Langsung ke konten utama

Mengupas High Functioning Anxiety Lewat Buku “I Want To Die But I Want To Eat Tteokpokki”

  Menjadi perempuan muda yang aktif, punya banyak kegiatan organisasi, dan tetap menjaga nilai akademik biar selalu lancar tentu jadi hal yang membanggakan. Gak heran kalau kita selalu berusaha memberikan yang terbaik dan tetap tersenyum ramah di tengah padatnya jadwal sehari-hari. Tapi jujur deh, pernah gak sih Puan merasa kalau semua keproduktifan dan senyuman itu sebenarnya cuma tameng biar kita kelihatan tangguh? Begitu malam tiba dan sendirian di kamar, rasa hampa dan lelah yang luar biasa itu sering kali datang dan susah untuk dihindari. Fenomena ketika kita tetap bersikap normal di luar padahal yang sebenarnya sedang merasa cemas ini disebut sebagai masking atau high functioning anxiety . Isu inilah yang dibahas secara gamblang dalam buku “I Want To Die but I Want To Eat Tteokbokki” karya Baek Sehee. Setiap Luka Punya Hak untuk Merasa Sakit Sering kali kita merasa cemas atau bersalah karena menganggap masalah kita sepele dibanding orang lain. Padahal, buku ini mengingatkan ...

Saving to Stay Sane: Hidup Hemat di Era Tekanan Konsumtif

 


Puan, kita tau bahwa di tengah kondisi ekonomi yang terus berubah, banyak anak muda di Indonesia harus menghadapi kenyataan pahit, biaya hidup yang semakin tinggi, sementara penghasilan tidak selalu ikut naik. Mulai dari harga sewa tempat tinggal, biaya transportasi, hingga kebutuhan pokok yang semakin mahal. Semuanya semakin menjadi beban tersendiri, terutama bagi mereka yang hidup mandiri di kota besar atau baru mulai melangkah ke dunia kerja. Situasi ini mendorong munculnya kebutuhan untuk mengelola keuangan secara lebih bijak. Bukan sekadar berhemat, melainkan menjalani gaya hidup yang benar-benar memperhitungkan setiap pengeluaran. Di sinilah konsep frugal living menjadi relevan. Bukan karena ikut-ikutan tren, tapi karena memang dibutuhkan sebagai strategi bertahan di tengah tekanan ekonomi dan sosial.

Lalu, Apa itu Frugal Living?

Frugal living adalah pola pikir dan gaya hidup di mana seseorang secara sadar membatasi pengeluaran yang dirasa tidak perlu, menghindari pemborosan, dan mengalokasikan sumber daya dengan bijak. Menurut Kementrian Keuangan, Frugal Living diartikan sebagai konsep dimana seseorang mengalokasikan dana yang dimiliki dengan kesadaran penuh (mindful), dengan pertimbangan dan analisis yang baik disertai dengan strategi pencapaian tujuan keuangan masa depan yang jelas.
Di situasi ekonomi yang penuh ketidakpastian, frugal living tidak lagi sekedar pilihan gaya hidup, tetapi menjadi strategi bertahan hidup dan berkembang. Banyak generasi muda kini sadar bahwa mengatur keuangan dengan penuh kesadaran bukan berarti mengekang diri, melainkan memberi kendali atas hidup sendiri.

Frugal living juga membantu seseorang membangun kebiasaan finansial yang sehat sejak dini, lho, Puan. Dengan membatasi pengeluaran yang tidak penting, kita dapat lebih fokus dalam mencapai tujuan jangka panjang seperti menabung untuk dana darurat, pendidikan, atau investasi.

