Langsung ke konten utama

Phubbing: Kebiasaan Buruk yang Menurunkan Kualitas Interaksi dengan Lawan Bicara

Ilustrasi seseorang yang merasakan phubbing. (halodoc.com) Di era digital seperti sekarang, HP telah menjadi bagian yang sulit dipisahkan dari kehidupan sehari-hari. Bahkan, hampir sepanjang waktu tangan kita tidak terlepas dari HP. Meski memberikan kemudahan dalam berkomunikasi dan mengakses informasi, penggunaan HP yang berlebihan juga dapat memengaruhi kualitas interaksi dengan orang di sekitar.  Salah satu perilaku yang semakin sering ditemui adalah phubbing , yaitu kebiasaan lebih fokus pada smartphone daripada orang yang sedang diajak berbicara secara langsung. Apa Itu Phubbing? Sederhananya, phubbing merupakan perilaku mengabaikan lawan bicara yang sedang berada di hadapan kita dengan sibuk menyibukkan perhatian pada HP. Perilaku ini tentunya tidak mencerminkan etika berkomunikasi yang baik, loh Puan. Dalam kehidupan sehari-hari, bentuk perilaku phubbing tidak hanya digambarkan dengan seseorang yang sibuk membalas chat . Adapun kebiasaan lainnya, seperti membuka media sosia...

Phubbing: Kebiasaan Buruk yang Menurunkan Kualitas Interaksi dengan Lawan Bicara

Ilustrasi seseorang yang merasakan phubbing. (halodoc.com)

Di era digital seperti sekarang, HP telah menjadi bagian yang sulit dipisahkan dari kehidupan sehari-hari. Bahkan, hampir sepanjang waktu tangan kita tidak terlepas dari HP.

Meski memberikan kemudahan dalam berkomunikasi dan mengakses informasi, penggunaan HP yang berlebihan juga dapat memengaruhi kualitas interaksi dengan orang di sekitar. 


Salah satu perilaku yang semakin sering ditemui adalah phubbing, yaitu kebiasaan lebih fokus pada smartphone daripada orang yang sedang diajak berbicara secara langsung.

Apa Itu Phubbing?

Sederhananya, phubbing merupakan perilaku mengabaikan lawan bicara yang sedang berada di hadapan kita dengan sibuk menyibukkan perhatian pada HP. Perilaku ini tentunya tidak mencerminkan etika berkomunikasi yang baik, loh Puan.


Dalam kehidupan sehari-hari, bentuk perilaku phubbing tidak hanya digambarkan dengan seseorang yang sibuk membalas chat. Adapun kebiasaan lainnya, seperti membuka media sosial, mengecek notifikasi, menonton reels/shorts, hingga sekadar melihat layar HP.


Perilaku ini biasanya terjadi di berbagai situasi komunikasi, mulai dari makan bersama keluarga, berkumpul dengan teman, rapat kerja, hingga berkencan dengan pasangan. Hal tersebut tentunya akan menghilangkan intimasi dari pembicaraan, mulai dengan keluarga hingga teman. 

Ciri-Ciri Seseorang Melakukan Phubbing

Phubbing sering kali dilakukan baik secara sengaja maupun tidak sengaja. Lebih parahnya lagi, phubbing bisa menjadi sebuah kebiasaan buruk yang kerap dilakukan saat mengobrol. Berikut tanda-tanda yang umum ditemukan:


  • Terus memeriksa notifikasi meskipun sedang berbicara dengan orang lain.

  • Meletakkan HP di atas meja dan sering melihat layarnya selama percakapan berlangsung.

  • Menghentikan pembicaraan secara paksa untuk membalas chat atau membuka media sosial.

  • Lebih fokus pada aktivitas di smartphone dibandingkan memperhatikan lawan bicara.

  • Merasa gelisah apabila tidak dapat mengecek HP selama beberapa menit.


Meskipun terlihat sepele, perilaku tersebut dapat membuat orang lain kurang nyaman karena mereka terasa seperti tidak dihargai. Lawan bicara layak untuk mendapatkan perhatian sepenuhnya dari kita.

Penyebab Phubbing

Tentunya, ada berbagai faktor yang mendorong Puan untuk cenderung melakukan phubbing. Faktor berikut ini dapat berasal dari kebiasaan pribadi maupun pengaruh teknologi.

Ada berbagai faktor yang membuat seseorang lebih mudah melakukan phubbing, baik yang berasal dari kebiasaan pribadi maupun pengaruh teknologi.

1. Kecanduan HP

Penggunaan HP yang berlebihan merupakan salah satu penyebab paling umum dari phubbing. Ketika Puan sudah terbiasa memainkan HP selama berjam-jam lamanya, muncul dorongan untuk memeriksa HP tersebut di tengah interaksi yang sedang berlangsung.

