Langsung ke konten utama

The Worst Thing about Empathy is Losing Self-respect

Ilustrasi seseorang berempati dengan sesama. “When Im mad from my perspective but I can also see their perspective, so now Im carrying double emotional weight and being eaten away by my anger and empathy” Adakah Puan yang pernah merasa marah akan suatu keadaan, tetapi mencoba untuk mencari alasan lain untuk memahami permasalahan tersebut? Kalimat di atas adalah kalimat yang dapat menggambarkan situasi yang Puan alami.  Empathy Without Boundaries is a Self-destruction Empati adalah sikap memahami seseorang baik secara emosional maupun kondisional. Berempati kepada seseorang memang hal yang baik karena dapat mengurangi risiko gangguan kecemasan. Namun, bagaimana jika berempati tidak memiliki batasan? Jika berempati secara berlebihan, Puan akan terus mencoba untuk memahami dan menyenangkan orang lain tanpa peduli apa yang sebenarnya Puan inginkan. Lama-lama, Puan akan mulai kehilangan kemampuan untuk berempati kepada diri sendiri. Tindakan mengabaikan kebutuhan emosional Puan sendiri ...

This is Adulting: Makin Sibuk, Makin Sendirian

 



Pernah nggak sih Puan liat jadwal mingguan terus ngerasa bakalan sibuk karena isinya penuh? Mulai dari jadwal meeting kerjaan, janji nongkrong bareng temen, kelas olahraga, sampai acara keluarga, pokoknya sibuk banget deh.

Tapi anehnya, begitu ada satu malam yang free, nggak ada deadline atau janji sama siapa pun, Puan malah ngerasa sendirian. Suasana kamar yang tenang malah bikin rasa sepi muncul gitu aja.

Kalau Puan pernah atau lagi ngerasain ini, welcome to adulting! Ternyata, jadwal yang padat itu nggak otomatis bikin kebutuhan emosional kita terpenuhi. Kok bisa gitu, ya?

Baca Juga: Menata Diri di Tengah Hidup yang Ramai

 

Kejebak di Lingkungan yang Sibuk

Saat jadwal kita padat, kita emang terus-menerus dikelilingi orang. Tapi coba deh diingat-ingat lagi, interaksinya kayak gimana? Pasti kebanyakan cuma interaksi praktis, cepat, atau sekadar bahas kerjaan, tugas, dan obrolan basa-basi aja.

Interaksi kayak gitu emang seru dan menyenangkan, tapi jujur aja, nggak memenuhi kebutuhan emosional kita yang paling dalam. Istilahnya, kita sibuk secara fisik, tapi hampa secara batin.

 

Capek karena Harus Selalu On Point

Kadang, rasa sepi itu muncul dari cara kita show up di depan orang lain. Pas lagi kumpul atau meeting, kita sering pasang mode "performing" dengan senyum, nanya balik, dan dengerin cerita baik-baik. Namun, pas giliran kita yang cerita, kita milih cari aman dan nggak mau cerita yang terlalu dalam.

Niatnya mungkin biar profesional atau nggak mau kelihatan rapuh, tapi kebiasaan ini malah bikin waktu nongkrong berasa kayak lagi kerja atau tampil di panggung. Energi kita keluar terus, tanpa ada asupan emosional yang masuk. Kita jadi ngerasa capek sekaligus kesepian di waktu yang bersamaan karena kualitas koneksi yang kurang.

 

Sepi Itu tentang Jarak Emosional, Bukan Jarak Fisik

Menurut riset dari seorang peneliti bernama Bound Alberti, kesepian itu bukan soal seberapa jauh jarak fisik kita dengan orang lain, melainkan jarak emosionalnya. Makanya, momen paling sepi itu sering terjadi pas kita lagi ada di tengah keramaian atau di dalam hubungan yang udah nggak frekuensi lagi. Hasilnya, kita ngerasa nggak dilihat dan nggak didengar apa adanya.

Secara psikologis, otak kita itu melacak sense of belonging (rasa memiliki dan diterima). Kalau kita ngerasa ada kehangatan dan rasa saling peduli, sistem saraf kita bakal rileks, tapi kalau interaksinya terasa semu atau penuh kepura-puraan, tubuh kita bakal otomatis siaga. Nah, kesibukan seminggu penuh biasanya sukses menyembunyikan rasa siaga ini.

