Langsung ke konten utama

Mengupas High Functioning Anxiety Lewat Buku “I Want To Die But I Want To Eat Tteokpokki”

  Menjadi perempuan muda yang aktif, punya banyak kegiatan organisasi, dan tetap menjaga nilai akademik biar selalu lancar tentu jadi hal yang membanggakan. Gak heran kalau kita selalu berusaha memberikan yang terbaik dan tetap tersenyum ramah di tengah padatnya jadwal sehari-hari. Tapi jujur deh, pernah gak sih Puan merasa kalau semua keproduktifan dan senyuman itu sebenarnya cuma tameng biar kita kelihatan tangguh? Begitu malam tiba dan sendirian di kamar, rasa hampa dan lelah yang luar biasa itu sering kali datang dan susah untuk dihindari. Fenomena ketika kita tetap bersikap normal di luar padahal yang sebenarnya sedang merasa cemas ini disebut sebagai masking atau high functioning anxiety . Isu inilah yang dibahas secara gamblang dalam buku “I Want To Die but I Want To Eat Tteokbokki” karya Baek Sehee. Setiap Luka Punya Hak untuk Merasa Sakit Sering kali kita merasa cemas atau bersalah karena menganggap masalah kita sepele dibanding orang lain. Padahal, buku ini mengingatkan ...

Detox Pikiran di Bulan Ramadhan: Stop Comparing, Start Reflecting!


Image by: Pinterest


Puan, kalau dengar kata Ramadhan, biasanya yang langsung kepikiran apa? Kata sahur, buka, nahan lapar, nahan haus, dan nahan amarah ya? 

Tapi pernah nggak kepikiran kalau Ramadhan itu sebenarnya lagi ngajarin kita tentang detox diri? Yup, nggak cuma detoks fisik aja, tapi juga detox pikiran.


Karena kalau mau jujur, yang bikin capek di bulan puasa itu kadang bukan aktivitasnya. Bukan juga jadwal yang padat. Tapi isi kepala kita sendiri.


Contohnya buka media sosial sebentar, tau-tau langsung insecure terus bilang “Kok dia udah sejauh itu ya?” Atau waktu lihat teman yang aktif, Puan malah mikir “Kenapa hidup aku kayaknya stuck?”, “Orang lain keliatan produktif banget, aku kok gini-gini aja ya?” 


Tanpa sadar, kita lebih sering membandingkan daripada menikmati proses. Padahal Ramadhan datang buat ngajarin kita hal penting: tentang pelan-pelan, sadar, dan kembali ke diri sendiri.


Apa Sih Maksudnya “Detox Pikiran”?

Detox pikiran itu ngajarin buat nahan dorongan membandingkan diri sendiri. Seperti:

  • Stop ngukur value diri dari pencapaian orang lain

  • Stop cari validasi di angka like dan views

  • Stop overthinking berlebihan

Karena realitanya hidup itu bukan lomba lari. Nggak ada yang telat atau ketinggalan. Setiap orang punya jalur masing-masing. Kadang yang perlu dibersihin itu isi kepala diri sendiri dengan pemikiran negatifnya yang beragam.

Baca Juga: https://puanbisa.blogspot.com/2025/11/selalu-menunda-pekerjaan-hati-hati.html

Gimana Cara Stop Comparing & Start Reflecting?

Nggak perlu berubah drastis. Nggak harus langsung jadi versi paling “mindful”. Cukup mulai pelan-pelan dan bisa lakuin cara di bawah ini:

1. Kurangi Scroll, Tambah Kontrol

Nggak harus delete apps atau nonaktifin akun. Cukup sadar kapan Puan berhenti scrolling tanpa tujuan. Coba tuker 15–30 menit scroll jadi:

- Journaling habis sahur

- uduk tenang sebelum buka puasa

- Baca 1–2 halaman buku

Karena penelitian dari American Psychological Association juga menunjukkan bahwa overuse media sosial berkaitan dengan peningkatan kecemasan dan perasaan tidak cukup. Jadi ya, kalau kamu pernah merasa makin insecure setelah scrolling, itu bukan lebay. Itu valid ya, Puan.

2. Kenali Trigger diri sendiri

Setiap orang punya trigger masing-masing yang berbeda. Ada yang langsung down kalau lihat karier orang lain. Ada yang soal relationship. Ada juga yang sensitif banget kalau bahas finansial. Sadari dulu. Bukan untuk menyalahkan diri, tapi supaya Puan bisa mengontrol respon, bukan dikontrol emosi.

3. Ganti Pertanyaan di Kepala

Daripada bilang "Kenapa dia lebih cepat dari Puan?” Coba diganti menjadi “Hari ini Puan berkembang di bagian mana?”

