Langsung ke konten utama

Lebih dari Sekadar Boneka Cantik: What Can We Learn from Barbies

Salah satu adegan dari Barbie: A Fairy Secret (www.primevideo.com) Waktu kecil, Puan mungkin mengenal Barbie hanya sebagai boneka berambut pirang dengan baju serba pink dan rumah impian yang estetik. Tapi kalau Puan lihat lebih dalam, terutama lewat pesan yang disampaikan dalam film Barbie, ada banyak banget pelajaran hidup dan self-improvement yang relatable buat kehidupan Puan sekarang. Barbie bukan lagi sekadar simbol kecantikan ideal yang bikin orang insecure . Justru, dunia Barbie bisa mengajarkan Puan tentang penerimaan diri, keberanian mendefinisikan sukses versi sendiri, dan pentingnya merangkul segala ketidaksempurnaan sebagai manusia. Baca juga: Cara Baru Jadi Soft & Powerful: Mengulik Tren Hyper Femininity! Yuk, Priska bedah pelajaran apa saja yang bisa Puan ambil dari karakter Barbie! " You Can Be Anything " Itu Nyata, Tapi Nggak Harus Sempurna Slogan klasik Barbie, " You Can Be Anything ", mengajarkan bahwa perempuan berhak bercita-cita setinggi mu...

Portfolio 101: Mulai Dari Mana, Ya?

source: https://pin.it/30ORZCIja

Puan pasti sudah tidak asing lagi dengan istilah portofolio. Namun, pernahkah Puan bertanya-tanya, mengapa portofolio menjadi salah satu hal yang hampir selalu diminta dalam proses rekrutmen?

Sederhananya, portofolio adalah kumpulan pengalaman, karya, dan pencapaian yang disusun secara menarik agar orang lain dapat melihat kemampuan yang Puan miliki. Melalui portofolio, recruiter tidak hanya membaca apa yang Puan tuliskan di CV, tetapi juga dapat melihat bukti nyata dari apa yang pernah Puan kerjakan.


Inilah mengapa portofolio menjadi begitu penting. Portofolio membantu recruiter menilai sejauh mana kemampuan, pengalaman, dan potensi Puan sesuai dengan posisi yang dilamar. Semakin relevan pengalaman yang ditampilkan, semakin besar pula kesempatan Puan untuk meninggalkan kesan yang baik.


Jadi, bagaimana membuat portofolio Puan tampak berkesan dan valuable?

Tenang, Puan, bikin portofolio sekarang nggak sesulit yang dibayangkan, kok. Bahkan, kalau belum pernah bikin sebelumnya, Puan tetap bisa mulai dari hal-hal sederhana. Yang terpenting bukan seberapa banyak pengalaman yang dimiliki, tapi bagaimana pengalaman itu Puan susun sehingga mudah dipahami oleh orang yang melihatnya.


Ini dia beberapa langkah yang bisa Puan lakukan!

  1. Tentukan tujuan portofolio

Sebelum mulai mendesain, langkah yang paling awal adalah Puan tanya dulu ke diri Puan sendiri, "Portofolio ini mau dipakai untuk apa?" Apakah untuk daftar magang? Organisasi? Volunteer? Atau kerja?

Tujuan ini penting karena akan menentukan dan menyesuaikan isi portofolio Puan. Misalnya, kalau ingin melamar sebagai content writer, tentu pengalaman menulis, membuat artikel, atau konten media sosial akan lebih relevan. Karena portofolio adalah tempat untuk memasukkan semua pengalaman yang paling sesuai dengan posisi yang dituju.


  1. Tampilkan hanya karya terbaik Puan

Sering kali kita merasa semakin banyak isi portofolio, semakin bagus. Padahal, belum tentu. Puan bisa pilih beberapa karya yang paling mencerminkan kemampuan Puan. Lebih baik menampilkan lima hasil yang benar-benar kuat daripada lima belas hasil yang membuat perekrut bingung menilai fokus kemampuan Puan. Puan juga bisa tambahkan sedikit penjelasan di setiap karya. Misalnya:

  • Apa tujuan proyek tersebut?

  • Apa peran Puan di dalamnya?

  • Apa hasil atau pencapaiannya?

Dengan begitu, orang yang membaca tidak hanya melihat hasil akhirnya, tetapi juga memahami proses dan kontribusi Puan.


  1. Buat tampilannya rapi dan nyaman dilihat

Percayalah, Puan, tampilan sangat bisa memengaruhi kesan pertama. Puan bisa pilih desain yang menyesuaikan posisi yang Puan tuju, bisa kreatif ataupun profesional, gunakan juga color palette yang konsisten dan menarik. Portofolio yang bersih dan rapi juga akan membuat perekrut lebih mudah menemukan informasi penting.