 

Cara Mengatasi Kesepian Tanpa Bikin Jadwal Berantakan

Sebagai orang yang lagi merintis karier atau sekolah tinggi, waktu kita emang terbatas. Jadi, solusinya bukan cari temen baru sebanyak-banyaknya. Ada beberapa hal simpel yang bisa dicoba:

1.     Pilih Quality over Quantity

Daripada maksain dateng ke tiga acara nongkrong yang berisik dan cuma basa-basi, mending alokasikan waktu buat jalan kaki santai atau ngopi berdua aja bareng satu temen yang bener-bener sefrekuensi sama kamu.

2.     Kasih Buffer Time atau Jeda

Setelah seharian berinteraksi sama orang, kasih waktu sedikit buat diri sendiri sebelum lanjut ke agenda berikutnya. Ini penting buat ngecek apa yang sebenernya lagi kamu rasain.

3.     Alihkan Fokus Lewat Volunteering

Kata seorang ahli bernama Remes, saat kita ngebantu orang lain, fokus kita beralih dari masalah sendiri ke cara bikin hidup orang lain lebih baik. Ini otomatis bikin kita ngerasa terkoneksi dengan lingkungan.

4.     Cari Koneksi Selain Manusia

Nggak harus selalu lewat orang, kok. Main sama hewan peliharaan atau sekadar jalan-jalan ke taman menikmati alam juga bisa menurunkan rasa sepi sampai 28%. Alam bikin kita ngerasa jadi bagian dari sesuatu yang luas, dan itu memicu rasa belonging.

5.     Perbaiki Komunikasi atau Lepaskan

Kalau pertemanan atau hubunganmu yang sekarang bikin kamu ngerasa harus pakai topeng, coba obrolin apa yang kamu butuhin. Tapi kalau hubungannya udah toxic, nggak apa-apa banget buat mulai pelan-pelan menjauh.

 

Sendirian Itu Bagian dari Adulting

Seorang sosiolog bernama Carr mengingatkan kalau dalam hidup, hal-hal yang membuat kita merasa terhubung itu bisa selesai, entah itu lulus kuliah, pindah kerjaan, atau putus cinta. Pas hal itu selesai, kita dipaksa buat nemuin versi baru dari diri kita dan nyari koneksi baru lagi.

Baca Juga: Friendship Break-Up

Proses transisi ini bakal terasa sepi dan nggak nyaman banget, tapi itu adalah kenyataan yang harus diterima sama manusia, bukan tanda kalau Puan gagal atau kurang gaul.

Jadi, kalau nanti malam Puan ngerasa sepi lagi di tengah padatnya tugas dan kerjaan, jangan terlalu keras sama diri sendiri. Inget kalau di luar sana, banyak perempuan lain yang ngerasain hal yang sama kayak kamu. You are doing just fine.


Referensi

Calder, A. (2026, Februari 18). Loneliness That Hides Behind a Busy, Happy Life. https://cottonwoodpsychology.com/blog/loneliness-that-hides-behind-a-busy-happy-life/ 

Warren, M. (2025, Januari 8). Why do I feel so lonely even though I’m surrounded by people? https://www.bbc.com/future/article/20250107-why-do-i-feel-so-lonely-even-though-im-surrounded-by-people


Author & Editor
Dwi Khumaeroh Saadah

Komentar

Rubik Puan Popular

How Slowing Down Brings Connection Back to Life

  Why are we always in such a rush? Why couldn't we slow a little bit down? Di lingkungan yang serba cepat sekarang ini, slowing down menjadi hal yang terasa tidak produktif dan membuat gerak kita terasa lebih lambat dibandingkan orang lain. Mengapa bisa begitu, ya, Puan? Karena, kita hidup di mana deadlines selalu mengejar, media sosial selalu menemani dan memperlihatkan seseorang di luar sana jauh lebih baik, lebih produktif, dan lebih banyak pencapaian; membuat kita merasa tak seharusnya slowing down di saat orang lain berusaha lebih keras untuk mendapat apa yang mereka inginkan, dengan kata lain, membuat kita merasa tertinggal jika slowing down . Either way, what if all of that is just our worrying mind? what if reality presents its opposite? What if it's literally okay to just try to slow down; to have the ability in living life more fully and peacefully. Why Slowing Down Matters Seperti yang dikatakan Edward Yu (2010, p.7) dalam bukunya The Art of Slowing Down : "W...

