Langsung ke konten utama

Intentional Pause: Berhenti Sejenak Bukan Berarti Menyerah

  Sumber: pexels.com Halo, Puan! Puan pernah gak sih merasa harus selalu produktif? Baru selesai satu target, Puan udah langsung memikirkan target berikutnya. Apalagi kalau Puan lihat pencapaian orang lain di media sosial, rasanya jadi pengen ikut lari lebih cepat biar gak ketinggalan. Bahkan ketika sedang beristirahat pun, bisa muncul perasaan bersalah karena merasa gak cukup produktif. Tanpa sadar, Puan telah hidup dalam ritme yang menuntut semuanya serba cepat, cepat sukses, cepat berkembang, cepat mengambil keputusan, dan cepat mencapai tujuan. Padahal, sometimes, the most productive thing you can do is simply pause. Di tengah kehidupan yang serba cepat ini, mengambil jeda secara sadar atau intentional pause bisa menjadi cara untuk refleksi dan kembali terhubung dengan diri sendiri. Bukan sekadar berhenti dari kesibukan, tapi memberi ruang untuk berpikir, merefleksikan keadaan, dan menentukan step atau goals berikutnya dengan lebih bijak. Intentional pause dapat membantu Puan...

Menemukan Ide dan Makna di Balik Rasa Bosan

 

 
 Photo by Kathy Jones

Pernah gak Puan merasa sangat gatal ingin merogoh tas dan mencari ponsel padahal cuma sedang mengantre kasir selama satu menit? Atau mungkin saat lampu merah, tangan otomatis mencari ponsel seolah-olah menunggu 30 detik tanpa melakukan apa-apa itu sangat menyiksa? 

Di zaman sekarang, rasanya aneh ya kalau kita tidak memegang ponsel meski hanya sebentar. Namun, tahukah Puan? Ternyata rasa bosan yang selama ini kita hindari habis-habisan itu adalah hal yang justru kita butuhkan.

 

Apakah Lebih Baik Kesetrum daripada Bosan?

Ada eksperimen unik dari Harvard, Puan. Orang-orang diminta duduk diam di ruangan kosong selama 15 menit tanpa alat komunikasi. Pilihannya cuma dua, duduk diam dengan pikirannya sendiri, atau menekan tombol yang akan memberikan sengatan listrik kecil yang menyakitkan.

Hasilnya mengejutkan! Mayoritas orang lebih memilih untuk menyengat diri sendiri dengan listrik daripada harus berlama-lama dengan kebosanan mereka. Bayangkan, Puan, kita sebegitu takutnya dengan kekosongan sampai-sampai rasa sakit fisik pun terasa lebih mendingan daripada rasa bosan.

 

Ruang Kosong bagi Inspirasi untuk Tumbuh dan Berakar

Apakah Puan juga merasa kalau ide-ide bagus seperti topik untuk tugas kuliah atau solusi masalah di kantor, sering kali muncul saat Puan sedang mandi, memotong kuku, atau sekadar melamun di teras?

Arthur Brooks, seorang akademisi dan penulis, menjelaskan bahwa saat kita bosan, otak kita mengaktifkan sesuatu yang disebut Default Mode Network (DMN). Ini semacam mesin kreatifitas yang baru akan menyala ketika kita tidak sedang melakukan apa-apa. Saat Puan tidak sibuk scrolling ponsel, DMN akan menyala dan mulai mengeluarkan ide yang sebelumnya tidak terpikirkan.


Menggali Makna Hidup yang Sebenarnya

DMN seringkali membawa pertanyaan yang bikin kita tidak nyaman, seperti "Apa sih makna hidupku?" atau "Apakah aku sudah bahagia?". Inilah alasan utama kita buru-buru buka ponsel, karena kita takut menghadapi pertanyaan itu.

Padahal, jika Puan berani berhenti sejenak dan menghadapi rasa bosan tersebut, Puan akan mulai menggali pertanyaan-pertanyaan terbesar dalam hidup, tentang tujuan, makna, dan kebahagiaan dalam diri. Dan siapa tahu? Puan mungkin saja malah jadi merasa lebih bahagia karena akhirnya benar-benar mengenal diri sendiri.


