Langsung ke konten utama

Tidak Semua Zona Nyaman Perlu Ditinggalkan

                                                                                   Image by: Pinterest   Puan pernah denger nggak sih satu nasihat ini: “keluar dari zona nyaman kalau mau berkembang.” Masalahnya, tidak semua orang bertahan di zona nyaman itu stagnan. Dan tidak semua orang yang keluar dari zona nyaman benar-benar bertumbuh. Jadi, pertanyaannya bukan lagi harus keluar atau tidak, tapi: Apakah Puan tahu kapan harus tetap tinggal, dan kapan harus melangkah? Baca Juga:   Dealing dengan Comparison Trap Saat Lebaran Zona Nyaman Tidak Selalu Musuh Zona nyaman sering digambarkan sebagai tempat yang “menjebak.” Padahal, dalam banyak kasus, justru di sanalah Puan dapat membangun stabilitas. Zona nyaman bisa berarti: rutinitas ...

DIGITAL ANXIETY & KELELAHAN MENTAL di Dunia yang Serba “MENUNTUT”


 Image by: Lucca


“It’s not the load that breaks you down, it’s the way you carry it” 

- Lou Holtz-

Puan pernah nggak sih merasa mudah lelah padahal nggak lagi beraktivitas berat? Secara fisik mungkin baik-baik saja, namun isi pikiran rasanya penuh hingga membuat dada sesak. Banyak hal yang harus dipikirkan, dilakukan, dan dikejar untuk masa depan. Rasanya selalu ada yang tertinggal, selalu ada yang kurang. Dunia yang serba “menuntut” akan segalanya ini seringkali tuntutan itu hadir melewati layar ponsel yang sehari-hari Puan gunakan. Dari sinilah digital anxiety dan kelelahan mental mulai mengambil ruang satu persatu dalam kehidupan banyak orang. 

Apa itu Digital Anxiety? 

Digital anxiety adalah kondisi ketika seseorang mengalami kecemasan, ketegangan, atau rasa gelisah akibat paparan digital yang berlebihan dan berkelanjutan. Bukan hanya karena media sosial, melainkan karena tuntutan untuk selalu responsif, selalu update, dan selalu siap secara real life. 

Menurut Przybylski et al. (2013), keterhubungan digital yang intens berkaitan dengan meningkatnya kecemasan akan ketertinggalan FOMO (Fear Of Missing Out) yang membuat individu benar-benar sulit untuk merasa tenang meskipun sedang beristirahat. Sementara itu, Rosen et al. (2014) menunjukkan bahwa penggunaan teknologi secara terus-menerus dapat meningkatkan stres dan menurunkan kemampuan fokus. 

Dampaknya Jika Terus Dibiarkan

Jika digital anxiety dan kelelahan mental terus berlangsung tanpa disadari, dampaknya bisa merembet ke banyak aspek kehidupan, antara lain:

  • Kelelahan emosional
    Emosi jadi lebih mudah naik-turun, lebih sensitif, dan cepat merasa kewalahan oleh hal-hal kecil.

  • Meningkatnya kecemasan dan stres kronis
    Paparan digital yang konstan membuat sistem saraf sulit kembali ke kondisi tenang.

  • Rasa bersalah saat beristirahat
    Banyak orang merasa tidak produktif atau tertinggal ketika mencoba berhenti sejenak.

  • Menurunnya kepuasan hidup
    Perbandingan sosial dan tuntutan tak berujung membuat rasa cukup semakin sulit dirasakan.

  • Risiko gangguan kesehatan mental
    Penelitian menunjukkan keterkaitan antara penggunaan media digital berlebihan dengan meningkatnya gejala kecemasan dan depresi (Twenge et al., 2018).

Cara Merawat Diri di Tengah Tuntutan Digital

Mengurangi digital anxiety bukan berarti menolak teknologi, tapi membangun batas yang lebih manusiawi.

  1. Akui bahwa lelah itu normal
    Bukan karena Puan lemah, tapi karena bebannya terlalu berat.

  2.  Beri jeda pada respons
    Tidak semua hal membutuhkan jawaban instan. Menunda bukan berarti tidak peduli.

  3. Pisahkan waktu produktif dan waktu istirahat
    Tubuh dan pikiran butuh sinkronisasi yang jelas, kapan boleh berhenti dan kapan waktunya produktif.

