Langsung ke konten utama

Perfectionism Paralysis: Saat Keinginan Jadi Sempurna Malah Bikin Puan Nggak Mulai-Mulai

Ilustrasi seseorang yang mengalami perfectionism paralysis (rri.co.id) Pernah nggak sih Puan punya ide tulisan atau tugas yang bagus banget di kepala, tapi begitu mau ngetik kalimat pertama, Puan malah diam berjam-jam? Puan terus-terusan rapihin format, milih font, atau mikirin kata pembuka yang paling pas, sampai akhirnya Puan capek sendiri dan memilih buat buka TikTok? Kalau pernah, Puan lagi ngerasain yang namanya Perfectionism Paralysis. Secara psikologis, perfeksionisme itu sering kali disguise alias penyamaran dari rasa takut gagal. Puan netapin standar yang sangat tinggi, lalu otak Puan merasa terintimidasi sendiri dengan standar itu. Karena takut hasilnya nggak sempurna atau takut dinilai jelek, otak akhirnya mengambil jalan pintas: mending nggak usah dikerjain sekalian. "Done is Better than Perfect" Kata-kata di atas mungkin bukan cuma kata-kata mutiara biasa, tapi penenang paling ampuh buat perfectionism paralysis. Padahal, prinsip utama self-improvement yang sehat...

Phubbing: Kebiasaan Buruk yang Menurunkan Kualitas Interaksi dengan Lawan Bicara

Ilustrasi seseorang yang merasakan phubbing. (halodoc.com)

Di era digital seperti sekarang, HP telah menjadi bagian yang sulit dipisahkan dari kehidupan sehari-hari. Bahkan, hampir sepanjang waktu tangan kita tidak terlepas dari HP.

Meski memberikan kemudahan dalam berkomunikasi dan mengakses informasi, penggunaan HP yang berlebihan juga dapat memengaruhi kualitas interaksi dengan orang di sekitar. 


Salah satu perilaku yang semakin sering ditemui adalah phubbing, yaitu kebiasaan lebih fokus pada smartphone daripada orang yang sedang diajak berbicara secara langsung.

Apa Itu Phubbing?

Sederhananya, phubbing merupakan perilaku mengabaikan lawan bicara yang sedang berada di hadapan kita dengan sibuk menyibukkan perhatian pada HP. Perilaku ini tentunya tidak mencerminkan etika berkomunikasi yang baik, loh Puan.


Dalam kehidupan sehari-hari, bentuk perilaku phubbing tidak hanya digambarkan dengan seseorang yang sibuk membalas chat. Adapun kebiasaan lainnya, seperti membuka media sosial, mengecek notifikasi, menonton reels/shorts, hingga sekadar melihat layar HP.


Perilaku ini biasanya terjadi di berbagai situasi komunikasi, mulai dari makan bersama keluarga, berkumpul dengan teman, rapat kerja, hingga berkencan dengan pasangan. Hal tersebut tentunya akan menghilangkan intimasi dari pembicaraan, mulai dengan keluarga hingga teman. 

Ciri-Ciri Seseorang Melakukan Phubbing

Phubbing sering kali dilakukan baik secara sengaja maupun tidak sengaja. Lebih parahnya lagi, phubbing bisa menjadi sebuah kebiasaan buruk yang kerap dilakukan saat mengobrol. Berikut tanda-tanda yang umum ditemukan:


  • Terus memeriksa notifikasi meskipun sedang berbicara dengan orang lain.

  • Meletakkan HP di atas meja dan sering melihat layarnya selama percakapan berlangsung.

  • Menghentikan pembicaraan secara paksa untuk membalas chat atau membuka media sosial.

  • Lebih fokus pada aktivitas di smartphone dibandingkan memperhatikan lawan bicara.

  • Merasa gelisah apabila tidak dapat mengecek HP selama beberapa menit.


Meskipun terlihat sepele, perilaku tersebut dapat membuat orang lain kurang nyaman karena mereka terasa seperti tidak dihargai. Lawan bicara layak untuk mendapatkan perhatian sepenuhnya dari kita.

