Langsung ke konten utama

When Your Brain Says “Enough”: Mengenal Overstimulation dan Penyebabnya

Pernah nggak, Puan merasa lelah dengan aktivitas sekitar? Merasa energi terkuras oleh hal-hal yang telah Puan lakukan? Bisa jadi, Puan mengalami overstimulation : suatu kondisi ketika seseorang merasa terlalu lelah akibat banyaknya interaksi sekitar. Ibarat gelas yang terus dituangi air sampai tumpah, kita juga bisa merasa kewalahan. Kondisi ini biasanya dapat membuat seseorang merasa lelah secara emosi maupun fisik, mudah marah, sulit fokus, hingga merasa ingin menjauh sejenak dari keadaan sekitar yang menunjukkan bahwa diri sudah melebihi batas energi. Apa yang menjadi pemicu overstimulation ? Social Media yang Berlebihan Di era sekarang, media sosial telah menjadi bagian dari hidup layaknya makanan yang harus dikonsumsi setiap waktunya. Bo Han (2018), menunjukkan kondisi media burn-out , dimana seseorang merasa lelah dan terputus dari lingkungan sekitarnya secara daring maupun luring. Banyaknya Tekanan Deadlines , ekspektasi, hingga tekanan emosi yang menumpuk dan menjadi cemas, st...

DIGITAL ANXIETY & KELELAHAN MENTAL di Dunia yang Serba “MENUNTUT”


 Image by: Lucca


“It’s not the load that breaks you down, it’s the way you carry it” 

- Lou Holtz-

Puan pernah nggak sih merasa mudah lelah padahal nggak lagi beraktivitas berat? Secara fisik mungkin baik-baik saja, namun isi pikiran rasanya penuh hingga membuat dada sesak. Banyak hal yang harus dipikirkan, dilakukan, dan dikejar untuk masa depan. Rasanya selalu ada yang tertinggal, selalu ada yang kurang. Dunia yang serba “menuntut” akan segalanya ini seringkali tuntutan itu hadir melewati layar ponsel yang sehari-hari Puan gunakan. Dari sinilah digital anxiety dan kelelahan mental mulai mengambil ruang satu persatu dalam kehidupan banyak orang. 

Apa itu Digital Anxiety? 

Digital anxiety adalah kondisi ketika seseorang mengalami kecemasan, ketegangan, atau rasa gelisah akibat paparan digital yang berlebihan dan berkelanjutan. Bukan hanya karena media sosial, melainkan karena tuntutan untuk selalu responsif, selalu update, dan selalu siap secara real life. 

Menurut Przybylski et al. (2013), keterhubungan digital yang intens berkaitan dengan meningkatnya kecemasan akan ketertinggalan FOMO (Fear Of Missing Out) yang membuat individu benar-benar sulit untuk merasa tenang meskipun sedang beristirahat. Sementara itu, Rosen et al. (2014) menunjukkan bahwa penggunaan teknologi secara terus-menerus dapat meningkatkan stres dan menurunkan kemampuan fokus. 

Dampaknya Jika Terus Dibiarkan

Jika digital anxiety dan kelelahan mental terus berlangsung tanpa disadari, dampaknya bisa merembet ke banyak aspek kehidupan, antara lain:

  • Kelelahan emosional
    Emosi jadi lebih mudah naik-turun, lebih sensitif, dan cepat merasa kewalahan oleh hal-hal kecil.

  • Meningkatnya kecemasan dan stres kronis
    Paparan digital yang konstan membuat sistem saraf sulit kembali ke kondisi tenang.

  • Rasa bersalah saat beristirahat
    Banyak orang merasa tidak produktif atau tertinggal ketika mencoba berhenti sejenak.

  • Menurunnya kepuasan hidup
    Perbandingan sosial dan tuntutan tak berujung membuat rasa cukup semakin sulit dirasakan.

  • Risiko gangguan kesehatan mental
    Penelitian menunjukkan keterkaitan antara penggunaan media digital berlebihan dengan meningkatnya gejala kecemasan dan depresi (Twenge et al., 2018).

Cara Merawat Diri di Tengah Tuntutan Digital

Mengurangi digital anxiety bukan berarti menolak teknologi, tapi membangun batas yang lebih manusiawi.

