Langsung ke konten utama

Dari “Am I good enough to be here?” Coba Ubah Menjadi “What can I learn from being here?”

Source: https://pin.it/7KvGUIMRo  Bayangin Puan masuk ke sebuah ruangan dan semua orang terlihat lebih pintar, lebih berpengalaman, lebih percaya diri daripada Puan. Lalu muncul satu pikiran: “ Aku sebenarnya pantas nggak sih ada di sini? ” Puan sering menganggap perasaan itu tanda bahwa Puan salah tempat. Padahal, What if rasa nggak nyaman itu muncul karena Puan sedang berada di tempat yang membuat Puan berkembang? Mengenal Imposter Syndrome Perasaan seperti “aku nggak pantas ada di sini” sering dikaitkan dengan Imposter syndrome . Secara sederhana, Imposter syndrome adalah kondisi ketika seseorang terus meragukan kemampuan atau pencapaiannya sendiri dan merasa bahwa keberhasilan yang didapat sebenarnya bukan karena kemampuan mereka. Misalnya, Puan berhasil meraih sesuatu. Bukannya merasa bangga, Puan malah berpikir kalau itu cuma keberuntungan. Akhirnya Puan sering membandingkan diri sendiri dengan mereka dan merasa tertinggal. Namun, disinilah Puan perlu melihat perasaan t...

Business Mindset untuk Daily Life: Cara Berpikir Strategis dalam Menjalani Hidup

Puan Bisa - Business Mindset untuk Daily Life: Cara Berpikir Strategis dalam Menjalani Hidup
image by RDNE Stock project

Puan, pernah nggak sih ngerasa sibuk dan banyak ikut kegiatan, tapi ujung-ujungnya masih ngerasa ‘what am I really building?

Di dunia bisnis ada yang namanya Business Mindset. Dalam mindset ini tuh nggak cuma soal target, profit, atau strategi perusahaan. Intinya, ini tentang cara berpikir yang terarah, proaktif, dan adaptif

Prinsip-prinsip ini nggak cuma berlaku untuk perusahaan, tapi juga bisa langsung diterapin di kehidupan sehari-hari. Misalnya, supaya Puan bisa:

  • Nggak cuma sibuk, tapi tahu prioritas dan arah.
  • Berpikir analitis sebelum mengambil keputusan.
  • Mengelola hidup dan tujuan seperti proyek nyata.
  • Tetap fleksibel dan komunikatif di tengah perubahan.

Baca juga: Soft Skill, Kunci Bertahan Puan di Dunia Nyata

Nah, supaya nggak cuma teori aja, kita langsung masuk ke beberapa mindset kunci yang bisa Puan terapkan mulai sekarang.

1. Proaktif: Jangan Cuma Nunggu Kesempatan

Menurut Future of Jobs Report 2023 dari World Economic Forum, keterampilan yang paling dibutuhkan di masa depan itu analytical thinking dan active learning.

Artinya, dunia nggak lagi cuma butuh orang yang nurut intruksi, tapi mereka yang berani bergerak duluan. Dalam praktiknya: mengajukan ide tanpa harus diminta, cari feedback untuk belajar lebih cepat, dan belajar skill baru sebelum benar-benar dibutuhkan.

Proaktif bukan cuma "sibuk aja," tapi menciptakan peluang bagi diri sendiri.

2. Analytical dan Strategic Thinking: Nggal Asal Jalan

Puan, dalam Business Mindset kita diajarkan buat nggak cuma ngejalanin hidup. Strategic thinking itu kayak peta yang membantu kita mengerti kemana langkah kita selanjutnya.

Menurut Harvard Business Review, strategic thinking atau berpikir strategis bukan sekadar melakukan pekerjaan sehari-hari, tapi melihat gambaran besar terlebih dahulu, menentukan mana yang prioritas, dan mempertimbangkan dampak jangka panjang dari setiap keputusan.

Contohnya:

  • Sebelum mengambil keputusan, tanyain ke diri sendiri: Ini bakal bawa aku kemana satu samapai tiga tahun ke depan?
  • Analisis opsi dengan mempertimbangkan pro dan kontra, jangan asal ikut arus. 

Hal ini membuat kita nggak cuma bergerak, tapi bergerak dengan arah.

