Langsung ke konten utama

How to Find Your Spark Again, One Little Thing at a Time

Pernah nggak, Puan merasa dulu ada banyak hal yang bisa bikin Puan excited , tapi sekarang hal-hal itu terasa nothing special? Dulu bisa berjam-jam ngelakuin hal yang disuka, sekarang baru beberapa menit sudah ingin berhenti. Dulu punya banyak hal yang ingin dicoba, sekarang ditanya “lagi suka kegiatan apa?” malah bingung mau jawab apa. Puan masih menjalani aktivitas seperti biasa, kuliah, kerja, mengerjakan tugas, ketemu temen, scrolling media sosial. Everything seems fine. Tapi somehow, ada bagian dari diri Puan yang terasa berbeda. Seolah-olah spark yang dulu membuat hari-hari terasa lebih hidup perlahan menghilang.  Dan mungkin, Puan mulai bertanya-tanya, “What happened to me?”  1. Stop Trying to Become Your Old Self Ketika merasa kehilangan spark , kita sering kali ingin kembali menjadi diri kita yang dulu. Padahal, Puan udah melewati banyak hal sejak saat itu. Wajar kalau ada bagian dari diri Puan yang berubah. Karena itu, menemukan kembali spark bukan berarti harus meng...

Detox Pikiran di Bulan Ramadhan: Stop Comparing, Start Reflecting!


Image by: Pinterest


Puan, kalau dengar kata Ramadhan, biasanya yang langsung kepikiran apa? Kata sahur, buka, nahan lapar, nahan haus, dan nahan amarah ya? 

Tapi pernah nggak kepikiran kalau Ramadhan itu sebenarnya lagi ngajarin kita tentang detox diri? Yup, nggak cuma detoks fisik aja, tapi juga detox pikiran.


Karena kalau mau jujur, yang bikin capek di bulan puasa itu kadang bukan aktivitasnya. Bukan juga jadwal yang padat. Tapi isi kepala kita sendiri.


Contohnya buka media sosial sebentar, tau-tau langsung insecure terus bilang “Kok dia udah sejauh itu ya?” Atau waktu lihat teman yang aktif, Puan malah mikir “Kenapa hidup aku kayaknya stuck?”, “Orang lain keliatan produktif banget, aku kok gini-gini aja ya?” 


Tanpa sadar, kita lebih sering membandingkan daripada menikmati proses. Padahal Ramadhan datang buat ngajarin kita hal penting: tentang pelan-pelan, sadar, dan kembali ke diri sendiri.


Apa Sih Maksudnya “Detox Pikiran”?

Detox pikiran itu ngajarin buat nahan dorongan membandingkan diri sendiri. Seperti:

  • Stop ngukur value diri dari pencapaian orang lain

  • Stop cari validasi di angka like dan views

  • Stop overthinking berlebihan

Karena realitanya hidup itu bukan lomba lari. Nggak ada yang telat atau ketinggalan. Setiap orang punya jalur masing-masing. Kadang yang perlu dibersihin itu isi kepala diri sendiri dengan pemikiran negatifnya yang beragam.

Baca Juga: https://puanbisa.blogspot.com/2025/11/selalu-menunda-pekerjaan-hati-hati.html

Gimana Cara Stop Comparing & Start Reflecting?

Nggak perlu berubah drastis. Nggak harus langsung jadi versi paling “mindful”. Cukup mulai pelan-pelan dan bisa lakuin cara di bawah ini:

1. Kurangi Scroll, Tambah Kontrol

Nggak harus delete apps atau nonaktifin akun. Cukup sadar kapan Puan berhenti scrolling tanpa tujuan. Coba tuker 15–30 menit scroll jadi:

- Journaling habis sahur

- uduk tenang sebelum buka puasa

- Baca 1–2 halaman buku

Karena penelitian dari American Psychological Association juga menunjukkan bahwa overuse media sosial berkaitan dengan peningkatan kecemasan dan perasaan tidak cukup. Jadi ya, kalau kamu pernah merasa makin insecure setelah scrolling, itu bukan lebay. Itu valid ya, Puan.

2. Kenali Trigger diri sendiri

Setiap orang punya trigger masing-masing yang berbeda. Ada yang langsung down kalau lihat karier orang lain. Ada yang soal relationship. Ada juga yang sensitif banget kalau bahas finansial. Sadari dulu. Bukan untuk menyalahkan diri, tapi supaya Puan bisa mengontrol respon, bukan dikontrol emosi.

3. Ganti Pertanyaan di Kepala

Daripada bilang "Kenapa dia lebih cepat dari Puan?” Coba diganti menjadi “Hari ini Puan berkembang di bagian mana?”

