Langsung ke konten utama

Window Shopping in This Economy: Little Joys on a Budget

  Sumber: pexels.com Puan, pernah nggak sih, lagi suntuk dan pingin jalan-jalan, tetapi begitu ingat pengeluaran bulan ini, rasanya harus berpikir dua kali? Mau nongkrong di cafe, nonton film di bioskop, atau sekedar jalan-jalan ke mall, semuanya perlu disesuaikan dengan budget. Akhirnya, kita mencari alternatif kegiatan yang tetap menyenangkan tanpa harus mengeluarkan banyak uang. Salah satunya adalah window shopping : jalan-jalan melihat berbagai barang di toko tanpa harus membelinya. Kelihatannya sederhana, tetapi terkadang melihat-lihat buku di toko favorit atau menemukan barang lucu sudah cukup untuk memperbaiki suasana hati. Di tengah kondisi ekonomi yang membuat kita perlu lebih bijak mengatur pengeluaran, mungkin kita bisa mulai mencari cara baru untuk menikmati waktu luang. Sebab, bersenang-senang nggak selalu harus mahal. Little Things That Make Life Feel Better Ada banyak kegiatan sederhana yang bisa kita lakukan ketika ingin menyegarkan pikiran tanpa menghabiskan banya...

Belanja karena Memang Butuh, atau Cuma Lagi Healing? Sebuah Perspektif tentang Emotional Spending


Puan, pernah dengar kalimat ini?

"Most people don't have a money problem, they have an emotional problem."

Sekilas, kalimat ini memang terdengar terlalu menyederhanakan masalah keuangan. Soalnya, kita nggak bisa menutup mata kalau banyak dari Puan memang lagi berjuang menghadapi biaya hidup yang makin naik, gaji yang pas-pasan, sampai kondisi ekonomi yang lagi nggak mudah.

Namun... setelah dipikir-pikir, mungkin ada benarnya juga.


Kadang yang Puan beli bukan barangnya

Coba deh, Puan ingat-ingat.

Pernah nggak Puan lagi stres terus tiba-tiba buka Online Shop?

Pernah nggak Puan menjalani hari yang melelahkan, Puan langsung pesan makanan favorit sambil bilang, "Nggak apa-apa deh, self reward."

Berapa kali Puan checkout barang yang sebenarnya nggak terlalu dibutuhin, cuma karena pengen mood balik lagi?

Kalau pernah, tenang. Puan nggak sendirian.

Kadang yang Puan beli bukan barangnya, tetapi Puan lagi membeli rasa lega, rasa nyaman, rasa senang, bahkan sekadar pengalihan dari emosi yang lagi nggak enak.


Apa itu emotional spending?

Dalam psikologi, kebiasaan ini dikenal sebagai emotional spending, yaitu saat Puan mengeluarkan uang karena dipengaruhi oleh emosi, bukan karena benar-benar membutuhkan sesuatu. Pemicunya juga bukan hanya rasa sedih, tetapi juga rasa bosan, cemas, kesepian, FOMO, bahkan perasaan "aku pantas kok buat self reward" juga bisa bikin Puan lebih gampang checkout.


Kenapa bisa terjadi?

Hal ini bisa terjadi saat emosi lagi naik turun, otak Puan secara alami mencari cara tercepat untuk merasa lebih baik, salah satunya lewat belanja. Ketika Puan menekan tombol checkout atau menerima paket yang datang ke rumah, otak Puan melepaskan dopamin, yaitu zat kimia yang berkaitan dengan rasa senang dan penghargaan. Nggak heran kalau setelah belanja, Puan merasa lebih lega. Sayangnya, efek itu sering kali nggak bertahan lama. Paketnya memang datang, tapi rasa stres, capek, atau sedih yang tadi dirasakan belum tentu langsung ikut hilang.


Bukan berarti semua masalah keuangan adalah masalah emosi

Ada banyak dari Puan yang memang mengalami kesulitan finansial karena pendapatannya belum mencukupi, biaya hidup yang terus meningkat, atau kondisi ekonomi yang memang sedang tidak mudah.

