Langsung ke konten utama

Intentional Pause: Berhenti Sejenak Bukan Berarti Menyerah

  Sumber: pexels.com Halo, Puan! Puan pernah gak sih merasa harus selalu produktif? Baru selesai satu target, Puan udah langsung memikirkan target berikutnya. Apalagi kalau Puan lihat pencapaian orang lain di media sosial, rasanya jadi pengen ikut lari lebih cepat biar gak ketinggalan. Bahkan ketika sedang beristirahat pun, bisa muncul perasaan bersalah karena merasa gak cukup produktif. Tanpa sadar, Puan telah hidup dalam ritme yang menuntut semuanya serba cepat, cepat sukses, cepat berkembang, cepat mengambil keputusan, dan cepat mencapai tujuan. Padahal, sometimes, the most productive thing you can do is simply pause. Di tengah kehidupan yang serba cepat ini, mengambil jeda secara sadar atau intentional pause bisa menjadi cara untuk refleksi dan kembali terhubung dengan diri sendiri. Bukan sekadar berhenti dari kesibukan, tapi memberi ruang untuk berpikir, merefleksikan keadaan, dan menentukan step atau goals berikutnya dengan lebih bijak. Intentional pause dapat membantu Puan...

Ben Franklin Effect: Tips Buat Kamu yang Segan Minta Bantuan

 

Puan Bisa-Tips untuk Kamu yang Segan Minta Bantuan


Puan, pernah nggak sih merasa sungkan untuk meminta atau bahkan menerima pertolongan dari orang lain? Mungkin ada segelintir alasan dibaliknya seperti, anggapan Puan bahwa setiap orang punya kesibukan masing-masing, mungkin juga karena sudah terbiasa untuk melakukan segala sesuatu sendiri, atau malu untuk menerima maupun meminta pertolongan.


Namun Puan, menurut Gregg Levoy melalui tulisannya di laman  Psychology Today, ketika seseorang menolak bantuan dari orang lain itu adalah sebuah bentuk dari kesombongan. Mengapa demikian? Karena seseorang itu enggan menerima maupun meminta pertolongan ketika dirinya sedang kesusahan. Padahal, dengan meminta bantuan seseorang bisa dengan lebih mudah menyelesaikan masalahnya. Dalam kata lain, menolak pertolongan dapat terlihat arogan karena Puan bisa saja dianggap terlalu menutup diri.


Tipsnya adalah untuk memberanikan diri. Ketika kita dapat membuka diri, kita dapat secara leluasa meminta pertolongan. Bahkan ada satu teori yang membuktikan jika meminta pertolongan itu justru berimbas baik kepada hubungan kita dengan orang lain lho! Ben Franklin, bapak pendiri Amerika Serikat yang membuktikannya sendiri. Pada satu hari ia menjadikan oposisinya sebagai teman dengan meminjam buku dari oposisinya dan mengembalikannya dengan ucapan terima kasih dalam selembar kertas kecil. 


Dengan ini muncullah teori Ben Franklin-Effect yang diuji para psikolog pada tahun 1969, yaitu alasan mengapa meminta pertolongan kepada orang lain dapat memperbaiki hubungan kita dengan orang tersebut. Alasan dibaliknya adalah karena jarang terpikir oleh kebanyakan orang untuk membantu orang lain yang belum mereka kenal. Terlebih ketika hubungan kita tidak terlalu baik dengan orang tersebut. Alasan lainnya adalah ketika kita meminta pertolongan atau menanyakan pendapat kepada orang lain, kebanyakan orang mengasumsikannya sebagai bentuk dari keakraban, atau pertemanan.


Jadi sekarang apa yang perlu Puan lakukan sebagai langkah awal untuk memulai meminta tolong kepada orang lain tanpa harus merasa terbebani atau malu? Sini Priska beri tips & trik khusus untuk Puan!


Berikut beberapa langkah yang bisa Puan ikuti untuk  meminta tolong tanpa harus terbebani: 


  • Langkah pertama adalah menyadari bahwa Puan pasti perlu pertolongan, secara sadar maupun tidak sadar. Kesadaran ini akan membawa Puan ke kesadaran lain yaitu untuk meminta pertolongan, dan Puan harus berani untuk bertanya tanpa memedulikan apa yang orang lain pikirkan. 


  • Langkah kedua adalah ketika meminta bantuan dari orang lain pastikan bahwa Puan langsung menyampaikan kepada poin utama dari masalah yang Puan alami.


