Langsung ke konten utama

Perfectionism Paralysis: Saat Keinginan Jadi Sempurna Malah Bikin Puan Nggak Mulai-Mulai

Ilustrasi seseorang yang mengalami perfectionism paralysis (rri.co.id) Pernah nggak sih Puan punya ide tulisan atau tugas yang bagus banget di kepala, tapi begitu mau ngetik kalimat pertama, Puan malah diam berjam-jam? Puan terus-terusan rapihin format, milih font, atau mikirin kata pembuka yang paling pas, sampai akhirnya Puan capek sendiri dan memilih buat buka TikTok? Kalau pernah, Puan lagi ngerasain yang namanya Perfectionism Paralysis. Secara psikologis, perfeksionisme itu sering kali disguise alias penyamaran dari rasa takut gagal. Puan netapin standar yang sangat tinggi, lalu otak Puan merasa terintimidasi sendiri dengan standar itu. Karena takut hasilnya nggak sempurna atau takut dinilai jelek, otak akhirnya mengambil jalan pintas: mending nggak usah dikerjain sekalian. "Done is Better than Perfect" Kata-kata di atas mungkin bukan cuma kata-kata mutiara biasa, tapi penenang paling ampuh buat perfectionism paralysis. Padahal, prinsip utama self-improvement yang sehat...

Saat Amarah Terasa Penuh, Bergerak Bisa Membantu

Puan Bisa - Saat Amarah Terasa Penuh, Bergerak Bisa Membantu

Marah adalah emosi yang sangat manusiawi. Setiap orang pasti pernah mengalaminya, entah karena kekecewaan, tekanan, atau hal-hal kecil yang menumpuk dalam keseharian.

Seringkali kita berusaha menahan amarah dan mencoba tetap terlihat tenang atau bahkan berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Akan tetapi, ketika emosi dipendam, hal itu justru bisa membuat perasaan jadi lebih berat dan memenuhi pikiran. 

Baca Juga: Emotional Agility: Cara Bijak Mengelola Emosi 

Di saat seperti itu, bergerak atau berolahraga mungkin dapat membantu menenangkan diri. 

Mengapa Bergerak Bisa Membantu? 

Aktivitas fisik nggak cuma bermanfaat bagi kesehatan tubuh, tapi juga berpengaruh pada kondisi mental dan emosional. Ketika Puan berolahraga, tubuh akan melepaskan hormon seperti endorfin yang membantu meningkatkan suasana hati dan membuat tubuh merasa lebih rileks. karena Olahraga dapat menurunkan tingkat hormon stres dalam tubuh, sehingga aktivitas fisik sering dikaitkan dengan berkurangnya stres, kecemasan, dan emosi negatif (Harvard Health Publishing, 2021; WHO, 2022). 

Gerakan sederhana seperti berjalan kaki, berlari ringan, bersepeda, atau melakukan peregangan dapat membantu tubuh melepaskan ketegangan yang sebelumnya terasa menumpuk. Dengan bergerak, energi yang sebelumnya terasa “tertahan” dalam tubuh dapat tersalurkan secara lebih sehat. Napas menjadi lebih teratur, tubuh terasa lebih ringan, dan pikiran perlahan mulai lebih jernih. 

Memberi Ruang untuk Emosi

Ketika marah, kita sering merasa seolah energi dalam diri menjadi sangat penuh. Bergerak bisa menjadi cara untuk menyalurkan energi tersebut secara lebih sehat. Dalam hal ini, olahraga bukan tentang mencapai target tertentu, tapi sebagai momen untuk memberi ruang pada tubuh dan pikiran agar kembali seimbang. 

Beberapa orang memilih berjalan sambil mendengarkan musik. Ada juga yang merasa lebih tenang setelah jogging atau melakukan peregangan. Bentuknya bisa berbeda bagi setiap orang, tapi tujuannya sama, yaitu memberi tubuh kesempatan untuk melepaskan ketegangan.

