Langsung ke konten utama

Masih Kuliah Tapi Wajib Punya LinkedIn? Here’s Why You Should Care

  Kalau denger kata LinkedIn, mungkin yang terbayang di pikiran Puan sebuah platform yang hanya digunakan oleh para profesional atau orang yang sudah bekerja. Padahal, mahasiswa juga bisa mendapatkan banyak manfaat dari LinkedIn, lho Puan! Di era digital seperti sekarang, membangun personal branding dan memperluas koneksi bisa dimulai sejak kuliah. Nah, LinkedIn bisa menjadi salah satu langkah awal untuk mempersiapkan diri memasuki dunia kerja. Kenapa Mahasiswa Perlu LinkedIn? Membangun personal branding LinkedIn bisa menjadi tempat untuk memperkenalkan diri secara profesional. Puan bisa menampilkan pengalaman organisasi, kepanitiaan, sertifikat, hingga proyek yang pernah dikerjakan. Profil yang lengkap akan membantu orang lain mengenal kemampuan dan minat Puan. Memperluas Koneksi Salah satu keunggulan LinkedIn adalah memudahkan kita terhubung dengan dosen, alumni, recruiter, maupun profesional dari berbagai bidang. Dari koneksi tersebut, Puan mendapatkan wawasan baru, kesempatan b...

Tidak Semua Zona Nyaman Perlu Ditinggalkan


                                                                  Image by: Pinterest

 Puan pernah denger nggak sih satu nasihat ini: “keluar dari zona nyaman kalau mau berkembang.”

Masalahnya, tidak semua orang bertahan di zona nyaman itu stagnan. Dan tidak semua orang yang keluar dari zona nyaman benar-benar bertumbuh.

Jadi, pertanyaannya bukan lagi harus keluar atau tidak, tapi:

Apakah Puan tahu kapan harus tetap tinggal, dan kapan harus melangkah?


Baca Juga: Dealing dengan Comparison Trap Saat Lebaran

Zona Nyaman Tidak Selalu Musuh

Zona nyaman sering digambarkan sebagai tempat yang “menjebak.” Padahal, dalam banyak kasus, justru di sanalah Puan dapat membangun stabilitas.

Zona nyaman bisa berarti:

  • rutinitas yang membuat Puan stay insane

  • pekerjaan yang memberi rasa aman

  • lingkungan yang mendukung secara emosional

Tanpa zona nyaman, Puan tidak punya tempat untuk “mengisi ulang energi.”

Masalahnya bukan pada zonanya, tapi apakah Puan sadar kenapa Puan bertahan di dalamnya.

Kenapa Kita Terjebak di Zona Nyaman

Di sinilah banyak orang keliru. Mereka mengira mereka “memilih untuk nyaman,” padahal sebenarnya mereka menghindari sesuatu. Beberapa alasan yang sering terjadi:

  • takut gagal

  • takut terlihat tidak cukup baik

  • takut kehilangan apa yang sudah dimiliki

Zona nyaman akhirnya bukan lagi tempat istirahat, tapi tempat persembunyian. Dan ini yang berbahaya, karena terlihat aman, tapi diam-diam menahan Puan.

Di Sisi Lain: Keluar Tidak Selalu Berarti Bertumbuh

Narasi “keluar dari zona nyaman” sering terdengar heroik. Namun,i jarang dibahas bahwa:

  • keluar tanpa arah bisa jadi impulsif

  • memaksakan diri terus-menerus bisa berujung burnout

  • tidak semua tantangan membawa pertumbuhan

Kadang, yang Puan butuhkan bukan langkah besar, tapi arah yang jelas.

Bertumbuh bukan soal seberapa jauh Puan melompat, tapi apakah langkah Puan punya makna.

Jadi, Kapan Harus Keluar?

