Langsung ke konten utama

How to Stay Productive While Grieving

  Source: https://pin.it/5b4AbRDlY   Pernah nggak, Puan merasa harus tetap menjalani aktivitas seperti biasa, sementara hati dan pikiran masih memproses duka? Ketika sedang berduka, hal-hal sederhana seperti bangun dari tempat tidur, membalas chat atau sekadar fokus selama beberapa menit saja bisa terasa jauh lebih berat dari biasanya. Bukan karena Puan malas atau nggak mampu, tetapi karena grief dapat menguras energi kita. Namun, di sisi lain, hidup harus tetap berjalan. Ada tugas yang harus dikumpulkan, pekerjaan yang perlu diselesaikan, atau tanggung jawab yang nggak bisa begitu saja ditinggalkan. Lalu, bagaimana caranya tetap produktif tanpa memaksa diri untuk "baik-baik saja"? 1. Redefine What "Productive" Means Hal pertama yang perlu Puan perhatikan adalah definisi produktif itu sendiri. Produktif saat sedang berduka nggak melulu berarti menyelesaikan semua pekerjaan dalam satu hari. Karena ketika sedang berduka, kapasitas seseorang memang bisa berubah dari se...

Merasa Dipahami, atau Hanya Divalidasi? Fenomena Baru Kesehatan Mental

Sumber: Pinterest

Pernah nggak sih, Puan lagi ngerasa capek, overthinking, atau sekadar butuh didenger… terus akhirnya buka media sosial? Scroll bentar, lihat story orang lain, posting sesuatu, nungguin like masuk. Atau mungkin, Puan malah buka chat dan mulai curhat panjang dan yang jawab bukan manusia, tapi AI. Aneh nggak sih? Kita bisa ngerasa lega, walaupun yang “dengerin” bukan orang beneran.

Kalau Puan pernah ngerasain itu, tenang… Puan nggak sendirian. Tapi, mungkin tanpa sadar, Puan lagi ada di tengah fenomena yang lebih besar: mencari validasi secara online—baik dari manusia di sosial media, maupun dari teknologi seperti ChatGPT. Yuk, kita bedah pelan-pelan, kenapa ini bisa terjadi dan apa dampaknya ke kesehatan mental Puan.

Kenapa Kita Butuh Banget Validasi?

Secara dasar, manusia itu memang butuh merasa: didengar, dipahami, dan diterima. Namun, Itu bukan kelemahan, melainkan kebutuhan psikologis. Masalahnya, di era digital, cara kita memenuhi kebutuhan itu jadi berubah.

Setiap kali Puan dapat like, komentar, atau bahkan sekadar notifikasi, otak akan melepaskan Dopamine, hormon yang bikin kita merasa senang. Nggak heran kalau kita jadi: sering cek notifikasi, ngerasa senang kalau dilihat orang, dan kecewa kalau responsnya  sepi tidak sesuai dengan keinginan kita.

Lama-lama, tanpa sadar, nilai diri kita mulai “dikaitkan” sama respons orang lain.

Baca juga: Menata Diri di Tengah Hidup yang Ramai: Self Management sebagai Kunci Self Development

Sosial Media: Validasi yang Cepat, Tapi Dangkal

Di sosial media, validasi itu instan banget. Puan bisa:

  • posting → langsung dapat respons

  • cerita → langsung ada yang react

  • tampil → langsung dinilai

Tapi di balik itu, ada jebakan halus.

Kadang Puan jadi:

  • membandingkan hidup dengan orang lain

  • merasa kurang kalau nggak “semenarik” mereka

  • atau bahkan mengukur diri dari angka (like, view, followers)

Padahal… yang dilihat itu cuma highlight, bukan realita.

Sekarang Muncul “Tempat Baru”: Curhat ke AI

Nah, ini yang menarik. Sekarang, bukan cuma ke manusia, banyak orang mulai: curhat ke AI, minta pendapat, bahkan cari ketenangan lewat chat

Kenapa? Karena AI selalu ada, nggak menghakimi, responsnya cepat, dan yang paling penting sering terasa “ngerti banget” dengan keadaan kita

Kadang, AI bahkan terasa lebih enak diajak ngobrol dibanding manusia.

Tapi… Apakah Itu Validasi yang Sehat?

Di sini kita perlu jujur sama diri sendiri, Puan.

1. Validasi Itu Belum Tentu Kebenaran

AI (dan bahkan manusia di sosial media) sering memberikan respons yang membuat kita merasa “dimengerti”. Tapi belum tentu objektif atau benar-benar membantu kita berkembang. Kadang kita cuma ingin didukung… bukan dikoreksi.

2. Kita Jadi Terlalu Nyaman di Zona Aman

Kalau Puan terus mencari tempat yang  selalu setuju, selalu lembut, nggak pernah menantang, Puan bisa kehilangan kesempatan untuk:

  • belajar menghadapi konflik

  • menerima sudut pandang lain

  • atau berkembang secara emosional

3. Muncul Ilusi Kedekatan

Puan mungkin merasa: “aku didengerin banget” atau “aku dipahami”

Padahal sebenarnya, itu bisa jadi bentuk Parasocial Interaction—hubungan satu arah, di mana kedekatan itu terasa nyata… tapi tidak benar-benar timbal balik.

