Langsung ke konten utama

I'm Not Mad at You, I'm Just in Pain.

sumber: pexels.com Kebanyakan dari Puan pasti pernah ngalamin saat lagi menstruasi: perut kram, pinggang pegal, dan rasanya ingin rebahan aja gitu seharian. Belum lagi dengan emosi yang tidak stabil, hal sekecil apapun pasti bisa berpotensi bikin Puan sebal, padahal biasanya Puan bisa lebih santai menghadapi hal yang sama. Kadang, Puan sendiri juga pasti bingung kan kenapa jadi lebih sensitif dari biasanya. Susah fokus ngerjain tugas karena sakit, diajak ngobrol rasanya nggak punya energi, atau tiba-tiba ingin nangis tanpa tahu harus menjelaskan apa. Di tengah rasa nggak nyaman itu, Puan mungkin jadi bertanya-tanya, “Kenapa rasanya jadi sedih banget ya? Kok jadi gampang banget emosi?” Padahal, ada kalanya tubuh Puan memang sedang menghadapi banyak perubahan. Rasa sakit, perubahan suasana hati, dan kondisi emosional bisa datang berbarengan; apalagi saat sedang menstruasi. And why is that? It's Not Just About the Cramps Selama menstruasi, rasanya bukan cuma perut yang ikut merasakan ...

Friendship Break-Up: Putus dalam Hubungan Pertemanan!

https://unsplash.com/id/foto/seorang-wanita-terbungkus-selimut-duduk-di-tempat-tidur-vyqBX4dBdIw


Puan pasti sering denger atau ngalamin yang namanya putus cinta. Perihal putus cinta biasanya berkaitan dengan pasangan atau pacar, tapi pernah nggak sih Puan ngalamin atau tahu kalau hubungan pertemanan juga bisa kandas? Hal ini diberi istilah “Friendship Break Up”. 


Gimana Sih Hubungan Pertemanan Itu?


Sama kayak pasangan dan keluarga,  percaya nggak sih kalau hubungan pertemanan juga membawa sisi emosional?  Kita bisa berkembang di lingkungan tertentu karena pengaruh dari orang-orang yang ada disekitar termasuk teman. 


Menurut Kaitlyn Flannery salah satu profesor psikologi dari State University of New York College, sebagai makhluk sosial kita menginginkan validasi selain dari lingkungan rumah yang berasal dari  individu lain yang seumuran dengan diri kita, makanya hubungan pertemanan bisa  menjadi sumber dukungan sosial maupun emosional. 


Kita menjalin hubungan persahabatan dengan teman pasti kita akan diajak untuk mengenali satu sama lain. Mulai dari pribadi sampai kebiasaan yang berbeda, dalam hal ini bisa jadi kita saling memaklumi atau malah memicu pertengkaran antara kedua pihak. Menjalin hubungan pertemanan berarti melatih bagaimana cara menjalin hubungan dan komunikasi yang baik. 


Kenapa Friendship Break Up Bisa Muncul?


Hubungan pertemanan yang baik adalah ketika hubungan tersebut dibangun di atas rasa kasih sayang, rasa saling menghargai, kejujuran, dan rasa kepercayaan antara satu dan lainnya. 


Jadi ketika hubungan persahabatan dibangun di atas hal yang bertentangan seperti sikap posesif, manipulasi, tidak menghargai satu sama lain dan hal lainnya yang membuat Puan tidak nyaman untuk menjalin pertemanan dengan seorang individu, maka hubungan tersebut tidak seharusnya terus berjalan. 


Berdasarkan keterkaitan emosional yang sebelumnya kita bangun bersama teman mulai dari berbagi cerita bersama atau bahkan yang dulunya saling memahami mungkin bakal jadi hal yang menyakitkan. Tetapi, satu hal yang perlu Puan ketahui, teman bukan sekadar kuantitas tapi kualitas. 


Baca Juga: 

Letting Go Seni Melepaskan Menerima


Beberapa hal ini bisa menjadi alasan kenapa bisa terjadi friendship break up, teman yang memperlakukan diri kita dengan tidak baik, perbedaan pendapat, ketidakcocokan visi dan misi, atau kita harus berhadapan dengan teman yang berkepribadian toxic. 


