Langsung ke konten utama

I'm Not Mad at You, I'm Just in Pain.

sumber: pexels.com Kebanyakan dari Puan pasti pernah ngalamin saat lagi menstruasi: perut kram, pinggang pegal, dan rasanya ingin rebahan aja gitu seharian. Belum lagi dengan emosi yang tidak stabil, hal sekecil apapun pasti bisa berpotensi bikin Puan sebal, padahal biasanya Puan bisa lebih santai menghadapi hal yang sama. Kadang, Puan sendiri juga pasti bingung kan kenapa jadi lebih sensitif dari biasanya. Susah fokus ngerjain tugas karena sakit, diajak ngobrol rasanya nggak punya energi, atau tiba-tiba ingin nangis tanpa tahu harus menjelaskan apa. Di tengah rasa nggak nyaman itu, Puan mungkin jadi bertanya-tanya, “Kenapa rasanya jadi sedih banget ya? Kok jadi gampang banget emosi?” Padahal, ada kalanya tubuh Puan memang sedang menghadapi banyak perubahan. Rasa sakit, perubahan suasana hati, dan kondisi emosional bisa datang berbarengan; apalagi saat sedang menstruasi. And why is that? It's Not Just About the Cramps Selama menstruasi, rasanya bukan cuma perut yang ikut merasakan ...

“I Wish I Knew When I Was 20” Memahami Hidup Mulai dari Usia 20 Tahun

 

Buku "What I Wish I Knew When I Was 20" karya Prof. Tina Seelig (Amazon.com)

Menginjak usia 20 terlihat menyenangkan karena Puan telah memiliki kebebasan atas diri sendiri. Di usia muda, tubuh Puan masih bertenaga maksimal dan optimal, pikiran masih fresh, ide-ide yang dikeluarkan masih up to date, intinya Puan lagi ada di masa-masa emas untuk mengembangkan suatu hal. Namun, yang jarang terlihat adalah masa saat Puan merasa clueless akan hidup Puan sendiri untuk memutuskan karir dan perjalanan hidup Puan ke depannya.

Baca juga: Motivasi Bukan Ditunggu, tapi Dicari Lewat Aksi

Lalu, apa saja sebenarnya hal yang harus dipahami untuk menjalani hidup saat menginjak usia 20 tahun? Mengutip dari buku “What I Wish I Knew When I Was 20” karya Prof. Tina Seelig ada beberapa hal yang dapat Puan lakukan:

  1. Jangan Menunggu, Tapi Ciptakan! Seringkali Puan berpikir untuk menunggu kesempatan datang, menunggu orang lain yang membukanya, menunggu offering yang datang. Padahal, Puan bisa menciptakannya dan itu dimulai dari diri sendiri yang sesuai dengan tujuan hidup Puan, seperti membuat mini project, ikut komunitas, dan sebagainya.

  1. Jadikan Keterbatasan Sebagai Kelebihan Puan khawatir karena memiliki keterbatasan dari segi ekonomi, relasi, maupun kemampuan. Nah, di usia 20 ini justru saatnya Puan untuk memperbaiki semuanya. 

  • Keterbatasan dari segi ekonomi? Puan bisa mulai belajar bikin konten dan unggah di media sosial atau mengikuti freelance, karena di zaman yang serba digital ini banyak sekali yang memanfaatkan device-nya untuk menghasilkan uang tambahan untuk sekadar tambahan jajan, untung-untungnya Puan bisa jadi influencer yang terkenal dan mendapatkan fee yang banyak dari konten yang diunggah.

  • Keterbatasan relasi? Belajar keluar dari zona nyaman! Puan bisa mulai belajar untuk bergaul, bisa dimulai dari interactive di media sosial yang Puan miliki atau mencoba bergaul dengan teman dari teman yang Puan miliki dan coba hilangkan sikap pemalu agar dapat memperluas relasi ke orang lain!

  • Keterbatasan Kemampuan? Mulai asah soft skill dan hard skill melalui pelatihan. Puan bisa mendapatkan informasi selengkapnya terkait pelatihan soft skill dan hard skill melalui postingan instagram @puanbisa.

