Langsung ke konten utama

Manifestasi Saja Nggak Cukup, Yuk Kenali Cara Kerja Law of Attraction!

Sumber: pexels.com Coba buka TikTok, Instagram, atau X terus perhatikan konten yang muncul di beranda Puan. Mungkin Puan akan menemukan berbagai video tarot, ramalan masa depan, atau kalimat seperti " claim this energy " dan " the universe has something planned for you ". Konten-konten seperti ini semakin akrab di media sosial dan sering dikaitkan dengan law of attraction (LOA) atau hukum tarik-menarik, yang kini lebih populer kini lebih populer dengan sebutan manifestasi. Apa Itu Law of Attraction ? Secara sederhana, law of attraction merupakan gagasan bahwa pikiran dan perasaan seseorang dapat menarik pengalaman yang serupa ke dalam kehidupannya. Jika Puan semakin sering memiliki pikiran positif, maka semakin terbuka pula jalan bagi berbagai hal positif untuk hadir di Puan. Sebaliknya, semakin sering Puan berpikir negatif atau berburuk sangka, maka Puan akan lebih sering menarik pengalaman yang kurang menyenangkan. Konsep ini bukan hal baru. Gagasannya telah lam...

Mindfulness 101: Finding Your Focus in a World Full of Distractions

 

sumber: magnific.com

Puan pernah ngalamin nggak, lagi ngerjain tugas, terus ada satu notifikasi masuk, kemudian cek notifnya, balas satu chat, eh lanjut buka TikTok dan akhirnya lupa kalau tadi sebenarnya Puan lagi ngapain?


Di tengah dunia yang full of distractions ini, perhatian kita rasanya gampang banget berpindah dari satu hal ke hal lainnya. Belum selesai satu informasi, sudah muncul informasi baru. Belum selesai proses berita satu, sudah ada berita lainnya.


Tanpa sadar, kita bisa menghabiskan banyak waktu dengan gadget tanpa benar-benar sadar sedang melakukan apa.


Di sinilah mindfulness bisa menjadi salah satu cara untuk membantu Puan lebih sadar terhadap bagaimana Puan menggunakan teknologi dan ke mana perhatian Puan pergi.


Mindfulness Itu Apa, Sih?

Mindfulness secara sederhana adalah kemampuan untuk menyadari dan benar-benar hadir terhadap apa yang sedang kita lakukan saat ini, tanpa langsung menghakimi pikiran atau perasaan yang muncul.


Menurut Meegasdeniya dan Dulnath (2023), mindfulness membantu seseorang memusatkan perhatian pada saat ini dengan lebih sadar, sehingga kita dapat memahami pikiran, perasaan, dan lingkungan sekitar tanpa terbawa oleh berbagai distraksi.


Jadi, mindfulness bukan berarti harus meditasi berjam-jam atau meninggalkan teknologi sepenuhnya. Justru, mindfulness bisa dimulai dari hal kecil: be aware of what we are doing in the moment.

Kesadaran kecil seperti ini bisa membantu Puan mengenali kebiasaan digital yang sering dilakukan secara otomatis.


When Scrolling Becomes Mindless

Teknologi memang sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Kita menggunakannya untuk belajar, bekerja, berkomunikasi, mencari informasi, bahkan mencari hiburan.


Jadi, masalahnya bukan terletak pada teknologi-nya, melainkan yang perlu diperhatikan adalah bagaimana kita menggunakan teknologi itu sendiri.


Beberapa kebiasaan digital seperti excessive screen time, notification overload, information overload, endless scrolling, sampai kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain di media sosial dapat membuat penggunaan teknologi terasa melelahkan. Kebiasaan-kebiasaan tersebut juga dapat muncul ketika kita mulai kehilangan batas dan kontrol terhadap penggunaan perangkat digital (Meegasdeniya & Dulnath, 2023).


