Menjadi perempuan muda yang aktif, punya banyak kegiatan organisasi, dan tetap menjaga nilai akademik biar selalu lancar tentu jadi hal yang membanggakan. Gak heran kalau kita selalu berusaha memberikan yang terbaik dan tetap tersenyum ramah di tengah padatnya jadwal sehari-hari. Tapi jujur deh, pernah gak sih Puan merasa kalau semua keproduktifan dan senyuman itu sebenarnya cuma tameng biar kita kelihatan tangguh? Begitu malam tiba dan sendirian di kamar, rasa hampa dan lelah yang luar biasa itu sering kali datang dan susah untuk dihindari. Fenomena ketika kita tetap bersikap normal di luar padahal yang sebenarnya sedang merasa cemas ini disebut sebagai masking atau high functioning anxiety . Isu inilah yang dibahas secara gamblang dalam buku “I Want To Die but I Want To Eat Tteokbokki” karya Baek Sehee. Setiap Luka Punya Hak untuk Merasa Sakit Sering kali kita merasa cemas atau bersalah karena menganggap masalah kita sepele dibanding orang lain. Padahal, buku ini mengingatkan ...
Image by: Netflix Puan, tau nggak sih kalau ada drama korea bergenre romance comedy , tapi uniknya diselipkan isu mental health ? Dari cerita yang bikin baper, drakor berjudul “Can This Love Be Translated” justru mengajak penonton masuk ke konflik batin dari tokoh utama yang baru menyadari bahwa dirinya memiliki kepribadian ganda, atau dalam istilah psikologi disebut Dissociative Identity Disorder (DID) . Di drama ini, kepribadian ganda dijadikan sebagai “Defense mechanism ” yang bikin otak punya cara sendiri buat melindungi dari rasa sakit yang terlalu berat untuk ditanggung. Sampai akhirnya pikiran punya mekanisme sendiri buat melindungi diri. Eits, tapi perlu dicatat ya, Puan, kalo kondisi ini bukan asumsi sembarangan, tapi didiagnosis oleh profesional. Apa sih penyebab kepribadian ganda pada Tokoh Utamanya? 1. Trauma Masa Kecil Adanya trauma berat dan berulang saat kecil bisa membuat otak mencari cara agar bisa tetap “bertahan.” Salah satunya, dengan memisahkan pengalaman dan e...