Langsung ke konten utama

Lazy Ambitious: Melihat Ketakutan dalam Perencanaan

Apakah Puan pernah merasa stuck pada tahap perencanaan dan selalu merasa belum cukup maupun ragu untuk memulai rencana? Nah, fenomena ini disebut dengan Lazy Ambitious. Istilah Lazy Ambitious akhir-akhir ini ramai dibicarakan di media sosial karena menggambarkan fenomena anak muda yang terjebak dalam perencanaan yang telah dibuat, tetapi nggak mencoba untuk merealisasikan rencananya tersebut. Istilah Lazy Ambitious juga erat kaitannya dengan pembahasan psikologi procrastination yakni perilaku yang nggak bisa memanajemen waktu dan perasaan takut untuk gagal saat ingin melakukan sesuatu. Baca juga: "I Wish I Knew When I Was 20" Memahami Hidup Mulai dari Usia 20 Tahun Mengapa demikian? Yuk Priska kupas penyebab dari Lazy Ambitious ! Overthinking Dalam tahap perencanaan, jika Puan terlalu memikirkan banyak kemungkinan yang akan terjadi dari rencana Puan akan mengurangi waktu yang Puan miliki dan energi Puan akan habis untuk berpikir serta menganalisis segala kemungkinan tanpa ad...

This is Adulting: Makin Sibuk, Makin Sendirian

 



Pernah nggak sih Puan liat jadwal mingguan terus ngerasa bakalan sibuk karena isinya penuh? Mulai dari jadwal meeting kerjaan, janji nongkrong bareng temen, kelas olahraga, sampai acara keluarga, pokoknya sibuk banget deh.

Tapi anehnya, begitu ada satu malam yang free, nggak ada deadline atau janji sama siapa pun, Puan malah ngerasa sendirian. Suasana kamar yang tenang malah bikin rasa sepi muncul gitu aja.

Kalau Puan pernah atau lagi ngerasain ini, welcome to adulting! Ternyata, jadwal yang padat itu nggak otomatis bikin kebutuhan emosional kita terpenuhi. Kok bisa gitu, ya?

Baca Juga: Menata Diri di Tengah Hidup yang Ramai

 

Kejebak di Lingkungan yang Sibuk

Saat jadwal kita padat, kita emang terus-menerus dikelilingi orang. Tapi coba deh diingat-ingat lagi, interaksinya kayak gimana? Pasti kebanyakan cuma interaksi praktis, cepat, atau sekadar bahas kerjaan, tugas, dan obrolan basa-basi aja.

Interaksi kayak gitu emang seru dan menyenangkan, tapi jujur aja, nggak memenuhi kebutuhan emosional kita yang paling dalam. Istilahnya, kita sibuk secara fisik, tapi hampa secara batin.

 

Capek karena Harus Selalu On Point

Kadang, rasa sepi itu muncul dari cara kita show up di depan orang lain. Pas lagi kumpul atau meeting, kita sering pasang mode "performing" dengan senyum, nanya balik, dan dengerin cerita baik-baik. Namun, pas giliran kita yang cerita, kita milih cari aman dan nggak mau cerita yang terlalu dalam.

Niatnya mungkin biar profesional atau nggak mau kelihatan rapuh, tapi kebiasaan ini malah bikin waktu nongkrong berasa kayak lagi kerja atau tampil di panggung. Energi kita keluar terus, tanpa ada asupan emosional yang masuk. Kita jadi ngerasa capek sekaligus kesepian di waktu yang bersamaan karena kualitas koneksi yang kurang.

 

Sepi Itu tentang Jarak Emosional, Bukan Jarak Fisik

Menurut riset dari seorang peneliti bernama Bound Alberti, kesepian itu bukan soal seberapa jauh jarak fisik kita dengan orang lain, melainkan jarak emosionalnya. Makanya, momen paling sepi itu sering terjadi pas kita lagi ada di tengah keramaian atau di dalam hubungan yang udah nggak frekuensi lagi. Hasilnya, kita ngerasa nggak dilihat dan nggak didengar apa adanya.

Secara psikologis, otak kita itu melacak sense of belonging (rasa memiliki dan diterima). Kalau kita ngerasa ada kehangatan dan rasa saling peduli, sistem saraf kita bakal rileks, tapi kalau interaksinya terasa semu atau penuh kepura-puraan, tubuh kita bakal otomatis siaga. Nah, kesibukan seminggu penuh biasanya sukses menyembunyikan rasa siaga ini.