  • Langkah ketiga adalah menunjukan respon baik atas bantuan yang diberikan dari orang lain kepada diri Puan. 


  • Langkah keempat adalah merespon orang yang meminta pertolongan kepada Puan. Robert Cialdini yang merupakan profesor psikologi dari Arizona University mengatakan bahwa, seseorang bisa memberikan umpan balik terhadap pertolongan yang dilakukan orang lain dengan mengucapkan “Tenang aja, kamu kan temanku, pasti aku bantu kamu,” daripada sekadar, “Sama-sama.”


  • Terakhir, Puan bisa terus berlatih dengan menjadikan hal ini sebagai habit atau kebiasaan dalam keseharian. Karena kita akan terbiasa untuk melakukan hal yang awalnya asing dengan membiasakan diri. 


Setelah Puan berhasil untuk menaklukan ketakutan ini, ada banyak koneksi yang dapat terjalin, bahkan Puan bisa saja mendapat feedback berupa support dari orang lain. Jadi mulai dari sekarang jangan menganggap bahwa meminta pertolongan itu sebagai bentuk beban ya, Puan! 


Lebih Banyak Tentang Puan Bisa


Puan Bisa adalah komunitas perempuan muda yang mendukung pengembangan karir, self improvement, dan mental health. Sejak pertama kali didirikan tanggal 1 Oktober 2020 sampai saat ini, Puan Bisa akti melakukan kegiatan kreatif dan edukatif yang dilakukan dengan tujuan menigkatkan kesadaran perempuan muda (khususnya usia 16-23 tahun) dalam pengembanga kemampuan dan rasa cinta akan dirinya.


Referensi:

Levoy, G., & Signs, V. (1 Agustus, 2023). Why It's So Hard to Ask for Help. Psychology Today. Diakses pada 13 November, 2025, dari 

https://www.psychologytoday.com/us/blog/passion/202308/why-its-so-hard-to-ask-for-help

Lebowitz, S., & lebowitz, s. (3 Juli, 2020). Ben Franklin Effect: Ask Someone for a Favor to Make Them Like You. Business Insider. Diakses pada  13 November, 2025, dari https://www.businessinsider.com/ben-franklin-effect-2016-12


Ditulis dan Diedit oleh: Dhia Nisrina

Komentar

Rubik Puan Popular

Raih Motivasi dan Kenikmatan Kerja: Mengatasi Rasa Jenuh dengan Tips-Tips Menarik!

Hey, Puan! Pernah nggak sih kamu merasa seperti waktu berjalan terlalu lambat saat melakukan pekerjaanmu? Yah, rasa bosan memang suatu hal yang bisa membuat kita bingung, apakah harus melanjutkannya atau berhenti saja. Tapi tahu nggak, terlalu memikirkannya justru bisa membuat pekerjaan kita nggak maksimal. Jangan khawatir, Puan! Rasanya jenuh saat bekerja itu wajar. Bayangkan aja, melakukan hal yang sama tiap harinya pasti bisa membuat rasa jenuh datang. Nah, biar Puan nggak bingung lagi menghadapi rasa jenuh yang kadang datang, simak deh tips-tips menarik berikut ini! Yuk, kita mulai dengan langkah awal untuk mengatasi rasa jenuh saat bekerja: 1. Ingat tujuan awalmu saat memulai pekerjaan ini Ketika Puan mengingat kembali tujuan awal yang mendorongmu memulai pekerjaan ini, ada kemungkinan besar semangat dan motivasi akan kembali menggelora. Hal ini pastinya akan mengurangi rasa jenuh saat Puan menjalankan tugas-tugasmu. 2. Berikan waktu untuk dirimu sendiri, coba ambil cuti liburan! ...