  4. Kurangi paparan sosial media
    Jika satu platform membuat Puan merasa selalu overthinking, mungkin itu bukan ruang yang sehat saat ini.

  5. Rutin olahraga
    Olahraga dapat membantu tubuh Puan jauh lebih rileks dan segar, sehingga pikiran & batin akan menjadi lebih tenang. 

Digital anxiety dan kelelahan mental adalah respons wajar terhadap dunia yang menuntut kita untuk selalu responsif dan produktif. Masalahnya bukan pada kemampuan Puan mengatur diri, melainkan pada lingkungan yang jarang memberi ruang untuk istirahat. Dengan mengenali batasan, mengatur jadwal dengan ritme yang cukup, dan memberi izin untuk berhenti sejenak, Puan tidak sedang tertinggal, melainkan sedang menjaga diri agar tidak memasuki zona yang toxic. Dalam dunia yang serba menuntut, itu bukan suatu kesalahan, melainkan kebutuhan diri Puan.


Ditulis dan diedit oleh: Lilian Deha


Sumber:

Mark, G., Gudith, D., & Klocke, U. (2008). The cost of interrupted work: More speed and stress. Proceedings of the SIGCHI Conference on Human Factors in Computing Systems, 107–110.

Przybylski, A. K., Murayama, K., DeHaan, C. R., & Gladwell, V. (2013). Motivational, emotional, and behavioral correlates of fear of missing out. Computers in Human Behavior, 29(4), 1841–1848.

Rosen, L. D., Lim, A. F., Smith, J., et al. (2014). The distracted student: Does multitasking affect learning? Computers & Education, 62, 24–38.

Twenge, J. M., Joiner, T. E., Rogers, M. L., & Martin, G. N. (2018). Increases in depressive symptoms, suicide-related outcomes, and suicide rates among U.S. adolescents after 2010 and links to increased new media screen time. Clinical Psychological Science, 6(1), 3–17. 


Komentar

Rubik Puan Popular

How I Keep My Schedule On Track; Agar Tetap Produktif!

Hai Puan! Siapa disini yang masih suka kesulitan untuk konsisten produktif dan malas-malasan? Mulai sekarang bangun yuk, karena Priska punya beberapa tips untuk stay on track dan tetap melakukan kegiatan produktif. Simak penjelasannya ya! 1. Be Mindfulness Hal pertama yang harus Puan lakukan pastinya adalah, take a deep breath atau Puan bisa melakukan meditasi untuk mengurangi rasa stres dan malas, menenangkan pikiran, dan meningkatkan fokus. 2. Embrace Continuous Learning Jangan pernah berhenti belajar hal baru. Puan bisa belajar lewat membaca, menonton channel YouTube yang bermanfaat, atau mengikuti kegiatan pelatihan yang bisa menambah pengalaman dan meningkatkan skill Puan! 3. Exercises Regularly Temukan olahraga yang Puan suka dan gemari, lalu lakukan secara konsisten. Olahraga itu sendiri bisa membantu Puan untuk meningkatkan mood , energi, dan juga kesehatan secara sekaligus, lho ! 4. Set Clear Goals by Planning Tentukan tujuan atau apa yang ingin Puan capai sebelum melakukan ...

Menggaet Ribuan Views, Inilah Perjalanan Puan Bisa Ambassador #4

Jakarta, 14 Februari 2026 - Komunitas Puan Bisa resmi membuka program tahunan, Puan Bisa Ambassador #4 melalui acara Warm Greeting yang diselenggarakan pada Kamis, 3 Juli 2025. Kegiatan Puan Bisa Ambassador dilaksanakan full secara daring melalui Zoom yang diikuti oleh lebih dari 100 orang perempuan dari seluruh Indonesia. Kegiatan ini menjadi langkah awal untuk memperkenalkan visi dan misi komunitas, rangkaian program, serta sistem seleksi terbaru yang kini terdiri dari dua tahap, termasuk penambahan Group Project sebagai bentuk komitmen terhadap nilai Empowerment yang diusung Puan Bisa. Dalam seleksi Puan Bisa Ambassador, Tahap pertama adalah seleksi administratif, dan tahap kedua adalah penilaian melalui partisipasi dalam tiga sesi bootcamp yang terdiri dari topik Mental Health , Career , dan Self Improvement . Menelisik Rangkaian Puan Bisa Ambassador Program Puan Bisa Ambassador (PBA) menghadirkan tiga bootcamp tematik untuk meningkatkan kapasitas peserta sebagai calon duta Pu...

