Langsung ke konten utama

Satu Buket, Banyak Cerita : Puan Bisa Hadirkan Pengalaman Kreatif untuk Perempuan Muda

Keseruan Learning Space bersama Kak Azza pada Minggu (24/5) 24 Mei 2026 - Puan Bisa kembali hadirkan Learning Space bertema “ Artificial Flower Market & Self - Workshop : Arrange Your Own Growth ” pada Minggu (24/5) di Kopi Lupi. Mengundang Kak Azza, Owner dari BQ Florist sebagai pembicara, workshop ini berhasil menjangkau 24 peserta dari kawasan Jabodetabek. Menggaet BQ Florist sebagai kolaborator, Learning Space kali ini memberikan pengalaman kreatif dengan merangkai bunga secara mandiri.  Mengusung tema Bloom Your Story , peserta diajak memilih sendiri bunga yang ingin dirangkai sesuai dengan karakter dan preferensi masing - masing individu. Sebelum sesi dimulai, peserta mendapatkan tutorial langsung dari Kak Azza agar dapat memahami teknik dasar merangkai bunga sebelum menciptakan karya mereka sendiri. Salah satu peserta, Kak Friska, membagikan pengalaman berkesan selama mengikuti workshop ini, “First time, aku bikin bunga buket dan tentunya disini banyak pilihannya. dan...

Business Mindset untuk Daily Life: Cara Berpikir Strategis dalam Menjalani Hidup

Puan Bisa - Business Mindset untuk Daily Life: Cara Berpikir Strategis dalam Menjalani Hidup
image by RDNE Stock project

Puan, pernah nggak sih ngerasa sibuk dan banyak ikut kegiatan, tapi ujung-ujungnya masih ngerasa ‘what am I really building?

Di dunia bisnis ada yang namanya Business Mindset. Dalam mindset ini tuh nggak cuma soal target, profit, atau strategi perusahaan. Intinya, ini tentang cara berpikir yang terarah, proaktif, dan adaptif

Prinsip-prinsip ini nggak cuma berlaku untuk perusahaan, tapi juga bisa langsung diterapin di kehidupan sehari-hari. Misalnya, supaya Puan bisa:

  • Nggak cuma sibuk, tapi tahu prioritas dan arah.
  • Berpikir analitis sebelum mengambil keputusan.
  • Mengelola hidup dan tujuan seperti proyek nyata.
  • Tetap fleksibel dan komunikatif di tengah perubahan.

Baca juga: Soft Skill, Kunci Bertahan Puan di Dunia Nyata

Nah, supaya nggak cuma teori aja, kita langsung masuk ke beberapa mindset kunci yang bisa Puan terapkan mulai sekarang.

1. Proaktif: Jangan Cuma Nunggu Kesempatan

Menurut Future of Jobs Report 2023 dari World Economic Forum, keterampilan yang paling dibutuhkan di masa depan itu analytical thinking dan active learning.

Artinya, dunia nggak lagi cuma butuh orang yang nurut intruksi, tapi mereka yang berani bergerak duluan. Dalam praktiknya: mengajukan ide tanpa harus diminta, cari feedback untuk belajar lebih cepat, dan belajar skill baru sebelum benar-benar dibutuhkan.

Proaktif bukan cuma "sibuk aja," tapi menciptakan peluang bagi diri sendiri.

2. Analytical dan Strategic Thinking: Nggal Asal Jalan

Puan, dalam Business Mindset kita diajarkan buat nggak cuma ngejalanin hidup. Strategic thinking itu kayak peta yang membantu kita mengerti kemana langkah kita selanjutnya.

Menurut Harvard Business Review, strategic thinking atau berpikir strategis bukan sekadar melakukan pekerjaan sehari-hari, tapi melihat gambaran besar terlebih dahulu, menentukan mana yang prioritas, dan mempertimbangkan dampak jangka panjang dari setiap keputusan.

Contohnya:

  • Sebelum mengambil keputusan, tanyain ke diri sendiri: Ini bakal bawa aku kemana satu samapai tiga tahun ke depan?
  • Analisis opsi dengan mempertimbangkan pro dan kontra, jangan asal ikut arus. 

