Langsung ke konten utama

The Lipstick Effect in the Age of Bad News

Puan pernah ngalamin nggak, sudah berniat untuk menabung, tapi beberapa jam kemudian sudah ada kopi di tangan Puan? Kopi tersebut sebetulnya lagi nggak Puan perluin sih… tapi Puan pengen beli aja. Mungkin Puan berpikir “Ah cuma 20 ribu, kok” dan merasa aman setelah spend uang akan hal tersebut, tapi nyatanya ini adalah suatu fenomena yang terjadi dalam dunia ekonomi, yaitu kebiasaan membeli barang-barang kecil sebagai bentuk self-reward yang dikenal dengan istilah Lipstick Effect .  Sumber: Magnific.com A. What is the Lipstick Effect? Saat kondisi ekonomi sedang kacau, harga kebutuhan pokok sedang naik-naiknya, banyak konsumen yang mulai menahan diri untuk melakukan pengeluaran besar, mungkin salah satunya adalah Puan. Namun sebagai gantinya, anggaran tersebut malah dialihkan untuk memenuhi kebutuhan psikologis yang lebih terjangkau. Lipstick Effect adalah suatu fenomena yang terjadi saat kondisi ekonomi sedang tidak baik-baik saja, tetapi para konsumen tetap membeli suatu produk ...

The Lipstick Effect in the Age of Bad News

Puan pernah ngalamin nggak, sudah berniat untuk menabung, tapi beberapa jam kemudian sudah ada kopi

di tangan Puan? Kopi tersebut sebetulnya lagi nggak Puan perluin sih… tapi Puan pengen beli aja.

Mungkin Puan berpikir “Ah cuma 20 ribu, kok” dan merasa aman setelah spend uang akan hal tersebut,

tapi nyatanya ini adalah suatu fenomena yang terjadi dalam dunia ekonomi, yaitu kebiasaan membeli

barang-barang kecil sebagai bentuk self-reward yang dikenal dengan istilah Lipstick Effect. 


Sumber: Magnific.com


A. What is the Lipstick Effect?

Saat kondisi ekonomi sedang kacau, harga kebutuhan pokok sedang naik-naiknya, banyak konsumen

yang mulai menahan diri untuk melakukan pengeluaran besar, mungkin salah satunya adalah Puan.

Namun sebagai gantinya, anggaran tersebut malah dialihkan untuk memenuhi kebutuhan psikologis

yang lebih terjangkau.


Lipstick Effect adalah suatu fenomena yang terjadi saat kondisi ekonomi sedang tidak baik-baik saja,

tetapi para konsumen tetap membeli suatu produk yang tidak terlalu dibutuhkan dengan harga terjangkau.

Hal ini dilakukan untuk memberikan diri self reward kecil-kecilan agar mendapatkan rasa puas

secara instan tanpa harus menguras tabungan dalam jumlah yang besar.


Baca Juga: Mindfulness 101: Finding Your Focus in a World Full of Distractions


B. The Reason Behind the Lipstick Effect

Lipstick Effect tidak terjadi semata-mata hanya karena Puan memiliki keinginan untuk berbelanja,

tetapi ada faktor yang memengaruhi terjadinya Lipstick Effect ini, di antaranya:

  1. Economic Pressure

Saat kondisi ekonomi sedang tidak baik-baik saja, banyak dari Puan menunda untuk membeli

barang-barang mewah dengan jumlah anggaran yang besar. Namun sebagai gantinya, Puan membeli

barang-barang kecil atau kebutuhan tersier untuk mengekspresikan diri dan mendapatkan kepuasan instan.

Walaupun terlihat seperti hal yang sepele, justru pembelian barang-barang kecil ini membuat saldo

rekening perlahan menipis tanpa disadari.


  1. Emotional Needs

Dalam situasi sulit seperti resesi atau krisis ekonomi, Puan bisa saja cenderung merasa lebih mudah tertekan dan cemas.

