Langsung ke konten utama

Belanja karena Memang Butuh, atau Cuma Lagi Healing? Sebuah Perspektif tentang Emotional Spending

Puan, pernah dengar kalimat ini? " Most people don't have a money problem, they have an emotional problem. " Sekilas, kalimat ini memang terdengar terlalu menyederhanakan masalah keuangan. Soalnya, kita nggak bisa menutup mata kalau banyak dari Puan memang lagi berjuang menghadapi biaya hidup yang makin naik, gaji yang pas-pasan, sampai kondisi ekonomi yang lagi nggak mudah. Namun... setelah dipikir-pikir, mungkin ada benarnya juga. Kadang yang Puan beli bukan barangnya Coba deh, Puan ingat-ingat. Pernah nggak Puan lagi stres terus tiba-tiba buka Online Shop ? Pernah nggak Puan menjalani hari yang melelahkan, Puan langsung pesan makanan favorit sambil bilang, "Nggak apa-apa deh, self reward ." Berapa kali Puan checkout barang yang sebenarnya nggak terlalu dibutuhin, cuma karena pengen mood balik lagi? Kalau pernah, tenang. Puan nggak sendirian. Kadang yang Puan beli bukan barangnya, tetapi Puan lagi membeli rasa lega, rasa nyaman, rasa senang, bahkan...

Belanja karena Memang Butuh, atau Cuma Lagi Healing? Sebuah Perspektif tentang Emotional Spending


Puan, pernah dengar kalimat ini?

"Most people don't have a money problem, they have an emotional problem."

Sekilas, kalimat ini memang terdengar terlalu menyederhanakan masalah keuangan. Soalnya, kita nggak bisa menutup mata kalau banyak dari Puan memang lagi berjuang menghadapi biaya hidup yang makin naik, gaji yang pas-pasan, sampai kondisi ekonomi yang lagi nggak mudah.

Namun... setelah dipikir-pikir, mungkin ada benarnya juga.


Kadang yang Puan beli bukan barangnya

Coba deh, Puan ingat-ingat.

Pernah nggak Puan lagi stres terus tiba-tiba buka Online Shop?

Pernah nggak Puan menjalani hari yang melelahkan, Puan langsung pesan makanan favorit sambil bilang, "Nggak apa-apa deh, self reward."

Berapa kali Puan checkout barang yang sebenarnya nggak terlalu dibutuhin, cuma karena pengen mood balik lagi?

Kalau pernah, tenang. Puan nggak sendirian.

Kadang yang Puan beli bukan barangnya, tetapi Puan lagi membeli rasa lega, rasa nyaman, rasa senang, bahkan sekadar pengalihan dari emosi yang lagi nggak enak.


Apa itu emotional spending?

Dalam psikologi, kebiasaan ini dikenal sebagai emotional spending, yaitu saat Puan mengeluarkan uang karena dipengaruhi oleh emosi, bukan karena benar-benar membutuhkan sesuatu. Pemicunya juga bukan hanya rasa sedih, tetapi juga rasa bosan, cemas, kesepian, FOMO, bahkan perasaan "aku pantas kok buat self reward" juga bisa bikin Puan lebih gampang checkout.


Kenapa bisa terjadi?

Hal ini bisa terjadi saat emosi lagi naik turun, otak Puan secara alami mencari cara tercepat untuk merasa lebih baik, salah satunya lewat belanja. Ketika Puan menekan tombol checkout atau menerima paket yang datang ke rumah, otak Puan melepaskan dopamin, yaitu zat kimia yang berkaitan dengan rasa senang dan penghargaan. Nggak heran kalau setelah belanja, Puan merasa lebih lega. Sayangnya, efek itu sering kali nggak bertahan lama. Paketnya memang datang, tapi rasa stres, capek, atau sedih yang tadi dirasakan belum tentu langsung ikut hilang.


Bukan berarti semua masalah keuangan adalah masalah emosi

Ada banyak dari Puan yang memang mengalami kesulitan finansial karena pendapatannya belum mencukupi, biaya hidup yang terus meningkat, atau kondisi ekonomi yang memang sedang tidak mudah.

Jadi, Priska bukan mau bilang kalau solusinya cukup "lebih disiplin" atau "berhenti belanja", tetapi ingin mengajak Puan refleksi bahwa sebagian pengeluaran Puan mungkin bukan karena kita butuh barangnya, tapi karena Puan sedang berusaha mengatasi perasaan yang lagi nggak baik-baik aja.

Menyadari hal ini bukan berarti menyalahkan diri Puan sendiri, justru menjadi langkah awal untuk lebih memahami hubungan Puan dengan uang.


Sebelum checkout, coba check-in sama diri sendiri

Lain kali, sebelum menekan tombol Checkout, coba berhenti sebentar dan tanya ke diri Puan:

"Aku lagi butuh barang ini, atau lagi butuh naikin mood?"

