Langsung ke konten utama

Decision Fatigue: Kenapa Memilih Menu Makan Malam Bisa Terasa Sangat Berat?

  Ilustrasi seseorang yang mengalami decision fatigue (brainfacts.org) Pernah nggak, Puan ngerasa kalau semakin sore, Puan jadi semakin ceroboh atau malah makin nggak bisa milih sesuatu? Puan sanggup menyelesaikan revisi tugas yang sulit di pagi hari, tapi begitu malam tiba, memilih film di Netflix saja butuh waktu satu jam dan berakhir nggak jadi nonton apa-apa karena bingung. Fenomena ini dikenal sebagai decision fatigue atau kelelahan mengambil keputusan. Sederhananya, otak Puan memiliki kapasitas terbatas untuk membuat pilihan setiap hari. Setiap keputusan yang diambil, mulai dari memilih pakaian, menentukan menu sarapan, memilih rute perjalanan, hingga membalas pesan penting, sedikit demi sedikit menguras energi mental Puan sendiri. Kenapa Fenomena Ini Bisa Terjadi? Ibaratnya, otak Puan seperti baterai HP. Setiap pilihan yang Puan buat, sekecil apa pun, memakan daya baterai tersebut. Masalahnya, pendidikan sampai pekerjaan memaksa Puan mengambil ribuan keputusan kecil setiap ...

Present to Impress: Learning Space Puan Bisa Bekali Anak Muda Tampil Profesional dan Autentik - PRESS RELEASE LEARNING SPACE

Jakarta, 14 Desember 2025 — Puan Bisa merupakan organisasi pemberdayaan perempuan yang berfokus pada pilar mental health, self improvement, dan career menyelenggarakan Learning Space secara online bertajuk “Present to Impress: Crafting a Professional Image Through Color, Style, and Grooming”. Acara tersebut diadakan pada hari Minggu, 14 Desember 2025 pukul 13.00 WIB melalui platform zoom. Kegiatan ini diikuti oleh 38 peserta dan ditujukan bagi anak muda khususnya perempuan yang ingin membangun citra dan penampilan yang lebih profesional serta autentik.

Di tengah dinamika dunia professional yang semakin kompetitif, kemampuan teknis saja tidak lagi cukup. Penampilan, cara membawa diri, serta visual menjadi bagian penting sebagai komunikasi non-verbal yang membentuk persepsi mengenai kesiapan, karier, bahkan kredibilitas seseorang. Namun, masih banyak anak muda yang kebingungan dalam menentukan gaya personal, memilih warna yang sesuai, serta memahami standar grooming yang mendukung citra. Hal ini dapat berdampak pada tingkat kepercayaan diri, terutama saat wawancara kerja, presentasi, dan interaksi formal lainnya.


Melihat urgensi tersebut, Puan Bisa menghadirkan Anindhita Indira, seorang Certified Image Consultant dari Academy of Image Mastery, Singapore, sebagai narasumber utama. Dengan pengalaman lebih dari 11 tahun di industri FMCG, Anindhita membagikan pemahaman praktis mengenai pembentukan personal image yang profesional dan relevan dengan kebutuhan dunia kerja masa kini.


Dalam sesi materinya, Anindhita menjelaskan bahwa appearance merupakan keseluruhan hal yang terlihat dari seseorang.

“Appearance itu mencakup semua yang kita lihat, mulai dari look, walk, dan talk,” jelasnya.


Ia menekankan bahwa penampilan profesional tidak harus berlebihan, melainkan ditampilkan secara sederhana namun tetap tertata. Ia menegaskan bahwa dengan menjaga kesederhanaan, kebersihan, dan kerapian, penampilan profesional dapat tetap terlihat menarik tanpa terkesan berlebihan. “Usahakan terlihat natural, tapi rapi,” ujarnya.


Lebih lanjut, Anindhita menggarisbawahi pentingnya pemilihan warna dalam membangun kesan visual.“Penggunaan colour yang kurang cocok membuat warna muka lebih gelap dan abu-abu, sedangkan colour yang cocok akan membuat lebih cerah,” ungkapnya.


Menurutnya, perubahan kecil pun dapat memberikan dampak signifikan pada penampilan.

