Langsung ke konten utama

How to Find Your Spark Again, One Little Thing at a Time

Pernah nggak, Puan merasa dulu ada banyak hal yang bisa bikin Puan excited , tapi sekarang hal-hal itu terasa nothing special? Dulu bisa berjam-jam ngelakuin hal yang disuka, sekarang baru beberapa menit sudah ingin berhenti. Dulu punya banyak hal yang ingin dicoba, sekarang ditanya “lagi suka kegiatan apa?” malah bingung mau jawab apa. Puan masih menjalani aktivitas seperti biasa, kuliah, kerja, mengerjakan tugas, ketemu temen, scrolling media sosial. Everything seems fine. Tapi somehow, ada bagian dari diri Puan yang terasa berbeda. Seolah-olah spark yang dulu membuat hari-hari terasa lebih hidup perlahan menghilang.  Dan mungkin, Puan mulai bertanya-tanya, “What happened to me?”  1. Stop Trying to Become Your Old Self Ketika merasa kehilangan spark , kita sering kali ingin kembali menjadi diri kita yang dulu. Padahal, Puan udah melewati banyak hal sejak saat itu. Wajar kalau ada bagian dari diri Puan yang berubah. Karena itu, menemukan kembali spark bukan berarti harus meng...

Ben Franklin Effect: Tips Buat Kamu yang Segan Minta Bantuan

 

Puan Bisa-Tips untuk Kamu yang Segan Minta Bantuan


Puan, pernah nggak sih merasa sungkan untuk meminta atau bahkan menerima pertolongan dari orang lain? Mungkin ada segelintir alasan dibaliknya seperti, anggapan Puan bahwa setiap orang punya kesibukan masing-masing, mungkin juga karena sudah terbiasa untuk melakukan segala sesuatu sendiri, atau malu untuk menerima maupun meminta pertolongan.


Namun Puan, menurut Gregg Levoy melalui tulisannya di laman  Psychology Today, ketika seseorang menolak bantuan dari orang lain itu adalah sebuah bentuk dari kesombongan. Mengapa demikian? Karena seseorang itu enggan menerima maupun meminta pertolongan ketika dirinya sedang kesusahan. Padahal, dengan meminta bantuan seseorang bisa dengan lebih mudah menyelesaikan masalahnya. Dalam kata lain, menolak pertolongan dapat terlihat arogan karena Puan bisa saja dianggap terlalu menutup diri.


Tipsnya adalah untuk memberanikan diri. Ketika kita dapat membuka diri, kita dapat secara leluasa meminta pertolongan. Bahkan ada satu teori yang membuktikan jika meminta pertolongan itu justru berimbas baik kepada hubungan kita dengan orang lain lho! Ben Franklin, bapak pendiri Amerika Serikat yang membuktikannya sendiri. Pada satu hari ia menjadikan oposisinya sebagai teman dengan meminjam buku dari oposisinya dan mengembalikannya dengan ucapan terima kasih dalam selembar kertas kecil. 


Dengan ini muncullah teori Ben Franklin-Effect yang diuji para psikolog pada tahun 1969, yaitu alasan mengapa meminta pertolongan kepada orang lain dapat memperbaiki hubungan kita dengan orang tersebut. Alasan dibaliknya adalah karena jarang terpikir oleh kebanyakan orang untuk membantu orang lain yang belum mereka kenal. Terlebih ketika hubungan kita tidak terlalu baik dengan orang tersebut. Alasan lainnya adalah ketika kita meminta pertolongan atau menanyakan pendapat kepada orang lain, kebanyakan orang mengasumsikannya sebagai bentuk dari keakraban, atau pertemanan.


Jadi sekarang apa yang perlu Puan lakukan sebagai langkah awal untuk memulai meminta tolong kepada orang lain tanpa harus merasa terbebani atau malu? Sini Priska beri tips & trik khusus untuk Puan!


Berikut beberapa langkah yang bisa Puan ikuti untuk  meminta tolong tanpa harus terbebani: 


  • Langkah pertama adalah menyadari bahwa Puan pasti perlu pertolongan, secara sadar maupun tidak sadar. Kesadaran ini akan membawa Puan ke kesadaran lain yaitu untuk meminta pertolongan, dan Puan harus berani untuk bertanya tanpa memedulikan apa yang orang lain pikirkan. 


