Langsung ke konten utama

Mengupas High Functioning Anxiety Lewat Buku “I Want To Die But I Want To Eat Tteokpokki”

  Menjadi perempuan muda yang aktif, punya banyak kegiatan organisasi, dan tetap menjaga nilai akademik biar selalu lancar tentu jadi hal yang membanggakan. Gak heran kalau kita selalu berusaha memberikan yang terbaik dan tetap tersenyum ramah di tengah padatnya jadwal sehari-hari. Tapi jujur deh, pernah gak sih Puan merasa kalau semua keproduktifan dan senyuman itu sebenarnya cuma tameng biar kita kelihatan tangguh? Begitu malam tiba dan sendirian di kamar, rasa hampa dan lelah yang luar biasa itu sering kali datang dan susah untuk dihindari. Fenomena ketika kita tetap bersikap normal di luar padahal yang sebenarnya sedang merasa cemas ini disebut sebagai masking atau high functioning anxiety . Isu inilah yang dibahas secara gamblang dalam buku “I Want To Die but I Want To Eat Tteokbokki” karya Baek Sehee. Setiap Luka Punya Hak untuk Merasa Sakit Sering kali kita merasa cemas atau bersalah karena menganggap masalah kita sepele dibanding orang lain. Padahal, buku ini mengingatkan ...

Soft Skill, Kunci Bertahan Puan di Dunia Nyata

 


Puan, coba deh jujur, apakah Puan pernah merasa gugup waktu disuruh presentasi? Atau bingung harus gimana saat ada konflik di kelompok tugas? Padahal nilai Puan bagus, tugas selalu selesai tepat waktu, tapi kok tetap merasa kurang siap masuk dunia nyata?

Nah, bisa jadi Puan belum banyak dapet bekal soft skill.

Apa Sih Sebenarnya Soft Skill Itu?

Soft skill itu bukan soal pintar matematika, jago coding, atau hapal teori. Soft skill adalah kemampuan yang berhubungan dengan cara kita berinteraksi dengan orang lain, bagaimana kita berpikir, berkomunikasi, dan mengelola diri sendiri dalam berbagai situasi.

Bayangin deh, Puan kerja di sebuah tim. Tugasnya nggak terlalu sulit, tapi ternyata lebih susah kerja bareng orang yang beda gaya, beda opini, bahkan kadang nggak enakan. Nah, disinilah soft skill mulai terasa penting. Gimana cara menyampaikan ide dengan jelas, cara berkompromi, mendengar, dan menyelesaikan konflik, semua itu termasuk soft skill.

Beberapa contoh soft skill yang sering kali dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari dan dunia kerja adalah:

  • Kemampuan komunikasi yang jelas dan efektif, supaya ide Puan bisa diterima orang lain dengan baik.

  • Kerja sama tim, karena nggak semua hal bisa diselesaikan sendirian.

  • Manajemen waktu, supaya Puan bisa produktif tanpa burnout.

  • Berpikir kritis dan problem solving, untuk ngambil keputusan secara rasional, apalagi pas situasi mendesak.

  • Leadership, bisa mengarahkan dan mengayomi teman satu tim.

  • Adaptasi dan fleksibilitas, karena dunia terus berubah Puan harus bisa menyesuaikan diri.

  • Empati dan kecerdasan emosional. Bisa mengerti perasaan orang lain itu penting banget biar nggak bikin suasana jadi tegang terus.

Skill-skill ini termasuk yang paling dicari sama perusahaan, bahkan sering kali dianggap lebih penting dibanding nilai akademik atau kemampuan teknis. Karena sejago apapun, kalau nggak bisa kerja sama tim atau nggak paham cara komunikasi yang baik, hasil kerjanya bisa jadi nggak maksimal.

Kalau Nggak Dilatih, Apa Dampaknya?

Ketika soft skill nggak jadi bagian dari proses belajar, banyak dari kita akhirnya merasa kurang siap menghadapi dunia nyata. Jadi gampang kewalahan saat harus kerja bareng orang lain, kesulitan menyampaikan ide, atau bingung mengatur waktu antara tanggung jawab dan istirahat. Kita bisa saja terlihat pintar diatas kertas, tapi sulit diterima di lingkungan kerja atau komunitas karena kurang fleksibel atau nggak peka secara emosional.

