Langsung ke konten utama

Pressure to Survive in This Economy: Membedah Hustle Culture dalam Gaya Hidup, Puan!

Belakangan ini ramai dibicarakan dalam media sosial terkait perdebatan penurunan gaya hidup in this economy . Katanya, gaya hidup masyarakat saat ini sangat tinggi, sampai akhirnya berada di fase kesulitan secara finansial. Namun, bagaimana jika sebenarnya Puan telah bekerja keras dan terus-menerus mencari cuan? Fase apa yang sebenarnya sedang Puan tempuh saat ini? Sumber: Magnific.com Realitas Ekonomi Perkembangan teknologi yang sangat pesat saat ini, membuat media sosial menjadi salah satu media untuk bertransaksi secara digital dan menjadi salah satu media yang memengaruhi perekonomian masyarakat dalam memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Hal tersebut dapat dikatakan positif untuk membantu perekonomian, tetapi jika Puan tidak dapat mengontrol penggunaan media sosial sebagai alat transaksi dengan baik, maka Puan dapat terjebak dalam perilaku konsumtif dan dapat memengaruhi keuangan individu. Namun, apakah kesulitan secara finansial yang Puan hadapi saat ini hanya dipengaruhi oleh fakto...

Bukan Digital Detox, Yuk Kenali Konsep Digital Minimalism!

 

Sampul buku Digital Minimalism oleh Cal Newport (penguinrandomhouse.com)

Hai Puan! Pernah gak sih cuma mau buka Instagram lima menit, tapi ternyata satu jam sudah berlalu? Atau Puan tanpa sadar mengecek ponsel setiap kali ada waktu luang? Kebiasaan ini mungkin terasa normal, tetapi bisa membuat kita kehilangan fokus, waktu, bahkan ketenangan. 

Digital minimalism merupakan salah satu strategi yang membantu kita untuk mengoptimalkan penggunaan teknologi dan menggunakan teknologi secara lebih sadar. Intinya, kita hanya fokus pada aplikasi atau aktivitas digital yang benar-benar bermanfaat dan sejalan dengan nilai atau tujuan hidup. Sementara itu, hal-hal yang tidak memberi manfaat nyata bisa dikurangi atau bahkan ditinggalkan agar waktu dan perhatian tidak terkuras sia-sia. 

Baca juga: Menghilangkan Demotivasi ala Buku “Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati”

Digital minimalism melibatkan peninjauan kembali waktu yang dihabiskan pada perangkat sesuai dengan tujuan dan kebutuhan pribadi. Tidak seperti tindakan pembatasan yang sementara memblokir akses aplikasi atau jaringan, digital minimalism mendorong pendekatan yang stabil dan jangka panjang terhadap penggunaan gadget. 

Digital minimalism didasarkan pada tiga prinsip sederhana. Pertama, terlalu banyak distraksi digital justru lebih banyak merugikan daripada menguntungkan. Semakin banyak aplikasi, notifikasi, dan platform yang digunakan, semakin besar pula kemungkinan waktu dan fokus kita terkuras. Kedua, teknologi perlu digunakan dengan bijak. Tidak cukup hanya menganggap suatu aplikasi bermanfaat, tetapi kita juga perlu menentukan bagaimana cara menggunakannya agar benar-benar memberikan dampak positif. Ketiga, menggunakan teknologi secara sadar dan penuh tujuan dapat memberikan kepuasan tersendiri. Dengan memilih teknologi yang benar-benar dibutuhkan, kita bisa merasa lebih fokus, tenang, dan memiliki kendali atas waktu serta perhatian kita.

Penerapan digital minimalism memang tidak selalu mudah. Banyak orang berpikir bahwa mengurangi penggunaan teknologi sedikit demi sedikit adalah cara terbaik. Namun, pada kenyataannya, kebiasaan ini terkadang sulit untuk dipertahankan. Notifikasi yang terus bermunculan, media sosial yang dirancang agar kita terus membuka aplikasi, hingga kemudahan mengakses berbagai platform membuat kita mudah kembali ke kebiasaan lama. 

Oleh karena itu, ada pendekatan lain yang bisa dicoba, yaitu melakukan digital declutter atau "bersih-bersih digital". Dibandingkan dengan mengurangi penggunaan gadget secara perlahan, metode ini lebih mengajak kita untuk mengambil jeda sejenak dari teknologi yang sebenarnya tidak terlalu penting. Tujuannya adalah memberi ruang bagi diri sendiri untuk kembali menyadari aktivitas apa yang benar-benar membawa manfaat dan kebahagiaan.


