Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2023

Mengupas High Functioning Anxiety Lewat Buku “I Want To Die But I Want To Eat Tteokpokki”

  Menjadi perempuan muda yang aktif, punya banyak kegiatan organisasi, dan tetap menjaga nilai akademik biar selalu lancar tentu jadi hal yang membanggakan. Gak heran kalau kita selalu berusaha memberikan yang terbaik dan tetap tersenyum ramah di tengah padatnya jadwal sehari-hari. Tapi jujur deh, pernah gak sih Puan merasa kalau semua keproduktifan dan senyuman itu sebenarnya cuma tameng biar kita kelihatan tangguh? Begitu malam tiba dan sendirian di kamar, rasa hampa dan lelah yang luar biasa itu sering kali datang dan susah untuk dihindari. Fenomena ketika kita tetap bersikap normal di luar padahal yang sebenarnya sedang merasa cemas ini disebut sebagai masking atau high functioning anxiety . Isu inilah yang dibahas secara gamblang dalam buku “I Want To Die but I Want To Eat Tteokbokki” karya Baek Sehee. Setiap Luka Punya Hak untuk Merasa Sakit Sering kali kita merasa cemas atau bersalah karena menganggap masalah kita sepele dibanding orang lain. Padahal, buku ini mengingatkan ...

Spotlight Effect : Seakan-akan Diperhatikan Oleh Banyak Mata, Padahal Mah… Belum Tentu!

Pernahkan Puan berada di suatu tempat keramaian seperti foodcourt dan hendak memesan makanan namun, secara tidak sengaja Puan menyenggol gelas di sekitar Puan dan gelas tersebut pecah. Lalu ketika sibuk membersihkan gelas tersebut, Puan Bisa merasa bahwa sorotan orang-orang di sekitar memperhatikan Puan secara seksama dan seketika Puan Bisa mendadak kaku akibat perasaan tersebut. Pernah mengalami hal tersebut? Jika pernah, hal tersebut dinamakan spotlight effect atau efek sorotan. Spotlight effect merupakan suatu fenomena dimana Puan Bisa berpikir bahwa semua orang memperhatikan Puan. Fenomena ini telah dikenal dalam ilmu psikologi sejak tahun 2000, persisnya ketika Thomas Gilovich, Victoria Husted Medvec, dan Kenneth Savitsky meluncurkan studi dengan judul “The Spotlight Effect in Social Judgment: An Egocentric Bias in Estimates of The Salience of One’s Own Actions and Appearance” Seorang dosen psikologi di University of California, Berkeley, Amerika Serikat bernama Rodolfo Mendoza...

Society’s Standards, Haruskah Kita Sempurna?

“Society’s Standards”. Pernahkah Puan mendengar istilah ini? Gampangnya, society’s standards adalah suatu standar yang dijadikan acuan seseorang dalam melakukan sesuatu. Society’s standards biasanya memegang prinsip kesempurnaan. Oleh karena itu, sebagian besar dari Puan Bisa pasti pernah merasakan tekanan dari society‘s standards . Tekanan yang kita rasakan akibat society‘s standards sudah sering kita rasakan bahkan sebelum kita mengenal kata “sempurna”. Banyak dari Puan pasti pernah didorong untuk menjadi seseorang yang bukan diri kita hanya untuk bisa beradaptasi dalam society . Society menginginkan kita untuk menjadi sempurna. Puan harus menjadi pintar, lucu, cantik, berbakat, dan masih banyak lagi terkadang hanya untuk bisa diterima di suatu lingkungan. Puan percayalah, bertahan di lingkungan seperti itu sangatlah tidak sehat. Banyak orang melakukan hal yang tidak mereka ingin lakukan agar bisa diterima dalam sebuah society . Seperti mengubah opini, gaya rambut, fitur wajah, dan...