Langsung ke konten utama

The Art of Saying “No”: Cara Menolak Tanpa Perlu Merasa Bersalah

  Ilustrasi Perempuan Mengatakan Tidak (huffpost.com) Pernah nggak sih, Puan merasa jadwal harian tuh penuh bukan karena kegiatan sendiri, melainkan karena banyaknya nongkrong ? Mau menolak ajakan nongkrong padahal lagi capek, tapi nggak enak. Mau nolak tambahan kerjaan padahal tugas sendiri masih numpuk, tapi takut dibilang nggak loyal. Kalau iya, Puan mungkin sedang terjebak dalam sindrom people pleaser. Priska kasih tau ya, jadi orang "nggak enakan" itu capeknya luar biasa. Kabar baiknya, Puan bisa kok belajar berkata tidak tanpa harus merasa jadi orang jahat. Yuk, kita bahas cara membangun boundaries atau batasan diri! Kenapa Kita Susah Banget Bilang "Nggak"? Akar masalahnya biasanya satu nih, takut nggak disukai atau takut mengecewakan orang lain. Mungkin bagi Puan, mengatakan “iya” identik dengan menjadi orang baik, sedangkan “tidak” sering ngerasa kayak sikap egois. Padahal, kenyataannya nggak sesederhana itu. Saat Puan selalu bilang "iya" ke orang...

DIGITAL ANXIETY & KELELAHAN MENTAL di Dunia yang Serba “MENUNTUT”


 Image by: Lucca


“It’s not the load that breaks you down, it’s the way you carry it” 

- Lou Holtz-

Puan pernah nggak sih merasa mudah lelah padahal nggak lagi beraktivitas berat? Secara fisik mungkin baik-baik saja, namun isi pikiran rasanya penuh hingga membuat dada sesak. Banyak hal yang harus dipikirkan, dilakukan, dan dikejar untuk masa depan. Rasanya selalu ada yang tertinggal, selalu ada yang kurang. Dunia yang serba “menuntut” akan segalanya ini seringkali tuntutan itu hadir melewati layar ponsel yang sehari-hari Puan gunakan. Dari sinilah digital anxiety dan kelelahan mental mulai mengambil ruang satu persatu dalam kehidupan banyak orang. 

Apa itu Digital Anxiety? 

Digital anxiety adalah kondisi ketika seseorang mengalami kecemasan, ketegangan, atau rasa gelisah akibat paparan digital yang berlebihan dan berkelanjutan. Bukan hanya karena media sosial, melainkan karena tuntutan untuk selalu responsif, selalu update, dan selalu siap secara real life. 

Menurut Przybylski et al. (2013), keterhubungan digital yang intens berkaitan dengan meningkatnya kecemasan akan ketertinggalan FOMO (Fear Of Missing Out) yang membuat individu benar-benar sulit untuk merasa tenang meskipun sedang beristirahat. Sementara itu, Rosen et al. (2014) menunjukkan bahwa penggunaan teknologi secara terus-menerus dapat meningkatkan stres dan menurunkan kemampuan fokus. 

Dampaknya Jika Terus Dibiarkan

Jika digital anxiety dan kelelahan mental terus berlangsung tanpa disadari, dampaknya bisa merembet ke banyak aspek kehidupan, antara lain:

  • Kelelahan emosional
    Emosi jadi lebih mudah naik-turun, lebih sensitif, dan cepat merasa kewalahan oleh hal-hal kecil.

  • Meningkatnya kecemasan dan stres kronis
    Paparan digital yang konstan membuat sistem saraf sulit kembali ke kondisi tenang.

  • Rasa bersalah saat beristirahat
    Banyak orang merasa tidak produktif atau tertinggal ketika mencoba berhenti sejenak.

  • Menurunnya kepuasan hidup
    Perbandingan sosial dan tuntutan tak berujung membuat rasa cukup semakin sulit dirasakan.