Secara sederhana, langkah-langkah yang Puan bisa lakukan adalah:

1. Luangkan waktu selama 30 hari untuk berhenti menggunakan teknologi atau aplikasi yang sifatnya tidak esensial.

2. Selama masa tersebut, isi waktu dengan aktivitas lain yang lebih bermanfaat, seperti membaca buku, berolahraga, menulis jurnal, atau menghabiskan waktu bersama keluarga dan teman.

3. Setelah 30 hari berlalu, gunakan kembali teknologi yang memang dibutuhkan. Namun, sebelum menginstal atau menggunakannya lagi, tanyakan pada diri Puan: Apakah aplikasi ini benar-benar memberi manfaat? Jika iya, tentukan juga bagaimana cara menggunakannya agar tetap memberikan nilai positif tanpa kembali menjadi distraksi.


Digital minimalism bukan tentang menjauh dari teknologi, melainkan tentang menggunakan teknologi dengan lebih bijak. Ketika Puan mulai memilih apa yang benar-benar penting, kita memberi lebih banyak ruang untuk fokus, hubungan yang lebih bermakna, dan kesehatan mental yang lebih baik.


Sekilas Tentang Puan Bisa

Puan Bisa adalah komunitas perempuan muda yang mendukung pengembangan karir, self-improvement, dan mental health. Sejak pertama kali didirikan tanggal 1 Oktober 2020 sampai saat ini, Puan Bisa aktif melakukan kegiatan kreatif dan edukatif yang dilakukan dengan tujuan meningkatkan kesadaran perempuan muda (khususnya usia 16-23 tahun) dalam mengembangkan kemampuan dan rasa cinta akan dirinya.


Referensi

Newport, C. (2019). Digital minimalism: Choosing a focused life in a noisy world.

Schraggeová, M., & Bisaha, D. (2025). The effect of digital detox through digital minimalism using the MinimalistPhone app on the behavior of young users and their emotional experience. Computers in Human Behavior Reports, 18, 100699. https://doi.org/10.1016/j.chbr.2025.100699


Author & Editor: Maryam

Komentar

Rubik Puan Popular

“Aku Gak Kayak Cewek Lain…” Saatnya Kita Ngobrolin Tren Pick-Me Girl Tanpa Judging!

  Image by :  Ultimagz Kalau Puan sering scroll TikTok atau X, pasti Puan pernah dengar istilah “ pick me girl ” cewek yang seolah-olah bilang, “Aku beda dari cewek lain, lho.” Biasanya, ini untuk dapat perhatian cowok dengan cara menjelekkan sisi feminin, seperti bilang “Aku nggak suka dandan karena cewek itu ribet.” Apa Sih Pick‑Me Girl Itu? Menurut psikolog dari Universitas Airlangga, Dr. Ike Herdiana: Mengaku “aku berbeda dari cewek kebanyakan.” Sering merendahkan perempuan lain. Memperlihatkan sisi yang dianggap menarik bagi cowok   Kenapa Bisa Terjadi? Internalized Misogyny ! Tren ini bukan cuma gaya bicara. Ini soal patriarki dan misogini yang sudah tertanam , hingga perempuan juga menjelekkan sesamanya demi validasi laki-laki. Studi akademis juga mendukung bahwa tren TikTok tersebut memperkuat stereotip gender, rivalry,  dan memperlemah solidaritas antar perempuan. Dampak Negatifnya Lingkungan jadi gak nyaman Kalau perempuan saling merendah dan bersaing, nantinya...

The Lipstick Effect in the Age of Bad News

Puan pernah ngalamin nggak, sudah berniat untuk menabung, tapi beberapa jam kemudian sudah ada kopi di tangan Puan? Kopi tersebut sebetulnya lagi nggak Puan perluin sih… tapi Puan pengen beli aja. Mungkin Puan berpikir “Ah cuma 20 ribu, kok” dan merasa aman setelah spend uang akan hal tersebut, tapi nyatanya ini adalah suatu fenomena yang terjadi dalam dunia ekonomi, yaitu kebiasaan membeli barang-barang kecil sebagai bentuk self-reward yang dikenal dengan istilah Lipstick Effect .  Sumber: Magnific.com A. What is the Lipstick Effect? Saat kondisi ekonomi sedang kacau, harga kebutuhan pokok sedang naik-naiknya, banyak konsumen yang mulai menahan diri untuk melakukan pengeluaran besar, mungkin salah satunya adalah Puan. Namun sebagai gantinya, anggaran tersebut malah dialihkan untuk memenuhi kebutuhan psikologis yang lebih terjangkau. Lipstick Effect adalah suatu fenomena yang terjadi saat kondisi ekonomi sedang tidak baik-baik saja, tetapi para konsumen tetap membeli suatu produk ...