  1. Akui bahwa lelah itu normal
    Bukan karena Puan lemah, tapi karena bebannya terlalu berat.

  2.  Beri jeda pada respons
    Tidak semua hal membutuhkan jawaban instan. Menunda bukan berarti tidak peduli.

  3. Pisahkan waktu produktif dan waktu istirahat
    Tubuh dan pikiran butuh sinkronisasi yang jelas, kapan boleh berhenti dan kapan waktunya produktif.

  4. Kurangi paparan sosial media
    Jika satu platform membuat Puan merasa selalu overthinking, mungkin itu bukan ruang yang sehat saat ini.

  5. Rutin olahraga
    Olahraga dapat membantu tubuh Puan jauh lebih rileks dan segar, sehingga pikiran & batin akan menjadi lebih tenang. 

Digital anxiety dan kelelahan mental adalah respons wajar terhadap dunia yang menuntut kita untuk selalu responsif dan produktif. Masalahnya bukan pada kemampuan Puan mengatur diri, melainkan pada lingkungan yang jarang memberi ruang untuk istirahat. Dengan mengenali batasan, mengatur jadwal dengan ritme yang cukup, dan memberi izin untuk berhenti sejenak, Puan tidak sedang tertinggal, melainkan sedang menjaga diri agar tidak memasuki zona yang toxic. Dalam dunia yang serba menuntut, itu bukan suatu kesalahan, melainkan kebutuhan diri Puan.


Ditulis dan diedit oleh: Lilian Deha


Sumber:

Mark, G., Gudith, D., & Klocke, U. (2008). The cost of interrupted work: More speed and stress. Proceedings of the SIGCHI Conference on Human Factors in Computing Systems, 107–110.

Przybylski, A. K., Murayama, K., DeHaan, C. R., & Gladwell, V. (2013). Motivational, emotional, and behavioral correlates of fear of missing out. Computers in Human Behavior, 29(4), 1841–1848.

Rosen, L. D., Lim, A. F., Smith, J., et al. (2014). The distracted student: Does multitasking affect learning? Computers & Education, 62, 24–38.

Twenge, J. M., Joiner, T. E., Rogers, M. L., & Martin, G. N. (2018). Increases in depressive symptoms, suicide-related outcomes, and suicide rates among U.S. adolescents after 2010 and links to increased new media screen time. Clinical Psychological Science, 6(1), 3–17. 


Komentar

Rubik Puan Popular

Belajar Mendefinisikan Arti Sukses dan Bahagia Melalui Kisah "Little Women"

  Sering gak sih Puan ngerasa lelah sama standar dunia yang menuntut kita harus selalu kelihatan menonjol dan punya pencapaian besar? Standar ini kadang malah bikin kita cemas dan asing sama diri sendiri. Kalau Puan lagi ada di fase penuh tekanan itu, yuk coba intip sudut pandang dari kisah klasik Little Women lewat karakter yang paling berkesan. Antara Ambisi dan Rasa Sepi Jo adalah cerminan perempuan mandiri yang fokus mengejar mimpi tanpa peduli aturan di zaman itu. Tapi, ada momen disaat Jo menangis dan bilang “"Women, they have minds, and they have souls, as well as just hearts. And they’ve got ambition, and they’ve got talent, as well as just beauty. And I’m so sick of people saying that love is all a woman is fit for. But I’m so lonely.” Dari Jo kita belajar, jadi perempuan kuat bukan berarti gak boleh ngerasa rapuh. Wajar banget kalau di tengah kesibukan mengejar mimpi, Puan tiba-tiba merasa sepi. Mengakui rasa sepi bukan berarti lemah, melainkan tanda kita jujur pada diri...

When Your Brain Says “Enough”: Mengenal Overstimulation dan Penyebabnya

Pernah nggak, Puan merasa lelah dengan aktivitas sekitar? Merasa energi terkuras oleh hal-hal yang telah Puan lakukan? Bisa jadi, Puan mengalami overstimulation : suatu kondisi ketika seseorang merasa terlalu lelah akibat banyaknya interaksi sekitar. Ibarat gelas yang terus dituangi air sampai tumpah, kita juga bisa merasa kewalahan. Kondisi ini biasanya dapat membuat seseorang merasa lelah secara emosi maupun fisik, mudah marah, sulit fokus, hingga merasa ingin menjauh sejenak dari keadaan sekitar yang menunjukkan bahwa diri sudah melebihi batas energi. Apa yang menjadi pemicu overstimulation ? Social Media yang Berlebihan Di era sekarang, media sosial telah menjadi bagian dari hidup layaknya makanan yang harus dikonsumsi setiap waktunya. Bo Han (2018), menunjukkan kondisi media burn-out , dimana seseorang merasa lelah dan terputus dari lingkungan sekitarnya secara daring maupun luring. Banyaknya Tekanan Deadlines , ekspektasi, hingga tekanan emosi yang menumpuk dan menjadi cemas, st...