Nah, Refleksi kecil tiap malam juga bisa banget buat bantu: 

  • Apa yang bikin Puan bersyukur hari ini?

  • Satu hal kecil yang bisa Puan improve untuk besok?

  • Pelajaran apa yang Puan dapat hari ini? 

That’s simple, but powerful.

4. Fokus ke Progress Versi Puan

Nggak semua orang start dari titik yang sama. Nggak semua orang punya jalur yang sama. Ramadhan ngajarin kita soal kesabaran. Dan sabar itu bukan pasrah, tapi konsisten untuk fokus ke progres dan hasil diri Puan sendiri. 

5. Selalu Hadir di Semua Momen 

Waktu sahur, nikmati. Waktu buka, rasakan. Waktu ibadah, fokus. Karena kadang kita terlalu sibuk lihat hidup orang lain sampai lupa menikmati hidup sendiri. Karena Nggak semua orang start dari titik yang sama, punya privilege yang sama, maupun timeline yang sama. Latihan mindfulness kaya gini juga bisa membantu Puan mengurangi stres dan overthinking, loh! 


Puan, Ramadhan bukan tentang terlihat berubah. Tapi tentang benar-benar berubah. Nggak harus dramatis. Nggak harus langsung perfect. Cukup mulai dari berhenti membandingkan. Stop comparing. Start reflecting. Karena ketenangan itu nggak datang saat kamu jadi “lebih dari orang lain”, tapi saat kamu cukup dengan versi dirimu sendiri.


Sekilas Tentang Puan Bisa

Puan Bisa adalah komunitas perempuan muda yang mendukung pengembangan karir, self-improvement, dan mental health. Sejak pertama kali didirikan tanggal 1 Oktober 2020 sampai saat ini, Puan Bisa aktif melakukan kegiatan kreatif dan edukatif yang dilakukan dengan tujuan meningkatkan kesadaran perempuan muda (khususnya usia 16-23 tahun) dalam mengembangkan kemampuan dan rasa cinta akan dirinya.


Author & Editor: Citra Sofia Virnanda


Sumber Referensi:

Ismail, M. (2026). Memulihkan Fokus, Menjemput Kekhusyukan: Digital Detox di Ambang Ramadhan. uin alaudin. https://uin-alauddin.ac.id/opini/detail/memulihkan-fokus-menjemput-kekhusyukan--digital-detox-di-ambang-ramadhan-h-3

Arlinta, D. (2016). Puasa Jadi Sarana Detoksifikasi Jiwa. Kompas.https://www.kompas.id/artikel/puasa-jadi-sarana-detoksifikasi-jiwa

Kenbaran, L. Puasa Jadi Sarana Detoksifikasi Jiwa. RS Marzoeki. https://rsmmbogor.com/puasa-sebagai-sarana-detoksifikasi

Masyitoh, N. (2025). Puasa di Era Digital Mindfulness dan Digital Detox. https://kotayogya.baznas.go.id/berita/news-show/puasa-di-era-digital-mindfulness-dan-


Author 7 Editor: Citra Sofia Virnandadigital-detox/

Komentar

Rubik Puan Popular

How to Find Your Spark Again, One Little Thing at a Time

Pernah nggak, Puan merasa dulu ada banyak hal yang bisa bikin Puan excited , tapi sekarang hal-hal itu terasa nothing special? Dulu bisa berjam-jam ngelakuin hal yang disuka, sekarang baru beberapa menit sudah ingin berhenti. Dulu punya banyak hal yang ingin dicoba, sekarang ditanya “lagi suka kegiatan apa?” malah bingung mau jawab apa. Puan masih menjalani aktivitas seperti biasa, kuliah, kerja, mengerjakan tugas, ketemu temen, scrolling media sosial. Everything seems fine. Tapi somehow, ada bagian dari diri Puan yang terasa berbeda. Seolah-olah spark yang dulu membuat hari-hari terasa lebih hidup perlahan menghilang.  Dan mungkin, Puan mulai bertanya-tanya, “What happened to me?”  1. Stop Trying to Become Your Old Self Ketika merasa kehilangan spark , kita sering kali ingin kembali menjadi diri kita yang dulu. Padahal, Puan udah melewati banyak hal sejak saat itu. Wajar kalau ada bagian dari diri Puan yang berubah. Karena itu, menemukan kembali spark bukan berarti harus meng...

