Puan pernah ngalamin nggak, sudah berniat untuk menabung, tapi beberapa jam kemudian sudah ada kopi
di tangan Puan? Kopi tersebut sebetulnya lagi nggak Puan perluin sih… tapi Puan pengen beli aja.
Mungkin Puan berpikir “Ah cuma 20 ribu, kok” dan merasa aman setelah spend uang akan hal tersebut,
tapi nyatanya ini adalah suatu fenomena yang terjadi dalam dunia ekonomi, yaitu kebiasaan membeli
barang-barang kecil sebagai bentuk self-reward yang dikenal dengan istilah Lipstick Effect.
A. What is the Lipstick Effect?
Saat kondisi ekonomi sedang kacau, harga kebutuhan pokok sedang naik-naiknya, banyak konsumen
yang mulai menahan diri untuk melakukan pengeluaran besar, mungkin salah satunya adalah Puan.
Namun sebagai gantinya, anggaran tersebut malah dialihkan untuk memenuhi kebutuhan psikologis
yang lebih terjangkau.
Lipstick Effect adalah suatu fenomena yang terjadi saat kondisi ekonomi sedang tidak baik-baik saja,
tetapi para konsumen tetap membeli suatu produk yang tidak terlalu dibutuhkan dengan harga terjangkau.
Hal ini dilakukan untuk memberikan diri self reward kecil-kecilan agar mendapatkan rasa puas
secara instan tanpa harus menguras tabungan dalam jumlah yang besar.
Baca Juga: Mindfulness 101: Finding Your Focus in a World Full of Distractions
B. The Reason Behind the Lipstick Effect
Lipstick Effect tidak terjadi semata-mata hanya karena Puan memiliki keinginan untuk berbelanja,
tetapi ada faktor yang memengaruhi terjadinya Lipstick Effect ini, di antaranya:
Economic Pressure
Saat kondisi ekonomi sedang tidak baik-baik saja, banyak dari Puan menunda untuk membeli
barang-barang mewah dengan jumlah anggaran yang besar. Namun sebagai gantinya, Puan membeli
barang-barang kecil atau kebutuhan tersier untuk mengekspresikan diri dan mendapatkan kepuasan instan.
Walaupun terlihat seperti hal yang sepele, justru pembelian barang-barang kecil ini membuat saldo
rekening perlahan menipis tanpa disadari.
Emotional Needs
Dalam situasi sulit seperti resesi atau krisis ekonomi, Puan bisa saja cenderung merasa lebih mudah tertekan dan cemas.
Lalu, untuk mengatasi kecemasan tersebut, Puan membeli barang-barang kecil yang bisa memperbaiki mood
karena dengan hal tersebut, Puan jadi bisa merasa lebih senang, sampai akhirnya
memicu pelepasan dopamin yang terkait dengan perasaan bahagia.
FOMO (Fear of Missing Out)
Selain faktor ekonomi dan emosional, fenomena Lipstick Effect juga dipengaruhi oleh faktor sosial FOMO—perasaan
takut tertinggal akan suatu momen yang sedang berlangsung di lingkungan sosial. Karena FOMO,
Puan jadi lebih sering tergoda untuk mencoba barang-barang yang ramai dibicarakan.
Belum lagi, pengaruh media dan iklan yang terus bermunculan membuat keinginan Puan untuk membeli
suatu barang semakin sulit untuk ditahan. Akibatnya, Puan akan terus memaksakan untuk mengikuti
hal yang sedang menjadi trending, meskipun kondisi keuangan Puan sedang tidak baik-baik saja.
C. How the Lipstick Effect Affects Personal Finances
Membeli barang-barang yang bisa membuat bahagia memang hal yang baik, tetapi jika kebiasaan ini dilakukan
tanpa memperdulikan keuangan yang Puan miliki dapat menyebabkan dampak yang lebih parah
dari sekadar kehabisan uang, tetapi juga berdampak pada perubahan sikap yang Puan miliki.
Impulse Buying
Kondisi ekonomi yang sedang sulit sering membuat Puan untuk mencari pelarian agar tidak suntuk
dan tertekan. Hal yang paling mudah dan bisa Puan lakukan untuk menemukan rasa puas secara instan
adalah dengan berbelanja. Namun, kebiasaan ini dapat memicu perilaku Impulse Buying, yang mana hal ini
tidak sehat karena membuat Puan tidak bisa mengontrol diri Puan sendiri.
