Langsung ke konten utama

How to Find Your Spark Again, One Little Thing at a Time

Pernah nggak, Puan merasa dulu ada banyak hal yang bisa bikin Puan excited , tapi sekarang hal-hal itu terasa nothing special? Dulu bisa berjam-jam ngelakuin hal yang disuka, sekarang baru beberapa menit sudah ingin berhenti. Dulu punya banyak hal yang ingin dicoba, sekarang ditanya “lagi suka kegiatan apa?” malah bingung mau jawab apa. Puan masih menjalani aktivitas seperti biasa, kuliah, kerja, mengerjakan tugas, ketemu temen, scrolling media sosial. Everything seems fine. Tapi somehow, ada bagian dari diri Puan yang terasa berbeda. Seolah-olah spark yang dulu membuat hari-hari terasa lebih hidup perlahan menghilang.  Dan mungkin, Puan mulai bertanya-tanya, “What happened to me?”  1. Stop Trying to Become Your Old Self Ketika merasa kehilangan spark , kita sering kali ingin kembali menjadi diri kita yang dulu. Padahal, Puan udah melewati banyak hal sejak saat itu. Wajar kalau ada bagian dari diri Puan yang berubah. Karena itu, menemukan kembali spark bukan berarti harus meng...

Fear of Being Perceived: Alasan Kamu Takut Kena Judge

    

     Puan, dalam ruang sosial pernah nggak sih merasa bahwa ada banyak pasang mata yang seakan mengikuti setiap gerak-gerik? Seakan tatapan orang lain yang bahkan belum tentu kita kenal aja secara nggak langsung memvalidasikan sesuatu yang kita lakukan. Contohnya saat Puan keluar rumah ada kecenderungan untuk tampil secara baik. 

Dalam hal ini, semua yang Puan pakai harus menyesuaikan ekspektasi banyak orang di zaman ini. Apa yang kita unggah ke media sosial adalah sisi yang paling baik, tapi belum tentu sisi yang benar-benar mencerminkan diri sendiri.


Apa Itu Fear of Being Perceived?


Menurut sumber web Psychology Today, pada dasarnya setiap individu memiliki keinginan untuk divalidasi, dilihat, dan dianggap oleh orang lain sebagaimana versi diri kita yang sebenar-benarnya. Namun, dalam perjalanannya mungkin kita pernah mengalami kritik berlebih atau dianggap aneh ketika mencoba menjadi diri sendiri. Sehingga ketika kita mencoba menjadi diri sendiri, ada ketakutan apabila tidak diterima oleh orang lain di sekitar kita.


Fear of Being Perceived dan Penyebabnya 


Alasan-alasan yang membuat kita takut divalidasi secara tidak baik atau di-judge itu secara nggak sadar menjadi awal mula dari  Fear of Being Perceived. Menurut Arlin Cuncic, dalam artikelnya yang berjudul “Fear of Being The Center of Attention,” ada beberapa hal yang membuat seseorang tidak nyaman saat mendapatkan perhatian dari khalayak orang. 


Pertama mungkin seseorang tersebut mengidap Social Anxiety, yakni ketakutan ketika harus menghadapi situasi sosial tertentu, ketika harus berinteraksi secara langsung dengan orang lain, atau ketika harus berbicara

di depan banyak orang. Kedua karena adanya fobia khusus, dan ketiga karena pernah mengalami pengalaman yang kurang menyenangkan berupa perundungan atau kritik dari orang lain. 


Fear of Being Perceived, menjadi hal yang umum di zaman ini ketika orang-orang dapat dengan mudah mengomentari orang lain lewat media sosial atau bahkan mengambil video tanpa seizin orang lain untuk dijadikan bahan “bersyukur”  dengan membandingkan diri mereka dengan orang lain.


“No one can make you feel inferior without your consent ”-Theodore Roosevelt


Puan, satu hal yang perlu kamu ketahui adalah nggak ada satupun orang yang bisa mendefinisikan dirimu selain kamu sendiri. 


Artinya, jalan keluar dari ketakutan untuk di-judge ini adalah mengenal diri Puan dan merasa nyaman untuk mengekspresikannya tanpa tekanan.