Mungkin pertanyaan itu nggak langsung bikin Puan jadi lebih hemat. Tapi setidaknya, Puan jadi lebih sadar dengan alasan di balik setiap pengeluaran. Karena mengelola emosi memang nggak akan menyelesaikan semua masalah keuangan. Namun, memahami emosi di balik keputusan finansial bisa membantu Puan membangun hubungan yang lebih sehat dengan uang.

Sebab terkadang, yang perlu dirawat bukan cuma isi dompet, tapi juga diri sendiri. 


Sekilas Tentang Puan Bisa

Puan Bisa adalah komunitas perempuan muda yang mendukung pengembangan karir, self-improvement, dan mental health. Sejak pertama kali didirikan tanggal 1 Oktober 2020 sampai saat ini, Puan Bisa aktif melakukan kegiatan kreatif dan edukatif yang dilakukan dengan tujuan meningkatkan kesadaran perempuan muda (khususnya usia 16-23 tahun) dalam mengembangkan kemampuan dan rasa cinta akan dirinya. 


Referensi

Why Even Momentary Sadness Increases Spending

Vanitha, M. C. (2021). THE PSYCHOLOGY OF SPENDING: WHY WE BUY THINGS WE DON'T NEED . International Journal of Advanced Trends in Engineering and Technology (IJATET) 


Author & Editor: Farah Arindia Putri


Komentar

Rubik Puan Popular

Phubbing: Kebiasaan Buruk yang Menurunkan Kualitas Interaksi dengan Lawan Bicara

Ilustrasi seseorang yang merasakan phubbing. (halodoc.com) Di era digital seperti sekarang, HP telah menjadi bagian yang sulit dipisahkan dari kehidupan sehari-hari. Bahkan, hampir sepanjang waktu tangan kita tidak terlepas dari HP. Meski memberikan kemudahan dalam berkomunikasi dan mengakses informasi, penggunaan HP yang berlebihan juga dapat memengaruhi kualitas interaksi dengan orang di sekitar.  Salah satu perilaku yang semakin sering ditemui adalah phubbing , yaitu kebiasaan lebih fokus pada smartphone daripada orang yang sedang diajak berbicara secara langsung. Apa Itu Phubbing? Sederhananya, phubbing merupakan perilaku mengabaikan lawan bicara yang sedang berada di hadapan kita dengan sibuk menyibukkan perhatian pada HP. Perilaku ini tentunya tidak mencerminkan etika berkomunikasi yang baik, loh Puan. Dalam kehidupan sehari-hari, bentuk perilaku phubbing tidak hanya digambarkan dengan seseorang yang sibuk membalas chat . Adapun kebiasaan lainnya, seperti membuka media sosia...

“I Wish I Knew When I Was 20” Memahami Hidup Mulai dari Usia 20 Tahun

  Buku "What I Wish I Knew When I Was 20" karya Prof. Tina Seelig (Amazon.com) Menginjak usia 20 terlihat menyenangkan karena Puan telah memiliki kebebasan atas diri sendiri. Di usia muda, tubuh Puan masih bertenaga maksimal dan optimal, pikiran masih fresh , ide-ide yang dikeluarkan masih up to date , intinya Puan lagi ada di masa-masa emas untuk mengembangkan suatu hal. Namun, yang jarang terlihat adalah masa saat Puan merasa clueless akan hidup Puan sendiri untuk memutuskan karir dan perjalanan hidup Puan ke depannya. Baca juga: Motivasi Bukan Ditunggu, tapi Dicari Lewat Aksi Lalu, apa saja sebenarnya hal yang harus dipahami untuk menjalani hidup saat menginjak usia 20 tahun? Mengutip dari buku “What I Wish I Knew When I Was 20” karya Prof. Tina Seelig ada beberapa hal yang dapat Puan lakukan: Jangan Menunggu, Tapi Ciptakan! Seringkali Puan berpikir untuk menunggu kesempatan datang, menunggu orang lain yang membukanya, menunggu offering yang datang. Padahal, Puan bisa men...

Membaca Buku: Cara Mudah dan Murah untuk Menjaga Mental Health

Ilustrasi seseorang yang sedang membaca buku (unsplash.com) Hai Puan! Akhir-akhir ini, kegiatan membaca buku jadi tren yang dinikmati oleh berbagai kalangan. Banyak orang yang mulai tertarik dengan tren literasi di media sosial. Apalagi saat ini banyak sekali akun influencer pecinta buku yang aktif mengunggah konten terkait ulasan buku di media sosial, seperti Instagram, TikTok, dan X.  Hal ini menyebabkan seseorang yang awalnya belum suka atau belum tertarik membaca buku dapat terpengaruh. Tak jarang, beberapa orang hanya membaca karena ikut-ikutan dan takut tertinggal tren. Padahal, meneruskan kebiasaan membaca tidak hanya meningkatkan pengetahuan, tetapi juga bisa bermanfaat untuk kesehatan, khususnya kesehatan mental. Beberapa manfaat membaca buku bagi kesehatan mental yang harus Puan ketahui: 1. Membaca buku dapat mengurangi stres.   Penelitian menunjukkan bahwa membaca hanya enam menit dalam sehari dapat mengurangi tingkat stres hingga 60% dengan menurunkan detak jantun...