Langsung ke konten utama

The Lipstick Effect in the Age of Bad News

Puan pernah ngalamin nggak, sudah berniat untuk menabung, tapi beberapa jam kemudian sudah ada kopi di tangan Puan? Kopi tersebut sebetulnya lagi nggak Puan perluin sih… tapi Puan pengen beli aja. Mungkin Puan berpikir “Ah cuma 20 ribu, kok” dan merasa aman setelah spend uang akan hal tersebut, tapi nyatanya ini adalah suatu fenomena yang terjadi dalam dunia ekonomi, yaitu kebiasaan membeli barang-barang kecil sebagai bentuk self-reward yang dikenal dengan istilah Lipstick Effect .  Sumber: Magnific.com A. What is the Lipstick Effect? Saat kondisi ekonomi sedang kacau, harga kebutuhan pokok sedang naik-naiknya, banyak konsumen yang mulai menahan diri untuk melakukan pengeluaran besar, mungkin salah satunya adalah Puan. Namun sebagai gantinya, anggaran tersebut malah dialihkan untuk memenuhi kebutuhan psikologis yang lebih terjangkau. Lipstick Effect adalah suatu fenomena yang terjadi saat kondisi ekonomi sedang tidak baik-baik saja, tetapi para konsumen tetap membeli suatu produk ...

Takut Ditolak Orang Lain Sampai Takut dengan Diri Sendiri? Yuk, Pahami Respons Fawn

Source: Magnific

Apakah Puan pernah merasa sulit menolak permintaan orang lain, meski sebenarnya sedang lelah? Atau lebih memilih mengalah agar tidak cekcok dengan orang lain? Jika iya, mungkin Puan sedang mengalami respons fawn

Di mata orang lain, selalu mengalah sering dipandang sebagai tanda bahwa seseorang itu baik hati, penyabar, dan sering bisa diandalkan. Padahal, tidak semua sikap tersebut muncul karena keinginan sendiri. 


Ada kalanya Puan terus berusaha menyenangkan orang lain karena merasa itu adalah satu-satunya cara agar diterima, disukai, atau dijauhkan dari perselisihan. Jika kebiasaan ini dilakukan terus-menerus hingga mengabaikan kebutuhan diri sendiri, bisa jadi itu merupakan salah satu tanda dari respons fawn.


Apa Itu Respons Fawn

Respons fawn adalah kecenderungan untuk selalu menyenangkan orang lain demi menghindari penolakan, konflik, atau kemarahan. Puan dengan respons ini biasanya rela mengesampingkan kebutuhan dan perasaannya sendiri agar tetap diterima oleh lingkungan sekitar. 


Sayangnya, jika terus dibiarkan, kebiasaan ini bisa membuat seseorang kehilangan batasan diri dan merasa kelelahan secara emosional. 


Ciri-Ciri Respons Fawn

Puan bisa menunjukkan respons fawn dengan cara yang berbeda. Namun, beberapa ciri-ciri respons fawn yang paling umum antara lain:


  • Sulit mengatakan “nggak”, meski sebenarnya tidak sanggup.
  • Selalu mengutamakan kebutuhan orang lain dibanding diri sendiri.
  • Takut membuat orang lain kecewa, marah, atau meninggalkanmu.
  • Menghindari konflik dengan cara terus mengalah.
  • Sering meminta maaf untuk hal-hal yang sebenarnya bukan kesalahanmu.
  • Menyembunyikan pendapat atau perasaan agar orang lain tetap nyaman.
  • Merasa bersalah ketika memprioritaskan diri sendiri.
  • Sulit menetapkan batasan dalam hubungan, pekerjaan, atau pertemanan.
  • Merasa harga diri bergantung pada penerimaan atau penilaian orang lain.
  • Mudah merasa lelah secara emosional karena terus berusaha memenuhi ekspektasi semua orang.


Kebiasaan atau ciri-ciri tersebut sangat mencerminkan adanya kebutuhan rasa aman, namun rasa aman tersebut terasa berat sebelah. Kadang Puan lebih sering mengabaikan diri sendiri dengan, misalnya memendam uneg-uneg kepada orang lain. Kebiasaan tersebutlah yang mencerminkan versi diri yang lebih “aman” buat orang lain.


Kenapa Respons Fawn Bisa Terjadi?