Lalu, Gimana Cara Belajar Soft Skill?

Tapi tenang, belajar soft skill nggak harus nunggu diajarin, kok. Puan bisa mulai dari hal-hal sederhana. 

  • Terlibat di kegiatan sosial atau komunitas. Entah itu jadi panitia, volunteer, atau proyek bareng teman, disanalah skill seperti kerja tim, komunikasi, dan kepemimpinan bisa diasah.

  • Belajar mendengar dan memberi feedback. Diskusi yang sehat membuat Puan lebih terbuka, empati, dan nggak cepat defensif.

  • Latih diri mengatur waktu. Gunakan catatan harian, to-do list, atau teknik Pomodoro buat mengatur fokus dan energi.

  • Cari ilmu dari mana saja. Banyak konten berkualitas di YouTube, podcast, atau kelas online yang bantu Puan belajar komunikasi, problem solving, sampai self-awareness.

  • Berani ambil tantangan kecil. Semakin sering keluar dari zona nyaman, semakin cepat juga Puan berkembang.

Kadang, hidup nggak cuma soal nilai bagus atau seberapa banyak yang Puan tahu, tapi Puan butuh lebih dari itu, bagaimana bisa kerja bareng orang lain, berani bicara, sabar mendengarkan, dan tetap tenang waktu segalanya nggak berjalan sesuai rencana.

Puan bisa mempelajari soft skill dari pengalaman sehari-hari. Dari ngobrol sama orang baru, ikut kegiatan, sampai berani ambil peran kecil yang membuat Puan berkembang. Karena pada akhirnya, yang buat bertahan dan bersinar bukan cuma kepintaran, tapi sikap, empati, dan keberanian untuk terus belajar jadi versi terbaik dari diri sendiri.


Sumber

Developing Soft Skills

'Soft skills': The intangible qualities companies crave

Author & Editor 

Diinaar F. Berian


Komentar

Rubik Puan Popular

Mengupas High Functioning Anxiety Lewat Buku “I Want To Die But I Want To Eat Tteokpokki”

  Menjadi perempuan muda yang aktif, punya banyak kegiatan organisasi, dan tetap menjaga nilai akademik biar selalu lancar tentu jadi hal yang membanggakan. Gak heran kalau kita selalu berusaha memberikan yang terbaik dan tetap tersenyum ramah di tengah padatnya jadwal sehari-hari. Tapi jujur deh, pernah gak sih Puan merasa kalau semua keproduktifan dan senyuman itu sebenarnya cuma tameng biar kita kelihatan tangguh? Begitu malam tiba dan sendirian di kamar, rasa hampa dan lelah yang luar biasa itu sering kali datang dan susah untuk dihindari. Fenomena ketika kita tetap bersikap normal di luar padahal yang sebenarnya sedang merasa cemas ini disebut sebagai masking atau high functioning anxiety . Isu inilah yang dibahas secara gamblang dalam buku “I Want To Die but I Want To Eat Tteokbokki” karya Baek Sehee. Setiap Luka Punya Hak untuk Merasa Sakit Sering kali kita merasa cemas atau bersalah karena menganggap masalah kita sepele dibanding orang lain. Padahal, buku ini mengingatkan ...

Sambut Tahun Ajaran Baru, Hoshizora Foundation Kembali Perluas Kesempatan Anak Lanjut Sekolah Lewat Pembukaan Beasiswa Mimpi Anak Negeri 2026

