Langsung ke konten utama

Perfectionism Paralysis: Saat Keinginan Jadi Sempurna Malah Bikin Puan Nggak Mulai-Mulai

Ilustrasi seseorang yang mengalami perfectionism paralysis (rri.co.id) Pernah nggak sih Puan punya ide tulisan atau tugas yang bagus banget di kepala, tapi begitu mau ngetik kalimat pertama, Puan malah diam berjam-jam? Puan terus-terusan rapihin format, milih font, atau mikirin kata pembuka yang paling pas, sampai akhirnya Puan capek sendiri dan memilih buat buka TikTok? Kalau pernah, Puan lagi ngerasain yang namanya Perfectionism Paralysis. Secara psikologis, perfeksionisme itu sering kali disguise alias penyamaran dari rasa takut gagal. Puan netapin standar yang sangat tinggi, lalu otak Puan merasa terintimidasi sendiri dengan standar itu. Karena takut hasilnya nggak sempurna atau takut dinilai jelek, otak akhirnya mengambil jalan pintas: mending nggak usah dikerjain sekalian. "Done is Better than Perfect" Kata-kata di atas mungkin bukan cuma kata-kata mutiara biasa, tapi penenang paling ampuh buat perfectionism paralysis. Padahal, prinsip utama self-improvement yang sehat...

Friendship Break-Up: Putus dalam Hubungan Pertemanan!

https://unsplash.com/id/foto/seorang-wanita-terbungkus-selimut-duduk-di-tempat-tidur-vyqBX4dBdIw


Puan pasti sering denger atau ngalamin yang namanya putus cinta. Perihal putus cinta biasanya berkaitan dengan pasangan atau pacar, tapi pernah nggak sih Puan ngalamin atau tahu kalau hubungan pertemanan juga bisa kandas? Hal ini diberi istilah “Friendship Break Up”


Gimana Sih Hubungan Pertemanan Itu?


Sama kayak pasangan dan keluarga,  percaya nggak sih kalau hubungan pertemanan juga membawa sisi emosional?  Kita bisa berkembang di lingkungan tertentu karena pengaruh dari orang-orang yang ada disekitar termasuk teman. 


Menurut Kaitlyn Flannery salah satu profesor psikologi dari State University of New York College, sebagai makhluk sosial kita menginginkan validasi selain dari lingkungan rumah yang berasal dari  individu lain yang seumuran dengan diri kita, makanya hubungan pertemanan bisa  menjadi sumber dukungan sosial maupun emosional


Kita menjalin hubungan persahabatan dengan teman pasti kita akan diajak untuk mengenali satu sama lain. Mulai dari pribadi sampai kebiasaan yang berbeda, dalam hal ini bisa jadi kita saling memaklumi atau malah memicu pertengkaran antara kedua pihak. Menjalin hubungan pertemanan berarti melatih bagaimana cara menjalin hubungan dan komunikasi yang baik. 


Kenapa Friendship Break Up Bisa Muncul?


Hubungan pertemanan yang baik adalah ketika hubungan tersebut dibangun di atas rasa kasih sayang, rasa saling menghargai, kejujuran, dan rasa kepercayaan antara satu dan lainnya. 


Jadi ketika hubungan persahabatan dibangun di atas hal yang bertentangan seperti sikap posesif, manipulasi, tidak menghargai satu sama lain dan hal lainnya yang membuat Puan tidak nyaman untuk menjalin pertemanan dengan seorang individu, maka hubungan tersebut tidak seharusnya terus berjalan. 


Berdasarkan keterkaitan emosional yang sebelumnya kita bangun bersama teman mulai dari berbagi cerita bersama atau bahkan yang dulunya saling memahami mungkin bakal jadi hal yang menyakitkan. Tetapi, satu hal yang perlu Puan ketahui, teman bukan sekadar kuantitas tapi kualitas. 


Baca Juga: 

Letting Go Seni Melepaskan Menerima


Beberapa hal ini bisa menjadi alasan kenapa bisa terjadi friendship break up, teman yang memperlakukan diri kita dengan tidak baik, perbedaan pendapat, ketidakcocokan visi dan misi, atau kita harus berhadapan dengan teman yang berkepribadian toxic


Cara Menghadapi Friendship Break Up Gimana Sih? 


