Langsung ke konten utama

Memberi Pelukan untuk Diri Sendiri dengan Self Compassion

What if , Puan coba flashback apa yang sudah Puan lakukan untuk diri, Puan?  Apakah Puan sudah memberikan pelukan untuk diri sendiri? Sumber: Magnific.com Masa muda adalah masa di mana Puan memasuki era golden age, masa di mana ketika Puan bisa memiliki banyak kesempatan untuk belajar, berkembang, dan mengikuti berbagai hal yang menjadi impian, Puan.  Namun, dibalik banyaknya kesempatan yang ada, hidup Puan juga akan diikuti dengan banyaknya tekanan dan tuntutan. Pada usia golden age, Puan seringkali dituntut untuk selalu memiliki pencapaian, selalu produktif, dan harus memiliki tujuan dari setiap langkah yang akan Puan tuju. Dalam setiap tekanan dan tuntutan yang Puan alami, seringkali Puan lupa untuk memberikan space kepada diri Puan sendiri. Puan sering mengabaikan istirahat dan emosi yang ada di dalam diri, Puan.  Pada masa seperti ini, pernahkah Puan berhenti sejenak dan mempertanyakan kepada diri, Puan, “Sudahkah Puan memperlakukan diri Puan seperti saat Puan memb...

Kenyataan Work-Life Balance yang Sering Disalahpahami

Puan nggak sih Puan ngerasa kayak semua hal minta waktu di saat yang sama kuliah, kerja, organisasi, bahkan diri Puan sendiri? Semua bilang “harus seimbang,” tapi nggak ada yang ngajarin gimana caranya. Akhirnya, kita terus coba jadi semuanya: anak yang berbakti, teman yang ada, mahasiswa yang aktif, pekerja yang nggak pernah telat, padahal diam-diam… kita cuma pengen napas sebentar.

Mitos 50:50 dan kenapa ia berbahaya

Work-life balance sering disalahpahami kayak rumus matematika 50% kerja, 50% istirahat. Padahal hidup nggak sesederhana itu. Keseimbangan bukan angka tetap, tapi kemampuan untuk menyesuaikan fokus sesuai fase hidup. Ada masa di mana Puan lagi all-out di karier atau kampus, dan itu nggak salah. Ada masa juga di mana Puan lagi perlu berhenti, pulih, dan mengembalikan energi dan itu juga bagian dari seimbang.

American Psychological Association (2021), mencatat bahwa ketika keseimbangan kerja dan hidup terganggu, stres kronis dan burnout mudah muncul. Jadi, “seimbang” bukan soal pembagian waktu yang sama banyak, tapi tentang hidup yang terasa cukup di kepala dan di hati.

Work-Life Integration: versi yang lebih manusiawi

Daripada terus menekan diri buat jadi “sempurna di semua sisi,” coba lihat hidupmu sebagai sesuatu yang terhubung. Konsep work-life integration ngajarin kita buat nggak memisahkan total antara kerja dan hidup, tapi menyatukannya dengan cara yang realistis dan lembut.

Contohnya, Puan bisa nyicil tugas di cafe sambil menikmati waktu sendiri atau ngejar deadline, tapi tetap kasih waktu 30 menit buat journaling dan grounding, atau malah sesimpel nyadarin, kalau nggak semua hal penting harus selesai hari ini. Kuncinya bukan pada “seimbang sempurna,” tapi pada ritme yang selaras dengan hidup Puan sendiri.

Praktik sederhana buat nemuin seimbang versi Puan sendiri:

  1. Tentukan prioritas mingguan. Fokus ke 2–3 hal yang benar-benar penting.
  2. Buat batas emosional. Setelah kerja atau kuliah, punya ritual peralihan biar mental nggak kebawa.
  3. Lakukan “energy check.” Tanyakan kepada diri sendiri, “Hari ini energiku cukup nggak buat semua ini?”
  4. Terima fluktuasi. Kadang seimbang berarti miring dan itu nggak apa-apa.

