Langsung ke konten utama

I'm Not Mad at You, I'm Just in Pain.

sumber: pexels.com Kebanyakan dari Puan pasti pernah ngalamin saat lagi menstruasi: perut kram, pinggang pegal, dan rasanya ingin rebahan aja gitu seharian. Belum lagi dengan emosi yang tidak stabil, hal sekecil apapun pasti bisa berpotensi bikin Puan sebal, padahal biasanya Puan bisa lebih santai menghadapi hal yang sama. Kadang, Puan sendiri juga pasti bingung kan kenapa jadi lebih sensitif dari biasanya. Susah fokus ngerjain tugas karena sakit, diajak ngobrol rasanya nggak punya energi, atau tiba-tiba ingin nangis tanpa tahu harus menjelaskan apa. Di tengah rasa nggak nyaman itu, Puan mungkin jadi bertanya-tanya, “Kenapa rasanya jadi sedih banget ya? Kok jadi gampang banget emosi?” Padahal, ada kalanya tubuh Puan memang sedang menghadapi banyak perubahan. Rasa sakit, perubahan suasana hati, dan kondisi emosional bisa datang berbarengan; apalagi saat sedang menstruasi. And why is that? It's Not Just About the Cramps Selama menstruasi, rasanya bukan cuma perut yang ikut merasakan ...

Kenali Decluttering, Aktivitas Merapikan Ruangan Serta Pikiran


Ilustrasi seseorang yang melakukan Decluttering (thelifestyleconcept.co.uk)


Pernah nggak, Puan ngerasa sulit berkonsentrasi atau tiba-tiba ngerasa pusing hanya karena ngeliat tumpukan baju di atas kursi atau meja yang dipenuhi kertas nggak dipakai? Kalo iya, Puan nggak sendirian. Fenomena ini adalah cerminan dari kondisi mental Puan.

Hal ini disebut Decluttering, yang artinya seni memilah dan membuang barang yang nggak lagi dibutuhkan. Sekarang bukan lagi sekadar tren gaya hidup minimalis, melainkan sebuah kebutuhan untuk menjaga kesehatan mental. Yuk! Priska bedah mengapa merapikan barang bisa berdampak besar bagi kedamaian batin Puan.

Secara psikologis, otak Puan pasti suka sama kerapihan. Lingkungan yang berantakan sering kali menciptakan apa yang disebut dengan Visual Noise atau kebisingan visual. Hasilnya? Puan jadi lebih mudah stres, sulit fokus, dan merasa cepat lelah secara mental. Dengan melakukan decluttering, Puan sebenarnya lagi ngasih nafas bagi otak agar bisa berpikir lebih jernih.

Manfaat Nyata dari Decluttering

Merapikan ruangan bukan sekedar ngebuat rumah jadi terlihat seperti di katalog majalah. Berikut adalah beberaepa manfaat yang bisa langsung Puan rasakan:

  • Mengurangi Kadar Kortisol: Studi menunjukkan bahwa orang yang tinggal di rumah yang rapi cenderung memiliki kadar hormon stres (kortisol) yang lebih rendah.

  • Meningkatkan Produktivitas: Tanpa distraksi visual, Puan bisa menyelesaikan tugas dengan lebih cepat dan efisien.

  • Membantu Pengambilan Keputusan: Proses memilah barang itu ngelatih kemampuan Puan dalam menentukan prioritas.

  • Menciptakan Rasa Bahagia (Spark Joy): Mengelilingi diri dengan barang yang benar-benar Puan cintai akan memberikan energi positif setiap harinya.

Baca juga: Detox Pikiran di Bulan Ramadhan: Stop Comparing, Start Reflecting!

Langkah Memulai Tanpa Merasa Terbebani

Banyak orang gagal ngelakuin decluttering karena ngerasa kewalahan di awal. Kuncinya adalah mulai dari yang kecil. Berikut tips dari Priska:

  1. Jangan langsung coba buat ngerapihin seluruh  sudut rumah dalam satu hari. Cukup luangkan 15 menit setiap hari untuk satu sudut kecil, misalnya laci meja atau rak sepatu.

