Puan, dalam ruang sosial pernah nggak sih merasa bahwa ada banyak pasang mata yang seakan mengikuti setiap gerak-gerik? Seakan tatapan orang lain yang bahkan belum tentu kita kenal aja secara nggak langsung memvalidasikan sesuatu yang kita lakukan. Contohnya saat Puan keluar rumah ada kecenderungan untuk tampil secara baik.
Dalam hal ini, semua yang Puan pakai harus menyesuaikan ekspektasi banyak orang di zaman ini. Apa yang kita unggah ke media sosial adalah sisi yang paling baik, tapi belum tentu sisi yang benar-benar mencerminkan diri sendiri.
Apa Itu Fear of Being Perceived?
Menurut sumber web Psychology Today, pada dasarnya setiap individu memiliki keinginan untuk divalidasi, dilihat, dan dianggap oleh orang lain sebagaimana versi diri kita yang sebenar-benarnya. Namun, dalam perjalanannya mungkin kita pernah mengalami kritik berlebih atau dianggap aneh ketika mencoba menjadi diri sendiri. Sehingga ketika kita mencoba menjadi diri sendiri, ada ketakutan apabila tidak diterima oleh orang lain di sekitar kita.
Fear of Being Perceived dan Penyebabnya
Alasan-alasan yang membuat kita takut divalidasi secara tidak baik atau di-judge itu secara nggak sadar menjadi awal mula dari Fear of Being Perceived. Menurut Arlin Cuncic, dalam artikelnya yang berjudul “Fear of Being The Center of Attention,” ada beberapa hal yang membuat seseorang tidak nyaman saat mendapatkan perhatian dari khalayak orang.
Pertama mungkin seseorang tersebut mengidap Social Anxiety, yakni ketakutan ketika harus menghadapi situasi sosial tertentu, ketika harus berinteraksi secara langsung dengan orang lain, atau ketika harus berbicara
di depan banyak orang. Kedua karena adanya fobia khusus, dan ketiga karena pernah mengalami pengalaman yang kurang menyenangkan berupa perundungan atau kritik dari orang lain.
Fear of Being Perceived, menjadi hal yang umum di zaman ini ketika orang-orang dapat dengan mudah mengomentari orang lain lewat media sosial atau bahkan mengambil video tanpa seizin orang lain untuk dijadikan bahan “bersyukur” dengan membandingkan diri mereka dengan orang lain.
“No one can make you feel inferior without your consent ”-Theodore Roosevelt
Puan, satu hal yang perlu kamu ketahui adalah nggak ada satupun orang yang bisa mendefinisikan dirimu selain kamu sendiri.
Artinya, jalan keluar dari ketakutan untuk di-judge ini adalah mengenal diri Puan dan merasa nyaman untuk mengekspresikannya tanpa tekanan.
Karena Puan nggak akan pernah bisa mengatur perkataan atau jalan pikiran orang lain, jadi yang harus diatur adalah pikiran diri sendiri untuk memilah narasi negatif dalam kepala.
Jadi, sekarang gimana caranya mengalahkan Fear of Being Perceived? Puan bisa mencoba beberapa cara ini:
Tulis pikiran negatif tentang alasan kamu takut di-judge
Setelah Puan menulis semua pikiran yang ada di benak coba tinjau ulang apakah pikiran tersebut sesuai dengan kenyataan yang ada atau justru ternyata baru sekadar prediksi kita sendiri.
Cari Teman untuk Bercerita
Puan bisa cari teman yang bisa dipercaya untuk menuangkan cerita dan perasaan yang selama ini dirasakan.
Belajar Menerima Respons Orang Lain
Meskipun mungkin tidak semudah itu, Puan bisa belajar untuk menerima reaksi dari orang lain ketika bercerita, sehingga tidak ada ruang untuk menerka apa reaksi dari orang lain. Selain itu, Puan juga akan menjadi terbiasa dan perlahan mendapatkan kepercayaan diri kembali.
Kesadaran
Sadari bahwa Puan sedang takut dinilai oleh orang lain tanpa harus menutupinya
Memulai sesuatu dengan kemauan diri sendiri
Ketika Puan ingin melakukan sesuatu dan ragu akan keputusan sendiri, Puan bisa pertanyakan tindakan yang akan dilakukan adalah berdasarkan kemauan Puan atau berdasarkan kemauan untuk diterima oleh orang lain.
Gimana Puan? Jadi mulai sekarang stop tampil demi memenuhi ekspektasi orang lain, tampil lah untuk diri sendiri tanpa harus takut dinilai.

Komentar
Posting Komentar