Langsung ke konten utama

Mengupas High Functioning Anxiety Lewat Buku “I Want To Die But I Want To Eat Tteokpokki”

  Menjadi perempuan muda yang aktif, punya banyak kegiatan organisasi, dan tetap menjaga nilai akademik biar selalu lancar tentu jadi hal yang membanggakan. Gak heran kalau kita selalu berusaha memberikan yang terbaik dan tetap tersenyum ramah di tengah padatnya jadwal sehari-hari. Tapi jujur deh, pernah gak sih Puan merasa kalau semua keproduktifan dan senyuman itu sebenarnya cuma tameng biar kita kelihatan tangguh? Begitu malam tiba dan sendirian di kamar, rasa hampa dan lelah yang luar biasa itu sering kali datang dan susah untuk dihindari. Fenomena ketika kita tetap bersikap normal di luar padahal yang sebenarnya sedang merasa cemas ini disebut sebagai masking atau high functioning anxiety . Isu inilah yang dibahas secara gamblang dalam buku “I Want To Die but I Want To Eat Tteokbokki” karya Baek Sehee. Setiap Luka Punya Hak untuk Merasa Sakit Sering kali kita merasa cemas atau bersalah karena menganggap masalah kita sepele dibanding orang lain. Padahal, buku ini mengingatkan ...

Menata Diri di Tengah Hidup yang Ramai: Self Management sebagai Kunci Self Development

 


Kenapa Self Development Tidak Selalu Tentang Menjadi Lebih Sibuk?

Puan, di tengah kehidupan yang serba cepat seperti sekarang, self development seringkali dipahami sebagai keharusan untuk terus berkembang, belajar hal baru, dan menjadi versi diri yang “lebih baik” setiap waktu. Banyak orang merasa harus selalu produktif, selalu sibuk, dan selalu bergerak maju agar tidak tertinggal. Namun, tanpa disadari pola pikir seperti ini justru sering membuat kita kelelahan, bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara emosional.

Di sinilah self management berperan.

Self management bukan tentang melakukan lebih banyak hal, tapi tentang mengelola energi, waktu, emosi, dan prioritas agar hidup terasa lebih seimbang dan bermakna.

Apa Itu Self Management?

Self-management adalah kemampuan untuk memahami kapasitas diri dan bertindak sesuai dengan batas yang sehat. Ketika seseorang memiliki self-management yang baik, ia tidak memaksakan diri untuk selalu “kuat” atau “sempurna.” Ia tahu kapan harus melangkah maju, kapan harus memperlambat langkah, dan kapan perlu berhenti sejenak untuk bernapas.

Self-management yang baik membantu Puan:

  • mengenali batas kemampuan diri,

  • mengelola stres dengan lebih sehat,

  • menjalani aktivitas tanpa merasa kewalahan.

Self-management bukan tentang melakukan lebih banyak hal dalam satu waktu, melainkan tentang bagaimana Puan mampu mengelola dirinya sendiri dengan lebih sadar. Mengelola waktu, energi, emosi, dan ekspektasi agar hidup tidak terasa penuh tekanan, tetapi tetap berjalan dengan arah yang jelas.

Mengapa Banyak Orang Sulit Mengatur Diri?

Bukan karena malas, tapi karena:

  • tuntutan hidup yang semakin cepat,

  • tekanan sosial dan perbandingan dengan orang lain,

  • kurangnya kesadaran akan kebutuhan diri sendiri.

Mungkin Puan kesulitan mengatur diri sendiri bukan karena kurang kemampuan, tapi karena terlalu lama hidup dalam tuntutan. Tuntutan untuk selalu berhasil, selalu terlihat baik, dan selalu memenuhi standar yang sering kali datang dari luar diri. Akibatnya, Puan menjadi jarang benar-benar mendengarkan apa yang tubuh dan pikiran butuhkan. Rasa lelah dianggap wajar, stres dianggap biasa, dan emosi sering dipendam agar tetap terlihat “baik-baik saja.”

Padahal, self-management mengajarkan bahwa mengakui kelelahan bukanlah tanda kelemahan. Justru dari kesadaran itulah Puan bisa membangun hubungan yang lebih sehat dengan diri sendiri. Dengan memahami emosi yang muncul dan menerima bahwa tidak semua hari harus berjalan sempurna, Puan memberi ruang bagi diri untuk pulih dan tumbuh secara berkelanjutan.

Manfaat Self Management dalam Kehidupan Sehari-hari

  • Lebih stabil secara emosional: Puan tidak mudah terpancing stres karena tahu cara menenangkan diri.

