Langsung ke konten utama

Decision Fatigue: Kenapa Memilih Menu Makan Malam Bisa Terasa Sangat Berat?

  Ilustrasi seseorang yang mengalami decision fatigue (brainfacts.org) Pernah nggak, Puan ngerasa kalau semakin sore, Puan jadi semakin ceroboh atau malah makin nggak bisa milih sesuatu? Puan sanggup menyelesaikan revisi tugas yang sulit di pagi hari, tapi begitu malam tiba, memilih film di Netflix saja butuh waktu satu jam dan berakhir nggak jadi nonton apa-apa karena bingung. Fenomena ini dikenal sebagai decision fatigue atau kelelahan mengambil keputusan. Sederhananya, otak Puan memiliki kapasitas terbatas untuk membuat pilihan setiap hari. Setiap keputusan yang diambil, mulai dari memilih pakaian, menentukan menu sarapan, memilih rute perjalanan, hingga membalas pesan penting, sedikit demi sedikit menguras energi mental Puan sendiri. Kenapa Fenomena Ini Bisa Terjadi? Ibaratnya, otak Puan seperti baterai HP. Setiap pilihan yang Puan buat, sekecil apa pun, memakan daya baterai tersebut. Masalahnya, pendidikan sampai pekerjaan memaksa Puan mengambil ribuan keputusan kecil setiap ...

Tak Pernah Salah? Menggali Lebih Dalam Fenomena Dunning-Kruger Effect






source: https://thedecisionlab.com/biases/dunning-kruger-effect

K

ali ini kita akan mengenal istilah baru lagi Puan, yaitu Dunning-Kruger EffectDunning-Kruger Effect adalah fenomena dalam psikologi yang dapat didefinisikan sebagai bias kognitif dimana seseorang keliru menilai kemampuan yang dimiliki diri sendiri. Individu yang mengalami Dunning-Kruger Effect akan merasa kemampuan mereka jauh lebih tinggi dari yang sebenarnya. Bias ini dikaitkan dengan ketidakmampuan metakognitif untuk mengenali kemampuan mereka sendiri.

Teori Dunning-Kruger Effect ini dikembangkan oleh David Dunning dan Justin Kruger pada tahun 1999, dua profesor psikologi dari Cornell University. David dan Justin awalnya terinspirasi kasus McArthur Wheeler, seorang pria yang merampok 2 bank yang menutupi wajahnya dengan perasan air jeruk dan yakin bahwa wajahnya tidak terlihat dan tidak terekam oleh kamera pengawas, sama seperti menulis dengan tinta perasan air jeruk maka tulisannya tidak terlihat.

Orang dengan Dunning-Kruger Effect cenderung enggan dianggap tidak memiliki kemampuan, sehingga mereka meningkatkan penilaian terhadap dirinya dan mengabaikan kelemahan, Hal ini disebabkan karena ego. Mereka tidak menyadari bahwa kemampuan yang dimiliki masih kurang dibandingkan orang lain karena merasa sudah cukup banyak mempelajari sesuatu dan berhasil bertahan dalam suatu kejadian. Karena tidak menyadari sepenuhnya, akhirnya mereka memiliki titik buta. Dalam kata lain, mereka tidak dapat melihat bahwa mereka salah, dan menganggap dirinya telah melakukan yang terbaik.

Siapa saja yang bisa terkena efek ini, Puan? Kenyataannya adalah bahwa efek Dunning-Kruger mempengaruhi semua orang. Tidak ada yang bisa mengklaim suatu keahlian. Selain itu, efek Dunning-Kruger bukanlah pertanda kecerdasan rendah. Orang pintar juga mengalami fenomena ini.

Lalu, apa yang bisa kita lakukan untuk menghindari efek Dunning-Kruger?
Yuk, pelajari tips berikut ini:

Perkaya wawasan dan pengetahuan dengan terus belajar
source: nugasin.com

Alih-alih merasa tahu segalanya tentang suatu topik, teruslah menggali lebih dalam. Setelah Puan mendapatkan pengetahuan yang lebih besar, maka semakin besar pula kemungkinan Puan untuk mengenali banyaknya hal yang masih harus dipelajari.

