Sumber: pexels.com Halo, Puan! Puan pernah gak sih merasa harus selalu produktif? Baru selesai satu target, Puan udah langsung memikirkan target berikutnya. Apalagi kalau Puan lihat pencapaian orang lain di media sosial, rasanya jadi pengen ikut lari lebih cepat biar gak ketinggalan. Bahkan ketika sedang beristirahat pun, bisa muncul perasaan bersalah karena merasa gak cukup produktif. Tanpa sadar, Puan telah hidup dalam ritme yang menuntut semuanya serba cepat, cepat sukses, cepat berkembang, cepat mengambil keputusan, dan cepat mencapai tujuan. Padahal, sometimes, the most productive thing you can do is simply pause. Di tengah kehidupan yang serba cepat ini, mengambil jeda secara sadar atau intentional pause bisa menjadi cara untuk refleksi dan kembali terhubung dengan diri sendiri. Bukan sekadar berhenti dari kesibukan, tapi memberi ruang untuk berpikir, merefleksikan keadaan, dan menentukan step atau goals berikutnya dengan lebih bijak. Intentional pause dapat membantu Puan...
Why are we always in such a rush? Why couldn't we slow a little bit down? Di lingkungan yang serba cepat sekarang ini, slowing down menjadi hal yang terasa tidak produktif dan membuat gerak kita terasa lebih lambat dibandingkan orang lain. Mengapa bisa begitu, ya, Puan? Karena, kita hidup di mana deadlines selalu mengejar, media sosial selalu menemani dan memperlihatkan seseorang di luar sana jauh lebih baik, lebih produktif, dan lebih banyak pencapaian; membuat kita merasa tak seharusnya slowing down di saat orang lain berusaha lebih keras untuk mendapat apa yang mereka inginkan, dengan kata lain, membuat kita merasa tertinggal jika slowing down . Either way, what if all of that is just our worrying mind? what if reality presents its opposite? What if it's literally okay to just try to slow down; to have the ability in living life more fully and peacefully. Why Slowing Down Matters Seperti yang dikatakan Edward Yu (2010, p.7) dalam bukunya The Art of Slowing Down : "W...