Karena Puan nggak akan pernah bisa mengatur perkataan atau jalan pikiran orang lain, jadi yang harus diatur adalah pikiran diri sendiri untuk memilah narasi negatif dalam kepala. 


Jadi, sekarang gimana caranya mengalahkan Fear of Being Perceived? Puan bisa mencoba beberapa cara ini: 


  1. Tulis pikiran negatif tentang alasan kamu takut di-judge

Setelah Puan menulis semua pikiran yang ada di benak  coba tinjau ulang apakah pikiran tersebut sesuai dengan kenyataan yang ada atau justru ternyata baru sekadar prediksi kita sendiri.


  1. Cari Teman untuk Bercerita 

Puan bisa cari teman yang bisa dipercaya untuk menuangkan cerita dan perasaan yang selama ini dirasakan.


  1. Belajar Menerima Respons Orang Lain

Meskipun mungkin tidak semudah itu, Puan bisa belajar untuk menerima reaksi dari orang lain ketika bercerita, sehingga tidak ada ruang untuk menerka apa reaksi dari orang lain. Selain itu, Puan juga akan menjadi terbiasa dan perlahan mendapatkan kepercayaan diri kembali.


  1. Kesadaran

Sadari bahwa Puan sedang takut dinilai oleh orang lain tanpa harus menutupinya 


  1. Memulai sesuatu dengan kemauan diri sendiri

Ketika Puan ingin melakukan sesuatu dan ragu akan keputusan sendiri, Puan bisa pertanyakan tindakan yang akan dilakukan adalah berdasarkan kemauan Puan atau berdasarkan kemauan untuk diterima oleh orang lain.


Gimana Puan? Jadi mulai sekarang stop tampil demi memenuhi ekspektasi orang lain, tampil lah untuk diri sendiri tanpa harus takut dinilai.




Referensi:





Oleh: Dhia Nisrina 

Komentar

Rubik Puan Popular

How to Find Your Spark Again, One Little Thing at a Time

Pernah nggak, Puan merasa dulu ada banyak hal yang bisa bikin Puan excited , tapi sekarang hal-hal itu terasa nothing special? Dulu bisa berjam-jam ngelakuin hal yang disuka, sekarang baru beberapa menit sudah ingin berhenti. Dulu punya banyak hal yang ingin dicoba, sekarang ditanya “lagi suka kegiatan apa?” malah bingung mau jawab apa. Puan masih menjalani aktivitas seperti biasa, kuliah, kerja, mengerjakan tugas, ketemu temen, scrolling media sosial. Everything seems fine. Tapi somehow, ada bagian dari diri Puan yang terasa berbeda. Seolah-olah spark yang dulu membuat hari-hari terasa lebih hidup perlahan menghilang.  Dan mungkin, Puan mulai bertanya-tanya, “What happened to me?”  1. Stop Trying to Become Your Old Self Ketika merasa kehilangan spark , kita sering kali ingin kembali menjadi diri kita yang dulu. Padahal, Puan udah melewati banyak hal sejak saat itu. Wajar kalau ada bagian dari diri Puan yang berubah. Karena itu, menemukan kembali spark bukan berarti harus meng...

3 Buku Fiksi Bertema Mental Health untuk Puan Baca

Source: Bookshop.org Hai Puan!  Puan suka baca buku? Atau suka dengan isu-isu terkait mental health? Pengetahuan seputar topik mental health bukan hanya bisa didapatkan dari buku ilmiah atau nonfiksi, tetapi juga dari buku fiksi. Selain bisa menghibur Puan, buku fiksi juga bisa bikin Puan larut dan merasakan emosi serta perasaan dari tokoh-tokohnya.  Nah, buat Puan yang lagi cari rekomendasi buku fiksi tentang mental health, baca terus artikel ini sampai habis ya! 1. Challenger Deep karya Neal Shusterman Cerita dalam buku ini berdasarkan kisah dari putranya sendiri yang mengalami gangguan mental. Challenger Deep bercerita tentang Caden Bosch, yaitu seorang siswa SMA yang mengidap skizofrenia. Masalah tersebut membuatnya sering mengalami halusinasi. Alur cerita terbagi ke dalam dua dunia: kehidupan sekolah Caen sehari-hari dan sebuah pelayaran di atas kapal laut menuju Challenger Deep (titik terdalam di Palung Mariana). Perjalanan di atas kapal merupakan gambaran dari halusinas...

