Langsung ke konten utama

The Fresh Start Effect: Kenapa Kita Suka Memulai di Hari Senin?

Sumber: pexels.com “Senin nanti aku mulai hidup lebih teratur, deh.” “Bulan depan harus mulai rajin olahraga.” “Kayaknya tahun depan aku harus lebih disiplin.” Pernah nggak, Puan, merasa lebih bersemangat untuk memulai sesuatu ketika memasuki waktu tertentu? Entah itu hari senin, awal bulan, ulang tahun, atau bahkan tahun baru. Seolah-olah pergantian waktu memberikan kesempatan untuk meninggalkan kebiasaan lama dan mencoba menjadi versi diri yang berbeda. Menariknya, kebiasaan ini ternyata punya penjelasan dalam psikologi, lho. Fenomena ini dikenal sebagai The Fresh Start Effect , yaitu kecenderungan seseorang untuk lebih termotivasi memulai tujuan atau kebiasaan baru setelah melewati penanda waktu tertentu. Apa Itu The Fresh Start Effect? The fresh start effect merupakan konsep psikologi yang diperkenalkan melalui penelitian Hengchen Dai, Katherine L. Milkman, dan Jason Rilis pada tahun 2014. Dalam penelitian mereka, ditemukan bahwa penanda waktu seperti awal minggu, awal bulan, tahun...

Mengenal Impulsive Buying: Faktor Pemicu dan Cara Mengatasinya

 

Ilustrasi seseorang yang melakukan impulsive buying (beyondfinance.com)

Pernah nggak sih, Puan lagi asyik scrolling media sosial, terus tiba-tiba muncul iklan barang yang menurut Puan lucu banget? Tanpa pikir panjang, Puan langsung masukkin ke keranjang, masukin PIN, dan check out! Transaksi berhasil. Eh, pas barangnya sampai tiga hari setelahnya, Puan malah bingung sendiri, "Kemarin kepikiran apa ya sampai beli ini?"

Berarti, Puan baru saja terjebak dalam fenomena impulsive buying. Tenang, Puan nggak sendirian kok. Tapi kalau dibiarin terus, dompet bisa nangis di akhir bulan. Yuk, Priska bedah kenapa ini terjadi dan gimana cara mengatasinya tanpa harus ngerasa tersiksa.

Kenapa Kita Suka Banget Belanja Tiba-Tiba?

Secara psikologis, belanja itu memicu hormon dopamin alias hormon bahagia di otak Puan. Saat Puan melihat barang baru yang menarik, otak langsung ngebayangin betapa senengnya Puan kalau punya barang itu. Apalagi kalau ada tulisan "Diskon 70%" atau "Stok Terbatas!"

Rasa takut ketinggalan alias FOMO (Fear of Missing Out) sering kali jadi pemicu. Puan merasa kalau nggak beli sekarang, nanti bakal rugi besar. Padahal, seringnya itu cuma trik marketing yang bikin Puan merasa harus banget beli, padahal sebenarnya nggak butuh banget.

Baca juga: Saving to Stay Sane: Hidup Hemat di Era Tekanan Konsumtif

Dampaknya? Bukan Cuma Soal Uang

Banyak orang mikir kalau impulsive buying cuma masalah saldo ATM yang berkurang. Padahal dampaknya lebih dari itu. Pernah dengar istilah buyer’s remorse? Itu adalah rasa bersalah atau menyesal yang muncul setelah Puan belanja barang yang nggak berguna.

Selain itu, rumah jadi penuh sama barang-barang yang cuma bikin debu menumpuk. Secara mental, kebiasaan ini juga bikin Puan sulit membedakan mana yang merupakan kebutuhan (needs) dan mana yang cuma keinginan (wants).

Tips Ampuh Dari Priska!

Nah, supaya keuangan Puan tetap stabil dan hati tetap tenang, coba deh terapkan beberapa langkah simpel ini:


  1. Terapkan Aturan 24 Jam

Kalau Puan lihat barang yang Puan pengen banget, jangan langsung dibayar. Masukin dulu ke keranjang atau wishlist, lalu tunggu selama 24 jam. Biasanya, paginya keinginan itu sudah hilang atau berkurang drastis.