Lalu, untuk mengatasi kecemasan tersebut, Puan membeli barang-barang kecil yang bisa memperbaiki mood

karena dengan hal tersebut, Puan jadi bisa merasa lebih senang, sampai akhirnya

memicu pelepasan dopamin yang terkait dengan perasaan bahagia.


  1. FOMO (Fear of Missing Out)

Selain faktor ekonomi dan emosional, fenomena Lipstick Effect juga dipengaruhi oleh faktor sosial FOMO—perasaan

takut tertinggal akan suatu momen yang sedang berlangsung di lingkungan sosial. Karena FOMO,

Puan jadi lebih sering tergoda untuk mencoba barang-barang yang ramai dibicarakan. 


Belum lagi, pengaruh media dan iklan yang terus bermunculan membuat keinginan Puan untuk membeli

suatu barang semakin sulit untuk ditahan. Akibatnya, Puan akan terus memaksakan untuk mengikuti

hal yang sedang menjadi trending, meskipun kondisi keuangan Puan sedang tidak baik-baik saja.


C. How the Lipstick Effect Affects Personal Finances

Membeli barang-barang yang bisa membuat bahagia memang hal yang baik, tetapi jika kebiasaan ini dilakukan

tanpa memperdulikan keuangan yang Puan miliki dapat menyebabkan dampak yang lebih parah

dari sekadar kehabisan uang, tetapi juga berdampak pada perubahan sikap yang Puan miliki.


  1. Impulse Buying

Kondisi ekonomi yang sedang sulit sering membuat Puan untuk mencari pelarian agar tidak suntuk

dan tertekan. Hal yang paling mudah dan bisa Puan lakukan untuk menemukan rasa puas secara instan

adalah dengan berbelanja. Namun, kebiasaan ini dapat memicu perilaku Impulse Buying, yang mana hal ini

tidak sehat karena membuat Puan tidak bisa mengontrol diri Puan sendiri.


  1. Overlooking for Essential Needs

Karena mendahulukan membeli barang-barang kecil yang dapat memberikan rasa senang,

seringkali Puan tidak menyadari bahwa kepuasan tersebut hanya sementara. Tanpa disadari, uang Puan

habis sekejap hanya untuk kesenangan semata dan kesulitan untuk memenuhi kebutuhan pokok Puan

sendiri ataupun mencapai target keuangan yang sedang Puan rencanakan.


  1. Consumerist Lifestyle

Dengan tindakan mengabaikan kebutuhan primer dan bertindak impulsif untuk memberi barang-barang kecil

yang hanya memberikan kepuasan secara instan dan sementara, Puan akan mencoba untuk terus mencari

rasa puas tersebut dan akhirnya menjadi konsumen dengan gaya hidup yang konsumtif.


Baca Juga: Belanja karena Memang Butuh, atau Cuma Lagi Healing? Sebuah Perspektif tentang Emotional Spending


D. Smart Ways to Control Puan Spending During the Lipstick Effect


  1. Make a Budget Allocation

Salah satu tips untuk tetap financially stable adalah menetapkan anggaran bulanan dan mengalokasikannya

untuk kebutuhan pokok sebelum membeli barang-barang kecil lainnya. Puan harus bisa membedakan antara

keinginan dan kebutuhan.


  1. Set a Daily Spending Limit on Puan Wallet 

Saat ingin membeli sesuatu, coba Puan berhenti sejenak dan pertimbangkan apakah barang tersebut

benar-benar diperlukan? Jika tidak, tinggalkan dan jangan tergoda lagi, Puan!

Pastikan limit pengeluaran yang Puan miliki tidak melebihi dari yang seharusnya dan nantinya tidak akan

mengganggu kondisi keuangan Puan di kemudian hari


  1. Focus on Self-development

Daripada berpusing-pusing memikirkan barang-barang yang ingin dibeli, tetapi uangnya tidak ada.

Sebaiknya Puan mencari hobi baru dan melakukan aktivitas yang lebih meaningful, seperti membaca,

menggambar atau melukis, mendengarkan musik, dan sebagainya. Hal ini akan membantu Puan untuk

mengasah keterampilan baru dan dapat mengurangi keinginan untuk berbelanja secara impulsif.


