Langsung ke konten utama

Intentional Pause: Berhenti Sejenak Bukan Berarti Menyerah

  Sumber: pexels.com Halo, Puan! Puan pernah gak sih merasa harus selalu produktif? Baru selesai satu target, Puan udah langsung memikirkan target berikutnya. Apalagi kalau Puan lihat pencapaian orang lain di media sosial, rasanya jadi pengen ikut lari lebih cepat biar gak ketinggalan. Bahkan ketika sedang beristirahat pun, bisa muncul perasaan bersalah karena merasa gak cukup produktif. Tanpa sadar, Puan telah hidup dalam ritme yang menuntut semuanya serba cepat, cepat sukses, cepat berkembang, cepat mengambil keputusan, dan cepat mencapai tujuan. Padahal, sometimes, the most productive thing you can do is simply pause. Di tengah kehidupan yang serba cepat ini, mengambil jeda secara sadar atau intentional pause bisa menjadi cara untuk refleksi dan kembali terhubung dengan diri sendiri. Bukan sekadar berhenti dari kesibukan, tapi memberi ruang untuk berpikir, merefleksikan keadaan, dan menentukan step atau goals berikutnya dengan lebih bijak. Intentional pause dapat membantu Puan...

Fear of Being Perceived: Alasan Kamu Takut Kena Judge

    

     Puan, dalam ruang sosial pernah nggak sih merasa bahwa ada banyak pasang mata yang seakan mengikuti setiap gerak-gerik? Seakan tatapan orang lain yang bahkan belum tentu kita kenal aja secara nggak langsung memvalidasikan sesuatu yang kita lakukan. Contohnya saat Puan keluar rumah ada kecenderungan untuk tampil secara baik. 

Dalam hal ini, semua yang Puan pakai harus menyesuaikan ekspektasi banyak orang di zaman ini. Apa yang kita unggah ke media sosial adalah sisi yang paling baik, tapi belum tentu sisi yang benar-benar mencerminkan diri sendiri.


Apa Itu Fear of Being Perceived?


Menurut sumber web Psychology Today, pada dasarnya setiap individu memiliki keinginan untuk divalidasi, dilihat, dan dianggap oleh orang lain sebagaimana versi diri kita yang sebenar-benarnya. Namun, dalam perjalanannya mungkin kita pernah mengalami kritik berlebih atau dianggap aneh ketika mencoba menjadi diri sendiri. Sehingga ketika kita mencoba menjadi diri sendiri, ada ketakutan apabila tidak diterima oleh orang lain di sekitar kita.


Fear of Being Perceived dan Penyebabnya 


Alasan-alasan yang membuat kita takut divalidasi secara tidak baik atau di-judge itu secara nggak sadar menjadi awal mula dari  Fear of Being Perceived. Menurut Arlin Cuncic, dalam artikelnya yang berjudul “Fear of Being The Center of Attention,” ada beberapa hal yang membuat seseorang tidak nyaman saat mendapatkan perhatian dari khalayak orang. 


Pertama mungkin seseorang tersebut mengidap Social Anxiety, yakni ketakutan ketika harus menghadapi situasi sosial tertentu, ketika harus berinteraksi secara langsung dengan orang lain, atau ketika harus berbicara

di depan banyak orang. Kedua karena adanya fobia khusus, dan ketiga karena pernah mengalami pengalaman yang kurang menyenangkan berupa perundungan atau kritik dari orang lain. 


Fear of Being Perceived, menjadi hal yang umum di zaman ini ketika orang-orang dapat dengan mudah mengomentari orang lain lewat media sosial atau bahkan mengambil video tanpa seizin orang lain untuk dijadikan bahan “bersyukur”  dengan membandingkan diri mereka dengan orang lain.


“No one can make you feel inferior without your consent ”-Theodore Roosevelt


Puan, satu hal yang perlu kamu ketahui adalah nggak ada satupun orang yang bisa mendefinisikan dirimu selain kamu sendiri. 


Artinya, jalan keluar dari ketakutan untuk di-judge ini adalah mengenal diri Puan dan merasa nyaman untuk mengekspresikannya tanpa tekanan.


