Langsung ke konten utama

Merasa Dipahami, atau Hanya Divalidasi? Fenomena Baru Kesehatan Mental

Sumber: Pinterest Pernah nggak sih, Puan lagi ngerasa capek, overthinking , atau sekadar butuh didenger… terus akhirnya buka media sosial? Scroll bentar, lihat story orang lain, posting sesuatu, nungguin like masuk. Atau mungkin, Puan malah buka chat dan mulai curhat panjang dan yang jawab bukan manusia, tapi AI. Aneh nggak sih? Kita bisa ngerasa lega, walaupun yang “dengerin” bukan orang beneran. Kalau Puan pernah ngerasain itu, tenang… Puan nggak sendirian. Tapi, mungkin tanpa sadar, Puan lagi ada di tengah fenomena yang lebih besar: mencari validasi secara online —baik dari manusia di sosial media, maupun dari teknologi seperti ChatGPT. Yuk, kita bedah pelan-pelan, kenapa ini bisa terjadi dan apa dampaknya ke kesehatan mental Puan. Kenapa Kita Butuh Banget Validasi? Secara dasar, manusia itu memang butuh merasa: didengar, dipahami, dan diterima. Namun, Itu bukan kelemahan, melainkan kebutuhan psikologis. Masalahnya, di era digital, cara kita memenuhi kebutuhan itu jadi berubah. Set...

Merasa Dipahami, atau Hanya Divalidasi? Fenomena Baru Kesehatan Mental

Sumber: Pinterest

Pernah nggak sih, Puan lagi ngerasa capek, overthinking, atau sekadar butuh didenger… terus akhirnya buka media sosial? Scroll bentar, lihat story orang lain, posting sesuatu, nungguin like masuk. Atau mungkin, Puan malah buka chat dan mulai curhat panjang dan yang jawab bukan manusia, tapi AI. Aneh nggak sih? Kita bisa ngerasa lega, walaupun yang “dengerin” bukan orang beneran.

Kalau Puan pernah ngerasain itu, tenang… Puan nggak sendirian. Tapi, mungkin tanpa sadar, Puan lagi ada di tengah fenomena yang lebih besar: mencari validasi secara online—baik dari manusia di sosial media, maupun dari teknologi seperti ChatGPT. Yuk, kita bedah pelan-pelan, kenapa ini bisa terjadi dan apa dampaknya ke kesehatan mental Puan.

Kenapa Kita Butuh Banget Validasi?

Secara dasar, manusia itu memang butuh merasa: didengar, dipahami, dan diterima. Namun, Itu bukan kelemahan, melainkan kebutuhan psikologis. Masalahnya, di era digital, cara kita memenuhi kebutuhan itu jadi berubah.

Setiap kali Puan dapat like, komentar, atau bahkan sekadar notifikasi, otak akan melepaskan Dopamine, hormon yang bikin kita merasa senang. Nggak heran kalau kita jadi: sering cek notifikasi, ngerasa senang kalau dilihat orang, dan kecewa kalau responsnya  sepi tidak sesuai dengan keinginan kita.

Lama-lama, tanpa sadar, nilai diri kita mulai “dikaitkan” sama respons orang lain.

Baca juga: Menata Diri di Tengah Hidup yang Ramai: Self Management sebagai Kunci Self Development

Sosial Media: Validasi yang Cepat, Tapi Dangkal

Di sosial media, validasi itu instan banget. Puan bisa:

  • posting → langsung dapat respons

  • cerita → langsung ada yang react

  • tampil → langsung dinilai

Tapi di balik itu, ada jebakan halus.

Kadang Puan jadi:

  • membandingkan hidup dengan orang lain

  • merasa kurang kalau nggak “semenarik” mereka

  • atau bahkan mengukur diri dari angka (like, view, followers)

Padahal… yang dilihat itu cuma highlight, bukan realita.

Sekarang Muncul “Tempat Baru”: Curhat ke AI

Nah, ini yang menarik. Sekarang, bukan cuma ke manusia, banyak orang mulai: curhat ke AI, minta pendapat, bahkan cari ketenangan lewat chat

Kenapa? Karena AI selalu ada, nggak menghakimi, responsnya cepat, dan yang paling penting sering terasa “ngerti banget” dengan keadaan kita

Kadang, AI bahkan terasa lebih enak diajak ngobrol dibanding manusia.

Tapi… Apakah Itu Validasi yang Sehat?

Di sini kita perlu jujur sama diri sendiri, Puan.

1. Validasi Itu Belum Tentu Kebenaran

AI (dan bahkan manusia di sosial media) sering memberikan respons yang membuat kita merasa “dimengerti”. Tapi belum tentu objektif atau benar-benar membantu kita berkembang. Kadang kita cuma ingin didukung… bukan dikoreksi.

2. Kita Jadi Terlalu Nyaman di Zona Aman

Kalau Puan terus mencari tempat yang  selalu setuju, selalu lembut, nggak pernah menantang, Puan bisa kehilangan kesempatan untuk:

  • belajar menghadapi konflik

  • menerima sudut pandang lain

  • atau berkembang secara emosional

3. Muncul Ilusi Kedekatan

Puan mungkin merasa: “aku didengerin banget” atau “aku dipahami”

Padahal sebenarnya, itu bisa jadi bentuk Parasocial Interaction—hubungan satu arah, di mana kedekatan itu terasa nyata… tapi tidak benar-benar timbal balik.