  1. Track Financial Spending Regularly

Setelah menetukan limit harian dan menahan diri untuk tidak bertindak impulsif, langkah akhir yang harus

Puan lakukan adalah memantau pengeluaran yang telah Puan lakukan dengan rutin, selama sebulan, tiga minggu,

atau waktu yang telah Puan tetapkan. Sebab, pemantauan pengeluaran ini akan berfungsi untuk mengetahui

dengan jelas ke mana uang Puan benar-benar dikeluarkan. Apakah sudah benar untuk kebutuhan pokok atau

balik lagi dengan membeli barang-barang yang belum diperlukan?


Tentunya fenomena Lipstick Effect tidak bisa sepenuhnya dihindari karena fenomena ini adalah bagian dari

kekuatan psikologis manusia dalam menghadapi tantangan. Kecenderungan untuk membeli produk kecil yang

memberikan kebahagiaan selama masa krisis menunjukkan meski dalam keadaan sulit, Puan akan tetap mencari cara

untuk merasa lebih baik. Namun, bukan berarti kebiasaan ini harus dilakukan dengan tidak sadar dan tanpa batas,

tetapi Puan bisa dengan bijak mengelola pengeluaran dan membedakan antara kebutuhan atau keinginan.


Yuk, coba cek transaksi Puan satu minggu belakangan ini, kira-kira sudah berapa banyak uang yang dikeluarkan

untuk hal yang benar-benar dibutuhkan atau hanya pikiran “Aku perlu ini?”


Sekilas Tentang Puan Bisa

Puan Bisa adalah komunitas perempuan muda yang mendukung pengembangan karir, self-improvement,

dan mental health. Sejak pertama kali didirikan tanggal 1 Oktober 2020 sampai saat ini, Puan Bisa aktif

melakukan kegiatan kreatif dan edukatif yang dilakukan dengan tujuan meningkatkan kesadaran perempuan muda

(khususnya usia 16-23 tahun) dalam mengembangkan kemampuan dan rasa cinta akan dirinya.


Referensi:

Dayinta. (2024, Oktober 21). Lipstick Effect: Pengertian, Penyebab, dan Dampak dari Psikologi Belanja

Konsumen di Massa Krisis. Treasury.

https://www.treasury.id/lipstick-effect-pengertian-penyebab-dan-dampak-dari-psikologi-belanja-konsumen-di-masa-krisis 

Jago. (2026, Juli 01). Bahaya Tersembunyi di Balik Lipstick Effect: Yuk Jaga Isi Tabungan.

Jago.

https://www.jago.com/id/blog/cara-cegah-lipstick-effect-budgeting-atur-keuangan-aplikasi-jago


Writer & Editor: Nurriska Aura Zahra

Komentar

Rubik Puan Popular

Mindfulness 101: Finding Your Focus in a World Full of Distractions

  sumber: magnific.com Puan pernah ngalamin nggak, lagi ngerjain tugas, terus ada satu notifikasi masuk, kemudian cek notifnya, balas satu chat, eh lanjut buka TikTok dan akhirnya lupa kalau tadi sebenarnya Puan lagi ngapain? Di tengah dunia yang full of distractions ini, perhatian kita rasanya gampang banget berpindah dari satu hal ke hal lainnya. Belum selesai satu informasi, sudah muncul informasi baru. Belum selesai proses berita satu, sudah ada berita lainnya. Tanpa sadar, kita bisa menghabiskan banyak waktu dengan gadget tanpa benar-benar sadar sedang melakukan apa. Di sinilah mindfulness bisa menjadi salah satu cara untuk membantu Puan lebih sadar terhadap bagaimana Puan menggunakan teknologi dan ke mana perhatian Puan pergi. Mindfulness Itu Apa, Sih? Mindfulness secara sederhana adalah kemampuan untuk menyadari dan benar-benar hadir terhadap apa yang sedang kita lakukan saat ini, tanpa langsung menghakimi pikiran atau perasaan yang muncul. Menurut Meegasdeniya dan Dulnath (...