Puan bisa memulainya dengan cara yang sederhana, seperti menerapkan "diet layar" ala Arthur Brooks. Coba deh, sesekali biarkan meja makan bebas ponsel agar Puan bisa benar-benar hadir untuk keluarga, atau tantang diri Puan untuk berolahraga tanpa iringan lagu. Rasakan saja setiap deru napas Puan. Atau yang paling mudah, cobalah duduk tenang di kursi favorit sambil menyesap secangkir minuman hangat, dan biarkan diri Puan tidak melakukan apa-apa.

Lihatlah ke mana pikiran akan membawa Puan pergi. Mungkin di tengah keheningan itu, Puan akan menemukan kembali bagian dari diri yang selama ini sempat hilang atau tertimbun riuhnya notifikasi ponsel. Karena pada akhirnya, hidup sering kali terasa jauh lebih bermakna justru saat kita berani berhenti sejenak.


Referensi:

Brooks, A. C. (2025, Agustus 28). You Need to Be Bored. Here’s Why. Harvard Business Review.                    https://hbr.org/2025/08/you-need-to-be-bored-heres-why 

Bender, M. (2025, Agustus 28). Boredom Might Be the Best Thing for Your Brain. Oprah Daily.                        https://www.oprahdaily.com/life/wholeness/a64501069/boredom-brain-science


Author & Editor:

Dwi Khumaeroh Saadah

Komentar

Rubik Puan Popular

Raih Motivasi dan Kenikmatan Kerja: Mengatasi Rasa Jenuh dengan Tips-Tips Menarik!

Hey, Puan! Pernah nggak sih kamu merasa seperti waktu berjalan terlalu lambat saat melakukan pekerjaanmu? Yah, rasa bosan memang suatu hal yang bisa membuat kita bingung, apakah harus melanjutkannya atau berhenti saja. Tapi tahu nggak, terlalu memikirkannya justru bisa membuat pekerjaan kita nggak maksimal. Jangan khawatir, Puan! Rasanya jenuh saat bekerja itu wajar. Bayangkan aja, melakukan hal yang sama tiap harinya pasti bisa membuat rasa jenuh datang. Nah, biar Puan nggak bingung lagi menghadapi rasa jenuh yang kadang datang, simak deh tips-tips menarik berikut ini! Yuk, kita mulai dengan langkah awal untuk mengatasi rasa jenuh saat bekerja: 1. Ingat tujuan awalmu saat memulai pekerjaan ini Ketika Puan mengingat kembali tujuan awal yang mendorongmu memulai pekerjaan ini, ada kemungkinan besar semangat dan motivasi akan kembali menggelora. Hal ini pastinya akan mengurangi rasa jenuh saat Puan menjalankan tugas-tugasmu. 2. Berikan waktu untuk dirimu sendiri, coba ambil cuti liburan! ...

Mindfulness 101: Finding Your Focus in a World Full of Distractions

  sumber: magnific.com Puan pernah ngalamin nggak, lagi ngerjain tugas, terus ada satu notifikasi masuk, kemudian cek notifnya, balas satu chat, eh lanjut buka TikTok dan akhirnya lupa kalau tadi sebenarnya Puan lagi ngapain? Di tengah dunia yang full of distractions ini, perhatian kita rasanya gampang banget berpindah dari satu hal ke hal lainnya. Belum selesai satu informasi, sudah muncul informasi baru. Belum selesai proses berita satu, sudah ada berita lainnya. Tanpa sadar, kita bisa menghabiskan banyak waktu dengan gadget tanpa benar-benar sadar sedang melakukan apa. Di sinilah mindfulness bisa menjadi salah satu cara untuk membantu Puan lebih sadar terhadap bagaimana Puan menggunakan teknologi dan ke mana perhatian Puan pergi. Mindfulness Itu Apa, Sih? Mindfulness secara sederhana adalah kemampuan untuk menyadari dan benar-benar hadir terhadap apa yang sedang kita lakukan saat ini, tanpa langsung menghakimi pikiran atau perasaan yang muncul. Menurut Meegasdeniya dan Dulnath (...

