Langsung ke konten utama

Pressure to Survive in This Economy: Membedah Hustle Culture dalam Gaya Hidup, Puan!

Belakangan ini ramai dibicarakan dalam media sosial terkait perdebatan penurunan gaya hidup in this economy . Katanya, gaya hidup masyarakat saat ini sangat tinggi, sampai akhirnya berada di fase kesulitan secara finansial. Namun, bagaimana jika sebenarnya Puan telah bekerja keras dan terus-menerus mencari cuan? Fase apa yang sebenarnya sedang Puan tempuh saat ini? Sumber: Magnific.com Realitas Ekonomi Perkembangan teknologi yang sangat pesat saat ini, membuat media sosial menjadi salah satu media untuk bertransaksi secara digital dan menjadi salah satu media yang memengaruhi perekonomian masyarakat dalam memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Hal tersebut dapat dikatakan positif untuk membantu perekonomian, tetapi jika Puan tidak dapat mengontrol penggunaan media sosial sebagai alat transaksi dengan baik, maka Puan dapat terjebak dalam perilaku konsumtif dan dapat memengaruhi keuangan individu. Namun, apakah kesulitan secara finansial yang Puan hadapi saat ini hanya dipengaruhi oleh fakto...

80% Hasil Bisa Datang dari 20% Usaha. Kok Bisa?

 

Puan pernah ngerasa nggak udah sibuk seharian, tapi ketika hari berakhir, masih berasa nggak banyak hal yang benar-benar bergerak maju? Tugas udah dikerjakan, notifikasi udah dibalas, jadwal penuh, tapi tujuan yang ingin dicapai rasanya masih jauh. Kalau pernah, mungkin masalahnya bukan karena Puan kurang kerja keras. Bisa jadi, Puan hanya belum memfokuskan energi pada hal yang paling berdampak. 

Konsep ini dikenal sebagai Pareto Principle atau prinsip 80/20, sebuah gagasan yang diperkenalkan oleh ekonom Italia, Vilfredo Pareto. Secara sederhana, prinsip ini menjelaskan bahwa sekitar 80% hasil yang kita peroleh sering kali berasal dari 20% usaha atau aktivitas yang paling penting. Tentu saja angka 80 dan 20 bukan aturan yang mutlak. Namun, prinsip ini mengingatkan bahwa nggak semua hal memiliki pengaruh yang sama. Ada beberapa aktivitas yang memberi dampak jauh lebih besar dibandingkan yang lainnya.

Baca Juga: Manajemen Waktu Gak Cuma Soal Jam, Tapi Energi Juga!

Apa Artinya untuk Kehidupan Sehari-hari?

Dalam proses bertumbuh, kita sering kali merasa harus melakukan semuanya. Mengikuti banyak kegiatan, mengejar berbagai target, dan berusaha selalu produktif setiap saat. 

Padahal, kadang yang kita butuhkan bukanlah melakukan lebih banyak, melainkan memilih dengan lebih bijak. Misalnya, jika tujuan Puan adalah meningkatkan kemampuan diri, mungkin beberapa aktivitas yang memberikan dampak terbesar adalah:

  • Membaca buku atau artikel yang relevan.

  • Mengikuti pelatihan atau webinar.

  • Membangun portofolio dan pengalaman nyata.

  • Memperluas relasi dengan orang-orang yang memiliki minat yang sama.

Aktivitas-aktivitas tersebut mungkin hanya mengambil sebagian kecil dari waktu yang kita miliki, tetapi manfaatnya bisa terasa jauh lebih besar dalam jangka panjang.

Bekerja Lebih Cerdas, Bukan Sekadar Lebih Sibuk

Prinsip 80/20 mengajak kita untuk berhenti mengukur produktivitas dari seberapa padat jadwal yang kita miliki. Sebaliknya, kita diajak untuk bertanya: "Hal apa yang sebenarnya paling membantu saya bertumbuh?" Karena nggak semua tugas memiliki nilai yang sama. Nggak semua kesibukan membawa kita lebih dekat pada tujuan. Ketika kita mampu mengenali hal-hal yang benar-benar penting, kita bisa menggunakan waktu dan energi dengan lebih efektif. Bukan berarti mengabaikan tanggung jawab lainnya, tetapi belajar memberi prioritas pada hal-hal yang membawa dampak terbesar.

