“It’s not the load that breaks you down, it’s the way you carry it”
- Lou Holtz-
Puan pernah nggak sih merasa mudah lelah padahal nggak lagi beraktivitas berat? Secara fisik mungkin baik-baik saja, namun isi pikiran rasanya penuh hingga membuat dada sesak. Banyak hal yang harus dipikirkan, dilakukan, dan dikejar untuk masa depan. Rasanya selalu ada yang tertinggal, selalu ada yang kurang. Dunia yang serba “menuntut” akan segalanya ini seringkali tuntutan itu hadir melewati layar ponsel yang sehari-hari Puan gunakan. Dari sinilah digital anxiety dan kelelahan mental mulai mengambil ruang satu persatu dalam kehidupan banyak orang.
Apa itu Digital Anxiety?
Digital anxiety adalah kondisi ketika seseorang mengalami kecemasan, ketegangan, atau rasa gelisah akibat paparan digital yang berlebihan dan berkelanjutan. Bukan hanya karena media sosial, melainkan karena tuntutan untuk selalu responsif, selalu update, dan selalu siap secara real life.
Menurut Przybylski et al. (2013), keterhubungan digital yang intens berkaitan dengan meningkatnya kecemasan akan ketertinggalan FOMO (Fear Of Missing Out) yang membuat individu benar-benar sulit untuk merasa tenang meskipun sedang beristirahat. Sementara itu, Rosen et al. (2014) menunjukkan bahwa penggunaan teknologi secara terus-menerus dapat meningkatkan stres dan menurunkan kemampuan fokus.
Dampaknya Jika Terus Dibiarkan
Jika digital anxiety dan kelelahan mental terus berlangsung tanpa disadari, dampaknya bisa merembet ke banyak aspek kehidupan, antara lain:
Kelelahan emosional
Emosi jadi lebih mudah naik-turun, lebih sensitif, dan cepat merasa kewalahan oleh hal-hal kecil.Meningkatnya kecemasan dan stres kronis
Paparan digital yang konstan membuat sistem saraf sulit kembali ke kondisi tenang.Rasa bersalah saat beristirahat
Banyak orang merasa tidak produktif atau tertinggal ketika mencoba berhenti sejenak.Menurunnya kepuasan hidup
Perbandingan sosial dan tuntutan tak berujung membuat rasa cukup semakin sulit dirasakan.Risiko gangguan kesehatan mental
Penelitian menunjukkan keterkaitan antara penggunaan media digital berlebihan dengan meningkatnya gejala kecemasan dan depresi (Twenge et al., 2018).
Cara Merawat Diri di Tengah Tuntutan Digital
Mengurangi digital anxiety bukan berarti menolak teknologi, tapi membangun batas yang lebih manusiawi.
Akui bahwa lelah itu normal
Bukan karena Puan lemah, tapi karena bebannya terlalu berat.Beri jeda pada respons
Tidak semua hal membutuhkan jawaban instan. Menunda bukan berarti tidak peduli.Pisahkan waktu produktif dan waktu istirahat
Tubuh dan pikiran butuh sinkronisasi yang jelas, kapan boleh berhenti dan kapan waktunya produktif.Kurangi paparan sosial media
Jika satu platform membuat Puan merasa selalu overthinking, mungkin itu bukan ruang yang sehat saat ini.Rutin olahraga
Olahraga dapat membantu tubuh Puan jauh lebih rileks dan segar, sehingga pikiran & batin akan menjadi lebih tenang.
Digital anxiety dan kelelahan mental adalah respons wajar terhadap dunia yang menuntut kita untuk selalu responsif dan produktif. Masalahnya bukan pada kemampuan Puan mengatur diri, melainkan pada lingkungan yang jarang memberi ruang untuk istirahat. Dengan mengenali batasan, mengatur jadwal dengan ritme yang cukup, dan memberi izin untuk berhenti sejenak, Puan tidak sedang tertinggal, melainkan sedang menjaga diri agar tidak memasuki zona yang toxic. Dalam dunia yang serba menuntut, itu bukan suatu kesalahan, melainkan kebutuhan diri Puan.
Ditulis dan diedit oleh: Lilian Deha
Sumber:
Mark, G., Gudith, D., & Klocke, U. (2008). The cost of interrupted work: More speed and stress. Proceedings of the SIGCHI Conference on Human Factors in Computing Systems, 107–110.
Przybylski, A. K., Murayama, K., DeHaan, C. R., & Gladwell, V. (2013). Motivational, emotional, and behavioral correlates of fear of missing out. Computers in Human Behavior, 29(4), 1841–1848.
Rosen, L. D., Lim, A. F., Smith, J., et al. (2014). The distracted student: Does multitasking affect learning? Computers & Education, 62, 24–38.
Twenge, J. M., Joiner, T. E., Rogers, M. L., & Martin, G. N. (2018). Increases in depressive symptoms, suicide-related outcomes, and suicide rates among U.S. adolescents after 2010 and links to increased new media screen time. Clinical Psychological Science, 6(1), 3–17.

Komentar
Posting Komentar