  1. Berani Mencoba dan Melihat Sudut Pandang Lain Pada usia 20-an emosi belum stabil dan mungkin saja Puan masih menjadi remaja labil. Namun, saat inilah waktu emas Puan untuk mempelajari itu semua. Jika Puan gagal saat mencoba hal baru, it’s okay! take a break dan evaluasi kesalahan apa saja yang Puan lakukan agar tidak terulang lagi. Lalu, mulailah berpikir dari sudut pandang lain karena dengan mempelajari sudut pandang lain Puan dapat melihat peluang yang sebelumnya tidak disadari

Menginjak usia 20 bukan berarti Puan harus menjadi sempurna, tetapi saat inilah waktunya Puan untuk belajar dan bertumbuh secara perlahan dengan efektif.

Sekilas Tentang Puan Bisa

Puan Bisa adalah komunitas perempuan muda yang mendukung pengembangan karir, self improvement, dan mental health. Sejak pertama kali didirikan tanggal 1 Oktober 2020 sampai saat ini, Puan Bisa aktif melakukan kegiatan kreatif dan edukatif yang dilakukan dengan tujuan meningkatkan kesadaran perempuan muda (khususnya usia 16-23 tahun) dalam mengembangkan kemampuan dan rasa cinta akan dirinya.


Referensi

Seelig, T. (2019). What I Wish I Knew When I Was 20. Jakarta: Mitra Pelita Internusa.

https://giovanni-valdata.medium.com/what-i-wish-i-knew-when-i-was-20-63995c3f271e

https://x.com/i/status/1960781125808513063



Author & Editor: Nurriska Aura Zahra

Komentar

Rubik Puan Popular

Puan Bisa Festival 2026 : Dorong Perempuan Muda Meninjau Keputusan Hidup Berdasar Integritas Diri

  Sumber: Dokumentasi Puan Bisa Festival 2026 Jakarta, 15 Oktober 2026  Di tengah dinamika dunia kerja dan persaingan dalam proses pencarian kerja, perempuan muda kerap menghadapi tekanan untuk terus meningkatkan kemampuan, mencapai standar kesuksesan tertentu, dan menentukan arah karir sejak dini. Kondisi ini dapat menimbulkan kebingungan dalam mengenali potensi diri serta menentukan langkah yang sesuai dengan kemampuan dan kondisi masing-masing. Menanggapi tantangan tersebut, Puan Bisa menghadirkan Webinar Career dalam rangkaian Puan Bisa Festival 2026 untuk mengajak perempuan muda mengenali potensi diri dan menyusun arah karir secara lebih terarah. Puan Bisa merupakan komunitas non-profit yang didirikan pada 1 Oktober 2020 dan berdedikasi untuk meningkatkan kesadaran perempuan muda Indonesia dalam mengembangkan kemampuan dan kecintaan terhadap diri sendiri melalui konten edukatif, Instagram Live, webinar, serta berbagai program pengembangan diri lainnya. Melalui kolaborasi,...

Intip antusiasme Para Puan Dalam Meninjau Keputusan Hidupnya di Puan Bisa Festival 2026!

Sumber: Dokumentasi Puan Bisa Festival 2026 J akarta, 13 Oktober 2026. Perempuan muda saat ini dihadapkan pada berbagai peluang sekaligus tekanan untuk sukses secara profesional, mandiri secara finansial, dan memenuhi ekspektasi sosial. Tekanan ini juga tercermin dalam dunia kerja; laporan McKinsey & Company dan LeanIn.Org (2025) mencatat sekitar 60% perempuan di level kepemimpinan melaporkan mengalami burnout secara konsisten. Di tengah berbagai tuntutan tersebut, proses menentukan arah hidup, mulai dari pendidikan dan karier hingga pembentukan identitas diri, dapat menjadi tantangan tersendiri. Menjawab tantangan ini, Puan Bisa Festival 2026 mengusung tema “Brave to Step Back: RISE”, yang mengajak perempuan muda untuk mengambil jeda, merefleksikan pilihan, dan menentukan arah hidup secara lebih sadar melalui pendekatan Self-Determination Theory (SDT). Diselenggarakan secara luring pada Sabtu, 10 Oktober 2026, bertepatan dengan Hari Kesehatan Mental Sedunia, Puan Bisa Festival 202...

