Langsung ke konten utama

LinkedIn dan Ilusi 'Semua Orang Sudah Lebih Maju'

  LinkedIn dan Ilusi 'Semua Orang Sudah Lebih Maju' Image by: Pinterest Di LinkedIn, Puan hampir setiap hari melihat kabar baik: diterima kerja, naik jabatan, lolos program bergengsi, atau menyelesaikan sertifikasi. Sekilas, semuanya tampak berjalan cepat dan terarah. Tanpa disadari, muncul perasaan bahwa orang lain sudah melangkah, sementara Puan masih di tempat yang sama. Padahal, yang ditampilkan sering kali hanyalah bagian terbaik dari perjalanan seseorang, bukan keseluruhan prosesnya. Ketika Timeline Jadi Tolok Ukur yang Tidak Adil Masalah mulai muncu ketika Puan menjadikan apa yang dilihat sebagai standar. Puan membandingkan proses yang masih berjalan dengan hasil akhir orang lain yang sudah dipoles rapi. Perbandingan ini tidak seimbang sejak awal. Akibatnya, rasa tertinggal itu bukan karena Puan benar-benar tidak berkembang, tetapi karena standar yang digunakan memang tidak realistis. Apa yang tampil di LinkedIn adalah "highlight", sementara yang Puan rasakan a...

Siaran Pers From Visible to Stand Out: Cara bikin HR “Ngeh” sama Profilmu di Puan Bisa Learning Space


28 Maret 2026 - Puan Bisa kembali hadirkan Learning Space bertema “Early Career Branding: Crafting Your CV & LinkedIn for Visibility and Opportunity” yang mengundang Kak Maria Qibtiyah, Human Capital Consultant dari PT Bitama sebagai pembicara. Program ini berhasil menjangkau puluhan peserta dari seluruh Indonesia melalui Online Zoom. Puan Bisa juga menggaet komunitas Grow Bareng sebagai kolaborator. Learning Space ini menjadi cara meningkatkan kemampuan personal branding, khususnya dalam pembuatan CV dan optimalisasi LinkedIn agar dapat membantu mahasiswa maupun pekerja muda untuk siap bekerja.


Learning Space dihadirkan sebagai respons dari kebutuhan untuk meningkatkan personal branding di kalangan mahasiswa dan pekerja muda. Sebanyak 50 perempuan muda menerima dampak acara ini dan memberikan banyak feedback positif “Dampak yang saya rasakan adalah dengan lebih mengetahui kelebihan dan kelemahan diri sendiri, yang memungkinkan peningkatan kualitas hidup”,  ucap Kak Tyas sebagai salah satu peserta yang hadir.


Di masa persaingan dunia kerja yang semakin ketat, pemahaman mengenai penyusunan CV dan optimalisasi LinkedIn menjadi hal yang penting. Diselenggarakan via Online Zoom, program ini berisikan pemaparan materi; cara perusahaan memilih kandidat pekerja, pembuatan CV efektif, dan penguatan personal branding. Selain itu, peserta juga dibekali pemahaman dasar terkait content marketing dan career strategy untuk meningkatkan peluang di dunia profesional. 


Kak Maria selaku pembicara mengatakan pula bahwa kita perlu menggali lebih jauh pengalaman - pengalaman yang kita miliki untuk bisa bekerja, pengalaman yang relevan pun tidak harus pengalaman bekerja sehingga dapat menjadi nilai untuk diri sendiri.


Pengalaman pengalaman itu kadang kadang  tidak harus berupa pekerjaan yang lain, tapi hal hal yang relevan”. Ucap kak Maria, Sabtu 28 Maret 2026.

Kak Maria juga menambahkan untuk menunjukkan kemampuan dengan dampak yang kita hasilkan sebagai individu, hal ini bisa berupa kerelawanan dan sejenisnya, “Kita harus juga menuliskan bukti atau dampak yang sudah kita berikan, misalnya di Puan Bisa dapat membuat program setiap bulan”. 


