Langsung ke konten utama

Self-Love di Era Digital: Mencintai Diri Sendiri di Tengah Gempuran Filter Media Sosial

Ilustrasi perempuan yang menerapkan self-love (talktoangel.com) Pernah nggak sih Puan lagi santai scrolling Instagram atau TikTok, terus tiba-tiba perasaan Puan berubah jadi down ? Buka akun si A, dia baru aja keterima magang di perusahaan multinasional. Geser ke story si B, dia lagi liburan di Bali. Buka TikTok si C, dia lagi share rutinitas glow up yang badannya kelihatan sempurna. Tanpa sadar, jari Puan berhenti bergerak, lalu muncul suara kecil di kepala: "Kok hidup orang lain sempurna banget ya? Kok aku gini-gini aja?" Selamat datang di era digital, di mana membandingkan diri ( social comparison ) bisa dilakukan hanya dalam satu kedipan mata. Di sinilah kenapa self-love atau mencintai diri sendiri bukan lagi sekadar tren atau kutipan keren di Pinterest, tetapi menjadi kebutuhan dasar untuk bertahan hidup secara mental. Kenapa sih menerapkan self-love di zaman sekarang itu susahnya minta ampun? Karena kita sering lupa kalau apa yang kita lihat di media sosial adalah h...

Letting Go: Seni Melepaskan & Menerima Diri di Tengah Persepsi Negatif Orang Lain.

 

Images by: SEVENKAY Inspiration

“Everything we hear is an opinion, not a fact. Everything we see is a perspective, not the truth. - Marcus Aurelius.

Puan, pernah nggak si merasa dinilai oleh orang lain dari “luarnya” aja?...

Orang lain mungkin berkomentar tentang kehidupan kita atau bahkan mereka bertanya-tanya siapa diri kita sebenarnya. Padahal mereka tidak benar-benar mengenal, mereka hanya sebatas melihat yang kemudian menjadikan sebuah penglihatan itu sebagai persepsi mereka sendiri terhadap diri kita. 

Ada yang menilai sombong karena hanya diam, ada yang menganggap lemah hanya karena kita jarang membalas argumen, atau bahkan menyimpulkan hidup kita dari potongan atau serpihan-serpihan kecil cerita yang mereka dengar tentang kita. Rasanya menyakitkan, seolah-olah kita harus terus membuktikan siapa diri kita sebenarnya. Lama-lama hal ini bisa melelahkan baik secara mental maupun emosional. Bahkan itu bisa mengganggu aktivitas kita sehari-hari.

Di sinilah Self-acceptance memiliki peranan yang begitu besar. Melepaskan bukan berarti menyerah, melainkan memilih untuk tidak membiarkan opini orang lain masuk begitu saja ke dalam diri kita. Mulai menerima diri dan berdamai dengan diri sendiri dengan lebih mengenal “siapa kita sebenarnya”, tanpa harus menunggu validasi dari luar.

Apa sih Self-Acceptance itu?

Self-acceptance adalah kemampuan seseorang untuk menerima diri sendiri secara menyeluruh mulai dari menerima segala kekurangan, kesalahan, dan sifat-sifat yang dianggap negatif tanpa adanya penolakan atau penghakiman diri yang berlebihan. 

Banyak dari kita yang masih kesulitan menerima diri sendiri karena seringkali terjebak dalam persepsi negatif orang lain. Kita takut dinilai buruk dan berusaha memenuhi standar yang tidak realistis. Padahal, persepsi atau penilaian orang lain hanyalah sebagian kecil perspektif yang belum tentu benar tentang diri kita. Jika terlalu bergantung pada persepsi negatif orang lain, kita bisa merasa low self-esteem, anxious, dan kehilangan rasa confidence dalam diri kita. Hal ini juga bisa memengaruhi kesehatan mental, memicu stress, hingga depresi. 

Cara Melatih Self-Acceptance

Melepaskan diri dari persepsi negatif orang lain bukan berarti menyerah, melainkan memilih untuk tidak membiarkan hal tersebut menguasai diri. Dari sinilah pentingnya melatih Self acceptance secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari kita Puan. Lebih baik #MulaiAjaDulu daripada nggak sama sekali yang berujung penyesalan. Ini dia tips melatih self acceptance yang bisa puan lakukan!

  • Melatih mindfulness.

