Langsung ke konten utama

The Fresh Start Effect: Kenapa Kita Suka Memulai di Hari Senin?

Sumber: pexels.com “Senin nanti aku mulai hidup lebih teratur, deh.” “Bulan depan harus mulai rajin olahraga.” “Kayaknya tahun depan aku harus lebih disiplin.” Pernah nggak, Puan, merasa lebih bersemangat untuk memulai sesuatu ketika memasuki waktu tertentu? Entah itu hari senin, awal bulan, ulang tahun, atau bahkan tahun baru. Seolah-olah pergantian waktu memberikan kesempatan untuk meninggalkan kebiasaan lama dan mencoba menjadi versi diri yang berbeda. Menariknya, kebiasaan ini ternyata punya penjelasan dalam psikologi, lho. Fenomena ini dikenal sebagai The Fresh Start Effect , yaitu kecenderungan seseorang untuk lebih termotivasi memulai tujuan atau kebiasaan baru setelah melewati penanda waktu tertentu. Apa Itu The Fresh Start Effect? The fresh start effect merupakan konsep psikologi yang diperkenalkan melalui penelitian Hengchen Dai, Katherine L. Milkman, dan Jason Rilis pada tahun 2014. Dalam penelitian mereka, ditemukan bahwa penanda waktu seperti awal minggu, awal bulan, tahun...

Merasa Dipahami, atau Hanya Divalidasi? Fenomena Baru Kesehatan Mental

Sumber: Pinterest

Pernah nggak sih, Puan lagi ngerasa capek, overthinking, atau sekadar butuh didenger… terus akhirnya buka media sosial? Scroll bentar, lihat story orang lain, posting sesuatu, nungguin like masuk. Atau mungkin, Puan malah buka chat dan mulai curhat panjang dan yang jawab bukan manusia, tapi AI. Aneh nggak sih? Kita bisa ngerasa lega, walaupun yang “dengerin” bukan orang beneran.

Kalau Puan pernah ngerasain itu, tenang… Puan nggak sendirian. Tapi, mungkin tanpa sadar, Puan lagi ada di tengah fenomena yang lebih besar: mencari validasi secara online—baik dari manusia di sosial media, maupun dari teknologi seperti ChatGPT. Yuk, kita bedah pelan-pelan, kenapa ini bisa terjadi dan apa dampaknya ke kesehatan mental Puan.

Kenapa Kita Butuh Banget Validasi?

Secara dasar, manusia itu memang butuh merasa: didengar, dipahami, dan diterima. Namun, Itu bukan kelemahan, melainkan kebutuhan psikologis. Masalahnya, di era digital, cara kita memenuhi kebutuhan itu jadi berubah.

Setiap kali Puan dapat like, komentar, atau bahkan sekadar notifikasi, otak akan melepaskan Dopamine, hormon yang bikin kita merasa senang. Nggak heran kalau kita jadi: sering cek notifikasi, ngerasa senang kalau dilihat orang, dan kecewa kalau responsnya  sepi tidak sesuai dengan keinginan kita.

Lama-lama, tanpa sadar, nilai diri kita mulai “dikaitkan” sama respons orang lain.

Baca juga: Menata Diri di Tengah Hidup yang Ramai: Self Management sebagai Kunci Self Development

Sosial Media: Validasi yang Cepat, Tapi Dangkal

Di sosial media, validasi itu instan banget. Puan bisa:

  • posting → langsung dapat respons

  • cerita → langsung ada yang react

  • tampil → langsung dinilai

Tapi di balik itu, ada jebakan halus.

Kadang Puan jadi:

  • membandingkan hidup dengan orang lain

  • merasa kurang kalau nggak “semenarik” mereka

  • atau bahkan mengukur diri dari angka (like, view, followers)

Padahal… yang dilihat itu cuma highlight, bukan realita.

Sekarang Muncul “Tempat Baru”: Curhat ke AI

Nah, ini yang menarik. Sekarang, bukan cuma ke manusia, banyak orang mulai: curhat ke AI, minta pendapat, bahkan cari ketenangan lewat chat

Kenapa? Karena AI selalu ada, nggak menghakimi, responsnya cepat, dan yang paling penting sering terasa “ngerti banget” dengan keadaan kita

Kadang, AI bahkan terasa lebih enak diajak ngobrol dibanding manusia.

Tapi… Apakah Itu Validasi yang Sehat?

Di sini kita perlu jujur sama diri sendiri, Puan.

1. Validasi Itu Belum Tentu Kebenaran

AI (dan bahkan manusia di sosial media) sering memberikan respons yang membuat kita merasa “dimengerti”. Tapi belum tentu objektif atau benar-benar membantu kita berkembang. Kadang kita cuma ingin didukung… bukan dikoreksi.

