Langsung ke konten utama

Phubbing: Kebiasaan Buruk yang Menurunkan Kualitas Interaksi dengan Lawan Bicara

Ilustrasi seseorang yang merasakan phubbing. (halodoc.com) Di era digital seperti sekarang, HP telah menjadi bagian yang sulit dipisahkan dari kehidupan sehari-hari. Bahkan, hampir sepanjang waktu tangan kita tidak terlepas dari HP. Meski memberikan kemudahan dalam berkomunikasi dan mengakses informasi, penggunaan HP yang berlebihan juga dapat memengaruhi kualitas interaksi dengan orang di sekitar.  Salah satu perilaku yang semakin sering ditemui adalah phubbing , yaitu kebiasaan lebih fokus pada smartphone daripada orang yang sedang diajak berbicara secara langsung. Apa Itu Phubbing? Sederhananya, phubbing merupakan perilaku mengabaikan lawan bicara yang sedang berada di hadapan kita dengan sibuk menyibukkan perhatian pada HP. Perilaku ini tentunya tidak mencerminkan etika berkomunikasi yang baik, loh Puan. Dalam kehidupan sehari-hari, bentuk perilaku phubbing tidak hanya digambarkan dengan seseorang yang sibuk membalas chat . Adapun kebiasaan lainnya, seperti membuka media sosia...

Saat Amarah Terasa Penuh, Bergerak Bisa Membantu

Puan Bisa - Saat Amarah Terasa Penuh, Bergerak Bisa Membantu

Marah adalah emosi yang sangat manusiawi. Setiap orang pasti pernah mengalaminya, entah karena kekecewaan, tekanan, atau hal-hal kecil yang menumpuk dalam keseharian.

Seringkali kita berusaha menahan amarah dan mencoba tetap terlihat tenang atau bahkan berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Akan tetapi, ketika emosi dipendam, hal itu justru bisa membuat perasaan jadi lebih berat dan memenuhi pikiran. 

Baca Juga: Emotional Agility: Cara Bijak Mengelola Emosi 

Di saat seperti itu, bergerak atau berolahraga mungkin dapat membantu menenangkan diri. 

Mengapa Bergerak Bisa Membantu? 

Aktivitas fisik nggak cuma bermanfaat bagi kesehatan tubuh, tapi juga berpengaruh pada kondisi mental dan emosional. Ketika Puan berolahraga, tubuh akan melepaskan hormon seperti endorfin yang membantu meningkatkan suasana hati dan membuat tubuh merasa lebih rileks. karena Olahraga dapat menurunkan tingkat hormon stres dalam tubuh, sehingga aktivitas fisik sering dikaitkan dengan berkurangnya stres, kecemasan, dan emosi negatif (Harvard Health Publishing, 2021; WHO, 2022). 

Gerakan sederhana seperti berjalan kaki, berlari ringan, bersepeda, atau melakukan peregangan dapat membantu tubuh melepaskan ketegangan yang sebelumnya terasa menumpuk. Dengan bergerak, energi yang sebelumnya terasa “tertahan” dalam tubuh dapat tersalurkan secara lebih sehat. Napas menjadi lebih teratur, tubuh terasa lebih ringan, dan pikiran perlahan mulai lebih jernih. 

Memberi Ruang untuk Emosi

Ketika marah, kita sering merasa seolah energi dalam diri menjadi sangat penuh. Bergerak bisa menjadi cara untuk menyalurkan energi tersebut secara lebih sehat. Dalam hal ini, olahraga bukan tentang mencapai target tertentu, tapi sebagai momen untuk memberi ruang pada tubuh dan pikiran agar kembali seimbang. 

Beberapa orang memilih berjalan sambil mendengarkan musik. Ada juga yang merasa lebih tenang setelah jogging atau melakukan peregangan. Bentuknya bisa berbeda bagi setiap orang, tapi tujuannya sama, yaitu memberi tubuh kesempatan untuk melepaskan ketegangan.

