?  Alih-alih merasa puas, Puan justru terus mendorong diri untuk melakukan hal-hal diluar batas diri Puan. Hal ini bukan karena tuntutan yang sudah jelas ada, melainkan ada dorongan untuk selalu memenuhi ekspektasi, baik diri sendiri maupun orang lain. Jika kondisi ini terasa familiar, bisa jadi Puan sedang berada dalam overachievement trap. Apa Itu Overachievement Trap ? Overachievement trap merupakan kondisi ketika seseorang terus berusaha mencapai level yang lebih tinggi, bukan karena kebutuhannya, melainkan merasa dirinya sebagai perempuan belum cukup layak dan dihargai oleh sekitar. Secara psikologis, kondisi ini berkaitan dengan perfeksionisme, terutama dipengaruhi oleh tekanan sosial.  Paul L. Hewitt dan Gordon L. Flett menjelaskan bahwa perfeksionisme yang berorientasi pada t...