Langsung ke konten utama

Lebih dari Sekadar Boneka Cantik: What Can We Learn from Barbies

Salah satu adegan dari Barbie: A Fairy Secret (www.primevideo.com) Waktu kecil, Puan mungkin mengenal Barbie hanya sebagai boneka berambut pirang dengan baju serba pink dan rumah impian yang estetik. Tapi kalau Puan lihat lebih dalam, terutama lewat pesan yang disampaikan dalam film Barbie, ada banyak banget pelajaran hidup dan self-improvement yang relatable buat kehidupan Puan sekarang. Barbie bukan lagi sekadar simbol kecantikan ideal yang bikin orang insecure . Justru, dunia Barbie bisa mengajarkan Puan tentang penerimaan diri, keberanian mendefinisikan sukses versi sendiri, dan pentingnya merangkul segala ketidaksempurnaan sebagai manusia. Baca juga: Cara Baru Jadi Soft & Powerful: Mengulik Tren Hyper Femininity! Yuk, Priska bedah pelajaran apa saja yang bisa Puan ambil dari karakter Barbie! " You Can Be Anything " Itu Nyata, Tapi Nggak Harus Sempurna Slogan klasik Barbie, " You Can Be Anything ", mengajarkan bahwa perempuan berhak bercita-cita setinggi mu...

The Art of Saying “No”: Cara Menolak Tanpa Perlu Merasa Bersalah

 


Ilustrasi Perempuan Mengatakan Tidak (huffpost.com)

Pernah nggak sih, Puan merasa jadwal harian tuh penuh bukan karena kegiatan sendiri, melainkan karena banyaknya nongkrong? Mau menolak ajakan nongkrong padahal lagi capek, tapi nggak enak. Mau nolak tambahan kerjaan padahal tugas sendiri masih numpuk, tapi takut dibilang nggak loyal.

Kalau iya, Puan mungkin sedang terjebak dalam sindrom people pleaser. Priska kasih tau ya, jadi orang "nggak enakan" itu capeknya luar biasa. Kabar baiknya, Puan bisa kok belajar berkata tidak tanpa harus merasa jadi orang jahat.

Yuk, kita bahas cara membangun boundaries atau batasan diri!

Kenapa Kita Susah Banget Bilang "Nggak"?

Akar masalahnya biasanya satu nih, takut nggak disukai atau takut mengecewakan orang lain. Mungkin bagi Puan, mengatakan “iya” identik dengan menjadi orang baik, sedangkan “tidak” sering ngerasa kayak sikap egois. Padahal, kenyataannya nggak sesederhana itu. Saat Puan selalu bilang "iya" ke orang lain, sebenarnya Puan lagi bilang "tidak" ke diri sendiri, ke waktu istirahat, ke kesehatan mental, dan ke prioritas.

Tips Membangun "Boundaries" Dari Priska!

Nggak perlu langsung jadi orang yang ketus. Puan bisa mulai latihan dengan cara-cara ini:

  1. Jangan Jawab Saat Hati Ragu

Bilang aja: "Aku cek jadwal dulu ya, nanti aku kabarin lagi." Ini kasih Puan ruang untuk menyusun rencana tanpa tekanan dari orang tersebut. Kadang kita takut dibilang nggak asik atau nggak suportif. Padahal, ngasih “iya” yang terpaksa seringkali berujung pada hasil yang nggak maksimal atau malah bikin burnout.

  1. Berhenti Memberi Alasan Kepanjangan 

Salah satu kesalahan terbesar people pleaser adalah kalau nolak, alasannya panjang banget sampai ke akar-akarnya. Semakin panjang alasan Puan, semakin besar celah orang lain buat merayu atau mendebat alasan itu. Cukup bilang: "Maaf ya, kali ini aku nggak bisa karena ada urusan lain.”

  1.  Tawarkan Alternatif 

Kalau Puan memang merasa nggak enak banget, Puan bisa kasih opsi lain. Misalnya: "Aku nggak bisa kalau bantu bikin drafnya sekarang, tapi kalau kamu mau, aku bisa bantu review hasilnya besok sore." Ini menunjukkan Puan tetap peduli, dan tetap punya batas.

  1. Harus Tegas Dengan Pilihan

Puan nggak wajib ngejelasin alasan di balik setiap keputusan untuk beristirahat atau memprioritaskan diri sendiri. Mengatakan tidak adalah bentuk menjaga batas dan energi yang Puan miliki.

"Tapi, Aku Ngerasa Bersalah..."

Rasa bersalah yang muncul diawal itu wajar, apalagi kalau Puan sudah terbiasa mengatakan “ya” kepada ajakan apapun selama bertahun-tahun. Tapi inget deh, orang yang marah saat Puan membuat batasan adalah orang yang paling diuntungkan kalau Puan nggak punya batasan.

Teman atau rekan kerja yang beneran tulus pasti bakal menghargai waktu dan energi Puan. Mereka nggak bakal menjauh cuma karena Puan nolak satu-dua ajakan.

Dengan punya batasan yang jelas, Puan bukan jadi orang jahat, tapi Puan jadi orang yang lebih sehat dan punya prinsip yang kuat. Hidup Puan itu milik Puan, bukan milik orang-orang yang nggak enakan sama Puan.



Referensi

Komentar

Rubik Puan Popular

Takut Gagal? Justru Itu Jalan Awal Tumbuh, Puan!

