Langsung ke konten utama

Bukan Digital Detox, Yuk Kenali Konsep Digital Minimalism!

  Sampul buku Digital Minimalism oleh Cal Newport (penguinrandomhouse.com) Hai Puan! Pernah gak sih cuma mau buka Instagram lima menit, tapi ternyata satu jam sudah berlalu? Atau Puan tanpa sadar mengecek ponsel setiap kali ada waktu luang? Kebiasaan ini mungkin terasa normal, tetapi bisa membuat kita kehilangan fokus, waktu, bahkan ketenangan.  Digital minimalism merupakan salah satu strategi yang membantu kita untuk mengoptimalkan penggunaan teknologi dan menggunakan teknologi secara lebih sadar. Intinya, kita hanya fokus pada aplikasi atau aktivitas digital yang benar-benar bermanfaat dan sejalan dengan nilai atau tujuan hidup. Sementara itu, hal-hal yang tidak memberi manfaat nyata bisa dikurangi atau bahkan ditinggalkan agar waktu dan perhatian tidak terkuras sia-sia.  Baca juga: Menghilangkan Demotivasi ala Buku “Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati” Digital minimalism melibatkan peninjauan kembali waktu yang dihabiskan pada perangkat sesuai dengan tujuan dan kebutuhan pri...

Let Them Theory: Berhenti Mengejar yang Tidak Meimilih Puan



Image by: KPU KAB-NDUGA


 Puan pernah nggak sih merasa sudah berusaha sebaik mungkin untuk mempertahankan seseorang, tapi tetap saja hasilnya mengecewakan? Atau Puan terus memikirkan sikap orang lain, mencoba memahami, bahkan menyalahkan diri sendiri atas hal-hal yang sebenarnya di luar kendali? Perasaan seperti ini sering membuat Puan lelah tanpa disadari, karena terlalu fokus pada hal yang tidak bisa diatur.

Di sinilah The Let Them Theory mulai terasa relevan. Konsep ini memperkenalkan cara pandang sederhana, bahwa tidak semua hal perlu diperjuangkan mati-matian, terutama jika itu melibatkan kehendak orang lain.

Baca Juga: https://puanbisa.blogspot.com/2026/04/be-of-service-ternyata-kunci-pede.html


Apa sih Let Them Theory itu?

Sering kali, tanpa disadari, Puan menghabiskan banyak energi untuk mencoba memahami, memperbaiki, atau bahkan mengendalikan orang lain. Padahal, tidak semua hal memang berada dalam kendali Puan. Konsep “let them” pada dasarnya mengajak Puan untuk berhenti mencoba mengontrol orang lain. Jika seseorang ingin pergi, biarkan. Jika mereka bersikap tidak peduli, biarkan. Jika mereka tidak memilih Puan, biarkan. Bukan berarti Puan tidak berharga, tapi karena memang setiap orang punya pilihan masing-masing dan itu diluar kendali Puan. Daripada menghabiskan energi untuk mengubah orang lain, prinsip ini mengarahkan Puan untuk kembali fokus pada diri sendiri, bagaimana Puan merespons, menjaga batasan, dan tetap menghargai diri sendiri.

Dengan begitu, Puan tidak lagi terjebak dalam kelelahan emosional yang sama. Justru di saat Puan berhenti memaksa, Puan mulai memberi ruang bagi ketenangan dan hal-hal yang benar-benar memilih untuk tetap tinggal.


Kapan Puan Perlu Menerapkan Theory Ini?

  • Saat Overthinking Soal Orang Lain

Teori “Let them” ini membantu Puan menyadari bahwa tidak semua hal perlu dipikirkan sedalam itu, apalagi jika di luar kendali.

  • Puan ingin lebih tenang secara emosional

Dengan tidak bergantung pada sikap orang lain, Puan bisa menemukan ketenangan dari dalam diri.

  • Puan butuh belajar menerima

Tidak semua hal bisa diperbaiki, dan penerimaan sering kali lebih menyembuhkan daripada perlawanan.

  • Puan lelah mencoba mengontrol keadaan

Puan akan belajar bahwa melepas kontrol justru bisa membuat hidup terasa lebih ringan.