Penyebab Phubbing

Tentunya, ada berbagai faktor yang mendorong Puan untuk cenderung melakukan phubbing. Faktor berikut ini dapat berasal dari kebiasaan pribadi maupun pengaruh teknologi.

Ada berbagai faktor yang membuat seseorang lebih mudah melakukan phubbing, baik yang berasal dari kebiasaan pribadi maupun pengaruh teknologi.

1. Kecanduan HP

Penggunaan HP yang berlebihan merupakan salah satu penyebab paling umum dari phubbing. Ketika Puan sudah terbiasa memainkan HP selama berjam-jam lamanya, muncul dorongan untuk memeriksa HP tersebut di tengah interaksi yang sedang berlangsung.

2. Fear of Missing Out (FOMO)

FOMO merupakan suatu kondisi ketika Puan merasa takut tertinggal informasi, obrolan terbaru, atau aktivitas di media sosial. Ketakutan tersebut bisa menjadi penyebab Puan terus mengecek notifikasi, sehingga Puan secara otomatis mengurangi perhatiannya kepada orang di sekitarnya.

3. Kebiasaan Multitasking

Di kehidupan yang serba cepat ini, sebagian Puan merasa mampu melakukan dua aktivitas sekaligus, seperti mengobrol sambil membalas chat. Namun, penelitian menunjukkan bahwa multitasking justru dapat menurunkan perhatian dan komunikasi karena otak harus memindahkan fokusnya secara terus-menerus.

4. Banyaknya Notifikasi

Suara, getaran, maupun tampilan notifikasi dirancang untuk menarik perhatian Puan sebagai pengguna HP. Akibatnya, Puan seperti terbujuk untuk segera membuka HP meskipun sedang melakukan aktivitas lain.

Dampak Phubbing terhadap Hubungan Sosial

Phubbing bukan sekadar kebiasaan sepele yang tidak perlu dipusingkan. Perilaku ini juga dapat memberikan dampak terhadap bonding dengan orang lain.

Menurunkan Kualitas Komunikasi

Saat perhatian terbagi antara percakapan dan HP, proses komunikasi menjadi kurang efektif. Lawan bicara terkadang harus mengulang pembicaraan atau merasa tidak didengarkan dengan baik.

Menimbulkan Perasaan Diabaikan

Korban phubbing sering kali merasa tidak dihargai, tidak dianggap penting, atau bahkan merasa posisinya diabaikan. Jika terjadi berulang kali, kondisi ini berpotensi mengurangi kepercayaan dalam hubungan.

Memicu Konflik

Dalam hubungan romantis, phubbing telah dikaitkan dengan meningkatnya konflik dan menurunnya kepuasan hubungan. Hal serupa juga dapat terjadi dalam hubungan keluarga maupun pertemanan apabila kebiasaan tersebut masih dilakukan.

Mengurangi Kedekatan Emosional

Interaksi tatap muka telah terbukti lebih efektif dalam membangun empati dan koneksi emosional. Ketika perhatian lebih banyak diberikan kepada layar HP, kualitas interaksi tersebut dapat menurun sehingga akan muncul sebuah gap yang membuat hubungan terasa lebih renggang.

Dampak Phubbing terhadap Kesehatan Mental

Phubbing tidak hanya memengaruhi hubungan sosial, tetapi juga dapat berdampak pada kesehatan mental. Pelaku dan korban phubbing bisa sama-sama mendapatkan dampak dari phubbing yang menurunkan kualitas hidup.


Beberapa penelitian menemukan bahwa individu yang sering mengalami phubbing cenderung memiliki tingkat kepuasan hubungan yang lebih rendah, sering merasa kesepian, hingga mengalami penurunan kesejahteraan psikologis. Sementara itu, pengguna HP dengan level penggunaan yang tinggi juga berisiko mengalami stres akibat keinginan untuk selalu terhubung dengan dunia digital.


Di sisi lain, penggunaan HP secara terus-menerus juga dapat mengurangi kemampuan seseorang untuk hadir sepenuhnya dalam sebuah percakapan. Akibatnya, interaksi sosial terasa kurang bermakna atau mindful meskipun sedang dilakukan secara langsung.