Jadi, Sebenarnya Kita Lagi Nyari Apa?

Coba jujur ke diri sendiri, Puan. Kadang kita bukan cari solusi, tapi cari rasa lega. Kadang kita bukan ingin berubah, tapi ingin dibenarkan. Dan di situlah masalahnya karena validasi yang terlalu mudah didapat… sering kali kehilangan maknanya.

Tips Supaya Tetap Sehat Secara Mental (Versi Realistis)

Bukan berarti Puan harus berhenti pakai sosial media atau berhenti curhat ya. Tapi, coba lebih sadar saat melakukannya.

  1. Sadari Tujuan Puan, sebelum posting atau curhat, tanya: “Aku lagi butuh didengar, atau butuh solusi?”

  1. Kalau posting, coba jangan terlalu sering cek notifikasi dan jangan jadikan respons orang sebagai ukuran diri. 

  1. Curhat ke AI boleh, tapi jangan sampai menggantikan manusia, tetap punya orang nyata untuk diajak ngobrol karena hubungan nyata itu lebih kompleks tapi juga lebih bermakna.

  1. Belajar bilang ke diri sendiri: “Perasaan aku valid.” tanpa harus selalu dikonfirmasi orang lain.

Di era sekarang, didengar itu jadi lebih mudah dari sebelumnya. Tapi dipahami secara mendalam? Itu justru makin langka.

Puan boleh kok cari validasi—itu manusiawi. Tapi jangan sampai Puan kehilangan kemampuan untuk memahami dan menerima diri sendiri tanpa bergantung sepenuhnya pada dunia luar, apalagi dari sesuatu yang tidak benar-benar “merasakan”.

Jadi, lain kali Puan lagi ngerasa butuh didengar… coba tanya dulu ke diri sendiri: 

“Aku lagi butuh validasi… atau aku lagi butuh jujur sama diri sendiri?”

Sekilas Tentang Puan Bisa

Puan Bisa adalah komunitas perempuan muda yang mendukung pengembangan karir, self-improvement, dan mental health. Sejak pertama kali didirikan tanggal 1 Oktober 2020 sampai saat ini, Puan Bisa aktif melakukan kegiatan kreatif dan edukatif yang dilakukan dengan tujuan meningkatkan kesadaran perempuan muda (khususnya usia 16-23 tahun) dalam mengembangkan kemampuan dan rasa cinta akan dirinya. 

Referensi:

Nieminen, T., Martelin, T., Koskinen, S., Aro, H., Alanen, E., & Hyyppä, M. (2010). Social capital as a determinant of self-rated health and psychological well-being. International Journal of Public Health, 55, 531-542. https://doi.org/10.1007/s00038-010-0138-3.  

Qian, Y., Tang, W., Xu, T., Zhu, D., & Hua, W. (2025). Emotional support powered by artificial intelligence in healthcare settings: A scoping review of technologies, contents, and outcomes.. International journal of nursing studies, 172, 105243 . https://doi.org/10.1016/j.ijnurstu.2025.105243

Kim, T., Jiang, L., Duhachek, A., Lee, H., & Garvey, A. (2022). Do You Mind if I Ask You a Personal Question? How AI Service Agents Alter Consumer Self-Disclosure. Journal of Service Research, 25, 649 - 666. https://doi.org/10.1177/10946705221120232.

Komentar

Rubik Puan Popular

Lazy Ambitious: Melihat Ketakutan dalam Perencanaan

Apakah Puan pernah merasa stuck pada tahap perencanaan dan selalu merasa belum cukup maupun ragu untuk memulai rencana? Nah, fenomena ini disebut dengan Lazy Ambitious. Istilah Lazy Ambitious akhir-akhir ini ramai dibicarakan di media sosial karena menggambarkan fenomena anak muda yang terjebak dalam perencanaan yang telah dibuat, tetapi nggak mencoba untuk merealisasikan rencananya tersebut. Istilah Lazy Ambitious juga erat kaitannya dengan pembahasan psikologi procrastination yakni perilaku yang nggak bisa memanajemen waktu dan perasaan takut untuk gagal saat ingin melakukan sesuatu. Baca juga: "I Wish I Knew When I Was 20" Memahami Hidup Mulai dari Usia 20 Tahun Mengapa demikian? Yuk Priska kupas penyebab dari Lazy Ambitious ! Overthinking Dalam tahap perencanaan, jika Puan terlalu memikirkan banyak kemungkinan yang akan terjadi dari rencana Puan akan mengurangi waktu yang Puan miliki dan energi Puan akan habis untuk berpikir serta menganalisis segala kemungkinan tanpa ad...