  1. Beri waktu untuk memproses emosi 

Grieving atau berduka atas sesuatu hal yang tidak menyenangkan itu normal banget kok Puan! Jadi pastikan untuk memberi dirimu ruang aman ya.

  1. Ekspresikan Perasaan

Kalau Puan masih ngerasa nggak nyaman dengan perasaan yang ada coba untuk ekspresikan daripada dipendam. Seperti melakukan journaling, curhat kepada orang terdekat, atau melakukan hobi Puan. 

  1. Jaga jarak 

Nggak langsung closure atau pemecahan masalah itu bukan hal yang buruk kok, kalau Puan coba menjaga jarak dengan mantan teman Puan sebagai tahapan penyelesaian emosi itu hal yang normal.

  1. Fokus kepada diri sendiri 

Puan ada di situasi friendship break up yang bikin stres, salah satu coping mechanism yang bisa dilakukan adalah fokus kepada pengelolaan emosi diri sendiri dan perhatian kepada diri sendiri. 


Friendship break up itu bukanlah akhir dari segalanya, yang terpenting adalah menjalin hubungan dan komunikasi yang baik antar individu. 


Sekilas Tentang Puan Bisa

Puan Bisa adalah komunitas perempuan muda yang mendukung pengembangan karir, self-improvement, dan mental health. Sejak pertama kali didirikan tanggal 1 Oktober 2020 sampai saat ini, Puan Bisa aktif melakukan kegiatan kreatif dan edukatif yang dilakukan dengan tujuan meningkatkan kesadaran perempuan muda (khususnya usia 16-23 tahun) dalam mengembangkan kemampuan dan rasa cinta akan dirinya. 



Komentar

Rubik Puan Popular

How to Find Your Spark Again, One Little Thing at a Time

Pernah nggak, Puan merasa dulu ada banyak hal yang bisa bikin Puan excited , tapi sekarang hal-hal itu terasa nothing special? Dulu bisa berjam-jam ngelakuin hal yang disuka, sekarang baru beberapa menit sudah ingin berhenti. Dulu punya banyak hal yang ingin dicoba, sekarang ditanya “lagi suka kegiatan apa?” malah bingung mau jawab apa. Puan masih menjalani aktivitas seperti biasa, kuliah, kerja, mengerjakan tugas, ketemu temen, scrolling media sosial. Everything seems fine. Tapi somehow, ada bagian dari diri Puan yang terasa berbeda. Seolah-olah spark yang dulu membuat hari-hari terasa lebih hidup perlahan menghilang.  Dan mungkin, Puan mulai bertanya-tanya, “What happened to me?”  1. Stop Trying to Become Your Old Self Ketika merasa kehilangan spark , kita sering kali ingin kembali menjadi diri kita yang dulu. Padahal, Puan udah melewati banyak hal sejak saat itu. Wajar kalau ada bagian dari diri Puan yang berubah. Karena itu, menemukan kembali spark bukan berarti harus meng...

3 Buku Fiksi Bertema Mental Health untuk Puan Baca

Source: Bookshop.org Hai Puan!  Puan suka baca buku? Atau suka dengan isu-isu terkait mental health? Pengetahuan seputar topik mental health bukan hanya bisa didapatkan dari buku ilmiah atau nonfiksi, tetapi juga dari buku fiksi. Selain bisa menghibur Puan, buku fiksi juga bisa bikin Puan larut dan merasakan emosi serta perasaan dari tokoh-tokohnya.  Nah, buat Puan yang lagi cari rekomendasi buku fiksi tentang mental health, baca terus artikel ini sampai habis ya! 1. Challenger Deep karya Neal Shusterman Cerita dalam buku ini berdasarkan kisah dari putranya sendiri yang mengalami gangguan mental. Challenger Deep bercerita tentang Caden Bosch, yaitu seorang siswa SMA yang mengidap skizofrenia. Masalah tersebut membuatnya sering mengalami halusinasi. Alur cerita terbagi ke dalam dua dunia: kehidupan sekolah Caen sehari-hari dan sebuah pelayaran di atas kapal laut menuju Challenger Deep (titik terdalam di Palung Mariana). Perjalanan di atas kapal merupakan gambaran dari halusinas...