Photo by Eva Bronzini Pernah nggak sih, Puan ngerasa jantung berdebar tiap mau ambil keputusan besar? Misalnya, daftar beasiswa ke luar negeri, apply kerjaan impian, atau berani presentasi di depan banyak orang. Sering kali pikiran seperti, “Kalau gagal gimana ya? Malu banget, semua orang pasti ngelihat aku nggak mampu,” muncul lebih dulu daripada semangat mencoba. Kalau iya, Puan nggak sendirian. Banyak perempuan muda juga ngalamin hal yang sama. Itu namanya fear of failure alias rasa takut gagal. Puan, tahu nggak? Rasa takut gagal itu sebenarnya sinyal. Artinya, Puan lagi menghadapi sesuatu yang penting dan bermakna. Kalau sesuatu nggak penting, kita biasanya santai aja, kan? Justru karena itu penting, makanya muncul rasa takut. Dan kabar baiknya: rasa takut itu bukan musuh. Ia bisa jadi titik awal pertumbuhan kalau kita berani melangkah melewatinya. Growth Mindset: Cara Melihat Gagal Sebagai Jalan Belajar Psikolog Carol Dweck ngenalin konsep growth mindset , yaitu pola pikir bah...

Spotlight Effect: Fenomena Psikologis Ketika Seseorang Merasa Diperhatikan Oleh Banyak Mata

Image by  Newristics Puan pernah nggak sih berada di suatu tempat keramaian, misalnya foodcourt dan hendak memesan makanan, tetapi secara tidak sengaja Puan menyenggol gelas di sekitar Puan dan gelas tersebut pecah, lalu ketika sibuk membersihkan gelas tersebut, Puan merasa bahwa sorotan orang-orang di sekitar memperhatikan Puan secara seksama dan seketika Puan mendadak kaku akibat perasaan tersebut. Pernah mengalami hal tersebut? Jika pernah, hal tersebut dinamakan spotlight effect atau efek sorotan. Spotlight effect merupakan suatu fenomena, di mana Puan berpikir bahwa semua orang memperhatikan Puan. Fenomena ini telah dikenal dalam ilmu psikologi sejak tahun 2000, persisnya ketika Thomas Gilovich, Victoria Husted Medvec, dan Kenneth Savitsky meluncurkan studi dengan judul, " The Spotlight Effect in Social Judgment: An Egocentric Bias in Estimates of The Salience of One's Own Actions and Appearanc e". Seorang dosen psikologi di University of California , Berkeley, Ame...

Manifestasi Saja Nggak Cukup, Yuk Kenali Cara Kerja Law of Attraction!

Sumber: pexels.com Coba buka TikTok, Instagram, atau X terus perhatikan konten yang muncul di beranda Puan. Mungkin Puan akan menemukan berbagai video tarot, ramalan masa depan, atau kalimat seperti " claim this energy " dan " the universe has something planned for you ". Konten-konten seperti ini semakin akrab di media sosial dan sering dikaitkan dengan law of attraction (LOA) atau hukum tarik-menarik, yang kini lebih populer kini lebih populer dengan sebutan manifestasi. Apa Itu Law of Attraction ? Secara sederhana, law of attraction merupakan gagasan bahwa pikiran dan perasaan seseorang dapat menarik pengalaman yang serupa ke dalam kehidupannya. Jika Puan semakin sering memiliki pikiran positif, maka semakin terbuka pula jalan bagi berbagai hal positif untuk hadir di Puan. Sebaliknya, semakin sering Puan berpikir negatif atau berburuk sangka, maka Puan akan lebih sering menarik pengalaman yang kurang menyenangkan. Konsep ini bukan hal baru. Gagasannya telah lam...

Pura-pura Bahagia itu Bahaya, Kenali Dampaknya!

  Sumber: BeautyJournal.id Pernahkah Puan mendengar istilah " fake it until you make it "? Banyak orang melakukan ini dengan harapan meyakinkan diri dengan mengatakan kalimat afirmasi seperti kamu bahagia, beban yang kamu hadapi kecil, kamu bisa, dan kamu tidak akan sedih akan membuat diri kita merasa lebih baik. Namun, apakah benar? Konsep " fake it until you make it " sama dengan konsep pura-pura bahagia. Terlebih di zaman yang serba digital ini, sikap pura-pura bahagia semakin mudah untuk dilakukan. Contohnya seperti saat kita mengirimkan pesan seringkali kita menggunakan emoji senyum, padahal kita tidak benar-benar tersenyum dan bahagia, bisa jadi kita sedang dalam mood  yang buruk. Dampak dari Berpura-pura Bahagia Puan, berpura-pura bahagia tidak selamanya bisa dilakukan, dengan berpura-pura baik-baik saja tidak akan menjadikan kita benar-benar kuat, sebaliknya hal tersebut akan menghisap energi kita hingga lenyap jika diteruskan. Oleh karena itu, yuk simak dam...

Membangun Kepercayaan Diri: Menerima Diri Sendiri di Luar Society's Standards

“Society’s Standards”, pernahkah Puan mendengar istilah ini? Gampangnya, society’s standards adalah suatu standar yang dijadikan sebagai suatu acuan. Society’s standards biasanya memegang prinsip kesempurnaan. Oleh karena itu, sebagian besar dari Puan mungkin saja pernah merasakan tekanan dari society‘s standards. Tekanan yang kita rasakan akibat society‘s standards sudah sering kita rasakan bahkan sebelum kita mengenal kata “sempurna”. Banyak dari Puan mungkin pernah didorong untuk menjadi seseorang yang bukan sosok diri Puan hanya untuk bisa masuk dalam society. Society menginginkan Puan untuk menjadi sempurna. Seperti, harus menjadi pintar, lucu, cantik, berbakat, dan masih banyak lagi terkadang hanya untuk bisa diterima di suatu lingkungan. Percayalah Puan, lingkungan seperti sangat tidak sehat untuk ditinggali. Banyak orang diluar sana melakukan hal yang tidak mereka ingin lakukan agar bisa diterima dalam society. Mengubah opini, gaya rambut, fitur wajah, dan lain sebagain...