Langsung ke konten utama

This is Adulting: Makin Sibuk, Makin Sendirian

  Photo by Damla Karaağaçlı Pernah nggak sih Puan liat jadwal mingguan terus ngerasa bakalan sibuk karena isinya penuh? Mulai dari jadwal meeting kerjaan, janji nongkrong bareng temen, kelas olahraga, sampai acara keluarga, pokoknya sibuk banget deh. Tapi anehnya, begitu ada satu malam yang free , nggak ada deadline atau janji sama siapa pun, Puan malah ngerasa sendirian. Suasana kamar yang tenang malah bikin rasa sepi muncul gitu aja. Kalau Puan pernah atau lagi ngerasain ini , welcome to adulting! Ternyata, jadwal yang padat itu nggak otomatis bikin kebutuhan emosional kita terpenuhi. Kok bisa gitu, ya? Baca Juga: Menata Diri di Tengah Hidup yang Ramai   Kejebak di Lingkungan yang Sibuk Saat jadwal kita padat, kita emang terus-menerus dikelilingi orang. Tapi coba deh diingat-ingat lagi, interaksinya kayak gimana? Pasti kebanyakan cuma interaksi praktis, cepat, atau sekadar bahas kerjaan, tugas, dan obrolan basa-basi aja. Interaksi kayak gitu emang seru dan menyenangkan, t...

Merasa Dipahami, atau Hanya Divalidasi? Fenomena Baru Kesehatan Mental

Sumber: Pinterest

Pernah nggak sih, Puan lagi ngerasa capek, overthinking, atau sekadar butuh didenger… terus akhirnya buka media sosial? Scroll bentar, lihat story orang lain, posting sesuatu, nungguin like masuk. Atau mungkin, Puan malah buka chat dan mulai curhat panjang dan yang jawab bukan manusia, tapi AI. Aneh nggak sih? Kita bisa ngerasa lega, walaupun yang “dengerin” bukan orang beneran.

Kalau Puan pernah ngerasain itu, tenang… Puan nggak sendirian. Tapi, mungkin tanpa sadar, Puan lagi ada di tengah fenomena yang lebih besar: mencari validasi secara online—baik dari manusia di sosial media, maupun dari teknologi seperti ChatGPT. Yuk, kita bedah pelan-pelan, kenapa ini bisa terjadi dan apa dampaknya ke kesehatan mental Puan.

Kenapa Kita Butuh Banget Validasi?

Secara dasar, manusia itu memang butuh merasa: didengar, dipahami, dan diterima. Namun, Itu bukan kelemahan, melainkan kebutuhan psikologis. Masalahnya, di era digital, cara kita memenuhi kebutuhan itu jadi berubah.

Setiap kali Puan dapat like, komentar, atau bahkan sekadar notifikasi, otak akan melepaskan Dopamine, hormon yang bikin kita merasa senang. Nggak heran kalau kita jadi: sering cek notifikasi, ngerasa senang kalau dilihat orang, dan kecewa kalau responsnya  sepi tidak sesuai dengan keinginan kita.

Lama-lama, tanpa sadar, nilai diri kita mulai “dikaitkan” sama respons orang lain.

Baca juga: Menata Diri di Tengah Hidup yang Ramai: Self Management sebagai Kunci Self Development

Sosial Media: Validasi yang Cepat, Tapi Dangkal

Di sosial media, validasi itu instan banget. Puan bisa:

  • posting → langsung dapat respons

  • cerita → langsung ada yang react

  • tampil → langsung dinilai

Tapi di balik itu, ada jebakan halus.

Kadang Puan jadi:

  • membandingkan hidup dengan orang lain

  • merasa kurang kalau nggak “semenarik” mereka

  • atau bahkan mengukur diri dari angka (like, view, followers)

Padahal… yang dilihat itu cuma highlight, bukan realita.

Sekarang Muncul “Tempat Baru”: Curhat ke AI

Nah, ini yang menarik. Sekarang, bukan cuma ke manusia, banyak orang mulai: curhat ke AI, minta pendapat, bahkan cari ketenangan lewat chat

Kenapa? Karena AI selalu ada, nggak menghakimi, responsnya cepat, dan yang paling penting sering terasa “ngerti banget” dengan keadaan kita

Kadang, AI bahkan terasa lebih enak diajak ngobrol dibanding manusia.

Tapi… Apakah Itu Validasi yang Sehat?

Di sini kita perlu jujur sama diri sendiri, Puan.

1. Validasi Itu Belum Tentu Kebenaran

AI (dan bahkan manusia di sosial media) sering memberikan respons yang membuat kita merasa “dimengerti”. Tapi belum tentu objektif atau benar-benar membantu kita berkembang. Kadang kita cuma ingin didukung… bukan dikoreksi.