Rasa Bosan Bisa Dijadikan Teman? Ini Manfaat Boredom yang Jarang Disadari

Sumber:  Magnific   Puan pernah nggak langsung membuka TikTok, Instagram, atau X hanya karena timbul rasa bosan akibat menunggu sesuatu? Kebiasaan seperti ini sangat umum terjadi karena otak Puan terbiasa mencari stimulasi setiap kali ada waktu kosong.  Mungkin, Puan sering kali menganggap rasa bosan sebagai sesuatu yang buruk, sehingga banyak dari Puan yang yang berlomba-lomba untuk menghilangkan perasaan tersebut dengan menjadi produktif Alih-alih mencerminkan bahwa diri Puan tidak produktif, rasa bosan dapat memberi kesempatan bagi otak untuk beristirahat dari banyaknya informasi yang silih berdatangan, memunculkan ide baru, hingga membantu Puan mengenali apa yang benar-benar bermakna.  Oleh karena itu, sesekali merasa bosan bukanlah hal yang buruk, selama terjadi dalam kadar yang wajar. Jika Puan merasa demikian, lalu Puan  tahu nggak sih apa itu boredom dan fakta lain dari boredom yang mungkin belum Puan ketahui. Apa Itu Boredom? Dalam psikologi, boredom a...

Perfectionism Paralysis: Saat Keinginan Jadi Sempurna Malah Bikin Puan Nggak Mulai-Mulai

Ilustrasi seseorang yang mengalami perfectionism paralysis (rri.co.id) Pernah nggak sih Puan punya ide tulisan atau tugas yang bagus banget di kepala, tapi begitu mau ngetik kalimat pertama, Puan malah diam berjam-jam? Puan terus-terusan rapihin format, milih font, atau mikirin kata pembuka yang paling pas, sampai akhirnya Puan capek sendiri dan memilih buat buka TikTok? Kalau pernah, Puan lagi ngerasain yang namanya Perfectionism Paralysis. Secara psikologis, perfeksionisme itu sering kali disguise alias penyamaran dari rasa takut gagal. Puan netapin standar yang sangat tinggi, lalu otak Puan merasa terintimidasi sendiri dengan standar itu. Karena takut hasilnya nggak sempurna atau takut dinilai jelek, otak akhirnya mengambil jalan pintas: mending nggak usah dikerjain sekalian. "Done is Better than Perfect" Kata-kata di atas mungkin bukan cuma kata-kata mutiara biasa, tapi penenang paling ampuh buat perfectionism paralysis. Padahal, prinsip utama self-improvement yang sehat...

Apakah Kamu Punya Cinderella Syndrom? Ini Tandanya!

  Illustrasi oleh Green Maggot Puan pasti tahu film Cinderella kan? Tentunya Puan udah nggak asing lagi sama kisah dongeng klasik ini. Selain di film, istilah Cinderella  juga dikenal di dunia nyata loh, yaitu sindrom Cinderella Complex. Yuk! Kita cari tahu lebih lanjut tentang Cinderella Complex  dan tanda-tandanya! Apa itu Cinderella Complex ? Cinderella Complex  pertama kali diperkenalkan oleh Colette Dowling, seorang terapus dalam bukunya " The Cinderella Complex: Women's Hidden Fear of Independence ". Cinderella Complex  adalah sikap dan rasa takut (tertekan) yang dialami perempuan, sehingga perempuan tidak berani memanfaatkan sepenuhnya kemampuan otak dan kreativitasnya (Dowling, 1995). Sindrom Cinderella Complex  tanpa sadar membuat perempuan ingin diurus oleh orang lain sehingga sangat ketergantungan dan nyaris tidak bisa hidup mandiri. Meskipun belum bisa dikategorikan sebagai gangguan secara psikologis, sindrom Cinderella Complex  ada kaitann...