Langsung ke konten utama

Decision Fatigue: Kenapa Memilih Menu Makan Malam Bisa Terasa Sangat Berat?

  Ilustrasi seseorang yang mengalami decision fatigue (brainfacts.org) Pernah nggak, Puan ngerasa kalau semakin sore, Puan jadi semakin ceroboh atau malah makin nggak bisa milih sesuatu? Puan sanggup menyelesaikan revisi tugas yang sulit di pagi hari, tapi begitu malam tiba, memilih film di Netflix saja butuh waktu satu jam dan berakhir nggak jadi nonton apa-apa karena bingung. Fenomena ini dikenal sebagai decision fatigue atau kelelahan mengambil keputusan. Sederhananya, otak Puan memiliki kapasitas terbatas untuk membuat pilihan setiap hari. Setiap keputusan yang diambil, mulai dari memilih pakaian, menentukan menu sarapan, memilih rute perjalanan, hingga membalas pesan penting, sedikit demi sedikit menguras energi mental Puan sendiri. Kenapa Fenomena Ini Bisa Terjadi? Ibaratnya, otak Puan seperti baterai HP. Setiap pilihan yang Puan buat, sekecil apa pun, memakan daya baterai tersebut. Masalahnya, pendidikan sampai pekerjaan memaksa Puan mengambil ribuan keputusan kecil setiap ...

Detox Pikiran di Bulan Ramadhan: Stop Comparing, Start Reflecting!


Image by: Pinterest


Puan, kalau dengar kata Ramadhan, biasanya yang langsung kepikiran apa? Kata sahur, buka, nahan lapar, nahan haus, dan nahan amarah ya? 

Tapi pernah nggak kepikiran kalau Ramadhan itu sebenarnya lagi ngajarin kita tentang detox diri? Yup, nggak cuma detoks fisik aja, tapi juga detox pikiran.


Karena kalau mau jujur, yang bikin capek di bulan puasa itu kadang bukan aktivitasnya. Bukan juga jadwal yang padat. Tapi isi kepala kita sendiri.


Contohnya buka media sosial sebentar, tau-tau langsung insecure terus bilang “Kok dia udah sejauh itu ya?” Atau waktu lihat teman yang aktif, Puan malah mikir “Kenapa hidup aku kayaknya stuck?”, “Orang lain keliatan produktif banget, aku kok gini-gini aja ya?” 


Tanpa sadar, kita lebih sering membandingkan daripada menikmati proses. Padahal Ramadhan datang buat ngajarin kita hal penting: tentang pelan-pelan, sadar, dan kembali ke diri sendiri.


Apa Sih Maksudnya “Detox Pikiran”?

Detox pikiran itu ngajarin buat nahan dorongan membandingkan diri sendiri. Seperti:

  • Stop ngukur value diri dari pencapaian orang lain

  • Stop cari validasi di angka like dan views

  • Stop overthinking berlebihan

Karena realitanya hidup itu bukan lomba lari. Nggak ada yang telat atau ketinggalan. Setiap orang punya jalur masing-masing. Kadang yang perlu dibersihin itu isi kepala diri sendiri dengan pemikiran negatifnya yang beragam.

Baca Juga: https://puanbisa.blogspot.com/2025/11/selalu-menunda-pekerjaan-hati-hati.html

Gimana Cara Stop Comparing & Start Reflecting?

Nggak perlu berubah drastis. Nggak harus langsung jadi versi paling “mindful”. Cukup mulai pelan-pelan dan bisa lakuin cara di bawah ini:

1. Kurangi Scroll, Tambah Kontrol

Nggak harus delete apps atau nonaktifin akun. Cukup sadar kapan Puan berhenti scrolling tanpa tujuan. Coba tuker 15–30 menit scroll jadi:

- Journaling habis sahur

- uduk tenang sebelum buka puasa

- Baca 1–2 halaman buku

Karena penelitian dari American Psychological Association juga menunjukkan bahwa overuse media sosial berkaitan dengan peningkatan kecemasan dan perasaan tidak cukup. Jadi ya, kalau kamu pernah merasa makin insecure setelah scrolling, itu bukan lebay. Itu valid ya, Puan.

2. Kenali Trigger diri sendiri

Setiap orang punya trigger masing-masing yang berbeda. Ada yang langsung down kalau lihat karier orang lain. Ada yang soal relationship. Ada juga yang sensitif banget kalau bahas finansial. Sadari dulu. Bukan untuk menyalahkan diri, tapi supaya Puan bisa mengontrol respon, bukan dikontrol emosi.