Melalui program ini, Puan Bisa berharap para peserta tidak hanya memahami konsep personal branding, tetapi juga mampu menerapkan secara nyata. Peserta diharapkan memiliki profil LinkedIn yang lebih optimal—mulai dari headline, ringkasan, hingga pengalaman yang ditampilkan secara sesuai dengan kebutuhan —serta dapat menyusun CV yang relevan dan kompetitif sesuai dengan posisi yang dituju. Selain itu, program ini juga diharapkan dapat membantu peserta menyusun langkah tepat dalam pengembangan karier, meningkatkan kepercayaan diri dalam mempresentasikan pengalaman dan pencapaian, serta memperluas jejaring profesional sebagai bekal untuk memasuki dunia kerja.



Narasumber

Maria Qibtiyah, HC Consultant, PT Bitama

Kontak:https://www.instagram.com/maria.qibtiyah


Narahubung

Cheryl Trivera, Project Manager Learning Space, Puan Bisa

Kontak: https://www.instagram.com/cherylltrivera



Tentang Puan Bisa:

Puan Bisa merupakan komunitas pemberdaya perempuan yang dibangun sejak 1 Oktober 2020 dengan misi untuk membantu perempuan menemukan arah karir, mengembangkan potensi diri dan menyadari kesehatan mental diri sendiri. 

https://instagram.com/puanbisa


Foto: 

https://drive.google.com/drive/folders/1E4JSz2MZxdIjz2pv4ubzu07ilNofTENg




Author: Zahara Nur’ain Fathin Bahiyati

Editor : Putri Audia Divayanti






Komentar

Rubik Puan Popular

Lagi Istirahat, tapi Malah Merasa Bersalah? Yuk, Kenalan Sama Rest Guilt

  Pernah nggak, Puan lagi rebahan setelah hari yang panjang, tapi bukannya merasa tenang, malah muncul rasa nggak nyaman? Rasanya seperti ada suara kecil di kepala yang bilang, “Harusnya aku lagi ngerjain sesuatu.” Atau mungkin, “Orang lain lagi produktif, kok aku malah santai?” Kalau iya, Puan nggak sendirian. Fenomena ini dikenal sebagai rest guilt , yaitu rasa bersalah saat beristirahat karena merasa belum cukup produktif, belum cukup bekerja keras, atau belum “layak” untuk berhenti sejenak. Di era hustle culture seperti sekarang, istirahat sering diposisikan seperti hadiah. Sesuatu yang baru boleh dinikmati setelah semua tugas selesai, target tercapai, dan checklist tercentang sempurna. Masalahnya, kapan semuanya benar-benar selesai? Baca Juga: https://puanbisa.blogspot.com/2026/03/tidak-semua-zona-nyaman-perlu.html   Kenapa Kita Merasa Bersalah Saat Istirahat? Banyak dari kita tumbuh dengan keyakinan bahwa sibuk adalah indikator kesuksesan. Semakin penuh jadwal kita, se...

Perempuan dan Overachievement Trap: Sisi Lain Produktivitas

  Pict by: Bustle.com Pernahkah Puan merasa sudah berusaha dengan maksimal, tetapi merasa performa yang ditampilkan kurang ataupun berusaha untuk mengejar ekspektasi agar bisa selalu dihargai?  Alih-alih merasa puas, Puan justru terus mendorong diri untuk melakukan hal-hal diluar batas diri Puan. Hal ini bukan karena tuntutan yang sudah jelas ada, melainkan ada dorongan untuk selalu memenuhi ekspektasi, baik diri sendiri maupun orang lain. Jika kondisi ini terasa familiar, bisa jadi Puan sedang berada dalam overachievement trap. Apa Itu Overachievement Trap ? Overachievement trap merupakan kondisi ketika seseorang terus berusaha mencapai level yang lebih tinggi, bukan karena kebutuhannya, melainkan merasa dirinya sebagai perempuan belum cukup layak dan dihargai oleh sekitar. Secara psikologis, kondisi ini berkaitan dengan perfeksionisme, terutama dipengaruhi oleh tekanan sosial.  Paul L. Hewitt dan Gordon L. Flett menjelaskan bahwa perfeksionisme yang berorientasi pada t...