2. Kita Jadi Terlalu Nyaman di Zona Aman

Kalau Puan terus mencari tempat yang  selalu setuju, selalu lembut, nggak pernah menantang, Puan bisa kehilangan kesempatan untuk:

  • belajar menghadapi konflik

  • menerima sudut pandang lain

  • atau berkembang secara emosional

3. Muncul Ilusi Kedekatan

Puan mungkin merasa: “aku didengerin banget” atau “aku dipahami”

Padahal sebenarnya, itu bisa jadi bentuk Parasocial Interaction—hubungan satu arah, di mana kedekatan itu terasa nyata… tapi tidak benar-benar timbal balik.

Jadi, Sebenarnya Kita Lagi Nyari Apa?

Coba jujur ke diri sendiri, Puan. Kadang kita bukan cari solusi, tapi cari rasa lega. Kadang kita bukan ingin berubah, tapi ingin dibenarkan. Dan di situlah masalahnya karena validasi yang terlalu mudah didapat… sering kali kehilangan maknanya.

Tips Supaya Tetap Sehat Secara Mental (Versi Realistis)

Bukan berarti Puan harus berhenti pakai sosial media atau berhenti curhat ya. Tapi, coba lebih sadar saat melakukannya.

  1. Sadari Tujuan Puan, sebelum posting atau curhat, tanya: “Aku lagi butuh didengar, atau butuh solusi?”

  1. Kalau posting, coba jangan terlalu sering cek notifikasi dan jangan jadikan respons orang sebagai ukuran diri. 

  1. Curhat ke AI boleh, tapi jangan sampai menggantikan manusia, tetap punya orang nyata untuk diajak ngobrol karena hubungan nyata itu lebih kompleks tapi juga lebih bermakna.

  1. Belajar bilang ke diri sendiri: “Perasaan aku valid.” tanpa harus selalu dikonfirmasi orang lain.

Di era sekarang, didengar itu jadi lebih mudah dari sebelumnya. Tapi dipahami secara mendalam? Itu justru makin langka.

Puan boleh kok cari validasi—itu manusiawi. Tapi jangan sampai Puan kehilangan kemampuan untuk memahami dan menerima diri sendiri tanpa bergantung sepenuhnya pada dunia luar, apalagi dari sesuatu yang tidak benar-benar “merasakan”.

Jadi, lain kali Puan lagi ngerasa butuh didengar… coba tanya dulu ke diri sendiri: 

“Aku lagi butuh validasi… atau aku lagi butuh jujur sama diri sendiri?”

Sekilas Tentang Puan Bisa

Puan Bisa adalah komunitas perempuan muda yang mendukung pengembangan karir, self-improvement, dan mental health. Sejak pertama kali didirikan tanggal 1 Oktober 2020 sampai saat ini, Puan Bisa aktif melakukan kegiatan kreatif dan edukatif yang dilakukan dengan tujuan meningkatkan kesadaran perempuan muda (khususnya usia 16-23 tahun) dalam mengembangkan kemampuan dan rasa cinta akan dirinya. 

Referensi:

Nieminen, T., Martelin, T., Koskinen, S., Aro, H., Alanen, E., & Hyyppä, M. (2010). Social capital as a determinant of self-rated health and psychological well-being. International Journal of Public Health, 55, 531-542. https://doi.org/10.1007/s00038-010-0138-3.  

Qian, Y., Tang, W., Xu, T., Zhu, D., & Hua, W. (2025). Emotional support powered by artificial intelligence in healthcare settings: A scoping review of technologies, contents, and outcomes.. International journal of nursing studies, 172, 105243 . https://doi.org/10.1016/j.ijnurstu.2025.105243. 

Kim, T., Jiang, L., Duhachek, A., Lee, H., & Garvey, A. (2022). Do You Mind if I Ask You a Personal Question? How AI Service Agents Alter Consumer Self-Disclosure. Journal of Service Research, 25, 649 - 666. https://doi.org/10.1177/10946705221120232.

Komentar

Rubik Puan Popular

Merasa Jadi Pusat Perhatian? Bisa Jadi Puan Mengalami The Spotlight Effect

  “Orang-orang bakal mikir apa ya?” Sumber: pexels.com Pertanyaan sederhana yang ternyata bisa membuat Puan ngerasa seolah-olah sedang jadi sorotan semua orang. Padahal, belum tentu. Nah dalam psikologi, kecenderungan untuk melebih-lebihkan seberapa besar orang lain memperhatikan diri kita ini dikenal sebagai “ The Spotlight Effect ” . Apa Itu The Spotlight Effect ? Istilah The Spotlight Effect diperkenalkan oleh Thomas Gilovich, Victoria Husted Medvec, dan Kenneth Savitsky melalui penelitian mereka pada tahun 2000. Mereka menjelaskan The Spotlight Effect adalah kondisi ketika seseorang mengira bahwa tindakan dan penampilannya begitu diperhatikan oleh orang lain, padahal kenyataannya tidak sebesar yang mereka bayangkan. Menurut Gilovich et al. (2000), kita cenderung melebih-lebihkan seberapa besar orang lain memperhatikan diri kita. Hal ini berkaitan dengan egocentric bias , yaitu kecenderungan melihat suatu situasi dari sudut pandang diri sendiri karena Puan paling sadar terha...

