Langsung ke konten utama

LinkedIn dan Ilusi 'Semua Orang Sudah Lebih Maju'

  LinkedIn dan Ilusi 'Semua Orang Sudah Lebih Maju' Image by: Pinterest Di LinkedIn, Puan hampir setiap hari melihat kabar baik: diterima kerja, naik jabatan, lolos program bergengsi, atau menyelesaikan sertifikasi. Sekilas, semuanya tampak berjalan cepat dan terarah. Tanpa disadari, muncul perasaan bahwa orang lain sudah melangkah, sementara Puan masih di tempat yang sama. Padahal, yang ditampilkan sering kali hanyalah bagian terbaik dari perjalanan seseorang, bukan keseluruhan prosesnya. Ketika Timeline Jadi Tolok Ukur yang Tidak Adil Masalah mulai muncu ketika Puan menjadikan apa yang dilihat sebagai standar. Puan membandingkan proses yang masih berjalan dengan hasil akhir orang lain yang sudah dipoles rapi. Perbandingan ini tidak seimbang sejak awal. Akibatnya, rasa tertinggal itu bukan karena Puan benar-benar tidak berkembang, tetapi karena standar yang digunakan memang tidak realistis. Apa yang tampil di LinkedIn adalah "highlight", sementara yang Puan rasakan a...

The Power of Manifesting: Biarkan Pikiranmu Percaya dan Semesta yang Bekerja

    Image by: Pinterest             


 Pernah nggak sih Puan ngerasa kayak, “kok hidup aku stuck di sini-sini aja ya?”

Padahal di dalam hati, Puan punya banyak banget keinginan, mimpi, bahkan goals yang pengen banget diwujudkan. Tapi di sisi lain, ngerasa semua hal itu nggak pernah jadi kenyataan dan bikin diri sendiri jadi ragu kalau mimpi yang pengen dicapai mungkin ketinggian?

Nah, kalau Puan lagi ada di fase ini, coba pause sebentar deh. Mungkin, bukan Puan yang mimpinya ketinggian, tapi cara Puan ngeliat dan ngejalanin mimpi itu yang perlu diubah. Yup, di sinilah manifesting mulai punya peran penting. 


Apa Sih Maksud dari “Manifesting” Itu?

Manifesting adalah proses untuk mewujudkan apa yang Puan inginkan jadi kenyataan. Melewati pikiran, perasaan, dan tindakan.

Di dalam buku The Secret karya Rhonda Byrne, dijelaskan bahwa apa yang Puan fokuskan secara konsisten itu bisa loh memengaruhi apa yang kita tarik ke dalam hidup.

Tapi penting banget buat dipahami, kalo manifesting itu bukan sekadar “Berharap doang” atau nunggu keajaiban datang. Karena Manifesting akan bekerja kalau Puan percaya dulu, baru pelan-pelan semesta bekerja mewujudkannya. 


Baca Juga: Tidak Semua Zona Nyaman Perlu Ditinggalkan


Kenapa Manifesting Bisa Terasa Powerful?

Nih, Priska kasih tau ya Puan kalo Pikiran itu punya pengaruh besar ke cara saat Puan bertindak, loh! Contohnya saat apa yang Puan yakini akhirnya “kejadian”, secara nggak sadar Puan bertindak sesuai keyakinan itu.


Makanya sering dibilang, kalo pikiran itu kayak magnet. Kalo Puan mikirnya hal positif pasti peluang buat capai mimpinya lebih terbuka. Tapi, kalo Puan overthinking dan takut, yang kelihatan cuma hambatannya aja. 

Kadang bukan karena hidup yang berbeda loh, Puan! Tapi karena cara kita melihatnya juga beda.

 

Tips Manifesting jadi Kenyataan

Manifesting tanpa aksi itu cuma jadi angan-angan. Biar lebih “Grounded”, coba mulai dari hal kecil ini: 

1. Tulis goals Puan

Menurut penelitian Dr. Gail Matthews dari Dominican University of California, orang yang menuliskan tujuannya punya peluang lebih besar untuk mencapainya dibanding yang cuma dipikirin.  

2. Coba Memvisualisasikan 

Bayangin seolah itu udah kejadian dan sudah tercapai. Puan bisa rasain perasaan senang, serta emosi positif yang muncul.

3. Berikan Afirmasi Positif

Ucapkan hal-hal baik ke diri sendiri. Mungkin kedengaran simple, tapi sangat berpengaruh ke cara berpikir Puan, loh! 