  • Waktu terasa lebih terkendali: Bukan karena punya waktu lebih banyak, tapi karena tahu mana yang perlu diprioritaskan.

  • Pikiran lebih jernih: Keputusan diambil dengan lebih tenang dan rasional.

  • Proses tumbuh yang berkelanjutan: Tidak burnout, tidak memaksa diri, tapi tetap berkembang.

Dalam kehidupan sehari-hari, self-management membantu Puan menjalani hari dengan lebih tenang. Waktu tidak lagi terasa sebagai musuh yang selalu mengejar, melainkan sebagai ruang yang bisa diatur sesuai prioritas. Pikiran menjadi lebih jernih karena tidak terus dipenuhi rasa bersalah akibat tuntutan yang tidak realistis. Keputusan pun diambil dengan lebih sadar, bukan karena tekanan atau perbandingan dengan orang lain.

Cara Melatih Self Management Secara Perlahan

Melatih self-management tidak harus dimulai dari perubahan besar, Puan bisa memulai dari kebiasaan kecil yang dilakukan dengan konsisten. Menyadari kapan tubuh mulai lelah, memberi jeda sebelum bereaksi terhadap emosi, serta berani menetapkan batas pada hal-hal yang menguras energi adalah langkah awal yang sederhana namun bermakna. Ketika Puan mulai menghargai ritme diri sendiri, hidup pun terasa lebih seimbang. Berikut hal-hal yang bisa Puan lakukan:

  1. Kenali ritme energi diri
    Tidak semua waktu produktif itu sama. Dengarkan tubuh dan pikiran.

  2. Atur prioritas harian yang realistis
    Tiga hal penting per hari sudah cukup.

  3. Kelola emosi, bukan menekannya
    Akui lelah, sedih, atau kecewa tanpa rasa bersalah.

  4. Bangun rutinitas kecil yang konsisten
    Rutinitas sederhana lebih efektif daripada target besar yang sulit dijaga.

  5. Berani berhenti sejenak
    Istirahat bukan tanda gagal, tapi bagian dari pengelolaan diri.

Self-management mengajarkan bahwa istirahat adalah bagian dari proses tumbuh. Berhenti sejenak bukan berarti Puan kehilangan arah, melainkan memberi kesempatan bagi diri untuk kembali fokus dan lebih kuat. Dalam jangka panjang, pengelolaan diri yang sehat membantu Puan untuk berkembang tanpa kehilangan kesejahteraan mental dan emosionalnya.

Pada akhirnya, self development bukan tentang menjadi versi diri yang paling sibuk atau paling terlihat “berhasil.” Ia tentang menjadi versi diri yang lebih sadar, lebih seimbang, dan lebih selaras dengan kebutuhan batin. Dengan self-management yang baik, Puan tidak hanya tumbuh, tetapi juga tetap utuh sebagai manusia. Referensi: Harvard Business Review — How to Practice Self-Management
Author & Editor: Irda Adelina Dalimunthe

Komentar

Rubik Puan Popular

Mengupas High Functioning Anxiety Lewat Buku “I Want To Die But I Want To Eat Tteokpokki”

  Menjadi perempuan muda yang aktif, punya banyak kegiatan organisasi, dan tetap menjaga nilai akademik biar selalu lancar tentu jadi hal yang membanggakan. Gak heran kalau kita selalu berusaha memberikan yang terbaik dan tetap tersenyum ramah di tengah padatnya jadwal sehari-hari. Tapi jujur deh, pernah gak sih Puan merasa kalau semua keproduktifan dan senyuman itu sebenarnya cuma tameng biar kita kelihatan tangguh? Begitu malam tiba dan sendirian di kamar, rasa hampa dan lelah yang luar biasa itu sering kali datang dan susah untuk dihindari. Fenomena ketika kita tetap bersikap normal di luar padahal yang sebenarnya sedang merasa cemas ini disebut sebagai masking atau high functioning anxiety . Isu inilah yang dibahas secara gamblang dalam buku “I Want To Die but I Want To Eat Tteokbokki” karya Baek Sehee. Setiap Luka Punya Hak untuk Merasa Sakit Sering kali kita merasa cemas atau bersalah karena menganggap masalah kita sepele dibanding orang lain. Padahal, buku ini mengingatkan ...