  2. Metode Empat Kotak: Siapkan empat wadah dengan label: Simpan, Donasikan, Jual, dan Buang. Ini akan mempercepat proses pengambilan keputusan Puan

  3. Pertanyaan "90/90": Jika Puan belum memakainya dalam 90 hari terakhir dan tidak akan memakainya dalam 90 hari ke depan, kemungkinan besar Puan tidak membutuhkannya.

  4. Sering kali Puan ngerasa sulit membuang barang karena nilai barang itu. Tapi, ingatlah bahwa kenangan ada di hati, bukan pada benda yang berdebu di gudang.

Ingat ya, Puan! Decluttering adalah perjalanan, bukan tujuan akhir. Dengan mengurangi beban fisik di sekitar, Puan secara nggak langsung ngasih ruang bagi ide-ide baru, kedamaian, dan kebahagiaan untuk masuk ke dalam hidup Puan. Jadi, area mana yang ingin Puan rapikan hari ini?



Sekilas Tentang Puan Bisa

Puan Bisa adalah komunitas perempuan muda yang mendukung pengembangan karir, self-improvement, dan mental health. Sejak pertama kali didirikan tanggal 1 Oktober 2020 sampai saat ini, Puan Bisa aktif melakukan kegiatan kreatif dan edukatif yang dilakukan dengan tujuan meningkatkan kesadaran perempuan muda (khususnya usia 16-23 tahun) dalam mengembangkan kemampuan dan rasa cinta akan dirinya.


Author & Editor: Zalfa Zahiyah Putri Wibawa


Sumber Referensi:

Apa Itu Decluttering? Ini Arti, Manfaat, dan Cara Mulainya. (n.d.). Pos Indonesia. 

Corona, L. (2026, February 3). 8 Decluttering rules I live by as someone who writes about organizing for a living. Real Simple. 

Decluttering Mind: Cara Membersihkan Pikiran dari Kekhawatiran dan Meningkatkan Kesejahteraan. (n.d.). Guruinovatif.id. 

Komentar

Rubik Puan Popular

Puan Bisa Festival 2026 : Dorong Perempuan Muda Meninjau Keputusan Hidup Berdasar Integritas Diri

  Sumber: Dokumentasi Puan Bisa Festival 2026 Jakarta, 15 Oktober 2026  Di tengah dinamika dunia kerja dan persaingan dalam proses pencarian kerja, perempuan muda kerap menghadapi tekanan untuk terus meningkatkan kemampuan, mencapai standar kesuksesan tertentu, dan menentukan arah karir sejak dini. Kondisi ini dapat menimbulkan kebingungan dalam mengenali potensi diri serta menentukan langkah yang sesuai dengan kemampuan dan kondisi masing-masing. Menanggapi tantangan tersebut, Puan Bisa menghadirkan Webinar Career dalam rangkaian Puan Bisa Festival 2026 untuk mengajak perempuan muda mengenali potensi diri dan menyusun arah karir secara lebih terarah. Puan Bisa merupakan komunitas non-profit yang didirikan pada 1 Oktober 2020 dan berdedikasi untuk meningkatkan kesadaran perempuan muda Indonesia dalam mengembangkan kemampuan dan kecintaan terhadap diri sendiri melalui konten edukatif, Instagram Live, webinar, serta berbagai program pengembangan diri lainnya. Melalui kolaborasi,...

Intip antusiasme Para Puan Dalam Meninjau Keputusan Hidupnya di Puan Bisa Festival 2026!

Sumber: Dokumentasi Puan Bisa Festival 2026 J akarta, 13 Oktober 2026. Perempuan muda saat ini dihadapkan pada berbagai peluang sekaligus tekanan untuk sukses secara profesional, mandiri secara finansial, dan memenuhi ekspektasi sosial. Tekanan ini juga tercermin dalam dunia kerja; laporan McKinsey & Company dan LeanIn.Org (2025) mencatat sekitar 60% perempuan di level kepemimpinan melaporkan mengalami burnout secara konsisten. Di tengah berbagai tuntutan tersebut, proses menentukan arah hidup, mulai dari pendidikan dan karier hingga pembentukan identitas diri, dapat menjadi tantangan tersendiri. Menjawab tantangan ini, Puan Bisa Festival 2026 mengusung tema “Brave to Step Back: RISE”, yang mengajak perempuan muda untuk mengambil jeda, merefleksikan pilihan, dan menentukan arah hidup secara lebih sadar melalui pendekatan Self-Determination Theory (SDT). Diselenggarakan secara luring pada Sabtu, 10 Oktober 2026, bertepatan dengan Hari Kesehatan Mental Sedunia, Puan Bisa Festival 202...