  • Puan ingin menghargai diri sendiri lebih baik

Teori ini mengingatkan bahwa nilai Puan tidak ditentukan oleh siapa yang memilih atau meninggalkan.


Pada akhirnya, “let them” bukan sekadar tentang membiarkan orang lain pergi atau bersikap semaunya, tetapi tentang memilih untuk tidak lagi kehilangan diri sendiri dalam prosesnya. Ada banyak hal dalam hidup yang tidak akan berjalan sesuai harapan Puan, dan sering kali itu terasa menyakitkan. Namun, dengan memahami bahwa tidak semua hal berada dalam kendali, Puan bisa mulai melepaskan beban yang selama ini diam-diam dipikul.

Ketika Puan berhenti memaksa, Puan sebenarnya sedang memberi ruang-ruang untuk bernafas, untuk mengenali kembali apa yang benar-benar penting. Perlahan, Puan akan menyadari bahwa tidak semua yang pergi perlu dikejar, dan tidak semua yang berubah perlu diperbaiki. “Let them go, let yourself grow.


Sekilas Tentang Puan Bisa

Puan Bisa adalah komunitas perempuan muda yang mendukung pengembangan karir, self-improvement, dan mental health. Sejak pertama kali didirikan tanggal 1 Oktober 2020 sampai saat ini, Puan Bisa aktif melakukan kegiatan kreatif dan edukatif yang dilakukan dengan tujuan meningkatkan kesadaran perempuan muda (khususnya usia 16-23 tahun) dalam mengembangkan kemampuan dan rasa cinta akan dirinya.


Author & Editor: Anisa Zahara

Referensi: 

Fielding, S. (2025, April 12). Mel Robbins on the 1 thing people get wrong about the “Let Them Theory”. TODAY.

Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Nduga. (2025, December 8). Let them theory: Prinsip kecil untuk hidup yang lebih tenang.

Komentar

Rubik Puan Popular

Belanja karena Memang Butuh, atau Cuma Lagi Healing? Sebuah Perspektif tentang Emotional Spending

Puan, pernah dengar kalimat ini? " Most people don't have a money problem, they have an emotional problem. " Sekilas, kalimat ini memang terdengar terlalu menyederhanakan masalah keuangan. Soalnya, kita nggak bisa menutup mata kalau banyak dari Puan memang lagi berjuang menghadapi biaya hidup yang makin naik, gaji yang pas-pasan, sampai kondisi ekonomi yang lagi nggak mudah. Namun... setelah dipikir-pikir, mungkin ada benarnya juga. Kadang yang Puan beli bukan barangnya Coba deh, Puan ingat-ingat. Pernah nggak Puan lagi stres terus tiba-tiba buka Online Shop ? Pernah nggak Puan menjalani hari yang melelahkan, Puan langsung pesan makanan favorit sambil bilang, "Nggak apa-apa deh, self reward ." Berapa kali Puan checkout barang yang sebenarnya nggak terlalu dibutuhin, cuma karena pengen mood balik lagi? Kalau pernah, tenang. Puan nggak sendirian. Kadang yang Puan beli bukan barangnya, tetapi Puan lagi membeli rasa lega, rasa nyaman, rasa senang, bahkan...

The Worst Thing about Empathy is Losing Self-respect

Ilustrasi seseorang berempati dengan sesama. “When Im mad from my perspective but I can also see their perspective, so now Im carrying double emotional weight and being eaten away by my anger and empathy” Adakah Puan yang pernah merasa marah akan suatu keadaan, tetapi mencoba untuk mencari alasan lain untuk memahami permasalahan tersebut? Kalimat di atas adalah kalimat yang dapat menggambarkan situasi yang Puan alami.  Empathy Without Boundaries is a Self-destruction Empati adalah sikap memahami seseorang baik secara emosional maupun kondisional. Berempati kepada seseorang memang hal yang baik karena dapat mengurangi risiko gangguan kecemasan. Namun, bagaimana jika berempati tidak memiliki batasan? Jika berempati secara berlebihan, Puan akan terus mencoba untuk memahami dan menyenangkan orang lain tanpa peduli apa yang sebenarnya Puan inginkan. Lama-lama, Puan akan mulai kehilangan kemampuan untuk berempati kepada diri sendiri. Tindakan mengabaikan kebutuhan emosional Puan sendiri ...

