Langsung ke konten utama

Dari “Am I good enough to be here?” Coba Ubah Menjadi “What can I learn from being here?”

Source: https://pin.it/7KvGUIMRo  Bayangin Puan masuk ke sebuah ruangan dan semua orang terlihat lebih pintar, lebih berpengalaman, lebih percaya diri daripada Puan. Lalu muncul satu pikiran: “ Aku sebenarnya pantas nggak sih ada di sini? ” Puan sering menganggap perasaan itu tanda bahwa Puan salah tempat. Padahal, What if rasa nggak nyaman itu muncul karena Puan sedang berada di tempat yang membuat Puan berkembang? Mengenal Imposter Syndrome Perasaan seperti “aku nggak pantas ada di sini” sering dikaitkan dengan Imposter syndrome . Secara sederhana, Imposter syndrome adalah kondisi ketika seseorang terus meragukan kemampuan atau pencapaiannya sendiri dan merasa bahwa keberhasilan yang didapat sebenarnya bukan karena kemampuan mereka. Misalnya, Puan berhasil meraih sesuatu. Bukannya merasa bangga, Puan malah berpikir kalau itu cuma keberuntungan. Akhirnya Puan sering membandingkan diri sendiri dengan mereka dan merasa tertinggal. Namun, disinilah Puan perlu melihat perasaan t...

Lagi Istirahat, tapi Malah Merasa Bersalah? Yuk, Kenalan Sama Rest Guilt

 

Pernah nggak, Puan lagi rebahan setelah hari yang panjang, tapi bukannya merasa tenang, malah muncul rasa nggak nyaman?

Rasanya seperti ada suara kecil di kepala yang bilang, “Harusnya aku lagi ngerjain sesuatu.” Atau mungkin, “Orang lain lagi produktif, kok aku malah santai?”

Kalau iya, Puan nggak sendirian.

Fenomena ini dikenal sebagai rest guilt, yaitu rasa bersalah saat beristirahat karena merasa belum cukup produktif, belum cukup bekerja keras, atau belum “layak” untuk berhenti sejenak.

Di era hustle culture seperti sekarang, istirahat sering diposisikan seperti hadiah. Sesuatu yang baru boleh dinikmati setelah semua tugas selesai, target tercapai, dan checklist tercentang sempurna.

Masalahnya, kapan semuanya benar-benar selesai?

Baca Juga: https://puanbisa.blogspot.com/2026/03/tidak-semua-zona-nyaman-perlu.html 

Kenapa Kita Merasa Bersalah Saat Istirahat?

Banyak dari kita tumbuh dengan keyakinan bahwa sibuk adalah indikator kesuksesan. Semakin penuh jadwal kita, semakin terasa bahwa kita sedang “maju”. Sebaliknya, waktu kosong kadang justru terasa seperti kemunduran. Tanpa sadar, kita mulai menghubungkan nilai diri dengan produktivitas.

Kalau hari ini banyak yang dikerjakan, kita merasa berguna. Kalau hari ini pelan, muncul rasa cemas. Padahal, manusia bukan mesin yang didesain untuk bekerja tanpa jeda.

Menurut World Health Organization, burnout diklasifikasikan sebagai fenomena akibat stres kerja kronis yang tidak berhasil dikelola, ditandai dengan kelelahan emosional, meningkatnya jarak mental terhadap pekerjaan, dan penurunan efektivitas profesional.

Artinya, terus-menerus mendorong diri tanpa memberi ruang istirahat justru bisa membawa kita ke titik kelelahan yang lebih serius.

Tanda-Tanda Puan Mengalami Rest Guilt

Rest guilt nggak selalu terlihat jelas. Kadang bentuknya sederhana, seperti:

  • sulit menikmati waktu libur tanpa memikirkan pekerjaan atau tugas,

  • merasa cemas saat tidak sedang “menghasilkan” sesuatu,

  • membuka laptop atau mengecek email hanya karena merasa harus tetap sibuk,

  • merasa tertinggal ketika melihat orang lain tampak lebih produktif.

Sekilas terlihat sepele. Tapi kalau terus dibiarkan, pola ini bisa membuat istirahat kehilangan fungsinya. Tubuh berhenti, tapi pikiran tetap bekerja lembur.

