Pernah nggak, Puan merasa dulu ada banyak hal yang bisa bikin Puan excited , tapi sekarang hal-hal itu terasa nothing special? Dulu bisa berjam-jam ngelakuin hal yang disuka, sekarang baru beberapa menit sudah ingin berhenti. Dulu punya banyak hal yang ingin dicoba, sekarang ditanya “lagi suka kegiatan apa?” malah bingung mau jawab apa. Puan masih menjalani aktivitas seperti biasa, kuliah, kerja, mengerjakan tugas, ketemu temen, scrolling media sosial. Everything seems fine. Tapi somehow, ada bagian dari diri Puan yang terasa berbeda. Seolah-olah spark yang dulu membuat hari-hari terasa lebih hidup perlahan menghilang. Dan mungkin, Puan mulai bertanya-tanya, “What happened to me?” 1. Stop Trying to Become Your Old Self Ketika merasa kehilangan spark , kita sering kali ingin kembali menjadi diri kita yang dulu. Padahal, Puan udah melewati banyak hal sejak saat itu. Wajar kalau ada bagian dari diri Puan yang berubah. Karena itu, menemukan kembali spark bukan berarti harus meng...
Why are we always in such a rush? Why couldn't we slow a little bit down? Di lingkungan yang serba cepat sekarang ini, slowing down menjadi hal yang terasa tidak produktif dan membuat gerak kita terasa lebih lambat dibandingkan orang lain. Mengapa bisa begitu, ya, Puan? Karena, kita hidup di mana deadlines selalu mengejar, media sosial selalu menemani dan memperlihatkan seseorang di luar sana jauh lebih baik, lebih produktif, dan lebih banyak pencapaian; membuat kita merasa tak seharusnya slowing down di saat orang lain berusaha lebih keras untuk mendapat apa yang mereka inginkan, dengan kata lain, membuat kita merasa tertinggal jika slowing down . Either way, what if all of that is just our worrying mind? what if reality presents its opposite? What if it's literally okay to just try to slow down; to have the ability in living life more fully and peacefully. Why Slowing Down Matters Seperti yang dikatakan Edward Yu (2010, p.7) dalam bukunya The Art of Slowing Down : "W...