Langsung ke konten utama

This is Adulting: Makin Sibuk, Makin Sendirian

  Photo by Damla KaraaÄŸaçlı Pernah nggak sih Puan liat jadwal mingguan terus ngerasa bakalan sibuk karena isinya penuh? Mulai dari jadwal meeting kerjaan, janji nongkrong bareng temen, kelas olahraga, sampai acara keluarga, pokoknya sibuk banget deh. Tapi anehnya, begitu ada satu malam yang free , nggak ada deadline atau janji sama siapa pun, Puan malah ngerasa sendirian. Suasana kamar yang tenang malah bikin rasa sepi muncul gitu aja. Kalau Puan pernah atau lagi ngerasain ini , welcome to adulting! Ternyata, jadwal yang padat itu nggak otomatis bikin kebutuhan emosional kita terpenuhi. Kok bisa gitu, ya? Baca Juga: Menata Diri di Tengah Hidup yang Ramai   Kejebak di Lingkungan yang Sibuk Saat jadwal kita padat, kita emang terus-menerus dikelilingi orang. Tapi coba deh diingat-ingat lagi, interaksinya kayak gimana? Pasti kebanyakan cuma interaksi praktis, cepat, atau sekadar bahas kerjaan, tugas, dan obrolan basa-basi aja. Interaksi kayak gitu emang seru dan menyenangkan, t...

This is Adulting: Makin Sibuk, Makin Sendirian

 



Pernah nggak sih Puan liat jadwal mingguan terus ngerasa bakalan sibuk karena isinya penuh? Mulai dari jadwal meeting kerjaan, janji nongkrong bareng temen, kelas olahraga, sampai acara keluarga, pokoknya sibuk banget deh.

Tapi anehnya, begitu ada satu malam yang free, nggak ada deadline atau janji sama siapa pun, Puan malah ngerasa sendirian. Suasana kamar yang tenang malah bikin rasa sepi muncul gitu aja.

Kalau Puan pernah atau lagi ngerasain ini, welcome to adulting! Ternyata, jadwal yang padat itu nggak otomatis bikin kebutuhan emosional kita terpenuhi. Kok bisa gitu, ya?

Baca Juga: Menata Diri di Tengah Hidup yang Ramai

 

Kejebak di Lingkungan yang Sibuk

Saat jadwal kita padat, kita emang terus-menerus dikelilingi orang. Tapi coba deh diingat-ingat lagi, interaksinya kayak gimana? Pasti kebanyakan cuma interaksi praktis, cepat, atau sekadar bahas kerjaan, tugas, dan obrolan basa-basi aja.

Interaksi kayak gitu emang seru dan menyenangkan, tapi jujur aja, nggak memenuhi kebutuhan emosional kita yang paling dalam. Istilahnya, kita sibuk secara fisik, tapi hampa secara batin.

 

Capek karena Harus Selalu On Point

Kadang, rasa sepi itu muncul dari cara kita show up di depan orang lain. Pas lagi kumpul atau meeting, kita sering pasang mode "performing" dengan senyum, nanya balik, dan dengerin cerita baik-baik. Namun, pas giliran kita yang cerita, kita milih cari aman dan nggak mau cerita yang terlalu dalam.

Niatnya mungkin biar profesional atau nggak mau kelihatan rapuh, tapi kebiasaan ini malah bikin waktu nongkrong berasa kayak lagi kerja atau tampil di panggung. Energi kita keluar terus, tanpa ada asupan emosional yang masuk. Kita jadi ngerasa capek sekaligus kesepian di waktu yang bersamaan karena kualitas koneksi yang kurang.

 

Sepi Itu tentang Jarak Emosional, Bukan Jarak Fisik

Menurut riset dari seorang peneliti bernama Bound Alberti, kesepian itu bukan soal seberapa jauh jarak fisik kita dengan orang lain, melainkan jarak emosionalnya. Makanya, momen paling sepi itu sering terjadi pas kita lagi ada di tengah keramaian atau di dalam hubungan yang udah nggak frekuensi lagi. Hasilnya, kita ngerasa nggak dilihat dan nggak didengar apa adanya.

