Pernah nggak sih Puan merasa capek banget, padahal seharian cuma rebahan? Bisa jadi yang capek bukan fisik Puan, tapi pikiran Puan yang lagi menggenggam sesuatu terlalu erat. Entah itu kenangan pahit, kegagalan masa lalu atau ekspektasi yang nggak kesampaian.
Kita sering diajarkan untuk berjuang, bertahan, dan mengejar. Tapi jarang banget ada yang mengajarkan kita gimana caranya melepaskan. Padahal, ada kekuatan luar biasa di balik kata ikhlas atau melepaskan. The power of mengikhlaskan itu bukan soal menyerah, tapi soal memberi ruang baru untuk hal-hal yang lebih baik.
Melepaskan Bukan Berarti Kalah
Banyak orang salah arti, beberapa berpikir kalau Puan ikhlas, berarti Puan kalah atau lemah. Padahal, mengikhlaskan itu adalah tindakan paling berani yang bisa dilakukan manusia. Puan secara sadar memilih untuk berhenti berperang dengan kenyataan yang nggak bisa Puan ubah.
Bayangkan Puan lagi memegang segenggam pasir sekuat tenaga. Semakin keras Puan genggam, tangan makin sakit, dan pasirnya malah makin banyak yang keluar lewat celah jari. Tapi kalau Puan buka tangan Puan, pasir itu tetap ada di sana, dan tangan nggak lagi sakit. Itulah analogi sederhana dari mengikhlaskan.
Baca juga: Letting Go: Seni Melepaskan & Menerima Diri di Tengah Persepsi Negatif Orang Lain.
Tapi, kenapa sih, melepaskan sesuatu itu susah banget? Biasanya karena kita terjebak dalam situasi "What If" atau "Seandainya".
"Seandainya dulu aku nggak ngomong gitu..."
"What if aku ambil kesempatan itu ya?"
Terus-terusan melihat ke belakang itu kayak nyetir mobil sambil melototin spion sepanjang jalan. Ya, sekali-kali boleh lah lihat spion buat belajar, tapi kalau terus-terusan, Puan bakal nabrak apa yang ada di depan Puan. Masa lalu itu tempat belajar, bukan tempat tinggal.
Gimana Caranya Mulai Melepaskan?
Ikhlas itu proses, bukan sakelar lampu yang sekali klik langsung terang. Berikut beberapa langkah kecil yang bisa Puan bisa coba:
Validasi Perasaanmu
Jangan pura-pura kuat. Kalau sedih, ya sedih saja. Kalau kecewa, akui. Puan nggak bisa melepaskan sesuatu yang keberadaannya saja kamu sangkal.
Berhenti Mencari "Closing" dari Orang Lain
Kadang Puan nggak bisa ikhlas karena nunggu permintaan maaf atau penjelasan dari orang lain. Masalahnya, kadang penjelasan itu nggak akan pernah datang. Belajarlah untuk menciptakan closure-mu sendiri tanpa bergantung pada orang lain.
Fokus pada Hal yang Bisa Dikontrol
Puan nggak bisa kontrol perasaan orang atau takdir, tapi Puan bisa kontrol gimana Puan bereaksi hari ini. Fokuslah pada apa yang bisa Puan lakukan sekarang.
Beri Maaf buat Diri Sendiri
Seringkali yang paling susah dimaafkan bukan orang lain, tapi diri sendiri yang dianggap bodoh karena sudah gagal. Hey, you did your best with the knowledge you had back then. Maafkan diri Puan yang dulu, ya?
Ingat, mengikhlaskan atau melepaskan itu ibarat mengosongkan gelas yang isinya sudah keruh. Kalau gelas itu nggak Puan tuang isinya, Puan nggak akan pernah bisa mencicipi kopi atau teh yang baru.
Ketika Puan mulai belajar mengikhlaskan, hidup terasa lebih ringan. Bukan karena masalahnya hilang, tapi karena Puan nggak lagi memikul beban itu di pundak Puan. Jadi, apa nih satu hal yang mau Puan coba ikhlaskan hari ini? Percayalah, setelah Puan lepas, bakal ada hal keren yang datang mengisi kekosongan itu.
Sekilas Tentang Puan Bisa
Puan Bisa adalah komunitas perempuan muda yang mendukung pengembangan karir, self-improvement, dan mental health. Sejak pertama kali didirikan tanggal 1 Oktober 2020 sampai saat ini, Puan Bisa aktif melakukan kegiatan kreatif dan edukatif yang dilakukan dengan tujuan meningkatkan kesadaran perempuan muda (khususnya usia 16-23 tahun) dalam mengembangkan kemampuan dan rasa cinta akan dirinya.https://www.facebook.com/CNNIndonesia. (2023, January 27). 7 Cara Mengikhlaskan Seseorang biar Bisa Segera Move On. Gaya Hidup. https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20230118162033-289-902112/7-cara-mengikhlaskan-seseorang-biar-bisa-segera-move-on
Naim, R. (2024, November 19). The art of letting go. Thought Catalog. https://thoughtcatalog.com/rania-naim/2015/10/the-art-of-letting-go-2/

Komentar
Posting Komentar