Langsung ke konten utama

Lebih dari Sekadar Boneka Cantik: What Can We Learn from Barbies

Salah satu adegan dari Barbie: A Fairy Secret (www.primevideo.com) Waktu kecil, Puan mungkin mengenal Barbie hanya sebagai boneka berambut pirang dengan baju serba pink dan rumah impian yang estetik. Tapi kalau Puan lihat lebih dalam, terutama lewat pesan yang disampaikan dalam film Barbie, ada banyak banget pelajaran hidup dan self-improvement yang relatable buat kehidupan Puan sekarang. Barbie bukan lagi sekadar simbol kecantikan ideal yang bikin orang insecure . Justru, dunia Barbie bisa mengajarkan Puan tentang penerimaan diri, keberanian mendefinisikan sukses versi sendiri, dan pentingnya merangkul segala ketidaksempurnaan sebagai manusia. Baca juga: Cara Baru Jadi Soft & Powerful: Mengulik Tren Hyper Femininity! Yuk, Priska bedah pelajaran apa saja yang bisa Puan ambil dari karakter Barbie! " You Can Be Anything " Itu Nyata, Tapi Nggak Harus Sempurna Slogan klasik Barbie, " You Can Be Anything ", mengajarkan bahwa perempuan berhak bercita-cita setinggi mu...

Perempuan dan Overachievement Trap: Sisi Lain Produktivitas

 

Pict by: Bustle.com

Pernahkah Puan merasa sudah berusaha dengan maksimal, tetapi merasa performa yang ditampilkan kurang ataupun berusaha untuk mengejar ekspektasi agar bisa selalu dihargai? 

Alih-alih merasa puas, Puan justru terus mendorong diri untuk melakukan hal-hal diluar batas diri Puan. Hal ini bukan karena tuntutan yang sudah jelas ada, melainkan ada dorongan untuk selalu memenuhi ekspektasi, baik diri sendiri maupun orang lain. Jika kondisi ini terasa familiar, bisa jadi Puan sedang berada dalam overachievement trap.

Apa Itu Overachievement Trap?

Overachievement trap merupakan kondisi ketika seseorang terus berusaha mencapai level yang lebih tinggi, bukan karena kebutuhannya, melainkan merasa dirinya sebagai perempuan belum cukup layak dan dihargai oleh sekitar. Secara psikologis, kondisi ini berkaitan dengan perfeksionisme, terutama dipengaruhi oleh tekanan sosial. 

Paul L. Hewitt dan Gordon L. Flett menjelaskan bahwa perfeksionisme yang berorientasi pada tuntutan eksternal dapat meningkatkan stress, kecemasan, dan menurunkan kesejahteraan mental. Pada perempuan, tekanan ini sering kali tidak hanya berasal dari diri sendiri, melainkan dari lingkungan sosial yang membentuk standar tertentu sesuai porsinya. 

Mengapa Perempuan Rentan Mengalami Overachievement Trap? 

Dalam banyak situasi, perempuan dihadapkan pada standar yang tinggi dalam berbagai aspek kehidupan. Tidak hanya dituntut untuk kompeten dalam karier, tetapi juga diharapkan mampu memenuhi ekspektasi sosial lainnya. Kondisi ini menciptakan tekanan ganda yang mendorong perempuan untuk terus membuktikan diri. 

Akibatnya, muncul pola pikir seperti:

“Aku harus melakukan lebih baik lagi”

“Aku tidak boleh terlihat gagal”

“Aku harus memenuhi ekspektasi ini”

Pola pikir ini, jika berlangsung terus menerus, dapat membuat pencapaian terasa tidak pernah cukup.

Tanda-Tanda Overachievement Trap?

Kondisi ini sering kali terlihat seperti ambisi yang positif, tetapi sebenarnya dapat berdampak pada kesehatan mental.