Cara Mengurangi Kebiasaan Phubbing

Mengurangi phubbing bukan berarti harus berhenti menggunakan HP. Justru, mengurangi phubbing dapat dilakukan dengan menyeimbangkan aktivitas digital dan interaksi di dunia nyata. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:

Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:

  • Mengaktifkan mode Do Not Disturb saat makan, rapat, atau berkumpul bersama keluarga.

  • Menyimpan HP di dalam tas atau saku agar tidak mudah tergoda untuk membukanya.

  • Menetapkan waktu khusus untuk mengecek media sosial dan membalas pesan.

  • Memberikan kontak mata dan perhatian penuh saat orang lain sedang berbicara.

  • Membiasakan komunikasi yang lebih sadar (mindful communication), yaitu fokus pada percakapan tanpa terdistraksi oleh perangkat digital.

  • Membuat aturan bebas HP ketika sedang makan bersama atau menghabiskan waktu bersama pasangan dan keluarga.

Dengan menerapkan kebiasaan tersebut secara konsisten, seseorang akan mendapatkan peningkatan kualitas komunikasi sekaligus mengurangi adiksi terhadap HP.


Sekilas Tentang Puan Bisa Puan Bisa adalah komunitas perempuan muda yang mendukung pengembangan karir, self-improvement, dan mental health. Sejak pertama kali didirikan tanggal 1 Oktober 2020 sampai saat ini, Puan Bisa aktif melakukan kegiatan kreatif dan edukatif yang dilakukan dengan tujuan meningkatkan kesadaran perempuan muda (khususnya usia 16-23 tahun) dalam mengembangkan kemampuan dan rasa cinta akan dirinya.



Referensi

Holland, K. (2018, June 5). How to identify and manage phubbing. Healthline. https://www.healthline.com/health/phubbing


Author & Editor: Caesi Rosprianti



Komentar

Rubik Puan Popular

How to Find Your Spark Again, One Little Thing at a Time

Pernah nggak, Puan merasa dulu ada banyak hal yang bisa bikin Puan excited , tapi sekarang hal-hal itu terasa nothing special? Dulu bisa berjam-jam ngelakuin hal yang disuka, sekarang baru beberapa menit sudah ingin berhenti. Dulu punya banyak hal yang ingin dicoba, sekarang ditanya “lagi suka kegiatan apa?” malah bingung mau jawab apa. Puan masih menjalani aktivitas seperti biasa, kuliah, kerja, mengerjakan tugas, ketemu temen, scrolling media sosial. Everything seems fine. Tapi somehow, ada bagian dari diri Puan yang terasa berbeda. Seolah-olah spark yang dulu membuat hari-hari terasa lebih hidup perlahan menghilang.  Dan mungkin, Puan mulai bertanya-tanya, “What happened to me?”  1. Stop Trying to Become Your Old Self Ketika merasa kehilangan spark , kita sering kali ingin kembali menjadi diri kita yang dulu. Padahal, Puan udah melewati banyak hal sejak saat itu. Wajar kalau ada bagian dari diri Puan yang berubah. Karena itu, menemukan kembali spark bukan berarti harus meng...

3 Buku Fiksi Bertema Mental Health untuk Puan Baca

Source: Bookshop.org Hai Puan!  Puan suka baca buku? Atau suka dengan isu-isu terkait mental health? Pengetahuan seputar topik mental health bukan hanya bisa didapatkan dari buku ilmiah atau nonfiksi, tetapi juga dari buku fiksi. Selain bisa menghibur Puan, buku fiksi juga bisa bikin Puan larut dan merasakan emosi serta perasaan dari tokoh-tokohnya.  Nah, buat Puan yang lagi cari rekomendasi buku fiksi tentang mental health, baca terus artikel ini sampai habis ya! 1. Challenger Deep karya Neal Shusterman Cerita dalam buku ini berdasarkan kisah dari putranya sendiri yang mengalami gangguan mental. Challenger Deep bercerita tentang Caden Bosch, yaitu seorang siswa SMA yang mengidap skizofrenia. Masalah tersebut membuatnya sering mengalami halusinasi. Alur cerita terbagi ke dalam dua dunia: kehidupan sekolah Caen sehari-hari dan sebuah pelayaran di atas kapal laut menuju Challenger Deep (titik terdalam di Palung Mariana). Perjalanan di atas kapal merupakan gambaran dari halusinas...