“I Wish I Knew When I Was 20” Memahami Hidup Mulai dari Usia 20 Tahun

  Buku "What I Wish I Knew When I Was 20" karya Prof. Tina Seelig (Amazon.com) Menginjak usia 20 terlihat menyenangkan karena Puan telah memiliki kebebasan atas diri sendiri. Di usia muda, tubuh Puan masih bertenaga maksimal dan optimal, pikiran masih fresh , ide-ide yang dikeluarkan masih up to date , intinya Puan lagi ada di masa-masa emas untuk mengembangkan suatu hal. Namun, yang jarang terlihat adalah masa saat Puan merasa clueless akan hidup Puan sendiri untuk memutuskan karir dan perjalanan hidup Puan ke depannya. Baca juga: Motivasi Bukan Ditunggu, tapi Dicari Lewat Aksi Lalu, apa saja sebenarnya hal yang harus dipahami untuk menjalani hidup saat menginjak usia 20 tahun? Mengutip dari buku “What I Wish I Knew When I Was 20” karya Prof. Tina Seelig ada beberapa hal yang dapat Puan lakukan: Jangan Menunggu, Tapi Ciptakan! Seringkali Puan berpikir untuk menunggu kesempatan datang, menunggu orang lain yang membukanya, menunggu offering yang datang. Padahal, Puan bisa men...

80% Hasil Bisa Datang dari 20% Usaha. Kok Bisa?

  Puan pernah ngerasa nggak udah sibuk seharian, tapi ketika hari berakhir, masih berasa nggak banyak hal yang benar-benar bergerak maju? Tugas udah dikerjakan, notifikasi udah dibalas, jadwal penuh, tapi tujuan yang ingin dicapai rasanya masih jauh. Kalau pernah, mungkin masalahnya bukan karena Puan kurang kerja keras. Bisa jadi, Puan hanya belum memfokuskan energi pada hal yang paling berdampak.  Konsep ini dikenal sebagai Pareto Principle atau prinsip 80/20, sebuah gagasan yang diperkenalkan oleh ekonom Italia, Vilfredo Pareto. Secara sederhana, prinsip ini menjelaskan bahwa sekitar 80% hasil yang kita peroleh sering kali berasal dari 20% usaha atau aktivitas yang paling penting. Tentu saja angka 80 dan 20 bukan aturan yang mutlak. Namun, prinsip ini mengingatkan bahwa nggak semua hal memiliki pengaruh yang sama. Ada beberapa aktivitas yang memberi dampak jauh lebih besar dibandingkan yang lainnya. Baca Juga: Manajemen Waktu Gak Cuma Soal Jam, Tapi Energi Juga! Apa Artinya...

Hasty Generalization: Kesalahan Berpikir yang Sering Kita Lakukan

Image by: Grammarly.com Pernahkah Puan langsung bilang "Semua produk merek ini jelek," cuma gara-gara beli satu barang yang rusak? Atau mungkin Puan pernah denger temen cerita, "Nggak usah ke resto itu deh, pelayanannya buruk banget!" Padahal dia cuma sekali ke sana? Nah, ini dia yang namanya hasty generalization atau kesimpulan terburu-buru. Apa Sih Hasty Generalization Itu? Menurut Detik.com , Hasty Generalization adalah kekeliruan yang terjadi ketika seseorang menarik kesimpulan yang luas berdasarkan bukti yang tidak mampu atau tidak cukup. Dengan kata lain, kesimpulan tentang suatu hal terlalu terburu-buru diambil dan hanya didukung beberapa atau tidak cukup bukti yang jelas. Jadi, Hasty generalization adalah kesalahan logika yang terjadi ketika Puan mengambil kesimpulan umum dari sampel yang terlalu kecil atau tidak cukup mewakili. Bayangin gini, Puan cuma ketemu dua kucing yang galak, terus langsung bilang, "semua kucing itu galak!" Padahal di lu...