Puan pernah ngalamin nggak, lagi ngerjain tugas, terus ada satu notifikasi masuk, kemudian cek notifnya, balas satu chat, eh lanjut buka TikTok dan akhirnya lupa kalau tadi sebenarnya Puan lagi ngapain?
Di tengah dunia yang full of distractions ini, perhatian kita rasanya gampang banget berpindah dari satu hal ke hal lainnya. Belum selesai satu informasi, sudah muncul informasi baru. Belum selesai proses berita satu, sudah ada berita lainnya.
Tanpa sadar, kita bisa menghabiskan banyak waktu dengan gadget tanpa benar-benar sadar sedang melakukan apa.
Di sinilah mindfulness bisa menjadi salah satu cara untuk membantu Puan lebih sadar terhadap bagaimana Puan menggunakan teknologi dan ke mana perhatian Puan pergi.
Mindfulness Itu Apa, Sih?
Mindfulness secara sederhana adalah kemampuan untuk menyadari dan benar-benar hadir terhadap apa yang sedang kita lakukan saat ini, tanpa langsung menghakimi pikiran atau perasaan yang muncul.
Menurut Meegasdeniya dan Dulnath (2023), mindfulness membantu seseorang memusatkan perhatian pada saat ini dengan lebih sadar, sehingga kita dapat memahami pikiran, perasaan, dan lingkungan sekitar tanpa terbawa oleh berbagai distraksi.
Jadi, mindfulness bukan berarti harus meditasi berjam-jam atau meninggalkan teknologi sepenuhnya. Justru, mindfulness bisa dimulai dari hal kecil: be aware of what we are doing in the moment.
Kesadaran kecil seperti ini bisa membantu Puan mengenali kebiasaan digital yang sering dilakukan secara otomatis.
When Scrolling Becomes Mindless
Teknologi memang sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Kita menggunakannya untuk belajar, bekerja, berkomunikasi, mencari informasi, bahkan mencari hiburan.
Jadi, masalahnya bukan terletak pada teknologi-nya, melainkan yang perlu diperhatikan adalah bagaimana kita menggunakan teknologi itu sendiri.
Beberapa kebiasaan digital seperti excessive screen time, notification overload, information overload, endless scrolling, sampai kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain di media sosial dapat membuat penggunaan teknologi terasa melelahkan. Kebiasaan-kebiasaan tersebut juga dapat muncul ketika kita mulai kehilangan batas dan kontrol terhadap penggunaan perangkat digital (Meegasdeniya & Dulnath, 2023).
Puan mungkin awalnya hanya ingin mencari hiburan, tetapi akhirnya malah merasa overwhelmed karena terlalu banyak informasi yang masuk. Atau tadinya hanya ingin melihat satu update dari teman, tetapi berakhir membandingkan kehidupan sendiri dengan kehidupan orang lain.
Maka dari itu, mindfulness di sini membantu Puan berhenti sejenak dari mode autopilot tersebut. Bukan untuk menyalahkan diri sendiri karena terlalu lama scrolling, tetapi untuk menyadari pola yang sedang terjadi.
So, How Can We Practice Mindfulness in a Digital World?
Pause Before You Scroll
Sebelum membuka aplikasi, coba berhenti sebentar dan tanyakan: “Aku buka ini untuk apa?” Sesederhana itu, untuk dapat mengontrol tindakan Puan berikutnya. Kalau memang ingin membalas pesan, ya buka untuk membalas pesan. Kalau ingin mencari informasi, cari informasi yang dibutuhkan.
Menurut Alper Y. (2024), membiasakan diri berhenti sejenak sebelum membuka aplikasi dan mempertanyakan apakah aktivitas tersebut memang diperlukan dapat membantu mengurangi mindless scrolling dan membuat penggunaan teknologi menjadi lebih intentional.
Dengan punya tujuan sebelum membuka aplikasi, Puan bisa jadi lebih sadar dan nggak mudah terbawa ke endless scrolling.
