LinkedIn dan Ilusi 'Semua Orang Sudah Lebih Maju'
Di LinkedIn, Puan hampir setiap hari melihat kabar baik: diterima kerja, naik jabatan, lolos program bergengsi, atau menyelesaikan sertifikasi. Sekilas, semuanya tampak berjalan cepat dan terarah. Tanpa disadari, muncul perasaan bahwa orang lain sudah melangkah, sementara Puan masih di tempat yang sama. Padahal, yang ditampilkan sering kali hanyalah bagian terbaik dari perjalanan seseorang, bukan keseluruhan prosesnya.
Ketika Timeline Jadi Tolok Ukur yang Tidak Adil
Masalah mulai muncu ketika Puan menjadikan apa yang dilihat sebagai standar. Puan membandingkan proses yang masih berjalan dengan hasil akhir orang lain yang sudah dipoles rapi. Perbandingan ini tidak seimbang sejak awal. Akibatnya, rasa tertinggal itu bukan karena Puan benar-benar tidak berkembang, tetapi karena standar yang digunakan memang tidak realistis.
Apa yang tampil di LinkedIn adalah "highlight", sementara yang Puan rasakan adalah "behind the scene". Puan melihat pencapaian orang lain tanpa melihat kegagalan, penolakan, atau kebingungan yang mereka alami sebelumnya. Ketika dua hal ini dibandingkan, wajar jika hasilnya membuat Puan merasa kurang. Bukan karena Puan tidak cukup, tetapi karena informasi yang Puan terima memang tidak utuh.
Baca juga: Perempuan dan Overachievement Trap: Sisi Lain Produktivitas
Ambisi yang Pelan-Pelan Berubah Jadi Tekanan
Awalnya, melihat pencapaian orang lain bisa terasa motivasi. Namun jika terjadi terus-menerus tanpa filter, motivasi itu bisa berubah menjadi tekanan. Puan mulai merasa harus mengejar lebih banyak, lebih cepat, dan lebih tinggi, bukan karena kebutuhan pribadi, tetapi karena takut tertinggal. Di titik ini, batas antara ambisi dan kecemasan menjadi semakin tipis.
Penting untuk diingat bahwa setiap orang berada di fase yang berbeda. Ada yang sedang memulai, ada yang sedang mencoba ulang, dan ada yang memang sedang berada di puncak. Apa yang terlihat sebagai "lebih maju" belum tentu lebih sesuai dengan jalan Puan. Tanpa perspektif ini, Puan akan terus merasa tertinggal dalam perlombaan yang sebenarnya tidak pernah Puan pilih.
Mengembalikan Arah ke Diri Sendiri
Daripada menjadikan LinkedIn sebagai alat ukut nilai diri, akan lebih sehat jika Puan melihatnya sebagai sumber referensi. Tidak semua pencapaian orang lain harus diikuti, dan tidak semua jalur karier cocok untuk Puan. Saat Puan mulai fokus pada ritme dan arah sendiri, ilusi bahwa "semua orang sudah lebih maju" perlahan akan melemah. Karena pada akhirnya, yang paling penting bukan seberapa cepat Puan melangkah, tetapi apakah Puan benar-benar tahu ke mana ingin pergi
Sekilas Tentang Puan Bisa
Puan Bisa adalah komunitas perempuan muda yang mendukung pengembangan karir, self-improvement, dan mental health. Sejak pertama kali didirikan tanggal 1 Oktober 2020 sampai saat ini, Puan Bisa aktif melakukan kegiatan kreatif dan edukatif yang dilakukan dengan tujuan meningkatkan kesadaran perempuan muda (khususnya usia 16-23 tahun) dalam mengembangkan kemampuan dan rasa cinta akan dirinya.
Referensi
Roberts, L. M., & David, M. E. (2020). The social media party: Fear of missing out (FoMO), social media intensity, connection, and well-being. International Journal of Human-Computer Interaction, 36(4), 386–392. https://www.tandfonline.com/doi/full/10.1080/10447318.2019.1646517
Komentar
Posting Komentar