Rasa Bosan Bisa Dijadikan Teman? Ini Manfaat Boredom yang Jarang Disadari

Sumber:  Magnific   Puan pernah nggak langsung membuka TikTok, Instagram, atau X hanya karena timbul rasa bosan akibat menunggu sesuatu? Kebiasaan seperti ini sangat umum terjadi karena otak Puan terbiasa mencari stimulasi setiap kali ada waktu kosong.  Mungkin, Puan sering kali menganggap rasa bosan sebagai sesuatu yang buruk, sehingga banyak dari Puan yang yang berlomba-lomba untuk menghilangkan perasaan tersebut dengan menjadi produktif Alih-alih mencerminkan bahwa diri Puan tidak produktif, rasa bosan dapat memberi kesempatan bagi otak untuk beristirahat dari banyaknya informasi yang silih berdatangan, memunculkan ide baru, hingga membantu Puan mengenali apa yang benar-benar bermakna.  Oleh karena itu, sesekali merasa bosan bukanlah hal yang buruk, selama terjadi dalam kadar yang wajar. Jika Puan merasa demikian, lalu Puan  tahu nggak sih apa itu boredom dan fakta lain dari boredom yang mungkin belum Puan ketahui. Apa Itu Boredom? Dalam psikologi, boredom a...

Perfectionism Paralysis: Saat Keinginan Jadi Sempurna Malah Bikin Puan Nggak Mulai-Mulai

Ilustrasi seseorang yang mengalami perfectionism paralysis (rri.co.id) Pernah nggak sih Puan punya ide tulisan atau tugas yang bagus banget di kepala, tapi begitu mau ngetik kalimat pertama, Puan malah diam berjam-jam? Puan terus-terusan rapihin format, milih font, atau mikirin kata pembuka yang paling pas, sampai akhirnya Puan capek sendiri dan memilih buat buka TikTok? Kalau pernah, Puan lagi ngerasain yang namanya Perfectionism Paralysis. Secara psikologis, perfeksionisme itu sering kali disguise alias penyamaran dari rasa takut gagal. Puan netapin standar yang sangat tinggi, lalu otak Puan merasa terintimidasi sendiri dengan standar itu. Karena takut hasilnya nggak sempurna atau takut dinilai jelek, otak akhirnya mengambil jalan pintas: mending nggak usah dikerjain sekalian. "Done is Better than Perfect" Kata-kata di atas mungkin bukan cuma kata-kata mutiara biasa, tapi penenang paling ampuh buat perfectionism paralysis. Padahal, prinsip utama self-improvement yang sehat...

Apakah Kamu Punya Cinderella Syndrom? Ini Tandanya!

  Illustrasi oleh Green Maggot Puan pasti tahu film Cinderella kan? Tentunya Puan udah nggak asing lagi sama kisah dongeng klasik ini. Selain di film, istilah Cinderella  juga dikenal di dunia nyata loh, yaitu sindrom Cinderella Complex. Yuk! Kita cari tahu lebih lanjut tentang Cinderella Complex  dan tanda-tandanya! Apa itu Cinderella Complex ? Cinderella Complex  pertama kali diperkenalkan oleh Colette Dowling, seorang terapus dalam bukunya " The Cinderella Complex: Women's Hidden Fear of Independence ". Cinderella Complex  adalah sikap dan rasa takut (tertekan) yang dialami perempuan, sehingga perempuan tidak berani memanfaatkan sepenuhnya kemampuan otak dan kreativitasnya (Dowling, 1995). Sindrom Cinderella Complex  tanpa sadar membuat perempuan ingin diurus oleh orang lain sehingga sangat ketergantungan dan nyaris tidak bisa hidup mandiri. Meskipun belum bisa dikategorikan sebagai gangguan secara psikologis, sindrom Cinderella Complex  ada kaitann...