Langsung ke konten utama

Belajar Berdamai dengan Diri Sendiri dari Drama Our Unwritten Seoul

Ilustrasi: magnific.com Puan pernah gak, merasa teman-teman lain sudah mencapai banyak goals hidup mereka, sedangkan Puan justru merasa hilang arah dan masih mencari tahu ingin mencapai hal apa? Semua perasaan itu mungkin terasa familiar bagi banyak anak muda. Kita hidup di tengah masyarakat dengan harapan atau ekspektasi yang tinggi. Tanpa kita sadari, pencapaian orang lain justru bisa menjadi standar untuk mengukur diri sendiri. Padahal, setiap orang punya waktu dan potensinya masing-masing. Our Unwritten Seoul , sebuah drama korea yang ceritanya sangat relate dengan anak muda saat ini, bisa jadi tontonan ringan yang pastinya meninggalkan kesan mendalam bagi Puan. Kisah dua saudara kembar, yaitu Yoo Mi-ji dan Yoo Mi-rae dalam drama ini mengajarkan bahwa berdamai dengan diri sendiri adalah proses panjang yang butuh keberanian.  Berhenti Membandingkan Diri Drama ini menunjukkan bahwa kehidupan seseorang tidak selalu baik seperti apa yang terlihat dari luar. Seseorang yang terlihat ...

Dealing dengan Comparison Trap Saat Lebaran

 



Image by: Metro.UK

Puan pernah ga sih lagi scroll Instagram atau TikTok saat Lebaran, terus ngeliat postingan temen-temen yang kelihatan sempurna banget? Baju lebaran yang kece, THR gede, liburan ke luar negeri, atau kumpul keluarga yang harmonis. Terus Puan ngeliat kehidupan Puan sendiri dan mikir, "Kok aku doang yang begini?" Nah, perasaan kayak gini namanya comparison trap atau jebakan perbandingan. Dan percaya deh, Puan nggak sendiri yang ngalamin ini.


Baca Juga: Saat Amarah Terasa Penuh, Bergerak Bisa Membantu


Apa Itu Comparison Trap?

Social comparison atau perbandingan sosial adalah kondisi di mana kita sering membandingkan diri dengan orang-orang terdekat seperti saudara, teman sekolah, tetangga, atau yang lain. Menurut Majalah Sunday, hal ini sebenarnya wajar dan bisa jadi acuan untuk berkembang dan menjadi lebih baik. Tapi sebaliknya, perbandingan ini bisa menjadi masalah ketika iri dengan pencapaian orang lain. 

Saat Lebaran, comparison trap ini makin parah karena semua orang posting momen terbaik mereka di media sosial. Feed penuh dengan foto outfit lebaran yang perfect, makanan mewah, THR yang melimpah, dan keluarga yang terlihat bahagia banget. Padahal kita nggak tau apa yang sebenarnya terjadi dibalik foto itu. Yang kita lihat cuma highlight reel, bukan realita sebenarnya.


Kenapa Comparison Trap Sering Terjadi saat Lebaran?

Ada beberapa alasan kenapa kita lebih rentan terjebak comparison saat Lebaran:

  • Media sosial makin aktif: Semua orang posting momen Lebaran, jadi feed kita penuh dengan konten yang bisa bikin insecure
  • Ekspektasi tinggi: Lebaran identik dengan kebahagiaan, jadi ada tekanan untuk "terlihat baik"
  • Silaturahmi yang intens: Ketemu banyak orang dan dengar cerita kesuksesan mereka bisa bikin kita ngerasa tertinggal
  • FOMO (Fear of Missing Out): Takut ketinggalan atau ngerasa hidup kita kurang seru dibanding orang lain