  • Risiko gangguan kesehatan mental
    Penelitian menunjukkan keterkaitan antara penggunaan media digital berlebihan dengan meningkatnya gejala kecemasan dan depresi (Twenge et al., 2018).

Cara Merawat Diri di Tengah Tuntutan Digital

Mengurangi digital anxiety bukan berarti menolak teknologi, tapi membangun batas yang lebih manusiawi.

  1. Akui bahwa lelah itu normal
    Bukan karena Puan lemah, tapi karena bebannya terlalu berat.

  2.  Beri jeda pada respons
    Tidak semua hal membutuhkan jawaban instan. Menunda bukan berarti tidak peduli.

  3. Pisahkan waktu produktif dan waktu istirahat
    Tubuh dan pikiran butuh sinkronisasi yang jelas, kapan boleh berhenti dan kapan waktunya produktif.

  4. Kurangi paparan sosial media
    Jika satu platform membuat Puan merasa selalu overthinking, mungkin itu bukan ruang yang sehat saat ini.

  5. Rutin olahraga
    Olahraga dapat membantu tubuh Puan jauh lebih rileks dan segar, sehingga pikiran & batin akan menjadi lebih tenang. 

Digital anxiety dan kelelahan mental adalah respons wajar terhadap dunia yang menuntut kita untuk selalu responsif dan produktif. Masalahnya bukan pada kemampuan Puan mengatur diri, melainkan pada lingkungan yang jarang memberi ruang untuk istirahat. Dengan mengenali batasan, mengatur jadwal dengan ritme yang cukup, dan memberi izin untuk berhenti sejenak, Puan tidak sedang tertinggal, melainkan sedang menjaga diri agar tidak memasuki zona yang toxic. Dalam dunia yang serba menuntut, itu bukan suatu kesalahan, melainkan kebutuhan diri Puan.


Ditulis dan diedit oleh: Lilian Deha


Sumber:

Mark, G., Gudith, D., & Klocke, U. (2008). The cost of interrupted work: More speed and stress. Proceedings of the SIGCHI Conference on Human Factors in Computing Systems, 107–110.

Przybylski, A. K., Murayama, K., DeHaan, C. R., & Gladwell, V. (2013). Motivational, emotional, and behavioral correlates of fear of missing out. Computers in Human Behavior, 29(4), 1841–1848.

Rosen, L. D., Lim, A. F., Smith, J., et al. (2014). The distracted student: Does multitasking affect learning? Computers & Education, 62, 24–38.

Twenge, J. M., Joiner, T. E., Rogers, M. L., & Martin, G. N. (2018). Increases in depressive symptoms, suicide-related outcomes, and suicide rates among U.S. adolescents after 2010 and links to increased new media screen time. Clinical Psychological Science, 6(1), 3–17. 


Komentar

Rubik Puan Popular

Mengenali Kepribadian Ganda lewat Drakor Can This Love Be Translated

Image by: Netflix Puan, tau nggak sih kalau ada drama korea bergenre romance comedy , tapi uniknya diselipkan isu mental health ? Dari cerita yang bikin baper, drakor berjudul “Can This Love Be Translated” justru mengajak penonton masuk ke konflik batin dari tokoh utama yang baru menyadari bahwa dirinya memiliki kepribadian ganda, atau dalam istilah psikologi disebut Dissociative Identity Disorder (DID) . Di drama ini, kepribadian ganda dijadikan sebagai “Defense mechanism ” yang bikin otak punya cara sendiri buat melindungi dari rasa sakit yang terlalu berat untuk ditanggung. Sampai akhirnya pikiran punya mekanisme sendiri buat melindungi diri. Eits, tapi perlu dicatat ya, Puan, kalo kondisi ini bukan asumsi sembarangan, tapi didiagnosis oleh profesional. Apa sih penyebab kepribadian ganda pada Tokoh Utamanya? 1. Trauma Masa Kecil Adanya trauma berat dan berulang saat kecil bisa membuat otak mencari cara agar bisa tetap “bertahan.” Salah satunya, dengan memisahkan pengalaman dan e...