2. Kita Jadi Terlalu Nyaman di Zona Aman

Kalau Puan terus mencari tempat yang  selalu setuju, selalu lembut, nggak pernah menantang, Puan bisa kehilangan kesempatan untuk:

  • belajar menghadapi konflik

  • menerima sudut pandang lain

  • atau berkembang secara emosional

3. Muncul Ilusi Kedekatan

Puan mungkin merasa: “aku didengerin banget” atau “aku dipahami”

Padahal sebenarnya, itu bisa jadi bentuk Parasocial Interaction—hubungan satu arah, di mana kedekatan itu terasa nyata… tapi tidak benar-benar timbal balik.

Jadi, Sebenarnya Kita Lagi Nyari Apa?

Coba jujur ke diri sendiri, Puan. Kadang kita bukan cari solusi, tapi cari rasa lega. Kadang kita bukan ingin berubah, tapi ingin dibenarkan. Dan di situlah masalahnya karena validasi yang terlalu mudah didapat… sering kali kehilangan maknanya.

Tips Supaya Tetap Sehat Secara Mental (Versi Realistis)

Bukan berarti Puan harus berhenti pakai sosial media atau berhenti curhat ya. Tapi, coba lebih sadar saat melakukannya.

  1. Sadari Tujuan Puan, sebelum posting atau curhat, tanya: “Aku lagi butuh didengar, atau butuh solusi?”

  1. Kalau posting, coba jangan terlalu sering cek notifikasi dan jangan jadikan respons orang sebagai ukuran diri. 

  1. Curhat ke AI boleh, tapi jangan sampai menggantikan manusia, tetap punya orang nyata untuk diajak ngobrol karena hubungan nyata itu lebih kompleks tapi juga lebih bermakna.

  1. Belajar bilang ke diri sendiri: “Perasaan aku valid.” tanpa harus selalu dikonfirmasi orang lain.

Di era sekarang, didengar itu jadi lebih mudah dari sebelumnya. Tapi dipahami secara mendalam? Itu justru makin langka.

Puan boleh kok cari validasi—itu manusiawi. Tapi jangan sampai Puan kehilangan kemampuan untuk memahami dan menerima diri sendiri tanpa bergantung sepenuhnya pada dunia luar, apalagi dari sesuatu yang tidak benar-benar “merasakan”.

Jadi, lain kali Puan lagi ngerasa butuh didengar… coba tanya dulu ke diri sendiri: 

“Aku lagi butuh validasi… atau aku lagi butuh jujur sama diri sendiri?”

Sekilas Tentang Puan Bisa

Puan Bisa adalah komunitas perempuan muda yang mendukung pengembangan karir, self-improvement, dan mental health. Sejak pertama kali didirikan tanggal 1 Oktober 2020 sampai saat ini, Puan Bisa aktif melakukan kegiatan kreatif dan edukatif yang dilakukan dengan tujuan meningkatkan kesadaran perempuan muda (khususnya usia 16-23 tahun) dalam mengembangkan kemampuan dan rasa cinta akan dirinya. 

Referensi:

Nieminen, T., Martelin, T., Koskinen, S., Aro, H., Alanen, E., & Hyyppä, M. (2010). Social capital as a determinant of self-rated health and psychological well-being. International Journal of Public Health, 55, 531-542. https://doi.org/10.1007/s00038-010-0138-3.  

Qian, Y., Tang, W., Xu, T., Zhu, D., & Hua, W. (2025). Emotional support powered by artificial intelligence in healthcare settings: A scoping review of technologies, contents, and outcomes.. International journal of nursing studies, 172, 105243 . https://doi.org/10.1016/j.ijnurstu.2025.105243

Kim, T., Jiang, L., Duhachek, A., Lee, H., & Garvey, A. (2022). Do You Mind if I Ask You a Personal Question? How AI Service Agents Alter Consumer Self-Disclosure. Journal of Service Research, 25, 649 - 666. https://doi.org/10.1177/10946705221120232.

Komentar

Rubik Puan Popular

4 Film yang Bisa Meningkatkan Kecerdasan Otak Kamu

  Source: (iStockphoto/JNemchinova) Siapa di sini yang gemar banget nonton film atau drama korea pas waktu luang? Banyak dong pastinya. Puan lebih senang nonton film atau drama korea dengan genre apa, nih? Terlepas dari apa genre yang Puan gemari, di sini ada beberapa rekomendasi film yang bisa kamu tonton ketika mengisi luangmu. Tidak hanya bersifat menghibur saja, tetapi film-film ini bisa meningkatkan kecerdasan otak kamu, lho , Puan! Apa saja film-film tersebut? Yuk, simak di bawah ini! 1. Murder on the Orient Express Film yang satu ini diangkat dari novel karangan Agatha Chrisie pada salah satu kasus Hercule Poirot miliknya. Berdurasi selama 1 jam 54 menit, Kennet Bragnagh (Sutradara) dan Michael Green (penulis naskah) menyematkan banyak perbedaan dari novelnya namun memang secara keseluruhan plot-nya tidak terlalu jauh melenceng. Di film ini, Puan diajak untuk memecah misteri mengenai pelaku pembunuhan seseorang di kereta. 2. Zodiac Siapa yang gemar menonton Iron Man di sini?...