Emotional Agility: Cara Bijak Mengelola Emosi

Sumber:  aventislearning.com Puan, bagaimana kalau emosi bukan musuh yang harus dihindari, melainkan sahabat yang bisa memandu kita untuk mengambil keputusan yang lebih bijak? Setiap hari Puan berhadapan dengan emosi yang beragam: senang, cemas, marah, kecewa, sampai rasa tidak berdaya. Sering kali, Puan diajarkan untuk menekan emosi tertentu dan menampilkan emosi lain agar terlihat “baik-baik saja”. Masalahnya, cara ini justru membuat jadi makin lelah. Emosi jadi menumpuk dan akhirnya meledak. Di sisi lain, ada juga yang membiarkan emosi menguasai dirinya. Sedikit kritik bisa membuat patah semangat, atau kegagalan kecil terasa seperti bencana yang besar. Padahal, emosi bukan musuh yang harus dihindari maupun hal yang harus ditaati. Yang kita butuhkan bukan “ positivity berlebihan ”, melainkan keterampilan untuk merespons emosi secara sehat dan fleksibel. Keterampilan inilah yang disebut emotional agility . Apa Itu Emotional Agility? Konsep ini diperkenalkan oleh psikolog Susan Dav...

Intentional Pause: Berhenti Sejenak Bukan Berarti Menyerah

  Sumber: pexels.com Halo, Puan! Puan pernah gak sih merasa harus selalu produktif? Baru selesai satu target, Puan udah langsung memikirkan target berikutnya. Apalagi kalau Puan lihat pencapaian orang lain di media sosial, rasanya jadi pengen ikut lari lebih cepat biar gak ketinggalan. Bahkan ketika sedang beristirahat pun, bisa muncul perasaan bersalah karena merasa gak cukup produktif. Tanpa sadar, Puan telah hidup dalam ritme yang menuntut semuanya serba cepat, cepat sukses, cepat berkembang, cepat mengambil keputusan, dan cepat mencapai tujuan. Padahal, sometimes, the most productive thing you can do is simply pause. Di tengah kehidupan yang serba cepat ini, mengambil jeda secara sadar atau intentional pause bisa menjadi cara untuk refleksi dan kembali terhubung dengan diri sendiri. Bukan sekadar berhenti dari kesibukan, tapi memberi ruang untuk berpikir, merefleksikan keadaan, dan menentukan step atau goals berikutnya dengan lebih bijak. Intentional pause dapat membantu Puan...

I'm Not Mad at You, I'm Just in Pain.

sumber: pexels.com Kebanyakan dari Puan pasti pernah ngalamin saat lagi menstruasi: perut kram, pinggang pegal, dan rasanya ingin rebahan aja gitu seharian. Belum lagi dengan emosi yang tidak stabil, hal sekecil apapun pasti bisa berpotensi bikin Puan sebal, padahal biasanya Puan bisa lebih santai menghadapi hal yang sama. Kadang, Puan sendiri juga pasti bingung kan kenapa jadi lebih sensitif dari biasanya. Susah fokus ngerjain tugas karena sakit, diajak ngobrol rasanya nggak punya energi, atau tiba-tiba ingin nangis tanpa tahu harus menjelaskan apa. Di tengah rasa nggak nyaman itu, Puan mungkin jadi bertanya-tanya, “Kenapa rasanya jadi sedih banget ya? Kok jadi gampang banget emosi?” Padahal, ada kalanya tubuh Puan memang sedang menghadapi banyak perubahan. Rasa sakit, perubahan suasana hati, dan kondisi emosional bisa datang berbarengan; apalagi saat sedang menstruasi. And why is that? It's Not Just About the Cramps Selama menstruasi, rasanya bukan cuma perut yang ikut merasakan ...