Menjadi perempuan muda yang aktif, punya banyak kegiatan organisasi, dan tetap menjaga nilai akademik biar selalu lancar tentu jadi hal yang membanggakan. Gak heran kalau kita selalu berusaha memberikan yang terbaik dan tetap tersenyum ramah di tengah padatnya jadwal sehari-hari. Tapi jujur deh, pernah gak sih Puan merasa kalau semua keproduktifan dan senyuman itu sebenarnya cuma tameng biar kita kelihatan tangguh? Begitu malam tiba dan sendirian di kamar, rasa hampa dan lelah yang luar biasa itu sering kali datang dan susah untuk dihindari. Fenomena ketika kita tetap bersikap normal di luar padahal yang sebenarnya sedang merasa cemas ini disebut sebagai masking atau high functioning anxiety . Isu inilah yang dibahas secara gamblang dalam buku “I Want To Die but I Want To Eat Tteokbokki” karya Baek Sehee. Setiap Luka Punya Hak untuk Merasa Sakit Sering kali kita merasa cemas atau bersalah karena menganggap masalah kita sepele dibanding orang lain. Padahal, buku ini mengingatkan ...
Pernah nggak sih Puan berpikir, “Nanti dulu deh, aku mulai pas bisa rutin,” lalu hari berganti minggu, dan rencana itu tetap di daftar? Kalau iya, mungkin bukan soal niat Puan yang kurang, melainkan standar Puan yang kebanyakan. Perfeksionisme sering muncul sebagai suara kecil yang bilang, “kalau nggak bisa konsisten tiap hari, mending jangan mulai sama sekali. Ironisnya, sikap itu justru bikin kita nggak pernah benar-benar jalan.”
Banyak dari kita kepikiran, “kalau nggak bisa konsisten tiap hari, mending jangan mulai.” Takut bolong atau melewatkan satu atau beberapa hari dari target yang dipasang, takut malu, takut dikatain nggak disiplin. Jadi kita menunggu kondisi ideal, mood sempurna, jadwal bersih, semua alat siap, padahal kondisi ideal itu jarang datang. Akhirnya banyak proyek, kebiasaan, atau ide baik yang mati di awal karena diperlakukan seperti syarat kelulusan, bukan proses.
Masalahnya, konsistensi itu bukan syarat yang harus dipenuhi sebelum mulai. Konsistensi dibangun sambil jalan. Mulai tanpa prasangka “harus sempurna” memberi kesempatan untuk menemukan ritme, menyesuaikan ekspektasi, dan belajar dari praktik nyata. Studi-studi psikologi juga nunjukin: perfeksionisme maladaptif sering berhubungan dengan penundaan dan kecemasan, bukan produktivitas yang berkelanjutan. Jadi, perfeksionis yang takut nggak konsisten bisa jadi jebakan psikologis, bukan strategi.
Jadi gimana caranya keluar dari lingkaran itu tanpa ngerasa kompromi sama standar diri?
1. Ubah standar itu jadi percobaan kecil
Alih-alih menetapkan target “harus tiap hari 2 jam”, coba mulai dengan janji yang hampir mustahil untuk ditolak, misal 2 menit. Setelah Puan mulai, biasanya rasa takut itu berkurang karena Puan punya bukti: “Oh, aku bisa mulai.” Bukti kecil ini lebih powerful daripada tumpukan alasan.
2. Gunakan beberapa trik yang bekerja tanpa harus merombak kepribadian perfeksionismu
Pakai aturan 2 menit, mulai pakai versi mini dari aktivitas yang Puan mau. Lalu, buat standar minimum seperti kalau sedang sibuk, cukup 20% effort itu tetap oke. Selanjutnya, sambungkan kebiasaan baru ke rutinitas yang udah ada (habit stacking). Kemudian, kasih batas waktu untuk fase “perfeksionis,” misalnya 20 menit untuk ngedit, lalu stop; revisi boleh esok hari. Terakhir, catat progress kecil; bukti kasat mata bikin rasa takut kian pudar.
3. Coba ubah narasi batin Puan
Daripada bilang, “Kalau aku bolong, berarti gagal,” coba ganti ke, “Bolong bukan akhir, itu data yang kasih tahu kapan harus adjust.” Perubahan kata itu sederhana, tapi ngaruh ke cara Puan merespon kegagalan kecil. Jangan jadikan bolong sebagai alasan untuk berhenti, tapi jadikan itu sebagai indikator yang bikin strategimu lebih realistis.
Kalau Puan merasa terus-menerus terjebak, coba mulai refleksi diri, apakah standar yang Puan pasang realistis? Apakah itu datang dari ekspektasi diri Puan sendiri atau orang lain/media? Kadang kita ngejar standar yang bukan milik kita, dan itu capeknya double. Kurangi paparan pada akun media sosial yang selalu suguhin “hasil akhir” tanpa proses, itu sering memperkuat rasa harus sempurna.
Pada akhirnya, kebiasaan konsisten lahir dari aksi kecil yang berulang, bukan dari deklarasi sempurna. Kalau perfeksionisme bikin Puan takut nggak konsisten sehingga nggak mulai, maka solusi praktisnya adalah mulai dari hal kecil, ulang lagi, dan beri izin pada diri untuk tidak sempurna. Mulai bukan tanda lemah, itu tanda Puan berani belajar sambil berjalan.
Author & Editor: Daru Sekar Arum
Referensi:
- APA Monitor — Perfectionism and the high-stakes culture of success (2024).
- BMC Public Health — Mirror, mirror on my screen: self-presentation & perfectionism (2024).
- PMC — The distinct link of perfectionism with mental health outcomes (2025).
- The Guardian — I’m a recovering perfectionist.
- Here’s how I embraced the joy of “good enough” (2024).
- UCL — How are habits formed? (ringkasan studi pembentukan kebiasaan).
- James Clear — Atomic Habits (konsep 1% better).
- BJ Fogg — Tiny Habits (metode mulai sangat kecil).
Komentar
Posting Komentar