“Satu lipstik saja, bisa ada perubahan,” tambah Anindhita.


Untuk membantu peserta mengenali warna terbaik bagi diri mereka, Anindhita menyarankan eksplorasi personal color secara langsung. “Untuk melihat personal colour, dapat mencoba dengan berbagai warna atau padu padan warna,” jelasnya.


Ia menjelaskan bahwa setiap orang memiliki karakter warna kulit yang berbeda, sehingga warna yang cocok pada satu orang belum tentu memberikan efek yang sama pada orang lain, dan proses mencoba menjadi kunci untuk menemukan warna yang paling membuat wajah terlihat cerah dan segar.


Ia juga membagikan tips sederhana dengan memanfaatkan warna berlawanan sebagai trik untuk menonjolkan tampilan secara natural dan tidak berlebihan. “Coba gunakan warna berlawanan, seperti orange dan biru,” tutupnya.



Rangkaian Learning Space berlangsung secara interaktif, dimulai dari sesi pembukaan, materi, tanya jawab, hingga sesi praktik langsung yang memungkinkan peserta menerapkan materi secara nyata. Kegiatan ini juga dilengkapi dengan penyerahan sertifikat, games interaktif, serta pengisian post-test dan form umpan balik peserta.


Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman mengenai pentingnya personal branding dan peran penampilan dalam membentuk citra profesional, membekali peserta dengan wawasan praktis terkait pemilihan warna, gaya busana, dan grooming, serta meningkatkan kepercayaan diri peserta dalam menampilkan diri di berbagai konteks profesional maupun sosial.


Melalui Learning Space “Present to Impress”, Puan Bisa berharap dapat terus menghadirkan ruang belajar yang relevan dan berdampak, serta mendorong perempuan muda untuk tampil lebih percaya diri, berdaya, dan meninggalkan kesan profesional yang kuat sejak kesan pertama.


Author: Ighra Amalia

Editor: Cut Desyanti

Komentar

Rubik Puan Popular

Decision Fatigue: Kenapa Memilih Menu Makan Malam Bisa Terasa Sangat Berat?

  Ilustrasi seseorang yang mengalami decision fatigue (brainfacts.org) Pernah nggak, Puan ngerasa kalau semakin sore, Puan jadi semakin ceroboh atau malah makin nggak bisa milih sesuatu? Puan sanggup menyelesaikan revisi tugas yang sulit di pagi hari, tapi begitu malam tiba, memilih film di Netflix saja butuh waktu satu jam dan berakhir nggak jadi nonton apa-apa karena bingung. Fenomena ini dikenal sebagai decision fatigue atau kelelahan mengambil keputusan. Sederhananya, otak Puan memiliki kapasitas terbatas untuk membuat pilihan setiap hari. Setiap keputusan yang diambil, mulai dari memilih pakaian, menentukan menu sarapan, memilih rute perjalanan, hingga membalas pesan penting, sedikit demi sedikit menguras energi mental Puan sendiri. Kenapa Fenomena Ini Bisa Terjadi? Ibaratnya, otak Puan seperti baterai HP. Setiap pilihan yang Puan buat, sekecil apa pun, memakan daya baterai tersebut. Masalahnya, pendidikan sampai pekerjaan memaksa Puan mengambil ribuan keputusan kecil setiap ...

Merasa Dipahami, atau Hanya Divalidasi? Fenomena Baru Kesehatan Mental

Sumber: Pinterest Pernah nggak sih, Puan lagi ngerasa capek, overthinking , atau sekadar butuh didenger… terus akhirnya buka media sosial? Scroll bentar, lihat story orang lain, posting sesuatu, nungguin like masuk. Atau mungkin, Puan malah buka chat dan mulai curhat panjang dan yang jawab bukan manusia, tapi AI. Aneh nggak sih? Kita bisa ngerasa lega, walaupun yang “dengerin” bukan orang beneran. Kalau Puan pernah ngerasain itu, tenang… Puan nggak sendirian. Tapi, mungkin tanpa sadar, Puan lagi ada di tengah fenomena yang lebih besar: mencari validasi secara online —baik dari manusia di sosial media, maupun dari teknologi seperti ChatGPT. Yuk, kita bedah pelan-pelan, kenapa ini bisa terjadi dan apa dampaknya ke kesehatan mental Puan. Kenapa Kita Butuh Banget Validasi? Secara dasar, manusia itu memang butuh merasa: didengar, dipahami, dan diterima. Namun, Itu bukan kelemahan, melainkan kebutuhan psikologis. Masalahnya, di era digital, cara kita memenuhi kebutuhan itu jadi berubah. Set...