Mulai dari Pertanyaan Sederhana

Puan bisa coba menerapkan prinsip ini dengan meluangkan waktu sejenak untuk bertanya pada diri sendiri:

  • Aktivitas apa yang paling banyak memberikan manfaat bagi saya?

  • Kebiasaan apa yang justru menghabiskan banyak waktu tetapi tidak memberikan dampak yang berarti?

  • Dari semua hal yang sedang saya kerjakan, mana yang benar-benar mendukung tujuan saya?

Mungkin jawabannya nggak langsung ketemu. Namun, semakin Puan mengenali apa yang benar-benar penting, semakin mudah pula kita mengarahkan waktu dan energi ke tempat yang tepat. Pada akhirnya, self-development bukan tentang melakukan semuanya sekaligus. Kadang, bertumbuh justru dimulai ketika kita berani fokus pada beberapa hal yang benar-benar berarti.


Sekilas Tentang Puan Bisa

Puan Bisa adalah komunitas perempuan muda yang mendukung pengembangan karir, self-improvement, dan mental health. Sejak pertama kali didirikan tanggal 1 Oktober 2020 sampai saat ini, Puan Bisa aktif melakukan kegiatan kreatif dan edukatif yang dilakukan dengan tujuan meningkatkan kesadaran perempuan muda (khususnya usia 16-23 tahun) dalam mengembangkan kemampuan dan rasa cinta akan dirinya.


Referensi

Time Doctor. Is the Pareto Principle for Time Management Legit?

Jibble. Prinsip Pareto 80/20: Kerja Cerdas Bukan Kerja Keras

Investopedia. Pareto Principle


Author & Editor: Daru Sekar Arum

Komentar

Rubik Puan Popular

“Aku Gak Kayak Cewek Lain…” Saatnya Kita Ngobrolin Tren Pick-Me Girl Tanpa Judging!

  Image by :  Ultimagz Kalau Puan sering scroll TikTok atau X, pasti Puan pernah dengar istilah “ pick me girl ” cewek yang seolah-olah bilang, “Aku beda dari cewek lain, lho.” Biasanya, ini untuk dapat perhatian cowok dengan cara menjelekkan sisi feminin, seperti bilang “Aku nggak suka dandan karena cewek itu ribet.” Apa Sih Pick‑Me Girl Itu? Menurut psikolog dari Universitas Airlangga, Dr. Ike Herdiana: Mengaku “aku berbeda dari cewek kebanyakan.” Sering merendahkan perempuan lain. Memperlihatkan sisi yang dianggap menarik bagi cowok   Kenapa Bisa Terjadi? Internalized Misogyny ! Tren ini bukan cuma gaya bicara. Ini soal patriarki dan misogini yang sudah tertanam , hingga perempuan juga menjelekkan sesamanya demi validasi laki-laki. Studi akademis juga mendukung bahwa tren TikTok tersebut memperkuat stereotip gender, rivalry,  dan memperlemah solidaritas antar perempuan. Dampak Negatifnya Lingkungan jadi gak nyaman Kalau perempuan saling merendah dan bersaing, nantinya...

The Lipstick Effect in the Age of Bad News

Puan pernah ngalamin nggak, sudah berniat untuk menabung, tapi beberapa jam kemudian sudah ada kopi di tangan Puan? Kopi tersebut sebetulnya lagi nggak Puan perluin sih… tapi Puan pengen beli aja. Mungkin Puan berpikir “Ah cuma 20 ribu, kok” dan merasa aman setelah spend uang akan hal tersebut, tapi nyatanya ini adalah suatu fenomena yang terjadi dalam dunia ekonomi, yaitu kebiasaan membeli barang-barang kecil sebagai bentuk self-reward yang dikenal dengan istilah Lipstick Effect .  Sumber: Magnific.com A. What is the Lipstick Effect? Saat kondisi ekonomi sedang kacau, harga kebutuhan pokok sedang naik-naiknya, banyak konsumen yang mulai menahan diri untuk melakukan pengeluaran besar, mungkin salah satunya adalah Puan. Namun sebagai gantinya, anggaran tersebut malah dialihkan untuk memenuhi kebutuhan psikologis yang lebih terjangkau. Lipstick Effect adalah suatu fenomena yang terjadi saat kondisi ekonomi sedang tidak baik-baik saja, tetapi para konsumen tetap membeli suatu produk ...

