Langsung ke konten utama

The Art of Saying “No”: Cara Menolak Tanpa Perlu Merasa Bersalah

  Ilustrasi Perempuan Mengatakan Tidak (huffpost.com) Pernah nggak sih, Puan merasa jadwal harian tuh penuh bukan karena kegiatan sendiri, melainkan karena banyaknya nongkrong ? Mau menolak ajakan nongkrong padahal lagi capek, tapi nggak enak. Mau nolak tambahan kerjaan padahal tugas sendiri masih numpuk, tapi takut dibilang nggak loyal. Kalau iya, Puan mungkin sedang terjebak dalam sindrom people pleaser. Priska kasih tau ya, jadi orang "nggak enakan" itu capeknya luar biasa. Kabar baiknya, Puan bisa kok belajar berkata tidak tanpa harus merasa jadi orang jahat. Yuk, kita bahas cara membangun boundaries atau batasan diri! Kenapa Kita Susah Banget Bilang "Nggak"? Akar masalahnya biasanya satu nih, takut nggak disukai atau takut mengecewakan orang lain. Mungkin bagi Puan, mengatakan “iya” identik dengan menjadi orang baik, sedangkan “tidak” sering ngerasa kayak sikap egois. Padahal, kenyataannya nggak sesederhana itu. Saat Puan selalu bilang "iya" ke orang...

The Art of Saying “No”: Cara Menolak Tanpa Perlu Merasa Bersalah

 


Ilustrasi Perempuan Mengatakan Tidak (huffpost.com)

Pernah nggak sih, Puan merasa jadwal harian tuh penuh bukan karena kegiatan sendiri, melainkan karena banyaknya nongkrong? Mau menolak ajakan nongkrong padahal lagi capek, tapi nggak enak. Mau nolak tambahan kerjaan padahal tugas sendiri masih numpuk, tapi takut dibilang nggak loyal.

Kalau iya, Puan mungkin sedang terjebak dalam sindrom people pleaser. Priska kasih tau ya, jadi orang "nggak enakan" itu capeknya luar biasa. Kabar baiknya, Puan bisa kok belajar berkata tidak tanpa harus merasa jadi orang jahat.

Yuk, kita bahas cara membangun boundaries atau batasan diri!

Kenapa Kita Susah Banget Bilang "Nggak"?

Akar masalahnya biasanya satu nih, takut nggak disukai atau takut mengecewakan orang lain. Mungkin bagi Puan, mengatakan “iya” identik dengan menjadi orang baik, sedangkan “tidak” sering ngerasa kayak sikap egois. Padahal, kenyataannya nggak sesederhana itu. Saat Puan selalu bilang "iya" ke orang lain, sebenarnya Puan lagi bilang "tidak" ke diri sendiri, ke waktu istirahat, ke kesehatan mental, dan ke prioritas.

Tips Membangun "Boundaries" Dari Priska!

Nggak perlu langsung jadi orang yang ketus. Puan bisa mulai latihan dengan cara-cara ini:

  1. Jangan Jawab Saat Hati Ragu

Bilang aja: "Aku cek jadwal dulu ya, nanti aku kabarin lagi." Ini kasih Puan ruang untuk menyusun rencana tanpa tekanan dari orang tersebut. Kadang kita takut dibilang nggak asik atau nggak suportif. Padahal, ngasih “iya” yang terpaksa seringkali berujung pada hasil yang nggak maksimal atau malah bikin burnout.

  1. Berhenti Memberi Alasan Kepanjangan 

Salah satu kesalahan terbesar people pleaser adalah kalau nolak, alasannya panjang banget sampai ke akar-akarnya. Semakin panjang alasan Puan, semakin besar celah orang lain buat merayu atau mendebat alasan itu. Cukup bilang: "Maaf ya, kali ini aku nggak bisa karena ada urusan lain.”

  1.  Tawarkan Alternatif 

Kalau Puan memang merasa nggak enak banget, Puan bisa kasih opsi lain. Misalnya: "Aku nggak bisa kalau bantu bikin drafnya sekarang, tapi kalau kamu mau, aku bisa bantu review hasilnya besok sore." Ini menunjukkan Puan tetap peduli, dan tetap punya batas.

  1. Harus Tegas Dengan Pilihan

Puan nggak wajib ngejelasin alasan di balik setiap keputusan untuk beristirahat atau memprioritaskan diri sendiri. Mengatakan tidak adalah bentuk menjaga batas dan energi yang Puan miliki.

"Tapi, Aku Ngerasa Bersalah..."

Rasa bersalah yang muncul diawal itu wajar, apalagi kalau Puan sudah terbiasa mengatakan “ya” kepada ajakan apapun selama bertahun-tahun. Tapi inget deh, orang yang marah saat Puan membuat batasan adalah orang yang paling diuntungkan kalau Puan nggak punya batasan.

Teman atau rekan kerja yang beneran tulus pasti bakal menghargai waktu dan energi Puan. Mereka nggak bakal menjauh cuma karena Puan nolak satu-dua ajakan.