Cara Menghadapi Friendship Break Up Gimana Sih? 


  1. Beri waktu untuk memproses emosi 

Grieving atau berduka atas sesuatu hal yang tidak menyenangkan itu normal banget kok Puan! Jadi pastikan untuk memberi dirimu ruang aman ya.

  1. Ekspresikan Perasaan

Kalau Puan masih ngerasa nggak nyaman dengan perasaan yang ada coba untuk ekspresikan daripada dipendam. Seperti melakukan journaling, curhat kepada orang terdekat, atau melakukan hobi Puan. 

  1. Jaga jarak 

Nggak langsung closure atau pemecahan masalah itu bukan hal yang buruk kok, kalau Puan coba menjaga jarak dengan mantan teman Puan sebagai tahapan penyelesaian emosi itu hal yang normal.

  1. Fokus kepada diri sendiri 

Puan ada di situasi friendship break up yang bikin stres, salah satu coping mechanism yang bisa dilakukan adalah fokus kepada pengelolaan emosi diri sendiri dan perhatian kepada diri sendiri. 


Friendship break up itu bukanlah akhir dari segalanya, yang terpenting adalah menjalin hubungan dan komunikasi yang baik antar individu. 


Sekilas Tentang Puan Bisa

Puan Bisa adalah komunitas perempuan muda yang mendukung pengembangan karir, self-improvement, dan mental health. Sejak pertama kali didirikan tanggal 1 Oktober 2020 sampai saat ini, Puan Bisa aktif melakukan kegiatan kreatif dan edukatif yang dilakukan dengan tujuan meningkatkan kesadaran perempuan muda (khususnya usia 16-23 tahun) dalam mengembangkan kemampuan dan rasa cinta akan dirinya. 



Komentar

Rubik Puan Popular

Puan Bisa Festival 2026 : Dorong Perempuan Muda Meninjau Keputusan Hidup Berdasar Integritas Diri

  Sumber: Dokumentasi Puan Bisa Festival 2026 Jakarta, 15 Oktober 2026  Di tengah dinamika dunia kerja dan persaingan dalam proses pencarian kerja, perempuan muda kerap menghadapi tekanan untuk terus meningkatkan kemampuan, mencapai standar kesuksesan tertentu, dan menentukan arah karir sejak dini. Kondisi ini dapat menimbulkan kebingungan dalam mengenali potensi diri serta menentukan langkah yang sesuai dengan kemampuan dan kondisi masing-masing. Menanggapi tantangan tersebut, Puan Bisa menghadirkan Webinar Career dalam rangkaian Puan Bisa Festival 2026 untuk mengajak perempuan muda mengenali potensi diri dan menyusun arah karir secara lebih terarah. Puan Bisa merupakan komunitas non-profit yang didirikan pada 1 Oktober 2020 dan berdedikasi untuk meningkatkan kesadaran perempuan muda Indonesia dalam mengembangkan kemampuan dan kecintaan terhadap diri sendiri melalui konten edukatif, Instagram Live, webinar, serta berbagai program pengembangan diri lainnya. Melalui kolaborasi,...

Intip antusiasme Para Puan Dalam Meninjau Keputusan Hidupnya di Puan Bisa Festival 2026!

Sumber: Dokumentasi Puan Bisa Festival 2026 J akarta, 13 Oktober 2026. Perempuan muda saat ini dihadapkan pada berbagai peluang sekaligus tekanan untuk sukses secara profesional, mandiri secara finansial, dan memenuhi ekspektasi sosial. Tekanan ini juga tercermin dalam dunia kerja; laporan McKinsey & Company dan LeanIn.Org (2025) mencatat sekitar 60% perempuan di level kepemimpinan melaporkan mengalami burnout secara konsisten. Di tengah berbagai tuntutan tersebut, proses menentukan arah hidup, mulai dari pendidikan dan karier hingga pembentukan identitas diri, dapat menjadi tantangan tersendiri. Menjawab tantangan ini, Puan Bisa Festival 2026 mengusung tema “Brave to Step Back: RISE”, yang mengajak perempuan muda untuk mengambil jeda, merefleksikan pilihan, dan menentukan arah hidup secara lebih sadar melalui pendekatan Self-Determination Theory (SDT). Diselenggarakan secara luring pada Sabtu, 10 Oktober 2026, bertepatan dengan Hari Kesehatan Mental Sedunia, Puan Bisa Festival 202...

