Puan nggak sih Puan ngerasa kayak semua hal minta waktu di saat yang sama kuliah, kerja, organisasi, bahkan diri Puan sendiri? Semua bilang “harus seimbang,” tapi nggak ada yang ngajarin gimana caranya. Akhirnya, kita terus coba jadi semuanya: anak yang berbakti, teman yang ada, mahasiswa yang aktif, pekerja yang nggak pernah telat, padahal diam-diam… kita cuma pengen napas sebentar.
Mitos 50:50 dan kenapa ia berbahaya
Work-life balance sering disalahpahami kayak rumus matematika 50% kerja, 50% istirahat. Padahal hidup nggak sesederhana itu. Keseimbangan bukan angka tetap, tapi kemampuan untuk menyesuaikan fokus sesuai fase hidup. Ada masa di mana Puan lagi all-out di karier atau kampus, dan itu nggak salah. Ada masa juga di mana Puan lagi perlu berhenti, pulih, dan mengembalikan energi dan itu juga bagian dari seimbang.
American Psychological Association (2021), mencatat bahwa ketika keseimbangan kerja dan hidup terganggu, stres kronis dan burnout mudah muncul. Jadi, “seimbang” bukan soal pembagian waktu yang sama banyak, tapi tentang hidup yang terasa cukup di kepala dan di hati.
Work-Life Integration: versi yang lebih manusiawi
Daripada terus menekan diri buat jadi “sempurna di semua sisi,” coba lihat hidupmu sebagai sesuatu yang terhubung. Konsep work-life integration ngajarin kita buat nggak memisahkan total antara kerja dan hidup, tapi menyatukannya dengan cara yang realistis dan lembut.
Contohnya, Puan bisa nyicil tugas di cafe sambil menikmati waktu sendiri atau ngejar deadline, tapi tetap kasih waktu 30 menit buat journaling dan grounding, atau malah sesimpel nyadarin, kalau nggak semua hal penting harus selesai hari ini. Kuncinya bukan pada “seimbang sempurna,” tapi pada ritme yang selaras dengan hidup Puan sendiri.
Praktik sederhana buat nemuin seimbang versi Puan sendiri:
- Tentukan prioritas mingguan. Fokus ke 2–3 hal yang benar-benar penting.
- Buat batas emosional. Setelah kerja atau kuliah, punya ritual peralihan biar mental nggak kebawa.
- Lakukan “energy check.” Tanyakan kepada diri sendiri, “Hari ini energiku cukup nggak buat semua ini?”
- Terima fluktuasi. Kadang seimbang berarti miring dan itu nggak apa-apa.
Seimbang itu bukan angka, tapi rasa
Puan nggak harus menyeimbangkan semuanya setiap hari. Keseimbangan yang nyata justru hidup berubah, menyesuaikan, dan belajar bareng Puan. Jadi kalau minggu ini Puan lebih banyak ngurus kerjaan atau kuliah, nggak apa-apa. Asal Puan ingat minggu depan mungkin waktunya urus diri Puan sendiri. Karena pada akhirnya, work-life balance bukan tentang membagi waktu sama rata, tapi tentang membuat hidup terasa cukup.
Cukup hadir. Cukup sadar. Cukup bahagia di tempat Puan sekarang.
Author & Editor: Daru Sekar Arum
Referensi:
- American Psychological Association (APA). (2021). Stress in America: One year later, a new wave of pandemic health concerns.
- Greenhaus, J. H., & Allen, T. D. (2011). Work–family balance: A review and extension of the literature. Journal of Management, 37(1), 17–25.
- Friedman, S. D., & Westring, A. F. (2013). Work and Life: The End of the Zero-Sum Game. Harvard Business Review.
- Kreiner, G. E., Hollensbe, E. C., & Sheep, M. L. (2009). Balancing borders and bridges: Negotiating the work-home interface via boundary work tactics. Academy of Management Journal, 52(4), 70
4–730.
Komentar
Posting Komentar