Langsung ke konten utama

Intentional Pause: Berhenti Sejenak Bukan Berarti Menyerah

  Sumber: pexels.com Halo, Puan! Puan pernah gak sih merasa harus selalu produktif? Baru selesai satu target, Puan udah langsung memikirkan target berikutnya. Apalagi kalau Puan lihat pencapaian orang lain di media sosial, rasanya jadi pengen ikut lari lebih cepat biar gak ketinggalan. Bahkan ketika sedang beristirahat pun, bisa muncul perasaan bersalah karena merasa gak cukup produktif. Tanpa sadar, Puan telah hidup dalam ritme yang menuntut semuanya serba cepat, cepat sukses, cepat berkembang, cepat mengambil keputusan, dan cepat mencapai tujuan. Padahal, sometimes, the most productive thing you can do is simply pause. Di tengah kehidupan yang serba cepat ini, mengambil jeda secara sadar atau intentional pause bisa menjadi cara untuk refleksi dan kembali terhubung dengan diri sendiri. Bukan sekadar berhenti dari kesibukan, tapi memberi ruang untuk berpikir, merefleksikan keadaan, dan menentukan step atau goals berikutnya dengan lebih bijak. Intentional pause dapat membantu Puan...

Decision Fatigue: Kenapa Memilih Menu Makan Malam Bisa Terasa Sangat Berat?

 

Ilustrasi seseorang yang mengalami decision fatigue (brainfacts.org)

Pernah nggak, Puan ngerasa kalau semakin sore, Puan jadi semakin ceroboh atau malah makin nggak bisa milih sesuatu? Puan sanggup menyelesaikan revisi tugas yang sulit di pagi hari, tapi begitu malam tiba, memilih film di Netflix saja butuh waktu satu jam dan berakhir nggak jadi nonton apa-apa karena bingung.

Fenomena ini dikenal sebagai decision fatigue atau kelelahan mengambil keputusan. Sederhananya, otak Puan memiliki kapasitas terbatas untuk membuat pilihan setiap hari. Setiap keputusan yang diambil, mulai dari memilih pakaian, menentukan menu sarapan, memilih rute perjalanan, hingga membalas pesan penting, sedikit demi sedikit menguras energi mental Puan sendiri.

Kenapa Fenomena Ini Bisa Terjadi?

Ibaratnya, otak Puan seperti baterai HP. Setiap pilihan yang Puan buat, sekecil apa pun, memakan daya baterai tersebut. Masalahnya, pendidikan sampai pekerjaan memaksa Puan mengambil ribuan keputusan kecil setiap harinya.

Ketika baterai mental ini sudah mencapai 5% (biasanya di sore atau malam hari), otak Puan akan mengambil jalan pintas. Pilihannya cuma dua: Puan jadi sangat impulsif (asal pilih yang penting selesai) atau malah mengalami paralysis, yaitu nggak bisa milih sama sekali karena saking capeknya.

Tanda-Tanda Puan Lagi Mengalami Decision Fatigue

  1. Sering Menunda-nunda: Hal sepele pun jadi terasa berat buat diputuskan.

  2. Gampang Marah: Puan jadi sensitif kalau ada orang yang nanya atau minta pendapat Puan.

  3. Mati Rasa: Rasanya setiap momen pengen bilang, "Terserah deh apa aja, yang penting jangan tanya aku."

Cara Menghemat Energi Mental Puan

Kabar baiknya, energi untuk mengambil keputusan bisa dikurangi agar tidak cepat habis. Berikut beberapa cara yang bisa dicoba dari Priska:

1. Sederhanakan Keputusan Sehari-hari

Pernah kepikiran kenapa beberapa tokoh sukses sering pakai pakaian yang mirip atau bahkan sama setiap harinya? Salah satu alasannya adalah untuk mengurangi jumlah keputusan kecil yang harus dibuat. Puan juga bisa menerapkan hal serupa, misalnya dengan menyiapkan pakaian sejak malam atau merencanakan menu makan beberapa hari ke depan.

2. Prioritaskan Keputusan Penting di Pagi Hari

Pagi hari biasanya menjadi waktu ketika pikiran masih segar dan fokus masih optimal. Jika ada keputusan besar yang membutuhkan pertimbangan matang, usahakan selesaikan lebih awal sebelum energi mental terkuras oleh berbagai aktivitas lainnya.

