Pernah nggak sih, Puan merasa jadwal harian tuh penuh bukan karena kegiatan sendiri, melainkan karena banyaknya nongkrong? Mau menolak ajakan nongkrong padahal lagi capek, tapi nggak enak. Mau nolak tambahan kerjaan padahal tugas sendiri masih numpuk, tapi takut dibilang nggak loyal.
Kalau iya, Puan mungkin sedang terjebak dalam sindrom people pleaser. Priska kasih tau ya, jadi orang "nggak enakan" itu capeknya luar biasa. Kabar baiknya, Puan bisa kok belajar berkata tidak tanpa harus merasa jadi orang jahat.
Yuk, kita bahas cara membangun boundaries atau batasan diri!
Kenapa Kita Susah Banget Bilang "Nggak"?
Akar masalahnya biasanya satu nih, takut nggak disukai atau takut mengecewakan orang lain. Mungkin bagi Puan, mengatakan “iya” identik dengan menjadi orang baik, sedangkan “tidak” sering ngerasa kayak sikap egois. Padahal, kenyataannya nggak sesederhana itu. Saat Puan selalu bilang "iya" ke orang lain, sebenarnya Puan lagi bilang "tidak" ke diri sendiri, ke waktu istirahat, ke kesehatan mental, dan ke prioritas.
Tips Membangun "Boundaries" Dari Priska!
Nggak perlu langsung jadi orang yang ketus. Puan bisa mulai latihan dengan cara-cara ini:
Jangan Jawab Saat Hati Ragu
Bilang aja: "Aku cek jadwal dulu ya, nanti aku kabarin lagi." Ini kasih Puan ruang untuk menyusun rencana tanpa tekanan dari orang tersebut. Kadang kita takut dibilang nggak asik atau nggak suportif. Padahal, ngasih “iya” yang terpaksa seringkali berujung pada hasil yang nggak maksimal atau malah bikin burnout.
Berhenti Memberi Alasan Kepanjangan
Salah satu kesalahan terbesar people pleaser adalah kalau nolak, alasannya panjang banget sampai ke akar-akarnya. Semakin panjang alasan Puan, semakin besar celah orang lain buat merayu atau mendebat alasan itu. Cukup bilang: "Maaf ya, kali ini aku nggak bisa karena ada urusan lain.”
Tawarkan Alternatif
Kalau Puan memang merasa nggak enak banget, Puan bisa kasih opsi lain. Misalnya: "Aku nggak bisa kalau bantu bikin drafnya sekarang, tapi kalau kamu mau, aku bisa bantu review hasilnya besok sore." Ini menunjukkan Puan tetap peduli, dan tetap punya batas.
Harus Tegas Dengan Pilihan
Puan nggak wajib ngejelasin alasan di balik setiap keputusan untuk beristirahat atau memprioritaskan diri sendiri. Mengatakan tidak adalah bentuk menjaga batas dan energi yang Puan miliki.
"Tapi, Aku Ngerasa Bersalah..."
Rasa bersalah yang muncul diawal itu wajar, apalagi kalau Puan sudah terbiasa mengatakan “ya” kepada ajakan apapun selama bertahun-tahun. Tapi inget deh, orang yang marah saat Puan membuat batasan adalah orang yang paling diuntungkan kalau Puan nggak punya batasan.
Teman atau rekan kerja yang beneran tulus pasti bakal menghargai waktu dan energi Puan. Mereka nggak bakal menjauh cuma karena Puan nolak satu-dua ajakan.
Dengan punya batasan yang jelas, Puan bukan jadi orang jahat, tapi Puan jadi orang yang lebih sehat dan punya prinsip yang kuat. Hidup Puan itu milik Puan, bukan milik orang-orang yang nggak enakan sama Puan.
Author & Editor: Zalfa Zahiyah Putri Wibawa

Komentar
Posting Komentar