Langsung ke konten utama

Postingan

The Worst Thing about Empathy is Losing Self-respect

Ilustrasi seseorang berempati dengan sesama. “When Im mad from my perspective but I can also see their perspective, so now Im carrying double emotional weight and being eaten away by my anger and empathy” Adakah Puan yang pernah merasa marah akan suatu keadaan, tetapi mencoba untuk mencari alasan lain untuk memahami permasalahan tersebut? Kalimat di atas adalah kalimat yang dapat menggambarkan situasi yang Puan alami.  Empathy Without Boundaries is a Self-destruction Empati adalah sikap memahami seseorang baik secara emosional maupun kondisional. Berempati kepada seseorang memang hal yang baik karena dapat mengurangi risiko gangguan kecemasan. Namun, bagaimana jika berempati tidak memiliki batasan? Jika berempati secara berlebihan, Puan akan terus mencoba untuk memahami dan menyenangkan orang lain tanpa peduli apa yang sebenarnya Puan inginkan. Lama-lama, Puan akan mulai kehilangan kemampuan untuk berempati kepada diri sendiri. Tindakan mengabaikan kebutuhan emosional Puan sendiri ...
Postingan terbaru

How Slowing Down Brings Connection Back to Life

  Why are we always in such a rush? Why couldn't we slow a little bit down? Di lingkungan yang serba cepat sekarang ini, slowing down menjadi hal yang terasa tidak produktif dan membuat gerak kita terasa lebih lambat dibandingkan orang lain. Mengapa bisa begitu, ya, Puan? Karena, kita hidup di mana deadlines selalu mengejar, media sosial selalu menemani dan memperlihatkan seseorang di luar sana jauh lebih baik, lebih produktif, dan lebih banyak pencapaian; membuat kita merasa tak seharusnya slowing down di saat orang lain berusaha lebih keras untuk mendapat apa yang mereka inginkan, dengan kata lain, membuat kita merasa tertinggal jika slowing down . Either way, what if all of that is just our worrying mind? what if reality presents its opposite? What if it's literally okay to just try to slow down; to have the ability in living life more fully and peacefully. Why Slowing Down Matters Seperti yang dikatakan Edward Yu (2010, p.7) dalam bukunya The Art of Slowing Down : "W...

Satu Buket, Banyak Cerita : Puan Bisa Hadirkan Pengalaman Kreatif untuk Perempuan Muda

Keseruan Learning Space bersama Kak Azza pada Minggu (24/5) 24 Mei 2026 - Puan Bisa kembali hadirkan Learning Space bertema “ Artificial Flower Market & Self - Workshop : Arrange Your Own Growth ” pada Minggu (24/5) di Kopi Lupi. Mengundang Kak Azza, Owner dari BQ Florist sebagai pembicara, workshop ini berhasil menjangkau 24 peserta dari kawasan Jabodetabek. Menggaet BQ Florist sebagai kolaborator, Learning Space kali ini memberikan pengalaman kreatif dengan merangkai bunga secara mandiri.  Mengusung tema Bloom Your Story , peserta diajak memilih sendiri bunga yang ingin dirangkai sesuai dengan karakter dan preferensi masing - masing individu. Sebelum sesi dimulai, peserta mendapatkan tutorial langsung dari Kak Azza agar dapat memahami teknik dasar merangkai bunga sebelum menciptakan karya mereka sendiri. Salah satu peserta, Kak Friska, membagikan pengalaman berkesan selama mengikuti workshop ini, “First time, aku bikin bunga buket dan tentunya disini banyak pilihannya. dan...

Katanya Harus Cari Passion, Tapi Kok Malah Makin Bingung?

 " Cari passion dulu, baru cari kerja.” Kalimat itu mungkin sering Puan dengar. Dari dosen, orang tua, sampai konten di media sosial. Tapi bukannya merasa tercerahkan, banyak dari kita justru jadi bertanya-tanya, “Kalau aku belum tahu passion-ku, berarti aku belum siap memulai karier?” Kalau Puan pernah berpikir seperti itu, tenang. Puan nggak sendirian. Faktanya, membangun karier nggak selalu dimulai dengan menemukan passion. Justru, banyak orang baru benar-benar menemukan apa yang mereka sukai setelah berani mencoba berbagai pengalaman. Passion Nggak Selalu Datang di Awal Belakangan, topik tentang passion dan karier semakin sering dibahas, terutama oleh Gen Z. Namun, menurut Kompas.com, memilih karier bukan hanya soal mengikuti passion , tetapi juga mempertimbangkan peluang berkembang, kondisi finansial, dan tujuan hidup.   Artinya, nggak ada satu rumus yang berlaku untuk semua orang. Kalau hari ini Puan masih bingung menentukan arah, itu bukan berarti Puan tertinggal....