  1. Unsubscribe Newsletter & Hapus Notifikasi

Kalau Puan sering dapat email promo atau notifikasi flash sale, mending dimatikan saja. Apa yang mata nggak lihat, pasti hati nggak bakal pengen.

  1. Tanya 3 Pertanyaan ke Diri Sendiri

Sebelum klik check out, tanya ke diri sendiri dulu: “Aku butuh ini sekarang atau cuma ingin?” “Aku punya uangnya nggak ya (tanpa pakai paylater)?” “Minggu depan aku masih bakal pakai barang ini nggak ya?” Ini ngebantu banget buat liat prioritas Puan.

  1. Bikin Budget Buat Self-Reward

Ingat ya, Puan, jangan terlalu pelit sama diri sendiri. Alokasikan dana khusus untuk belanja senang-senang tiap bulan. Kalau jatahnya sudah habis, ya sudah, nggak boleh nambah lagi sampai bulan depan.

Belanja itu boleh banget, apalagi kalau itu hasil kerja keras Puan. Tapi, jadilah pembeli yang cerdas. Jangan biarkan euforia sesaat yang pegang kendali atas dompet Puan. Dengan lebih sadar saat belanja, Puan bakal  belajar untuk lebih menghargai apa yang sudah Puan punya.

Jadi, barang apa nih yang masih ada di keranjang belanja Puan? Coba dipikirin lagi, beneran butuh atau cuma FOMO?



Sekilas Tentang Puan Bisa

Puan Bisa adalah komunitas perempuan muda yang mendukung pengembangan karir, self-improvement, dan mental health. Sejak pertama kali didirikan tanggal 1 Oktober 2020 sampai saat ini, Puan Bisa aktif melakukan kegiatan kreatif dan edukatif yang dilakukan dengan tujuan meningkatkan kesadaran perempuan muda (khususnya usia 16-23 tahun) dalam mengembangkan kemampuan dan rasa cinta akan dirinya. 


Author & Editor: Zalfa Zahiyah Putri Wibawa

Komentar

Rubik Puan Popular

Merasa Jadi Pusat Perhatian? Bisa Jadi Puan Mengalami The Spotlight Effect

  “Orang-orang bakal mikir apa ya?” Sumber: pexels.com Pertanyaan sederhana yang ternyata bisa membuat Puan ngerasa seolah-olah sedang jadi sorotan semua orang. Padahal, belum tentu. Nah dalam psikologi, kecenderungan untuk melebih-lebihkan seberapa besar orang lain memperhatikan diri kita ini dikenal sebagai “ The Spotlight Effect ” . Apa Itu The Spotlight Effect ? Istilah The Spotlight Effect diperkenalkan oleh Thomas Gilovich, Victoria Husted Medvec, dan Kenneth Savitsky melalui penelitian mereka pada tahun 2000. Mereka menjelaskan The Spotlight Effect adalah kondisi ketika seseorang mengira bahwa tindakan dan penampilannya begitu diperhatikan oleh orang lain, padahal kenyataannya tidak sebesar yang mereka bayangkan. Menurut Gilovich et al. (2000), kita cenderung melebih-lebihkan seberapa besar orang lain memperhatikan diri kita. Hal ini berkaitan dengan egocentric bias , yaitu kecenderungan melihat suatu situasi dari sudut pandang diri sendiri karena Puan paling sadar terha...

Belajar dari Roti Gosong: Mengubah Kesulitan Jadi Kesempatan

Photo by Ellie Burgin Puan, pernah nggak sih ngalamin kejadian yang bikin langsung mikir, "Duh, kok hari ini aku apes banget ya?" Misalnya, salah belok di perempatan, outfit kesayangan ketumpahan kopi, atau lupa bawa dompet. Wajar banget kok kalau jadi bad mood dan bawaannya pengen ngeluh terus, tapi jangan sampai kejadian-kejadian menyebalkan itu ngerusak sisa hari Puan ya. At the end of the day , semua kesulitan itu pasti bisa dilewati dengan baik kok. Siapa tahu itu justru membawa Puan ke hal-hal baik yang nggak terduga. Masa sih? Nah, ini yang dinamain Burnt Toast Theory. Penasaran kenapa roti gosong bisa jadi filosofi hidup? Yuk, kita bahas! Burnt Toast Theory Itu Apa Sih? Burnt Toast Theory adalah cara berpikir untuk menyikapi kejadian menyebalkan dengan santai. Intinya, teori ini mengajarkan kita kalau setiap kesulitan yang kita temui itu sebenarnya lagi membuka jalan untuk sesuatu yang lebih baik. Terus, apa hubungannya sama roti gosong? Filosofi ini berasal dari gag...