Learning Space Puan Bisa : Kenapa Banyak Perempuan Muda Susah Keluar Dari Problematika Karir?

Jakarta, 7 Februari 2026 - Puan Bisa, komunitas berbasis pemberdayaan perempuan muda Indonesia, memetakan permasalahan terkait dengan dinamika psikologi perempuan muda dalam menghadapi crisis identity khususnya berkaitan dengan arah karir. Hal ini mengakibatkan lebih dari 80% perempuan muda Indonesia mengalami demotivated, overthinking, resah, tidak percaya diri, dan dampak buruk lainnya. Berangkat dari pemetaan permasalahan tersebut, Puan Bisa mengadakan acara Learning Space Puan Bisa 2026 berkolaborasi dengan awardee Puan Bisa Festival 2025 dengan tema "Gap Between Hustle & Reality: Why Young Professionals Feels Stucks in Their Careers" yang dihadiri oleh dari 10 perempuan muda. Puan Bisa merupakan komunitas pemberdayaan perempuan muda Indonesia yang berdiri sejak 1 Oktober 2020. Puan Bisa memiliki fokus pada self-improvement, career, dan mental health. Melalui berbagai program pemberdayaan, Puan Bisa hadir memiliki tujuan untuk menginspirasi dan mengedukasi perempuan m...

Bukan Digital Detox, Yuk Kenali Konsep Digital Minimalism!

  Sampul buku Digital Minimalism oleh Cal Newport (penguinrandomhouse.com) Hai Puan! Pernah gak sih cuma mau buka Instagram lima menit, tapi ternyata satu jam sudah berlalu? Atau Puan tanpa sadar mengecek ponsel setiap kali ada waktu luang? Kebiasaan ini mungkin terasa normal, tetapi bisa membuat kita kehilangan fokus, waktu, bahkan ketenangan.  Digital minimalism merupakan salah satu strategi yang membantu kita untuk mengoptimalkan penggunaan teknologi dan menggunakan teknologi secara lebih sadar. Intinya, kita hanya fokus pada aplikasi atau aktivitas digital yang benar-benar bermanfaat dan sejalan dengan nilai atau tujuan hidup. Sementara itu, hal-hal yang tidak memberi manfaat nyata bisa dikurangi atau bahkan ditinggalkan agar waktu dan perhatian tidak terkuras sia-sia.  Baca juga: Menghilangkan Demotivasi ala Buku “Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati” Digital minimalism melibatkan peninjauan kembali waktu yang dihabiskan pada perangkat sesuai dengan tujuan dan kebutuhan pri...

Puan Bisa Dukung Perempuan Muda Di Indonesia Untuk Memaksimalkan Potensi Diri Melalui Puan Bisa Festival 2023

Jakarta, 15 Oktober 2023 -  Puan Bisa, komunitas berbasis pemberdayaan perempuan muda Indonesia, membuahkan kajian cepat pada Juli - September 2023 bahwa perempuan muda Indonesia rentan terhadap budaya hustle culture. Hal ini mengakibatkan lebih dari 80% perempuan muda Indonesia mengalami stres, overthinking, resah, tidak percaya diri, dan dampak buruk lainnya. Berangkat dari kajian tersebut, Puan Bisa mengadakan acara Puan Bisa Festival 2023 dengan tema “Girls Day Out : Unlock Your Inspirational Potential to Empower Women” dengan rangkaian acara dimulai tanggal 6 hingga 15 Oktober 2023 sebagai hari peringatan ulang tahun Puan Bisa yang ke-3 yang dihadiri total lebih dari 55 perempuan muda.  Puan Bisa merupakan organisasi pemberdayaan perempuan dengan gerakan penyampaian pesan positif mengenai self-improvement, career serta mental health sehingga para perempuan muda dapat melewati masa mudanya dengan kegiatan yang positif dan terarah. Sesuai dengan apa yang menjadi cita-cita...