Nah, Refleksi kecil tiap malam juga bisa banget buat bantu: 

  • Apa yang bikin Puan bersyukur hari ini?

  • Satu hal kecil yang bisa Puan improve untuk besok?

  • Pelajaran apa yang Puan dapat hari ini? 

That’s simple, but powerful.

4. Fokus ke Progress Versi Puan

Nggak semua orang start dari titik yang sama. Nggak semua orang punya jalur yang sama. Ramadhan ngajarin kita soal kesabaran. Dan sabar itu bukan pasrah, tapi konsisten untuk fokus ke progres dan hasil diri Puan sendiri. 

5. Selalu Hadir di Semua Momen 

Waktu sahur, nikmati. Waktu buka, rasakan. Waktu ibadah, fokus. Karena kadang kita terlalu sibuk lihat hidup orang lain sampai lupa menikmati hidup sendiri. Karena Nggak semua orang start dari titik yang sama, punya privilege yang sama, maupun timeline yang sama. Latihan mindfulness kaya gini juga bisa membantu Puan mengurangi stres dan overthinking, loh! 


Puan, Ramadhan bukan tentang terlihat berubah. Tapi tentang benar-benar berubah. Nggak harus dramatis. Nggak harus langsung perfect. Cukup mulai dari berhenti membandingkan. Stop comparing. Start reflecting. Karena ketenangan itu nggak datang saat kamu jadi “lebih dari orang lain”, tapi saat kamu cukup dengan versi dirimu sendiri.


Sekilas Tentang Puan Bisa

Puan Bisa adalah komunitas perempuan muda yang mendukung pengembangan karir, self-improvement, dan mental health. Sejak pertama kali didirikan tanggal 1 Oktober 2020 sampai saat ini, Puan Bisa aktif melakukan kegiatan kreatif dan edukatif yang dilakukan dengan tujuan meningkatkan kesadaran perempuan muda (khususnya usia 16-23 tahun) dalam mengembangkan kemampuan dan rasa cinta akan dirinya.


Author & Editor: Citra Sofia Virnanda


Sumber Referensi:

Ismail, M. (2026). Memulihkan Fokus, Menjemput Kekhusyukan: Digital Detox di Ambang Ramadhan. uin alaudin. https://uin-alauddin.ac.id/opini/detail/memulihkan-fokus-menjemput-kekhusyukan--digital-detox-di-ambang-ramadhan-h-3

Arlinta, D. (2016). Puasa Jadi Sarana Detoksifikasi Jiwa. Kompas.https://www.kompas.id/artikel/puasa-jadi-sarana-detoksifikasi-jiwa

Kenbaran, L. Puasa Jadi Sarana Detoksifikasi Jiwa. RS Marzoeki. https://rsmmbogor.com/puasa-sebagai-sarana-detoksifikasi

Masyitoh, N. (2025). Puasa di Era Digital Mindfulness dan Digital Detox. https://kotayogya.baznas.go.id/berita/news-show/puasa-di-era-digital-mindfulness-dan-


Author 7 Editor: Citra Sofia Virnandadigital-detox/

Komentar

Rubik Puan Popular

Mengupas High Functioning Anxiety Lewat Buku “I Want To Die But I Want To Eat Tteokpokki”

  Menjadi perempuan muda yang aktif, punya banyak kegiatan organisasi, dan tetap menjaga nilai akademik biar selalu lancar tentu jadi hal yang membanggakan. Gak heran kalau kita selalu berusaha memberikan yang terbaik dan tetap tersenyum ramah di tengah padatnya jadwal sehari-hari. Tapi jujur deh, pernah gak sih Puan merasa kalau semua keproduktifan dan senyuman itu sebenarnya cuma tameng biar kita kelihatan tangguh? Begitu malam tiba dan sendirian di kamar, rasa hampa dan lelah yang luar biasa itu sering kali datang dan susah untuk dihindari. Fenomena ketika kita tetap bersikap normal di luar padahal yang sebenarnya sedang merasa cemas ini disebut sebagai masking atau high functioning anxiety . Isu inilah yang dibahas secara gamblang dalam buku “I Want To Die but I Want To Eat Tteokbokki” karya Baek Sehee. Setiap Luka Punya Hak untuk Merasa Sakit Sering kali kita merasa cemas atau bersalah karena menganggap masalah kita sepele dibanding orang lain. Padahal, buku ini mengingatkan ...

