Langsung ke konten utama

When Your Brain Says “Enough”: Mengenal Overstimulation dan Penyebabnya

Pernah nggak, Puan merasa lelah dengan aktivitas sekitar? Merasa energi terkuras oleh hal-hal yang telah Puan lakukan? Bisa jadi, Puan mengalami overstimulation : suatu kondisi ketika seseorang merasa terlalu lelah akibat banyaknya interaksi sekitar. Ibarat gelas yang terus dituangi air sampai tumpah, kita juga bisa merasa kewalahan. Kondisi ini biasanya dapat membuat seseorang merasa lelah secara emosi maupun fisik, mudah marah, sulit fokus, hingga merasa ingin menjauh sejenak dari keadaan sekitar yang menunjukkan bahwa diri sudah melebihi batas energi. Apa yang menjadi pemicu overstimulation ? Social Media yang Berlebihan Di era sekarang, media sosial telah menjadi bagian dari hidup layaknya makanan yang harus dikonsumsi setiap waktunya. Bo Han (2018), menunjukkan kondisi media burn-out , dimana seseorang merasa lelah dan terputus dari lingkungan sekitarnya secara daring maupun luring. Banyaknya Tekanan Deadlines , ekspektasi, hingga tekanan emosi yang menumpuk dan menjadi cemas, st...

Perempuan dan Overachievement Trap: Sisi Lain Produktivitas

 

Pict by: Bustle.com

Pernahkah Puan merasa sudah berusaha dengan maksimal, tetapi merasa performa yang ditampilkan kurang ataupun berusaha untuk mengejar ekspektasi agar bisa selalu dihargai? 

Alih-alih merasa puas, Puan justru terus mendorong diri untuk melakukan hal-hal diluar batas diri Puan. Hal ini bukan karena tuntutan yang sudah jelas ada, melainkan ada dorongan untuk selalu memenuhi ekspektasi, baik diri sendiri maupun orang lain. Jika kondisi ini terasa familiar, bisa jadi Puan sedang berada dalam overachievement trap.

Apa Itu Overachievement Trap?

Overachievement trap merupakan kondisi ketika seseorang terus berusaha mencapai level yang lebih tinggi, bukan karena kebutuhannya, melainkan merasa dirinya sebagai perempuan belum cukup layak dan dihargai oleh sekitar. Secara psikologis, kondisi ini berkaitan dengan perfeksionisme, terutama dipengaruhi oleh tekanan sosial. 

Paul L. Hewitt dan Gordon L. Flett menjelaskan bahwa perfeksionisme yang berorientasi pada tuntutan eksternal dapat meningkatkan stress, kecemasan, dan menurunkan kesejahteraan mental. Pada perempuan, tekanan ini sering kali tidak hanya berasal dari diri sendiri, melainkan dari lingkungan sosial yang membentuk standar tertentu sesuai porsinya. 

Mengapa Perempuan Rentan Mengalami Overachievement Trap

Dalam banyak situasi, perempuan dihadapkan pada standar yang tinggi dalam berbagai aspek kehidupan. Tidak hanya dituntut untuk kompeten dalam karier, tetapi juga diharapkan mampu memenuhi ekspektasi sosial lainnya. Kondisi ini menciptakan tekanan ganda yang mendorong perempuan untuk terus membuktikan diri. 

Akibatnya, muncul pola pikir seperti:

“Aku harus melakukan lebih baik lagi”

“Aku tidak boleh terlihat gagal”

“Aku harus memenuhi ekspektasi ini”

Pola pikir ini, jika berlangsung terus menerus, dapat membuat pencapaian terasa tidak pernah cukup.

Tanda-Tanda Overachievement Trap?

Kondisi ini sering kali terlihat seperti ambisi yang positif, tetapi sebenarnya dapat berdampak pada kesehatan mental.