Seimbang itu bukan angka, tapi rasa

Puan nggak harus menyeimbangkan semuanya setiap hari. Keseimbangan yang nyata justru hidup berubah, menyesuaikan, dan belajar bareng Puan. Jadi kalau minggu ini Puan lebih banyak ngurus kerjaan atau kuliah, nggak apa-apa. Asal Puan ingat minggu depan mungkin waktunya urus diri Puan sendiri. Karena pada akhirnya, work-life balance bukan tentang membagi waktu sama rata, tapi tentang membuat hidup terasa cukup.

Cukup hadir. Cukup sadar. Cukup bahagia di tempat Puan sekarang.



Author & Editor: Daru Sekar Arum 


Referensi:

  • American Psychological Association (APA). (2021). Stress in America: One year later, a new wave of pandemic health concerns.
  • Greenhaus, J. H., & Allen, T. D. (2011). Work–family balance: A review and extension of the literature. Journal of Management, 37(1), 17–25.
  • Friedman, S. D., & Westring, A. F. (2013). Work and Life: The End of the Zero-Sum Game. Harvard Business Review.
  • Kreiner, G. E., Hollensbe, E. C., & Sheep, M. L. (2009). Balancing borders and bridges: Negotiating the work-home interface via boundary work tactics. Academy of Management Journal, 52(4), 70

4–730.


Komentar

Rubik Puan Popular

Memberi Pelukan untuk Diri Sendiri dengan Self Compassion

What if , Puan coba flashback apa yang sudah Puan lakukan untuk diri, Puan?  Apakah Puan sudah memberikan pelukan untuk diri sendiri? Sumber: Magnific.com Masa muda adalah masa di mana Puan memasuki era golden age, masa di mana ketika Puan bisa memiliki banyak kesempatan untuk belajar, berkembang, dan mengikuti berbagai hal yang menjadi impian, Puan.  Namun, dibalik banyaknya kesempatan yang ada, hidup Puan juga akan diikuti dengan banyaknya tekanan dan tuntutan. Pada usia golden age, Puan seringkali dituntut untuk selalu memiliki pencapaian, selalu produktif, dan harus memiliki tujuan dari setiap langkah yang akan Puan tuju. Dalam setiap tekanan dan tuntutan yang Puan alami, seringkali Puan lupa untuk memberikan space kepada diri Puan sendiri. Puan sering mengabaikan istirahat dan emosi yang ada di dalam diri, Puan.  Pada masa seperti ini, pernahkah Puan berhenti sejenak dan mempertanyakan kepada diri, Puan, “Sudahkah Puan memperlakukan diri Puan seperti saat Puan memb...

Lebih dari Sekedar Musik: Intip Pesan Harapan di Balik Lagu "1–800–273–8255"

  Image by @LinesofLogic ( https://x.com/LinesofLogic) Halo, Puan! Ada nggak nih dari kamu yang merupakan penikmat musik? Sini-sini, Priska mau kasih tahu kamu tentang satu lagu yang bukan sekedar lagu, tapi ada pesan harapan dan makna mendalam, lho! Lagu berjudul  “1–800–273–8255” merupakan sebuah lagu yang di populerkan oleh rapper logic dan berkolaborasi dengan penyanyi  Alessia Cara dan Khalid. Pastinya Puan udah nggak asing lagi kan dengan nama-nama musisi diatas? Menariknya, lagu ini dinamakan  berdasarkan nomor telepon untuk American National Suicide Prevention Lifeline (NSPL).  Logic memilih judul ini agar mudah diingat dan dihubungi oleh orang-orang yang membutuhkan bantuan.  Lagu ini dimulai dari perspektif seseorang yang memanggil nomor National Suicide Prevention Lifeline dan memberi tahu bahwa mereka tidak ingin hidup lagi. Berikut beberapa liriknya:  I don’t wanna be alive, I don’t wanna be alive I just wanna die And let me tell yo...