Ben Franklin Effect: Tips Buat Kamu yang Segan Minta Bantuan

  Puan, pernah nggak sih merasa sungkan untuk meminta atau bahkan menerima pertolongan dari orang lain? Mungkin ada segelintir alasan dibaliknya seperti, anggapan Puan bahwa setiap orang punya kesibukan masing-masing, mungkin juga karena sudah terbiasa untuk melakukan segala sesuatu sendiri, atau malu untuk menerima maupun meminta pertolongan. Namun Puan, menurut Gregg Levoy melalui tulisannya di laman  Psychology Today, ketika seseorang menolak bantuan dari orang lain itu adalah sebuah bentuk dari kesombongan . Mengapa demikian? Karena seseorang itu enggan menerima maupun meminta pertolongan ketika dirinya sedang kesusahan. Padahal, dengan meminta bantuan seseorang bisa dengan lebih mudah menyelesaikan masalahnya. Dalam kata lain, menolak pertolongan dapat terlihat arogan karena Puan bisa saja dianggap terlalu menutup diri. Tipsnya adalah untuk memberanikan diri . Ketika kita dapat membuka diri, kita dapat secara leluasa meminta pertolongan. Bahkan ada satu teori yang membuk...

The Art of Saying “No”: Cara Menolak Tanpa Perlu Merasa Bersalah

  Ilustrasi Perempuan Mengatakan Tidak (huffpost.com) Pernah nggak sih, Puan merasa jadwal harian tuh penuh bukan karena kegiatan sendiri, melainkan karena banyaknya nongkrong ? Mau menolak ajakan nongkrong padahal lagi capek, tapi nggak enak. Mau nolak tambahan kerjaan padahal tugas sendiri masih numpuk, tapi takut dibilang nggak loyal. Kalau iya, Puan mungkin sedang terjebak dalam sindrom people pleaser. Priska kasih tau ya, jadi orang "nggak enakan" itu capeknya luar biasa. Kabar baiknya, Puan bisa kok belajar berkata tidak tanpa harus merasa jadi orang jahat. Yuk, kita bahas cara membangun boundaries atau batasan diri! Kenapa Kita Susah Banget Bilang "Nggak"? Akar masalahnya biasanya satu nih, takut nggak disukai atau takut mengecewakan orang lain. Mungkin bagi Puan, mengatakan “iya” identik dengan menjadi orang baik, sedangkan “tidak” sering ngerasa kayak sikap egois. Padahal, kenyataannya nggak sesederhana itu. Saat Puan selalu bilang "iya" ke orang...

Menemukan Ide dan Makna di Balik Rasa Bosan

      Photo by Kathy Jones Pernah gak Puan merasa sangat gatal ingin merogoh tas dan mencari ponsel padahal cuma sedang mengantre kasir selama satu menit? Atau mungkin saat lampu merah, tangan otomatis mencari ponsel seolah-olah menunggu 30 detik tanpa melakukan apa-apa itu sangat menyiksa?   Di zaman sekarang, rasanya aneh ya kalau kita tidak memegang ponsel meski hanya sebentar. Namun, tahukah Puan? Ternyata rasa bosan yang selama ini kita hindari habis-habisan itu adalah hal yang justru kita butuhkan.   Apakah Lebih Baik Kesetrum daripada Bosan? Ada eksperimen unik dari Harvard, Puan. Orang-orang diminta duduk diam di ruangan kosong selama 15 menit tanpa alat komunikasi. Pilihannya cuma dua, duduk diam dengan pikirannya sendiri, atau menekan tombol yang akan memberikan sengatan listrik kecil yang menyakitkan. Hasilnya mengejutkan! Mayoritas orang lebih memilih untuk menyengat diri sendiri dengan listrik daripada harus berlama-lama dengan kebosanan mereka. Bay...