Belajar Mengenali dan Mengelola Emosi

Mengelola kemarahan bukan berarti menolak atau menekan emosi tersebut. Justru, penting bagi Puan untuk mengenali perasaan yang muncul dan mencari cara yang sehat untuk menyalurkannya. 

Bergerak atau berolahraga bisa menjadi salah satu cara untuk memberi ruang bagi tubuh dan pikiran agar kembali seimbang. Setelah bergerak, seringkali Puan dapat melihat situasi dengan perspektif yang lebih tenang dan jernih. 

Pada akhirnya, Puan nggak harus selalu memiliki jawaban atas setiap hal yang membuat diri Puan marah. Terkadang, langkah kecil seperti bergerak, bernapa, dan memberi waktu untuk diri sendiri cukup untuk membantu Puan kembali tenang. 


Referensi:

Harvard Health Publishing. (2021). Exercise is an all-natural treatment to fight depression.

World Health Organization. (2022). Physical Activity and Mental Health.

WikiHow. Melampiaskan Kemarahan dengan Berolahraga.


Author & Editor: Daru Sekar Arum


Sekilas Tentang Puan Bisa

Puan Bisa adalah komunitas perempuan muda yang mendukung pengembangan karir, self-improvement, dan mental health. Sejak pertama kali didirikan tanggal 1 Oktober 2020 sampai saat ini, Puan Bisa aktif melakukan kegiatan kreatif dan edukatif yang dilakukan dengan tujuan meningkatkan kesadaran perempuan muda (khususnya usia 16-23 tahun) dalam mengembangkan kemampuan dan rasa cinta akan dirinya.

Komentar

Rubik Puan Popular

Phubbing: Kebiasaan Buruk yang Menurunkan Kualitas Interaksi dengan Lawan Bicara

Ilustrasi seseorang yang merasakan phubbing. (halodoc.com) Di era digital seperti sekarang, HP telah menjadi bagian yang sulit dipisahkan dari kehidupan sehari-hari. Bahkan, hampir sepanjang waktu tangan kita tidak terlepas dari HP. Meski memberikan kemudahan dalam berkomunikasi dan mengakses informasi, penggunaan HP yang berlebihan juga dapat memengaruhi kualitas interaksi dengan orang di sekitar.  Salah satu perilaku yang semakin sering ditemui adalah phubbing , yaitu kebiasaan lebih fokus pada smartphone daripada orang yang sedang diajak berbicara secara langsung. Apa Itu Phubbing? Sederhananya, phubbing merupakan perilaku mengabaikan lawan bicara yang sedang berada di hadapan kita dengan sibuk menyibukkan perhatian pada HP. Perilaku ini tentunya tidak mencerminkan etika berkomunikasi yang baik, loh Puan. Dalam kehidupan sehari-hari, bentuk perilaku phubbing tidak hanya digambarkan dengan seseorang yang sibuk membalas chat . Adapun kebiasaan lainnya, seperti membuka media sosia...

Perempuan dan Overachievement Trap: Sisi Lain Produktivitas

  Pict by: Bustle.com Pernahkah Puan merasa sudah berusaha dengan maksimal, tetapi merasa performa yang ditampilkan kurang ataupun berusaha untuk mengejar ekspektasi agar bisa selalu dihargai?  Alih-alih merasa puas, Puan justru terus mendorong diri untuk melakukan hal-hal diluar batas diri Puan. Hal ini bukan karena tuntutan yang sudah jelas ada, melainkan ada dorongan untuk selalu memenuhi ekspektasi, baik diri sendiri maupun orang lain. Jika kondisi ini terasa familiar, bisa jadi Puan sedang berada dalam overachievement trap. Apa Itu Overachievement Trap ? Overachievement trap merupakan kondisi ketika seseorang terus berusaha mencapai level yang lebih tinggi, bukan karena kebutuhannya, melainkan merasa dirinya sebagai perempuan belum cukup layak dan dihargai oleh sekitar. Secara psikologis, kondisi ini berkaitan dengan perfeksionisme, terutama dipengaruhi oleh tekanan sosial.  Paul L. Hewitt dan Gordon L. Flett menjelaskan bahwa perfeksionisme yang berorientasi pada t...