Rasa Bosan Bisa Dijadikan Teman? Ini Manfaat Boredom yang Jarang Disadari

Sumber:  Magnific   Puan pernah nggak langsung membuka TikTok, Instagram, atau X hanya karena timbul rasa bosan akibat menunggu sesuatu? Kebiasaan seperti ini sangat umum terjadi karena otak Puan terbiasa mencari stimulasi setiap kali ada waktu kosong.  Mungkin, Puan sering kali menganggap rasa bosan sebagai sesuatu yang buruk, sehingga banyak dari Puan yang yang berlomba-lomba untuk menghilangkan perasaan tersebut dengan menjadi produktif Alih-alih mencerminkan bahwa diri Puan tidak produktif, rasa bosan dapat memberi kesempatan bagi otak untuk beristirahat dari banyaknya informasi yang silih berdatangan, memunculkan ide baru, hingga membantu Puan mengenali apa yang benar-benar bermakna.  Oleh karena itu, sesekali merasa bosan bukanlah hal yang buruk, selama terjadi dalam kadar yang wajar. Jika Puan merasa demikian, lalu Puan  tahu nggak sih apa itu boredom dan fakta lain dari boredom yang mungkin belum Puan ketahui. Apa Itu Boredom? Dalam psikologi, boredom a...

Hasty Generalization: Kesalahan Berpikir yang Sering Kita Lakukan

Image by: Grammarly.com Pernahkah Puan langsung bilang "Semua produk merek ini jelek," cuma gara-gara beli satu barang yang rusak? Atau mungkin Puan pernah denger temen cerita, "Nggak usah ke resto itu deh, pelayanannya buruk banget!" Padahal dia cuma sekali ke sana? Nah, ini dia yang namanya hasty generalization atau kesimpulan terburu-buru. Apa Sih Hasty Generalization Itu? Menurut Detik.com , Hasty Generalization adalah kekeliruan yang terjadi ketika seseorang menarik kesimpulan yang luas berdasarkan bukti yang tidak mampu atau tidak cukup. Dengan kata lain, kesimpulan tentang suatu hal terlalu terburu-buru diambil dan hanya didukung beberapa atau tidak cukup bukti yang jelas. Jadi, Hasty generalization adalah kesalahan logika yang terjadi ketika Puan mengambil kesimpulan umum dari sampel yang terlalu kecil atau tidak cukup mewakili. Bayangin gini, Puan cuma ketemu dua kucing yang galak, terus langsung bilang, "semua kucing itu galak!" Padahal di lu...

How to Stay Productive While Grieving

  Source: https://pin.it/5b4AbRDlY   Pernah nggak, Puan merasa harus tetap menjalani aktivitas seperti biasa, sementara hati dan pikiran masih memproses duka? Ketika sedang berduka, hal-hal sederhana seperti bangun dari tempat tidur, membalas chat atau sekadar fokus selama beberapa menit saja bisa terasa jauh lebih berat dari biasanya. Bukan karena Puan malas atau nggak mampu, tetapi karena grief dapat menguras energi kita. Namun, di sisi lain, hidup harus tetap berjalan. Ada tugas yang harus dikumpulkan, pekerjaan yang perlu diselesaikan, atau tanggung jawab yang nggak bisa begitu saja ditinggalkan. Lalu, bagaimana caranya tetap produktif tanpa memaksa diri untuk "baik-baik saja"? 1. Redefine What "Productive" Means Hal pertama yang perlu Puan perhatikan adalah definisi produktif itu sendiri. Produktif saat sedang berduka nggak melulu berarti menyelesaikan semua pekerjaan dalam satu hari. Karena ketika sedang berduka, kapasitas seseorang memang bisa berubah dari se...