“Everything we hear is an opinion, not a fact. Everything we see is a perspective, not the truth.” - Marcus Aurelius.
Puan, pernah nggak si merasa dinilai oleh orang lain dari “luarnya” aja?...
Orang lain mungkin berkomentar tentang kehidupan kita atau bahkan mereka bertanya-tanya siapa diri kita sebenarnya. Padahal mereka tidak benar-benar mengenal, mereka hanya sebatas melihat yang kemudian menjadikan sebuah penglihatan itu sebagai persepsi mereka sendiri terhadap diri kita.
Ada yang menilai sombong karena hanya diam, ada yang menganggap lemah hanya karena kita jarang membalas argumen, atau bahkan menyimpulkan hidup kita dari potongan atau serpihan-serpihan kecil cerita yang mereka dengar tentang kita. Rasanya menyakitkan, seolah-olah kita harus terus membuktikan siapa diri kita sebenarnya. Lama-lama hal ini bisa melelahkan baik secara mental maupun emosional. Bahkan itu bisa mengganggu aktivitas kita sehari-hari.
Di sinilah Self-acceptance memiliki peranan yang begitu besar. Melepaskan bukan berarti menyerah, melainkan memilih untuk tidak membiarkan opini orang lain masuk begitu saja ke dalam diri kita. Mulai menerima diri dan berdamai dengan diri sendiri dengan lebih mengenal “siapa kita sebenarnya”, tanpa harus menunggu validasi dari luar.
Apa sih Self-Acceptance itu?
Self-acceptance adalah kemampuan seseorang untuk menerima diri sendiri secara menyeluruh mulai dari menerima segala kekurangan, kesalahan, dan sifat-sifat yang dianggap negatif tanpa adanya penolakan atau penghakiman diri yang berlebihan.
Banyak dari kita yang masih kesulitan menerima diri sendiri karena seringkali terjebak dalam persepsi negatif orang lain. Kita takut dinilai buruk dan berusaha memenuhi standar yang tidak realistis. Padahal, persepsi atau penilaian orang lain hanyalah sebagian kecil perspektif yang belum tentu benar tentang diri kita. Jika terlalu bergantung pada persepsi negatif orang lain, kita bisa merasa low self-esteem, anxious, dan kehilangan rasa confidence dalam diri kita. Hal ini juga bisa memengaruhi kesehatan mental, memicu stress, hingga depresi.
Cara Melatih Self-Acceptance
Melepaskan diri dari persepsi negatif orang lain bukan berarti menyerah, melainkan memilih untuk tidak membiarkan hal tersebut menguasai diri. Dari sinilah pentingnya melatih Self acceptance secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari kita Puan. Lebih baik #MulaiAjaDulu daripada nggak sama sekali yang berujung penyesalan. Ini dia tips melatih self acceptance yang bisa puan lakukan!
Melatih mindfulness.
Dengan melatih mindfulness, kita belajar hadir sepenuhnya di momen saat ini, tanpa terbawa arus dari persepsi atau penilaian orang lain maupun pikiran negatif yang muncul di kepala kita setiap harinya.
Mengembangkan self-compassion.
Cara yang satu ini juga bisa membuat kita untuk menerima kekurangan diri sebagai bagian proses menjadi manusia atau individu yang lebih baik.
Menerima bahwa ketidaksempurnaan.
Hal ini bisa kita lakukan dengan memulai menuliskan afirmasi, diary, atau catatan kecil tentang keseharian kita. Dengan begitu dapat membantu menggeser fokus dari kekurangan menjadi kekuatan dan potensi diri.
Setting Boundaries.
Berani berkata “Tidak” pada situasi atau komentar yang merugikan kesehatan mental kita. Dengan demikian, kita tidak akan membiarkan opini atau persepsi orang lain masuk dan mendikte harga diri kita.
Dengan melatih hal-hal tersebut, kita bisa lebih berdamai dengan diri sendiri, mengenal siapa kita sebenarnya, dan tidak lagi terperangkap dalam bayang-bayang penilaian negatif orang lain. Kita tidak bisa menjadi seseorang yang disukai banyak orang. Pada akhirnya, self-acceptance akan membawa kebebasan mental dan kesejahteraan emosional.
Neff, K. D. (2011). Self-Compassion: An Alternative Conceptualization of a Healthy Attitude Toward Oneself.
Wood, J.V., Heimpel, S.A., & Michela, J.L. (2003). Savoring versus dampening: Self-esteem differences in regulating positive affect. Journal of Personality and Social Psychology, 84(1), 22-37.
Kabat-Zinn, J. (1990). Full Catastrophe
Living. Bantam Dell.
Gilbert, P. (2009). The Compassionate Mind. Constable & Robinson.

Komentar
Posting Komentar