Respons fawn umumnya berkembang sebagai mekanisme bertahan hidup. Sebagian Puan belajar sejak kecil bahwa cara paling aman untuk menghindari konflik adalah dengan selalu patuh, mengalah, atau menyenangkan orang lain. Akibatnya, pola tersebut terbawa hingga dewasa dan menjadi kebiasaan yang dilakukan secara otomatis.


Inilah mengapa kemungkinan beberapa dari Puan dengan respons fawn begitu takut ditolak oleh orang lain. Namun, tanpa disadari, rasa takut itu justru membuat mereka terus menolak diri sendiri. Menolak kebutuhan untuk beristirahat, menolak pendapat sendiri, hingga menolak perasaan yang sebenarnya ingin diungkapkan.


Cara Mengatasi Respons Fawn

Kabar baiknya, respons fawn tidak selamanya mengendap dalam diri Puan. Dengan latihan dan kesadaran, Puan bisa mulai membangun hubungan yang lebih sehat dengan diri sendiri maupun orang lain. Berikut beberapa cara mengatasi respons fawn yang bisa dicoba.


  • Sadari kapan Puan mengatakan “iya” karena memang ingin membantu, dan kapan karena takut ditolak.
  • Biasakan bertanya pada diri sendiri, “Apa aku benar-benar ingin melakukan ini?”
  • Berlatih mengatakan “nggak” mulai dari situasi yang sederhana.
  • Ingat bahwa menetapkan batasan bukan berarti egois.
  • Kurangi kebiasaan meminta maaf jika memang tidak melakukan kesalahan.
  • Beri jeda sebelum menjawab permintaan orang lain agar punya waktu mempertimbangkan keputusan.
  • Latih diri untuk menerima bahwa tidak semua orang harus menyukai Puan.
  • Bangun rasa percaya diri yang berasal dari diri sendiri, bukan dari validasi orang lain.
  • Luangkan waktu untuk mengenali kebutuhan, emosi, dan keinginanmu sendiri.
  • Jika pola ini sudah mengganggu kehidupan sehari-hari, pertimbangkan untuk berkonsultasi dengan psikolog agar mendapatkan dukungan yang sesuai.


Pada akhirnya, menjadi orang yang baik tidak berarti harus selalu mengorbankan diri sendiri. Membantu orang lain adalah hal yang positif, tetapi kebutuhan dan perasaanmu juga sama pentingnya untuk didengar. Jadi, kalau selama ini Puan begitu takut ditolak oleh orang lain, mungkin sekarang saatnya belajar menerima satu orang yang paling sering Puan abaikan, yakni diri Puan sendiri.



Sekilas Tentang Puan Bisa

Puan Bisa adalah komunitas perempuan muda yang mendukung pengembangan karir, self-improvement, dan mental health. Sejak pertama kali didirikan tanggal 1 Oktober 2020 sampai saat ini, Puan Bisa aktif melakukan kegiatan kreatif dan edukatif yang dilakukan dengan tujuan meningkatkan kesadaran perempuan muda (khususnya usia 16-23 tahun) dalam mengembangkan kemampuan dan rasa cinta akan dirinya. 

Referensi

Mandal, Shreya. (2025, June 5). People-pleasing behavior is a complex reaction of the autonomic nervous system. Psychology Today. https://www.psychologytoday.com/us/blog/bipoc-mental-health/202504/demystifying-the-fawn-response 


Author & Editor: Caesi Rosprianti

Komentar

Rubik Puan Popular

Mindfulness 101: Finding Your Focus in a World Full of Distractions

  sumber: magnific.com Puan pernah ngalamin nggak, lagi ngerjain tugas, terus ada satu notifikasi masuk, kemudian cek notifnya, balas satu chat, eh lanjut buka TikTok dan akhirnya lupa kalau tadi sebenarnya Puan lagi ngapain? Di tengah dunia yang full of distractions ini, perhatian kita rasanya gampang banget berpindah dari satu hal ke hal lainnya. Belum selesai satu informasi, sudah muncul informasi baru. Belum selesai proses berita satu, sudah ada berita lainnya. Tanpa sadar, kita bisa menghabiskan banyak waktu dengan gadget tanpa benar-benar sadar sedang melakukan apa. Di sinilah mindfulness bisa menjadi salah satu cara untuk membantu Puan lebih sadar terhadap bagaimana Puan menggunakan teknologi dan ke mana perhatian Puan pergi. Mindfulness Itu Apa, Sih? Mindfulness secara sederhana adalah kemampuan untuk menyadari dan benar-benar hadir terhadap apa yang sedang kita lakukan saat ini, tanpa langsung menghakimi pikiran atau perasaan yang muncul. Menurut Meegasdeniya dan Dulnath (...