Sambut Tahun Ajaran Baru, Hoshizora Foundation Kembali Perluas Kesempatan Anak Lanjut Sekolah Lewat Pembukaan Beasiswa Mimpi Anak Negeri 2026

Poster pembukaan pendaftaran Beasiswa Mimpi Anak Negeri (hoshizora.org) Yogyakarta, Juli 2026 – Setiap anak berhak memiliki kesempatan yang sama untuk meraih masa depan melalui pendidikan berkualitas. Untuk mewujudkan komitmen tersebut, Hoshizora Foundation kembali membuka pendaftaran Beasiswa Mimpi Anak Negeri (BMAN) 2026 yang berlangsung pada 6 hingga 19 Juli 2026. Program beasiswa ini ditujukan bagi siswa/i kelas IV SD hingga kelas X SMA yang akan segera memasuki tahun ajaran baru 2026/2027. Fokus menargetkan anak-anak dari keluarga pra sejahtera di seluruh Indonesia, Hoshizora Foundation membuka kesempatan dukungan pendidikan bagi siswa yang memiliki semangat belajar tinggi dan memiliki keinginan kuat meraih cita-cita, walaupun di tengah keterbatasan ekonomi.  Beasiswa Mimpi Anak Negeri merupakan salah satu program utama Hoshizora Foundation sejak 2006 yang tidak hanya memberikan bantuan biaya pendidikan, tetapi juga memfasilitasi pendampingan secara berkelanjutan kepada pener...

Membaca Buku: Cara Mudah dan Murah untuk Menjaga Mental Health

Ilustrasi seseorang yang sedang membaca buku (unsplash.com) Hai Puan! Akhir-akhir ini, kegiatan membaca buku jadi tren yang dinikmati oleh berbagai kalangan. Banyak orang yang mulai tertarik dengan tren literasi di media sosial. Apalagi saat ini banyak sekali akun influencer pecinta buku yang aktif mengunggah konten terkait ulasan buku di media sosial, seperti Instagram, TikTok, dan X.  Hal ini menyebabkan seseorang yang awalnya belum suka atau belum tertarik membaca buku dapat terpengaruh. Tak jarang, beberapa orang hanya membaca karena ikut-ikutan dan takut tertinggal tren. Padahal, meneruskan kebiasaan membaca tidak hanya meningkatkan pengetahuan, tetapi juga bisa bermanfaat untuk kesehatan, khususnya kesehatan mental. Beberapa manfaat membaca buku bagi kesehatan mental yang harus Puan ketahui: 1. Membaca buku dapat mengurangi stres.   Penelitian menunjukkan bahwa membaca hanya enam menit dalam sehari dapat mengurangi tingkat stres hingga 60% dengan menurunkan detak jantun...

“I Wish I Knew When I Was 20” Memahami Hidup Mulai dari Usia 20 Tahun

  Buku "What I Wish I Knew When I Was 20" karya Prof. Tina Seelig (Amazon.com) Menginjak usia 20 terlihat menyenangkan karena Puan telah memiliki kebebasan atas diri sendiri. Di usia muda, tubuh Puan masih bertenaga maksimal dan optimal, pikiran masih fresh , ide-ide yang dikeluarkan masih up to date , intinya Puan lagi ada di masa-masa emas untuk mengembangkan suatu hal. Namun, yang jarang terlihat adalah masa saat Puan merasa clueless akan hidup Puan sendiri untuk memutuskan karir dan perjalanan hidup Puan ke depannya. Baca juga: Motivasi Bukan Ditunggu, tapi Dicari Lewat Aksi Lalu, apa saja sebenarnya hal yang harus dipahami untuk menjalani hidup saat menginjak usia 20 tahun? Mengutip dari buku “What I Wish I Knew When I Was 20” karya Prof. Tina Seelig ada beberapa hal yang dapat Puan lakukan: Jangan Menunggu, Tapi Ciptakan! Seringkali Puan berpikir untuk menunggu kesempatan datang, menunggu orang lain yang membukanya, menunggu offering yang datang. Padahal, Puan bisa men...

Tidak Semua Zona Nyaman Perlu Ditinggalkan

                                                                                   Image by: Pinterest   Puan pernah denger nggak sih satu nasihat ini: “keluar dari zona nyaman kalau mau berkembang.” Masalahnya, tidak semua orang bertahan di zona nyaman itu stagnan. Dan tidak semua orang yang keluar dari zona nyaman benar-benar bertumbuh. Jadi, pertanyaannya bukan lagi harus keluar atau tidak, tapi: Apakah Puan tahu kapan harus tetap tinggal, dan kapan harus melangkah? Baca Juga:   Dealing dengan Comparison Trap Saat Lebaran Zona Nyaman Tidak Selalu Musuh Zona nyaman sering digambarkan sebagai tempat yang “menjebak.” Padahal, dalam banyak kasus, justru di sanalah Puan dapat membangun stabilitas. Zona nyaman bisa berarti: rutinitas ...