Hal ini membuat kita nggak cuma bergerak, tapi bergerak dengan arah.

3. Mengelola Hidup Seperti Proyek

Di dunia bisnis, tiap proyek pasti ada perencanaan, eksekusi, dan evaluasi. Project Management Institue (PMI) menyatakan hal ini penting supaya tujuan tercapai.

Di hidup kita, hal ini bisa diterjemahkan menjadi:

  • Target karier yang dibagi menjadi skill yang perlu dipelajari.
  • Target belajar dicapai dengan menyusun timeline dan melewati milestone.
  • Target pribadi dapat dicek progresnya secara berkala.

Dengan cara ini, niat nggak cuma berhenti di motivasi sesaat. Semua langkah jadi lebih terstruktur.

4. Komunikatif dan Adaptif: Bertumbuh di Dunia yang Berubah

McKinsey & Company menekankan bahwa kemampuan komunikasi dan adaptasi penting banget di dunia yang cepat berubah.

Di kehidupan sehari-hari:

  • Komunikasi bukan cuma ngomong, tapi mengerti orang lain juga.
  • Adaptasi bukan berarti kehilangan prinsip, tapi bisa fleksibel ketika situasi berubah.
  • Kolaborasi itu tentang saling mendukung dan petumbuhan.
Jadi, bukan cuma sibuk sendiri. Kita tumbuh bareng lingkungan.

Business Mindset dalam daily life bukan soal jadi robot produktif dan bukan soal menjadikan hidup kompetitif atau transaksional. Ini soal: lebih sadar dalam mengambil keputusan, lebih terarah dalam bertumbuh, dan lebih adaptatif dalam menghadapi perubahan.

Puan, hidup yang berkembang bukan yang paling sibuk, tapi yang paling terarah dan bermakana.


Referensi: 

Author & Editor: Daru Sekar Arum

Puan Bisa merupakan komunitas yang bergerak di bidang pemberdayaan perempuan dengan fokus: Mental Health, Karier, dan Self-Improvement.


Komentar

Rubik Puan Popular

2026 The New 2016: Apa itu Nostalgia?

(Gambar: Lemon 8) Apakah Puan saat ini familiar dengan pembahasan 2026 adalah  the new 2016 ?  Banyak orang yang kembali membahas trend yang beredar di tahun 2016 mulai dari fashion hingga aplikasi Tumblr. Istilah ini mengacu kepada budaya digital dan pop culture 2016 yang kembali populer di awal tahun 2026.  Puan mungkin bertanya-tanya, mengapa spesifik tren di 2016. Menurut Ibcomagazine, tren biasanya menjalankan sistem aturan 20 tahun sekali.Maksudnya adalah setiap 20 tahun sekali tren yang ada pada generasi sebelumnya akan muncul pada generasi baru. Contohnya seperti anak-anak di tahun 2000-an yang suka dengan gaya hidup ( lifestyle ) remaja di era tahun 80-han.  Tapi itu dulu. Dulu tren membutuhkan waktu 20 tahun untuk kembali. Sekarang? Peran media sosial memangkasnya menjadi 10 tahun jadinya kita memandang 2026 dan 2016 sebagai era yang berbeda, dan didorong rasa nostalgia kita semakin ingin kembali ke kehidupan dan lifestyle di 2016.  Selain itu, dilan...

Katanya Harus Cari Passion, Tapi Kok Malah Makin Bingung?

 " Cari passion dulu, baru cari kerja.” Kalimat itu mungkin sering Puan dengar. Dari dosen, orang tua, sampai konten di media sosial. Tapi bukannya merasa tercerahkan, banyak dari kita justru jadi bertanya-tanya, “Kalau aku belum tahu passion-ku, berarti aku belum siap memulai karier?” Kalau Puan pernah berpikir seperti itu, tenang. Puan nggak sendirian. Faktanya, membangun karier nggak selalu dimulai dengan menemukan passion. Justru, banyak orang baru benar-benar menemukan apa yang mereka sukai setelah berani mencoba berbagai pengalaman. Passion Nggak Selalu Datang di Awal Belakangan, topik tentang passion dan karier semakin sering dibahas, terutama oleh Gen Z. Namun, menurut Kompas.com, memilih karier bukan hanya soal mengikuti passion , tetapi juga mempertimbangkan peluang berkembang, kondisi finansial, dan tujuan hidup.   Artinya, nggak ada satu rumus yang berlaku untuk semua orang. Kalau hari ini Puan masih bingung menentukan arah, itu bukan berarti Puan tertinggal....

