Langsung ke konten utama

How Slowing Down Brings Connection Back to Life

  Why are we always in such a rush? Why couldn't we slow a little bit down? Di lingkungan yang serba cepat sekarang ini, slowing down menjadi hal yang terasa tidak produktif dan membuat gerak kita terasa lebih lambat dibandingkan orang lain. Mengapa bisa begitu, ya, Puan? Karena, kita hidup di mana deadlines selalu mengejar, media sosial selalu menemani dan memperlihatkan seseorang di luar sana jauh lebih baik, lebih produktif, dan lebih banyak pencapaian; membuat kita merasa tak seharusnya slowing down di saat orang lain berusaha lebih keras untuk mendapat apa yang mereka inginkan, dengan kata lain, membuat kita merasa tertinggal jika slowing down . Either way, what if all of that is just our worrying mind? what if reality presents its opposite? What if it's literally okay to just try to slow down; to have the ability in living life more fully and peacefully. Why Slowing Down Matters Seperti yang dikatakan Edward Yu (2010, p.7) dalam bukunya The Art of Slowing Down : "W...

Siaran Pers From Visible to Stand Out: Cara bikin HR “Ngeh” sama Profilmu di Puan Bisa Learning Space


28 Maret 2026 - Puan Bisa kembali hadirkan Learning Space bertema “Early Career Branding: Crafting Your CV & LinkedIn for Visibility and Opportunity” yang mengundang Kak Maria Qibtiyah, Human Capital Consultant dari PT Bitama sebagai pembicara. Program ini berhasil menjangkau puluhan peserta dari seluruh Indonesia melalui Online Zoom. Puan Bisa juga menggaet komunitas Grow Bareng sebagai kolaborator. Learning Space ini menjadi cara meningkatkan kemampuan personal branding, khususnya dalam pembuatan CV dan optimalisasi LinkedIn agar dapat membantu mahasiswa maupun pekerja muda untuk siap bekerja.


Learning Space dihadirkan sebagai respons dari kebutuhan untuk meningkatkan personal branding di kalangan mahasiswa dan pekerja muda. Sebanyak 50 perempuan muda menerima dampak acara ini dan memberikan banyak feedback positif “Dampak yang saya rasakan adalah dengan lebih mengetahui kelebihan dan kelemahan diri sendiri, yang memungkinkan peningkatan kualitas hidup”,  ucap Kak Tyas sebagai salah satu peserta yang hadir.


Di masa persaingan dunia kerja yang semakin ketat, pemahaman mengenai penyusunan CV dan optimalisasi LinkedIn menjadi hal yang penting. Diselenggarakan via Online Zoom, program ini berisikan pemaparan materi; cara perusahaan memilih kandidat pekerja, pembuatan CV efektif, dan penguatan personal branding. Selain itu, peserta juga dibekali pemahaman dasar terkait content marketing dan career strategy untuk meningkatkan peluang di dunia profesional. 


Kak Maria selaku pembicara mengatakan pula bahwa kita perlu menggali lebih jauh pengalaman - pengalaman yang kita miliki untuk bisa bekerja, pengalaman yang relevan pun tidak harus pengalaman bekerja sehingga dapat menjadi nilai untuk diri sendiri.


Pengalaman pengalaman itu kadang kadang  tidak harus berupa pekerjaan yang lain, tapi hal hal yang relevan”. Ucap kak Maria, Sabtu 28 Maret 2026.

Kak Maria juga menambahkan untuk menunjukkan kemampuan dengan dampak yang kita hasilkan sebagai individu, hal ini bisa berupa kerelawanan dan sejenisnya, “Kita harus juga menuliskan bukti atau dampak yang sudah kita berikan, misalnya di Puan Bisa dapat membuat program setiap bulan”. 


Melalui program ini, Puan Bisa berharap para peserta tidak hanya memahami konsep personal branding, tetapi juga mampu menerapkan secara nyata. Peserta diharapkan memiliki profil LinkedIn yang lebih optimal—mulai dari headline, ringkasan, hingga pengalaman yang ditampilkan secara sesuai dengan kebutuhan —serta dapat menyusun CV yang relevan dan kompetitif sesuai dengan posisi yang dituju. Selain itu, program ini juga diharapkan dapat membantu peserta menyusun langkah tepat dalam pengembangan karier, meningkatkan kepercayaan diri dalam mempresentasikan pengalaman dan pencapaian, serta memperluas jejaring profesional sebagai bekal untuk memasuki dunia kerja.



Narasumber

Maria Qibtiyah, HC Consultant, PT Bitama

Kontak:https://www.instagram.com/maria.qibtiyah


Narahubung

Cheryl Trivera, Project Manager Learning Space, Puan Bisa

Kontak: https://www.instagram.com/cherylltrivera



Tentang Puan Bisa:

Puan Bisa merupakan komunitas pemberdaya perempuan yang dibangun sejak 1 Oktober 2020 dengan misi untuk membantu perempuan menemukan arah karir, mengembangkan potensi diri dan menyadari kesehatan mental diri sendiri. 

https://instagram.com/puanbisa


Foto: 

https://drive.google.com/drive/folders/1E4JSz2MZxdIjz2pv4ubzu07ilNofTENg




Author: Zahara Nur’ain Fathin Bahiyati

Editor : Putri Audia Divayanti






Komentar

Rubik Puan Popular

How Slowing Down Brings Connection Back to Life

  Why are we always in such a rush? Why couldn't we slow a little bit down? Di lingkungan yang serba cepat sekarang ini, slowing down menjadi hal yang terasa tidak produktif dan membuat gerak kita terasa lebih lambat dibandingkan orang lain. Mengapa bisa begitu, ya, Puan? Karena, kita hidup di mana deadlines selalu mengejar, media sosial selalu menemani dan memperlihatkan seseorang di luar sana jauh lebih baik, lebih produktif, dan lebih banyak pencapaian; membuat kita merasa tak seharusnya slowing down di saat orang lain berusaha lebih keras untuk mendapat apa yang mereka inginkan, dengan kata lain, membuat kita merasa tertinggal jika slowing down . Either way, what if all of that is just our worrying mind? what if reality presents its opposite? What if it's literally okay to just try to slow down; to have the ability in living life more fully and peacefully. Why Slowing Down Matters Seperti yang dikatakan Edward Yu (2010, p.7) dalam bukunya The Art of Slowing Down : "W...