Beberapa tanda yang dapat dikenali antara lain:

  • Sulit merasa puas dengan hasil yang telah dicapai

  • Terus menetapkan standar yang semakin tinggi

  • Merasa bersalah ketika beristirahat

  • Takut dianggap tidak cukup baik

  • Tetap memaksakan diri meskipun sudah lelah

Baca Juga: 

https://puanbisa.blogspot.com/2026/04/shadow-work-memahami-bagian-dari-diri.html 

Dampak Terhadap Karir dan Kesehatan Mental

Overachievement trap  dapat memberikan dampak yang tidak terlihat secara langsung. Individu mungkin terlihat produktif dan berprestasi. Namun, di sisi lain kondisi ini dapat memicu kelelahan emosional dan tekanan psikologis. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat:

  • Menurunkan kepuasan dalam bekerja

  • Mengganggu keseimbangan kehidupan pribadi dan profesional

  • Memicu stres berkepanjangan

  • Mengurangi kemampuan untuk menikmati pencapaian

Cara Mengelola Overachievement Trap

Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:

  1. Menerima bahwa tidak semua hal harus sempurna

  2. Menetapkan standar yang realistis dan berkelanjutan

  3. Menghargai proses, bukan hanya hasil akhir

  4. Memberikan ruang untuk beristirahat tanpa rasa bersalah

  5. Menyadari bahwa nilai diri tidak hanya ditentukan oleh pencapaian

Overachievement trap membuat seseorang terus mengejar lebih, bukan karena ingin berkembang, melainkan karena merasa belum cukup atas apa yang ia pikirkan. Kondisi ini dapat berdampak pada kesehatan mental jika tidak disadari sejak awal. Oleh karena itu, penting untuk memahami batas diri, mengelola ekspektasi, dan membangun cara pandang yang lebih seimbang terhadap pencapaian. Karena pada akhirnya, berkembang tidak harus selalu berarti memaksa diri tanpa henti. 

Sekilas Tentang Puan Bisa

Puan Bisa adalah komunitas perempuan muda yang mendukung pengembangan karir, self-improvement, dan mental health. Sejak pertama kali didirikan tanggal 1 Oktober 2020 sampai saat ini, Puan Bisa aktif melakukan kegiatan kreatif dan edukatif yang dilakukan dengan tujuan meningkatkan kesadaran perempuan muda (khususnya usia 16-23 tahun) dalam mengembangkan kemampuan dan rasa cinta akan dirinya. 

Penulis & Editor: Lilian Deha


Referensi:

Hewitt, P. L., & Flett, G. L. (1991). Perfectionism in the self and social contexts: Conceptualization, assessment, and association with psychopathology. Journal of Personality and Social Psychology, 60(3), 456–470.


Komentar

Rubik Puan Popular

Takut Gagal? Justru Itu Jalan Awal Tumbuh, Puan!

Photo by Eva Bronzini Pernah nggak sih, Puan ngerasa jantung berdebar tiap mau ambil keputusan besar? Misalnya, daftar beasiswa ke luar negeri, apply kerjaan impian, atau berani presentasi di depan banyak orang. Sering kali pikiran seperti, “Kalau gagal gimana ya? Malu banget, semua orang pasti ngelihat aku nggak mampu,” muncul lebih dulu daripada semangat mencoba. Kalau iya, Puan nggak sendirian. Banyak perempuan muda juga ngalamin hal yang sama. Itu namanya fear of failure alias rasa takut gagal. Puan, tahu nggak? Rasa takut gagal itu sebenarnya sinyal. Artinya, Puan lagi menghadapi sesuatu yang penting dan bermakna. Kalau sesuatu nggak penting, kita biasanya santai aja, kan? Justru karena itu penting, makanya muncul rasa takut. Dan kabar baiknya: rasa takut itu bukan musuh. Ia bisa jadi titik awal pertumbuhan kalau kita berani melangkah melewatinya. Growth Mindset: Cara Melihat Gagal Sebagai Jalan Belajar Psikolog Carol Dweck ngenalin konsep growth mindset , yaitu pola pikir bah...

Spotlight Effect: Fenomena Psikologis Ketika Seseorang Merasa Diperhatikan Oleh Banyak Mata

Image by  Newristics Puan pernah nggak sih berada di suatu tempat keramaian, misalnya foodcourt dan hendak memesan makanan, tetapi secara tidak sengaja Puan menyenggol gelas di sekitar Puan dan gelas tersebut pecah, lalu ketika sibuk membersihkan gelas tersebut, Puan merasa bahwa sorotan orang-orang di sekitar memperhatikan Puan secara seksama dan seketika Puan mendadak kaku akibat perasaan tersebut. Pernah mengalami hal tersebut? Jika pernah, hal tersebut dinamakan spotlight effect atau efek sorotan. Spotlight effect merupakan suatu fenomena, di mana Puan berpikir bahwa semua orang memperhatikan Puan. Fenomena ini telah dikenal dalam ilmu psikologi sejak tahun 2000, persisnya ketika Thomas Gilovich, Victoria Husted Medvec, dan Kenneth Savitsky meluncurkan studi dengan judul, " The Spotlight Effect in Social Judgment: An Egocentric Bias in Estimates of The Salience of One's Own Actions and Appearanc e". Seorang dosen psikologi di University of California , Berkeley, Ame...