2. Fear of Missing Out (FOMO)

FOMO merupakan suatu kondisi ketika Puan merasa takut tertinggal informasi, obrolan terbaru, atau aktivitas di media sosial. Ketakutan tersebut bisa menjadi penyebab Puan terus mengecek notifikasi, sehingga Puan secara otomatis mengurangi perhatiannya kepada orang di sekitarnya.

3. Kebiasaan Multitasking

Di kehidupan yang serba cepat ini, sebagian Puan merasa mampu melakukan dua aktivitas sekaligus, seperti mengobrol sambil membalas chat. Namun, penelitian menunjukkan bahwa multitasking justru dapat menurunkan perhatian dan komunikasi karena otak harus memindahkan fokusnya secara terus-menerus.

4. Banyaknya Notifikasi

Suara, getaran, maupun tampilan notifikasi dirancang untuk menarik perhatian Puan sebagai pengguna HP. Akibatnya, Puan seperti terbujuk untuk segera membuka HP meskipun sedang melakukan aktivitas lain.

Dampak Phubbing terhadap Hubungan Sosial

Phubbing bukan sekadar kebiasaan sepele yang tidak perlu dipusingkan. Perilaku ini juga dapat memberikan dampak terhadap bonding dengan orang lain.

Menurunkan Kualitas Komunikasi

Saat perhatian terbagi antara percakapan dan HP, proses komunikasi menjadi kurang efektif. Lawan bicara terkadang harus mengulang pembicaraan atau merasa tidak didengarkan dengan baik.

Menimbulkan Perasaan Diabaikan

Korban phubbing sering kali merasa tidak dihargai, tidak dianggap penting, atau bahkan merasa posisinya diabaikan. Jika terjadi berulang kali, kondisi ini berpotensi mengurangi kepercayaan dalam hubungan.

Memicu Konflik

Dalam hubungan romantis, phubbing telah dikaitkan dengan meningkatnya konflik dan menurunnya kepuasan hubungan. Hal serupa juga dapat terjadi dalam hubungan keluarga maupun pertemanan apabila kebiasaan tersebut masih dilakukan.

Mengurangi Kedekatan Emosional

Interaksi tatap muka telah terbukti lebih efektif dalam membangun empati dan koneksi emosional. Ketika perhatian lebih banyak diberikan kepada layar HP, kualitas interaksi tersebut dapat menurun sehingga akan muncul sebuah gap yang membuat hubungan terasa lebih renggang.

Dampak Phubbing terhadap Kesehatan Mental

Phubbing tidak hanya memengaruhi hubungan sosial, tetapi juga dapat berdampak pada kesehatan mental. Pelaku dan korban phubbing bisa sama-sama mendapatkan dampak dari phubbing yang menurunkan kualitas hidup.


Beberapa penelitian menemukan bahwa individu yang sering mengalami phubbing cenderung memiliki tingkat kepuasan hubungan yang lebih rendah, sering merasa kesepian, hingga mengalami penurunan kesejahteraan psikologis. Sementara itu, pengguna HP dengan level penggunaan yang tinggi juga berisiko mengalami stres akibat keinginan untuk selalu terhubung dengan dunia digital.


Di sisi lain, penggunaan HP secara terus-menerus juga dapat mengurangi kemampuan seseorang untuk hadir sepenuhnya dalam sebuah percakapan. Akibatnya, interaksi sosial terasa kurang bermakna atau mindful meskipun sedang dilakukan secara langsung.

Cara Mengurangi Kebiasaan Phubbing

Mengurangi phubbing bukan berarti harus berhenti menggunakan HP. Justru, mengurangi phubbing dapat dilakukan dengan menyeimbangkan aktivitas digital dan interaksi di dunia nyata. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:

Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:

  • Mengaktifkan mode Do Not Disturb saat makan, rapat, atau berkumpul bersama keluarga.

  • Menyimpan HP di dalam tas atau saku agar tidak mudah tergoda untuk membukanya.

  • Menetapkan waktu khusus untuk mengecek media sosial dan membalas pesan.

  • Memberikan kontak mata dan perhatian penuh saat orang lain sedang berbicara.

  • Membiasakan komunikasi yang lebih sadar (mindful communication), yaitu fokus pada percakapan tanpa terdistraksi oleh perangkat digital.

  • Membuat aturan bebas HP ketika sedang makan bersama atau menghabiskan waktu bersama pasangan dan keluarga.

Dengan menerapkan kebiasaan tersebut secara konsisten, seseorang akan mendapatkan peningkatan kualitas komunikasi sekaligus mengurangi adiksi terhadap HP.


Sekilas Tentang Puan Bisa Puan Bisa adalah komunitas perempuan muda yang mendukung pengembangan karir, self-improvement, dan mental health. Sejak pertama kali didirikan tanggal 1 Oktober 2020 sampai saat ini, Puan Bisa aktif melakukan kegiatan kreatif dan edukatif yang dilakukan dengan tujuan meningkatkan kesadaran perempuan muda (khususnya usia 16-23 tahun) dalam mengembangkan kemampuan dan rasa cinta akan dirinya.