3. Batasi Terlalu Banyak Pilihan

Terlalu banyak opsi justru bisa membuat Puan semakin bingung. Kalau lagi cari sesuatu, cobalah membatasi pilihan sejak awal. Misalnya, daripada membuka sepuluh toko online sekaligus, fokuslah pada satu atau dua toko yang paling sesuai dengan kebutuhan. Dengan begitu, proses memilih menjadi lebih gampang dan nggak terlalu menguras pikiran.


Ingat, Puan nggak harus punya kendali penuh atas setiap detail kecil dalam hidup Puan. Ngizinin diri sendiri untuk bilang "Aku nggak mau mikir yang banyak dulu sekarang" adalah salah satu bentuk self-care yang paling nyata.

Jadi, kalau nanti sore Puan merasa pusing cuma gara-gara ditanya mau makan apa, jangan merasa aneh. Otak Puan cuma butuh istirahat dari tugasnya sebagai "pengambil keputusan". Kasih dia waktu buat recharge, ya!

Sekilas Tentang Puan Bisa

Puan Bisa adalah komunitas perempuan muda yang mendukung pengembangan karir, self-improvement, dan mental health. Sejak pertama kali didirikan tanggal 1 Oktober 2020 sampai saat ini, Puan Bisa aktif melakukan kegiatan kreatif dan edukatif yang dilakukan dengan tujuan meningkatkan kesadaran perempuan muda (khususnya usia 16-23 tahun) dalam mengembangkan kemampuan dan rasa cinta akan dirinya. Referensi

MSc, N. B. a. B. (2019, November 25). Lelah mengambil keputusan? mungkin Anda alami decision fatigue. KlikDokter. https://www.klikdokter.com/psikologi/kesehatan-mental/lelah-mengambil-keputusan-mungkin-anda-alami-decision-fatigue?srsltid=AfmBOop_XvFtPrxeaEw6Ki4a_ObicBlp052TA_GCAzT8aYOWOz1y7C3T 

Clinic, C. (2023, June 1). 8 Signs of decision fatigue and how to cope. Cleveland Clinic. https://health.clevelandclinic.org/decision-fatigue


Author & Editor: Zalfa Zahiyah P.W

Komentar

Rubik Puan Popular

Raih Motivasi dan Kenikmatan Kerja: Mengatasi Rasa Jenuh dengan Tips-Tips Menarik!

Hey, Puan! Pernah nggak sih kamu merasa seperti waktu berjalan terlalu lambat saat melakukan pekerjaanmu? Yah, rasa bosan memang suatu hal yang bisa membuat kita bingung, apakah harus melanjutkannya atau berhenti saja. Tapi tahu nggak, terlalu memikirkannya justru bisa membuat pekerjaan kita nggak maksimal. Jangan khawatir, Puan! Rasanya jenuh saat bekerja itu wajar. Bayangkan aja, melakukan hal yang sama tiap harinya pasti bisa membuat rasa jenuh datang. Nah, biar Puan nggak bingung lagi menghadapi rasa jenuh yang kadang datang, simak deh tips-tips menarik berikut ini! Yuk, kita mulai dengan langkah awal untuk mengatasi rasa jenuh saat bekerja: 1. Ingat tujuan awalmu saat memulai pekerjaan ini Ketika Puan mengingat kembali tujuan awal yang mendorongmu memulai pekerjaan ini, ada kemungkinan besar semangat dan motivasi akan kembali menggelora. Hal ini pastinya akan mengurangi rasa jenuh saat Puan menjalankan tugas-tugasmu. 2. Berikan waktu untuk dirimu sendiri, coba ambil cuti liburan! ...