3. Mengelola Hidup Seperti Proyek

Di dunia bisnis, tiap proyek pasti ada perencanaan, eksekusi, dan evaluasi. Project Management Institue (PMI) menyatakan hal ini penting supaya tujuan tercapai.

Di hidup kita, hal ini bisa diterjemahkan menjadi:

  • Target karier yang dibagi menjadi skill yang perlu dipelajari.
  • Target belajar dicapai dengan menyusun timeline dan melewati milestone.
  • Target pribadi dapat dicek progresnya secara berkala.

Dengan cara ini, niat nggak cuma berhenti di motivasi sesaat. Semua langkah jadi lebih terstruktur.

4. Komunikatif dan Adaptif: Bertumbuh di Dunia yang Berubah

McKinsey & Company menekankan bahwa kemampuan komunikasi dan adaptasi penting banget di dunia yang cepat berubah.

Di kehidupan sehari-hari:

  • Komunikasi bukan cuma ngomong, tapi mengerti orang lain juga.
  • Adaptasi bukan berarti kehilangan prinsip, tapi bisa fleksibel ketika situasi berubah.
  • Kolaborasi itu tentang saling mendukung dan petumbuhan.
Jadi, bukan cuma sibuk sendiri. Kita tumbuh bareng lingkungan.

Business Mindset dalam daily life bukan soal jadi robot produktif dan bukan soal menjadikan hidup kompetitif atau transaksional. Ini soal: lebih sadar dalam mengambil keputusan, lebih terarah dalam bertumbuh, dan lebih adaptatif dalam menghadapi perubahan.

Puan, hidup yang berkembang bukan yang paling sibuk, tapi yang paling terarah dan bermakana.


Referensi: 

Author & Editor: Daru Sekar Arum

Puan Bisa merupakan komunitas yang bergerak di bidang pemberdayaan perempuan dengan fokus: Mental Health, Karier, dan Self-Improvement.


Komentar

Rubik Puan Popular

Takut Ditolak Orang Lain Sampai Takut dengan Diri Sendiri? Yuk, Pahami Respons Fawn

Source: Magnific Apakah Puan pernah merasa sulit menolak permintaan orang lain, meski sebenarnya sedang lelah? Atau lebih memilih mengalah agar tidak cekcok dengan orang lain? Jika iya, mungkin Puan sedang mengalami respons fawn .  Di mata orang lain, selalu mengalah sering dipandang sebagai tanda bahwa seseorang itu baik hati, penyabar, dan sering bisa diandalkan. Padahal, tidak semua sikap tersebut muncul karena keinginan sendiri.  Ada kalanya Puan terus berusaha menyenangkan orang lain karena merasa itu adalah satu-satunya cara agar diterima, disukai, atau dijauhkan dari perselisihan. Jika kebiasaan ini dilakukan terus-menerus hingga mengabaikan kebutuhan diri sendiri, bisa jadi itu merupakan salah satu tanda dari respons fawn . Apa Itu Respons Fawn Respons fawn adalah kecenderungan untuk selalu menyenangkan orang lain demi menghindari penolakan, konflik, atau kemarahan. Puan dengan respons ini biasanya rela mengesampingkan kebutuhan dan perasaannya sendiri agar tetap...

Portfolio 101: Mulai Dari Mana, Ya?

source: https://pin.it/30ORZCIja Puan pasti sudah tidak asing lagi dengan istilah portofolio . Namun, pernahkah Puan bertanya-tanya, mengapa portofolio menjadi salah satu hal yang hampir selalu diminta dalam proses rekrutmen? Sederhananya, portofolio adalah kumpulan pengalaman, karya, dan pencapaian yang disusun secara menarik agar orang lain dapat melihat kemampuan yang Puan miliki. Melalui portofolio, recruiter tidak hanya membaca apa yang Puan tuliskan di CV, tetapi juga dapat melihat bukti nyata dari apa yang pernah Puan kerjakan. Inilah mengapa portofolio menjadi begitu penting. Portofolio membantu recruiter menilai sejauh mana kemampuan, pengalaman, dan potensi Puan sesuai dengan posisi yang dilamar. Semakin relevan pengalaman yang ditampilkan, semakin besar pula kesempatan Puan untuk meninggalkan kesan yang baik. Jadi, bagaimana membuat portofolio Puan tampak berkesan dan valuable ? Tenang, Puan, bikin portofolio sekarang nggak sesulit yang dibayangkan, kok. Bahkan, kalau belum...