5. Ambil Action Kecil

Coba ambil langkah kecil yang konsisten. Karen, mimpi tanpa langkah itu tetap akan jadi mimpi dan tidak menjadi kenyataan. Makanya, langkah kecil dengan konsisten penuh bisa bantu Puan mewujudkan mimpinya. 

6. Percaya Kemampuan Diri Sendiri

Nggak harus langsung pede banget. Yang penting nggak terus ngejatuhin diri sendiri ya, Puan. Berhenti meragukan diri sendiri, dengan coba percaya kepada kemampuan Puan ya.


Puan, jangan salah paham ya, kalau manifesting itu bukan sulap yang hari ini kepikiran, besok harus langsung kejadian. Karena, manifesting tetap butuh waktu, usaha, dan konsistensi. Semesta memang bisa bisa bantu wujudkan, tapi semua kendalinya ada di diri Puan sendiri ya. 

Semesta mungkin membantu, tetapi kendali utama tetap ada pada diri Puan. Tanpa tindakan, perubahan tidak akan terjadi. Jadi, sekarang mau coba percaya sama “The Power of Manifesting” ini Puan?


Sekilas Tentang Puan Bisa

Puan Bisa adalah komunitas perempuan muda yang mendukung pengembangan karir, self-improvement, dan mental health. Sejak pertama kali didirikan tanggal 1 Oktober 2020 sampai saat ini, Puan Bisa aktif melakukan kegiatan kreatif dan edukatif yang dilakukan dengan tujuan meningkatkan kesadaran perempuan muda (khususnya usia 16-23 tahun) dalam mengembangkan kemampuan dan rasa cinta akan dirinya. 




Referensi:

Vähäsantanen, K., & Saarinen, J. (2013). The power dance in the research interview: Manifesting power and powerlessness. Qualitative research, 13(5), 493-510.

Topliceanu, Åž. C. (2020, December). The Manifestation of Power: An Analysis. In Organizations and Performance in a Complex World: 26th International Economic Conference of Sibiu (IECS) (p. 345). Springer Nature.

Byrne, R. (2006). The Secret. New York, NY: Atria Books.

https://folkative.com/the-power-of-manifesting-lo-harus-coba-sekarang/

https://www.tempo.co/gaya-hidup/pengertian-manifesting-konsep-manfaat-dan-cara-melakukannya-1195404


Author & Editor: Citra Sofia Virnanda


Baca Juga:

Komentar

Rubik Puan Popular

Lagi Istirahat, tapi Malah Merasa Bersalah? Yuk, Kenalan Sama Rest Guilt

  Pernah nggak, Puan lagi rebahan setelah hari yang panjang, tapi bukannya merasa tenang, malah muncul rasa nggak nyaman? Rasanya seperti ada suara kecil di kepala yang bilang, “Harusnya aku lagi ngerjain sesuatu.” Atau mungkin, “Orang lain lagi produktif, kok aku malah santai?” Kalau iya, Puan nggak sendirian. Fenomena ini dikenal sebagai rest guilt , yaitu rasa bersalah saat beristirahat karena merasa belum cukup produktif, belum cukup bekerja keras, atau belum “layak” untuk berhenti sejenak. Di era hustle culture seperti sekarang, istirahat sering diposisikan seperti hadiah. Sesuatu yang baru boleh dinikmati setelah semua tugas selesai, target tercapai, dan checklist tercentang sempurna. Masalahnya, kapan semuanya benar-benar selesai? Baca Juga: https://puanbisa.blogspot.com/2026/03/tidak-semua-zona-nyaman-perlu.html   Kenapa Kita Merasa Bersalah Saat Istirahat? Banyak dari kita tumbuh dengan keyakinan bahwa sibuk adalah indikator kesuksesan. Semakin penuh jadwal kita, se...

Perempuan dan Overachievement Trap: Sisi Lain Produktivitas

  Pict by: Bustle.com Pernahkah Puan merasa sudah berusaha dengan maksimal, tetapi merasa performa yang ditampilkan kurang ataupun berusaha untuk mengejar ekspektasi agar bisa selalu dihargai?  Alih-alih merasa puas, Puan justru terus mendorong diri untuk melakukan hal-hal diluar batas diri Puan. Hal ini bukan karena tuntutan yang sudah jelas ada, melainkan ada dorongan untuk selalu memenuhi ekspektasi, baik diri sendiri maupun orang lain. Jika kondisi ini terasa familiar, bisa jadi Puan sedang berada dalam overachievement trap. Apa Itu Overachievement Trap ? Overachievement trap merupakan kondisi ketika seseorang terus berusaha mencapai level yang lebih tinggi, bukan karena kebutuhannya, melainkan merasa dirinya sebagai perempuan belum cukup layak dan dihargai oleh sekitar. Secara psikologis, kondisi ini berkaitan dengan perfeksionisme, terutama dipengaruhi oleh tekanan sosial.  Paul L. Hewitt dan Gordon L. Flett menjelaskan bahwa perfeksionisme yang berorientasi pada t...

