Langsung ke konten utama

When Your Brain Says “Enough”: Mengenal Overstimulation dan Penyebabnya

Pernah nggak, Puan merasa lelah dengan aktivitas sekitar? Merasa energi terkuras oleh hal-hal yang telah Puan lakukan? Bisa jadi, Puan mengalami overstimulation : suatu kondisi ketika seseorang merasa terlalu lelah akibat banyaknya interaksi sekitar. Ibarat gelas yang terus dituangi air sampai tumpah, kita juga bisa merasa kewalahan. Kondisi ini biasanya dapat membuat seseorang merasa lelah secara emosi maupun fisik, mudah marah, sulit fokus, hingga merasa ingin menjauh sejenak dari keadaan sekitar yang menunjukkan bahwa diri sudah melebihi batas energi. Apa yang menjadi pemicu overstimulation ? Social Media yang Berlebihan Di era sekarang, media sosial telah menjadi bagian dari hidup layaknya makanan yang harus dikonsumsi setiap waktunya. Bo Han (2018), menunjukkan kondisi media burn-out , dimana seseorang merasa lelah dan terputus dari lingkungan sekitarnya secara daring maupun luring. Banyaknya Tekanan Deadlines , ekspektasi, hingga tekanan emosi yang menumpuk dan menjadi cemas, st...

The Power of Mengikhlaskan: Seni Melepaskan Tanpa Harus Kehilangan Arah

Ilustrasi Seseorang yang Melepaskan Suatu Dalam Hidupnya (tinybuddha.com)

Pernah nggak sih Puan merasa capek banget, padahal seharian cuma rebahan? Bisa jadi yang capek bukan fisik Puan, tapi pikiran Puan yang lagi menggenggam sesuatu terlalu erat. Entah itu kenangan pahit, kegagalan masa lalu atau ekspektasi yang nggak kesampaian.

Kita sering diajarkan untuk berjuang, bertahan, dan mengejar. Tapi jarang banget ada yang mengajarkan kita gimana caranya melepaskan. Padahal, ada kekuatan luar biasa di balik kata ikhlas atau melepaskan. The power of mengikhlaskan itu bukan soal menyerah, tapi soal memberi ruang baru untuk hal-hal yang lebih baik.


Melepaskan Bukan Berarti Kalah

Banyak orang salah arti, beberapa berpikir kalau Puan ikhlas, berarti Puan kalah atau lemah. Padahal, mengikhlaskan itu adalah tindakan paling berani yang bisa dilakukan manusia. Puan secara sadar memilih untuk berhenti berperang dengan kenyataan yang nggak bisa Puan ubah.

Bayangkan Puan lagi memegang segenggam pasir sekuat tenaga. Semakin keras Puan genggam, tangan makin sakit, dan pasirnya malah makin banyak yang keluar lewat celah jari. Tapi kalau Puan buka tangan Puan, pasir itu tetap ada di sana, dan tangan nggak lagi sakit. Itulah analogi sederhana dari mengikhlaskan.

Baca juga: Letting Go: Seni Melepaskan & Menerima Diri di Tengah Persepsi Negatif Orang Lain.

Tapi, kenapa sih, melepaskan sesuatu itu susah banget? Biasanya karena kita terjebak dalam situasi "What If" atau "Seandainya".

"Seandainya dulu aku nggak ngomong gitu..."

"What if aku ambil kesempatan itu ya?"

Terus-terusan melihat ke belakang itu kayak nyetir mobil sambil melototin spion sepanjang jalan. Ya, sekali-kali boleh lah lihat spion buat belajar, tapi kalau terus-terusan, Puan bakal nabrak apa yang ada di depan Puan. Masa lalu itu tempat belajar, bukan tempat tinggal.


Gimana Caranya Mulai Melepaskan?

Ikhlas itu proses, bukan sakelar lampu yang sekali klik langsung terang. Berikut beberapa langkah kecil yang bisa Puan bisa coba:

  1. Validasi Perasaanmu

Jangan pura-pura kuat. Kalau sedih, ya sedih saja. Kalau kecewa, akui. Puan nggak bisa melepaskan sesuatu yang keberadaannya saja kamu sangkal.

  1. Berhenti Mencari "Closing" dari Orang Lain

Kadang Puan nggak bisa ikhlas karena nunggu permintaan maaf atau penjelasan dari orang lain. Masalahnya, kadang penjelasan itu nggak akan pernah datang. Belajarlah untuk menciptakan closure-mu sendiri tanpa bergantung pada orang lain.