LinkedIn dan Ilusi 'Semua Orang Sudah Lebih Maju'

  LinkedIn dan Ilusi 'Semua Orang Sudah Lebih Maju' Image by: Pinterest Di LinkedIn, Puan hampir setiap hari melihat kabar baik: diterima kerja, naik jabatan, lolos program bergengsi, atau menyelesaikan sertifikasi. Sekilas, semuanya tampak berjalan cepat dan terarah. Tanpa disadari, muncul perasaan bahwa orang lain sudah melangkah, sementara Puan masih di tempat yang sama. Padahal, yang ditampilkan sering kali hanyalah bagian terbaik dari perjalanan seseorang, bukan keseluruhan prosesnya. Ketika Timeline Jadi Tolok Ukur yang Tidak Adil Masalah mulai muncu ketika Puan menjadikan apa yang dilihat sebagai standar. Puan membandingkan proses yang masih berjalan dengan hasil akhir orang lain yang sudah dipoles rapi. Perbandingan ini tidak seimbang sejak awal. Akibatnya, rasa tertinggal itu bukan karena Puan benar-benar tidak berkembang, tetapi karena standar yang digunakan memang tidak realistis. Apa yang tampil di LinkedIn adalah "highlight", sementara yang Puan rasakan a...

Fenomena Doom Scrolling, Kebiasaan yang Bikin Burn Out

  " Scroll bentar deh.." Terus tanpa sadar mata mulai berat, tangan pegal, dan lupa waktu sendiri. Pernah ngalamin hal serupa? Kalau iya, berarti Puan lagi ngalamin yang namanya doom scrolling . Doom scrolling itu kalau Puan terus-terusan mengonsumsi informasi, terutama berita negatif yang ada pada sosial media. Menurut Cambdrige Dictionary , kata "Doomscr oll" mengacu kepada tindakan  terlalu sering menatap layar  untuk membaca berita buruk atau kurang  berbobot.  Nah, dari sini mungkin banyak Puan yang jadi ngerti apa itu doom scrolling , istilah yang belakangan sering muncul di internet. Kalau kita teliti, lagi  penyebabnya nggak bakalan lepas dari ketergantungan kita  pada handphone .  Hampir setiap hari kita menerima banyak pesan notifikasi. Terlepas  isinya penting atau tidak terlalu penting secara refleks pasti kita cek kalau dibiarkan menimbulkan rasa cemas atau anxiety,   seakan ada hal tertinggal jika kita tidak membuka lay...

The Power of Mengikhlaskan: Seni Melepaskan Tanpa Harus Kehilangan Arah

Ilustrasi Seseorang yang Melepaskan Suatu Dalam Hidupnya (tinybuddha.com) Pernah nggak sih Puan merasa capek banget, padahal seharian cuma rebahan? Bisa jadi yang capek bukan fisik Puan, tapi pikiran Puan yang lagi menggenggam sesuatu terlalu erat. Entah itu kenangan pahit, kegagalan masa lalu atau ekspektasi yang nggak kesampaian. Kita sering diajarkan untuk berjuang, bertahan, dan mengejar. Tapi jarang banget ada yang mengajarkan kita gimana caranya melepaskan. Padahal, ada kekuatan luar biasa di balik kata ikhlas atau melepaskan. The power of mengikhlaskan itu bukan soal menyerah, tapi soal memberi ruang baru untuk hal-hal yang lebih baik. Melepaskan Bukan Berarti Kalah Banyak orang salah arti, beberapa berpikir kalau Puan ikhlas, berarti Puan kalah atau lemah. Padahal, mengikhlaskan itu adalah tindakan paling berani yang bisa dilakukan manusia. Puan secara sadar memilih untuk berhenti berperang dengan kenyataan yang nggak bisa Puan ubah. Bayangkan Puan lagi memegang segenggam pasi...