Growth Mindset vs Fixed Mindset: Pilihan Pola Pikir yang Menentukan Masa Depan

Image by  Source of Insight Manusia pada dasarnya diciptakan berbeda beda ya, Puan, begitu juga dengan mindset yang dibangun oleh diri kita sendiri. Menurut Carol Dweck psikologi dari Stanford University mindset terbagi menjadi dua yaitu fixed mindset dan growth mindset . Apa itu fixed mindset ? Fixed mindset merupakan pola pikir yang percaya bahwa suatu kecerdasan ataupun bakat dalam individu yang sifatnya tidak akan pernah berubah. Orang yang mempunyai fixed mindset cenderung mudah menyerah, tidak mau ambil resiko atas tantangan dalam hidup serta mudah merasa terancam atas keberhasilan orang lain. Lalu, apa itu growth mindset ? Growth mindset merupakan pola pikir yang ingin selalu berkembang dan percaya bahwa sebuah kesuksesan bisa didapatkan dengan kerja keras. Dengan kata lain seorang yang mempunyai growth mindset akan selalu tampil berani serta mencoba hal-hal baru. Perbedaan kedua mindset ini apasih? Fixed mindset Menghindari tantangan karena takut dengan kegagalan te...

Belajar dari Roti Gosong: Mengubah Kesulitan Jadi Kesempatan

Photo by Ellie Burgin Puan, pernah nggak sih ngalamin kejadian yang bikin langsung mikir, "Duh, kok hari ini aku apes banget ya?" Misalnya, salah belok di perempatan, outfit kesayangan ketumpahan kopi, atau lupa bawa dompet. Wajar banget kok kalau jadi bad mood dan bawaannya pengen ngeluh terus, tapi jangan sampai kejadian-kejadian menyebalkan itu ngerusak sisa hari Puan ya. At the end of the day , semua kesulitan itu pasti bisa dilewati dengan baik kok. Siapa tahu itu justru membawa Puan ke hal-hal baik yang nggak terduga. Masa sih? Nah, ini yang dinamain Burnt Toast Theory. Penasaran kenapa roti gosong bisa jadi filosofi hidup? Yuk, kita bahas! Burnt Toast Theory Itu Apa Sih? Burnt Toast Theory adalah cara berpikir untuk menyikapi kejadian menyebalkan dengan santai. Intinya, teori ini mengajarkan kita kalau setiap kesulitan yang kita temui itu sebenarnya lagi membuka jalan untuk sesuatu yang lebih baik. Terus, apa hubungannya sama roti gosong? Filosofi ini berasal dari gag...

Sering Blank Saat Presentasi? Yuk, Kenali Gangguan Stage Fright!

  Ilustrasi Seseorang yang mengalami stage fright. (i nfinumgrowth.com ) Pernah nggak, Puan udah nyiapin materi presentasi lengkap, tapi begitu berdiri di depan banyak orang, tiba-tiba pikiran mendadak blank? Jantung berdegup kencang kayak habis lari maraton, tangan berkeringat dingin, bahkan suara mendadak jadi cempreng atau gemetar. Kalau pernah, berarti Puan sedang mengalami apa yang disebut stage fright alias demam panggung. Tenang kok, Puan nggak sendirian. Bahkan artis papan atas atau pembicara profesional pun sering ngerasain. Bedanya, mereka udah tau cara "berdamai" dengan rasa gugup tersebut. Yuk, Priska bahas kenapa ini bisa terjadi dan gimana cara menaklukkannya! Baca juga: Cara Membangun Kepercayaan Diri untuk Tumbuh dan Berkembang, Puan! Secara ilmiah, demam panggung adalah respon alami tubuh yang disebut fight-or-flight . Otak Puan, khususnya bagian amigdala, mendeteksi "ancaman". Masalahnya, otak kadang nggak bisa membedakan antara ancaman dikejar h...

Mengenal Vision Board: Bukan Sekadar Dekorasi Biasa

                                                              Image by: Orange Counselling and Coaching Puan, pernahkah merasa overwhelmed karena banyak sekali impian yang harus diraih? Bingung dan pusing, karena satu aja belum kesampaian, tapi dikit lagi udah ganti tahun! Eitss, jangan cuma pasrah! Agar impian Puan lebih terstruktur dan mudah tercapai, yuk kenalan sama Vision Board! Vision Board itu apa, Priska? Menurut Joyce Schwarz (2011), Vision Board adalah kanvas berwarna-warni yang berfungsi sebagai peta motivasi untuk kehidupan dan karier yang menginspirasi dan bersifat pribadi, terdiri dari foto, kolase, kenang-kenangan, gambar, dan kutipan, yang membentuk tata letak visual dari aspirasi pribadi. Simplenya, Vision Board adalah papan manifestasi beris...