Langsung ke konten utama

I'm Not Mad at You, I'm Just in Pain.

sumber: pexels.com Kebanyakan dari Puan pasti pernah ngalamin saat lagi menstruasi: perut kram, pinggang pegal, dan rasanya ingin rebahan aja gitu seharian. Belum lagi dengan emosi yang tidak stabil, hal sekecil apapun pasti bisa berpotensi bikin Puan sebal, padahal biasanya Puan bisa lebih santai menghadapi hal yang sama. Kadang, Puan sendiri juga pasti bingung kan kenapa jadi lebih sensitif dari biasanya. Susah fokus ngerjain tugas karena sakit, diajak ngobrol rasanya nggak punya energi, atau tiba-tiba ingin nangis tanpa tahu harus menjelaskan apa. Di tengah rasa nggak nyaman itu, Puan mungkin jadi bertanya-tanya, “Kenapa rasanya jadi sedih banget ya? Kok jadi gampang banget emosi?” Padahal, ada kalanya tubuh Puan memang sedang menghadapi banyak perubahan. Rasa sakit, perubahan suasana hati, dan kondisi emosional bisa datang berbarengan; apalagi saat sedang menstruasi. And why is that? It's Not Just About the Cramps Selama menstruasi, rasanya bukan cuma perut yang ikut merasakan ...

Takut Nggak Konsisten? Perfeksionis yang Bikin Gak Mulai-Mulai

Pernah nggak sih Puan berpikir, “Nanti dulu deh, aku mulai pas bisa rutin,” lalu hari berganti minggu, dan rencana itu tetap di daftar? Kalau iya, mungkin bukan soal niat Puan yang kurang, melainkan standar Puan yang kebanyakan. Perfeksionisme sering muncul sebagai suara kecil yang bilang, “kalau nggak bisa konsisten tiap hari, mending jangan mulai sama sekali. Ironisnya, sikap itu justru bikin kita nggak pernah benar-benar jalan.” 

Banyak dari kita kepikiran, “kalau nggak bisa konsisten tiap hari, mending jangan mulai.” Takut bolong atau melewatkan satu atau beberapa hari dari target yang dipasang, takut malu, takut dikatain nggak disiplin. Jadi kita menunggu kondisi ideal, mood sempurna, jadwal bersih, semua alat siap, padahal kondisi ideal itu jarang datang. Akhirnya banyak proyek, kebiasaan, atau ide baik yang mati di awal karena diperlakukan seperti syarat kelulusan, bukan proses. 

Masalahnya, konsistensi itu bukan syarat yang harus dipenuhi sebelum mulai. Konsistensi dibangun sambil jalan. Mulai tanpa prasangka “harus sempurna” memberi kesempatan untuk menemukan ritme, menyesuaikan ekspektasi, dan belajar dari praktik nyata. Studi-studi psikologi juga nunjukin: perfeksionisme maladaptif sering berhubungan dengan penundaan dan kecemasan, bukan produktivitas yang berkelanjutan. Jadi, perfeksionis yang takut nggak konsisten bisa jadi jebakan psikologis, bukan strategi. 

Jadi gimana caranya keluar dari lingkaran itu tanpa ngerasa kompromi sama standar diri? 
1. Ubah standar itu jadi percobaan kecil 
Alih-alih menetapkan target “harus tiap hari 2 jam”, coba mulai dengan janji yang hampir mustahil untuk ditolak, misal 2 menit. Setelah Puan mulai, biasanya rasa takut itu berkurang karena Puan punya bukti: “Oh, aku bisa mulai.” Bukti kecil ini lebih powerful daripada tumpukan alasan. 

2. Gunakan beberapa trik yang bekerja tanpa harus merombak kepribadian perfeksionismu 
Pakai aturan 2 menit, mulai pakai versi mini dari aktivitas yang Puan mau. Lalu, buat standar minimum seperti kalau sedang sibuk, cukup 20% effort itu tetap oke. Selanjutnya, sambungkan kebiasaan baru ke rutinitas yang udah ada (habit stacking). Kemudian, kasih batas waktu untuk fase “perfeksionis,” misalnya 20 menit untuk ngedit, lalu stop; revisi boleh esok hari. Terakhir, catat progress kecil; bukti kasat mata bikin rasa takut kian pudar.