Belajar Mengenali dan Mengelola Emosi

Mengelola kemarahan bukan berarti menolak atau menekan emosi tersebut. Justru, penting bagi Puan untuk mengenali perasaan yang muncul dan mencari cara yang sehat untuk menyalurkannya. 

Bergerak atau berolahraga bisa menjadi salah satu cara untuk memberi ruang bagi tubuh dan pikiran agar kembali seimbang. Setelah bergerak, seringkali Puan dapat melihat situasi dengan perspektif yang lebih tenang dan jernih. 

Pada akhirnya, Puan nggak harus selalu memiliki jawaban atas setiap hal yang membuat diri Puan marah. Terkadang, langkah kecil seperti bergerak, bernapa, dan memberi waktu untuk diri sendiri cukup untuk membantu Puan kembali tenang. 


Referensi:

Harvard Health Publishing. (2021). Exercise is an all-natural treatment to fight depression.

World Health Organization. (2022). Physical Activity and Mental Health.

WikiHow. Melampiaskan Kemarahan dengan Berolahraga.


Author & Editor: Daru Sekar Arum


Sekilas Tentang Puan Bisa

Puan Bisa adalah komunitas perempuan muda yang mendukung pengembangan karir, self-improvement, dan mental health. Sejak pertama kali didirikan tanggal 1 Oktober 2020 sampai saat ini, Puan Bisa aktif melakukan kegiatan kreatif dan edukatif yang dilakukan dengan tujuan meningkatkan kesadaran perempuan muda (khususnya usia 16-23 tahun) dalam mengembangkan kemampuan dan rasa cinta akan dirinya.

Komentar

Rubik Puan Popular

How to Find Your Spark Again, One Little Thing at a Time

Pernah nggak, Puan merasa dulu ada banyak hal yang bisa bikin Puan excited , tapi sekarang hal-hal itu terasa nothing special? Dulu bisa berjam-jam ngelakuin hal yang disuka, sekarang baru beberapa menit sudah ingin berhenti. Dulu punya banyak hal yang ingin dicoba, sekarang ditanya “lagi suka kegiatan apa?” malah bingung mau jawab apa. Puan masih menjalani aktivitas seperti biasa, kuliah, kerja, mengerjakan tugas, ketemu temen, scrolling media sosial. Everything seems fine. Tapi somehow, ada bagian dari diri Puan yang terasa berbeda. Seolah-olah spark yang dulu membuat hari-hari terasa lebih hidup perlahan menghilang.  Dan mungkin, Puan mulai bertanya-tanya, “What happened to me?”  1. Stop Trying to Become Your Old Self Ketika merasa kehilangan spark , kita sering kali ingin kembali menjadi diri kita yang dulu. Padahal, Puan udah melewati banyak hal sejak saat itu. Wajar kalau ada bagian dari diri Puan yang berubah. Karena itu, menemukan kembali spark bukan berarti harus meng...

Rasa Bosan Bisa Dijadikan Teman? Ini Manfaat Boredom yang Jarang Disadari

Sumber:  Magnific   Puan pernah nggak langsung membuka TikTok, Instagram, atau X hanya karena timbul rasa bosan akibat menunggu sesuatu? Kebiasaan seperti ini sangat umum terjadi karena otak Puan terbiasa mencari stimulasi setiap kali ada waktu kosong.  Mungkin, Puan sering kali menganggap rasa bosan sebagai sesuatu yang buruk, sehingga banyak dari Puan yang yang berlomba-lomba untuk menghilangkan perasaan tersebut dengan menjadi produktif Alih-alih mencerminkan bahwa diri Puan tidak produktif, rasa bosan dapat memberi kesempatan bagi otak untuk beristirahat dari banyaknya informasi yang silih berdatangan, memunculkan ide baru, hingga membantu Puan mengenali apa yang benar-benar bermakna.  Oleh karena itu, sesekali merasa bosan bukanlah hal yang buruk, selama terjadi dalam kadar yang wajar. Jika Puan merasa demikian, lalu Puan  tahu nggak sih apa itu boredom dan fakta lain dari boredom yang mungkin belum Puan ketahui. Apa Itu Boredom? Dalam psikologi, boredom a...