 

Cara Mengatasi Kesepian Tanpa Bikin Jadwal Berantakan

Sebagai orang yang lagi merintis karier atau sekolah tinggi, waktu kita emang terbatas. Jadi, solusinya bukan cari temen baru sebanyak-banyaknya. Ada beberapa hal simpel yang bisa dicoba:

1.     Pilih Quality over Quantity

Daripada maksain dateng ke tiga acara nongkrong yang berisik dan cuma basa-basi, mending alokasikan waktu buat jalan kaki santai atau ngopi berdua aja bareng satu temen yang bener-bener sefrekuensi sama kamu.

2.     Kasih Buffer Time atau Jeda

Setelah seharian berinteraksi sama orang, kasih waktu sedikit buat diri sendiri sebelum lanjut ke agenda berikutnya. Ini penting buat ngecek apa yang sebenernya lagi kamu rasain.

3.     Alihkan Fokus Lewat Volunteering

Kata seorang ahli bernama Remes, saat kita ngebantu orang lain, fokus kita beralih dari masalah sendiri ke cara bikin hidup orang lain lebih baik. Ini otomatis bikin kita ngerasa terkoneksi dengan lingkungan.

4.     Cari Koneksi Selain Manusia

Nggak harus selalu lewat orang, kok. Main sama hewan peliharaan atau sekadar jalan-jalan ke taman menikmati alam juga bisa menurunkan rasa sepi sampai 28%. Alam bikin kita ngerasa jadi bagian dari sesuatu yang luas, dan itu memicu rasa belonging.

5.     Perbaiki Komunikasi atau Lepaskan

Kalau pertemanan atau hubunganmu yang sekarang bikin kamu ngerasa harus pakai topeng, coba obrolin apa yang kamu butuhin. Tapi kalau hubungannya udah toxic, nggak apa-apa banget buat mulai pelan-pelan menjauh.

 

Sendirian Itu Bagian dari Adulting

Seorang sosiolog bernama Carr mengingatkan kalau dalam hidup, hal-hal yang membuat kita merasa terhubung itu bisa selesai, entah itu lulus kuliah, pindah kerjaan, atau putus cinta. Pas hal itu selesai, kita dipaksa buat nemuin versi baru dari diri kita dan nyari koneksi baru lagi.

Baca Juga: Friendship Break-Up

Proses transisi ini bakal terasa sepi dan nggak nyaman banget, tapi itu adalah kenyataan yang harus diterima sama manusia, bukan tanda kalau Puan gagal atau kurang gaul.

Jadi, kalau nanti malam Puan ngerasa sepi lagi di tengah padatnya tugas dan kerjaan, jangan terlalu keras sama diri sendiri. Inget kalau di luar sana, banyak perempuan lain yang ngerasain hal yang sama kayak kamu. You are doing just fine.


Referensi

Calder, A. (2026, Februari 18). Loneliness That Hides Behind a Busy, Happy Life. https://cottonwoodpsychology.com/blog/loneliness-that-hides-behind-a-busy-happy-life/ 

Warren, M. (2025, Januari 8). Why do I feel so lonely even though I’m surrounded by people? https://www.bbc.com/future/article/20250107-why-do-i-feel-so-lonely-even-though-im-surrounded-by-people


Author & Editor
Dwi Khumaeroh Saadah

Komentar

Rubik Puan Popular

Lazy Ambitious: Melihat Ketakutan dalam Perencanaan

Apakah Puan pernah merasa stuck pada tahap perencanaan dan selalu merasa belum cukup maupun ragu untuk memulai rencana? Nah, fenomena ini disebut dengan Lazy Ambitious. Istilah Lazy Ambitious akhir-akhir ini ramai dibicarakan di media sosial karena menggambarkan fenomena anak muda yang terjebak dalam perencanaan yang telah dibuat, tetapi nggak mencoba untuk merealisasikan rencananya tersebut. Istilah Lazy Ambitious juga erat kaitannya dengan pembahasan psikologi procrastination yakni perilaku yang nggak bisa memanajemen waktu dan perasaan takut untuk gagal saat ingin melakukan sesuatu. Baca juga: "I Wish I Knew When I Was 20" Memahami Hidup Mulai dari Usia 20 Tahun Mengapa demikian? Yuk Priska kupas penyebab dari Lazy Ambitious ! Overthinking Dalam tahap perencanaan, jika Puan terlalu memikirkan banyak kemungkinan yang akan terjadi dari rencana Puan akan mengurangi waktu yang Puan miliki dan energi Puan akan habis untuk berpikir serta menganalisis segala kemungkinan tanpa ad...