This is Adulting: Makin Sibuk, Makin Sendirian

  Photo by Damla Karaağaçlı Pernah nggak sih Puan liat jadwal mingguan terus ngerasa bakalan sibuk karena isinya penuh? Mulai dari jadwal meeting kerjaan, janji nongkrong bareng temen, kelas olahraga, sampai acara keluarga, pokoknya sibuk banget deh. Tapi anehnya, begitu ada satu malam yang free , nggak ada deadline atau janji sama siapa pun, Puan malah ngerasa sendirian. Suasana kamar yang tenang malah bikin rasa sepi muncul gitu aja. Kalau Puan pernah atau lagi ngerasain ini , welcome to adulting! Ternyata, jadwal yang padat itu nggak otomatis bikin kebutuhan emosional kita terpenuhi. Kok bisa gitu, ya? Baca Juga: Menata Diri di Tengah Hidup yang Ramai   Kejebak di Lingkungan yang Sibuk Saat jadwal kita padat, kita emang terus-menerus dikelilingi orang. Tapi coba deh diingat-ingat lagi, interaksinya kayak gimana? Pasti kebanyakan cuma interaksi praktis, cepat, atau sekadar bahas kerjaan, tugas, dan obrolan basa-basi aja. Interaksi kayak gitu emang seru dan menyenangkan, t...

2026 The New 2016: Apa itu Nostalgia?

(Gambar: Lemon 8) Apakah Puan saat ini familiar dengan pembahasan 2026 adalah  the new 2016 ?  Banyak orang yang kembali membahas trend yang beredar di tahun 2016 mulai dari fashion hingga aplikasi Tumblr. Istilah ini mengacu kepada budaya digital dan pop culture 2016 yang kembali populer di awal tahun 2026.  Puan mungkin bertanya-tanya, mengapa spesifik tren di 2016. Menurut Ibcomagazine, tren biasanya menjalankan sistem aturan 20 tahun sekali.Maksudnya adalah setiap 20 tahun sekali tren yang ada pada generasi sebelumnya akan muncul pada generasi baru. Contohnya seperti anak-anak di tahun 2000-an yang suka dengan gaya hidup ( lifestyle ) remaja di era tahun 80-han.  Tapi itu dulu. Dulu tren membutuhkan waktu 20 tahun untuk kembali. Sekarang? Peran media sosial memangkasnya menjadi 10 tahun jadinya kita memandang 2026 dan 2016 sebagai era yang berbeda, dan didorong rasa nostalgia kita semakin ingin kembali ke kehidupan dan lifestyle di 2016.  Selain itu, dilan...

Let Them Theory: Berhenti Mengejar yang Tidak Meimilih Puan

Image by: KPU KAB-NDUGA  Puan pernah nggak sih merasa sudah berusaha sebaik mungkin untuk mempertahankan seseorang, tapi tetap saja hasilnya mengecewakan? Atau Puan terus memikirkan sikap orang lain, mencoba memahami, bahkan menyalahkan diri sendiri atas hal-hal yang sebenarnya di luar kendali? Perasaan seperti ini sering membuat Puan lelah tanpa disadari, karena terlalu fokus pada hal yang tidak bisa diatur. Di sinilah The Let Them Theory mulai terasa relevan. Konsep ini memperkenalkan cara pandang sederhana, bahwa tidak semua hal perlu diperjuangkan mati-matian, terutama jika itu melibatkan kehendak orang lain. Baca Juga:  https://puanbisa.blogspot.com/2026/04/be-of-service-ternyata-kunci-pede.html Apa sih Let Them Theory itu? Sering kali, tanpa disadari, Puan menghabiskan banyak energi untuk mencoba memahami, memperbaiki, atau bahkan mengendalikan orang lain. Padahal, tidak semua hal memang berada dalam kendali Puan. Konsep “ let them ” pada dasarnya mengajak Puan untuk be...

Soft Skill dan Hard Skill yang Wajib Dipelajari Untuk Bekal Penting Karir Impian!

Kenapa Kita Harus Belajar Skill Sebelum Masuk Dunia Kerja? Masuk dunia kerja itu beda banget dengan dunia kuliah, Puan. Kalau di kampus yang dinilai adalah tugas, maka di pekerjaan yang dinilai adalah output , attitude , kemampuan bekerja sama , dan keahlian yang bisa memberikan dampak nyata . Itulah kenapa “bekal” sebelum masuk dunia kerja itu penting, dan bekalnya bukan cuma ilmu teori, tapi juga soft skill dan hard skill . Menurut laporan dari World Economic Forum (Future of Jobs Report 2024), kandidat yang punya kombinasi soft skill dan hard skill yang kuat punya peluang lebih cepat diterima kerja dan lebih cepat naik posisi , lho! Apa Itu Hard Skill ? Hard skill adalah kemampuan teknis yang biasanya bisa diukur, dipelajari, dan diuji, contohnya: belajar software tertentu, kemampuan analisis data, atau membuat presentasi profesional. Hard skill biasanya dicantumkan dalam CV karena sifatnya jelas dan spesifik. Hard Skill yang Lagi Banyak Dicari Saat Ini: Microsoft Office ...