Dealing dengan Comparison Trap Saat Lebaran

  Image by: Metro.UK Puan pernah ga sih lagi scroll Instagram atau TikTok saat Lebaran, terus ngeliat postingan temen-temen yang kelihatan sempurna banget? Baju lebaran yang kece, THR gede, liburan ke luar negeri, atau kumpul keluarga yang harmonis. Terus Puan ngeliat kehidupan Puan sendiri dan mikir, "Kok aku doang yang begini?" Nah, perasaan kayak gini namanya comparison trap atau jebakan perbandingan. Dan percaya deh, Puan nggak sendiri yang ngalamin ini. Baca Juga: Saat Amarah Terasa Penuh, Bergerak Bisa Membantu Apa Itu Comparison Trap? Social comparison atau perbandingan sosial adalah kondisi di mana kita sering membandingkan diri dengan orang-orang terdekat seperti saudara, teman sekolah, tetangga, atau yang lain. Menurut Majalah Sunday, hal ini sebenarnya wajar dan bisa jadi acuan untuk berkembang dan menjadi lebih baik. Tapi sebaliknya, perbandingan ini bisa menjadi masalah ketika iri dengan pencapaian orang lain.  Saat Lebaran, comparison trap ini makin parah kare...

Tak Pernah Salah? Menggali Lebih Dalam Fenomena Dunning-Kruger Effect

source: https://thedecisionlab.com/biases/dunning-kruger-effect K ali ini kita akan mengenal istilah baru lagi Puan, yaitu  Dunning-Kruger Effect .  Dunning-Kruger Effect  adalah fenomena dalam psikologi yang dapat didefinisikan sebagai bias kognitif dimana seseorang keliru menilai kemampuan yang dimiliki diri sendiri. Individu yang mengalami  Dunning-Kruger Effect  akan merasa kemampuan mereka jauh lebih tinggi dari yang sebenarnya. Bias ini dikaitkan dengan ketidakmampuan metakognitif untuk mengenali kemampuan mereka sendiri. Teori Dunning-Kruger Effect ini dikembangkan oleh David Dunning dan Justin Kruger pada tahun 1999, dua profesor psikologi dari Cornell University. David dan Justin awalnya terinspirasi kasus McArthur Wheeler, seorang pria yang merampok 2 bank yang menutupi wajahnya dengan perasan air jeruk dan yakin bahwa wajahnya tidak terlihat dan tidak terekam oleh kamera pengawas, sama seperti menulis dengan tinta perasan air jeruk maka tulisannya ti...

Spotlight Effect: Fenomena Psikologis Ketika Seseorang Merasa Diperhatikan Oleh Banyak Mata

Image by  Newristics Puan pernah nggak sih berada di suatu tempat keramaian, misalnya foodcourt dan hendak memesan makanan, tetapi secara tidak sengaja Puan menyenggol gelas di sekitar Puan dan gelas tersebut pecah, lalu ketika sibuk membersihkan gelas tersebut, Puan merasa bahwa sorotan orang-orang di sekitar memperhatikan Puan secara seksama dan seketika Puan mendadak kaku akibat perasaan tersebut. Pernah mengalami hal tersebut? Jika pernah, hal tersebut dinamakan spotlight effect atau efek sorotan. Spotlight effect merupakan suatu fenomena, di mana Puan berpikir bahwa semua orang memperhatikan Puan. Fenomena ini telah dikenal dalam ilmu psikologi sejak tahun 2000, persisnya ketika Thomas Gilovich, Victoria Husted Medvec, dan Kenneth Savitsky meluncurkan studi dengan judul, " The Spotlight Effect in Social Judgment: An Egocentric Bias in Estimates of The Salience of One's Own Actions and Appearanc e". Seorang dosen psikologi di University of California , Berkeley, Ame...