Langsung ke konten utama

I'm Not Mad at You, I'm Just in Pain.

sumber: pexels.com Kebanyakan dari Puan pasti pernah ngalamin saat lagi menstruasi: perut kram, pinggang pegal, dan rasanya ingin rebahan aja gitu seharian. Belum lagi dengan emosi yang tidak stabil, hal sekecil apapun pasti bisa berpotensi bikin Puan sebal, padahal biasanya Puan bisa lebih santai menghadapi hal yang sama. Kadang, Puan sendiri juga pasti bingung kan kenapa jadi lebih sensitif dari biasanya. Susah fokus ngerjain tugas karena sakit, diajak ngobrol rasanya nggak punya energi, atau tiba-tiba ingin nangis tanpa tahu harus menjelaskan apa. Di tengah rasa nggak nyaman itu, Puan mungkin jadi bertanya-tanya, “Kenapa rasanya jadi sedih banget ya? Kok jadi gampang banget emosi?” Padahal, ada kalanya tubuh Puan memang sedang menghadapi banyak perubahan. Rasa sakit, perubahan suasana hati, dan kondisi emosional bisa datang berbarengan; apalagi saat sedang menstruasi. And why is that? It's Not Just About the Cramps Selama menstruasi, rasanya bukan cuma perut yang ikut merasakan ...

Phubbing: Kebiasaan Buruk yang Menurunkan Kualitas Interaksi dengan Lawan Bicara

Ilustrasi seseorang yang merasakan phubbing. (halodoc.com)

Di era digital seperti sekarang, HP telah menjadi bagian yang sulit dipisahkan dari kehidupan sehari-hari. Bahkan, hampir sepanjang waktu tangan kita tidak terlepas dari HP.

Meski memberikan kemudahan dalam berkomunikasi dan mengakses informasi, penggunaan HP yang berlebihan juga dapat memengaruhi kualitas interaksi dengan orang di sekitar. 


Salah satu perilaku yang semakin sering ditemui adalah phubbing, yaitu kebiasaan lebih fokus pada smartphone daripada orang yang sedang diajak berbicara secara langsung.

Apa Itu Phubbing?

Sederhananya, phubbing merupakan perilaku mengabaikan lawan bicara yang sedang berada di hadapan kita dengan sibuk menyibukkan perhatian pada HP. Perilaku ini tentunya tidak mencerminkan etika berkomunikasi yang baik, loh Puan.


Dalam kehidupan sehari-hari, bentuk perilaku phubbing tidak hanya digambarkan dengan seseorang yang sibuk membalas chat. Adapun kebiasaan lainnya, seperti membuka media sosial, mengecek notifikasi, menonton reels/shorts, hingga sekadar melihat layar HP.


Perilaku ini biasanya terjadi di berbagai situasi komunikasi, mulai dari makan bersama keluarga, berkumpul dengan teman, rapat kerja, hingga berkencan dengan pasangan. Hal tersebut tentunya akan menghilangkan intimasi dari pembicaraan, mulai dengan keluarga hingga teman. 

Ciri-Ciri Seseorang Melakukan Phubbing

Phubbing sering kali dilakukan baik secara sengaja maupun tidak sengaja. Lebih parahnya lagi, phubbing bisa menjadi sebuah kebiasaan buruk yang kerap dilakukan saat mengobrol. Berikut tanda-tanda yang umum ditemukan:


  • Terus memeriksa notifikasi meskipun sedang berbicara dengan orang lain.

  • Meletakkan HP di atas meja dan sering melihat layarnya selama percakapan berlangsung.

  • Menghentikan pembicaraan secara paksa untuk membalas chat atau membuka media sosial.

  • Lebih fokus pada aktivitas di smartphone dibandingkan memperhatikan lawan bicara.

  • Merasa gelisah apabila tidak dapat mengecek HP selama beberapa menit.


Meskipun terlihat sepele, perilaku tersebut dapat membuat orang lain kurang nyaman karena mereka terasa seperti tidak dihargai. Lawan bicara layak untuk mendapatkan perhatian sepenuhnya dari kita.