Tips Memulai Frugal Living
  • Buat anggaran bulanan dan patuhi
Puan bisa mulai dengan mencatat semua pemasukan dan pengeluaran Puan setiap sebulan atau seminggu sekali. Tentukan juga batas maksimal untuk kebutuhan pokok yang diperlukan, tabungan, hiburan, dan lainnya. Puan juga bisa memakai aplikasi catatan keuangan kalau perlu.
  • Bedakan kebutuhan dan keinginan
Ketika Puan berbelanja, pertimbangkan apakah barang atau layanan yang Puan mau adalah kebutuhan yang mendesak atau hanya keinginan yang mungkin bisa ditunda. Puan bisa menghindari membeli barang-barang yang tidak perlu hanya karena keinginan sesaat.
  • Manfaatkan promo dan diskon dengan bijak
Promo dan diskon memang menggoda, tapi jangan sampai jadi jebakan. Pastikan Puan hanya membeli barang yang memang sudah direncanakan sebelumnya. Belanja karena “mumpung lagi diskon” justru bisa bikin pengeluaran makin besar.
  • Kurasi langganan digital & gaya hidup
Banyak dari kita berlangganan layanan digital, seperti streaming film, musik, atau aplikasi premium, tapi tidak semuanya digunakan secara maksimal. Coba Puan evaluasi satu per satu, apakah benar-benar masih dibutuhkan? Kalau ada yang jarang dipakai, lebih baik dihentikan sementara. Selain itu, gaya hidup yang terlalu mengikuti tren bisa membuat pengeluaran membengkak. Dengan mengurangi hal-hal yang tidak terlalu penting, Puan bisa lebih fokus pada kebutuhan utama dan tujuan keuangan Puan. 
  • Menghindari hutang konsumtif
Menghindari hutang konsumtif adalah langkah yang bijaksana dalam mengelola keuangan pribadi dan memulai frugal living. Puan bisa mulai menghindari mengambil pinjaman yang digunakan untuk liburan, belanja, atau hiburan. Pinjaman semacam itu kadang memiliki suku bunga yang tinggi dan dapat memperburuk kondisi keuangan Puan.

Puan, menjalani frugal living bukan berarti menahan diri dari semua kesenangan, tapi memilih mana yang benar-benar berarti. Di tengah tekanan hidup yang kompleks, memilih bijak dalam keuangan adalah langkah kecil untuk hidup yang lebih besar. So, are you ready to save smart, live better, and stay sane?


Referensi

Author & Editor: 
Anisa Zahara

Komentar

Rubik Puan Popular

Mengupas High Functioning Anxiety Lewat Buku “I Want To Die But I Want To Eat Tteokpokki”

  Menjadi perempuan muda yang aktif, punya banyak kegiatan organisasi, dan tetap menjaga nilai akademik biar selalu lancar tentu jadi hal yang membanggakan. Gak heran kalau kita selalu berusaha memberikan yang terbaik dan tetap tersenyum ramah di tengah padatnya jadwal sehari-hari. Tapi jujur deh, pernah gak sih Puan merasa kalau semua keproduktifan dan senyuman itu sebenarnya cuma tameng biar kita kelihatan tangguh? Begitu malam tiba dan sendirian di kamar, rasa hampa dan lelah yang luar biasa itu sering kali datang dan susah untuk dihindari. Fenomena ketika kita tetap bersikap normal di luar padahal yang sebenarnya sedang merasa cemas ini disebut sebagai masking atau high functioning anxiety . Isu inilah yang dibahas secara gamblang dalam buku “I Want To Die but I Want To Eat Tteokbokki” karya Baek Sehee. Setiap Luka Punya Hak untuk Merasa Sakit Sering kali kita merasa cemas atau bersalah karena menganggap masalah kita sepele dibanding orang lain. Padahal, buku ini mengingatkan ...

Sambut Tahun Ajaran Baru, Hoshizora Foundation Kembali Perluas Kesempatan Anak Lanjut Sekolah Lewat Pembukaan Beasiswa Mimpi Anak Negeri 2026