The Worst Thing about Empathy is Losing Self-respect

Ilustrasi seseorang berempati dengan sesama. “When Im mad from my perspective but I can also see their perspective, so now Im carrying double emotional weight and being eaten away by my anger and empathy” Adakah Puan yang pernah merasa marah akan suatu keadaan, tetapi mencoba untuk mencari alasan lain untuk memahami permasalahan tersebut? Kalimat di atas adalah kalimat yang dapat menggambarkan situasi yang Puan alami.  Empathy Without Boundaries is a Self-destruction Empati adalah sikap memahami seseorang baik secara emosional maupun kondisional. Berempati kepada seseorang memang hal yang baik karena dapat mengurangi risiko gangguan kecemasan. Namun, bagaimana jika berempati tidak memiliki batasan? Jika berempati secara berlebihan, Puan akan terus mencoba untuk memahami dan menyenangkan orang lain tanpa peduli apa yang sebenarnya Puan inginkan. Lama-lama, Puan akan mulai kehilangan kemampuan untuk berempati kepada diri sendiri. Tindakan mengabaikan kebutuhan emosional Puan sendiri ...

Satu Buket, Banyak Cerita : Puan Bisa Hadirkan Pengalaman Kreatif untuk Perempuan Muda

Keseruan Learning Space bersama Kak Azza pada Minggu (24/5) 24 Mei 2026 - Puan Bisa kembali hadirkan Learning Space bertema “ Artificial Flower Market & Self - Workshop : Arrange Your Own Growth ” pada Minggu (24/5) di Kopi Lupi. Mengundang Kak Azza, Owner dari BQ Florist sebagai pembicara, workshop ini berhasil menjangkau 24 peserta dari kawasan Jabodetabek. Menggaet BQ Florist sebagai kolaborator, Learning Space kali ini memberikan pengalaman kreatif dengan merangkai bunga secara mandiri.  Mengusung tema Bloom Your Story , peserta diajak memilih sendiri bunga yang ingin dirangkai sesuai dengan karakter dan preferensi masing - masing individu. Sebelum sesi dimulai, peserta mendapatkan tutorial langsung dari Kak Azza agar dapat memahami teknik dasar merangkai bunga sebelum menciptakan karya mereka sendiri. Salah satu peserta, Kak Friska, membagikan pengalaman berkesan selama mengikuti workshop ini, “First time, aku bikin bunga buket dan tentunya disini banyak pilihannya. dan...

2026 The New 2016: Apa itu Nostalgia?

(Gambar: Lemon 8) Apakah Puan saat ini familiar dengan pembahasan 2026 adalah  the new 2016 ?  Banyak orang yang kembali membahas trend yang beredar di tahun 2016 mulai dari fashion hingga aplikasi Tumblr. Istilah ini mengacu kepada budaya digital dan pop culture 2016 yang kembali populer di awal tahun 2026.  Puan mungkin bertanya-tanya, mengapa spesifik tren di 2016. Menurut Ibcomagazine, tren biasanya menjalankan sistem aturan 20 tahun sekali.Maksudnya adalah setiap 20 tahun sekali tren yang ada pada generasi sebelumnya akan muncul pada generasi baru. Contohnya seperti anak-anak di tahun 2000-an yang suka dengan gaya hidup ( lifestyle ) remaja di era tahun 80-han.  Tapi itu dulu. Dulu tren membutuhkan waktu 20 tahun untuk kembali. Sekarang? Peran media sosial memangkasnya menjadi 10 tahun jadinya kita memandang 2026 dan 2016 sebagai era yang berbeda, dan didorong rasa nostalgia kita semakin ingin kembali ke kehidupan dan lifestyle di 2016.  Selain itu, dilan...

Siaran Pers From Visible to Stand Out: Cara bikin HR “Ngeh” sama Profilmu di Puan Bisa Learning Space

28 Maret 2026 - Puan Bisa kembali hadirkan Learning Space bertema “ Early Career Branding: Crafting Your CV & LinkedIn for Visibility and Opportunity ” yang mengundang Kak Maria Qibtiyah, Human Capital Consultant dari PT Bitama sebagai pembicara. Program ini berhasil menjangkau puluhan peserta dari seluruh Indonesia melalui Online Zoom . Puan Bisa juga menggaet komunitas Grow Bareng sebagai kolaborator. Learning Space ini menjadi cara meningkatkan kemampuan personal branding , khususnya dalam pembuatan CV dan optimalisasi LinkedIn agar dapat membantu mahasiswa maupun pekerja muda untuk siap bekerja. Learning Space dihadirkan sebagai respons dari kebutuhan untuk meningkatkan personal branding di kalangan mahasiswa dan pekerja muda. Sebanyak 50 perempuan muda menerima dampak acara ini dan memberikan banyak feedback positif “ Dampak yang saya rasakan adalah dengan lebih mengetahui kelebihan dan kelemahan diri sendiri, yang memungkinkan peningkatan kualitas hidup ”,  ucap Ka...