Pernah nggak, Puan merasa dulu ada banyak hal yang bisa bikin Puan excited , tapi sekarang hal-hal itu terasa nothing special? Dulu bisa berjam-jam ngelakuin hal yang disuka, sekarang baru beberapa menit sudah ingin berhenti. Dulu punya banyak hal yang ingin dicoba, sekarang ditanya “lagi suka kegiatan apa?” malah bingung mau jawab apa. Puan masih menjalani aktivitas seperti biasa, kuliah, kerja, mengerjakan tugas, ketemu temen, scrolling media sosial. Everything seems fine. Tapi somehow, ada bagian dari diri Puan yang terasa berbeda. Seolah-olah spark yang dulu membuat hari-hari terasa lebih hidup perlahan menghilang. Dan mungkin, Puan mulai bertanya-tanya, “What happened to me?” 1. Stop Trying to Become Your Old Self Ketika merasa kehilangan spark , kita sering kali ingin kembali menjadi diri kita yang dulu. Padahal, Puan udah melewati banyak hal sejak saat itu. Wajar kalau ada bagian dari diri Puan yang berubah. Karena itu, menemukan kembali spark bukan berarti harus meng...
Images by: Relational Riffs Pernah nggak sih Puan ngalamin momen kayak gini: “Aku telat ngerjain tugas karena emang sibuk banget.” “Yaudah lah, gagal lagi… mungkin emang bukan jalanku.” “Aku kerja lebih bagus kalau mepet deadline kok.” Kedengeran familiar ? Yup, itu contoh self-justification alias kebiasaan membenarkan diri biar Puan nggak ngerasa bersalah. Dalam hidup, kita semua pasti pengen keliatan baik-baik aja. Jadi ketika bikin kesalahan, otak kita sering buru-buru nyari alasan biar rasa nggak nyaman nya hilang. Itu wajar banget, manusiawi. Tapi kalau keseringan, kita malah jadi nggak belajar apa-apa. Apa sih Self-Justification itu? Nah, Self-justification adalah proses ketika seseorang berusaha membenarkan diri supaya tetap merasa benar, meskipun tindakannya sebenarnya bertentangan dengan nilai atau keyakinannya sendiri. Dalam kata lain, dia sadar telah melakukan kesalahan. Menurut Leon Festinger dengan teorinya cognitive dissonance , self-justificat...