Beberapa tanda yang dapat dikenali antara lain:

  • Sulit merasa puas dengan hasil yang telah dicapai

  • Terus menetapkan standar yang semakin tinggi

  • Merasa bersalah ketika beristirahat

  • Takut dianggap tidak cukup baik

  • Tetap memaksakan diri meskipun sudah lelah

Baca Juga: 

https://puanbisa.blogspot.com/2026/04/shadow-work-memahami-bagian-dari-diri.html 

Dampak Terhadap Karir dan Kesehatan Mental

Overachievement trap  dapat memberikan dampak yang tidak terlihat secara langsung. Individu mungkin terlihat produktif dan berprestasi. Namun, di sisi lain kondisi ini dapat memicu kelelahan emosional dan tekanan psikologis. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat:

  • Menurunkan kepuasan dalam bekerja

  • Mengganggu keseimbangan kehidupan pribadi dan profesional

  • Memicu stres berkepanjangan

  • Mengurangi kemampuan untuk menikmati pencapaian

Cara Mengelola Overachievement Trap

Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:

  1. Menerima bahwa tidak semua hal harus sempurna

  2. Menetapkan standar yang realistis dan berkelanjutan

  3. Menghargai proses, bukan hanya hasil akhir

  4. Memberikan ruang untuk beristirahat tanpa rasa bersalah

  5. Menyadari bahwa nilai diri tidak hanya ditentukan oleh pencapaian

Overachievement trap membuat seseorang terus mengejar lebih, bukan karena ingin berkembang, melainkan karena merasa belum cukup atas apa yang ia pikirkan. Kondisi ini dapat berdampak pada kesehatan mental jika tidak disadari sejak awal. Oleh karena itu, penting untuk memahami batas diri, mengelola ekspektasi, dan membangun cara pandang yang lebih seimbang terhadap pencapaian. Karena pada akhirnya, berkembang tidak harus selalu berarti memaksa diri tanpa henti. 

Sekilas Tentang Puan Bisa

Puan Bisa adalah komunitas perempuan muda yang mendukung pengembangan karir, self-improvement, dan mental health. Sejak pertama kali didirikan tanggal 1 Oktober 2020 sampai saat ini, Puan Bisa aktif melakukan kegiatan kreatif dan edukatif yang dilakukan dengan tujuan meningkatkan kesadaran perempuan muda (khususnya usia 16-23 tahun) dalam mengembangkan kemampuan dan rasa cinta akan dirinya. 

Penulis & Editor: Lilian Deha


Referensi:

Hewitt, P. L., & Flett, G. L. (1991). Perfectionism in the self and social contexts: Conceptualization, assessment, and association with psychopathology. Journal of Personality and Social Psychology, 60(3), 456–470.


Komentar

Rubik Puan Popular

Belajar Mendefinisikan Arti Sukses dan Bahagia Melalui Kisah "Little Women"

  Sering gak sih Puan ngerasa lelah sama standar dunia yang menuntut kita harus selalu kelihatan menonjol dan punya pencapaian besar? Standar ini kadang malah bikin kita cemas dan asing sama diri sendiri. Kalau Puan lagi ada di fase penuh tekanan itu, yuk coba intip sudut pandang dari kisah klasik Little Women lewat karakter yang paling berkesan. Antara Ambisi dan Rasa Sepi Jo adalah cerminan perempuan mandiri yang fokus mengejar mimpi tanpa peduli aturan di zaman itu. Tapi, ada momen disaat Jo menangis dan bilang “"Women, they have minds, and they have souls, as well as just hearts. And they’ve got ambition, and they’ve got talent, as well as just beauty. And I’m so sick of people saying that love is all a woman is fit for. But I’m so lonely.” Dari Jo kita belajar, jadi perempuan kuat bukan berarti gak boleh ngerasa rapuh. Wajar banget kalau di tengah kesibukan mengejar mimpi, Puan tiba-tiba merasa sepi. Mengakui rasa sepi bukan berarti lemah, melainkan tanda kita jujur pada diri...

“I Wish I Knew When I Was 20” Memahami Hidup Mulai dari Usia 20 Tahun

  Buku "What I Wish I Knew When I Was 20" karya Prof. Tina Seelig (Amazon.com) Menginjak usia 20 terlihat menyenangkan karena Puan telah memiliki kebebasan atas diri sendiri. Di usia muda, tubuh Puan masih bertenaga maksimal dan optimal, pikiran masih fresh , ide-ide yang dikeluarkan masih up to date , intinya Puan lagi ada di masa-masa emas untuk mengembangkan suatu hal. Namun, yang jarang terlihat adalah masa saat Puan merasa clueless akan hidup Puan sendiri untuk memutuskan karir dan perjalanan hidup Puan ke depannya. Baca juga: Motivasi Bukan Ditunggu, tapi Dicari Lewat Aksi Lalu, apa saja sebenarnya hal yang harus dipahami untuk menjalani hidup saat menginjak usia 20 tahun? Mengutip dari buku “What I Wish I Knew When I Was 20” karya Prof. Tina Seelig ada beberapa hal yang dapat Puan lakukan: Jangan Menunggu, Tapi Ciptakan! Seringkali Puan berpikir untuk menunggu kesempatan datang, menunggu orang lain yang membukanya, menunggu offering yang datang. Padahal, Puan bisa men...