Referensi

Holland, K. (2018, June 5). How to identify and manage phubbing. Healthline. https://www.healthline.com/health/phubbing


Author & Editor: Caesi Rosprianti



Komentar

Rubik Puan Popular

Sambut Tahun Ajaran Baru, Hoshizora Foundation Kembali Perluas Kesempatan Anak Lanjut Sekolah Lewat Pembukaan Beasiswa Mimpi Anak Negeri 2026

Poster pembukaan pendaftaran Beasiswa Mimpi Anak Negeri (hoshizora.org) Yogyakarta, Juli 2026 – Setiap anak berhak memiliki kesempatan yang sama untuk meraih masa depan melalui pendidikan berkualitas. Untuk mewujudkan komitmen tersebut, Hoshizora Foundation kembali membuka pendaftaran Beasiswa Mimpi Anak Negeri (BMAN) 2026 yang berlangsung pada 6 hingga 19 Juli 2026. Program beasiswa ini ditujukan bagi siswa/i kelas IV SD hingga kelas X SMA yang akan segera memasuki tahun ajaran baru 2026/2027. Fokus menargetkan anak-anak dari keluarga pra sejahtera di seluruh Indonesia, Hoshizora Foundation membuka kesempatan dukungan pendidikan bagi siswa yang memiliki semangat belajar tinggi dan memiliki keinginan kuat meraih cita-cita, walaupun di tengah keterbatasan ekonomi.  Beasiswa Mimpi Anak Negeri merupakan salah satu program utama Hoshizora Foundation sejak 2006 yang tidak hanya memberikan bantuan biaya pendidikan, tetapi juga memfasilitasi pendampingan secara berkelanjutan kepada pener...

Mengupas High Functioning Anxiety Lewat Buku “I Want To Die But I Want To Eat Tteokpokki”

  Menjadi perempuan muda yang aktif, punya banyak kegiatan organisasi, dan tetap menjaga nilai akademik biar selalu lancar tentu jadi hal yang membanggakan. Gak heran kalau kita selalu berusaha memberikan yang terbaik dan tetap tersenyum ramah di tengah padatnya jadwal sehari-hari. Tapi jujur deh, pernah gak sih Puan merasa kalau semua keproduktifan dan senyuman itu sebenarnya cuma tameng biar kita kelihatan tangguh? Begitu malam tiba dan sendirian di kamar, rasa hampa dan lelah yang luar biasa itu sering kali datang dan susah untuk dihindari. Fenomena ketika kita tetap bersikap normal di luar padahal yang sebenarnya sedang merasa cemas ini disebut sebagai masking atau high functioning anxiety . Isu inilah yang dibahas secara gamblang dalam buku “I Want To Die but I Want To Eat Tteokbokki” karya Baek Sehee. Setiap Luka Punya Hak untuk Merasa Sakit Sering kali kita merasa cemas atau bersalah karena menganggap masalah kita sepele dibanding orang lain. Padahal, buku ini mengingatkan ...

Tidak Semua Zona Nyaman Perlu Ditinggalkan

                                                                                   Image by: Pinterest   Puan pernah denger nggak sih satu nasihat ini: “keluar dari zona nyaman kalau mau berkembang.” Masalahnya, tidak semua orang bertahan di zona nyaman itu stagnan. Dan tidak semua orang yang keluar dari zona nyaman benar-benar bertumbuh. Jadi, pertanyaannya bukan lagi harus keluar atau tidak, tapi: Apakah Puan tahu kapan harus tetap tinggal, dan kapan harus melangkah? Baca Juga:   Dealing dengan Comparison Trap Saat Lebaran Zona Nyaman Tidak Selalu Musuh Zona nyaman sering digambarkan sebagai tempat yang “menjebak.” Padahal, dalam banyak kasus, justru di sanalah Puan dapat membangun stabilitas. Zona nyaman bisa berarti: rutinitas ...

Menghilangkan Demotivasi ala Buku “Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati”

Image by : Grasindo Puan, pernah nggak sih ngerasa kalo hidup lagi di titik terendah? Nggak tau arah tujuan, motivasi hilang, overthinking berlebihan, dan rasanya pengen nyerah aja? Kalo Puan pernah atau lagi ada di posisi itu, tenang aja ya, Puan nggak sendirian kok. Apa yang Puan hadapi, persis banget kaya tokoh utama di buku “Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati” karya Brian Khrisna ini.  Pengertian Demotivasi Demotivasi yaitu suatu keadaan yang dialami seseorang ketika merasa kehilangan semangat, antusias, dan minat untuk melakukan aktivitas apa pun di dalam hidupnya. Pemicunya ada beberapa hal, seperti mental yang lelah, masalah hidup yang berat, keberadaan yang kurang dihargai, tekanan dari sekitar, atau merasa tidak percaya diri.   Hanya buku, tapi bisa jadi alasan bertahan hidup Dalam buku "Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati" ini bukan cuma cerita biasa, tokoh utama justru menemukan kembali alasan bertahan hidupny...