Penyebab Phubbing

Tentunya, ada berbagai faktor yang mendorong Puan untuk cenderung melakukan phubbing. Faktor berikut ini dapat berasal dari kebiasaan pribadi maupun pengaruh teknologi.

Ada berbagai faktor yang membuat seseorang lebih mudah melakukan phubbing, baik yang berasal dari kebiasaan pribadi maupun pengaruh teknologi.

1. Kecanduan HP

Penggunaan HP yang berlebihan merupakan salah satu penyebab paling umum dari phubbing. Ketika Puan sudah terbiasa memainkan HP selama berjam-jam lamanya, muncul dorongan untuk memeriksa HP tersebut di tengah interaksi yang sedang berlangsung.

2. Fear of Missing Out (FOMO)

FOMO merupakan suatu kondisi ketika Puan merasa takut tertinggal informasi, obrolan terbaru, atau aktivitas di media sosial. Ketakutan tersebut bisa menjadi penyebab Puan terus mengecek notifikasi, sehingga Puan secara otomatis mengurangi perhatiannya kepada orang di sekitarnya.

3. Kebiasaan Multitasking

Di kehidupan yang serba cepat ini, sebagian Puan merasa mampu melakukan dua aktivitas sekaligus, seperti mengobrol sambil membalas chat. Namun, penelitian menunjukkan bahwa multitasking justru dapat menurunkan perhatian dan komunikasi karena otak harus memindahkan fokusnya secara terus-menerus.

4. Banyaknya Notifikasi

Suara, getaran, maupun tampilan notifikasi dirancang untuk menarik perhatian Puan sebagai pengguna HP. Akibatnya, Puan seperti terbujuk untuk segera membuka HP meskipun sedang melakukan aktivitas lain.

Dampak Phubbing terhadap Hubungan Sosial

Phubbing bukan sekadar kebiasaan sepele yang tidak perlu dipusingkan. Perilaku ini juga dapat memberikan dampak terhadap bonding dengan orang lain.

Menurunkan Kualitas Komunikasi

Saat perhatian terbagi antara percakapan dan HP, proses komunikasi menjadi kurang efektif. Lawan bicara terkadang harus mengulang pembicaraan atau merasa tidak didengarkan dengan baik.

Menimbulkan Perasaan Diabaikan

Korban phubbing sering kali merasa tidak dihargai, tidak dianggap penting, atau bahkan merasa posisinya diabaikan. Jika terjadi berulang kali, kondisi ini berpotensi mengurangi kepercayaan dalam hubungan.

Memicu Konflik

Dalam hubungan romantis, phubbing telah dikaitkan dengan meningkatnya konflik dan menurunnya kepuasan hubungan. Hal serupa juga dapat terjadi dalam hubungan keluarga maupun pertemanan apabila kebiasaan tersebut masih dilakukan.

Mengurangi Kedekatan Emosional

Interaksi tatap muka telah terbukti lebih efektif dalam membangun empati dan koneksi emosional. Ketika perhatian lebih banyak diberikan kepada layar HP, kualitas interaksi tersebut dapat menurun sehingga akan muncul sebuah gap yang membuat hubungan terasa lebih renggang.

Dampak Phubbing terhadap Kesehatan Mental

Phubbing tidak hanya memengaruhi hubungan sosial, tetapi juga dapat berdampak pada kesehatan mental. Pelaku dan korban phubbing bisa sama-sama mendapatkan dampak dari phubbing yang menurunkan kualitas hidup.


Beberapa penelitian menemukan bahwa individu yang sering mengalami phubbing cenderung memiliki tingkat kepuasan hubungan yang lebih rendah, sering merasa kesepian, hingga mengalami penurunan kesejahteraan psikologis. Sementara itu, pengguna HP dengan level penggunaan yang tinggi juga berisiko mengalami stres akibat keinginan untuk selalu terhubung dengan dunia digital.


Di sisi lain, penggunaan HP secara terus-menerus juga dapat mengurangi kemampuan seseorang untuk hadir sepenuhnya dalam sebuah percakapan. Akibatnya, interaksi sosial terasa kurang bermakna atau mindful meskipun sedang dilakukan secara langsung.