2026 The New 2016: Apa itu Nostalgia?

(Gambar: Lemon 8) Apakah Puan saat ini familiar dengan pembahasan 2026 adalah  the new 2016 ?  Banyak orang yang kembali membahas trend yang beredar di tahun 2016 mulai dari fashion hingga aplikasi Tumblr. Istilah ini mengacu kepada budaya digital dan pop culture 2016 yang kembali populer di awal tahun 2026.  Puan mungkin bertanya-tanya, mengapa spesifik tren di 2016. Menurut Ibcomagazine, tren biasanya menjalankan sistem aturan 20 tahun sekali.Maksudnya adalah setiap 20 tahun sekali tren yang ada pada generasi sebelumnya akan muncul pada generasi baru. Contohnya seperti anak-anak di tahun 2000-an yang suka dengan gaya hidup ( lifestyle ) remaja di era tahun 80-han.  Tapi itu dulu. Dulu tren membutuhkan waktu 20 tahun untuk kembali. Sekarang? Peran media sosial memangkasnya menjadi 10 tahun jadinya kita memandang 2026 dan 2016 sebagai era yang berbeda, dan didorong rasa nostalgia kita semakin ingin kembali ke kehidupan dan lifestyle di 2016.  Selain itu, dilan...

Pressure to Survive in This Economy: Membedah Hustle Culture dalam Gaya Hidup, Puan!

Belakangan ini ramai dibicarakan dalam media sosial terkait perdebatan penurunan gaya hidup in this economy . Katanya, gaya hidup masyarakat saat ini sangat tinggi, sampai akhirnya berada di fase kesulitan secara finansial. Namun, bagaimana jika sebenarnya Puan telah bekerja keras dan terus-menerus mencari cuan? Fase apa yang sebenarnya sedang Puan tempuh saat ini? Sumber: Magnific.com Realitas Ekonomi Perkembangan teknologi yang sangat pesat saat ini, membuat media sosial menjadi salah satu media untuk bertransaksi secara digital dan menjadi salah satu media yang memengaruhi perekonomian masyarakat dalam memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Hal tersebut dapat dikatakan positif untuk membantu perekonomian, tetapi jika Puan tidak dapat mengontrol penggunaan media sosial sebagai alat transaksi dengan baik, maka Puan dapat terjebak dalam perilaku konsumtif dan dapat memengaruhi keuangan individu. Namun, apakah kesulitan secara finansial yang Puan hadapi saat ini hanya dipengaruhi oleh fakto...

Mengeluh: Cara Bijak Mengambil Manfaat Tanpa Terperangkap

Image by Greatmind   Puan, Siapa di dunia ini yang tidak pernah mengeluh? Tentunya kita semua pernah. Konon katanya, mengeluh adalah hobi dari kebanyakan orang. Dengan mengeluh, rasa stres memang bisa berkurang, tetapi apabila dilakukan terus-menerus, mengeluh bisa berubah menjadi kebiasaan marah yang serius. Kebiasaan mengeluh terus-menerus dapat mengubah cara kerja otak Puan dalam merespon hal-hal negatif. Keluhan-keluhan yang awalnya kecil bisa menjadi pembentuk kepribadian Puan. Jadi, boleh nggak sih kita ngeluh?  Nggak ada yang salah dengan mengekspresikan apa yang Puan rasakan, tentunya Puan tidak ingin mengubur perasaan Puan. Jika ada sesuatu yang pantas Puan keluhkan, lakukanlah. Namun, harus terus memantau perasaan Puan mengenai hal yang Puan keluhkan, apakah itu pantas untuk dikeluhkan atau hanya perasaan Puan saja? Menjaga sikap mengeluh pada batas wajar juga sangat penting agar Puan bisa tetap maju. Tahukah Puan, orang mengeluh juga ada macamnya loh, sini Priska ka...