2026 The New 2016: Apa itu Nostalgia?

(Gambar: Lemon 8) Apakah Puan saat ini familiar dengan pembahasan 2026 adalah  the new 2016 ?  Banyak orang yang kembali membahas trend yang beredar di tahun 2016 mulai dari fashion hingga aplikasi Tumblr. Istilah ini mengacu kepada budaya digital dan pop culture 2016 yang kembali populer di awal tahun 2026.  Puan mungkin bertanya-tanya, mengapa spesifik tren di 2016. Menurut Ibcomagazine, tren biasanya menjalankan sistem aturan 20 tahun sekali.Maksudnya adalah setiap 20 tahun sekali tren yang ada pada generasi sebelumnya akan muncul pada generasi baru. Contohnya seperti anak-anak di tahun 2000-an yang suka dengan gaya hidup ( lifestyle ) remaja di era tahun 80-han.  Tapi itu dulu. Dulu tren membutuhkan waktu 20 tahun untuk kembali. Sekarang? Peran media sosial memangkasnya menjadi 10 tahun jadinya kita memandang 2026 dan 2016 sebagai era yang berbeda, dan didorong rasa nostalgia kita semakin ingin kembali ke kehidupan dan lifestyle di 2016.  Selain itu, dilan...

Pressure to Survive in This Economy: Membedah Hustle Culture dalam Gaya Hidup, Puan!

Belakangan ini ramai dibicarakan dalam media sosial terkait perdebatan penurunan gaya hidup in this economy . Katanya, gaya hidup masyarakat saat ini sangat tinggi, sampai akhirnya berada di fase kesulitan secara finansial. Namun, bagaimana jika sebenarnya Puan telah bekerja keras dan terus-menerus mencari cuan? Fase apa yang sebenarnya sedang Puan tempuh saat ini? Sumber: Magnific.com Realitas Ekonomi Perkembangan teknologi yang sangat pesat saat ini, membuat media sosial menjadi salah satu media untuk bertransaksi secara digital dan menjadi salah satu media yang memengaruhi perekonomian masyarakat dalam memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Hal tersebut dapat dikatakan positif untuk membantu perekonomian, tetapi jika Puan tidak dapat mengontrol penggunaan media sosial sebagai alat transaksi dengan baik, maka Puan dapat terjebak dalam perilaku konsumtif dan dapat memengaruhi keuangan individu. Namun, apakah kesulitan secara finansial yang Puan hadapi saat ini hanya dipengaruhi oleh fakto...

Mengeluh: Cara Bijak Mengambil Manfaat Tanpa Terperangkap

Image by Greatmind   Puan, Siapa di dunia ini yang tidak pernah mengeluh? Tentunya kita semua pernah. Konon katanya, mengeluh adalah hobi dari kebanyakan orang. Dengan mengeluh, rasa stres memang bisa berkurang, tetapi apabila dilakukan terus-menerus, mengeluh bisa berubah menjadi kebiasaan marah yang serius. Kebiasaan mengeluh terus-menerus dapat mengubah cara kerja otak Puan dalam merespon hal-hal negatif. Keluhan-keluhan yang awalnya kecil bisa menjadi pembentuk kepribadian Puan. Jadi, boleh nggak sih kita ngeluh?  Nggak ada yang salah dengan mengekspresikan apa yang Puan rasakan, tentunya Puan tidak ingin mengubur perasaan Puan. Jika ada sesuatu yang pantas Puan keluhkan, lakukanlah. Namun, harus terus memantau perasaan Puan mengenai hal yang Puan keluhkan, apakah itu pantas untuk dikeluhkan atau hanya perasaan Puan saja? Menjaga sikap mengeluh pada batas wajar juga sangat penting agar Puan bisa tetap maju. Tahukah Puan, orang mengeluh juga ada macamnya loh, sini Priska ka...