Jadi, Priska bukan mau bilang kalau solusinya cukup "lebih disiplin" atau "berhenti belanja", tetapi ingin mengajak Puan refleksi bahwa sebagian pengeluaran Puan mungkin bukan karena kita butuh barangnya, tapi karena Puan sedang berusaha mengatasi perasaan yang lagi nggak baik-baik aja.

Menyadari hal ini bukan berarti menyalahkan diri Puan sendiri, justru menjadi langkah awal untuk lebih memahami hubungan Puan dengan uang.


Sebelum checkout, coba check-in sama diri sendiri

Lain kali, sebelum menekan tombol Checkout, coba berhenti sebentar dan tanya ke diri Puan:

"Aku lagi butuh barang ini, atau lagi butuh naikin mood?"

Mungkin pertanyaan itu nggak langsung bikin Puan jadi lebih hemat. Tapi setidaknya, Puan jadi lebih sadar dengan alasan di balik setiap pengeluaran. Karena mengelola emosi memang nggak akan menyelesaikan semua masalah keuangan. Namun, memahami emosi di balik keputusan finansial bisa membantu Puan membangun hubungan yang lebih sehat dengan uang.

Sebab terkadang, yang perlu dirawat bukan cuma isi dompet, tapi juga diri sendiri. 


Sekilas Tentang Puan Bisa

Puan Bisa adalah komunitas perempuan muda yang mendukung pengembangan karir, self-improvement, dan mental health. Sejak pertama kali didirikan tanggal 1 Oktober 2020 sampai saat ini, Puan Bisa aktif melakukan kegiatan kreatif dan edukatif yang dilakukan dengan tujuan meningkatkan kesadaran perempuan muda (khususnya usia 16-23 tahun) dalam mengembangkan kemampuan dan rasa cinta akan dirinya. 


Referensi

Why Even Momentary Sadness Increases Spending

Vanitha, M. C. (2021). THE PSYCHOLOGY OF SPENDING: WHY WE BUY THINGS WE DON'T NEED . International Journal of Advanced Trends in Engineering and Technology (IJATET) 


Author & Editor: Farah Arindia Putri


Komentar

Rubik Puan Popular

Puan Bisa Festival 2026 : Dorong Perempuan Muda Meninjau Keputusan Hidup Berdasar Integritas Diri

  Sumber: Dokumentasi Puan Bisa Festival 2026 Jakarta, 15 Oktober 2026  Di tengah dinamika dunia kerja dan persaingan dalam proses pencarian kerja, perempuan muda kerap menghadapi tekanan untuk terus meningkatkan kemampuan, mencapai standar kesuksesan tertentu, dan menentukan arah karir sejak dini. Kondisi ini dapat menimbulkan kebingungan dalam mengenali potensi diri serta menentukan langkah yang sesuai dengan kemampuan dan kondisi masing-masing. Menanggapi tantangan tersebut, Puan Bisa menghadirkan Webinar Career dalam rangkaian Puan Bisa Festival 2026 untuk mengajak perempuan muda mengenali potensi diri dan menyusun arah karir secara lebih terarah. Puan Bisa merupakan komunitas non-profit yang didirikan pada 1 Oktober 2020 dan berdedikasi untuk meningkatkan kesadaran perempuan muda Indonesia dalam mengembangkan kemampuan dan kecintaan terhadap diri sendiri melalui konten edukatif, Instagram Live, webinar, serta berbagai program pengembangan diri lainnya. Melalui kolaborasi,...

Let Them Theory: Berhenti Mengejar yang Tidak Meimilih Puan

Image by: KPU KAB-NDUGA  Puan pernah nggak sih merasa sudah berusaha sebaik mungkin untuk mempertahankan seseorang, tapi tetap saja hasilnya mengecewakan? Atau Puan terus memikirkan sikap orang lain, mencoba memahami, bahkan menyalahkan diri sendiri atas hal-hal yang sebenarnya di luar kendali? Perasaan seperti ini sering membuat Puan lelah tanpa disadari, karena terlalu fokus pada hal yang tidak bisa diatur. Di sinilah The Let Them Theory mulai terasa relevan. Konsep ini memperkenalkan cara pandang sederhana, bahwa tidak semua hal perlu diperjuangkan mati-matian, terutama jika itu melibatkan kehendak orang lain. Baca Juga:  https://puanbisa.blogspot.com/2026/04/be-of-service-ternyata-kunci-pede.html Apa sih Let Them Theory itu? Sering kali, tanpa disadari, Puan menghabiskan banyak energi untuk mencoba memahami, memperbaiki, atau bahkan mengendalikan orang lain. Padahal, tidak semua hal memang berada dalam kendali Puan. Konsep “ let them ” pada dasarnya mengajak Puan untuk be...