Ada beberapa tanda bahwa mungkin sudah waktunya puan melangkah:

  • Puan merasa stagnan, bukan tenang

  • Puan mulai penasaran “what if,” tapi terus diabaikan

  • Puan bertahan lebih karena takut, bukan karena ingin

Kalau zona nyaman mulai terasa seperti batas, bukan tempat pulang—mungkin itu sinyal untuk bergerak.

Dan Kapan Sebaiknya Tetap Tinggal?

Sebaliknya, tidak semua kondisi menuntut puan untuk keluar. Puan bisa tetap tinggal jika:

  • Puan masih berkembang, meskipun perlahan

  • Puan sedang butuh stabilitas (emosional, finansial, mental)

  • Puan sadar pilihan tersebut, bukan sekadar ikut arus

Karena bertumbuh tidak selalu berarti berubah drastis. Kadang, bertahan juga bagian dari proses.

Pada akhirnya, hidup bukan soal memilih antara nyaman atau bertumbuh. Keduanya bukan lawan, tapi bagian dari siklus yang sama. Ada saatnya puan butuh tempat untuk berdiam, dan ada saatnya puan perlu keberanian untuk melangkah. Dan mungkin, kedewasaan bukan tentang seberapa sering puan keluar dari zona nyaman, tapi seberapa jujur puan memahami alasan di balik setiap pilihan.


Author & Editor: Merry Christina

Referensi:

Lestari, Diah Ayu. Haruskah Keluar dari Zona Nyaman Untuk Menjadi Orang Sukses? https://hellosehat.com/mental/zona-nyaman-adalah/  

Hartawati, Ajeng Diah. Understanding Comfort Zone and Growth Zone to Improve Your Mental Health in Workplace. https://binus.ac.id/binusian-journey/2025/05/05/understanding-comfort-zone-and-growth-zone-to-improve-your-mental-health-in-workplace/

Komentar

Rubik Puan Popular

Masih Kuliah Tapi Wajib Punya LinkedIn? Here’s Why You Should Care

  Kalau denger kata LinkedIn, mungkin yang terbayang di pikiran Puan sebuah platform yang hanya digunakan oleh para profesional atau orang yang sudah bekerja. Padahal, mahasiswa juga bisa mendapatkan banyak manfaat dari LinkedIn, lho Puan! Di era digital seperti sekarang, membangun personal branding dan memperluas koneksi bisa dimulai sejak kuliah. Nah, LinkedIn bisa menjadi salah satu langkah awal untuk mempersiapkan diri memasuki dunia kerja. Kenapa Mahasiswa Perlu LinkedIn? Membangun personal branding LinkedIn bisa menjadi tempat untuk memperkenalkan diri secara profesional. Puan bisa menampilkan pengalaman organisasi, kepanitiaan, sertifikat, hingga proyek yang pernah dikerjakan. Profil yang lengkap akan membantu orang lain mengenal kemampuan dan minat Puan. Memperluas Koneksi Salah satu keunggulan LinkedIn adalah memudahkan kita terhubung dengan dosen, alumni, recruiter, maupun profesional dari berbagai bidang. Dari koneksi tersebut, Puan mendapatkan wawasan baru, kesempatan b...

Belanja karena Memang Butuh, atau Cuma Lagi Healing? Sebuah Perspektif tentang Emotional Spending

Puan, pernah dengar kalimat ini? " Most people don't have a money problem, they have an emotional problem. " Sekilas, kalimat ini memang terdengar terlalu menyederhanakan masalah keuangan. Soalnya, kita nggak bisa menutup mata kalau banyak dari Puan memang lagi berjuang menghadapi biaya hidup yang makin naik, gaji yang pas-pasan, sampai kondisi ekonomi yang lagi nggak mudah. Namun... setelah dipikir-pikir, mungkin ada benarnya juga. Kadang yang Puan beli bukan barangnya Coba deh, Puan ingat-ingat. Pernah nggak Puan lagi stres terus tiba-tiba buka Online Shop ? Pernah nggak Puan menjalani hari yang melelahkan, Puan langsung pesan makanan favorit sambil bilang, "Nggak apa-apa deh, self reward ." Berapa kali Puan checkout barang yang sebenarnya nggak terlalu dibutuhin, cuma karena pengen mood balik lagi? Kalau pernah, tenang. Puan nggak sendirian. Kadang yang Puan beli bukan barangnya, tetapi Puan lagi membeli rasa lega, rasa nyaman, rasa senang, bahkan...