Tak Pernah Salah? Menggali Lebih Dalam Fenomena Dunning-Kruger Effect

source: https://thedecisionlab.com/biases/dunning-kruger-effect K ali ini kita akan mengenal istilah baru lagi Puan, yaitu  Dunning-Kruger Effect .  Dunning-Kruger Effect  adalah fenomena dalam psikologi yang dapat didefinisikan sebagai bias kognitif dimana seseorang keliru menilai kemampuan yang dimiliki diri sendiri. Individu yang mengalami  Dunning-Kruger Effect  akan merasa kemampuan mereka jauh lebih tinggi dari yang sebenarnya. Bias ini dikaitkan dengan ketidakmampuan metakognitif untuk mengenali kemampuan mereka sendiri. Teori Dunning-Kruger Effect ini dikembangkan oleh David Dunning dan Justin Kruger pada tahun 1999, dua profesor psikologi dari Cornell University. David dan Justin awalnya terinspirasi kasus McArthur Wheeler, seorang pria yang merampok 2 bank yang menutupi wajahnya dengan perasan air jeruk dan yakin bahwa wajahnya tidak terlihat dan tidak terekam oleh kamera pengawas, sama seperti menulis dengan tinta perasan air jeruk maka tulisannya ti...

How to Find Your Spark Again, One Little Thing at a Time

Pernah nggak, Puan merasa dulu ada banyak hal yang bisa bikin Puan excited , tapi sekarang hal-hal itu terasa nothing special? Dulu bisa berjam-jam ngelakuin hal yang disuka, sekarang baru beberapa menit sudah ingin berhenti. Dulu punya banyak hal yang ingin dicoba, sekarang ditanya “lagi suka kegiatan apa?” malah bingung mau jawab apa. Puan masih menjalani aktivitas seperti biasa, kuliah, kerja, mengerjakan tugas, ketemu temen, scrolling media sosial. Everything seems fine. Tapi somehow, ada bagian dari diri Puan yang terasa berbeda. Seolah-olah spark yang dulu membuat hari-hari terasa lebih hidup perlahan menghilang.  Dan mungkin, Puan mulai bertanya-tanya, “What happened to me?”  1. Stop Trying to Become Your Old Self Ketika merasa kehilangan spark , kita sering kali ingin kembali menjadi diri kita yang dulu. Padahal, Puan udah melewati banyak hal sejak saat itu. Wajar kalau ada bagian dari diri Puan yang berubah. Karena itu, menemukan kembali spark bukan berarti harus meng...

Kesal Punya Teman Suka Ikut-Ikutan? Yuk, kenali Istilah Copy Cat Behavior!

Image by Entrepreneurship Compass   “Aku beli ini dia beli juga, aku ngelakuin ini dia juga ikut-ikutan, ih nyebelin dah!” Hai Puan! Siapa yang di sini pernah ngomel-ngomel karena merasa kesal ditiru oleh teman atau orang di sekitar Puan? Hm, memang sih memiliki tindakan, perilaku, hingga  style  yang serupa bisa saja terjadi dikarenakan memang produk-produk yang kamu pakai sedang  best seller  atau  trend  sehingga teman kamu pun juga tak sengaja membeli produk yang sama seperti kamu. Mungkin Puan cenderung merasa senang ataupun biasa saja ketika mengetahui orang terdekat Puan memiliki barang yang sama dengan kamu. Namun, bagaimana jadinya jika “persamaan” tersebut terjadi berkali-kali dan orang terdekat kamu terus menerus meniru kamu? Tentu kamu akan merasa tidak nyaman. Nah, perilaku tersebut disebut sebagai  copycat behaviour .  Copycat behaviour  merupakan perilaku menyalin atau meniru seseorang. Banyak alasan-alasan kenapa pelaku ...