Minta pendapat orang lain
source: dailysia.com

Tidak ada yang salah dari meminta pendapat dan kritik dari orang lain ya, puan! kritik dan saran yang membangun dari orang lain dapat dijadikan evaluasi untuk Puan. Meskipun, terkadang sulit untuk mendengarnya, namun umpan balik tersebut dapat membantu Puan mengetahui bagaimana orang lain memandang kemampuan diri Puan sendiri. Jadi, jangan merasa paling benar sendiri ya Puan. Terkadang pendapat orang lain sangat perlu untuk kita pertimbangkan

Mengenali Kekurangan Diri Sendiri
source: https://shorturl.at/XIt06
            
Mengenali kekurangan diri sendiri adalah perjalanan penting menuju pemahaman yang lebih dalam tentang diri kita. Ketika kita berani menghadapi dan mengakui kelemahan yang ada dalam diri, itu bukanlah tanda kelemahan, tetapi sebuah tindakan keberanian yang membuka pintu menuju pertumbuhan pribadi. Dalam konteks Dunning-Kruger Effect, kesadaran akan kekurangan diri adalah perisai terhadap jebakan kesombongan intelektual yang sering kali menghalangi kita dari pembelajaran yang lebih baik.

Dengan kesadaran akan efek ini dan usaha yang konsisten untuk terus belajar dan berkembang, kita dapat mengurangi risiko terjebak dalam perangkap Dunning-Kruger dan menjadi lebih efektif dalam mencapai tujuan dan meningkatkan kemampuan kita.


Referensi:

Pasha, D. (2024). Malang Inspirasi. Dunning-Kruger Effect, Perilaku Sok Tahu Sok Hebat yang Menyebalkan. Diakses pada 27 Mei 2024 dari https://malanginspirasi.com/2024/03/29/dunning-kruger-effect-perilaku-sok-tahu-sok-hebat-yang-menyebalkan

Horo, T.B. (2022). Ruangguru. Efek Dunning-Kruger: Alasan Mengapa Orang Merasa Paling Baik. Diakses pada 27 Mei 2024 dari https://www.ruangguru.com/blog/dunning-kruger-effect

Sastika, S.P.N. (2022). Satu Persen. Dunning-Kruger Effect: Alasan Orang Merasa Lebih Pintar dari Kenyataannya. Diakses pada 27 Mei 2024 dari https://satupersen.net/blog/dunning-kruger-effect


Author: Maya Zahwa Aulia

Editor: Maya Zahwa Aulia

Komentar

Rubik Puan Popular

Decision Fatigue: Kenapa Memilih Menu Makan Malam Bisa Terasa Sangat Berat?

  Ilustrasi seseorang yang mengalami decision fatigue (brainfacts.org) Pernah nggak, Puan ngerasa kalau semakin sore, Puan jadi semakin ceroboh atau malah makin nggak bisa milih sesuatu? Puan sanggup menyelesaikan revisi tugas yang sulit di pagi hari, tapi begitu malam tiba, memilih film di Netflix saja butuh waktu satu jam dan berakhir nggak jadi nonton apa-apa karena bingung. Fenomena ini dikenal sebagai decision fatigue atau kelelahan mengambil keputusan. Sederhananya, otak Puan memiliki kapasitas terbatas untuk membuat pilihan setiap hari. Setiap keputusan yang diambil, mulai dari memilih pakaian, menentukan menu sarapan, memilih rute perjalanan, hingga membalas pesan penting, sedikit demi sedikit menguras energi mental Puan sendiri. Kenapa Fenomena Ini Bisa Terjadi? Ibaratnya, otak Puan seperti baterai HP. Setiap pilihan yang Puan buat, sekecil apa pun, memakan daya baterai tersebut. Masalahnya, pendidikan sampai pekerjaan memaksa Puan mengambil ribuan keputusan kecil setiap ...

Merasa Dipahami, atau Hanya Divalidasi? Fenomena Baru Kesehatan Mental

Sumber: Pinterest Pernah nggak sih, Puan lagi ngerasa capek, overthinking , atau sekadar butuh didenger… terus akhirnya buka media sosial? Scroll bentar, lihat story orang lain, posting sesuatu, nungguin like masuk. Atau mungkin, Puan malah buka chat dan mulai curhat panjang dan yang jawab bukan manusia, tapi AI. Aneh nggak sih? Kita bisa ngerasa lega, walaupun yang “dengerin” bukan orang beneran. Kalau Puan pernah ngerasain itu, tenang… Puan nggak sendirian. Tapi, mungkin tanpa sadar, Puan lagi ada di tengah fenomena yang lebih besar: mencari validasi secara online —baik dari manusia di sosial media, maupun dari teknologi seperti ChatGPT. Yuk, kita bedah pelan-pelan, kenapa ini bisa terjadi dan apa dampaknya ke kesehatan mental Puan. Kenapa Kita Butuh Banget Validasi? Secara dasar, manusia itu memang butuh merasa: didengar, dipahami, dan diterima. Namun, Itu bukan kelemahan, melainkan kebutuhan psikologis. Masalahnya, di era digital, cara kita memenuhi kebutuhan itu jadi berubah. Set...

