Puan, pernah nggak sih bikin rencana dengan penuh keyakinan, tapi ujung-ujungnya molor, capek sendiri, atau malah nggak selesai? Tenang, Puan nggak sendirian. Bisa jadi Puan lagi kena planning fallacy.
Apa itu Planning Fallacy?
Planning fallacy adalah bias kognitif yang membuat kita cenderung terlalu optimis saat merencanakan sesuatu. Kita sering meremehkan waktu, tenaga, biaya, dan risiko, sambil meyakini semuanya akan berjalan lancar. Padahal, pengalaman sebelumnya sudah berkali-kali membuktikan: hidup jarang seideal rencana di kepala.
Bias ini pertama kali diperkenalkan oleh Daniel Kahneman dan Amos Tversky lewat pengamatan sederhana dari rekan kerjanya yang sering salah memperkirakan durasi proyeknya sendiri. Meski pernah telat atau gagal sebelumnya, kita tetap merasa, “Kali ini pasti beda.” Inilah jebakan planning fallacy.
Teknik Tiga Skenario sebagai Alternatif
Untuk mengurangi bias ini, Puan bisa menggunakan Teknik Tiga Skenario (Optimis, Realistis, dan Pesimis). Alih-alih hanya menyiapkan satu versi masa depan, teknik ini mengajak kita mempertimbangkan tiga kemungkinan, yaitu optimis, realistis, dan pesimis.
Misalnya, Puan sedang merencanakan pengerjaan skripsi atau proyek besar.
Pada skenario optimis, Puan memperkirakan skripsi bisa selesai dalam dua bulan karena merasa sedang fokus dan semangat.
Pada skenario realistis, Puan mulai mempertimbangkan pengalamannya sebelumnya, seperti jadwal bimbingan tidak selalu lancar revisi bisa datang beberapa kali, dan energi tidak selalu stabil. Waktu pengerjaan bisa menjadi tiga hingga empat bulan.
Sedangkan pada skenario pesimis, Puan mengantisipasi kemungkinan terburuk, seperti data yang sulit didapat, jadwal dosen yang padat, atau kondisi mental yang menurun, sehingga proses bisa memakan waktu lebih lama.
Teknik ini bukan untuk menakut-nakuti diri sendiri, tapi untuk mengingatkan bahwa keterlambatan dan hambatan bukan tanda kegagalan, melainkan bagian dari proses.
Kenapa Teknik ini Penting?
Teknik tiga skenario tidak membuat rencana Puan selalu berhasil. Namun, dapat membantu Puan merencanakan sesuatu dengan lebih siap, lebih jujur, dan adaptif. Dengan begitu, ketika rencana meleset, Puan tidak langsung menyalahkan diri sendiri. Karena pada akhirnya, merencanakan hidup bukan soal memastikan semuanya sempurna, tapi soal tetap melangkah meski realita tidak sesuai dengan ekspektasi.
Referensi:
Komentar
Posting Komentar