The Lipstick Effect in the Age of Bad News

Puan pernah ngalamin nggak, sudah berniat untuk menabung, tapi beberapa jam kemudian sudah ada kopi di tangan Puan? Kopi tersebut sebetulnya lagi nggak Puan perluin sih… tapi Puan pengen beli aja. Mungkin Puan berpikir “Ah cuma 20 ribu, kok” dan merasa aman setelah spend uang akan hal tersebut, tapi nyatanya ini adalah suatu fenomena yang terjadi dalam dunia ekonomi, yaitu kebiasaan membeli barang-barang kecil sebagai bentuk self-reward yang dikenal dengan istilah Lipstick Effect .  Sumber: Magnific.com A. What is the Lipstick Effect? Saat kondisi ekonomi sedang kacau, harga kebutuhan pokok sedang naik-naiknya, banyak konsumen yang mulai menahan diri untuk melakukan pengeluaran besar, mungkin salah satunya adalah Puan. Namun sebagai gantinya, anggaran tersebut malah dialihkan untuk memenuhi kebutuhan psikologis yang lebih terjangkau. Lipstick Effect adalah suatu fenomena yang terjadi saat kondisi ekonomi sedang tidak baik-baik saja, tetapi para konsumen tetap membeli suatu produk ...

Learning Space Puan Bisa : Kenapa Banyak Perempuan Muda Susah Keluar Dari Problematika Karir?

Jakarta, 7 Februari 2026 - Puan Bisa, komunitas berbasis pemberdayaan perempuan muda Indonesia, memetakan permasalahan terkait dengan dinamika psikologi perempuan muda dalam menghadapi crisis identity khususnya berkaitan dengan arah karir. Hal ini mengakibatkan lebih dari 80% perempuan muda Indonesia mengalami demotivated, overthinking, resah, tidak percaya diri, dan dampak buruk lainnya. Berangkat dari pemetaan permasalahan tersebut, Puan Bisa mengadakan acara Learning Space Puan Bisa 2026 berkolaborasi dengan awardee Puan Bisa Festival 2025 dengan tema "Gap Between Hustle & Reality: Why Young Professionals Feels Stucks in Their Careers" yang dihadiri oleh dari 10 perempuan muda. Puan Bisa merupakan komunitas pemberdayaan perempuan muda Indonesia yang berdiri sejak 1 Oktober 2020. Puan Bisa memiliki fokus pada self-improvement, career, dan mental health. Melalui berbagai program pemberdayaan, Puan Bisa hadir memiliki tujuan untuk menginspirasi dan mengedukasi perempuan m...

Bukan Digital Detox, Yuk Kenali Konsep Digital Minimalism!

  Sampul buku Digital Minimalism oleh Cal Newport (penguinrandomhouse.com) Hai Puan! Pernah gak sih cuma mau buka Instagram lima menit, tapi ternyata satu jam sudah berlalu? Atau Puan tanpa sadar mengecek ponsel setiap kali ada waktu luang? Kebiasaan ini mungkin terasa normal, tetapi bisa membuat kita kehilangan fokus, waktu, bahkan ketenangan.  Digital minimalism merupakan salah satu strategi yang membantu kita untuk mengoptimalkan penggunaan teknologi dan menggunakan teknologi secara lebih sadar. Intinya, kita hanya fokus pada aplikasi atau aktivitas digital yang benar-benar bermanfaat dan sejalan dengan nilai atau tujuan hidup. Sementara itu, hal-hal yang tidak memberi manfaat nyata bisa dikurangi atau bahkan ditinggalkan agar waktu dan perhatian tidak terkuras sia-sia.  Baca juga: Menghilangkan Demotivasi ala Buku “Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati” Digital minimalism melibatkan peninjauan kembali waktu yang dihabiskan pada perangkat sesuai dengan tujuan dan kebutuhan pri...