3. Ganti Pertanyaan di Kepala

Daripada bilang "Kenapa dia lebih cepat dari Puan?” Coba diganti menjadi “Hari ini Puan berkembang di bagian mana?”

Nah, Refleksi kecil tiap malam juga bisa banget buat bantu: 

  • Apa yang bikin Puan bersyukur hari ini?

  • Satu hal kecil yang bisa Puan improve untuk besok?

  • Pelajaran apa yang Puan dapat hari ini? 

That’s simple, but powerful.

4. Fokus ke Progress Versi Puan

Nggak semua orang start dari titik yang sama. Nggak semua orang punya jalur yang sama. Ramadhan ngajarin kita soal kesabaran. Dan sabar itu bukan pasrah, tapi konsisten untuk fokus ke progres dan hasil diri Puan sendiri. 

5. Selalu Hadir di Semua Momen 

Waktu sahur, nikmati. Waktu buka, rasakan. Waktu ibadah, fokus. Karena kadang kita terlalu sibuk lihat hidup orang lain sampai lupa menikmati hidup sendiri. Karena Nggak semua orang start dari titik yang sama, punya privilege yang sama, maupun timeline yang sama. Latihan mindfulness kaya gini juga bisa membantu Puan mengurangi stres dan overthinking, loh! 


Puan, Ramadhan bukan tentang terlihat berubah. Tapi tentang benar-benar berubah. Nggak harus dramatis. Nggak harus langsung perfect. Cukup mulai dari berhenti membandingkan. Stop comparing. Start reflecting. Karena ketenangan itu nggak datang saat kamu jadi “lebih dari orang lain”, tapi saat kamu cukup dengan versi dirimu sendiri.


Sekilas Tentang Puan Bisa

Puan Bisa adalah komunitas perempuan muda yang mendukung pengembangan karir, self-improvement, dan mental health. Sejak pertama kali didirikan tanggal 1 Oktober 2020 sampai saat ini, Puan Bisa aktif melakukan kegiatan kreatif dan edukatif yang dilakukan dengan tujuan meningkatkan kesadaran perempuan muda (khususnya usia 16-23 tahun) dalam mengembangkan kemampuan dan rasa cinta akan dirinya.


Author & Editor: Citra Sofia Virnanda


Sumber Referensi:

Ismail, M. (2026). Memulihkan Fokus, Menjemput Kekhusyukan: Digital Detox di Ambang Ramadhan. uin alaudin. https://uin-alauddin.ac.id/opini/detail/memulihkan-fokus-menjemput-kekhusyukan--digital-detox-di-ambang-ramadhan-h-3

Arlinta, D. (2016). Puasa Jadi Sarana Detoksifikasi Jiwa. Kompas.https://www.kompas.id/artikel/puasa-jadi-sarana-detoksifikasi-jiwa

Kenbaran, L. Puasa Jadi Sarana Detoksifikasi Jiwa. RS Marzoeki. https://rsmmbogor.com/puasa-sebagai-sarana-detoksifikasi

Masyitoh, N. (2025). Puasa di Era Digital Mindfulness dan Digital Detox. https://kotayogya.baznas.go.id/berita/news-show/puasa-di-era-digital-mindfulness-dan-


Author 7 Editor: Citra Sofia Virnandadigital-detox/

Komentar

Rubik Puan Popular

Satu Buket, Banyak Cerita : Puan Bisa Hadirkan Pengalaman Kreatif untuk Perempuan Muda

                                                                                                              24 Mei 2026 - Puan Bisa kembali hadirkan Learning Space bertema “ Artificial Flower Market & Self - Workshop : Arrange Your Own Growth ” pada Minggu (24/5) di Kopi Lupi. Mengundang Kak Azza, Owner dari BQ Florist sebagai pembicara, workshop ini berhasil menjangkau 24 peserta dari kawasan Jabodetabek. Menggaet BQ Florist sebagai kolaborat...

Decision Fatigue: Kenapa Memilih Menu Makan Malam Bisa Terasa Sangat Berat?