80% Hasil Bisa Datang dari 20% Usaha. Kok Bisa?

  Puan pernah ngerasa nggak udah sibuk seharian, tapi ketika hari berakhir, masih berasa nggak banyak hal yang benar-benar bergerak maju? Tugas udah dikerjakan, notifikasi udah dibalas, jadwal penuh, tapi tujuan yang ingin dicapai rasanya masih jauh. Kalau pernah, mungkin masalahnya bukan karena Puan kurang kerja keras. Bisa jadi, Puan hanya belum memfokuskan energi pada hal yang paling berdampak.  Konsep ini dikenal sebagai Pareto Principle atau prinsip 80/20, sebuah gagasan yang diperkenalkan oleh ekonom Italia, Vilfredo Pareto. Secara sederhana, prinsip ini menjelaskan bahwa sekitar 80% hasil yang kita peroleh sering kali berasal dari 20% usaha atau aktivitas yang paling penting. Tentu saja angka 80 dan 20 bukan aturan yang mutlak. Namun, prinsip ini mengingatkan bahwa nggak semua hal memiliki pengaruh yang sama. Ada beberapa aktivitas yang memberi dampak jauh lebih besar dibandingkan yang lainnya. Baca Juga: Manajemen Waktu Gak Cuma Soal Jam, Tapi Energi Juga! Apa Artinya...

Hasty Generalization: Kesalahan Berpikir yang Sering Kita Lakukan

Image by: Grammarly.com Pernahkah Puan langsung bilang "Semua produk merek ini jelek," cuma gara-gara beli satu barang yang rusak? Atau mungkin Puan pernah denger temen cerita, "Nggak usah ke resto itu deh, pelayanannya buruk banget!" Padahal dia cuma sekali ke sana? Nah, ini dia yang namanya hasty generalization atau kesimpulan terburu-buru. Apa Sih Hasty Generalization Itu? Menurut Detik.com , Hasty Generalization adalah kekeliruan yang terjadi ketika seseorang menarik kesimpulan yang luas berdasarkan bukti yang tidak mampu atau tidak cukup. Dengan kata lain, kesimpulan tentang suatu hal terlalu terburu-buru diambil dan hanya didukung beberapa atau tidak cukup bukti yang jelas. Jadi, Hasty generalization adalah kesalahan logika yang terjadi ketika Puan mengambil kesimpulan umum dari sampel yang terlalu kecil atau tidak cukup mewakili. Bayangin gini, Puan cuma ketemu dua kucing yang galak, terus langsung bilang, "semua kucing itu galak!" Padahal di lu...

Sering Blank Saat Presentasi? Yuk, Kenali Gangguan Stage Fright!

  Ilustrasi Seseorang yang mengalami stage fright. (i nfinumgrowth.com ) Pernah nggak, Puan udah nyiapin materi presentasi lengkap, tapi begitu berdiri di depan banyak orang, tiba-tiba pikiran mendadak blank? Jantung berdegup kencang kayak habis lari maraton, tangan berkeringat dingin, bahkan suara mendadak jadi cempreng atau gemetar. Kalau pernah, berarti Puan sedang mengalami apa yang disebut stage fright alias demam panggung. Tenang kok, Puan nggak sendirian. Bahkan artis papan atas atau pembicara profesional pun sering ngerasain. Bedanya, mereka udah tau cara "berdamai" dengan rasa gugup tersebut. Yuk, Priska bahas kenapa ini bisa terjadi dan gimana cara menaklukkannya! Baca juga: Cara Membangun Kepercayaan Diri untuk Tumbuh dan Berkembang, Puan! Secara ilmiah, demam panggung adalah respon alami tubuh yang disebut fight-or-flight . Otak Puan, khususnya bagian amigdala, mendeteksi "ancaman". Masalahnya, otak kadang nggak bisa membedakan antara ancaman dikejar h...