Poster pembukaan pendaftaran Beasiswa Mimpi Anak Negeri (hoshizora.org) Yogyakarta, Juli 2026 – Setiap anak berhak memiliki kesempatan yang sama untuk meraih masa depan melalui pendidikan berkualitas. Untuk mewujudkan komitmen tersebut, Hoshizora Foundation kembali membuka pendaftaran Beasiswa Mimpi Anak Negeri (BMAN) 2026 yang berlangsung pada 6 hingga 19 Juli 2026. Program beasiswa ini ditujukan bagi siswa/i kelas IV SD hingga kelas X SMA yang akan segera memasuki tahun ajaran baru 2026/2027. Fokus menargetkan anak-anak dari keluarga pra sejahtera di seluruh Indonesia, Hoshizora Foundation membuka kesempatan dukungan pendidikan bagi siswa yang memiliki semangat belajar tinggi dan memiliki keinginan kuat meraih cita-cita, walaupun di tengah keterbatasan ekonomi.  Beasiswa Mimpi Anak Negeri merupakan salah satu program utama Hoshizora Foundation sejak 2006 yang tidak hanya memberikan bantuan biaya pendidikan, tetapi juga memfasilitasi pendampingan secara berkelanjutan kepada pener...

Membaca Buku: Cara Mudah dan Murah untuk Menjaga Mental Health

Ilustrasi seseorang yang sedang membaca buku (unsplash.com) Hai Puan! Akhir-akhir ini, kegiatan membaca buku jadi tren yang dinikmati oleh berbagai kalangan. Banyak orang yang mulai tertarik dengan tren literasi di media sosial. Apalagi saat ini banyak sekali akun influencer pecinta buku yang aktif mengunggah konten terkait ulasan buku di media sosial, seperti Instagram, TikTok, dan X.  Hal ini menyebabkan seseorang yang awalnya belum suka atau belum tertarik membaca buku dapat terpengaruh. Tak jarang, beberapa orang hanya membaca karena ikut-ikutan dan takut tertinggal tren. Padahal, meneruskan kebiasaan membaca tidak hanya meningkatkan pengetahuan, tetapi juga bisa bermanfaat untuk kesehatan, khususnya kesehatan mental. Beberapa manfaat membaca buku bagi kesehatan mental yang harus Puan ketahui: 1. Membaca buku dapat mengurangi stres.   Penelitian menunjukkan bahwa membaca hanya enam menit dalam sehari dapat mengurangi tingkat stres hingga 60% dengan menurunkan detak jantun...

“I Wish I Knew When I Was 20” Memahami Hidup Mulai dari Usia 20 Tahun

  Buku "What I Wish I Knew When I Was 20" karya Prof. Tina Seelig (Amazon.com) Menginjak usia 20 terlihat menyenangkan karena Puan telah memiliki kebebasan atas diri sendiri. Di usia muda, tubuh Puan masih bertenaga maksimal dan optimal, pikiran masih fresh , ide-ide yang dikeluarkan masih up to date , intinya Puan lagi ada di masa-masa emas untuk mengembangkan suatu hal. Namun, yang jarang terlihat adalah masa saat Puan merasa clueless akan hidup Puan sendiri untuk memutuskan karir dan perjalanan hidup Puan ke depannya. Baca juga: Motivasi Bukan Ditunggu, tapi Dicari Lewat Aksi Lalu, apa saja sebenarnya hal yang harus dipahami untuk menjalani hidup saat menginjak usia 20 tahun? Mengutip dari buku “What I Wish I Knew When I Was 20” karya Prof. Tina Seelig ada beberapa hal yang dapat Puan lakukan: Jangan Menunggu, Tapi Ciptakan! Seringkali Puan berpikir untuk menunggu kesempatan datang, menunggu orang lain yang membukanya, menunggu offering yang datang. Padahal, Puan bisa men...

Tidak Semua Zona Nyaman Perlu Ditinggalkan

                                                                                   Image by: Pinterest   Puan pernah denger nggak sih satu nasihat ini: “keluar dari zona nyaman kalau mau berkembang.” Masalahnya, tidak semua orang bertahan di zona nyaman itu stagnan. Dan tidak semua orang yang keluar dari zona nyaman benar-benar bertumbuh. Jadi, pertanyaannya bukan lagi harus keluar atau tidak, tapi: Apakah Puan tahu kapan harus tetap tinggal, dan kapan harus melangkah? Baca Juga:   Dealing dengan Comparison Trap Saat Lebaran Zona Nyaman Tidak Selalu Musuh Zona nyaman sering digambarkan sebagai tempat yang “menjebak.” Padahal, dalam banyak kasus, justru di sanalah Puan dapat membangun stabilitas. Zona nyaman bisa berarti: rutinitas ...