Jadi, Sebenarnya Kita Lagi Nyari Apa?

Coba jujur ke diri sendiri, Puan. Kadang kita bukan cari solusi, tapi cari rasa lega. Kadang kita bukan ingin berubah, tapi ingin dibenarkan. Dan di situlah masalahnya karena validasi yang terlalu mudah didapat… sering kali kehilangan maknanya.

Tips Supaya Tetap Sehat Secara Mental (Versi Realistis)

Bukan berarti Puan harus berhenti pakai sosial media atau berhenti curhat ya. Tapi, coba lebih sadar saat melakukannya.

  1. Sadari Tujuan Puan, sebelum posting atau curhat, tanya: “Aku lagi butuh didengar, atau butuh solusi?”

  1. Kalau posting, coba jangan terlalu sering cek notifikasi dan jangan jadikan respons orang sebagai ukuran diri. 

  1. Curhat ke AI boleh, tapi jangan sampai menggantikan manusia, tetap punya orang nyata untuk diajak ngobrol karena hubungan nyata itu lebih kompleks tapi juga lebih bermakna.

  1. Belajar bilang ke diri sendiri: “Perasaan aku valid.” tanpa harus selalu dikonfirmasi orang lain.

Di era sekarang, didengar itu jadi lebih mudah dari sebelumnya. Tapi dipahami secara mendalam? Itu justru makin langka.

Puan boleh kok cari validasi—itu manusiawi. Tapi jangan sampai Puan kehilangan kemampuan untuk memahami dan menerima diri sendiri tanpa bergantung sepenuhnya pada dunia luar, apalagi dari sesuatu yang tidak benar-benar “merasakan”.

Jadi, lain kali Puan lagi ngerasa butuh didengar… coba tanya dulu ke diri sendiri: 

“Aku lagi butuh validasi… atau aku lagi butuh jujur sama diri sendiri?”

Sekilas Tentang Puan Bisa

Puan Bisa adalah komunitas perempuan muda yang mendukung pengembangan karir, self-improvement, dan mental health. Sejak pertama kali didirikan tanggal 1 Oktober 2020 sampai saat ini, Puan Bisa aktif melakukan kegiatan kreatif dan edukatif yang dilakukan dengan tujuan meningkatkan kesadaran perempuan muda (khususnya usia 16-23 tahun) dalam mengembangkan kemampuan dan rasa cinta akan dirinya. 

Referensi:

Nieminen, T., Martelin, T., Koskinen, S., Aro, H., Alanen, E., & Hyyppä, M. (2010). Social capital as a determinant of self-rated health and psychological well-being. International Journal of Public Health, 55, 531-542. https://doi.org/10.1007/s00038-010-0138-3.  

Qian, Y., Tang, W., Xu, T., Zhu, D., & Hua, W. (2025). Emotional support powered by artificial intelligence in healthcare settings: A scoping review of technologies, contents, and outcomes.. International journal of nursing studies, 172, 105243 . https://doi.org/10.1016/j.ijnurstu.2025.105243

Kim, T., Jiang, L., Duhachek, A., Lee, H., & Garvey, A. (2022). Do You Mind if I Ask You a Personal Question? How AI Service Agents Alter Consumer Self-Disclosure. Journal of Service Research, 25, 649 - 666. https://doi.org/10.1177/10946705221120232.

Komentar

Rubik Puan Popular

Siaran Pers From Visible to Stand Out: Cara bikin HR “Ngeh” sama Profilmu di Puan Bisa Learning Space

28 Maret 2026 - Puan Bisa kembali hadirkan Learning Space bertema “ Early Career Branding: Crafting Your CV & LinkedIn for Visibility and Opportunity ” yang mengundang Kak Maria Qibtiyah, Human Capital Consultant dari PT Bitama sebagai pembicara. Program ini berhasil menjangkau puluhan peserta dari seluruh Indonesia melalui Online Zoom . Puan Bisa juga menggaet komunitas Grow Bareng sebagai kolaborator. Learning Space ini menjadi cara meningkatkan kemampuan personal branding , khususnya dalam pembuatan CV dan optimalisasi LinkedIn agar dapat membantu mahasiswa maupun pekerja muda untuk siap bekerja. Learning Space dihadirkan sebagai respons dari kebutuhan untuk meningkatkan personal branding di kalangan mahasiswa dan pekerja muda. Sebanyak 50 perempuan muda menerima dampak acara ini dan memberikan banyak feedback positif “ Dampak yang saya rasakan adalah dengan lebih mengetahui kelebihan dan kelemahan diri sendiri, yang memungkinkan peningkatan kualitas hidup ”,  ucap Ka...