Dengan punya batasan yang jelas, Puan bukan jadi orang jahat, tapi Puan jadi orang yang lebih sehat dan punya prinsip yang kuat. Hidup Puan itu milik Puan, bukan milik orang-orang yang nggak enakan sama Puan.



Referensi

Komentar

Rubik Puan Popular

Mengenali Kepribadian Ganda lewat Drakor Can This Love Be Translated

Image by: Netflix Puan, tau nggak sih kalau ada drama korea bergenre romance comedy , tapi uniknya diselipkan isu mental health ? Dari cerita yang bikin baper, drakor berjudul “Can This Love Be Translated” justru mengajak penonton masuk ke konflik batin dari tokoh utama yang baru menyadari bahwa dirinya memiliki kepribadian ganda, atau dalam istilah psikologi disebut Dissociative Identity Disorder (DID) . Di drama ini, kepribadian ganda dijadikan sebagai “Defense mechanism ” yang bikin otak punya cara sendiri buat melindungi dari rasa sakit yang terlalu berat untuk ditanggung. Sampai akhirnya pikiran punya mekanisme sendiri buat melindungi diri. Eits, tapi perlu dicatat ya, Puan, kalo kondisi ini bukan asumsi sembarangan, tapi didiagnosis oleh profesional. Apa sih penyebab kepribadian ganda pada Tokoh Utamanya? 1. Trauma Masa Kecil Adanya trauma berat dan berulang saat kecil bisa membuat otak mencari cara agar bisa tetap “bertahan.” Salah satunya, dengan memisahkan pengalaman dan e...

Ben Franklin Effect: Tips Buat Kamu yang Segan Minta Bantuan

  Puan, pernah nggak sih merasa sungkan untuk meminta atau bahkan menerima pertolongan dari orang lain? Mungkin ada segelintir alasan dibaliknya seperti, anggapan Puan bahwa setiap orang punya kesibukan masing-masing, mungkin juga karena sudah terbiasa untuk melakukan segala sesuatu sendiri, atau malu untuk menerima maupun meminta pertolongan. Namun Puan, menurut Gregg Levoy melalui tulisannya di laman  Psychology Today, ketika seseorang menolak bantuan dari orang lain itu adalah sebuah bentuk dari kesombongan . Mengapa demikian? Karena seseorang itu enggan menerima maupun meminta pertolongan ketika dirinya sedang kesusahan. Padahal, dengan meminta bantuan seseorang bisa dengan lebih mudah menyelesaikan masalahnya. Dalam kata lain, menolak pertolongan dapat terlihat arogan karena Puan bisa saja dianggap terlalu menutup diri. Tipsnya adalah untuk memberanikan diri . Ketika kita dapat membuka diri, kita dapat secara leluasa meminta pertolongan. Bahkan ada satu teori yang membuk...

Menemukan Ide dan Makna di Balik Rasa Bosan

      Photo by Kathy Jones Pernah gak Puan merasa sangat gatal ingin merogoh tas dan mencari ponsel padahal cuma sedang mengantre kasir selama satu menit? Atau mungkin saat lampu merah, tangan otomatis mencari ponsel seolah-olah menunggu 30 detik tanpa melakukan apa-apa itu sangat menyiksa?   Di zaman sekarang, rasanya aneh ya kalau kita tidak memegang ponsel meski hanya sebentar. Namun, tahukah Puan? Ternyata rasa bosan yang selama ini kita hindari habis-habisan itu adalah hal yang justru kita butuhkan.   Apakah Lebih Baik Kesetrum daripada Bosan? Ada eksperimen unik dari Harvard, Puan. Orang-orang diminta duduk diam di ruangan kosong selama 15 menit tanpa alat komunikasi. Pilihannya cuma dua, duduk diam dengan pikirannya sendiri, atau menekan tombol yang akan memberikan sengatan listrik kecil yang menyakitkan. Hasilnya mengejutkan! Mayoritas orang lebih memilih untuk menyengat diri sendiri dengan listrik daripada harus berlama-lama dengan kebosanan mereka. Bay...

DIGITAL ANXIETY & KELELAHAN MENTAL di Dunia yang Serba “MENUNTUT”

  Image by: Lucca “It’s not the load that breaks you down, it’s the way you carry it”  - Lou Holtz- Puan pernah nggak sih merasa mudah lelah padahal nggak lagi beraktivitas berat? Secara fisik mungkin baik-baik saja, namun isi pikiran rasanya penuh hingga membuat dada sesak. Banyak hal yang harus dipikirkan, dilakukan, dan dikejar untuk masa depan. Rasanya selalu ada yang tertinggal, selalu ada yang kurang. Dunia yang serba “menuntut” akan segalanya ini seringkali tuntutan itu hadir melewati layar ponsel yang sehari-hari Puan gunakan. Dari sinilah digital anxiety dan kelelahan mental mulai mengambil ruang satu persatu dalam kehidupan banyak orang.  Apa itu Digital Anxiety?  Digital anxiety adalah kondisi ketika seseorang mengalami kecemasan, ketegangan, atau rasa gelisah akibat paparan digital yang berlebihan dan berkelanjutan. Bukan hanya karena media sosial, melainkan karena tuntutan untuk selalu responsif, selalu update, dan selalu siap secara real life.  M...