Give Your Notifications a Break
Nggak semua notifikasi harus mendapatkan perhatian saat itu juga. Puan bisa coba matikan notifikasi yang sebenarnya nggak terlalu penting ketika sedang belajar, bekerja, makan, atau ingin beristirahat.
Alper Y. (2024) juga membagikan pengalamannya melakukan notification cleanse dengan mematikan notifikasi yang tidak esensial. Dengan begitu, ia bisa memilih kapan ingin mengecek perangkatnya, alih-alih terus-menerus terdorong oleh bunyi notifikasi.
Puan nggak harus langsung mematikan semuanya. Mulai dari aplikasi yang paling sering mengganggu fokus Puan saja.
Create a Little Tech-Free Moments
Puan nggak harus langsung melakukan digital detox seharian. Bisa dimulai dari momen kecil dulu aja, kok. Misalnya, coba makan tanpa HP, menikmati perjalanan tanpa terus melihat layar, atau memberikan beberapa menit pertama setelah bangun tidur tanpa langsung membuka media sosial.
Menurut Meegasdeniya dan Dulnath (2023), mengambil jeda dari teknologi dan memberikan perhatian pada diri sendiri serta lingkungan sekitar merupakan bagian dari penggunaan teknologi yang lebih mindful.
Practice Mindful Scrolling
Yes, scrolling can still be mindful, Puan.
Ketika membuka media sosial, Puan bisa coba lebih sadar dengan apa yang kita konsumsi. Perhatikan bagaimana perasaan kita setelah melihat konten tertentu.
Apakah kita merasa terhibur? Mendapat informasi baru? Atau justru merasa anxious, insecure, atau overwhelmed?
Puan juga bisa mulai memilih akun dan konten yang memang memberikan value bagi kita. Kalau ada konten yang terus membuat Puan merasa buruk terhadap diri sendiri, mungkin sudah waktunya mengevaluasi kembali konten apa yang Puan biarkan memenuhi timeline kita.
Mindfulness bukan berarti kita harus berhenti menggunakan media sosial, tetapi lebih kepada membangun kesadaran terhadap bagaimana kita berinteraksi dengan teknologi dan informasi yang kita konsumsi (Meegasdeniya & Dulnath, 2023).
It’s Not About Leaving the Digital World
Mindfulness in digital era bukan tentang siapa yang paling sedikit menggunakan gadget atau siapa yang berhasil melakukan digital detox paling lama.
Kita hidup di dunia yang memang membutuhkan teknologi. Maka yang bisa kita lakukan adalah membangun hubungan yang lebih sadar dengan teknologi tersebut. Karena mungkin, yang kita butuhkan bukan lebih sedikit teknologi, tetapi lebih banyak kesadaran tentang bagaimana kita menggunakannya.
Because sometimes, being present is more alive than consumed by doomscrolling.
Sekilas Tentang Puan Bisa
Puan Bisa adalah komunitas perempuan muda yang mendukung pengembangan karir, self-improvement, dan mental health. Sejak pertama kali didirikan tanggal 1 Oktober 2020 sampai saat ini, Puan Bisa aktif melakukan kegiatan kreatif dan edukatif yang dilakukan dengan tujuan meningkatkan kesadaran perempuan muda (khususnya usia 16-23 tahun) dalam mengembangkan kemampuan dan rasa cinta akan dirinya.
Referensi:
Meegasdeniya, S., & Dulnath, V. (2023). Mindfulness Techniques For Digital Wellbeing. This was a research paper our team did as research assignment we have submitted to lecturer and medium only.
Alper Y. (2024). Mindfulness in the digital age: Strategies for staying present amidst digital distractions. Medium. https://medium.com/@alperyildirim/mindfulness-in-the-digital-age-strategies-for-staying-present-amidst-digital-distractions-1e003f388222
Komentar
Posting Komentar