  Ilustrasi seseorang yang mengalami decision fatigue (brainfacts.org) Pernah nggak, Puan ngerasa kalau semakin sore, Puan jadi semakin ceroboh atau malah makin nggak bisa milih sesuatu? Puan sanggup menyelesaikan revisi tugas yang sulit di pagi hari, tapi begitu malam tiba, memilih film di Netflix saja butuh waktu satu jam dan berakhir nggak jadi nonton apa-apa karena bingung. Fenomena ini dikenal sebagai decision fatigue atau kelelahan mengambil keputusan. Sederhananya, otak Puan memiliki kapasitas terbatas untuk membuat pilihan setiap hari. Setiap keputusan yang diambil, mulai dari memilih pakaian, menentukan menu sarapan, memilih rute perjalanan, hingga membalas pesan penting, sedikit demi sedikit menguras energi mental Puan sendiri. Kenapa Fenomena Ini Bisa Terjadi? Ibaratnya, otak Puan seperti baterai HP. Setiap pilihan yang Puan buat, sekecil apa pun, memakan daya baterai tersebut. Masalahnya, pendidikan sampai pekerjaan memaksa Puan mengambil ribuan keputusan kecil setiap ...

Merasa Dipahami, atau Hanya Divalidasi? Fenomena Baru Kesehatan Mental

Sumber: Pinterest Pernah nggak sih, Puan lagi ngerasa capek, overthinking , atau sekadar butuh didenger… terus akhirnya buka media sosial? Scroll bentar, lihat story orang lain, posting sesuatu, nungguin like masuk. Atau mungkin, Puan malah buka chat dan mulai curhat panjang dan yang jawab bukan manusia, tapi AI. Aneh nggak sih? Kita bisa ngerasa lega, walaupun yang “dengerin” bukan orang beneran. Kalau Puan pernah ngerasain itu, tenang… Puan nggak sendirian. Tapi, mungkin tanpa sadar, Puan lagi ada di tengah fenomena yang lebih besar: mencari validasi secara online —baik dari manusia di sosial media, maupun dari teknologi seperti ChatGPT. Yuk, kita bedah pelan-pelan, kenapa ini bisa terjadi dan apa dampaknya ke kesehatan mental Puan. Kenapa Kita Butuh Banget Validasi? Secara dasar, manusia itu memang butuh merasa: didengar, dipahami, dan diterima. Namun, Itu bukan kelemahan, melainkan kebutuhan psikologis. Masalahnya, di era digital, cara kita memenuhi kebutuhan itu jadi berubah. Set...

Perempuan dan Overachievement Trap: Sisi Lain Produktivitas

  Pict by: Bustle.com Pernahkah Puan merasa sudah berusaha dengan maksimal, tetapi merasa performa yang ditampilkan kurang ataupun berusaha untuk mengejar ekspektasi agar bisa selalu dihargai?  Alih-alih merasa puas, Puan justru terus mendorong diri untuk melakukan hal-hal diluar batas diri Puan. Hal ini bukan karena tuntutan yang sudah jelas ada, melainkan ada dorongan untuk selalu memenuhi ekspektasi, baik diri sendiri maupun orang lain. Jika kondisi ini terasa familiar, bisa jadi Puan sedang berada dalam overachievement trap. Apa Itu Overachievement Trap ? Overachievement trap merupakan kondisi ketika seseorang terus berusaha mencapai level yang lebih tinggi, bukan karena kebutuhannya, melainkan merasa dirinya sebagai perempuan belum cukup layak dan dihargai oleh sekitar. Secara psikologis, kondisi ini berkaitan dengan perfeksionisme, terutama dipengaruhi oleh tekanan sosial.  Paul L. Hewitt dan Gordon L. Flett menjelaskan bahwa perfeksionisme yang berorientasi pada t...

Business Mindset untuk Daily Life: Cara Berpikir Strategis dalam Menjalani Hidup

image by RDNE Stock project P uan, pernah nggak sih ngerasa sibuk dan banyak ikut kegiatan, tapi ujung-ujungnya masih ngerasa ‘ what am I really building? ’ Di dunia bisnis ada yang namanya Business Mindset . Dalam mindset ini tuh nggak cuma soal target, profit, atau strategi perusahaan. Intinya, ini tentang cara berpikir yang terarah, proaktif, dan adaptif .  Prinsip-prinsip ini nggak cuma berlaku untuk perusahaan, tapi juga bisa langsung diterapin di kehidupan sehari-hari. Misalnya, supaya Puan bisa: Nggak cuma sibuk, tapi tahu prioritas dan arah. Berpikir analitis sebelum mengambil keputusan. Mengelola hidup dan tujuan seperti proyek nyata. Tetap fleksibel dan komunikatif di tengah perubahan. Baca juga: Soft Skill, Kunci Bertahan Puan di Dunia Nyata Nah, supaya nggak cuma teori aja, kita langsung masuk ke beberapa mindset kunci yang bisa Puan terapkan mulai sekarang. 1. Proaktif: Jangan Cuma Nunggu Kesempatan Menurut Future of Jobs Report 2023 dari World Economic Forum, keteram...