Puan mungkin awalnya hanya ingin mencari hiburan, tetapi akhirnya malah merasa overwhelmed karena terlalu banyak informasi yang masuk. Atau tadinya hanya ingin melihat satu update dari teman, tetapi berakhir membandingkan kehidupan sendiri dengan kehidupan orang lain.


Maka dari itu, mindfulness di sini membantu Puan berhenti sejenak dari mode autopilot tersebut. Bukan untuk menyalahkan diri sendiri karena terlalu lama scrolling, tetapi untuk menyadari pola yang sedang terjadi.


So, How Can We Practice Mindfulness in a Digital World?

  1. Pause Before You Scroll

Sebelum membuka aplikasi, coba berhenti sebentar dan tanyakan: “Aku buka ini untuk apa?” Sesederhana itu, untuk dapat mengontrol tindakan Puan berikutnya. Kalau memang ingin membalas pesan, ya buka untuk membalas pesan. Kalau ingin mencari informasi, cari informasi yang dibutuhkan.


Menurut Alper Y. (2024), membiasakan diri berhenti sejenak sebelum membuka aplikasi dan mempertanyakan apakah aktivitas tersebut memang diperlukan dapat membantu mengurangi mindless scrolling dan membuat penggunaan teknologi menjadi lebih intentional.


Dengan punya tujuan sebelum membuka aplikasi, Puan bisa jadi lebih sadar dan nggak mudah terbawa ke endless scrolling.

  1. Give Your Notifications a Break

Nggak semua notifikasi harus mendapatkan perhatian saat itu juga. Puan bisa coba matikan notifikasi yang sebenarnya nggak terlalu penting ketika sedang belajar, bekerja, makan, atau ingin beristirahat.


Alper Y. (2024) juga membagikan pengalamannya melakukan notification cleanse dengan mematikan notifikasi yang tidak esensial. Dengan begitu, ia bisa memilih kapan ingin mengecek perangkatnya, alih-alih terus-menerus terdorong oleh bunyi notifikasi.


Puan nggak harus langsung mematikan semuanya. Mulai dari aplikasi yang paling sering mengganggu fokus Puan saja.

  1. Create a Little Tech-Free Moments

Puan nggak harus langsung melakukan digital detox seharian. Bisa dimulai dari momen kecil dulu aja, kok. Misalnya, coba makan tanpa HP, menikmati perjalanan tanpa terus melihat layar, atau memberikan beberapa menit pertama setelah bangun tidur tanpa langsung membuka media sosial.


Menurut Meegasdeniya dan Dulnath (2023), mengambil jeda dari teknologi dan memberikan perhatian pada diri sendiri serta lingkungan sekitar merupakan bagian dari penggunaan teknologi yang lebih mindful.

  1. Practice Mindful Scrolling

Yes, scrolling can still be mindful, Puan.


Ketika membuka media sosial, Puan bisa coba lebih sadar dengan apa yang kita konsumsi. Perhatikan bagaimana perasaan kita setelah melihat konten tertentu. 


Apakah kita merasa terhibur? Mendapat informasi baru? Atau justru merasa anxious, insecure, atau overwhelmed?


Puan juga bisa mulai memilih akun dan konten yang memang memberikan value bagi kita. Kalau ada konten yang terus membuat Puan merasa buruk terhadap diri sendiri, mungkin sudah waktunya mengevaluasi kembali konten apa yang Puan biarkan memenuhi timeline kita.


Mindfulness bukan berarti kita harus berhenti menggunakan media sosial, tetapi lebih kepada membangun kesadaran terhadap bagaimana kita berinteraksi dengan teknologi dan informasi yang kita konsumsi (Meegasdeniya & Dulnath, 2023).



It’s Not About Leaving the Digital World

Mindfulness in digital era bukan tentang siapa yang paling sedikit menggunakan gadget atau siapa yang berhasil melakukan digital detox paling lama.