Perempuan dan Overachievement Trap: Sisi Lain Produktivitas

  Pict by: Bustle.com Pernahkah Puan merasa sudah berusaha dengan maksimal, tetapi merasa performa yang ditampilkan kurang ataupun berusaha untuk mengejar ekspektasi agar bisa selalu dihargai?  Alih-alih merasa puas, Puan justru terus mendorong diri untuk melakukan hal-hal diluar batas diri Puan. Hal ini bukan karena tuntutan yang sudah jelas ada, melainkan ada dorongan untuk selalu memenuhi ekspektasi, baik diri sendiri maupun orang lain. Jika kondisi ini terasa familiar, bisa jadi Puan sedang berada dalam overachievement trap. Apa Itu Overachievement Trap ? Overachievement trap merupakan kondisi ketika seseorang terus berusaha mencapai level yang lebih tinggi, bukan karena kebutuhannya, melainkan merasa dirinya sebagai perempuan belum cukup layak dan dihargai oleh sekitar. Secara psikologis, kondisi ini berkaitan dengan perfeksionisme, terutama dipengaruhi oleh tekanan sosial.  Paul L. Hewitt dan Gordon L. Flett menjelaskan bahwa perfeksionisme yang berorientasi pada t...

Business Mindset untuk Daily Life: Cara Berpikir Strategis dalam Menjalani Hidup

image by RDNE Stock project P uan, pernah nggak sih ngerasa sibuk dan banyak ikut kegiatan, tapi ujung-ujungnya masih ngerasa ‘ what am I really building? ’ Di dunia bisnis ada yang namanya Business Mindset . Dalam mindset ini tuh nggak cuma soal target, profit, atau strategi perusahaan. Intinya, ini tentang cara berpikir yang terarah, proaktif, dan adaptif .  Prinsip-prinsip ini nggak cuma berlaku untuk perusahaan, tapi juga bisa langsung diterapin di kehidupan sehari-hari. Misalnya, supaya Puan bisa: Nggak cuma sibuk, tapi tahu prioritas dan arah. Berpikir analitis sebelum mengambil keputusan. Mengelola hidup dan tujuan seperti proyek nyata. Tetap fleksibel dan komunikatif di tengah perubahan. Baca juga: Soft Skill, Kunci Bertahan Puan di Dunia Nyata Nah, supaya nggak cuma teori aja, kita langsung masuk ke beberapa mindset kunci yang bisa Puan terapkan mulai sekarang. 1. Proaktif: Jangan Cuma Nunggu Kesempatan Menurut Future of Jobs Report 2023 dari World Economic Forum, keteram...

Menerapkan Stoicism dalam Bermedia Sosial: Mau Upload Sesuatu tapi Malu? Tenang, Orang-Orang Nggak Se-Peduli Itu Kok!

Image by  www.socialmediae.com         Pernah nggak sih, Puan merasa ragu untuk posting sesuatu di media sosial? Misalnya, takut dibilang nggak produktif atau dianggap nggak ada kerjaan. Banyak sekali orang yang saat ini sedang sibuk membangun personal branding di Instagram, LinkedIn, atau media sosial lainnya. Mulai dari upload berbagai pencapaian, pengalaman di organisasi, hingga kegiatan volunteer yang kelihatannya asik dan keren banget. Nggak sedikit juga yang update hal-hal tersebut bahkan di akun kedua atau second account mereka.           Nggak ada yang salah dengan hal itu. Namun, di sisi lain, banyak juga yang akhirnya jadi minder . "Duh, kalau gue cuma upload foto kopi doang, kelihatan nggak produktif banget, nggak, sih?" atau "Mau post selfie aja kok jadi mikir-mikir, takut dikira nggak ada kerjaan." Pernah merasa begitu? Yuk, baca artikel ini sampai selesai! Pahami Fungsi Media Sosial yang Berbeda-beda ...