Kabar baiknya, sekarang membuat portofolio sudah jauh lebih mudah. Banyak platform seperti Canva, Figma, bahkan Google Slides yang menyediakan berbagai template gratis dengan desain profesional.

Jadi, Puan tidak perlu jago desain untuk bisa membuat portofolio yang menarik. Tinggal pilih template yang sesuai dengan gaya Puan, lalu sesuaikan isinya.


  1. Detail-kan pengalaman, bukan hanya tempel hasilnya

Ingat, Puan, portofolio bukan hanya sekadar kumpulan sertifikat atau foto kegiatan. Puan bisa menginfokan real impact di balik setiap pengalaman. Misalnya, target yang tercapai maupun impact lainnya.

Detail seperti ini dapat menunjukkan nilai plus dalam setiap kemampuan Puan. Nilai-nilai seperti ini sering kali menjadi pertimbangan penting bagi recruiter.


  1. Selalu update portofolio

Portofolio bukan dokumen yang selesai dalam sekali buat. Setiap kali Puan mengikuti lomba, organisasi, magang, volunteer, atau berhasil menyelesaikan proyek baru, jangan lupa update pengalaman tersebut ke dalam portofolio Puan. Dengan begitu, portofolio Puan akan terus berkembang seiring bertambahnya pengalaman.

Tidak perlu menunggu “pengalaman bermutu” untuk mulai membuat portofolio. Justru dengan mulai dari sekarang, Puan punya kesempatan untuk terus memperbaiki dan melengkapinya sedikit demi sedikit.


Portofolio adalah cerita tentang diri Puan

Pada akhirnya, portofolio bukan tentang siapa yang punya pengalaman paling banyak, melainkan siapa yang mampu menunjukkan potensi dan perjalanan pengalamannya dengan baik.


Setiap kepanitiaan, tugas kuliah, organisasi, proyek kecil, hingga pengalaman volunteer bisa menjadi nilai tambah jika dikemas dengan tepat. Jadi, jangan ragu untuk mulai menyusun portofolio dari sekarang. Siapa tahu, pengalaman yang selama ini Puan anggap "biasa saja" justru menjadi alasan seseorang memilih Puan untuk kesempatan berikutnya.


Karena setiap pengalaman punya cerita, dan portofolio adalah tempat terbaik untuk menceritakannya.




Sekilas Tentang Puan Bisa

Puan Bisa adalah komunitas perempuan muda yang mendukung pengembangan karir, self-improvement, dan mental health. Sejak pertama kali didirikan tanggal 1 Oktober 2020 sampai saat ini, Puan Bisa aktif melakukan kegiatan kreatif dan edukatif yang dilakukan dengan tujuan meningkatkan kesadaran perempuan muda (khususnya usia 16-23 tahun) dalam mengembangkan kemampuan dan rasa cinta akan dirinya.


Referensi

Linda. (2022, February 19). Gini, loh, cara menyusun portofolio untuk copywriter. Medium. https://ersuerwa.medium.com/gini-loh-cara-menyusun-portofolio-untuk-copywriter-56f1fab5372f

Kwik Kian Gie School of Business. (2021, October 4). Tips membuat portofolio kamu menjadi menarik. https://kwikkiangie.ac.id/2021/10/04/tips-membuat-portofolio-kamu-menjadi-menarik/


Author & Editor: Lilis Fadilah

Komentar

Rubik Puan Popular

Takut Gagal? Justru Itu Jalan Awal Tumbuh, Puan!

Photo by Eva Bronzini Pernah nggak sih, Puan ngerasa jantung berdebar tiap mau ambil keputusan besar? Misalnya, daftar beasiswa ke luar negeri, apply kerjaan impian, atau berani presentasi di depan banyak orang. Sering kali pikiran seperti, “Kalau gagal gimana ya? Malu banget, semua orang pasti ngelihat aku nggak mampu,” muncul lebih dulu daripada semangat mencoba. Kalau iya, Puan nggak sendirian. Banyak perempuan muda juga ngalamin hal yang sama. Itu namanya fear of failure alias rasa takut gagal. Puan, tahu nggak? Rasa takut gagal itu sebenarnya sinyal. Artinya, Puan lagi menghadapi sesuatu yang penting dan bermakna. Kalau sesuatu nggak penting, kita biasanya santai aja, kan? Justru karena itu penting, makanya muncul rasa takut. Dan kabar baiknya: rasa takut itu bukan musuh. Ia bisa jadi titik awal pertumbuhan kalau kita berani melangkah melewatinya. Growth Mindset: Cara Melihat Gagal Sebagai Jalan Belajar Psikolog Carol Dweck ngenalin konsep growth mindset , yaitu pola pikir bah...