Dampak Comparison Trap
Terjebak dalam comparison trap bisa berdampak negatif pada kesehatan mental dan well-being kita:
  • Menurunkan self-esteem
  • Merusak momen berharga
  • Mendorong perilaku impulsif
  • Mengurangi rasa syukur
Cara Dealing dengan Comparison Trap saat Lebaran:
  1. Good news-nya, kita bisa keluar dari jebakan ini dengan beberapa cara:
  2. Limit social media time: Kurangi waktu scrolling, terutama kalau mulai ngerasa insecure. Set batasan, misalnya cuma buka medsos 30 menit sehari
  3. Ingat bahwa social media bukan realita: Orang cuma posting yang bagus-bagus aja. Nggak ada yang posting pas lagi bertengkar keluarga atau THR-nya kecil
  4. Practice gratitude: Fokus ke apa yang Puan punya, bukan yang nggak punya. Coba bikin gratitude list setiap hari
  5. Celebrate your own wins: Nggak peduli sekecil apapun. Puan masih hidup, sehat, dan bisa merayakan Lebaran itu udah achievement.
Comparison trap saat Lebaran itu real dan banyak orang mengalami nya. Tapi inget, Lebaran bukan tentang siapa yang paling sukses, paling kaya, atau paling perfect. Lebaran adalah tentang bersyukur, memaafkan, dan merayakan dengan cara Puan sendiri.
Hidup Puan punya timeline sendiri, dan itu nggak perlu dibandingkan dengan siapapun. Jadi tahun ini, yuk coba lebih fokus ke kebahagiaan Puan sendiri daripada kesempurnaan yang terlihat di layar. You're doing better than you think!



Author & Editor: Anisa Zahara
Referensi: Aprianti, N. A. (n.d.). Social comparison trap di media sosial! Majalah Sunday. https://majalahsunday.com/scrolling-tanpa-sadar-minder-tanpa-alasan-cara-keluar-dari-social-comparison-trap-di-media-sosial/





Komentar

Rubik Puan Popular

Takut Nggak Konsisten? Perfeksionis yang Bikin Gak Mulai-Mulai

Pernah nggak sih Puan berpikir, “Nanti dulu deh, aku mulai pas bisa rutin,” lalu hari berganti minggu, dan rencana itu tetap di daftar? Kalau iya, mungkin bukan soal niat Puan yang kurang, melainkan standar Puan yang kebanyakan. Perfeksionisme sering muncul sebagai suara kecil yang bilang, “kalau nggak bisa konsisten tiap hari, mending jangan mulai sama sekali. Ironisnya, sikap itu justru bikin kita nggak pernah benar-benar jalan.”  Banyak dari kita kepikiran, “kalau nggak bisa konsisten tiap hari, mending jangan mulai.” Takut bolong atau melewatkan satu atau beberapa hari dari target yang dipasang, takut malu, takut dikatain nggak disiplin. Jadi kita menunggu kondisi ideal, mood sempurna, jadwal bersih, semua alat siap, padahal kondisi ideal itu jarang datang. Akhirnya banyak proyek, kebiasaan, atau ide baik yang mati di awal karena diperlakukan seperti syarat kelulusan, bukan proses.  Masalahnya, konsistensi itu bukan syarat yang harus dipenuhi sebelum mulai. Konsistensi dib...

Perfectionism Paralysis: Saat Keinginan Jadi Sempurna Malah Bikin Puan Nggak Mulai-Mulai

Ilustrasi seseorang yang mengalami perfectionism paralysis (rri.co.id) Pernah nggak sih Puan punya ide tulisan atau tugas yang bagus banget di kepala, tapi begitu mau ngetik kalimat pertama, Puan malah diam berjam-jam? Puan terus-terusan rapihin format, milih font, atau mikirin kata pembuka yang paling pas, sampai akhirnya Puan capek sendiri dan memilih buat buka TikTok? Kalau pernah, Puan lagi ngerasain yang namanya Perfectionism Paralysis. Secara psikologis, perfeksionisme itu sering kali disguise alias penyamaran dari rasa takut gagal. Puan netapin standar yang sangat tinggi, lalu otak Puan merasa terintimidasi sendiri dengan standar itu. Karena takut hasilnya nggak sempurna atau takut dinilai jelek, otak akhirnya mengambil jalan pintas: mending nggak usah dikerjain sekalian. "Done is Better than Perfect" Kata-kata di atas mungkin bukan cuma kata-kata mutiara biasa, tapi penenang paling ampuh buat perfectionism paralysis. Padahal, prinsip utama self-improvement yang sehat...