Takut Nggak Konsisten? Perfeksionis yang Bikin Gak Mulai-Mulai

Pernah nggak sih Puan berpikir, “Nanti dulu deh, aku mulai pas bisa rutin,” lalu hari berganti minggu, dan rencana itu tetap di daftar? Kalau iya, mungkin bukan soal niat Puan yang kurang, melainkan standar Puan yang kebanyakan. Perfeksionisme sering muncul sebagai suara kecil yang bilang, “kalau nggak bisa konsisten tiap hari, mending jangan mulai sama sekali. Ironisnya, sikap itu justru bikin kita nggak pernah benar-benar jalan.”  Banyak dari kita kepikiran, “kalau nggak bisa konsisten tiap hari, mending jangan mulai.” Takut bolong atau melewatkan satu atau beberapa hari dari target yang dipasang, takut malu, takut dikatain nggak disiplin. Jadi kita menunggu kondisi ideal, mood sempurna, jadwal bersih, semua alat siap, padahal kondisi ideal itu jarang datang. Akhirnya banyak proyek, kebiasaan, atau ide baik yang mati di awal karena diperlakukan seperti syarat kelulusan, bukan proses.  Masalahnya, konsistensi itu bukan syarat yang harus dipenuhi sebelum mulai. Konsistensi dib...

Perfectionism Paralysis: Saat Keinginan Jadi Sempurna Malah Bikin Puan Nggak Mulai-Mulai

Ilustrasi seseorang yang mengalami perfectionism paralysis (rri.co.id) Pernah nggak sih Puan punya ide tulisan atau tugas yang bagus banget di kepala, tapi begitu mau ngetik kalimat pertama, Puan malah diam berjam-jam? Puan terus-terusan rapihin format, milih font, atau mikirin kata pembuka yang paling pas, sampai akhirnya Puan capek sendiri dan memilih buat buka TikTok? Kalau pernah, Puan lagi ngerasain yang namanya Perfectionism Paralysis. Secara psikologis, perfeksionisme itu sering kali disguise alias penyamaran dari rasa takut gagal. Puan netapin standar yang sangat tinggi, lalu otak Puan merasa terintimidasi sendiri dengan standar itu. Karena takut hasilnya nggak sempurna atau takut dinilai jelek, otak akhirnya mengambil jalan pintas: mending nggak usah dikerjain sekalian. "Done is Better than Perfect" Kata-kata di atas mungkin bukan cuma kata-kata mutiara biasa, tapi penenang paling ampuh buat perfectionism paralysis. Padahal, prinsip utama self-improvement yang sehat...

Apakah Kamu Punya Cinderella Syndrom? Ini Tandanya!

  Illustrasi oleh Green Maggot Puan pasti tahu film Cinderella kan? Tentunya Puan udah nggak asing lagi sama kisah dongeng klasik ini. Selain di film, istilah Cinderella  juga dikenal di dunia nyata loh, yaitu sindrom Cinderella Complex. Yuk! Kita cari tahu lebih lanjut tentang Cinderella Complex  dan tanda-tandanya! Apa itu Cinderella Complex ? Cinderella Complex  pertama kali diperkenalkan oleh Colette Dowling, seorang terapus dalam bukunya " The Cinderella Complex: Women's Hidden Fear of Independence ". Cinderella Complex  adalah sikap dan rasa takut (tertekan) yang dialami perempuan, sehingga perempuan tidak berani memanfaatkan sepenuhnya kemampuan otak dan kreativitasnya (Dowling, 1995). Sindrom Cinderella Complex  tanpa sadar membuat perempuan ingin diurus oleh orang lain sehingga sangat ketergantungan dan nyaris tidak bisa hidup mandiri. Meskipun belum bisa dikategorikan sebagai gangguan secara psikologis, sindrom Cinderella Complex  ada kaitann...