3 Buku Fiksi Bertema Mental Health untuk Puan Baca

Source: Bookshop.org Hai Puan!  Puan suka baca buku? Atau suka dengan isu-isu terkait mental health? Pengetahuan seputar topik mental health bukan hanya bisa didapatkan dari buku ilmiah atau nonfiksi, tetapi juga dari buku fiksi. Selain bisa menghibur Puan, buku fiksi juga bisa bikin Puan larut dan merasakan emosi serta perasaan dari tokoh-tokohnya.  Nah, buat Puan yang lagi cari rekomendasi buku fiksi tentang mental health, baca terus artikel ini sampai habis ya! 1. Challenger Deep karya Neal Shusterman Cerita dalam buku ini berdasarkan kisah dari putranya sendiri yang mengalami gangguan mental. Challenger Deep bercerita tentang Caden Bosch, yaitu seorang siswa SMA yang mengidap skizofrenia. Masalah tersebut membuatnya sering mengalami halusinasi. Alur cerita terbagi ke dalam dua dunia: kehidupan sekolah Caen sehari-hari dan sebuah pelayaran di atas kapal laut menuju Challenger Deep (titik terdalam di Palung Mariana). Perjalanan di atas kapal merupakan gambaran dari halusinas...

Rasa Bosan Bisa Dijadikan Teman? Ini Manfaat Boredom yang Jarang Disadari

Sumber:  Magnific   Puan pernah nggak langsung membuka TikTok, Instagram, atau X hanya karena timbul rasa bosan akibat menunggu sesuatu? Kebiasaan seperti ini sangat umum terjadi karena otak Puan terbiasa mencari stimulasi setiap kali ada waktu kosong.  Mungkin, Puan sering kali menganggap rasa bosan sebagai sesuatu yang buruk, sehingga banyak dari Puan yang yang berlomba-lomba untuk menghilangkan perasaan tersebut dengan menjadi produktif Alih-alih mencerminkan bahwa diri Puan tidak produktif, rasa bosan dapat memberi kesempatan bagi otak untuk beristirahat dari banyaknya informasi yang silih berdatangan, memunculkan ide baru, hingga membantu Puan mengenali apa yang benar-benar bermakna.  Oleh karena itu, sesekali merasa bosan bukanlah hal yang buruk, selama terjadi dalam kadar yang wajar. Jika Puan merasa demikian, lalu Puan  tahu nggak sih apa itu boredom dan fakta lain dari boredom yang mungkin belum Puan ketahui. Apa Itu Boredom? Dalam psikologi, boredom a...

Hasty Generalization: Kesalahan Berpikir yang Sering Kita Lakukan

Image by: Grammarly.com Pernahkah Puan langsung bilang "Semua produk merek ini jelek," cuma gara-gara beli satu barang yang rusak? Atau mungkin Puan pernah denger temen cerita, "Nggak usah ke resto itu deh, pelayanannya buruk banget!" Padahal dia cuma sekali ke sana? Nah, ini dia yang namanya hasty generalization atau kesimpulan terburu-buru. Apa Sih Hasty Generalization Itu? Menurut Detik.com , Hasty Generalization adalah kekeliruan yang terjadi ketika seseorang menarik kesimpulan yang luas berdasarkan bukti yang tidak mampu atau tidak cukup. Dengan kata lain, kesimpulan tentang suatu hal terlalu terburu-buru diambil dan hanya didukung beberapa atau tidak cukup bukti yang jelas. Jadi, Hasty generalization adalah kesalahan logika yang terjadi ketika Puan mengambil kesimpulan umum dari sampel yang terlalu kecil atau tidak cukup mewakili. Bayangin gini, Puan cuma ketemu dua kucing yang galak, terus langsung bilang, "semua kucing itu galak!" Padahal di lu...

How to Stay Productive While Grieving

  Source: https://pin.it/5b4AbRDlY   Pernah nggak, Puan merasa harus tetap menjalani aktivitas seperti biasa, sementara hati dan pikiran masih memproses duka? Ketika sedang berduka, hal-hal sederhana seperti bangun dari tempat tidur, membalas chat atau sekadar fokus selama beberapa menit saja bisa terasa jauh lebih berat dari biasanya. Bukan karena Puan malas atau nggak mampu, tetapi karena grief dapat menguras energi kita. Namun, di sisi lain, hidup harus tetap berjalan. Ada tugas yang harus dikumpulkan, pekerjaan yang perlu diselesaikan, atau tanggung jawab yang nggak bisa begitu saja ditinggalkan. Lalu, bagaimana caranya tetap produktif tanpa memaksa diri untuk "baik-baik saja"? 1. Redefine What "Productive" Means Hal pertama yang perlu Puan perhatikan adalah definisi produktif itu sendiri. Produktif saat sedang berduka nggak melulu berarti menyelesaikan semua pekerjaan dalam satu hari. Karena ketika sedang berduka, kapasitas seseorang memang bisa berubah dari se...