Langsung ke konten utama

Pressure to Survive in This Economy: Membedah Hustle Culture dalam Gaya Hidup, Puan!

Belakangan ini ramai dibicarakan dalam media sosial terkait perdebatan penurunan gaya hidup in this economy . Katanya, gaya hidup masyarakat saat ini sangat tinggi, sampai akhirnya berada di fase kesulitan secara finansial. Namun, bagaimana jika sebenarnya Puan telah bekerja keras dan terus-menerus mencari cuan? Fase apa yang sebenarnya sedang Puan tempuh saat ini? Sumber: Magnific.com Realitas Ekonomi Perkembangan teknologi yang sangat pesat saat ini, membuat media sosial menjadi salah satu media untuk bertransaksi secara digital dan menjadi salah satu media yang memengaruhi perekonomian masyarakat dalam memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Hal tersebut dapat dikatakan positif untuk membantu perekonomian, tetapi jika Puan tidak dapat mengontrol penggunaan media sosial sebagai alat transaksi dengan baik, maka Puan dapat terjebak dalam perilaku konsumtif dan dapat memengaruhi keuangan individu. Namun, apakah kesulitan secara finansial yang Puan hadapi saat ini hanya dipengaruhi oleh fakto...

Let Them Theory: Berhenti Mengejar yang Tidak Meimilih Puan



Image by: KPU KAB-NDUGA


 Puan pernah nggak sih merasa sudah berusaha sebaik mungkin untuk mempertahankan seseorang, tapi tetap saja hasilnya mengecewakan? Atau Puan terus memikirkan sikap orang lain, mencoba memahami, bahkan menyalahkan diri sendiri atas hal-hal yang sebenarnya di luar kendali? Perasaan seperti ini sering membuat Puan lelah tanpa disadari, karena terlalu fokus pada hal yang tidak bisa diatur.

Di sinilah The Let Them Theory mulai terasa relevan. Konsep ini memperkenalkan cara pandang sederhana, bahwa tidak semua hal perlu diperjuangkan mati-matian, terutama jika itu melibatkan kehendak orang lain.

Baca Juga: https://puanbisa.blogspot.com/2026/04/be-of-service-ternyata-kunci-pede.html


Apa sih Let Them Theory itu?

Sering kali, tanpa disadari, Puan menghabiskan banyak energi untuk mencoba memahami, memperbaiki, atau bahkan mengendalikan orang lain. Padahal, tidak semua hal memang berada dalam kendali Puan. Konsep “let them” pada dasarnya mengajak Puan untuk berhenti mencoba mengontrol orang lain. Jika seseorang ingin pergi, biarkan. Jika mereka bersikap tidak peduli, biarkan. Jika mereka tidak memilih Puan, biarkan. Bukan berarti Puan tidak berharga, tapi karena memang setiap orang punya pilihan masing-masing dan itu diluar kendali Puan. Daripada menghabiskan energi untuk mengubah orang lain, prinsip ini mengarahkan Puan untuk kembali fokus pada diri sendiri, bagaimana Puan merespons, menjaga batasan, dan tetap menghargai diri sendiri.

Dengan begitu, Puan tidak lagi terjebak dalam kelelahan emosional yang sama. Justru di saat Puan berhenti memaksa, Puan mulai memberi ruang bagi ketenangan dan hal-hal yang benar-benar memilih untuk tetap tinggal.


Kapan Puan Perlu Menerapkan Theory Ini?

  • Saat Overthinking Soal Orang Lain

Teori “Let them” ini membantu Puan menyadari bahwa tidak semua hal perlu dipikirkan sedalam itu, apalagi jika di luar kendali.

  • Puan ingin lebih tenang secara emosional

Dengan tidak bergantung pada sikap orang lain, Puan bisa menemukan ketenangan dari dalam diri.

  • Puan butuh belajar menerima

Tidak semua hal bisa diperbaiki, dan penerimaan sering kali lebih menyembuhkan daripada perlawanan.

  • Puan lelah mencoba mengontrol keadaan

Puan akan belajar bahwa melepas kontrol justru bisa membuat hidup terasa lebih ringan.