3. Coba ubah narasi batin Puan 
Daripada bilang, “Kalau aku bolong, berarti gagal,” coba ganti ke, “Bolong bukan akhir, itu data yang kasih tahu kapan harus adjust.” Perubahan kata itu sederhana, tapi ngaruh ke cara Puan merespon kegagalan kecil. Jangan jadikan bolong sebagai alasan untuk berhenti, tapi jadikan itu sebagai indikator yang bikin strategimu lebih realistis. 

Kalau Puan merasa terus-menerus terjebak, coba mulai refleksi diri, apakah standar yang Puan pasang realistis? Apakah itu datang dari ekspektasi diri Puan sendiri atau orang lain/media? Kadang kita ngejar standar yang bukan milik kita, dan itu capeknya double. Kurangi paparan pada akun media sosial yang selalu suguhin “hasil akhir” tanpa proses, itu sering memperkuat rasa harus sempurna. 

Pada akhirnya, kebiasaan konsisten lahir dari aksi kecil yang berulang, bukan dari deklarasi sempurna. Kalau perfeksionisme bikin Puan takut nggak konsisten sehingga nggak mulai, maka solusi praktisnya adalah mulai dari hal kecil, ulang lagi, dan beri izin pada diri untuk tidak sempurna. Mulai bukan tanda lemah, itu tanda Puan berani belajar sambil berjalan. 


Author & Editor: Daru Sekar Arum

Referensi: 

Komentar

Rubik Puan Popular

Puan Bisa Festival 2026 : Dorong Perempuan Muda Meninjau Keputusan Hidup Berdasar Integritas Diri

  Sumber: Dokumentasi Puan Bisa Festival 2026 Jakarta, 15 Oktober 2026  Di tengah dinamika dunia kerja dan persaingan dalam proses pencarian kerja, perempuan muda kerap menghadapi tekanan untuk terus meningkatkan kemampuan, mencapai standar kesuksesan tertentu, dan menentukan arah karir sejak dini. Kondisi ini dapat menimbulkan kebingungan dalam mengenali potensi diri serta menentukan langkah yang sesuai dengan kemampuan dan kondisi masing-masing. Menanggapi tantangan tersebut, Puan Bisa menghadirkan Webinar Career dalam rangkaian Puan Bisa Festival 2026 untuk mengajak perempuan muda mengenali potensi diri dan menyusun arah karir secara lebih terarah. Puan Bisa merupakan komunitas non-profit yang didirikan pada 1 Oktober 2020 dan berdedikasi untuk meningkatkan kesadaran perempuan muda Indonesia dalam mengembangkan kemampuan dan kecintaan terhadap diri sendiri melalui konten edukatif, Instagram Live, webinar, serta berbagai program pengembangan diri lainnya. Melalui kolaborasi,...

Intip antusiasme Para Puan Dalam Meninjau Keputusan Hidupnya di Puan Bisa Festival 2026!

Sumber: Dokumentasi Puan Bisa Festival 2026 J akarta, 13 Oktober 2026. Perempuan muda saat ini dihadapkan pada berbagai peluang sekaligus tekanan untuk sukses secara profesional, mandiri secara finansial, dan memenuhi ekspektasi sosial. Tekanan ini juga tercermin dalam dunia kerja; laporan McKinsey & Company dan LeanIn.Org (2025) mencatat sekitar 60% perempuan di level kepemimpinan melaporkan mengalami burnout secara konsisten. Di tengah berbagai tuntutan tersebut, proses menentukan arah hidup, mulai dari pendidikan dan karier hingga pembentukan identitas diri, dapat menjadi tantangan tersendiri. Menjawab tantangan ini, Puan Bisa Festival 2026 mengusung tema “Brave to Step Back: RISE”, yang mengajak perempuan muda untuk mengambil jeda, merefleksikan pilihan, dan menentukan arah hidup secara lebih sadar melalui pendekatan Self-Determination Theory (SDT). Diselenggarakan secara luring pada Sabtu, 10 Oktober 2026, bertepatan dengan Hari Kesehatan Mental Sedunia, Puan Bisa Festival 202...