Karena Puan nggak akan pernah bisa mengatur perkataan atau jalan pikiran orang lain, jadi yang harus diatur adalah pikiran diri sendiri untuk memilah narasi negatif dalam kepala. 


Jadi, sekarang gimana caranya mengalahkan Fear of Being Perceived? Puan bisa mencoba beberapa cara ini: 


  1. Tulis pikiran negatif tentang alasan kamu takut di-judge

Setelah Puan menulis semua pikiran yang ada di benak  coba tinjau ulang apakah pikiran tersebut sesuai dengan kenyataan yang ada atau justru ternyata baru sekadar prediksi kita sendiri.


  1. Cari Teman untuk Bercerita 

Puan bisa cari teman yang bisa dipercaya untuk menuangkan cerita dan perasaan yang selama ini dirasakan.


  1. Belajar Menerima Respons Orang Lain

Meskipun mungkin tidak semudah itu, Puan bisa belajar untuk menerima reaksi dari orang lain ketika bercerita, sehingga tidak ada ruang untuk menerka apa reaksi dari orang lain. Selain itu, Puan juga akan menjadi terbiasa dan perlahan mendapatkan kepercayaan diri kembali.


  1. Kesadaran

Sadari bahwa Puan sedang takut dinilai oleh orang lain tanpa harus menutupinya 


  1. Memulai sesuatu dengan kemauan diri sendiri

Ketika Puan ingin melakukan sesuatu dan ragu akan keputusan sendiri, Puan bisa pertanyakan tindakan yang akan dilakukan adalah berdasarkan kemauan Puan atau berdasarkan kemauan untuk diterima oleh orang lain.


Gimana Puan? Jadi mulai sekarang stop tampil demi memenuhi ekspektasi orang lain, tampil lah untuk diri sendiri tanpa harus takut dinilai.




Referensi:





Oleh: Dhia Nisrina 

Komentar

Rubik Puan Popular

Raih Motivasi dan Kenikmatan Kerja: Mengatasi Rasa Jenuh dengan Tips-Tips Menarik!

Hey, Puan! Pernah nggak sih kamu merasa seperti waktu berjalan terlalu lambat saat melakukan pekerjaanmu? Yah, rasa bosan memang suatu hal yang bisa membuat kita bingung, apakah harus melanjutkannya atau berhenti saja. Tapi tahu nggak, terlalu memikirkannya justru bisa membuat pekerjaan kita nggak maksimal. Jangan khawatir, Puan! Rasanya jenuh saat bekerja itu wajar. Bayangkan aja, melakukan hal yang sama tiap harinya pasti bisa membuat rasa jenuh datang. Nah, biar Puan nggak bingung lagi menghadapi rasa jenuh yang kadang datang, simak deh tips-tips menarik berikut ini! Yuk, kita mulai dengan langkah awal untuk mengatasi rasa jenuh saat bekerja: 1. Ingat tujuan awalmu saat memulai pekerjaan ini Ketika Puan mengingat kembali tujuan awal yang mendorongmu memulai pekerjaan ini, ada kemungkinan besar semangat dan motivasi akan kembali menggelora. Hal ini pastinya akan mengurangi rasa jenuh saat Puan menjalankan tugas-tugasmu. 2. Berikan waktu untuk dirimu sendiri, coba ambil cuti liburan! ...

Mindfulness 101: Finding Your Focus in a World Full of Distractions

  sumber: magnific.com Puan pernah ngalamin nggak, lagi ngerjain tugas, terus ada satu notifikasi masuk, kemudian cek notifnya, balas satu chat, eh lanjut buka TikTok dan akhirnya lupa kalau tadi sebenarnya Puan lagi ngapain? Di tengah dunia yang full of distractions ini, perhatian kita rasanya gampang banget berpindah dari satu hal ke hal lainnya. Belum selesai satu informasi, sudah muncul informasi baru. Belum selesai proses berita satu, sudah ada berita lainnya. Tanpa sadar, kita bisa menghabiskan banyak waktu dengan gadget tanpa benar-benar sadar sedang melakukan apa. Di sinilah mindfulness bisa menjadi salah satu cara untuk membantu Puan lebih sadar terhadap bagaimana Puan menggunakan teknologi dan ke mana perhatian Puan pergi. Mindfulness Itu Apa, Sih? Mindfulness secara sederhana adalah kemampuan untuk menyadari dan benar-benar hadir terhadap apa yang sedang kita lakukan saat ini, tanpa langsung menghakimi pikiran atau perasaan yang muncul. Menurut Meegasdeniya dan Dulnath (...