Tak Pernah Salah? Menggali Lebih Dalam Fenomena Dunning-Kruger Effect

source: https://thedecisionlab.com/biases/dunning-kruger-effect K ali ini kita akan mengenal istilah baru lagi Puan, yaitu  Dunning-Kruger Effect .  Dunning-Kruger Effect  adalah fenomena dalam psikologi yang dapat didefinisikan sebagai bias kognitif dimana seseorang keliru menilai kemampuan yang dimiliki diri sendiri. Individu yang mengalami  Dunning-Kruger Effect  akan merasa kemampuan mereka jauh lebih tinggi dari yang sebenarnya. Bias ini dikaitkan dengan ketidakmampuan metakognitif untuk mengenali kemampuan mereka sendiri. Teori Dunning-Kruger Effect ini dikembangkan oleh David Dunning dan Justin Kruger pada tahun 1999, dua profesor psikologi dari Cornell University. David dan Justin awalnya terinspirasi kasus McArthur Wheeler, seorang pria yang merampok 2 bank yang menutupi wajahnya dengan perasan air jeruk dan yakin bahwa wajahnya tidak terlihat dan tidak terekam oleh kamera pengawas, sama seperti menulis dengan tinta perasan air jeruk maka tulisannya ti...

How to Find Your Spark Again, One Little Thing at a Time

Pernah nggak, Puan merasa dulu ada banyak hal yang bisa bikin Puan excited , tapi sekarang hal-hal itu terasa nothing special? Dulu bisa berjam-jam ngelakuin hal yang disuka, sekarang baru beberapa menit sudah ingin berhenti. Dulu punya banyak hal yang ingin dicoba, sekarang ditanya “lagi suka kegiatan apa?” malah bingung mau jawab apa. Puan masih menjalani aktivitas seperti biasa, kuliah, kerja, mengerjakan tugas, ketemu temen, scrolling media sosial. Everything seems fine. Tapi somehow, ada bagian dari diri Puan yang terasa berbeda. Seolah-olah spark yang dulu membuat hari-hari terasa lebih hidup perlahan menghilang.  Dan mungkin, Puan mulai bertanya-tanya, “What happened to me?”  1. Stop Trying to Become Your Old Self Ketika merasa kehilangan spark , kita sering kali ingin kembali menjadi diri kita yang dulu. Padahal, Puan udah melewati banyak hal sejak saat itu. Wajar kalau ada bagian dari diri Puan yang berubah. Karena itu, menemukan kembali spark bukan berarti harus meng...

Lebih dari Sekedar Musik: Intip Pesan Harapan di Balik Lagu "1–800–273–8255"

  Image by @LinesofLogic ( https://x.com/LinesofLogic) Halo, Puan! Ada nggak nih dari kamu yang merupakan penikmat musik? Sini-sini, Priska mau kasih tahu kamu tentang satu lagu yang bukan sekedar lagu, tapi ada pesan harapan dan makna mendalam, lho! Lagu berjudul  “1–800–273–8255” merupakan sebuah lagu yang di populerkan oleh rapper logic dan berkolaborasi dengan penyanyi  Alessia Cara dan Khalid. Pastinya Puan udah nggak asing lagi kan dengan nama-nama musisi diatas? Menariknya, lagu ini dinamakan  berdasarkan nomor telepon untuk American National Suicide Prevention Lifeline (NSPL).  Logic memilih judul ini agar mudah diingat dan dihubungi oleh orang-orang yang membutuhkan bantuan.  Lagu ini dimulai dari perspektif seseorang yang memanggil nomor National Suicide Prevention Lifeline dan memberi tahu bahwa mereka tidak ingin hidup lagi. Berikut beberapa liriknya:  I don’t wanna be alive, I don’t wanna be alive I just wanna die And let me tell yo...