Learning Space Puan Bisa : Kenapa Banyak Perempuan Muda Susah Keluar Dari Problematika Karir?

Jakarta, 7 Februari 2026 - Puan Bisa, komunitas berbasis pemberdayaan perempuan muda Indonesia, memetakan permasalahan terkait dengan dinamika psikologi perempuan muda dalam menghadapi crisis identity khususnya berkaitan dengan arah karir. Hal ini mengakibatkan lebih dari 80% perempuan muda Indonesia mengalami demotivated, overthinking, resah, tidak percaya diri, dan dampak buruk lainnya. Berangkat dari pemetaan permasalahan tersebut, Puan Bisa mengadakan acara Learning Space Puan Bisa 2026 berkolaborasi dengan awardee Puan Bisa Festival 2025 dengan tema "Gap Between Hustle & Reality: Why Young Professionals Feels Stucks in Their Careers" yang dihadiri oleh dari 10 perempuan muda. Puan Bisa merupakan komunitas pemberdayaan perempuan muda Indonesia yang berdiri sejak 1 Oktober 2020. Puan Bisa memiliki fokus pada self-improvement, career, dan mental health. Melalui berbagai program pemberdayaan, Puan Bisa hadir memiliki tujuan untuk menginspirasi dan mengedukasi perempuan m...

Phubbing: Kebiasaan Buruk yang Menurunkan Kualitas Interaksi dengan Lawan Bicara

Ilustrasi seseorang yang merasakan phubbing. (halodoc.com) Di era digital seperti sekarang, HP telah menjadi bagian yang sulit dipisahkan dari kehidupan sehari-hari. Bahkan, hampir sepanjang waktu tangan kita tidak terlepas dari HP. Meski memberikan kemudahan dalam berkomunikasi dan mengakses informasi, penggunaan HP yang berlebihan juga dapat memengaruhi kualitas interaksi dengan orang di sekitar.  Salah satu perilaku yang semakin sering ditemui adalah phubbing , yaitu kebiasaan lebih fokus pada smartphone daripada orang yang sedang diajak berbicara secara langsung. Apa Itu Phubbing? Sederhananya, phubbing merupakan perilaku mengabaikan lawan bicara yang sedang berada di hadapan kita dengan sibuk menyibukkan perhatian pada HP. Perilaku ini tentunya tidak mencerminkan etika berkomunikasi yang baik, loh Puan. Dalam kehidupan sehari-hari, bentuk perilaku phubbing tidak hanya digambarkan dengan seseorang yang sibuk membalas chat . Adapun kebiasaan lainnya, seperti membuka media sosia...

Dari “Am I good enough to be here?” Coba Ubah Menjadi “What can I learn from being here?”

Source: https://pin.it/7KvGUIMRo  Bayangin Puan masuk ke sebuah ruangan dan semua orang terlihat lebih pintar, lebih berpengalaman, lebih percaya diri daripada Puan. Lalu muncul satu pikiran: “ Aku sebenarnya pantas nggak sih ada di sini? ” Puan sering menganggap perasaan itu tanda bahwa Puan salah tempat. Padahal, What if rasa nggak nyaman itu muncul karena Puan sedang berada di tempat yang membuat Puan berkembang? Mengenal Imposter Syndrome Perasaan seperti “aku nggak pantas ada di sini” sering dikaitkan dengan Imposter syndrome . Secara sederhana, Imposter syndrome adalah kondisi ketika seseorang terus meragukan kemampuan atau pencapaiannya sendiri dan merasa bahwa keberhasilan yang didapat sebenarnya bukan karena kemampuan mereka. Misalnya, Puan berhasil meraih sesuatu. Bukannya merasa bangga, Puan malah berpikir kalau itu cuma keberuntungan. Akhirnya Puan sering membandingkan diri sendiri dengan mereka dan merasa tertinggal. Namun, disinilah Puan perlu melihat perasaan t...