Phubbing: Kebiasaan Buruk yang Menurunkan Kualitas Interaksi dengan Lawan Bicara

Ilustrasi seseorang yang merasakan phubbing. (halodoc.com) Di era digital seperti sekarang, HP telah menjadi bagian yang sulit dipisahkan dari kehidupan sehari-hari. Bahkan, hampir sepanjang waktu tangan kita tidak terlepas dari HP. Meski memberikan kemudahan dalam berkomunikasi dan mengakses informasi, penggunaan HP yang berlebihan juga dapat memengaruhi kualitas interaksi dengan orang di sekitar.  Salah satu perilaku yang semakin sering ditemui adalah phubbing , yaitu kebiasaan lebih fokus pada smartphone daripada orang yang sedang diajak berbicara secara langsung. Apa Itu Phubbing? Sederhananya, phubbing merupakan perilaku mengabaikan lawan bicara yang sedang berada di hadapan kita dengan sibuk menyibukkan perhatian pada HP. Perilaku ini tentunya tidak mencerminkan etika berkomunikasi yang baik, loh Puan. Dalam kehidupan sehari-hari, bentuk perilaku phubbing tidak hanya digambarkan dengan seseorang yang sibuk membalas chat . Adapun kebiasaan lainnya, seperti membuka media sosia...

Bicara pada Diri Sendiri: Bermanfaat atau Berbahaya?

  Photo by Tara Winstead Tanpa sadar, kita terkadang mendapati diri sedang berbicara sendirian. Pernah tiba-tiba bergumam, "Oke, waktunya kita makan," atau bertanya seolah ada orang lain di dalam diri kita, "Eh, ini lokasinya benar gak, ya?" Entah itu bergumam saat kebingungan, memberikan motivasi saat kesulitan, atau menyuarakan isi pikiran seperti sedang berada di acara podcast , semua itu sangat wajar dan normal . Berbicara pada diri sendiri bisa menjadi alat komunikasi internal yang kuat. Kebiasaan ini juga dikenal dengan istilah self-talk dalam psikologi. Menariknya, seiring bertambah dewasa, frekuensi berbicara pada diri sendiri cenderung berkurang, tidak seintens saat kita masih kecil. Apa itu self-talk? Self-talk atau bicara sendirian adalah cara kita berkomunikasi pada diri sendiri, baik itu dalam hati atau diucapkan dengan keras. Kebiasaan ini punya pengaruh besar terhadap cara kita berpikir, merasakan, dan bertindak. Oleh karena itu, penting sekali untu...

Kenapa Kita Sering Bertindak Tanpa Berpikir Panjang? Yuk Kenalan Sama Perilaku Impulsif!

  Image by:  Headspace.com Puan pernah nggak sih tiba-tiba beli sesuatu yang sebenernya nggak butuh-butuh amat cuma karena lagi diskon? Atau mungkin langsung nge-reply chat dengan emosi tanpa mikir dulu bakal nyakitin orang atau nggak? Nah, perilaku kayak gini namanya impulsif. Meskipun kadang terlihat spontan dan fun , kalau terlalu sering, impulsif bisa bikin hidup kita berantakan, dari keuangan sampai hubungan dengan orang lain. Baca Juga:  Why Feeling Lost Can Be Part of Finding Yourself Apa Itu Perilaku Impulsif? Menurut Verywell Mind, impulsivitas atau perilaku impulsif didefinisikan secara luas sebagai tindakan tanpa perencanaan yang kurang dipikirkan matang, diekspresikan secara prematur, terlalu berisiko, dan tidak sesuai dengan situasinya. Perilaku impulsif ini dikaitkan dengan hasil yang tidak diinginkan, bukan yang diharapkan. Jadi orang yang impulsif ini sering bertindak berdasarkan keinginan atau emosi sesaat, tanpa jeda untuk mikir konsekuensinya. Kenapa O...