  • Langkah kedua adalah ketika meminta bantuan dari orang lain pastikan bahwa Puan langsung menyampaikan kepada poin utama dari masalah yang Puan alami.


  • Langkah ketiga adalah menunjukan respon baik atas bantuan yang diberikan dari orang lain kepada diri Puan. 


  • Langkah keempat adalah merespon orang yang meminta pertolongan kepada Puan. Robert Cialdini yang merupakan profesor psikologi dari Arizona University mengatakan bahwa, seseorang bisa memberikan umpan balik terhadap pertolongan yang dilakukan orang lain dengan mengucapkan “Tenang aja, kamu kan temanku, pasti aku bantu kamu,” daripada sekadar, “Sama-sama.”


  • Terakhir, Puan bisa terus berlatih dengan menjadikan hal ini sebagai habit atau kebiasaan dalam keseharian. Karena kita akan terbiasa untuk melakukan hal yang awalnya asing dengan membiasakan diri. 


Setelah Puan berhasil untuk menaklukan ketakutan ini, ada banyak koneksi yang dapat terjalin, bahkan Puan bisa saja mendapat feedback berupa support dari orang lain. Jadi mulai dari sekarang jangan menganggap bahwa meminta pertolongan itu sebagai bentuk beban ya, Puan! 


Lebih Banyak Tentang Puan Bisa


Puan Bisa adalah komunitas perempuan muda yang mendukung pengembangan karir, self improvement, dan mental health. Sejak pertama kali didirikan tanggal 1 Oktober 2020 sampai saat ini, Puan Bisa akti melakukan kegiatan kreatif dan edukatif yang dilakukan dengan tujuan menigkatkan kesadaran perempuan muda (khususnya usia 16-23 tahun) dalam pengembanga kemampuan dan rasa cinta akan dirinya.


Referensi:

Levoy, G., & Signs, V. (1 Agustus, 2023). Why It's So Hard to Ask for Help. Psychology Today. Diakses pada 13 November, 2025, dari 

https://www.psychologytoday.com/us/blog/passion/202308/why-its-so-hard-to-ask-for-help

Lebowitz, S., & lebowitz, s. (3 Juli, 2020). Ben Franklin Effect: Ask Someone for a Favor to Make Them Like You. Business Insider. Diakses pada  13 November, 2025, dari https://www.businessinsider.com/ben-franklin-effect-2016-12


Ditulis dan Diedit oleh: Dhia Nisrina

Komentar

Rubik Puan Popular

3 Buku Fiksi Bertema Mental Health untuk Puan Baca

Source: Bookshop.org Hai Puan!  Puan suka baca buku? Atau suka dengan isu-isu terkait mental health? Pengetahuan seputar topik mental health bukan hanya bisa didapatkan dari buku ilmiah atau nonfiksi, tetapi juga dari buku fiksi. Selain bisa menghibur Puan, buku fiksi juga bisa bikin Puan larut dan merasakan emosi serta perasaan dari tokoh-tokohnya.  Nah, buat Puan yang lagi cari rekomendasi buku fiksi tentang mental health, baca terus artikel ini sampai habis ya! 1. Challenger Deep karya Neal Shusterman Cerita dalam buku ini berdasarkan kisah dari putranya sendiri yang mengalami gangguan mental. Challenger Deep bercerita tentang Caden Bosch, yaitu seorang siswa SMA yang mengidap skizofrenia. Masalah tersebut membuatnya sering mengalami halusinasi. Alur cerita terbagi ke dalam dua dunia: kehidupan sekolah Caen sehari-hari dan sebuah pelayaran di atas kapal laut menuju Challenger Deep (titik terdalam di Palung Mariana). Perjalanan di atas kapal merupakan gambaran dari halusinas...