Perempuan dan Overachievement Trap: Sisi Lain Produktivitas

  Pict by: Bustle.com Pernahkah Puan merasa sudah berusaha dengan maksimal, tetapi merasa performa yang ditampilkan kurang ataupun berusaha untuk mengejar ekspektasi agar bisa selalu dihargai?  Alih-alih merasa puas, Puan justru terus mendorong diri untuk melakukan hal-hal diluar batas diri Puan. Hal ini bukan karena tuntutan yang sudah jelas ada, melainkan ada dorongan untuk selalu memenuhi ekspektasi, baik diri sendiri maupun orang lain. Jika kondisi ini terasa familiar, bisa jadi Puan sedang berada dalam overachievement trap. Apa Itu Overachievement Trap ? Overachievement trap merupakan kondisi ketika seseorang terus berusaha mencapai level yang lebih tinggi, bukan karena kebutuhannya, melainkan merasa dirinya sebagai perempuan belum cukup layak dan dihargai oleh sekitar. Secara psikologis, kondisi ini berkaitan dengan perfeksionisme, terutama dipengaruhi oleh tekanan sosial.  Paul L. Hewitt dan Gordon L. Flett menjelaskan bahwa perfeksionisme yang berorientasi pada t...

Business Mindset untuk Daily Life: Cara Berpikir Strategis dalam Menjalani Hidup

image by RDNE Stock project P uan, pernah nggak sih ngerasa sibuk dan banyak ikut kegiatan, tapi ujung-ujungnya masih ngerasa ‘ what am I really building? ’ Di dunia bisnis ada yang namanya Business Mindset . Dalam mindset ini tuh nggak cuma soal target, profit, atau strategi perusahaan. Intinya, ini tentang cara berpikir yang terarah, proaktif, dan adaptif .  Prinsip-prinsip ini nggak cuma berlaku untuk perusahaan, tapi juga bisa langsung diterapin di kehidupan sehari-hari. Misalnya, supaya Puan bisa: Nggak cuma sibuk, tapi tahu prioritas dan arah. Berpikir analitis sebelum mengambil keputusan. Mengelola hidup dan tujuan seperti proyek nyata. Tetap fleksibel dan komunikatif di tengah perubahan. Baca juga: Soft Skill, Kunci Bertahan Puan di Dunia Nyata Nah, supaya nggak cuma teori aja, kita langsung masuk ke beberapa mindset kunci yang bisa Puan terapkan mulai sekarang. 1. Proaktif: Jangan Cuma Nunggu Kesempatan Menurut Future of Jobs Report 2023 dari World Economic Forum, keteram...

Menerapkan Stoicism dalam Bermedia Sosial: Mau Upload Sesuatu tapi Malu? Tenang, Orang-Orang Nggak Se-Peduli Itu Kok!

Image by  www.socialmediae.com         Pernah nggak sih, Puan merasa ragu untuk posting sesuatu di media sosial? Misalnya, takut dibilang nggak produktif atau dianggap nggak ada kerjaan. Banyak sekali orang yang saat ini sedang sibuk membangun personal branding di Instagram, LinkedIn, atau media sosial lainnya. Mulai dari upload berbagai pencapaian, pengalaman di organisasi, hingga kegiatan volunteer yang kelihatannya asik dan keren banget. Nggak sedikit juga yang update hal-hal tersebut bahkan di akun kedua atau second account mereka.           Nggak ada yang salah dengan hal itu. Namun, di sisi lain, banyak juga yang akhirnya jadi minder . "Duh, kalau gue cuma upload foto kopi doang, kelihatan nggak produktif banget, nggak, sih?" atau "Mau post selfie aja kok jadi mikir-mikir, takut dikira nggak ada kerjaan." Pernah merasa begitu? Yuk, baca artikel ini sampai selesai! Pahami Fungsi Media Sosial yang Berbeda-beda ...