  1. Fokus pada Hal yang Bisa Dikontrol

Puan nggak bisa kontrol perasaan orang atau takdir, tapi Puan bisa kontrol gimana Puan bereaksi hari ini. Fokuslah pada apa yang bisa Puan lakukan sekarang.

  1. Beri Maaf buat Diri Sendiri

Seringkali yang paling susah dimaafkan bukan orang lain, tapi diri sendiri yang dianggap bodoh karena sudah gagal. Hey, you did your best with the knowledge you had back then. Maafkan diri Puan yang dulu, ya?


Ingat, mengikhlaskan atau melepaskan itu ibarat mengosongkan gelas yang isinya sudah keruh. Kalau gelas itu nggak Puan tuang isinya, Puan nggak akan pernah bisa mencicipi kopi atau teh yang baru.

Ketika Puan mulai belajar mengikhlaskan, hidup terasa lebih ringan. Bukan karena masalahnya hilang, tapi karena Puan nggak lagi memikul beban itu di pundak Puan. Jadi, apa nih satu hal yang mau Puan coba ikhlaskan hari ini? Percayalah, setelah Puan  lepas, bakal ada hal keren yang datang mengisi kekosongan itu.


Sekilas Tentang Puan Bisa

Puan Bisa adalah komunitas perempuan muda yang mendukung pengembangan karir, self-improvement, dan mental health. Sejak pertama kali didirikan tanggal 1 Oktober 2020 sampai saat ini, Puan Bisa aktif melakukan kegiatan kreatif dan edukatif yang dilakukan dengan tujuan meningkatkan kesadaran perempuan muda (khususnya usia 16-23 tahun) dalam mengembangkan kemampuan dan rasa cinta akan dirinya.


Referensi

https://www.facebook.com/CNNIndonesia. (2023, January 27). 7 Cara Mengikhlaskan Seseorang biar Bisa Segera Move On. Gaya Hidup. https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20230118162033-289-902112/7-cara-mengikhlaskan-seseorang-biar-bisa-segera-move-on

Naim, R. (2024, November 19). The art of letting go. Thought Catalog. https://thoughtcatalog.com/rania-naim/2015/10/the-art-of-letting-go-2/
Author & Editor: Zalfa Zahiyah Putri Wibawa

Komentar

Rubik Puan Popular

Belajar Mendefinisikan Arti Sukses dan Bahagia Melalui Kisah "Little Women"

  Sering gak sih Puan ngerasa lelah sama standar dunia yang menuntut kita harus selalu kelihatan menonjol dan punya pencapaian besar? Standar ini kadang malah bikin kita cemas dan asing sama diri sendiri. Kalau Puan lagi ada di fase penuh tekanan itu, yuk coba intip sudut pandang dari kisah klasik Little Women lewat karakter yang paling berkesan. Antara Ambisi dan Rasa Sepi Jo adalah cerminan perempuan mandiri yang fokus mengejar mimpi tanpa peduli aturan di zaman itu. Tapi, ada momen disaat Jo menangis dan bilang “"Women, they have minds, and they have souls, as well as just hearts. And they’ve got ambition, and they’ve got talent, as well as just beauty. And I’m so sick of people saying that love is all a woman is fit for. But I’m so lonely.” Dari Jo kita belajar, jadi perempuan kuat bukan berarti gak boleh ngerasa rapuh. Wajar banget kalau di tengah kesibukan mengejar mimpi, Puan tiba-tiba merasa sepi. Mengakui rasa sepi bukan berarti lemah, melainkan tanda kita jujur pada diri...

When Your Brain Says “Enough”: Mengenal Overstimulation dan Penyebabnya

Pernah nggak, Puan merasa lelah dengan aktivitas sekitar? Merasa energi terkuras oleh hal-hal yang telah Puan lakukan? Bisa jadi, Puan mengalami overstimulation : suatu kondisi ketika seseorang merasa terlalu lelah akibat banyaknya interaksi sekitar. Ibarat gelas yang terus dituangi air sampai tumpah, kita juga bisa merasa kewalahan. Kondisi ini biasanya dapat membuat seseorang merasa lelah secara emosi maupun fisik, mudah marah, sulit fokus, hingga merasa ingin menjauh sejenak dari keadaan sekitar yang menunjukkan bahwa diri sudah melebihi batas energi. Apa yang menjadi pemicu overstimulation ? Social Media yang Berlebihan Di era sekarang, media sosial telah menjadi bagian dari hidup layaknya makanan yang harus dikonsumsi setiap waktunya. Bo Han (2018), menunjukkan kondisi media burn-out , dimana seseorang merasa lelah dan terputus dari lingkungan sekitarnya secara daring maupun luring. Banyaknya Tekanan Deadlines , ekspektasi, hingga tekanan emosi yang menumpuk dan menjadi cemas, st...