Dengan melatih mindfulness, kita belajar hadir sepenuhnya di momen saat ini, tanpa terbawa arus dari persepsi atau penilaian orang lain maupun pikiran negatif yang muncul di kepala kita setiap harinya. 

  • Mengembangkan self-compassion.

Cara yang satu ini juga bisa membuat kita untuk menerima kekurangan diri sebagai bagian proses menjadi manusia atau individu yang lebih baik. 

  • Menerima bahwa ketidaksempurnaan.

Hal ini bisa kita lakukan dengan memulai menuliskan afirmasi, diary, atau catatan kecil tentang keseharian kita. Dengan begitu dapat membantu menggeser fokus dari kekurangan menjadi kekuatan dan potensi diri.

  • Setting Boundaries.

Berani berkata “Tidak” pada situasi atau komentar yang merugikan kesehatan mental kita. Dengan demikian, kita tidak akan membiarkan opini atau persepsi orang lain masuk dan mendikte harga diri kita.


Dengan melatih hal-hal tersebut, kita bisa lebih berdamai dengan diri sendiri, mengenal siapa kita sebenarnya, dan tidak lagi terperangkap dalam bayang-bayang penilaian negatif orang lain. Kita tidak bisa menjadi seseorang yang disukai banyak orang. Pada akhirnya, self-acceptance akan membawa kebebasan mental dan kesejahteraan emosional.



Referensi

Neff, K. D. (2011). Self-Compassion: An Alternative Conceptualization of a Healthy Attitude Toward Oneself. 

Wood, J.V., Heimpel, S.A., & Michela, J.L. (2003). Savoring versus dampening: Self-esteem differences in regulating positive affect. Journal of Personality and Social Psychology, 84(1), 22-37. 

Kabat-Zinn, J. (1990). Full Catastrophe Living. Bantam Dell.

Gilbert, P. (2009). The Compassionate Mind. Constable & Robinson.


Author & Editor: Lilian Deha

Komentar

Rubik Puan Popular

Self-Love di Era Digital: Mencintai Diri Sendiri di Tengah Gempuran Filter Media Sosial

Ilustrasi perempuan yang menerapkan self-love (talktoangel.com) Pernah nggak sih Puan lagi santai scrolling Instagram atau TikTok, terus tiba-tiba perasaan Puan berubah jadi down ? Buka akun si A, dia baru aja keterima magang di perusahaan multinasional. Geser ke story si B, dia lagi liburan di Bali. Buka TikTok si C, dia lagi share rutinitas glow up yang badannya kelihatan sempurna. Tanpa sadar, jari Puan berhenti bergerak, lalu muncul suara kecil di kepala: "Kok hidup orang lain sempurna banget ya? Kok aku gini-gini aja?" Selamat datang di era digital, di mana membandingkan diri ( social comparison ) bisa dilakukan hanya dalam satu kedipan mata. Di sinilah kenapa self-love atau mencintai diri sendiri bukan lagi sekadar tren atau kutipan keren di Pinterest, tetapi menjadi kebutuhan dasar untuk bertahan hidup secara mental. Kenapa sih menerapkan self-love di zaman sekarang itu susahnya minta ampun? Karena kita sering lupa kalau apa yang kita lihat di media sosial adalah h...

Membaca Buku: Cara Mudah dan Murah untuk Menjaga Mental Health

Ilustrasi seseorang yang sedang membaca buku (unsplash.com) Hai Puan! Akhir-akhir ini, kegiatan membaca buku jadi tren yang dinikmati oleh berbagai kalangan. Banyak orang yang mulai tertarik dengan tren literasi di media sosial. Apalagi saat ini banyak sekali akun influencer pecinta buku yang aktif mengunggah konten terkait ulasan buku di media sosial, seperti Instagram, TikTok, dan X.  Hal ini menyebabkan seseorang yang awalnya belum suka atau belum tertarik membaca buku dapat terpengaruh. Tak jarang, beberapa orang hanya membaca karena ikut-ikutan dan takut tertinggal tren. Padahal, meneruskan kebiasaan membaca tidak hanya meningkatkan pengetahuan, tetapi juga bisa bermanfaat untuk kesehatan, khususnya kesehatan mental. Beberapa manfaat membaca buku bagi kesehatan mental yang harus Puan ketahui: 1. Membaca buku dapat mengurangi stres.   Penelitian menunjukkan bahwa membaca hanya enam menit dalam sehari dapat mengurangi tingkat stres hingga 60% dengan menurunkan detak jantun...