Bukan Digital Detox, Yuk Kenali Konsep Digital Minimalism!

  Sampul buku Digital Minimalism oleh Cal Newport (penguinrandomhouse.com) Hai Puan! Pernah gak sih cuma mau buka Instagram lima menit, tapi ternyata satu jam sudah berlalu? Atau Puan tanpa sadar mengecek ponsel setiap kali ada waktu luang? Kebiasaan ini mungkin terasa normal, tetapi bisa membuat kita kehilangan fokus, waktu, bahkan ketenangan.  Digital minimalism merupakan salah satu strategi yang membantu kita untuk mengoptimalkan penggunaan teknologi dan menggunakan teknologi secara lebih sadar. Intinya, kita hanya fokus pada aplikasi atau aktivitas digital yang benar-benar bermanfaat dan sejalan dengan nilai atau tujuan hidup. Sementara itu, hal-hal yang tidak memberi manfaat nyata bisa dikurangi atau bahkan ditinggalkan agar waktu dan perhatian tidak terkuras sia-sia.  Baca juga: Menghilangkan Demotivasi ala Buku “Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati” Digital minimalism melibatkan peninjauan kembali waktu yang dihabiskan pada perangkat sesuai dengan tujuan dan kebutuhan pri...

The Worst Thing about Empathy is Losing Self-respect

Ilustrasi seseorang berempati dengan sesama. “When Im mad from my perspective but I can also see their perspective, so now Im carrying double emotional weight and being eaten away by my anger and empathy” Adakah Puan yang pernah merasa marah akan suatu keadaan, tetapi mencoba untuk mencari alasan lain untuk memahami permasalahan tersebut? Kalimat di atas adalah kalimat yang dapat menggambarkan situasi yang Puan alami.  Empathy Without Boundaries is a Self-destruction Empati adalah sikap memahami seseorang baik secara emosional maupun kondisional. Berempati kepada seseorang memang hal yang baik karena dapat mengurangi risiko gangguan kecemasan. Namun, bagaimana jika berempati tidak memiliki batasan? Jika berempati secara berlebihan, Puan akan terus mencoba untuk memahami dan menyenangkan orang lain tanpa peduli apa yang sebenarnya Puan inginkan. Lama-lama, Puan akan mulai kehilangan kemampuan untuk berempati kepada diri sendiri. Tindakan mengabaikan kebutuhan emosional Puan sendiri ...

Katanya Harus Cari Passion, Tapi Kok Malah Makin Bingung?

 " Cari passion dulu, baru cari kerja.” Kalimat itu mungkin sering Puan dengar. Dari dosen, orang tua, sampai konten di media sosial. Tapi bukannya merasa tercerahkan, banyak dari kita justru jadi bertanya-tanya, “Kalau aku belum tahu passion-ku, berarti aku belum siap memulai karier?” Kalau Puan pernah berpikir seperti itu, tenang. Puan nggak sendirian. Faktanya, membangun karier nggak selalu dimulai dengan menemukan passion. Justru, banyak orang baru benar-benar menemukan apa yang mereka sukai setelah berani mencoba berbagai pengalaman. Passion Nggak Selalu Datang di Awal Belakangan, topik tentang passion dan karier semakin sering dibahas, terutama oleh Gen Z. Namun, menurut Kompas.com, memilih karier bukan hanya soal mengikuti passion , tetapi juga mempertimbangkan peluang berkembang, kondisi finansial, dan tujuan hidup.   Artinya, nggak ada satu rumus yang berlaku untuk semua orang. Kalau hari ini Puan masih bingung menentukan arah, itu bukan berarti Puan tertinggal....