2026 The New 2016: Apa itu Nostalgia?

(Gambar: Lemon 8) Apakah Puan saat ini familiar dengan pembahasan 2026 adalah  the new 2016 ?  Banyak orang yang kembali membahas trend yang beredar di tahun 2016 mulai dari fashion hingga aplikasi Tumblr. Istilah ini mengacu kepada budaya digital dan pop culture 2016 yang kembali populer di awal tahun 2026.  Puan mungkin bertanya-tanya, mengapa spesifik tren di 2016. Menurut Ibcomagazine, tren biasanya menjalankan sistem aturan 20 tahun sekali.Maksudnya adalah setiap 20 tahun sekali tren yang ada pada generasi sebelumnya akan muncul pada generasi baru. Contohnya seperti anak-anak di tahun 2000-an yang suka dengan gaya hidup ( lifestyle ) remaja di era tahun 80-han.  Tapi itu dulu. Dulu tren membutuhkan waktu 20 tahun untuk kembali. Sekarang? Peran media sosial memangkasnya menjadi 10 tahun jadinya kita memandang 2026 dan 2016 sebagai era yang berbeda, dan didorong rasa nostalgia kita semakin ingin kembali ke kehidupan dan lifestyle di 2016.  Selain itu, dilan...

Katanya Harus Cari Passion, Tapi Kok Malah Makin Bingung?

 " Cari passion dulu, baru cari kerja.” Kalimat itu mungkin sering Puan dengar. Dari dosen, orang tua, sampai konten di media sosial. Tapi bukannya merasa tercerahkan, banyak dari kita justru jadi bertanya-tanya, “Kalau aku belum tahu passion-ku, berarti aku belum siap memulai karier?” Kalau Puan pernah berpikir seperti itu, tenang. Puan nggak sendirian. Faktanya, membangun karier nggak selalu dimulai dengan menemukan passion. Justru, banyak orang baru benar-benar menemukan apa yang mereka sukai setelah berani mencoba berbagai pengalaman. Passion Nggak Selalu Datang di Awal Belakangan, topik tentang passion dan karier semakin sering dibahas, terutama oleh Gen Z. Namun, menurut Kompas.com, memilih karier bukan hanya soal mengikuti passion , tetapi juga mempertimbangkan peluang berkembang, kondisi finansial, dan tujuan hidup.   Artinya, nggak ada satu rumus yang berlaku untuk semua orang. Kalau hari ini Puan masih bingung menentukan arah, itu bukan berarti Puan tertinggal....

Fenomena Doom Scrolling, Kebiasaan yang Bikin Burn Out

  " Scroll bentar deh.." Terus tanpa sadar mata mulai berat, tangan pegal, dan lupa waktu sendiri. Pernah ngalamin hal serupa? Kalau iya, berarti Puan lagi ngalamin yang namanya doom scrolling . Doom scrolling itu kalau Puan terus-terusan mengonsumsi informasi, terutama berita negatif yang ada pada sosial media. Menurut Cambdrige Dictionary , kata "Doomscr oll" mengacu kepada tindakan  terlalu sering menatap layar  untuk membaca berita buruk atau kurang  berbobot.  Nah, dari sini mungkin banyak Puan yang jadi ngerti apa itu doom scrolling , istilah yang belakangan sering muncul di internet. Kalau kita teliti, lagi  penyebabnya nggak bakalan lepas dari ketergantungan kita  pada handphone .  Hampir setiap hari kita menerima banyak pesan notifikasi. Terlepas  isinya penting atau tidak terlalu penting secara refleks pasti kita cek kalau dibiarkan menimbulkan rasa cemas atau anxiety,   seakan ada hal tertinggal jika kita tidak membuka lay...

Bicara pada Diri Sendiri: Bermanfaat atau Berbahaya?

  Photo by Tara Winstead Tanpa sadar, kita terkadang mendapati diri sedang berbicara sendirian. Pernah tiba-tiba bergumam, "Oke, waktunya kita makan," atau bertanya seolah ada orang lain di dalam diri kita, "Eh, ini lokasinya benar gak, ya?" Entah itu bergumam saat kebingungan, memberikan motivasi saat kesulitan, atau menyuarakan isi pikiran seperti sedang berada di acara podcast , semua itu sangat wajar dan normal . Berbicara pada diri sendiri bisa menjadi alat komunikasi internal yang kuat. Kebiasaan ini juga dikenal dengan istilah self-talk dalam psikologi. Menariknya, seiring bertambah dewasa, frekuensi berbicara pada diri sendiri cenderung berkurang, tidak seintens saat kita masih kecil. Apa itu self-talk? Self-talk atau bicara sendirian adalah cara kita berkomunikasi pada diri sendiri, baik itu dalam hati atau diucapkan dengan keras. Kebiasaan ini punya pengaruh besar terhadap cara kita berpikir, merasakan, dan bertindak. Oleh karena itu, penting sekali untu...