Secara psikologis, otak kita itu melacak sense of belonging (rasa memiliki dan diterima). Kalau kita ngerasa ada kehangatan dan rasa saling peduli, sistem saraf kita bakal rileks, tapi kalau interaksinya terasa semu atau penuh kepura-puraan, tubuh kita bakal otomatis siaga. Nah, kesibukan seminggu penuh biasanya sukses menyembunyikan rasa siaga ini.

 

Cara Mengatasi Kesepian Tanpa Bikin Jadwal Berantakan

Sebagai orang yang lagi merintis karier atau sekolah tinggi, waktu kita emang terbatas. Jadi, solusinya bukan cari temen baru sebanyak-banyaknya. Ada beberapa hal simpel yang bisa dicoba:

1.     Pilih Quality over Quantity

Daripada maksain dateng ke tiga acara nongkrong yang berisik dan cuma basa-basi, mending alokasikan waktu buat jalan kaki santai atau ngopi berdua aja bareng satu temen yang bener-bener sefrekuensi sama kamu.

2.     Kasih Buffer Time atau Jeda

Setelah seharian berinteraksi sama orang, kasih waktu sedikit buat diri sendiri sebelum lanjut ke agenda berikutnya. Ini penting buat ngecek apa yang sebenernya lagi kamu rasain.

3.     Alihkan Fokus Lewat Volunteering

Kata seorang ahli bernama Remes, saat kita ngebantu orang lain, fokus kita beralih dari masalah sendiri ke cara bikin hidup orang lain lebih baik. Ini otomatis bikin kita ngerasa terkoneksi dengan lingkungan.

4.     Cari Koneksi Selain Manusia

Nggak harus selalu lewat orang, kok. Main sama hewan peliharaan atau sekadar jalan-jalan ke taman menikmati alam juga bisa menurunkan rasa sepi sampai 28%. Alam bikin kita ngerasa jadi bagian dari sesuatu yang luas, dan itu memicu rasa belonging.

5.     Perbaiki Komunikasi atau Lepaskan

Kalau pertemanan atau hubunganmu yang sekarang bikin kamu ngerasa harus pakai topeng, coba obrolin apa yang kamu butuhin. Tapi kalau hubungannya udah toxic, nggak apa-apa banget buat mulai pelan-pelan menjauh.

 

Sendirian Itu Bagian dari Adulting

Seorang sosiolog bernama Carr mengingatkan kalau dalam hidup, hal-hal yang membuat kita merasa terhubung itu bisa selesai, entah itu lulus kuliah, pindah kerjaan, atau putus cinta. Pas hal itu selesai, kita dipaksa buat nemuin versi baru dari diri kita dan nyari koneksi baru lagi.

Baca Juga: Friendship Break-Up

Proses transisi ini bakal terasa sepi dan nggak nyaman banget, tapi itu adalah kenyataan yang harus diterima sama manusia, bukan tanda kalau Puan gagal atau kurang gaul.

Jadi, kalau nanti malam Puan ngerasa sepi lagi di tengah padatnya tugas dan kerjaan, jangan terlalu keras sama diri sendiri. Inget kalau di luar sana, banyak perempuan lain yang ngerasain hal yang sama kayak kamu. You are doing just fine.


Referensi

Calder, A. (2026, Februari 18). Loneliness That Hides Behind a Busy, Happy Life. https://cottonwoodpsychology.com/blog/loneliness-that-hides-behind-a-busy-happy-life/ 

Warren, M. (2025, Januari 8). Why do I feel so lonely even though I’m surrounded by people? https://www.bbc.com/future/article/20250107-why-do-i-feel-so-lonely-even-though-im-surrounded-by-people


Author & Editor
Dwi Khumaeroh Saadah

Komentar

Rubik Puan Popular

LinkedIn dan Ilusi 'Semua Orang Sudah Lebih Maju'

  LinkedIn dan Ilusi 'Semua Orang Sudah Lebih Maju' Image by: Pinterest Di LinkedIn, Puan hampir setiap hari melihat kabar baik: diterima kerja, naik jabatan, lolos program bergengsi, atau menyelesaikan sertifikasi. Sekilas, semuanya tampak berjalan cepat dan terarah. Tanpa disadari, muncul perasaan bahwa orang lain sudah melangkah, sementara Puan masih di tempat yang sama. Padahal, yang ditampilkan sering kali hanyalah bagian terbaik dari perjalanan seseorang, bukan keseluruhan prosesnya. Ketika Timeline Jadi Tolok Ukur yang Tidak Adil Masalah mulai muncu ketika Puan menjadikan apa yang dilihat sebagai standar. Puan membandingkan proses yang masih berjalan dengan hasil akhir orang lain yang sudah dipoles rapi. Perbandingan ini tidak seimbang sejak awal. Akibatnya, rasa tertinggal itu bukan karena Puan benar-benar tidak berkembang, tetapi karena standar yang digunakan memang tidak realistis. Apa yang tampil di LinkedIn adalah "highlight", sementara yang Puan rasakan a...