Mengubah Pikiran Negatif Menjadi Positif: Membangun Mindset Penuh Keyakinan dan Optimisme

Apakah Puan sering merasa terjebak dalam pikiran negatif yang menghalangi Puan meraih potensi dan kebahagiaan? Jika iya, maka Puan berada di tempat yang tepat. Artikel ini akan membahas cara mengubah pikiran negatif menjadi positif dengan membangun mindset yang penuh keyakinan dan optimisme. Mindset, atau pola pikir, merupakan pondasi penting dalam menjalani kehidupan yang sukses dan membangun kebahagiaan. Pikiran negatif seperti keraguan, rasa tidak berharga, dan kecemasan dapat merusak mindset Puan dan menghalangi Puan mencapai potensi terbaik.  Namun, Puan tidak perlu putus asa. Ada beberapa langkah praktis yang dapat Puan lakukan untuk mengubah pikiran negatif menjadi positif: Kesadaran akan pikiran negatif: Puan perlu mengenali dan menyadari pola pikir negatif yang muncul dalam diri Puan. Coba identifikasi pikiran-pikiran tersebut dan berikan pengertian bahwa Puan memiliki kendali atas pikiran-pikiran itu. Reframing: Saat Puan menghadapi pikiran negatif, coba ubah perspektif...

Growth Mindset vs Fixed Mindset: Pilihan Pola Pikir yang Menentukan Masa Depan

Image by  Source of Insight Manusia pada dasarnya diciptakan berbeda beda ya, Puan, begitu juga dengan mindset yang dibangun oleh diri kita sendiri. Menurut Carol Dweck psikologi dari Stanford University mindset terbagi menjadi dua yaitu fixed mindset dan growth mindset . Apa itu fixed mindset ? Fixed mindset merupakan pola pikir yang percaya bahwa suatu kecerdasan ataupun bakat dalam individu yang sifatnya tidak akan pernah berubah. Orang yang mempunyai fixed mindset cenderung mudah menyerah, tidak mau ambil resiko atas tantangan dalam hidup serta mudah merasa terancam atas keberhasilan orang lain. Lalu, apa itu growth mindset ? Growth mindset merupakan pola pikir yang ingin selalu berkembang dan percaya bahwa sebuah kesuksesan bisa didapatkan dengan kerja keras. Dengan kata lain seorang yang mempunyai growth mindset akan selalu tampil berani serta mencoba hal-hal baru. Perbedaan kedua mindset ini apasih? Fixed mindset Menghindari tantangan karena takut dengan kegagalan te...

The Fresh Start Effect: Kenapa Kita Suka Memulai di Hari Senin?

Sumber: pexels.com “Senin nanti aku mulai hidup lebih teratur, deh.” “Bulan depan harus mulai rajin olahraga.” “Kayaknya tahun depan aku harus lebih disiplin.” Pernah nggak, Puan, merasa lebih bersemangat untuk memulai sesuatu ketika memasuki waktu tertentu? Entah itu hari senin, awal bulan, ulang tahun, atau bahkan tahun baru. Seolah-olah pergantian waktu memberikan kesempatan untuk meninggalkan kebiasaan lama dan mencoba menjadi versi diri yang berbeda. Menariknya, kebiasaan ini ternyata punya penjelasan dalam psikologi, lho. Fenomena ini dikenal sebagai The Fresh Start Effect , yaitu kecenderungan seseorang untuk lebih termotivasi memulai tujuan atau kebiasaan baru setelah melewati penanda waktu tertentu. Apa Itu The Fresh Start Effect? The fresh start effect merupakan konsep psikologi yang diperkenalkan melalui penelitian Hengchen Dai, Katherine L. Milkman, dan Jason Rilis pada tahun 2014. Dalam penelitian mereka, ditemukan bahwa penanda waktu seperti awal minggu, awal bulan, tahun...