  • Puan ingin menghargai diri sendiri lebih baik

Teori ini mengingatkan bahwa nilai Puan tidak ditentukan oleh siapa yang memilih atau meninggalkan.


Pada akhirnya, “let them” bukan sekadar tentang membiarkan orang lain pergi atau bersikap semaunya, tetapi tentang memilih untuk tidak lagi kehilangan diri sendiri dalam prosesnya. Ada banyak hal dalam hidup yang tidak akan berjalan sesuai harapan Puan, dan sering kali itu terasa menyakitkan. Namun, dengan memahami bahwa tidak semua hal berada dalam kendali, Puan bisa mulai melepaskan beban yang selama ini diam-diam dipikul.

Ketika Puan berhenti memaksa, Puan sebenarnya sedang memberi ruang-ruang untuk bernafas, untuk mengenali kembali apa yang benar-benar penting. Perlahan, Puan akan menyadari bahwa tidak semua yang pergi perlu dikejar, dan tidak semua yang berubah perlu diperbaiki. “Let them go, let yourself grow.”


Sekilas Tentang Puan Bisa

Puan Bisa adalah komunitas perempuan muda yang mendukung pengembangan karir, self-improvement, dan mental health. Sejak pertama kali didirikan tanggal 1 Oktober 2020 sampai saat ini, Puan Bisa aktif melakukan kegiatan kreatif dan edukatif yang dilakukan dengan tujuan meningkatkan kesadaran perempuan muda (khususnya usia 16-23 tahun) dalam mengembangkan kemampuan dan rasa cinta akan dirinya.


Author & Editor: Anisa Zahara

Referensi: 

Fielding, S. (2025, April 12). Mel Robbins on the 1 thing people get wrong about the “Let Them Theory”. TODAY.

Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Nduga. (2025, December 8). Let them theory: Prinsip kecil untuk hidup yang lebih tenang.

Komentar

Rubik Puan Popular

“Aku Gak Kayak Cewek Lain…” Saatnya Kita Ngobrolin Tren Pick-Me Girl Tanpa Judging!

  Image by :  Ultimagz Kalau Puan sering scroll TikTok atau X, pasti Puan pernah dengar istilah “ pick me girl ” cewek yang seolah-olah bilang, “Aku beda dari cewek lain, lho.” Biasanya, ini untuk dapat perhatian cowok dengan cara menjelekkan sisi feminin, seperti bilang “Aku nggak suka dandan karena cewek itu ribet.” Apa Sih Pick‑Me Girl Itu? Menurut psikolog dari Universitas Airlangga, Dr. Ike Herdiana: Mengaku “aku berbeda dari cewek kebanyakan.” Sering merendahkan perempuan lain. Memperlihatkan sisi yang dianggap menarik bagi cowok   Kenapa Bisa Terjadi? Internalized Misogyny ! Tren ini bukan cuma gaya bicara. Ini soal patriarki dan misogini yang sudah tertanam , hingga perempuan juga menjelekkan sesamanya demi validasi laki-laki. Studi akademis juga mendukung bahwa tren TikTok tersebut memperkuat stereotip gender, rivalry,  dan memperlemah solidaritas antar perempuan. Dampak Negatifnya Lingkungan jadi gak nyaman Kalau perempuan saling merendah dan bersaing, nantinya...

The Lipstick Effect in the Age of Bad News

Puan pernah ngalamin nggak, sudah berniat untuk menabung, tapi beberapa jam kemudian sudah ada kopi di tangan Puan? Kopi tersebut sebetulnya lagi nggak Puan perluin sih… tapi Puan pengen beli aja. Mungkin Puan berpikir “Ah cuma 20 ribu, kok” dan merasa aman setelah spend uang akan hal tersebut, tapi nyatanya ini adalah suatu fenomena yang terjadi dalam dunia ekonomi, yaitu kebiasaan membeli barang-barang kecil sebagai bentuk self-reward yang dikenal dengan istilah Lipstick Effect .  Sumber: Magnific.com A. What is the Lipstick Effect? Saat kondisi ekonomi sedang kacau, harga kebutuhan pokok sedang naik-naiknya, banyak konsumen yang mulai menahan diri untuk melakukan pengeluaran besar, mungkin salah satunya adalah Puan. Namun sebagai gantinya, anggaran tersebut malah dialihkan untuk memenuhi kebutuhan psikologis yang lebih terjangkau. Lipstick Effect adalah suatu fenomena yang terjadi saat kondisi ekonomi sedang tidak baik-baik saja, tetapi para konsumen tetap membeli suatu produk ...