“I Wish I Knew When I Was 20” Memahami Hidup Mulai dari Usia 20 Tahun

  Buku "What I Wish I Knew When I Was 20" karya Prof. Tina Seelig (Amazon.com) Menginjak usia 20 terlihat menyenangkan karena Puan telah memiliki kebebasan atas diri sendiri. Di usia muda, tubuh Puan masih bertenaga maksimal dan optimal, pikiran masih fresh , ide-ide yang dikeluarkan masih up to date , intinya Puan lagi ada di masa-masa emas untuk mengembangkan suatu hal. Namun, yang jarang terlihat adalah masa saat Puan merasa clueless akan hidup Puan sendiri untuk memutuskan karir dan perjalanan hidup Puan ke depannya. Baca juga: Motivasi Bukan Ditunggu, tapi Dicari Lewat Aksi Lalu, apa saja sebenarnya hal yang harus dipahami untuk menjalani hidup saat menginjak usia 20 tahun? Mengutip dari buku “What I Wish I Knew When I Was 20” karya Prof. Tina Seelig ada beberapa hal yang dapat Puan lakukan: Jangan Menunggu, Tapi Ciptakan! Seringkali Puan berpikir untuk menunggu kesempatan datang, menunggu orang lain yang membukanya, menunggu offering yang datang. Padahal, Puan bisa men...

Unlocking the It Girl Mindset: Rahasia Menjadi Versi Terbaik Dirimu

  Sumber: Pinterest Pernahkah Puan bertanya-tanya kenapa beberapa orang selalu terlihat mempesona, penuh percaya diri, dan memiliki aura yang membuat semua mata tertuju pada mereka? Apakah itu merupakan bawaan dari lahir atau ada rahasia di baliknya? Well , jawabannya hanya terletak pada satu hal, yaitu ‘ It Girl Mindset ’. Sebenarnya, apa sih ‘It Girl Mindset ’ itu? Yuk, simak pembahasannya pada artikel ini! Pengertian It Girl Mindset Melansir dari halaman Plum Healthy Fine , It Girl digambarkan sebagai perempuan yang memiliki percaya diri, modis, dan menjadi idaman bagi banyak orang. Mereka ini merupakan simbol dari kekuatan dan keanggunan dengan menjadi diri sendiri sebagai ciri khasnya. Seorang It Girl biasanya bangga untuk menjadi dirinya yang paling autentik. Oleh karena itu, banyak orang yang mengagumi mereka dan ingin menjadi seperti mereka. It Girl juga tidak bertindak dengan ragu-ragu, fokus pada tujuan serta pengembangan diri, dan tidak peduli dengan tanggapan buruk o...

Fenomena Doom Scrolling, Kebiasaan yang Bikin Burn Out

  " Scroll bentar deh.." Terus tanpa sadar mata mulai berat, tangan pegal, dan lupa waktu sendiri. Pernah ngalamin hal serupa? Kalau iya, berarti Puan lagi ngalamin yang namanya doom scrolling . Doom scrolling itu kalau Puan terus-terusan mengonsumsi informasi, terutama berita negatif yang ada pada sosial media. Menurut Cambdrige Dictionary , kata "Doomscr oll" mengacu kepada tindakan  terlalu sering menatap layar  untuk membaca berita buruk atau kurang  berbobot.  Nah, dari sini mungkin banyak Puan yang jadi ngerti apa itu doom scrolling , istilah yang belakangan sering muncul di internet. Kalau kita teliti, lagi  penyebabnya nggak bakalan lepas dari ketergantungan kita  pada handphone .  Hampir setiap hari kita menerima banyak pesan notifikasi. Terlepas  isinya penting atau tidak terlalu penting secara refleks pasti kita cek kalau dibiarkan menimbulkan rasa cemas atau anxiety,   seakan ada hal tertinggal jika kita tidak membuka lay...

Takut Gagal? Justru Itu Jalan Awal Tumbuh, Puan!

Photo by Eva Bronzini Pernah nggak sih, Puan ngerasa jantung berdebar tiap mau ambil keputusan besar? Misalnya, daftar beasiswa ke luar negeri, apply kerjaan impian, atau berani presentasi di depan banyak orang. Sering kali pikiran seperti, “Kalau gagal gimana ya? Malu banget, semua orang pasti ngelihat aku nggak mampu,” muncul lebih dulu daripada semangat mencoba. Kalau iya, Puan nggak sendirian. Banyak perempuan muda juga ngalamin hal yang sama. Itu namanya fear of failure alias rasa takut gagal. Puan, tahu nggak? Rasa takut gagal itu sebenarnya sinyal. Artinya, Puan lagi menghadapi sesuatu yang penting dan bermakna. Kalau sesuatu nggak penting, kita biasanya santai aja, kan? Justru karena itu penting, makanya muncul rasa takut. Dan kabar baiknya: rasa takut itu bukan musuh. Ia bisa jadi titik awal pertumbuhan kalau kita berani melangkah melewatinya. Growth Mindset: Cara Melihat Gagal Sebagai Jalan Belajar Psikolog Carol Dweck ngenalin konsep growth mindset , yaitu pola pikir bah...