"Most people don't have a money problem, they have an emotional problem."
Sekilas, kalimat ini memang terdengar terlalu menyederhanakan masalah keuangan. Soalnya, kita nggak bisa menutup mata kalau banyak dari Puan memang lagi berjuang menghadapi biaya hidup yang makin naik, gaji yang pas-pasan, sampai kondisi ekonomi yang lagi nggak mudah.
Namun... setelah dipikir-pikir, mungkin ada benarnya juga.
Kadang yang Puan beli bukan barangnya
Coba deh, Puan ingat-ingat.
Pernah nggak Puan lagi stres terus tiba-tiba buka Online Shop?
Pernah nggak Puan menjalani hari yang melelahkan, Puan langsung pesan makanan favorit sambil bilang, "Nggak apa-apa deh, self reward."
Berapa kali Puan checkout barang yang sebenarnya nggak terlalu dibutuhin, cuma karena pengen mood balik lagi?
Kalau pernah, tenang. Puan nggak sendirian.
Kadang yang Puan beli bukan barangnya, tetapi Puan lagi membeli rasa lega, rasa nyaman, rasa senang, bahkan sekadar pengalihan dari emosi yang lagi nggak enak.
Apa itu emotional spending?
Dalam psikologi, kebiasaan ini dikenal sebagai emotional spending, yaitu saat Puan mengeluarkan uang karena dipengaruhi oleh emosi, bukan karena benar-benar membutuhkan sesuatu. Pemicunya juga bukan hanya rasa sedih, tetapi juga rasa bosan, cemas, kesepian, FOMO, bahkan perasaan "aku pantas kok buat self reward" juga bisa bikin Puan lebih gampang checkout.
Kenapa bisa terjadi?
Hal ini bisa terjadi saat emosi lagi naik turun, otak Puan secara alami mencari cara tercepat untuk merasa lebih baik, salah satunya lewat belanja. Ketika Puan menekan tombol checkout atau menerima paket yang datang ke rumah, otak Puan melepaskan dopamin, yaitu zat kimia yang berkaitan dengan rasa senang dan penghargaan. Nggak heran kalau setelah belanja, Puan merasa lebih lega. Sayangnya, efek itu sering kali nggak bertahan lama. Paketnya memang datang, tapi rasa stres, capek, atau sedih yang tadi dirasakan belum tentu langsung ikut hilang.
Bukan berarti semua masalah keuangan adalah masalah emosi
Ada banyak dari Puan yang memang mengalami kesulitan finansial karena pendapatannya belum mencukupi, biaya hidup yang terus meningkat, atau kondisi ekonomi yang memang sedang tidak mudah.
Jadi, Priska bukan mau bilang kalau solusinya cukup "lebih disiplin" atau "berhenti belanja", tetapi ingin mengajak Puan refleksi bahwa sebagian pengeluaran Puan mungkin bukan karena kita butuh barangnya, tapi karena Puan sedang berusaha mengatasi perasaan yang lagi nggak baik-baik aja.
Menyadari hal ini bukan berarti menyalahkan diri Puan sendiri, justru menjadi langkah awal untuk lebih memahami hubungan Puan dengan uang.
Sebelum checkout, coba check-in sama diri sendiri
Lain kali, sebelum menekan tombol Checkout, coba berhenti sebentar dan tanya ke diri Puan:
"Aku lagi butuh barang ini, atau lagi butuh naikin mood?"
Mungkin pertanyaan itu nggak langsung bikin Puan jadi lebih hemat. Tapi setidaknya, Puan jadi lebih sadar dengan alasan di balik setiap pengeluaran. Karena mengelola emosi memang nggak akan menyelesaikan semua masalah keuangan. Namun, memahami emosi di balik keputusan finansial bisa membantu Puan membangun hubungan yang lebih sehat dengan uang.
Sebab terkadang, yang perlu dirawat bukan cuma isi dompet, tapi juga diri sendiri.
Sekilas Tentang Puan Bisa
Puan Bisa adalah komunitas perempuan muda yang mendukung pengembangan karir, self-improvement, dan mental health. Sejak pertama kali didirikan tanggal 1 Oktober 2020 sampai saat ini, Puan Bisa aktif melakukan kegiatan kreatif dan edukatif yang dilakukan dengan tujuan meningkatkan kesadaran perempuan muda (khususnya usia 16-23 tahun) dalam mengembangkan kemampuan dan rasa cinta akan dirinya.
Referensi
Why Even Momentary Sadness Increases Spending
Vanitha, M. C. (2021). THE PSYCHOLOGY OF SPENDING: WHY WE BUY THINGS WE DON'T NEED . International Journal of Advanced Trends in Engineering and Technology (IJATET)
Author & Editor: Farah Arindia Putri

Komentar
Posting Komentar