2026 The New 2016: Apa itu Nostalgia?

(Gambar: Lemon 8) Apakah Puan saat ini familiar dengan pembahasan 2026 adalah  the new 2016 ?  Banyak orang yang kembali membahas trend yang beredar di tahun 2016 mulai dari fashion hingga aplikasi Tumblr. Istilah ini mengacu kepada budaya digital dan pop culture 2016 yang kembali populer di awal tahun 2026.  Puan mungkin bertanya-tanya, mengapa spesifik tren di 2016. Menurut Ibcomagazine, tren biasanya menjalankan sistem aturan 20 tahun sekali.Maksudnya adalah setiap 20 tahun sekali tren yang ada pada generasi sebelumnya akan muncul pada generasi baru. Contohnya seperti anak-anak di tahun 2000-an yang suka dengan gaya hidup ( lifestyle ) remaja di era tahun 80-han.  Tapi itu dulu. Dulu tren membutuhkan waktu 20 tahun untuk kembali. Sekarang? Peran media sosial memangkasnya menjadi 10 tahun jadinya kita memandang 2026 dan 2016 sebagai era yang berbeda, dan didorong rasa nostalgia kita semakin ingin kembali ke kehidupan dan lifestyle di 2016.  Selain itu, dilan...

Pressure to Survive in This Economy: Membedah Hustle Culture dalam Gaya Hidup, Puan!

Belakangan ini ramai dibicarakan dalam media sosial terkait perdebatan penurunan gaya hidup in this economy . Katanya, gaya hidup masyarakat saat ini sangat tinggi, sampai akhirnya berada di fase kesulitan secara finansial. Namun, bagaimana jika sebenarnya Puan telah bekerja keras dan terus-menerus mencari cuan? Fase apa yang sebenarnya sedang Puan tempuh saat ini? Sumber: Magnific.com Realitas Ekonomi Perkembangan teknologi yang sangat pesat saat ini, membuat media sosial menjadi salah satu media untuk bertransaksi secara digital dan menjadi salah satu media yang memengaruhi perekonomian masyarakat dalam memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Hal tersebut dapat dikatakan positif untuk membantu perekonomian, tetapi jika Puan tidak dapat mengontrol penggunaan media sosial sebagai alat transaksi dengan baik, maka Puan dapat terjebak dalam perilaku konsumtif dan dapat memengaruhi keuangan individu. Namun, apakah kesulitan secara finansial yang Puan hadapi saat ini hanya dipengaruhi oleh fakto...

Mengeluh: Cara Bijak Mengambil Manfaat Tanpa Terperangkap

Image by Greatmind   Puan, Siapa di dunia ini yang tidak pernah mengeluh? Tentunya kita semua pernah. Konon katanya, mengeluh adalah hobi dari kebanyakan orang. Dengan mengeluh, rasa stres memang bisa berkurang, tetapi apabila dilakukan terus-menerus, mengeluh bisa berubah menjadi kebiasaan marah yang serius. Kebiasaan mengeluh terus-menerus dapat mengubah cara kerja otak Puan dalam merespon hal-hal negatif. Keluhan-keluhan yang awalnya kecil bisa menjadi pembentuk kepribadian Puan. Jadi, boleh nggak sih kita ngeluh?  Nggak ada yang salah dengan mengekspresikan apa yang Puan rasakan, tentunya Puan tidak ingin mengubur perasaan Puan. Jika ada sesuatu yang pantas Puan keluhkan, lakukanlah. Namun, harus terus memantau perasaan Puan mengenai hal yang Puan keluhkan, apakah itu pantas untuk dikeluhkan atau hanya perasaan Puan saja? Menjaga sikap mengeluh pada batas wajar juga sangat penting agar Puan bisa tetap maju. Tahukah Puan, orang mengeluh juga ada macamnya loh, sini Priska ka...