Istirahat Bukan Hadiah

Ada satu hal yang sering kita lupakan: istirahat bukan sesuatu yang harus diperjuangkan. Puan nggak harus kelelahan dulu untuk pantas beristirahat. Puan nggak harus breakdown dulu untuk boleh berhenti.

Istirahat adalah kebutuhan dasar, sama seperti makan, tidur, dan bernapas. Mengambil jeda bukan berarti Puan malas. Berjalan lebih pelan juga bukan berarti Puan gagal. Kadang, bentuk produktivitas paling sehat justru adalah tahu kapan harus berhenti.

Pelan Bukan Berarti Tertinggal

Di tengah dunia yang terasa selalu bergerak cepat, mudah sekali merasa tertinggal. Tapi hidup bukan perlombaan dengan satu garis finish yang sama untuk semua orang. Kalau hari ini Puan memilih untuk beristirahat, itu bukan berarti Puan kehilangan arah. Mungkin justru itu cara tubuh untuk bilang: “Aku butuh ruang dulu.”

Dan mendengarkan kebutuhan diri sendiri juga bentuk keberanian. Jadi, untuk Puan yang akhir-akhir ini merasa bersalah karena beristirahat, ini pengingat kecil: Puan tetap berharga, bahkan di hari-hari ketika Puan tidak produktif. Karena value Puan tidak diukur dari seberapa penuh kalendermu. Kadang, hal paling baik yang bisa Puan lakukan hari ini adalah berhenti sejenak dan bilang ke diri sendiri, “Aku boleh istirahat.”


Referensi:

Author & Editor: Daru Sekar Arum


Sekilas Tentang Puan Bisa

Puan Bisa adalah komunitas perempuan muda yang mendukung pengembangan karir, self-improvement, dan mental health. Sejak pertama kali didirikan tanggal 1 Oktober 2020 sampai saat ini, Puan Bisa aktif melakukan kegiatan kreatif dan edukatif yang dilakukan dengan tujuan meningkatkan kesadaran perempuan muda (khususnya usia 16-23 tahun) dalam mengembangkan kemampuan dan rasa cinta akan dirinya.

Komentar

Rubik Puan Popular

Takut Ditolak Orang Lain Sampai Takut dengan Diri Sendiri? Yuk, Pahami Respons Fawn

Source: Magnific Apakah Puan pernah merasa sulit menolak permintaan orang lain, meski sebenarnya sedang lelah? Atau lebih memilih mengalah agar tidak cekcok dengan orang lain? Jika iya, mungkin Puan sedang mengalami respons fawn .  Di mata orang lain, selalu mengalah sering dipandang sebagai tanda bahwa seseorang itu baik hati, penyabar, dan sering bisa diandalkan. Padahal, tidak semua sikap tersebut muncul karena keinginan sendiri.  Ada kalanya Puan terus berusaha menyenangkan orang lain karena merasa itu adalah satu-satunya cara agar diterima, disukai, atau dijauhkan dari perselisihan. Jika kebiasaan ini dilakukan terus-menerus hingga mengabaikan kebutuhan diri sendiri, bisa jadi itu merupakan salah satu tanda dari respons fawn . Apa Itu Respons Fawn Respons fawn adalah kecenderungan untuk selalu menyenangkan orang lain demi menghindari penolakan, konflik, atau kemarahan. Puan dengan respons ini biasanya rela mengesampingkan kebutuhan dan perasaannya sendiri agar tetap...

Portfolio 101: Mulai Dari Mana, Ya?

source: https://pin.it/30ORZCIja Puan pasti sudah tidak asing lagi dengan istilah portofolio . Namun, pernahkah Puan bertanya-tanya, mengapa portofolio menjadi salah satu hal yang hampir selalu diminta dalam proses rekrutmen? Sederhananya, portofolio adalah kumpulan pengalaman, karya, dan pencapaian yang disusun secara menarik agar orang lain dapat melihat kemampuan yang Puan miliki. Melalui portofolio, recruiter tidak hanya membaca apa yang Puan tuliskan di CV, tetapi juga dapat melihat bukti nyata dari apa yang pernah Puan kerjakan. Inilah mengapa portofolio menjadi begitu penting. Portofolio membantu recruiter menilai sejauh mana kemampuan, pengalaman, dan potensi Puan sesuai dengan posisi yang dilamar. Semakin relevan pengalaman yang ditampilkan, semakin besar pula kesempatan Puan untuk meninggalkan kesan yang baik. Jadi, bagaimana membuat portofolio Puan tampak berkesan dan valuable ? Tenang, Puan, bikin portofolio sekarang nggak sesulit yang dibayangkan, kok. Bahkan, kalau belum...