Fenomena Doom Scrolling, Kebiasaan yang Bikin Burn Out

  " Scroll bentar deh.." Terus tanpa sadar mata mulai berat, tangan pegal, dan lupa waktu sendiri. Pernah ngalamin hal serupa? Kalau iya, berarti Puan lagi ngalamin yang namanya doom scrolling . Doom scrolling itu kalau Puan terus-terusan mengonsumsi informasi, terutama berita negatif yang ada pada sosial media. Menurut Cambdrige Dictionary , kata "Doomscr oll" mengacu kepada tindakan  terlalu sering menatap layar  untuk membaca berita buruk atau kurang  berbobot.  Nah, dari sini mungkin banyak Puan yang jadi ngerti apa itu doom scrolling , istilah yang belakangan sering muncul di internet. Kalau kita teliti, lagi  penyebabnya nggak bakalan lepas dari ketergantungan kita  pada handphone .  Hampir setiap hari kita menerima banyak pesan notifikasi. Terlepas  isinya penting atau tidak terlalu penting secara refleks pasti kita cek kalau dibiarkan menimbulkan rasa cemas atau anxiety,   seakan ada hal tertinggal jika kita tidak membuka lay...

Emotional Agility: Cara Bijak Mengelola Emosi

Sumber:  aventislearning.com Puan, bagaimana kalau emosi bukan musuh yang harus dihindari, melainkan sahabat yang bisa memandu kita untuk mengambil keputusan yang lebih bijak? Setiap hari Puan berhadapan dengan emosi yang beragam: senang, cemas, marah, kecewa, sampai rasa tidak berdaya. Sering kali, Puan diajarkan untuk menekan emosi tertentu dan menampilkan emosi lain agar terlihat “baik-baik saja”. Masalahnya, cara ini justru membuat jadi makin lelah. Emosi jadi menumpuk dan akhirnya meledak. Di sisi lain, ada juga yang membiarkan emosi menguasai dirinya. Sedikit kritik bisa membuat patah semangat, atau kegagalan kecil terasa seperti bencana yang besar. Padahal, emosi bukan musuh yang harus dihindari maupun hal yang harus ditaati. Yang kita butuhkan bukan “ positivity berlebihan ”, melainkan keterampilan untuk merespons emosi secara sehat dan fleksibel. Keterampilan inilah yang disebut emotional agility . Apa Itu Emotional Agility? Konsep ini diperkenalkan oleh psikolog Susan Dav...

Membuka Kembali Memori Melalui Pameran ACE 5.0: INNER CHILD

  Masa kecil sering kali menjadi sumber kepolosan, kekreatifan, dan keajaiban yang mungkin telah kita lupakan di tengah kesibukan dan tekanan kehidupan dewasa. Namun, di tengah gemuruh kota metropolitan, ada suatu perayaan yang mengundang kita untuk merenungkan kembali sisi kecil yang mungkin telah kita lupakan: ACE 5.0: INNER CHILD . Pameran seni tidak selalu hanya tentang memamerkan karya, tetapi juga tentang membuka pintu menuju introspeksi dan penemuan diri. Di tengah sorotan pameran kreatif yang diselenggarakan oleh Klub LSPR Advertising Society , ACE 5.0: INNER CHILD, pengunjung diajak untuk membenamkan diri dalam dunia kepolosan dan kekreatifan masa kecil. Setiap tahun, Klub LSPR Advertising Society menggelar Advertising Creative Exhibition (ACE) , sebuah pameran seni yang memamerkan karya-karya kreatif dari para anggotanya. Setelah suksesnya ACE sebelumnya yang mengangkat tema 'Gender Equality' dengan tajuk SETARA “Setingkat dan Sederajat”, kini ACE kembali hadir dalam ...