Intip antusiasme Para Puan Dalam Meninjau Keputusan Hidupnya di Puan Bisa Festival 2026!

Sumber: Dokumentasi Puan Bisa Festival 2026 J akarta, 13 Oktober 2026. Perempuan muda saat ini dihadapkan pada berbagai peluang sekaligus tekanan untuk sukses secara profesional, mandiri secara finansial, dan memenuhi ekspektasi sosial. Tekanan ini juga tercermin dalam dunia kerja; laporan McKinsey & Company dan LeanIn.Org (2025) mencatat sekitar 60% perempuan di level kepemimpinan melaporkan mengalami burnout secara konsisten. Di tengah berbagai tuntutan tersebut, proses menentukan arah hidup, mulai dari pendidikan dan karier hingga pembentukan identitas diri, dapat menjadi tantangan tersendiri. Menjawab tantangan ini, Puan Bisa Festival 2026 mengusung tema “Brave to Step Back: RISE”, yang mengajak perempuan muda untuk mengambil jeda, merefleksikan pilihan, dan menentukan arah hidup secara lebih sadar melalui pendekatan Self-Determination Theory (SDT). Diselenggarakan secara luring pada Sabtu, 10 Oktober 2026, bertepatan dengan Hari Kesehatan Mental Sedunia, Puan Bisa Festival 202...

I'm Not Mad at You, I'm Just in Pain.

sumber: pexels.com Kebanyakan dari Puan pasti pernah ngalamin saat lagi menstruasi: perut kram, pinggang pegal, dan rasanya ingin rebahan aja gitu seharian. Belum lagi dengan emosi yang tidak stabil, hal sekecil apapun pasti bisa berpotensi bikin Puan sebal, padahal biasanya Puan bisa lebih santai menghadapi hal yang sama. Kadang, Puan sendiri juga pasti bingung kan kenapa jadi lebih sensitif dari biasanya. Susah fokus ngerjain tugas karena sakit, diajak ngobrol rasanya nggak punya energi, atau tiba-tiba ingin nangis tanpa tahu harus menjelaskan apa. Di tengah rasa nggak nyaman itu, Puan mungkin jadi bertanya-tanya, “Kenapa rasanya jadi sedih banget ya? Kok jadi gampang banget emosi?” Padahal, ada kalanya tubuh Puan memang sedang menghadapi banyak perubahan. Rasa sakit, perubahan suasana hati, dan kondisi emosional bisa datang berbarengan; apalagi saat sedang menstruasi. And why is that? It's Not Just About the Cramps Selama menstruasi, rasanya bukan cuma perut yang ikut merasakan ...

The Lipstick Effect in the Age of Bad News

Puan pernah ngalamin nggak, sudah berniat untuk menabung, tapi beberapa jam kemudian sudah ada kopi di tangan Puan? Kopi tersebut sebetulnya lagi nggak Puan perluin sih… tapi Puan pengen beli aja. Mungkin Puan berpikir “Ah cuma 20 ribu, kok” dan merasa aman setelah spend uang akan hal tersebut, tapi nyatanya ini adalah suatu fenomena yang terjadi dalam dunia ekonomi, yaitu kebiasaan membeli barang-barang kecil sebagai bentuk self-reward yang dikenal dengan istilah Lipstick Effect .  Sumber: Magnific.com A. What is the Lipstick Effect? Saat kondisi ekonomi sedang kacau, harga kebutuhan pokok sedang naik-naiknya, banyak konsumen yang mulai menahan diri untuk melakukan pengeluaran besar, mungkin salah satunya adalah Puan. Namun sebagai gantinya, anggaran tersebut malah dialihkan untuk memenuhi kebutuhan psikologis yang lebih terjangkau. Lipstick Effect adalah suatu fenomena yang terjadi saat kondisi ekonomi sedang tidak baik-baik saja, tetapi para konsumen tetap membeli suatu produk ...