Pernah gak Puan merasa sangat gatal ingin merogoh tas dan mencari ponsel padahal cuma sedang mengantre kasir selama satu menit? Atau mungkin saat lampu merah, tangan otomatis mencari ponsel seolah-olah menunggu 30 detik tanpa melakukan apa-apa itu sangat menyiksa?
Di zaman
sekarang, rasanya aneh ya kalau kita tidak memegang ponsel meski hanya sebentar.
Namun, tahukah Puan? Ternyata
rasa bosan yang selama ini kita hindari habis-habisan itu adalah hal yang justru
kita butuhkan.
Apakah Lebih Baik Kesetrum daripada Bosan?
Ada eksperimen unik dari Harvard, Puan. Orang-orang diminta duduk diam di ruangan kosong selama 15 menit tanpa alat komunikasi. Pilihannya cuma dua, duduk diam dengan pikirannya sendiri, atau menekan tombol yang akan memberikan sengatan listrik kecil yang menyakitkan.
Hasilnya mengejutkan! Mayoritas
orang lebih memilih untuk menyengat diri sendiri dengan listrik daripada harus
berlama-lama dengan kebosanan mereka. Bayangkan, Puan, kita sebegitu takutnya
dengan kekosongan sampai-sampai rasa sakit fisik pun terasa lebih mendingan
daripada rasa bosan.
Ruang Kosong bagi Inspirasi untuk Tumbuh dan Berakar
Apakah Puan juga merasa kalau ide-ide bagus seperti topik untuk tugas kuliah atau solusi masalah di kantor, sering kali muncul saat Puan sedang mandi, memotong kuku, atau sekadar melamun di teras?
Arthur Brooks, seorang akademisi dan
penulis, menjelaskan bahwa saat kita bosan, otak kita mengaktifkan sesuatu yang
disebut Default Mode Network (DMN). Ini semacam mesin kreatifitas yang baru
akan menyala ketika kita tidak sedang melakukan apa-apa. Saat Puan tidak sibuk scrolling ponsel,
DMN akan menyala dan mulai mengeluarkan ide yang sebelumnya tidak terpikirkan.
Menggali Makna Hidup yang Sebenarnya
DMN seringkali membawa pertanyaan yang bikin kita tidak nyaman, seperti "Apa sih makna hidupku?" atau "Apakah aku sudah bahagia?". Inilah alasan utama kita buru-buru buka ponsel, karena kita takut menghadapi pertanyaan itu.
Padahal, jika Puan berani berhenti
sejenak dan menghadapi rasa bosan tersebut, Puan akan mulai menggali
pertanyaan-pertanyaan terbesar dalam hidup, tentang tujuan, makna, dan kebahagiaan
dalam diri. Dan siapa tahu? Puan mungkin saja malah jadi merasa lebih bahagia
karena akhirnya benar-benar mengenal diri sendiri.
Puan bisa memulainya dengan cara yang sederhana, seperti menerapkan "diet layar" ala Arthur Brooks. Coba deh, sesekali biarkan meja makan bebas ponsel agar Puan bisa benar-benar hadir untuk keluarga, atau tantang diri Puan untuk berolahraga tanpa iringan lagu. Rasakan saja setiap deru napas Puan. Atau yang paling mudah, cobalah duduk tenang di kursi favorit sambil menyesap secangkir minuman hangat, dan biarkan diri Puan tidak melakukan apa-apa.
Lihatlah ke mana pikiran akan
membawa Puan pergi. Mungkin di tengah keheningan itu, Puan akan menemukan
kembali bagian dari diri yang selama ini sempat hilang atau tertimbun riuhnya
notifikasi ponsel. Karena pada akhirnya, hidup sering kali terasa jauh lebih
bermakna justru saat kita berani berhenti sejenak.
Referensi:
Brooks, A. C. (2025, Agustus 28). You Need to Be Bored. Here’s Why. Harvard Business Review. https://hbr.org/2025/08/you-need-to-be-bored-heres-why
Bender, M. (2025, Agustus 28). Boredom Might Be the Best Thing for Your Brain. Oprah Daily. https://www.oprahdaily.com/life/wholeness/a64501069/boredom-brain-science
Author & Editor:
Dwi Khumaeroh Saadah

Komentar
Posting Komentar