Learning Space Puan Bisa : Kenapa Banyak Perempuan Muda Susah Keluar Dari Problematika Karir?

Jakarta, 7 Februari 2026 - Puan Bisa, komunitas berbasis pemberdayaan perempuan muda Indonesia, memetakan permasalahan terkait dengan dinamika psikologi perempuan muda dalam menghadapi crisis identity khususnya berkaitan dengan arah karir. Hal ini mengakibatkan lebih dari 80% perempuan muda Indonesia mengalami demotivated, overthinking, resah, tidak percaya diri, dan dampak buruk lainnya. Berangkat dari pemetaan permasalahan tersebut, Puan Bisa mengadakan acara Learning Space Puan Bisa 2026 berkolaborasi dengan awardee Puan Bisa Festival 2025 dengan tema "Gap Between Hustle & Reality: Why Young Professionals Feels Stucks in Their Careers" yang dihadiri oleh dari 10 perempuan muda. Puan Bisa merupakan komunitas pemberdayaan perempuan muda Indonesia yang berdiri sejak 1 Oktober 2020. Puan Bisa memiliki fokus pada self-improvement, career, dan mental health. Melalui berbagai program pemberdayaan, Puan Bisa hadir memiliki tujuan untuk menginspirasi dan mengedukasi perempuan m...

Phubbing: Kebiasaan Buruk yang Menurunkan Kualitas Interaksi dengan Lawan Bicara

Ilustrasi seseorang yang merasakan phubbing. (halodoc.com) Di era digital seperti sekarang, HP telah menjadi bagian yang sulit dipisahkan dari kehidupan sehari-hari. Bahkan, hampir sepanjang waktu tangan kita tidak terlepas dari HP. Meski memberikan kemudahan dalam berkomunikasi dan mengakses informasi, penggunaan HP yang berlebihan juga dapat memengaruhi kualitas interaksi dengan orang di sekitar.  Salah satu perilaku yang semakin sering ditemui adalah phubbing , yaitu kebiasaan lebih fokus pada smartphone daripada orang yang sedang diajak berbicara secara langsung. Apa Itu Phubbing? Sederhananya, phubbing merupakan perilaku mengabaikan lawan bicara yang sedang berada di hadapan kita dengan sibuk menyibukkan perhatian pada HP. Perilaku ini tentunya tidak mencerminkan etika berkomunikasi yang baik, loh Puan. Dalam kehidupan sehari-hari, bentuk perilaku phubbing tidak hanya digambarkan dengan seseorang yang sibuk membalas chat . Adapun kebiasaan lainnya, seperti membuka media sosia...

Dari “Am I good enough to be here?” Coba Ubah Menjadi “What can I learn from being here?”

Source: https://pin.it/7KvGUIMRo  Bayangin Puan masuk ke sebuah ruangan dan semua orang terlihat lebih pintar, lebih berpengalaman, lebih percaya diri daripada Puan. Lalu muncul satu pikiran: “ Aku sebenarnya pantas nggak sih ada di sini? ” Puan sering menganggap perasaan itu tanda bahwa Puan salah tempat. Padahal, What if rasa nggak nyaman itu muncul karena Puan sedang berada di tempat yang membuat Puan berkembang? Mengenal Imposter Syndrome Perasaan seperti “aku nggak pantas ada di sini” sering dikaitkan dengan Imposter syndrome . Secara sederhana, Imposter syndrome adalah kondisi ketika seseorang terus meragukan kemampuan atau pencapaiannya sendiri dan merasa bahwa keberhasilan yang didapat sebenarnya bukan karena kemampuan mereka. Misalnya, Puan berhasil meraih sesuatu. Bukannya merasa bangga, Puan malah berpikir kalau itu cuma keberuntungan. Akhirnya Puan sering membandingkan diri sendiri dengan mereka dan merasa tertinggal. Namun, disinilah Puan perlu melihat perasaan t...