Overlooking for Essential Needs
Karena mendahulukan membeli barang-barang kecil yang dapat memberikan rasa senang,
seringkali Puan tidak menyadari bahwa kepuasan tersebut hanya sementara. Tanpa disadari, uang Puan
habis sekejap hanya untuk kesenangan semata dan kesulitan untuk memenuhi kebutuhan pokok Puan
sendiri ataupun mencapai target keuangan yang sedang Puan rencanakan.
Consumerist Lifestyle
Dengan tindakan mengabaikan kebutuhan primer dan bertindak impulsif untuk memberi barang-barang kecil
yang hanya memberikan kepuasan secara instan dan sementara, Puan akan mencoba untuk terus mencari
rasa puas tersebut dan akhirnya menjadi konsumen dengan gaya hidup yang konsumtif.
Baca Juga: Belanja karena Memang Butuh, atau Cuma Lagi Healing? Sebuah Perspektif tentang Emotional Spending
D. Smart Ways to Control Puan Spending During the Lipstick Effect
Make a Budget Allocation
Salah satu tips untuk tetap financially stable adalah menetapkan anggaran bulanan dan mengalokasikannya
untuk kebutuhan pokok sebelum membeli barang-barang kecil lainnya. Puan harus bisa membedakan antara
keinginan dan kebutuhan.
Set a Daily Spending Limit on Puan Wallet
Saat ingin membeli sesuatu, coba Puan berhenti sejenak dan pertimbangkan apakah barang tersebut
benar-benar diperlukan? Jika tidak, tinggalkan dan jangan tergoda lagi, Puan!
Pastikan limit pengeluaran yang Puan miliki tidak melebihi dari yang seharusnya dan nantinya tidak akan
mengganggu kondisi keuangan Puan di kemudian hari
Focus on Self-development
Daripada berpusing-pusing memikirkan barang-barang yang ingin dibeli, tetapi uangnya tidak ada.
Sebaiknya Puan mencari hobi baru dan melakukan aktivitas yang lebih meaningful, seperti membaca,
menggambar atau melukis, mendengarkan musik, dan sebagainya. Hal ini akan membantu Puan untuk
mengasah keterampilan baru dan dapat mengurangi keinginan untuk berbelanja secara impulsif.
Track Financial Spending Regularly
Setelah menetukan limit harian dan menahan diri untuk tidak bertindak impulsif, langkah akhir yang harus
Puan lakukan adalah memantau pengeluaran yang telah Puan lakukan dengan rutin, selama sebulan, tiga minggu,
atau waktu yang telah Puan tetapkan. Sebab, pemantauan pengeluaran ini akan berfungsi untuk mengetahui
dengan jelas ke mana uang Puan benar-benar dikeluarkan. Apakah sudah benar untuk kebutuhan pokok atau
balik lagi dengan membeli barang-barang yang belum diperlukan?
Tentunya fenomena Lipstick Effect tidak bisa sepenuhnya dihindari karena fenomena ini adalah bagian dari
kekuatan psikologis manusia dalam menghadapi tantangan. Kecenderungan untuk membeli produk kecil yang
memberikan kebahagiaan selama masa krisis menunjukkan meski dalam keadaan sulit, Puan akan tetap mencari cara
untuk merasa lebih baik. Namun, bukan berarti kebiasaan ini harus dilakukan dengan tidak sadar dan tanpa batas,
tetapi Puan bisa dengan bijak mengelola pengeluaran dan membedakan antara kebutuhan atau keinginan.
Yuk, coba cek transaksi Puan satu minggu belakangan ini, kira-kira sudah berapa banyak uang yang dikeluarkan
untuk hal yang benar-benar dibutuhkan atau hanya pikiran “Aku perlu ini?”
Sekilas Tentang Puan Bisa
Puan Bisa adalah komunitas perempuan muda yang mendukung pengembangan karir, self-improvement,
dan mental health. Sejak pertama kali didirikan tanggal 1 Oktober 2020 sampai saat ini, Puan Bisa aktif
melakukan kegiatan kreatif dan edukatif yang dilakukan dengan tujuan meningkatkan kesadaran perempuan muda
(khususnya usia 16-23 tahun) dalam mengembangkan kemampuan dan rasa cinta akan dirinya.
Referensi:
Dayinta. (2024, Oktober 21). Lipstick Effect: Pengertian, Penyebab, dan Dampak dari Psikologi Belanja
Konsumen di Massa Krisis. Treasury.
Jago. (2026, Juli 01). Bahaya Tersembunyi di Balik Lipstick Effect: Yuk Jaga Isi Tabungan.
Jago.
https://www.jago.com/id/blog/cara-cegah-lipstick-effect-budgeting-atur-keuangan-aplikasi-jago
Writer & Editor: Nurriska Aura Zahra
Komentar
Posting Komentar