Fenomena Doom Scrolling, Kebiasaan yang Bikin Burn Out

  " Scroll bentar deh.." Terus tanpa sadar mata mulai berat, tangan pegal, dan lupa waktu sendiri. Pernah ngalamin hal serupa? Kalau iya, berarti Puan lagi ngalamin yang namanya doom scrolling . Doom scrolling itu kalau Puan terus-terusan mengonsumsi informasi, terutama berita negatif yang ada pada sosial media. Menurut Cambdrige Dictionary , kata "Doomscr oll" mengacu kepada tindakan  terlalu sering menatap layar  untuk membaca berita buruk atau kurang  berbobot.  Nah, dari sini mungkin banyak Puan yang jadi ngerti apa itu doom scrolling , istilah yang belakangan sering muncul di internet. Kalau kita teliti, lagi  penyebabnya nggak bakalan lepas dari ketergantungan kita  pada handphone .  Hampir setiap hari kita menerima banyak pesan notifikasi. Terlepas  isinya penting atau tidak terlalu penting secara refleks pasti kita cek kalau dibiarkan menimbulkan rasa cemas atau anxiety,   seakan ada hal tertinggal jika kita tidak membuka lay...

Bicara pada Diri Sendiri: Bermanfaat atau Berbahaya?

  Photo by Tara Winstead Tanpa sadar, kita terkadang mendapati diri sedang berbicara sendirian. Pernah tiba-tiba bergumam, "Oke, waktunya kita makan," atau bertanya seolah ada orang lain di dalam diri kita, "Eh, ini lokasinya benar gak, ya?" Entah itu bergumam saat kebingungan, memberikan motivasi saat kesulitan, atau menyuarakan isi pikiran seperti sedang berada di acara podcast , semua itu sangat wajar dan normal . Berbicara pada diri sendiri bisa menjadi alat komunikasi internal yang kuat. Kebiasaan ini juga dikenal dengan istilah self-talk dalam psikologi. Menariknya, seiring bertambah dewasa, frekuensi berbicara pada diri sendiri cenderung berkurang, tidak seintens saat kita masih kecil. Apa itu self-talk? Self-talk atau bicara sendirian adalah cara kita berkomunikasi pada diri sendiri, baik itu dalam hati atau diucapkan dengan keras. Kebiasaan ini punya pengaruh besar terhadap cara kita berpikir, merasakan, dan bertindak. Oleh karena itu, penting sekali untu...

“I Wish I Knew When I Was 20” Memahami Hidup Mulai dari Usia 20 Tahun

  Buku "What I Wish I Knew When I Was 20" karya Prof. Tina Seelig (Amazon.com) Menginjak usia 20 terlihat menyenangkan karena Puan telah memiliki kebebasan atas diri sendiri. Di usia muda, tubuh Puan masih bertenaga maksimal dan optimal, pikiran masih fresh , ide-ide yang dikeluarkan masih up to date , intinya Puan lagi ada di masa-masa emas untuk mengembangkan suatu hal. Namun, yang jarang terlihat adalah masa saat Puan merasa clueless akan hidup Puan sendiri untuk memutuskan karir dan perjalanan hidup Puan ke depannya. Baca juga: Motivasi Bukan Ditunggu, tapi Dicari Lewat Aksi Lalu, apa saja sebenarnya hal yang harus dipahami untuk menjalani hidup saat menginjak usia 20 tahun? Mengutip dari buku “What I Wish I Knew When I Was 20” karya Prof. Tina Seelig ada beberapa hal yang dapat Puan lakukan: Jangan Menunggu, Tapi Ciptakan! Seringkali Puan berpikir untuk menunggu kesempatan datang, menunggu orang lain yang membukanya, menunggu offering yang datang. Padahal, Puan bisa men...