Spotlight Effect: Fenomena Psikologis Ketika Seseorang Merasa Diperhatikan Oleh Banyak Mata

Image by  Newristics Puan pernah nggak sih berada di suatu tempat keramaian, misalnya foodcourt dan hendak memesan makanan, tetapi secara tidak sengaja Puan menyenggol gelas di sekitar Puan dan gelas tersebut pecah, lalu ketika sibuk membersihkan gelas tersebut, Puan merasa bahwa sorotan orang-orang di sekitar memperhatikan Puan secara seksama dan seketika Puan mendadak kaku akibat perasaan tersebut. Pernah mengalami hal tersebut? Jika pernah, hal tersebut dinamakan spotlight effect atau efek sorotan. Spotlight effect merupakan suatu fenomena, di mana Puan berpikir bahwa semua orang memperhatikan Puan. Fenomena ini telah dikenal dalam ilmu psikologi sejak tahun 2000, persisnya ketika Thomas Gilovich, Victoria Husted Medvec, dan Kenneth Savitsky meluncurkan studi dengan judul, " The Spotlight Effect in Social Judgment: An Egocentric Bias in Estimates of The Salience of One's Own Actions and Appearanc e". Seorang dosen psikologi di University of California , Berkeley, Ame...

Manifestasi Saja Nggak Cukup, Yuk Kenali Cara Kerja Law of Attraction!

Sumber: pexels.com Coba buka TikTok, Instagram, atau X terus perhatikan konten yang muncul di beranda Puan. Mungkin Puan akan menemukan berbagai video tarot, ramalan masa depan, atau kalimat seperti " claim this energy " dan " the universe has something planned for you ". Konten-konten seperti ini semakin akrab di media sosial dan sering dikaitkan dengan law of attraction (LOA) atau hukum tarik-menarik, yang kini lebih populer kini lebih populer dengan sebutan manifestasi. Apa Itu Law of Attraction ? Secara sederhana, law of attraction merupakan gagasan bahwa pikiran dan perasaan seseorang dapat menarik pengalaman yang serupa ke dalam kehidupannya. Jika Puan semakin sering memiliki pikiran positif, maka semakin terbuka pula jalan bagi berbagai hal positif untuk hadir di Puan. Sebaliknya, semakin sering Puan berpikir negatif atau berburuk sangka, maka Puan akan lebih sering menarik pengalaman yang kurang menyenangkan. Konsep ini bukan hal baru. Gagasannya telah lam...

Pura-pura Bahagia itu Bahaya, Kenali Dampaknya!

  Sumber: BeautyJournal.id Pernahkah Puan mendengar istilah " fake it until you make it "? Banyak orang melakukan ini dengan harapan meyakinkan diri dengan mengatakan kalimat afirmasi seperti kamu bahagia, beban yang kamu hadapi kecil, kamu bisa, dan kamu tidak akan sedih akan membuat diri kita merasa lebih baik. Namun, apakah benar? Konsep " fake it until you make it " sama dengan konsep pura-pura bahagia. Terlebih di zaman yang serba digital ini, sikap pura-pura bahagia semakin mudah untuk dilakukan. Contohnya seperti saat kita mengirimkan pesan seringkali kita menggunakan emoji senyum, padahal kita tidak benar-benar tersenyum dan bahagia, bisa jadi kita sedang dalam mood  yang buruk. Dampak dari Berpura-pura Bahagia Puan, berpura-pura bahagia tidak selamanya bisa dilakukan, dengan berpura-pura baik-baik saja tidak akan menjadikan kita benar-benar kuat, sebaliknya hal tersebut akan menghisap energi kita hingga lenyap jika diteruskan. Oleh karena itu, yuk simak dam...

Membangun Kepercayaan Diri: Menerima Diri Sendiri di Luar Society's Standards

“Society’s Standards”, pernahkah Puan mendengar istilah ini? Gampangnya, society’s standards adalah suatu standar yang dijadikan sebagai suatu acuan. Society’s standards biasanya memegang prinsip kesempurnaan. Oleh karena itu, sebagian besar dari Puan mungkin saja pernah merasakan tekanan dari society‘s standards. Tekanan yang kita rasakan akibat society‘s standards sudah sering kita rasakan bahkan sebelum kita mengenal kata “sempurna”. Banyak dari Puan mungkin pernah didorong untuk menjadi seseorang yang bukan sosok diri Puan hanya untuk bisa masuk dalam society. Society menginginkan Puan untuk menjadi sempurna. Seperti, harus menjadi pintar, lucu, cantik, berbakat, dan masih banyak lagi terkadang hanya untuk bisa diterima di suatu lingkungan. Percayalah Puan, lingkungan seperti sangat tidak sehat untuk ditinggali. Banyak orang diluar sana melakukan hal yang tidak mereka ingin lakukan agar bisa diterima dalam society. Mengubah opini, gaya rambut, fitur wajah, dan lain sebagain...