Emotional Agility: Cara Bijak Mengelola Emosi

Sumber:  aventislearning.com Puan, bagaimana kalau emosi bukan musuh yang harus dihindari, melainkan sahabat yang bisa memandu kita untuk mengambil keputusan yang lebih bijak? Setiap hari Puan berhadapan dengan emosi yang beragam: senang, cemas, marah, kecewa, sampai rasa tidak berdaya. Sering kali, Puan diajarkan untuk menekan emosi tertentu dan menampilkan emosi lain agar terlihat “baik-baik saja”. Masalahnya, cara ini justru membuat jadi makin lelah. Emosi jadi menumpuk dan akhirnya meledak. Di sisi lain, ada juga yang membiarkan emosi menguasai dirinya. Sedikit kritik bisa membuat patah semangat, atau kegagalan kecil terasa seperti bencana yang besar. Padahal, emosi bukan musuh yang harus dihindari maupun hal yang harus ditaati. Yang kita butuhkan bukan “ positivity berlebihan ”, melainkan keterampilan untuk merespons emosi secara sehat dan fleksibel. Keterampilan inilah yang disebut emotional agility . Apa Itu Emotional Agility? Konsep ini diperkenalkan oleh psikolog Susan Dav...

Intentional Pause: Berhenti Sejenak Bukan Berarti Menyerah

  Sumber: pexels.com Halo, Puan! Puan pernah gak sih merasa harus selalu produktif? Baru selesai satu target, Puan udah langsung memikirkan target berikutnya. Apalagi kalau Puan lihat pencapaian orang lain di media sosial, rasanya jadi pengen ikut lari lebih cepat biar gak ketinggalan. Bahkan ketika sedang beristirahat pun, bisa muncul perasaan bersalah karena merasa gak cukup produktif. Tanpa sadar, Puan telah hidup dalam ritme yang menuntut semuanya serba cepat, cepat sukses, cepat berkembang, cepat mengambil keputusan, dan cepat mencapai tujuan. Padahal, sometimes, the most productive thing you can do is simply pause. Di tengah kehidupan yang serba cepat ini, mengambil jeda secara sadar atau intentional pause bisa menjadi cara untuk refleksi dan kembali terhubung dengan diri sendiri. Bukan sekadar berhenti dari kesibukan, tapi memberi ruang untuk berpikir, merefleksikan keadaan, dan menentukan step atau goals berikutnya dengan lebih bijak. Intentional pause dapat membantu Puan...

I'm Not Mad at You, I'm Just in Pain.

sumber: pexels.com Kebanyakan dari Puan pasti pernah ngalamin saat lagi menstruasi: perut kram, pinggang pegal, dan rasanya ingin rebahan aja gitu seharian. Belum lagi dengan emosi yang tidak stabil, hal sekecil apapun pasti bisa berpotensi bikin Puan sebal, padahal biasanya Puan bisa lebih santai menghadapi hal yang sama. Kadang, Puan sendiri juga pasti bingung kan kenapa jadi lebih sensitif dari biasanya. Susah fokus ngerjain tugas karena sakit, diajak ngobrol rasanya nggak punya energi, atau tiba-tiba ingin nangis tanpa tahu harus menjelaskan apa. Di tengah rasa nggak nyaman itu, Puan mungkin jadi bertanya-tanya, “Kenapa rasanya jadi sedih banget ya? Kok jadi gampang banget emosi?” Padahal, ada kalanya tubuh Puan memang sedang menghadapi banyak perubahan. Rasa sakit, perubahan suasana hati, dan kondisi emosional bisa datang berbarengan; apalagi saat sedang menstruasi. And why is that? It's Not Just About the Cramps Selama menstruasi, rasanya bukan cuma perut yang ikut merasakan ...