Kita hidup di dunia yang memang membutuhkan teknologi. Maka yang bisa kita lakukan adalah membangun hubungan yang lebih sadar dengan teknologi tersebut. Karena mungkin, yang kita butuhkan bukan lebih sedikit teknologi, tetapi lebih banyak kesadaran tentang bagaimana kita menggunakannya.


Because sometimes, being present is more alive than consumed by doomscrolling.


Sekilas Tentang Puan Bisa

Puan Bisa adalah komunitas perempuan muda yang mendukung pengembangan karir, self-improvement, dan mental health. Sejak pertama kali didirikan tanggal 1 Oktober 2020 sampai saat ini, Puan Bisa aktif melakukan kegiatan kreatif dan edukatif yang dilakukan dengan tujuan meningkatkan kesadaran perempuan muda (khususnya usia 16-23 tahun) dalam mengembangkan kemampuan dan rasa cinta akan dirinya.



Referensi:


Meegasdeniya, S., & Dulnath, V. (2023). Mindfulness Techniques For Digital Wellbeing. This was a research paper our team did as research assignment we have submitted to lecturer and medium only. 


Alper Y. (2024). Mindfulness in the digital age: Strategies for staying present amidst digital distractions. Medium. https://medium.com/@alperyildirim/mindfulness-in-the-digital-age-strategies-for-staying-present-amidst-digital-distractions-1e003f388222



Author & Editor: Lilis Fadilah

Komentar

Rubik Puan Popular

“Aku Gak Kayak Cewek Lain…” Saatnya Kita Ngobrolin Tren Pick-Me Girl Tanpa Judging!

  Image by :  Ultimagz Kalau Puan sering scroll TikTok atau X, pasti Puan pernah dengar istilah “ pick me girl ” cewek yang seolah-olah bilang, “Aku beda dari cewek lain, lho.” Biasanya, ini untuk dapat perhatian cowok dengan cara menjelekkan sisi feminin, seperti bilang “Aku nggak suka dandan karena cewek itu ribet.” Apa Sih Pick‑Me Girl Itu? Menurut psikolog dari Universitas Airlangga, Dr. Ike Herdiana: Mengaku “aku berbeda dari cewek kebanyakan.” Sering merendahkan perempuan lain. Memperlihatkan sisi yang dianggap menarik bagi cowok   Kenapa Bisa Terjadi? Internalized Misogyny ! Tren ini bukan cuma gaya bicara. Ini soal patriarki dan misogini yang sudah tertanam , hingga perempuan juga menjelekkan sesamanya demi validasi laki-laki. Studi akademis juga mendukung bahwa tren TikTok tersebut memperkuat stereotip gender, rivalry,  dan memperlemah solidaritas antar perempuan. Dampak Negatifnya Lingkungan jadi gak nyaman Kalau perempuan saling merendah dan bersaing, nantinya...

Spotlight Effect: Fenomena Psikologis Ketika Seseorang Merasa Diperhatikan Oleh Banyak Mata

Image by  Newristics Puan pernah nggak sih berada di suatu tempat keramaian, misalnya foodcourt dan hendak memesan makanan, tetapi secara tidak sengaja Puan menyenggol gelas di sekitar Puan dan gelas tersebut pecah, lalu ketika sibuk membersihkan gelas tersebut, Puan merasa bahwa sorotan orang-orang di sekitar memperhatikan Puan secara seksama dan seketika Puan mendadak kaku akibat perasaan tersebut. Pernah mengalami hal tersebut? Jika pernah, hal tersebut dinamakan spotlight effect atau efek sorotan. Spotlight effect merupakan suatu fenomena, di mana Puan berpikir bahwa semua orang memperhatikan Puan. Fenomena ini telah dikenal dalam ilmu psikologi sejak tahun 2000, persisnya ketika Thomas Gilovich, Victoria Husted Medvec, dan Kenneth Savitsky meluncurkan studi dengan judul, " The Spotlight Effect in Social Judgment: An Egocentric Bias in Estimates of The Salience of One's Own Actions and Appearanc e". Seorang dosen psikologi di University of California , Berkeley, Ame...