4 Film yang Bisa Meningkatkan Kecerdasan Otak Kamu

  Source: (iStockphoto/JNemchinova) Siapa di sini yang gemar banget nonton film atau drama korea pas waktu luang? Banyak dong pastinya. Puan lebih senang nonton film atau drama korea dengan genre apa, nih? Terlepas dari apa genre yang Puan gemari, di sini ada beberapa rekomendasi film yang bisa kamu tonton ketika mengisi luangmu. Tidak hanya bersifat menghibur saja, tetapi film-film ini bisa meningkatkan kecerdasan otak kamu, lho , Puan! Apa saja film-film tersebut? Yuk, simak di bawah ini! 1. Murder on the Orient Express Film yang satu ini diangkat dari novel karangan Agatha Chrisie pada salah satu kasus Hercule Poirot miliknya. Berdurasi selama 1 jam 54 menit, Kennet Bragnagh (Sutradara) dan Michael Green (penulis naskah) menyematkan banyak perbedaan dari novelnya namun memang secara keseluruhan plot-nya tidak terlalu jauh melenceng. Di film ini, Puan diajak untuk memecah misteri mengenai pelaku pembunuhan seseorang di kereta. 2. Zodiac Siapa yang gemar menonton Iron Man di sini?...

Perempuan dan Overachievement Trap: Sisi Lain Produktivitas

  Pict by: Bustle.com Pernahkah Puan merasa sudah berusaha dengan maksimal, tetapi merasa performa yang ditampilkan kurang ataupun berusaha untuk mengejar ekspektasi agar bisa selalu dihargai?  Alih-alih merasa puas, Puan justru terus mendorong diri untuk melakukan hal-hal diluar batas diri Puan. Hal ini bukan karena tuntutan yang sudah jelas ada, melainkan ada dorongan untuk selalu memenuhi ekspektasi, baik diri sendiri maupun orang lain. Jika kondisi ini terasa familiar, bisa jadi Puan sedang berada dalam overachievement trap. Apa Itu Overachievement Trap ? Overachievement trap merupakan kondisi ketika seseorang terus berusaha mencapai level yang lebih tinggi, bukan karena kebutuhannya, melainkan merasa dirinya sebagai perempuan belum cukup layak dan dihargai oleh sekitar. Secara psikologis, kondisi ini berkaitan dengan perfeksionisme, terutama dipengaruhi oleh tekanan sosial.  Paul L. Hewitt dan Gordon L. Flett menjelaskan bahwa perfeksionisme yang berorientasi pada t...

Fenomena Doom Scrolling, Kebiasaan yang Bikin Burn Out

  " Scroll bentar deh.." Terus tanpa sadar mata mulai berat, tangan pegal, dan lupa waktu sendiri. Pernah ngalamin hal serupa? Kalau iya, berarti Puan lagi ngalamin yang namanya doom scrolling . Doom scrolling itu kalau Puan terus-terusan mengonsumsi informasi, terutama berita negatif yang ada pada sosial media. Menurut Cambdrige Dictionary , kata "Doomscr oll" mengacu kepada tindakan  terlalu sering menatap layar  untuk membaca berita buruk atau kurang  berbobot.  Nah, dari sini mungkin banyak Puan yang jadi ngerti apa itu doom scrolling , istilah yang belakangan sering muncul di internet. Kalau kita teliti, lagi  penyebabnya nggak bakalan lepas dari ketergantungan kita  pada handphone .  Hampir setiap hari kita menerima banyak pesan notifikasi. Terlepas  isinya penting atau tidak terlalu penting secara refleks pasti kita cek kalau dibiarkan menimbulkan rasa cemas atau anxiety,   seakan ada hal tertinggal jika kita tidak membuka lay...