Mindfulness 101: Finding Your Focus in a World Full of Distractions

  sumber: magnific.com Puan pernah ngalamin nggak, lagi ngerjain tugas, terus ada satu notifikasi masuk, kemudian cek notifnya, balas satu chat, eh lanjut buka TikTok dan akhirnya lupa kalau tadi sebenarnya Puan lagi ngapain? Di tengah dunia yang full of distractions ini, perhatian kita rasanya gampang banget berpindah dari satu hal ke hal lainnya. Belum selesai satu informasi, sudah muncul informasi baru. Belum selesai proses berita satu, sudah ada berita lainnya. Tanpa sadar, kita bisa menghabiskan banyak waktu dengan gadget tanpa benar-benar sadar sedang melakukan apa. Di sinilah mindfulness bisa menjadi salah satu cara untuk membantu Puan lebih sadar terhadap bagaimana Puan menggunakan teknologi dan ke mana perhatian Puan pergi. Mindfulness Itu Apa, Sih? Mindfulness secara sederhana adalah kemampuan untuk menyadari dan benar-benar hadir terhadap apa yang sedang kita lakukan saat ini, tanpa langsung menghakimi pikiran atau perasaan yang muncul. Menurut Meegasdeniya dan Dulnath (...

Fenomena Doom Scrolling, Kebiasaan yang Bikin Burn Out

  " Scroll bentar deh.." Terus tanpa sadar mata mulai berat, tangan pegal, dan lupa waktu sendiri. Pernah ngalamin hal serupa? Kalau iya, berarti Puan lagi ngalamin yang namanya doom scrolling . Doom scrolling itu kalau Puan terus-terusan mengonsumsi informasi, terutama berita negatif yang ada pada sosial media. Menurut Cambdrige Dictionary , kata "Doomscr oll" mengacu kepada tindakan  terlalu sering menatap layar  untuk membaca berita buruk atau kurang  berbobot.  Nah, dari sini mungkin banyak Puan yang jadi ngerti apa itu doom scrolling , istilah yang belakangan sering muncul di internet. Kalau kita teliti, lagi  penyebabnya nggak bakalan lepas dari ketergantungan kita  pada handphone .  Hampir setiap hari kita menerima banyak pesan notifikasi. Terlepas  isinya penting atau tidak terlalu penting secara refleks pasti kita cek kalau dibiarkan menimbulkan rasa cemas atau anxiety,   seakan ada hal tertinggal jika kita tidak membuka lay...

Emotional Agility: Cara Bijak Mengelola Emosi

Sumber:  aventislearning.com Puan, bagaimana kalau emosi bukan musuh yang harus dihindari, melainkan sahabat yang bisa memandu kita untuk mengambil keputusan yang lebih bijak? Setiap hari Puan berhadapan dengan emosi yang beragam: senang, cemas, marah, kecewa, sampai rasa tidak berdaya. Sering kali, Puan diajarkan untuk menekan emosi tertentu dan menampilkan emosi lain agar terlihat “baik-baik saja”. Masalahnya, cara ini justru membuat jadi makin lelah. Emosi jadi menumpuk dan akhirnya meledak. Di sisi lain, ada juga yang membiarkan emosi menguasai dirinya. Sedikit kritik bisa membuat patah semangat, atau kegagalan kecil terasa seperti bencana yang besar. Padahal, emosi bukan musuh yang harus dihindari maupun hal yang harus ditaati. Yang kita butuhkan bukan “ positivity berlebihan ”, melainkan keterampilan untuk merespons emosi secara sehat dan fleksibel. Keterampilan inilah yang disebut emotional agility . Apa Itu Emotional Agility? Konsep ini diperkenalkan oleh psikolog Susan Dav...

Intentional Pause: Berhenti Sejenak Bukan Berarti Menyerah

  Sumber: pexels.com Halo, Puan! Puan pernah gak sih merasa harus selalu produktif? Baru selesai satu target, Puan udah langsung memikirkan target berikutnya. Apalagi kalau Puan lihat pencapaian orang lain di media sosial, rasanya jadi pengen ikut lari lebih cepat biar gak ketinggalan. Bahkan ketika sedang beristirahat pun, bisa muncul perasaan bersalah karena merasa gak cukup produktif. Tanpa sadar, Puan telah hidup dalam ritme yang menuntut semuanya serba cepat, cepat sukses, cepat berkembang, cepat mengambil keputusan, dan cepat mencapai tujuan. Padahal, sometimes, the most productive thing you can do is simply pause. Di tengah kehidupan yang serba cepat ini, mengambil jeda secara sadar atau intentional pause bisa menjadi cara untuk refleksi dan kembali terhubung dengan diri sendiri. Bukan sekadar berhenti dari kesibukan, tapi memberi ruang untuk berpikir, merefleksikan keadaan, dan menentukan step atau goals berikutnya dengan lebih bijak. Intentional pause dapat membantu Puan...