Pura-pura Bahagia itu Bahaya, Kenali Dampaknya!

  Sumber: BeautyJournal.id Pernahkah Puan mendengar istilah " fake it until you make it "? Banyak orang melakukan ini dengan harapan meyakinkan diri dengan mengatakan kalimat afirmasi seperti kamu bahagia, beban yang kamu hadapi kecil, kamu bisa, dan kamu tidak akan sedih akan membuat diri kita merasa lebih baik. Namun, apakah benar? Konsep " fake it until you make it " sama dengan konsep pura-pura bahagia. Terlebih di zaman yang serba digital ini, sikap pura-pura bahagia semakin mudah untuk dilakukan. Contohnya seperti saat kita mengirimkan pesan seringkali kita menggunakan emoji senyum, padahal kita tidak benar-benar tersenyum dan bahagia, bisa jadi kita sedang dalam mood  yang buruk. Dampak dari Berpura-pura Bahagia Puan, berpura-pura bahagia tidak selamanya bisa dilakukan, dengan berpura-pura baik-baik saja tidak akan menjadikan kita benar-benar kuat, sebaliknya hal tersebut akan menghisap energi kita hingga lenyap jika diteruskan. Oleh karena itu, yuk simak dam...

Manifestasi Saja Nggak Cukup, Yuk Kenali Cara Kerja Law of Attraction!

Sumber: pexels.com Coba buka TikTok, Instagram, atau X terus perhatikan konten yang muncul di beranda Puan. Mungkin Puan akan menemukan berbagai video tarot, ramalan masa depan, atau kalimat seperti " claim this energy " dan " the universe has something planned for you ". Konten-konten seperti ini semakin akrab di media sosial dan sering dikaitkan dengan law of attraction (LOA) atau hukum tarik-menarik, yang kini lebih populer kini lebih populer dengan sebutan manifestasi. Apa Itu Law of Attraction ? Secara sederhana, law of attraction merupakan gagasan bahwa pikiran dan perasaan seseorang dapat menarik pengalaman yang serupa ke dalam kehidupannya. Jika Puan semakin sering memiliki pikiran positif, maka semakin terbuka pula jalan bagi berbagai hal positif untuk hadir di Puan. Sebaliknya, semakin sering Puan berpikir negatif atau berburuk sangka, maka Puan akan lebih sering menarik pengalaman yang kurang menyenangkan. Konsep ini bukan hal baru. Gagasannya telah lam...

2026 The New 2016: Apa itu Nostalgia?

(Gambar: Lemon 8) Apakah Puan saat ini familiar dengan pembahasan 2026 adalah  the new 2016 ?  Banyak orang yang kembali membahas trend yang beredar di tahun 2016 mulai dari fashion hingga aplikasi Tumblr. Istilah ini mengacu kepada budaya digital dan pop culture 2016 yang kembali populer di awal tahun 2026.  Puan mungkin bertanya-tanya, mengapa spesifik tren di 2016. Menurut Ibcomagazine, tren biasanya menjalankan sistem aturan 20 tahun sekali.Maksudnya adalah setiap 20 tahun sekali tren yang ada pada generasi sebelumnya akan muncul pada generasi baru. Contohnya seperti anak-anak di tahun 2000-an yang suka dengan gaya hidup ( lifestyle ) remaja di era tahun 80-han.  Tapi itu dulu. Dulu tren membutuhkan waktu 20 tahun untuk kembali. Sekarang? Peran media sosial memangkasnya menjadi 10 tahun jadinya kita memandang 2026 dan 2016 sebagai era yang berbeda, dan didorong rasa nostalgia kita semakin ingin kembali ke kehidupan dan lifestyle di 2016.  Selain itu, dilan...