Rasa Bosan Bisa Dijadikan Teman? Ini Manfaat Boredom yang Jarang Disadari

Sumber:  Magnific   Puan pernah nggak langsung membuka TikTok, Instagram, atau X hanya karena timbul rasa bosan akibat menunggu sesuatu? Kebiasaan seperti ini sangat umum terjadi karena otak Puan terbiasa mencari stimulasi setiap kali ada waktu kosong.  Mungkin, Puan sering kali menganggap rasa bosan sebagai sesuatu yang buruk, sehingga banyak dari Puan yang yang berlomba-lomba untuk menghilangkan perasaan tersebut dengan menjadi produktif Alih-alih mencerminkan bahwa diri Puan tidak produktif, rasa bosan dapat memberi kesempatan bagi otak untuk beristirahat dari banyaknya informasi yang silih berdatangan, memunculkan ide baru, hingga membantu Puan mengenali apa yang benar-benar bermakna.  Oleh karena itu, sesekali merasa bosan bukanlah hal yang buruk, selama terjadi dalam kadar yang wajar. Jika Puan merasa demikian, lalu Puan  tahu nggak sih apa itu boredom dan fakta lain dari boredom yang mungkin belum Puan ketahui. Apa Itu Boredom? Dalam psikologi, boredom a...

Hasty Generalization: Kesalahan Berpikir yang Sering Kita Lakukan

Image by: Grammarly.com Pernahkah Puan langsung bilang "Semua produk merek ini jelek," cuma gara-gara beli satu barang yang rusak? Atau mungkin Puan pernah denger temen cerita, "Nggak usah ke resto itu deh, pelayanannya buruk banget!" Padahal dia cuma sekali ke sana? Nah, ini dia yang namanya hasty generalization atau kesimpulan terburu-buru. Apa Sih Hasty Generalization Itu? Menurut Detik.com , Hasty Generalization adalah kekeliruan yang terjadi ketika seseorang menarik kesimpulan yang luas berdasarkan bukti yang tidak mampu atau tidak cukup. Dengan kata lain, kesimpulan tentang suatu hal terlalu terburu-buru diambil dan hanya didukung beberapa atau tidak cukup bukti yang jelas. Jadi, Hasty generalization adalah kesalahan logika yang terjadi ketika Puan mengambil kesimpulan umum dari sampel yang terlalu kecil atau tidak cukup mewakili. Bayangin gini, Puan cuma ketemu dua kucing yang galak, terus langsung bilang, "semua kucing itu galak!" Padahal di lu...

How to Find Your Spark Again, One Little Thing at a Time

Pernah nggak, Puan merasa dulu ada banyak hal yang bisa bikin Puan excited , tapi sekarang hal-hal itu terasa nothing special? Dulu bisa berjam-jam ngelakuin hal yang disuka, sekarang baru beberapa menit sudah ingin berhenti. Dulu punya banyak hal yang ingin dicoba, sekarang ditanya “lagi suka kegiatan apa?” malah bingung mau jawab apa. Puan masih menjalani aktivitas seperti biasa, kuliah, kerja, mengerjakan tugas, ketemu temen, scrolling media sosial. Everything seems fine. Tapi somehow, ada bagian dari diri Puan yang terasa berbeda. Seolah-olah spark yang dulu membuat hari-hari terasa lebih hidup perlahan menghilang.  Dan mungkin, Puan mulai bertanya-tanya, “What happened to me?”  1. Stop Trying to Become Your Old Self Ketika merasa kehilangan spark , kita sering kali ingin kembali menjadi diri kita yang dulu. Padahal, Puan udah melewati banyak hal sejak saat itu. Wajar kalau ada bagian dari diri Puan yang berubah. Karena itu, menemukan kembali spark bukan berarti harus meng...

How to Stay Productive While Grieving

  Source: https://pin.it/5b4AbRDlY   Pernah nggak, Puan merasa harus tetap menjalani aktivitas seperti biasa, sementara hati dan pikiran masih memproses duka? Ketika sedang berduka, hal-hal sederhana seperti bangun dari tempat tidur, membalas chat atau sekadar fokus selama beberapa menit saja bisa terasa jauh lebih berat dari biasanya. Bukan karena Puan malas atau nggak mampu, tetapi karena grief dapat menguras energi kita. Namun, di sisi lain, hidup harus tetap berjalan. Ada tugas yang harus dikumpulkan, pekerjaan yang perlu diselesaikan, atau tanggung jawab yang nggak bisa begitu saja ditinggalkan. Lalu, bagaimana caranya tetap produktif tanpa memaksa diri untuk "baik-baik saja"? 1. Redefine What "Productive" Means Hal pertama yang perlu Puan perhatikan adalah definisi produktif itu sendiri. Produktif saat sedang berduka nggak melulu berarti menyelesaikan semua pekerjaan dalam satu hari. Karena ketika sedang berduka, kapasitas seseorang memang bisa berubah dari se...