Fenomena Doom Scrolling, Kebiasaan yang Bikin Burn Out

  " Scroll bentar deh.." Terus tanpa sadar mata mulai berat, tangan pegal, dan lupa waktu sendiri. Pernah ngalamin hal serupa? Kalau iya, berarti Puan lagi ngalamin yang namanya doom scrolling . Doom scrolling itu kalau Puan terus-terusan mengonsumsi informasi, terutama berita negatif yang ada pada sosial media. Menurut Cambdrige Dictionary , kata "Doomscr oll" mengacu kepada tindakan  terlalu sering menatap layar  untuk membaca berita buruk atau kurang  berbobot.  Nah, dari sini mungkin banyak Puan yang jadi ngerti apa itu doom scrolling , istilah yang belakangan sering muncul di internet. Kalau kita teliti, lagi  penyebabnya nggak bakalan lepas dari ketergantungan kita  pada handphone .  Hampir setiap hari kita menerima banyak pesan notifikasi. Terlepas  isinya penting atau tidak terlalu penting secara refleks pasti kita cek kalau dibiarkan menimbulkan rasa cemas atau anxiety,   seakan ada hal tertinggal jika kita tidak membuka lay...

Membuka Kembali Memori Melalui Pameran ACE 5.0: INNER CHILD

  Masa kecil sering kali menjadi sumber kepolosan, kekreatifan, dan keajaiban yang mungkin telah kita lupakan di tengah kesibukan dan tekanan kehidupan dewasa. Namun, di tengah gemuruh kota metropolitan, ada suatu perayaan yang mengundang kita untuk merenungkan kembali sisi kecil yang mungkin telah kita lupakan: ACE 5.0: INNER CHILD . Pameran seni tidak selalu hanya tentang memamerkan karya, tetapi juga tentang membuka pintu menuju introspeksi dan penemuan diri. Di tengah sorotan pameran kreatif yang diselenggarakan oleh Klub LSPR Advertising Society , ACE 5.0: INNER CHILD, pengunjung diajak untuk membenamkan diri dalam dunia kepolosan dan kekreatifan masa kecil. Setiap tahun, Klub LSPR Advertising Society menggelar Advertising Creative Exhibition (ACE) , sebuah pameran seni yang memamerkan karya-karya kreatif dari para anggotanya. Setelah suksesnya ACE sebelumnya yang mengangkat tema 'Gender Equality' dengan tajuk SETARA “Setingkat dan Sederajat”, kini ACE kembali hadir dalam ...

Kenali Machiavellianism: Red Flag yang Sulit Banget Dideteksi

  Image by: WikiHow Pernah nggak sih ketemu orang yang bikin Puan selalu mikir dua kali? Yang di permukaan keliatan baik, supportive , bahkan charming , tapi entah kenapa ada yang terasa aneh. Puan nggak bisa jelasin kenapa, tapi setelah berinteraksi sama mereka, Puan sering merasa lelah, bingung, atau malah meragukan keputusan sendiri. Nah, kemungkinan Puan baru aja ketemu sama orang yang punya sifat Machiavellianism . Ini adalah salah satu red flag paling susah dideteksi karena mereka pandai banget menyamarkannya. Machiavellianism Itu Apa Sih? Istilah ini berasal dari buku Machiavelli , " The Prince" , ia berpendapat bahwa “tidak masalah melakukan apa pun untuk mendapatkan kekuasaan dan pengaruh.” Orang dengan kepribadian Machiavellian dapat memahami situasi sosial dan memanipulasinya untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan, meskipun tidak etis atau tidak mempertimbangkan dampaknya terhadap orang lain. Dalam keseharian, mereka selalu punya agenda tersembunyi dan pandai...