“I Wish I Knew When I Was 20” Memahami Hidup Mulai dari Usia 20 Tahun

  Buku "What I Wish I Knew When I Was 20" karya Prof. Tina Seelig (Amazon.com) Menginjak usia 20 terlihat menyenangkan karena Puan telah memiliki kebebasan atas diri sendiri. Di usia muda, tubuh Puan masih bertenaga maksimal dan optimal, pikiran masih fresh , ide-ide yang dikeluarkan masih up to date , intinya Puan lagi ada di masa-masa emas untuk mengembangkan suatu hal. Namun, yang jarang terlihat adalah masa saat Puan merasa clueless akan hidup Puan sendiri untuk memutuskan karir dan perjalanan hidup Puan ke depannya. Baca juga: Motivasi Bukan Ditunggu, tapi Dicari Lewat Aksi Lalu, apa saja sebenarnya hal yang harus dipahami untuk menjalani hidup saat menginjak usia 20 tahun? Mengutip dari buku “What I Wish I Knew When I Was 20” karya Prof. Tina Seelig ada beberapa hal yang dapat Puan lakukan: Jangan Menunggu, Tapi Ciptakan! Seringkali Puan berpikir untuk menunggu kesempatan datang, menunggu orang lain yang membukanya, menunggu offering yang datang. Padahal, Puan bisa men...

Mengupas High Functioning Anxiety Lewat Buku “I Want To Die But I Want To Eat Tteokpokki”

  Menjadi perempuan muda yang aktif, punya banyak kegiatan organisasi, dan tetap menjaga nilai akademik biar selalu lancar tentu jadi hal yang membanggakan. Gak heran kalau kita selalu berusaha memberikan yang terbaik dan tetap tersenyum ramah di tengah padatnya jadwal sehari-hari. Tapi jujur deh, pernah gak sih Puan merasa kalau semua keproduktifan dan senyuman itu sebenarnya cuma tameng biar kita kelihatan tangguh? Begitu malam tiba dan sendirian di kamar, rasa hampa dan lelah yang luar biasa itu sering kali datang dan susah untuk dihindari. Fenomena ketika kita tetap bersikap normal di luar padahal yang sebenarnya sedang merasa cemas ini disebut sebagai masking atau high functioning anxiety . Isu inilah yang dibahas secara gamblang dalam buku “I Want To Die but I Want To Eat Tteokbokki” karya Baek Sehee. Setiap Luka Punya Hak untuk Merasa Sakit Sering kali kita merasa cemas atau bersalah karena menganggap masalah kita sepele dibanding orang lain. Padahal, buku ini mengingatkan ...

How to Stay Productive While Grieving

  Source: https://pin.it/5b4AbRDlY   Pernah nggak, Puan merasa harus tetap menjalani aktivitas seperti biasa, sementara hati dan pikiran masih memproses duka? Ketika sedang berduka, hal-hal sederhana seperti bangun dari tempat tidur, membalas chat atau sekadar fokus selama beberapa menit saja bisa terasa jauh lebih berat dari biasanya. Bukan karena Puan malas atau nggak mampu, tetapi karena grief dapat menguras energi kita. Namun, di sisi lain, hidup harus tetap berjalan. Ada tugas yang harus dikumpulkan, pekerjaan yang perlu diselesaikan, atau tanggung jawab yang nggak bisa begitu saja ditinggalkan. Lalu, bagaimana caranya tetap produktif tanpa memaksa diri untuk "baik-baik saja"? 1. Redefine What "Productive" Means Hal pertama yang perlu Puan perhatikan adalah definisi produktif itu sendiri. Produktif saat sedang berduka nggak melulu berarti menyelesaikan semua pekerjaan dalam satu hari. Karena ketika sedang berduka, kapasitas seseorang memang bisa berubah dari se...

Lebih dari Sekedar Musik: Intip Pesan Harapan di Balik Lagu "1–800–273–8255"

  Image by @LinesofLogic ( https://x.com/LinesofLogic) Halo, Puan! Ada nggak nih dari kamu yang merupakan penikmat musik? Sini-sini, Priska mau kasih tahu kamu tentang satu lagu yang bukan sekedar lagu, tapi ada pesan harapan dan makna mendalam, lho! Lagu berjudul  “1–800–273–8255” merupakan sebuah lagu yang di populerkan oleh rapper logic dan berkolaborasi dengan penyanyi  Alessia Cara dan Khalid. Pastinya Puan udah nggak asing lagi kan dengan nama-nama musisi diatas? Menariknya, lagu ini dinamakan  berdasarkan nomor telepon untuk American National Suicide Prevention Lifeline (NSPL).  Logic memilih judul ini agar mudah diingat dan dihubungi oleh orang-orang yang membutuhkan bantuan.  Lagu ini dimulai dari perspektif seseorang yang memanggil nomor National Suicide Prevention Lifeline dan memberi tahu bahwa mereka tidak ingin hidup lagi. Berikut beberapa liriknya:  I don’t wanna be alive, I don’t wanna be alive I just wanna die And let me tell yo...