Emotional Agility: Cara Bijak Mengelola Emosi

Sumber:  aventislearning.com Puan, bagaimana kalau emosi bukan musuh yang harus dihindari, melainkan sahabat yang bisa memandu kita untuk mengambil keputusan yang lebih bijak? Setiap hari Puan berhadapan dengan emosi yang beragam: senang, cemas, marah, kecewa, sampai rasa tidak berdaya. Sering kali, Puan diajarkan untuk menekan emosi tertentu dan menampilkan emosi lain agar terlihat “baik-baik saja”. Masalahnya, cara ini justru membuat jadi makin lelah. Emosi jadi menumpuk dan akhirnya meledak. Di sisi lain, ada juga yang membiarkan emosi menguasai dirinya. Sedikit kritik bisa membuat patah semangat, atau kegagalan kecil terasa seperti bencana yang besar. Padahal, emosi bukan musuh yang harus dihindari maupun hal yang harus ditaati. Yang kita butuhkan bukan “ positivity berlebihan ”, melainkan keterampilan untuk merespons emosi secara sehat dan fleksibel. Keterampilan inilah yang disebut emotional agility . Apa Itu Emotional Agility? Konsep ini diperkenalkan oleh psikolog Susan Dav...

Intentional Pause: Berhenti Sejenak Bukan Berarti Menyerah

  Sumber: pexels.com Halo, Puan! Puan pernah gak sih merasa harus selalu produktif? Baru selesai satu target, Puan udah langsung memikirkan target berikutnya. Apalagi kalau Puan lihat pencapaian orang lain di media sosial, rasanya jadi pengen ikut lari lebih cepat biar gak ketinggalan. Bahkan ketika sedang beristirahat pun, bisa muncul perasaan bersalah karena merasa gak cukup produktif. Tanpa sadar, Puan telah hidup dalam ritme yang menuntut semuanya serba cepat, cepat sukses, cepat berkembang, cepat mengambil keputusan, dan cepat mencapai tujuan. Padahal, sometimes, the most productive thing you can do is simply pause. Di tengah kehidupan yang serba cepat ini, mengambil jeda secara sadar atau intentional pause bisa menjadi cara untuk refleksi dan kembali terhubung dengan diri sendiri. Bukan sekadar berhenti dari kesibukan, tapi memberi ruang untuk berpikir, merefleksikan keadaan, dan menentukan step atau goals berikutnya dengan lebih bijak. Intentional pause dapat membantu Puan...

I'm Not Mad at You, I'm Just in Pain.

sumber: pexels.com Kebanyakan dari Puan pasti pernah ngalamin saat lagi menstruasi: perut kram, pinggang pegal, dan rasanya ingin rebahan aja gitu seharian. Belum lagi dengan emosi yang tidak stabil, hal sekecil apapun pasti bisa berpotensi bikin Puan sebal, padahal biasanya Puan bisa lebih santai menghadapi hal yang sama. Kadang, Puan sendiri juga pasti bingung kan kenapa jadi lebih sensitif dari biasanya. Susah fokus ngerjain tugas karena sakit, diajak ngobrol rasanya nggak punya energi, atau tiba-tiba ingin nangis tanpa tahu harus menjelaskan apa. Di tengah rasa nggak nyaman itu, Puan mungkin jadi bertanya-tanya, “Kenapa rasanya jadi sedih banget ya? Kok jadi gampang banget emosi?” Padahal, ada kalanya tubuh Puan memang sedang menghadapi banyak perubahan. Rasa sakit, perubahan suasana hati, dan kondisi emosional bisa datang berbarengan; apalagi saat sedang menstruasi. And why is that? It's Not Just About the Cramps Selama menstruasi, rasanya bukan cuma perut yang ikut merasakan ...