Mengenal Impulsive Buying: Faktor Pemicu dan Cara Mengatasinya

  Ilustrasi seseorang yang melakukan impulsive buying (beyondfinance.com) Pernah nggak sih, Puan lagi asyik scrolling media sosial, terus tiba-tiba muncul iklan barang yang menurut Puan lucu banget? Tanpa pikir panjang, Puan langsung masukkin ke keranjang , masukin PIN, dan check out! Transaksi berhasil. Eh, pas barangnya sampai tiga hari setelahnya, Puan malah bingung sendiri, "Kemarin kepikiran apa ya sampai beli ini?" Berarti, Puan baru saja terjebak dalam fenomena impulsive buying . Tenang, Puan nggak sendirian kok. Tapi kalau dibiarin terus, dompet bisa nangis di akhir bulan. Yuk, Priska bedah kenapa ini terjadi dan gimana cara mengatasinya tanpa harus ngerasa tersiksa. Kenapa Kita Suka Banget Belanja Tiba-Tiba? Secara psikologis, belanja itu memicu hormon dopamin alias hormon bahagia di otak Puan. Saat Puan melihat barang baru yang menarik, otak langsung ngebayangin betapa senengnya Puan kalau punya barang itu. Apalagi kalau ada tulisan "Diskon 70%" atau ...

Ibu2Canggih Moms Gathering Ramadan Moments Hadirkan Inspirasi dan Kebersamaan Bersama 100 Momfluencers

  Ibu2Canggih Moms Gathering Ramadan Moments Hadirkan Inspirasi dan Kebersamaan Bersama 100 Momfluencers  Lebih dari 100 momfluencer merayakan kebersamaan dalam suasana Ramadan yang hangat melalui acara bertajuk “Ibu2Canggih Moms Gathering Ramadan Moments”, Sabtu (7/3). Jakarta, 7 Maret 2026 - Komunitas Ibu2Canggih kembali menghadirkan ruang inspiratif bagi para ibu. Kali ini, lebih dari 100 momfluencer merayakan kebersamaan dalam suasana Ramadan yang hangat melalui acara bertajuk “Ibu2Canggih Moms Gathering Ramadan Moments”, Sabtu (7/3). Bertempat di The Hub Sinar Mas Land, Kuningan, Jakarta Selatan, Ibu2Canggih menghadirkan berbagai aktivitas yang dikemas secara edukatif dan interaktif. Meski berlangsung di tengah puasa, para momfluencer sangat antusias mengikuti rangkaian acara. Beberapa aktivitas adalah educative talkshow , menjelajahi berbagai booth corner , hingga berpartisipasi dalam aktivitas booth hunt . Mereka pun berkesempatan memenangkan berbagai hadiah melalui ses...

Magang atau Kuliah Dulu? Ini Panduan Biar Kamu Tetap On Track di Dunia Kampus & Karier

Image by: hotcourses.co.id Puan, pernah nggak sih, ngerasa kayak lagi di persimpangan hidup? Di satu sisi, Puan ingin fokus kuliah, ngerjain tugas, dan jaga IP biar tetap aman, tapi di sisi lain, teman-teman Puan udah banyak yang sibuk update LinkedIn atau magang di perusahaan keren? Sementara kita baru ngerjain makalah tiga bab aja udah ngos-ngosan. Lalu muncul pertanyaan “Aku harus fokus kuliah dulu, atau mulai magang biar nggak ketinggalan ya?” Tenang, Puanners. Kalau kamu lagi ada di fase itu, kamu nggak sendirian, dan jawabannya adalah nggak harus pilih salah satu. Kuncinya bukan di urutannya, melainkan di bagaimana Puan menemukan keseimbangan dan arah dari keduanya. Kuliah Adalah Fondasi, Magang Adalah Jembatannya Kuliah itu bukan cuma tentang IP dan SKS, melainkan juga waktu untuk membentuk cara berpikir dan mengenali diri. Sementara magang jadi tempat untuk menerapkan semua teori yang udah Puan pelajari di kelas. Keduanya penting, tapi porsinya bisa beda-beda tergantung Puan la...

Mengatasi Perbandingan Sosial: Menggenggam Self-Acceptance di Era Media Sosial

Pernahkah Puan merasa terjebak dalam erangkap perbandingan tak berujung di era media sosial? Melihat orang lain yang tampak lebih sukses, lebih berprestasi, atau lebih cantik dari Puan dapat membuat Puan merasa minder. Pertanyaan-pertanyaan seperti "Mengapa aku tidak sebaik dia?" atau "Mengapa hidupnya tampak lebih sempurna daripada milikku?" mungkin telah menghantui pikiran Puan. Jangan khawatir, Puan tidak sendirian! Perasaan-perasaan ini adalah hal yang wajar, terutama dalam dunia yang semakin terhubung dan serba kompetitif seperti masa kini. Namun, penting bagi Puan sebagai perempuan masa kini untuk memahami bahwa self-acceptance (penerimaan diri) adalah kunci utama untuk menggenggam kekuatan sejati dan menemukan kedamaian dalam hidup. Self-acceptance bukanlah proses instan, melainkan perjalanan emosional yang membutuhkan waktu dan dedikasi.  Dalam perjalanan ini, penerimaan diri mengajarkan Puan untuk mencintai dan menerima diri sendiri dengan segala kelebiha...