Mindfulness 101: Finding Your Focus in a World Full of Distractions

  sumber: magnific.com Puan pernah ngalamin nggak, lagi ngerjain tugas, terus ada satu notifikasi masuk, kemudian cek notifnya, balas satu chat, eh lanjut buka TikTok dan akhirnya lupa kalau tadi sebenarnya Puan lagi ngapain? Di tengah dunia yang full of distractions ini, perhatian kita rasanya gampang banget berpindah dari satu hal ke hal lainnya. Belum selesai satu informasi, sudah muncul informasi baru. Belum selesai proses berita satu, sudah ada berita lainnya. Tanpa sadar, kita bisa menghabiskan banyak waktu dengan gadget tanpa benar-benar sadar sedang melakukan apa. Di sinilah mindfulness bisa menjadi salah satu cara untuk membantu Puan lebih sadar terhadap bagaimana Puan menggunakan teknologi dan ke mana perhatian Puan pergi. Mindfulness Itu Apa, Sih? Mindfulness secara sederhana adalah kemampuan untuk menyadari dan benar-benar hadir terhadap apa yang sedang kita lakukan saat ini, tanpa langsung menghakimi pikiran atau perasaan yang muncul. Menurut Meegasdeniya dan Dulnath (...

Fenomena Doom Scrolling, Kebiasaan yang Bikin Burn Out

  " Scroll bentar deh.." Terus tanpa sadar mata mulai berat, tangan pegal, dan lupa waktu sendiri. Pernah ngalamin hal serupa? Kalau iya, berarti Puan lagi ngalamin yang namanya doom scrolling . Doom scrolling itu kalau Puan terus-terusan mengonsumsi informasi, terutama berita negatif yang ada pada sosial media. Menurut Cambdrige Dictionary , kata "Doomscr oll" mengacu kepada tindakan  terlalu sering menatap layar  untuk membaca berita buruk atau kurang  berbobot.  Nah, dari sini mungkin banyak Puan yang jadi ngerti apa itu doom scrolling , istilah yang belakangan sering muncul di internet. Kalau kita teliti, lagi  penyebabnya nggak bakalan lepas dari ketergantungan kita  pada handphone .  Hampir setiap hari kita menerima banyak pesan notifikasi. Terlepas  isinya penting atau tidak terlalu penting secara refleks pasti kita cek kalau dibiarkan menimbulkan rasa cemas atau anxiety,   seakan ada hal tertinggal jika kita tidak membuka lay...

Emotional Agility: Cara Bijak Mengelola Emosi

Sumber:  aventislearning.com Puan, bagaimana kalau emosi bukan musuh yang harus dihindari, melainkan sahabat yang bisa memandu kita untuk mengambil keputusan yang lebih bijak? Setiap hari Puan berhadapan dengan emosi yang beragam: senang, cemas, marah, kecewa, sampai rasa tidak berdaya. Sering kali, Puan diajarkan untuk menekan emosi tertentu dan menampilkan emosi lain agar terlihat “baik-baik saja”. Masalahnya, cara ini justru membuat jadi makin lelah. Emosi jadi menumpuk dan akhirnya meledak. Di sisi lain, ada juga yang membiarkan emosi menguasai dirinya. Sedikit kritik bisa membuat patah semangat, atau kegagalan kecil terasa seperti bencana yang besar. Padahal, emosi bukan musuh yang harus dihindari maupun hal yang harus ditaati. Yang kita butuhkan bukan “ positivity berlebihan ”, melainkan keterampilan untuk merespons emosi secara sehat dan fleksibel. Keterampilan inilah yang disebut emotional agility . Apa Itu Emotional Agility? Konsep ini diperkenalkan oleh psikolog Susan Dav...

Membuka Kembali Memori Melalui Pameran ACE 5.0: INNER CHILD

  Masa kecil sering kali menjadi sumber kepolosan, kekreatifan, dan keajaiban yang mungkin telah kita lupakan di tengah kesibukan dan tekanan kehidupan dewasa. Namun, di tengah gemuruh kota metropolitan, ada suatu perayaan yang mengundang kita untuk merenungkan kembali sisi kecil yang mungkin telah kita lupakan: ACE 5.0: INNER CHILD . Pameran seni tidak selalu hanya tentang memamerkan karya, tetapi juga tentang membuka pintu menuju introspeksi dan penemuan diri. Di tengah sorotan pameran kreatif yang diselenggarakan oleh Klub LSPR Advertising Society , ACE 5.0: INNER CHILD, pengunjung diajak untuk membenamkan diri dalam dunia kepolosan dan kekreatifan masa kecil. Setiap tahun, Klub LSPR Advertising Society menggelar Advertising Creative Exhibition (ACE) , sebuah pameran seni yang memamerkan karya-karya kreatif dari para anggotanya. Setelah suksesnya ACE sebelumnya yang mengangkat tema 'Gender Equality' dengan tajuk SETARA “Setingkat dan Sederajat”, kini ACE kembali hadir dalam ...