Manifestasi Saja Nggak Cukup, Yuk Kenali Cara Kerja Law of Attraction!

Sumber: pexels.com Coba buka TikTok, Instagram, atau X terus perhatikan konten yang muncul di beranda Puan. Mungkin Puan akan menemukan berbagai video tarot, ramalan masa depan, atau kalimat seperti " claim this energy " dan " the universe has something planned for you ". Konten-konten seperti ini semakin akrab di media sosial dan sering dikaitkan dengan law of attraction (LOA) atau hukum tarik-menarik, yang kini lebih populer kini lebih populer dengan sebutan manifestasi. Apa Itu Law of Attraction ? Secara sederhana, law of attraction merupakan gagasan bahwa pikiran dan perasaan seseorang dapat menarik pengalaman yang serupa ke dalam kehidupannya. Jika Puan semakin sering memiliki pikiran positif, maka semakin terbuka pula jalan bagi berbagai hal positif untuk hadir di Puan. Sebaliknya, semakin sering Puan berpikir negatif atau berburuk sangka, maka Puan akan lebih sering menarik pengalaman yang kurang menyenangkan. Konsep ini bukan hal baru. Gagasannya telah lam...

Pura-pura Bahagia itu Bahaya, Kenali Dampaknya!

  Sumber: BeautyJournal.id Pernahkah Puan mendengar istilah " fake it until you make it "? Banyak orang melakukan ini dengan harapan meyakinkan diri dengan mengatakan kalimat afirmasi seperti kamu bahagia, beban yang kamu hadapi kecil, kamu bisa, dan kamu tidak akan sedih akan membuat diri kita merasa lebih baik. Namun, apakah benar? Konsep " fake it until you make it " sama dengan konsep pura-pura bahagia. Terlebih di zaman yang serba digital ini, sikap pura-pura bahagia semakin mudah untuk dilakukan. Contohnya seperti saat kita mengirimkan pesan seringkali kita menggunakan emoji senyum, padahal kita tidak benar-benar tersenyum dan bahagia, bisa jadi kita sedang dalam mood  yang buruk. Dampak dari Berpura-pura Bahagia Puan, berpura-pura bahagia tidak selamanya bisa dilakukan, dengan berpura-pura baik-baik saja tidak akan menjadikan kita benar-benar kuat, sebaliknya hal tersebut akan menghisap energi kita hingga lenyap jika diteruskan. Oleh karena itu, yuk simak dam...

Membangun Kepercayaan Diri: Menerima Diri Sendiri di Luar Society's Standards

“Society’s Standards”, pernahkah Puan mendengar istilah ini? Gampangnya, society’s standards adalah suatu standar yang dijadikan sebagai suatu acuan. Society’s standards biasanya memegang prinsip kesempurnaan. Oleh karena itu, sebagian besar dari Puan mungkin saja pernah merasakan tekanan dari society‘s standards. Tekanan yang kita rasakan akibat society‘s standards sudah sering kita rasakan bahkan sebelum kita mengenal kata “sempurna”. Banyak dari Puan mungkin pernah didorong untuk menjadi seseorang yang bukan sosok diri Puan hanya untuk bisa masuk dalam society. Society menginginkan Puan untuk menjadi sempurna. Seperti, harus menjadi pintar, lucu, cantik, berbakat, dan masih banyak lagi terkadang hanya untuk bisa diterima di suatu lingkungan. Percayalah Puan, lingkungan seperti sangat tidak sehat untuk ditinggali. Banyak orang diluar sana melakukan hal yang tidak mereka ingin lakukan agar bisa diterima dalam society. Mengubah opini, gaya rambut, fitur wajah, dan lain sebagain...