Poster pembukaan pendaftaran Beasiswa Mimpi Anak Negeri (hoshizora.org) Yogyakarta, Juli 2026 – Setiap anak berhak memiliki kesempatan yang sama untuk meraih masa depan melalui pendidikan berkualitas. Untuk mewujudkan komitmen tersebut, Hoshizora Foundation kembali membuka pendaftaran Beasiswa Mimpi Anak Negeri (BMAN) 2026 yang berlangsung pada 6 hingga 19 Juli 2026. Program beasiswa ini ditujukan bagi siswa/i kelas IV SD hingga kelas X SMA yang akan segera memasuki tahun ajaran baru 2026/2027. Fokus menargetkan anak-anak dari keluarga pra sejahtera di seluruh Indonesia, Hoshizora Foundation membuka kesempatan dukungan pendidikan bagi siswa yang memiliki semangat belajar tinggi dan memiliki keinginan kuat meraih cita-cita, walaupun di tengah keterbatasan ekonomi.  Beasiswa Mimpi Anak Negeri merupakan salah satu program utama Hoshizora Foundation sejak 2006 yang tidak hanya memberikan bantuan biaya pendidikan, tetapi juga memfasilitasi pendampingan secara berkelanjutan kepada pener...

Membaca Buku: Cara Mudah dan Murah untuk Menjaga Mental Health

Ilustrasi seseorang yang sedang membaca buku (unsplash.com) Hai Puan! Akhir-akhir ini, kegiatan membaca buku jadi tren yang dinikmati oleh berbagai kalangan. Banyak orang yang mulai tertarik dengan tren literasi di media sosial. Apalagi saat ini banyak sekali akun influencer pecinta buku yang aktif mengunggah konten terkait ulasan buku di media sosial, seperti Instagram, TikTok, dan X.  Hal ini menyebabkan seseorang yang awalnya belum suka atau belum tertarik membaca buku dapat terpengaruh. Tak jarang, beberapa orang hanya membaca karena ikut-ikutan dan takut tertinggal tren. Padahal, meneruskan kebiasaan membaca tidak hanya meningkatkan pengetahuan, tetapi juga bisa bermanfaat untuk kesehatan, khususnya kesehatan mental. Beberapa manfaat membaca buku bagi kesehatan mental yang harus Puan ketahui: 1. Membaca buku dapat mengurangi stres.   Penelitian menunjukkan bahwa membaca hanya enam menit dalam sehari dapat mengurangi tingkat stres hingga 60% dengan menurunkan detak jantun...

“I Wish I Knew When I Was 20” Memahami Hidup Mulai dari Usia 20 Tahun

  Buku "What I Wish I Knew When I Was 20" karya Prof. Tina Seelig (Amazon.com) Menginjak usia 20 terlihat menyenangkan karena Puan telah memiliki kebebasan atas diri sendiri. Di usia muda, tubuh Puan masih bertenaga maksimal dan optimal, pikiran masih fresh , ide-ide yang dikeluarkan masih up to date , intinya Puan lagi ada di masa-masa emas untuk mengembangkan suatu hal. Namun, yang jarang terlihat adalah masa saat Puan merasa clueless akan hidup Puan sendiri untuk memutuskan karir dan perjalanan hidup Puan ke depannya. Baca juga: Motivasi Bukan Ditunggu, tapi Dicari Lewat Aksi Lalu, apa saja sebenarnya hal yang harus dipahami untuk menjalani hidup saat menginjak usia 20 tahun? Mengutip dari buku “What I Wish I Knew When I Was 20” karya Prof. Tina Seelig ada beberapa hal yang dapat Puan lakukan: Jangan Menunggu, Tapi Ciptakan! Seringkali Puan berpikir untuk menunggu kesempatan datang, menunggu orang lain yang membukanya, menunggu offering yang datang. Padahal, Puan bisa men...

Tidak Semua Zona Nyaman Perlu Ditinggalkan

                                                                                   Image by: Pinterest   Puan pernah denger nggak sih satu nasihat ini: “keluar dari zona nyaman kalau mau berkembang.” Masalahnya, tidak semua orang bertahan di zona nyaman itu stagnan. Dan tidak semua orang yang keluar dari zona nyaman benar-benar bertumbuh. Jadi, pertanyaannya bukan lagi harus keluar atau tidak, tapi: Apakah Puan tahu kapan harus tetap tinggal, dan kapan harus melangkah? Baca Juga:   Dealing dengan Comparison Trap Saat Lebaran Zona Nyaman Tidak Selalu Musuh Zona nyaman sering digambarkan sebagai tempat yang “menjebak.” Padahal, dalam banyak kasus, justru di sanalah Puan dapat membangun stabilitas. Zona nyaman bisa berarti: rutinitas ...