Sambut Tahun Ajaran Baru, Hoshizora Foundation Kembali Perluas Kesempatan Anak Lanjut Sekolah Lewat Pembukaan Beasiswa Mimpi Anak Negeri 2026

Poster pembukaan pendaftaran Beasiswa Mimpi Anak Negeri (hoshizora.org) Yogyakarta, Juli 2026 – Setiap anak berhak memiliki kesempatan yang sama untuk meraih masa depan melalui pendidikan berkualitas. Untuk mewujudkan komitmen tersebut, Hoshizora Foundation kembali membuka pendaftaran Beasiswa Mimpi Anak Negeri (BMAN) 2026 yang berlangsung pada 6 hingga 19 Juli 2026. Program beasiswa ini ditujukan bagi siswa/i kelas IV SD hingga kelas X SMA yang akan segera memasuki tahun ajaran baru 2026/2027. Fokus menargetkan anak-anak dari keluarga pra sejahtera di seluruh Indonesia, Hoshizora Foundation membuka kesempatan dukungan pendidikan bagi siswa yang memiliki semangat belajar tinggi dan memiliki keinginan kuat meraih cita-cita, walaupun di tengah keterbatasan ekonomi.  Beasiswa Mimpi Anak Negeri merupakan salah satu program utama Hoshizora Foundation sejak 2006 yang tidak hanya memberikan bantuan biaya pendidikan, tetapi juga memfasilitasi pendampingan secara berkelanjutan kepada pener...

Membaca Buku: Cara Mudah dan Murah untuk Menjaga Mental Health

Ilustrasi seseorang yang sedang membaca buku (unsplash.com) Hai Puan! Akhir-akhir ini, kegiatan membaca buku jadi tren yang dinikmati oleh berbagai kalangan. Banyak orang yang mulai tertarik dengan tren literasi di media sosial. Apalagi saat ini banyak sekali akun influencer pecinta buku yang aktif mengunggah konten terkait ulasan buku di media sosial, seperti Instagram, TikTok, dan X.  Hal ini menyebabkan seseorang yang awalnya belum suka atau belum tertarik membaca buku dapat terpengaruh. Tak jarang, beberapa orang hanya membaca karena ikut-ikutan dan takut tertinggal tren. Padahal, meneruskan kebiasaan membaca tidak hanya meningkatkan pengetahuan, tetapi juga bisa bermanfaat untuk kesehatan, khususnya kesehatan mental. Beberapa manfaat membaca buku bagi kesehatan mental yang harus Puan ketahui: 1. Membaca buku dapat mengurangi stres.   Penelitian menunjukkan bahwa membaca hanya enam menit dalam sehari dapat mengurangi tingkat stres hingga 60% dengan menurunkan detak jantun...

“I Wish I Knew When I Was 20” Memahami Hidup Mulai dari Usia 20 Tahun

  Buku "What I Wish I Knew When I Was 20" karya Prof. Tina Seelig (Amazon.com) Menginjak usia 20 terlihat menyenangkan karena Puan telah memiliki kebebasan atas diri sendiri. Di usia muda, tubuh Puan masih bertenaga maksimal dan optimal, pikiran masih fresh , ide-ide yang dikeluarkan masih up to date , intinya Puan lagi ada di masa-masa emas untuk mengembangkan suatu hal. Namun, yang jarang terlihat adalah masa saat Puan merasa clueless akan hidup Puan sendiri untuk memutuskan karir dan perjalanan hidup Puan ke depannya. Baca juga: Motivasi Bukan Ditunggu, tapi Dicari Lewat Aksi Lalu, apa saja sebenarnya hal yang harus dipahami untuk menjalani hidup saat menginjak usia 20 tahun? Mengutip dari buku “What I Wish I Knew When I Was 20” karya Prof. Tina Seelig ada beberapa hal yang dapat Puan lakukan: Jangan Menunggu, Tapi Ciptakan! Seringkali Puan berpikir untuk menunggu kesempatan datang, menunggu orang lain yang membukanya, menunggu offering yang datang. Padahal, Puan bisa men...

Tidak Semua Zona Nyaman Perlu Ditinggalkan

                                                                                   Image by: Pinterest   Puan pernah denger nggak sih satu nasihat ini: “keluar dari zona nyaman kalau mau berkembang.” Masalahnya, tidak semua orang bertahan di zona nyaman itu stagnan. Dan tidak semua orang yang keluar dari zona nyaman benar-benar bertumbuh. Jadi, pertanyaannya bukan lagi harus keluar atau tidak, tapi: Apakah Puan tahu kapan harus tetap tinggal, dan kapan harus melangkah? Baca Juga:   Dealing dengan Comparison Trap Saat Lebaran Zona Nyaman Tidak Selalu Musuh Zona nyaman sering digambarkan sebagai tempat yang “menjebak.” Padahal, dalam banyak kasus, justru di sanalah Puan dapat membangun stabilitas. Zona nyaman bisa berarti: rutinitas ...