The Power of Mengikhlaskan: Seni Melepaskan Tanpa Harus Kehilangan Arah

Ilustrasi Seseorang yang Melepaskan Suatu Dalam Hidupnya (tinybuddha.com) Pernah nggak sih Puan merasa capek banget, padahal seharian cuma rebahan? Bisa jadi yang capek bukan fisik Puan, tapi pikiran Puan yang lagi menggenggam sesuatu terlalu erat. Entah itu kenangan pahit, kegagalan masa lalu atau ekspektasi yang nggak kesampaian. Kita sering diajarkan untuk berjuang, bertahan, dan mengejar. Tapi jarang banget ada yang mengajarkan kita gimana caranya melepaskan. Padahal, ada kekuatan luar biasa di balik kata ikhlas atau melepaskan. The power of mengikhlaskan itu bukan soal menyerah, tapi soal memberi ruang baru untuk hal-hal yang lebih baik. Melepaskan Bukan Berarti Kalah Banyak orang salah arti, beberapa berpikir kalau Puan ikhlas, berarti Puan kalah atau lemah. Padahal, mengikhlaskan itu adalah tindakan paling berani yang bisa dilakukan manusia. Puan secara sadar memilih untuk berhenti berperang dengan kenyataan yang nggak bisa Puan ubah. Bayangkan Puan lagi memegang segenggam pasi...

LinkedIn dan Ilusi 'Semua Orang Sudah Lebih Maju'

  LinkedIn dan Ilusi 'Semua Orang Sudah Lebih Maju' Image by: Pinterest Di LinkedIn, Puan hampir setiap hari melihat kabar baik: diterima kerja, naik jabatan, lolos program bergengsi, atau menyelesaikan sertifikasi. Sekilas, semuanya tampak berjalan cepat dan terarah. Tanpa disadari, muncul perasaan bahwa orang lain sudah melangkah, sementara Puan masih di tempat yang sama. Padahal, yang ditampilkan sering kali hanyalah bagian terbaik dari perjalanan seseorang, bukan keseluruhan prosesnya. Ketika Timeline Jadi Tolok Ukur yang Tidak Adil Masalah mulai muncu ketika Puan menjadikan apa yang dilihat sebagai standar. Puan membandingkan proses yang masih berjalan dengan hasil akhir orang lain yang sudah dipoles rapi. Perbandingan ini tidak seimbang sejak awal. Akibatnya, rasa tertinggal itu bukan karena Puan benar-benar tidak berkembang, tetapi karena standar yang digunakan memang tidak realistis. Apa yang tampil di LinkedIn adalah "highlight", sementara yang Puan rasakan a...

Saat Amarah Terasa Penuh, Bergerak Bisa Membantu

Marah adalah emosi yang sangat manusiawi. Setiap orang pasti pernah mengalaminya, entah karena kekecewaan, tekanan, atau hal-hal kecil yang menumpuk dalam keseharian. Seringkali kita berusaha menahan amarah dan mencoba tetap terlihat tenang atau bahkan berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Akan tetapi, ketika emosi dipendam, hal itu justru bisa membuat perasaan jadi lebih berat dan memenuhi pikiran.  Baca Juga: Emotional Agility: Cara Bijak Mengelola Emosi  Di saat seperti itu, bergerak atau berolahraga mungkin dapat membantu menenangkan diri.  Mengapa Bergerak Bisa Membantu?  Aktivitas fisik nggak cuma bermanfaat bagi kesehatan tubuh, tapi juga berpengaruh pada kondisi mental dan emosional. Ketika Puan berolahraga, tubuh akan melepaskan hormon seperti endorfin yang membantu meningkatkan suasana hati dan membuat tubuh merasa lebih rileks. karena Olahraga dapat menurunkan tingkat hormon stres dalam tubuh, sehingga aktivitas fisik sering dikaitkan dengan berkura...