When Your Brain Says “Enough”: Mengenal Overstimulation dan Penyebabnya

Pernah nggak, Puan merasa lelah dengan aktivitas sekitar? Merasa energi terkuras oleh hal-hal yang telah Puan lakukan? Bisa jadi, Puan mengalami overstimulation : suatu kondisi ketika seseorang merasa terlalu lelah akibat banyaknya interaksi sekitar. Ibarat gelas yang terus dituangi air sampai tumpah, kita juga bisa merasa kewalahan. Kondisi ini biasanya dapat membuat seseorang merasa lelah secara emosi maupun fisik, mudah marah, sulit fokus, hingga merasa ingin menjauh sejenak dari keadaan sekitar yang menunjukkan bahwa diri sudah melebihi batas energi. Apa yang menjadi pemicu overstimulation ? Social Media yang Berlebihan Di era sekarang, media sosial telah menjadi bagian dari hidup layaknya makanan yang harus dikonsumsi setiap waktunya. Bo Han (2018), menunjukkan kondisi media burn-out , dimana seseorang merasa lelah dan terputus dari lingkungan sekitarnya secara daring maupun luring. Banyaknya Tekanan Deadlines , ekspektasi, hingga tekanan emosi yang menumpuk dan menjadi cemas, st...

Belajar Mendefinisikan Arti Sukses dan Bahagia Melalui Kisah "Little Women"

  Sering gak sih Puan ngerasa lelah sama standar dunia yang menuntut kita harus selalu kelihatan menonjol dan punya pencapaian besar? Standar ini kadang malah bikin kita cemas dan asing sama diri sendiri. Kalau Puan lagi ada di fase penuh tekanan itu, yuk coba intip sudut pandang dari kisah klasik Little Women lewat karakter yang paling berkesan. Antara Ambisi dan Rasa Sepi Jo adalah cerminan perempuan mandiri yang fokus mengejar mimpi tanpa peduli aturan di zaman itu. Tapi, ada momen disaat Jo menangis dan bilang “"Women, they have minds, and they have souls, as well as just hearts. And they’ve got ambition, and they’ve got talent, as well as just beauty. And I’m so sick of people saying that love is all a woman is fit for. But I’m so lonely.” Dari Jo kita belajar, jadi perempuan kuat bukan berarti gak boleh ngerasa rapuh. Wajar banget kalau di tengah kesibukan mengejar mimpi, Puan tiba-tiba merasa sepi. Mengakui rasa sepi bukan berarti lemah, melainkan tanda kita jujur pada diri...

80% Hasil Bisa Datang dari 20% Usaha. Kok Bisa?

  Puan pernah ngerasa nggak udah sibuk seharian, tapi ketika hari berakhir, masih berasa nggak banyak hal yang benar-benar bergerak maju? Tugas udah dikerjakan, notifikasi udah dibalas, jadwal penuh, tapi tujuan yang ingin dicapai rasanya masih jauh. Kalau pernah, mungkin masalahnya bukan karena Puan kurang kerja keras. Bisa jadi, Puan hanya belum memfokuskan energi pada hal yang paling berdampak.  Konsep ini dikenal sebagai Pareto Principle atau prinsip 80/20, sebuah gagasan yang diperkenalkan oleh ekonom Italia, Vilfredo Pareto. Secara sederhana, prinsip ini menjelaskan bahwa sekitar 80% hasil yang kita peroleh sering kali berasal dari 20% usaha atau aktivitas yang paling penting. Tentu saja angka 80 dan 20 bukan aturan yang mutlak. Namun, prinsip ini mengingatkan bahwa nggak semua hal memiliki pengaruh yang sama. Ada beberapa aktivitas yang memberi dampak jauh lebih besar dibandingkan yang lainnya. Baca Juga: Manajemen Waktu Gak Cuma Soal Jam, Tapi Energi Juga! Apa Artinya...