Siaran Pers From Visible to Stand Out: Cara bikin HR “Ngeh” sama Profilmu di Puan Bisa Learning Space

28 Maret 2026 - Puan Bisa kembali hadirkan Learning Space bertema “ Early Career Branding: Crafting Your CV & LinkedIn for Visibility and Opportunity ” yang mengundang Kak Maria Qibtiyah, Human Capital Consultant dari PT Bitama sebagai pembicara. Program ini berhasil menjangkau puluhan peserta dari seluruh Indonesia melalui Online Zoom . Puan Bisa juga menggaet komunitas Grow Bareng sebagai kolaborator. Learning Space ini menjadi cara meningkatkan kemampuan personal branding , khususnya dalam pembuatan CV dan optimalisasi LinkedIn agar dapat membantu mahasiswa maupun pekerja muda untuk siap bekerja. Learning Space dihadirkan sebagai respons dari kebutuhan untuk meningkatkan personal branding di kalangan mahasiswa dan pekerja muda. Sebanyak 50 perempuan muda menerima dampak acara ini dan memberikan banyak feedback positif “ Dampak yang saya rasakan adalah dengan lebih mengetahui kelebihan dan kelemahan diri sendiri, yang memungkinkan peningkatan kualitas hidup ”,  ucap Ka...

Sambut Tahun Ajaran Baru, Hoshizora Foundation Kembali Perluas Kesempatan Anak Lanjut Sekolah Lewat Pembukaan Beasiswa Mimpi Anak Negeri 2026

Yogyakarta, Juli 2026 – Setiap anak berhak memiliki kesempatan yang sama untuk meraih masa depan melalui pendidikan berkualitas. Untuk mewujudkan komitmen tersebut, Hoshizora Foundation kembali membuka pendaftaran Beasiswa Mimpi Anak Negeri (BMAN) 2026 yang berlangsung pada 6 hingga 19 Juli 2026. Program beasiswa ini ditujukan bagi siswa/i kelas IV SD hingga kelas X SMA yang akan segera memasuki tahun ajaran baru 2026/2027. Fokus menargetkan anak-anak dari keluarga pra sejahtera di seluruh Indonesia, Hoshizora Foundation membuka kesempatan dukungan pendidikan bagi siswa yang memiliki semangat belajar tinggi dan memiliki keinginan kuat meraih cita-cita, walaupun di tengah keterbatasan ekonomi.  Beasiswa Mimpi Anak Negeri merupakan salah satu program utama Hoshizora Foundation sejak 2006 yang tidak hanya memberikan bantuan biaya pendidikan, tetapi juga memfasilitasi pendampingan secara berkelanjutan kepada penerima beasiswa hingga mereka menyelesaikan pendidikan jenjang menengah ata...

Kenapa Kita Sering Bertindak Tanpa Berpikir Panjang? Yuk Kenalan Sama Perilaku Impulsif!

  Image by:  Headspace.com Puan pernah nggak sih tiba-tiba beli sesuatu yang sebenernya nggak butuh-butuh amat cuma karena lagi diskon? Atau mungkin langsung nge-reply chat dengan emosi tanpa mikir dulu bakal nyakitin orang atau nggak? Nah, perilaku kayak gini namanya impulsif. Meskipun kadang terlihat spontan dan fun , kalau terlalu sering, impulsif bisa bikin hidup kita berantakan, dari keuangan sampai hubungan dengan orang lain. Baca Juga:  Why Feeling Lost Can Be Part of Finding Yourself Apa Itu Perilaku Impulsif? Menurut Verywell Mind, impulsivitas atau perilaku impulsif didefinisikan secara luas sebagai tindakan tanpa perencanaan yang kurang dipikirkan matang, diekspresikan secara prematur, terlalu berisiko, dan tidak sesuai dengan situasinya. Perilaku impulsif ini dikaitkan dengan hasil yang tidak diinginkan, bukan yang diharapkan. Jadi orang yang impulsif ini sering bertindak berdasarkan keinginan atau emosi sesaat, tanpa jeda untuk mikir konsekuensinya. Kenapa O...