“I Wish I Knew When I Was 20” Memahami Hidup Mulai dari Usia 20 Tahun

  Buku "What I Wish I Knew When I Was 20" karya Prof. Tina Seelig (Amazon.com) Menginjak usia 20 terlihat menyenangkan karena Puan telah memiliki kebebasan atas diri sendiri. Di usia muda, tubuh Puan masih bertenaga maksimal dan optimal, pikiran masih fresh , ide-ide yang dikeluarkan masih up to date , intinya Puan lagi ada di masa-masa emas untuk mengembangkan suatu hal. Namun, yang jarang terlihat adalah masa saat Puan merasa clueless akan hidup Puan sendiri untuk memutuskan karir dan perjalanan hidup Puan ke depannya. Baca juga: Motivasi Bukan Ditunggu, tapi Dicari Lewat Aksi Lalu, apa saja sebenarnya hal yang harus dipahami untuk menjalani hidup saat menginjak usia 20 tahun? Mengutip dari buku “What I Wish I Knew When I Was 20” karya Prof. Tina Seelig ada beberapa hal yang dapat Puan lakukan: Jangan Menunggu, Tapi Ciptakan! Seringkali Puan berpikir untuk menunggu kesempatan datang, menunggu orang lain yang membukanya, menunggu offering yang datang. Padahal, Puan bisa men...

2026 The New 2016: Apa itu Nostalgia?

(Gambar: Lemon 8) Apakah Puan saat ini familiar dengan pembahasan 2026 adalah  the new 2016 ?  Banyak orang yang kembali membahas trend yang beredar di tahun 2016 mulai dari fashion hingga aplikasi Tumblr. Istilah ini mengacu kepada budaya digital dan pop culture 2016 yang kembali populer di awal tahun 2026.  Puan mungkin bertanya-tanya, mengapa spesifik tren di 2016. Menurut Ibcomagazine, tren biasanya menjalankan sistem aturan 20 tahun sekali.Maksudnya adalah setiap 20 tahun sekali tren yang ada pada generasi sebelumnya akan muncul pada generasi baru. Contohnya seperti anak-anak di tahun 2000-an yang suka dengan gaya hidup ( lifestyle ) remaja di era tahun 80-han.  Tapi itu dulu. Dulu tren membutuhkan waktu 20 tahun untuk kembali. Sekarang? Peran media sosial memangkasnya menjadi 10 tahun jadinya kita memandang 2026 dan 2016 sebagai era yang berbeda, dan didorong rasa nostalgia kita semakin ingin kembali ke kehidupan dan lifestyle di 2016.  Selain itu, dilan...

Sering Blank Saat Presentasi? Yuk, Kenali Gangguan Stage Fright!

  Ilustrasi Seseorang yang mengalami stage fright. (i nfinumgrowth.com ) Pernah nggak, Puan udah nyiapin materi presentasi lengkap, tapi begitu berdiri di depan banyak orang, tiba-tiba pikiran mendadak blank? Jantung berdegup kencang kayak habis lari maraton, tangan berkeringat dingin, bahkan suara mendadak jadi cempreng atau gemetar. Kalau pernah, berarti Puan sedang mengalami apa yang disebut stage fright alias demam panggung. Tenang kok, Puan nggak sendirian. Bahkan artis papan atas atau pembicara profesional pun sering ngerasain. Bedanya, mereka udah tau cara "berdamai" dengan rasa gugup tersebut. Yuk, Priska bahas kenapa ini bisa terjadi dan gimana cara menaklukkannya! Baca juga: Cara Membangun Kepercayaan Diri untuk Tumbuh dan Berkembang, Puan! Secara ilmiah, demam panggung adalah respon alami tubuh yang disebut fight-or-flight . Otak Puan, khususnya bagian amigdala, mendeteksi "ancaman". Masalahnya, otak kadang nggak bisa membedakan antara ancaman dikejar h...