Sambut Tahun Ajaran Baru, Hoshizora Foundation Kembali Perluas Kesempatan Anak Lanjut Sekolah Lewat Pembukaan Beasiswa Mimpi Anak Negeri 2026

Poster pembukaan pendaftaran Beasiswa Mimpi Anak Negeri (hoshizora.org) Yogyakarta, Juli 2026 – Setiap anak berhak memiliki kesempatan yang sama untuk meraih masa depan melalui pendidikan berkualitas. Untuk mewujudkan komitmen tersebut, Hoshizora Foundation kembali membuka pendaftaran Beasiswa Mimpi Anak Negeri (BMAN) 2026 yang berlangsung pada 6 hingga 19 Juli 2026. Program beasiswa ini ditujukan bagi siswa/i kelas IV SD hingga kelas X SMA yang akan segera memasuki tahun ajaran baru 2026/2027. Fokus menargetkan anak-anak dari keluarga pra sejahtera di seluruh Indonesia, Hoshizora Foundation membuka kesempatan dukungan pendidikan bagi siswa yang memiliki semangat belajar tinggi dan memiliki keinginan kuat meraih cita-cita, walaupun di tengah keterbatasan ekonomi.  Beasiswa Mimpi Anak Negeri merupakan salah satu program utama Hoshizora Foundation sejak 2006 yang tidak hanya memberikan bantuan biaya pendidikan, tetapi juga memfasilitasi pendampingan secara berkelanjutan kepada pener...

Membaca Buku: Cara Mudah dan Murah untuk Menjaga Mental Health

Ilustrasi seseorang yang sedang membaca buku (unsplash.com) Hai Puan! Akhir-akhir ini, kegiatan membaca buku jadi tren yang dinikmati oleh berbagai kalangan. Banyak orang yang mulai tertarik dengan tren literasi di media sosial. Apalagi saat ini banyak sekali akun influencer pecinta buku yang aktif mengunggah konten terkait ulasan buku di media sosial, seperti Instagram, TikTok, dan X.  Hal ini menyebabkan seseorang yang awalnya belum suka atau belum tertarik membaca buku dapat terpengaruh. Tak jarang, beberapa orang hanya membaca karena ikut-ikutan dan takut tertinggal tren. Padahal, meneruskan kebiasaan membaca tidak hanya meningkatkan pengetahuan, tetapi juga bisa bermanfaat untuk kesehatan, khususnya kesehatan mental. Beberapa manfaat membaca buku bagi kesehatan mental yang harus Puan ketahui: 1. Membaca buku dapat mengurangi stres.   Penelitian menunjukkan bahwa membaca hanya enam menit dalam sehari dapat mengurangi tingkat stres hingga 60% dengan menurunkan detak jantun...

“I Wish I Knew When I Was 20” Memahami Hidup Mulai dari Usia 20 Tahun

  Buku "What I Wish I Knew When I Was 20" karya Prof. Tina Seelig (Amazon.com) Menginjak usia 20 terlihat menyenangkan karena Puan telah memiliki kebebasan atas diri sendiri. Di usia muda, tubuh Puan masih bertenaga maksimal dan optimal, pikiran masih fresh , ide-ide yang dikeluarkan masih up to date , intinya Puan lagi ada di masa-masa emas untuk mengembangkan suatu hal. Namun, yang jarang terlihat adalah masa saat Puan merasa clueless akan hidup Puan sendiri untuk memutuskan karir dan perjalanan hidup Puan ke depannya. Baca juga: Motivasi Bukan Ditunggu, tapi Dicari Lewat Aksi Lalu, apa saja sebenarnya hal yang harus dipahami untuk menjalani hidup saat menginjak usia 20 tahun? Mengutip dari buku “What I Wish I Knew When I Was 20” karya Prof. Tina Seelig ada beberapa hal yang dapat Puan lakukan: Jangan Menunggu, Tapi Ciptakan! Seringkali Puan berpikir untuk menunggu kesempatan datang, menunggu orang lain yang membukanya, menunggu offering yang datang. Padahal, Puan bisa men...