Image by: Metro.UK
Puan pernah ga sih lagi scroll Instagram atau TikTok saat Lebaran, terus ngeliat postingan temen-temen yang kelihatan sempurna banget? Baju lebaran yang kece, THR gede, liburan ke luar negeri, atau kumpul keluarga yang harmonis. Terus Puan ngeliat kehidupan Puan sendiri dan mikir, "Kok aku doang yang begini?" Nah, perasaan kayak gini namanya comparison trap atau jebakan perbandingan. Dan percaya deh, Puan nggak sendiri yang ngalamin ini.
Baca Juga: Saat Amarah Terasa Penuh, Bergerak Bisa Membantu
Apa Itu Comparison Trap?
Social comparison atau perbandingan sosial adalah kondisi di mana kita sering membandingkan diri dengan orang-orang terdekat seperti saudara, teman sekolah, tetangga, atau yang lain. Menurut Majalah Sunday, hal ini sebenarnya wajar dan bisa jadi acuan untuk berkembang dan menjadi lebih baik. Tapi sebaliknya, perbandingan ini bisa menjadi masalah ketika iri dengan pencapaian orang lain.
Saat Lebaran, comparison trap ini makin parah karena semua orang posting momen terbaik mereka di media sosial. Feed penuh dengan foto outfit lebaran yang perfect, makanan mewah, THR yang melimpah, dan keluarga yang terlihat bahagia banget. Padahal kita nggak tau apa yang sebenarnya terjadi dibalik foto itu. Yang kita lihat cuma highlight reel, bukan realita sebenarnya.
Kenapa Comparison Trap Sering Terjadi saat Lebaran?
Ada beberapa alasan kenapa kita lebih rentan terjebak comparison saat Lebaran:
- Media sosial makin aktif: Semua orang posting momen Lebaran, jadi feed kita penuh dengan konten yang bisa bikin insecure
- Ekspektasi tinggi: Lebaran identik dengan kebahagiaan, jadi ada tekanan untuk "terlihat baik"
- Silaturahmi yang intens: Ketemu banyak orang dan dengar cerita kesuksesan mereka bisa bikin kita ngerasa tertinggal
- FOMO (Fear of Missing Out): Takut ketinggalan atau ngerasa hidup kita kurang seru dibanding orang lain
- Menurunkan self-esteem
- Merusak momen berharga
- Mendorong perilaku impulsif
- Mengurangi rasa syukur
- Good news-nya, kita bisa keluar dari jebakan ini dengan beberapa cara:
- Limit social media time: Kurangi waktu scrolling, terutama kalau mulai ngerasa insecure. Set batasan, misalnya cuma buka medsos 30 menit sehari
- Ingat bahwa social media bukan realita: Orang cuma posting yang bagus-bagus aja. Nggak ada yang posting pas lagi bertengkar keluarga atau THR-nya kecil
- Practice gratitude: Fokus ke apa yang Puan punya, bukan yang nggak punya. Coba bikin gratitude list setiap hari
- Celebrate your own wins: Nggak peduli sekecil apapun. Puan masih hidup, sehat, dan bisa merayakan Lebaran itu udah achievement.

Komentar
Posting Komentar