Cara Mengurangi Kebiasaan Phubbing

Mengurangi phubbing bukan berarti harus berhenti menggunakan HP. Justru, mengurangi phubbing dapat dilakukan dengan menyeimbangkan aktivitas digital dan interaksi di dunia nyata. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:

Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:

  • Mengaktifkan mode Do Not Disturb saat makan, rapat, atau berkumpul bersama keluarga.

  • Menyimpan HP di dalam tas atau saku agar tidak mudah tergoda untuk membukanya.

  • Menetapkan waktu khusus untuk mengecek media sosial dan membalas pesan.

  • Memberikan kontak mata dan perhatian penuh saat orang lain sedang berbicara.

  • Membiasakan komunikasi yang lebih sadar (mindful communication), yaitu fokus pada percakapan tanpa terdistraksi oleh perangkat digital.

  • Membuat aturan bebas HP ketika sedang makan bersama atau menghabiskan waktu bersama pasangan dan keluarga.

Dengan menerapkan kebiasaan tersebut secara konsisten, seseorang akan mendapatkan peningkatan kualitas komunikasi sekaligus mengurangi adiksi terhadap HP.


Sekilas Tentang Puan Bisa Puan Bisa adalah komunitas perempuan muda yang mendukung pengembangan karir, self-improvement, dan mental health. Sejak pertama kali didirikan tanggal 1 Oktober 2020 sampai saat ini, Puan Bisa aktif melakukan kegiatan kreatif dan edukatif yang dilakukan dengan tujuan meningkatkan kesadaran perempuan muda (khususnya usia 16-23 tahun) dalam mengembangkan kemampuan dan rasa cinta akan dirinya.



Referensi

Holland, K. (2018, June 5). How to identify and manage phubbing. Healthline. https://www.healthline.com/health/phubbing


Author & Editor: Caesi Rosprianti



Komentar

Rubik Puan Popular

Puan Bisa Festival 2026 : Dorong Perempuan Muda Meninjau Keputusan Hidup Berdasar Integritas Diri

  Sumber: Dokumentasi Puan Bisa Festival 2026 Jakarta, 15 Oktober 2026  Di tengah dinamika dunia kerja dan persaingan dalam proses pencarian kerja, perempuan muda kerap menghadapi tekanan untuk terus meningkatkan kemampuan, mencapai standar kesuksesan tertentu, dan menentukan arah karir sejak dini. Kondisi ini dapat menimbulkan kebingungan dalam mengenali potensi diri serta menentukan langkah yang sesuai dengan kemampuan dan kondisi masing-masing. Menanggapi tantangan tersebut, Puan Bisa menghadirkan Webinar Career dalam rangkaian Puan Bisa Festival 2026 untuk mengajak perempuan muda mengenali potensi diri dan menyusun arah karir secara lebih terarah. Puan Bisa merupakan komunitas non-profit yang didirikan pada 1 Oktober 2020 dan berdedikasi untuk meningkatkan kesadaran perempuan muda Indonesia dalam mengembangkan kemampuan dan kecintaan terhadap diri sendiri melalui konten edukatif, Instagram Live, webinar, serta berbagai program pengembangan diri lainnya. Melalui kolaborasi,...

Intip antusiasme Para Puan Dalam Meninjau Keputusan Hidupnya di Puan Bisa Festival 2026!

Sumber: Dokumentasi Puan Bisa Festival 2026 J akarta, 13 Oktober 2026. Perempuan muda saat ini dihadapkan pada berbagai peluang sekaligus tekanan untuk sukses secara profesional, mandiri secara finansial, dan memenuhi ekspektasi sosial. Tekanan ini juga tercermin dalam dunia kerja; laporan McKinsey & Company dan LeanIn.Org (2025) mencatat sekitar 60% perempuan di level kepemimpinan melaporkan mengalami burnout secara konsisten. Di tengah berbagai tuntutan tersebut, proses menentukan arah hidup, mulai dari pendidikan dan karier hingga pembentukan identitas diri, dapat menjadi tantangan tersendiri. Menjawab tantangan ini, Puan Bisa Festival 2026 mengusung tema “Brave to Step Back: RISE”, yang mengajak perempuan muda untuk mengambil jeda, merefleksikan pilihan, dan menentukan arah hidup secara lebih sadar melalui pendekatan Self-Determination Theory (SDT). Diselenggarakan secara luring pada Sabtu, 10 Oktober 2026, bertepatan dengan Hari Kesehatan Mental Sedunia, Puan Bisa Festival 202...