Fenomena Doom Scrolling, Kebiasaan yang Bikin Burn Out

  " Scroll bentar deh.." Terus tanpa sadar mata mulai berat, tangan pegal, dan lupa waktu sendiri. Pernah ngalamin hal serupa? Kalau iya, berarti Puan lagi ngalamin yang namanya doom scrolling . Doom scrolling itu kalau Puan terus-terusan mengonsumsi informasi, terutama berita negatif yang ada pada sosial media. Menurut Cambdrige Dictionary , kata "Doomscr oll" mengacu kepada tindakan  terlalu sering menatap layar  untuk membaca berita buruk atau kurang  berbobot.  Nah, dari sini mungkin banyak Puan yang jadi ngerti apa itu doom scrolling , istilah yang belakangan sering muncul di internet. Kalau kita teliti, lagi  penyebabnya nggak bakalan lepas dari ketergantungan kita  pada handphone .  Hampir setiap hari kita menerima banyak pesan notifikasi. Terlepas  isinya penting atau tidak terlalu penting secara refleks pasti kita cek kalau dibiarkan menimbulkan rasa cemas atau anxiety,   seakan ada hal tertinggal jika kita tidak membuka lay...

Emotional Agility: Cara Bijak Mengelola Emosi

Sumber:  aventislearning.com Puan, bagaimana kalau emosi bukan musuh yang harus dihindari, melainkan sahabat yang bisa memandu kita untuk mengambil keputusan yang lebih bijak? Setiap hari Puan berhadapan dengan emosi yang beragam: senang, cemas, marah, kecewa, sampai rasa tidak berdaya. Sering kali, Puan diajarkan untuk menekan emosi tertentu dan menampilkan emosi lain agar terlihat “baik-baik saja”. Masalahnya, cara ini justru membuat jadi makin lelah. Emosi jadi menumpuk dan akhirnya meledak. Di sisi lain, ada juga yang membiarkan emosi menguasai dirinya. Sedikit kritik bisa membuat patah semangat, atau kegagalan kecil terasa seperti bencana yang besar. Padahal, emosi bukan musuh yang harus dihindari maupun hal yang harus ditaati. Yang kita butuhkan bukan “ positivity berlebihan ”, melainkan keterampilan untuk merespons emosi secara sehat dan fleksibel. Keterampilan inilah yang disebut emotional agility . Apa Itu Emotional Agility? Konsep ini diperkenalkan oleh psikolog Susan Dav...

Intentional Pause: Berhenti Sejenak Bukan Berarti Menyerah

  Sumber: pexels.com Halo, Puan! Puan pernah gak sih merasa harus selalu produktif? Baru selesai satu target, Puan udah langsung memikirkan target berikutnya. Apalagi kalau Puan lihat pencapaian orang lain di media sosial, rasanya jadi pengen ikut lari lebih cepat biar gak ketinggalan. Bahkan ketika sedang beristirahat pun, bisa muncul perasaan bersalah karena merasa gak cukup produktif. Tanpa sadar, Puan telah hidup dalam ritme yang menuntut semuanya serba cepat, cepat sukses, cepat berkembang, cepat mengambil keputusan, dan cepat mencapai tujuan. Padahal, sometimes, the most productive thing you can do is simply pause. Di tengah kehidupan yang serba cepat ini, mengambil jeda secara sadar atau intentional pause bisa menjadi cara untuk refleksi dan kembali terhubung dengan diri sendiri. Bukan sekadar berhenti dari kesibukan, tapi memberi ruang untuk berpikir, merefleksikan keadaan, dan menentukan step atau goals berikutnya dengan lebih bijak. Intentional pause dapat membantu Puan...