Emotional Agility: Cara Bijak Mengelola Emosi

Sumber:  aventislearning.com Puan, bagaimana kalau emosi bukan musuh yang harus dihindari, melainkan sahabat yang bisa memandu kita untuk mengambil keputusan yang lebih bijak? Setiap hari Puan berhadapan dengan emosi yang beragam: senang, cemas, marah, kecewa, sampai rasa tidak berdaya. Sering kali, Puan diajarkan untuk menekan emosi tertentu dan menampilkan emosi lain agar terlihat “baik-baik saja”. Masalahnya, cara ini justru membuat jadi makin lelah. Emosi jadi menumpuk dan akhirnya meledak. Di sisi lain, ada juga yang membiarkan emosi menguasai dirinya. Sedikit kritik bisa membuat patah semangat, atau kegagalan kecil terasa seperti bencana yang besar. Padahal, emosi bukan musuh yang harus dihindari maupun hal yang harus ditaati. Yang kita butuhkan bukan “ positivity berlebihan ”, melainkan keterampilan untuk merespons emosi secara sehat dan fleksibel. Keterampilan inilah yang disebut emotional agility . Apa Itu Emotional Agility? Konsep ini diperkenalkan oleh psikolog Susan Dav...

Intentional Pause: Berhenti Sejenak Bukan Berarti Menyerah

  Sumber: pexels.com Halo, Puan! Puan pernah gak sih merasa harus selalu produktif? Baru selesai satu target, Puan udah langsung memikirkan target berikutnya. Apalagi kalau Puan lihat pencapaian orang lain di media sosial, rasanya jadi pengen ikut lari lebih cepat biar gak ketinggalan. Bahkan ketika sedang beristirahat pun, bisa muncul perasaan bersalah karena merasa gak cukup produktif. Tanpa sadar, Puan telah hidup dalam ritme yang menuntut semuanya serba cepat, cepat sukses, cepat berkembang, cepat mengambil keputusan, dan cepat mencapai tujuan. Padahal, sometimes, the most productive thing you can do is simply pause. Di tengah kehidupan yang serba cepat ini, mengambil jeda secara sadar atau intentional pause bisa menjadi cara untuk refleksi dan kembali terhubung dengan diri sendiri. Bukan sekadar berhenti dari kesibukan, tapi memberi ruang untuk berpikir, merefleksikan keadaan, dan menentukan step atau goals berikutnya dengan lebih bijak. Intentional pause dapat membantu Puan...

I'm Not Mad at You, I'm Just in Pain.

sumber: pexels.com Kebanyakan dari Puan pasti pernah ngalamin saat lagi menstruasi: perut kram, pinggang pegal, dan rasanya ingin rebahan aja gitu seharian. Belum lagi dengan emosi yang tidak stabil, hal sekecil apapun pasti bisa berpotensi bikin Puan sebal, padahal biasanya Puan bisa lebih santai menghadapi hal yang sama. Kadang, Puan sendiri juga pasti bingung kan kenapa jadi lebih sensitif dari biasanya. Susah fokus ngerjain tugas karena sakit, diajak ngobrol rasanya nggak punya energi, atau tiba-tiba ingin nangis tanpa tahu harus menjelaskan apa. Di tengah rasa nggak nyaman itu, Puan mungkin jadi bertanya-tanya, “Kenapa rasanya jadi sedih banget ya? Kok jadi gampang banget emosi?” Padahal, ada kalanya tubuh Puan memang sedang menghadapi banyak perubahan. Rasa sakit, perubahan suasana hati, dan kondisi emosional bisa datang berbarengan; apalagi saat sedang menstruasi. And why is that? It's Not Just About the Cramps Selama menstruasi, rasanya bukan cuma perut yang ikut merasakan ...