Langsung ke konten utama

Intentional Pause: Berhenti Sejenak Bukan Berarti Menyerah

  Sumber: pexels.com Halo, Puan! Puan pernah gak sih merasa harus selalu produktif? Baru selesai satu target, Puan udah langsung memikirkan target berikutnya. Apalagi kalau Puan lihat pencapaian orang lain di media sosial, rasanya jadi pengen ikut lari lebih cepat biar gak ketinggalan. Bahkan ketika sedang beristirahat pun, bisa muncul perasaan bersalah karena merasa gak cukup produktif. Tanpa sadar, Puan telah hidup dalam ritme yang menuntut semuanya serba cepat, cepat sukses, cepat berkembang, cepat mengambil keputusan, dan cepat mencapai tujuan. Padahal, sometimes, the most productive thing you can do is simply pause. Di tengah kehidupan yang serba cepat ini, mengambil jeda secara sadar atau intentional pause bisa menjadi cara untuk refleksi dan kembali terhubung dengan diri sendiri. Bukan sekadar berhenti dari kesibukan, tapi memberi ruang untuk berpikir, merefleksikan keadaan, dan menentukan step atau goals berikutnya dengan lebih bijak. Intentional pause dapat membantu Puan...

Passive Aggressive: Cara Toxic untuk Mengekspresikan Kemarahan



Image by: Applauz.me

Puan pernah nggak sih ketemu sama orang yang kalau lagi kesel, bukannya ngomong langsung malah ngeledek halus, ngasih silent treatment, atau bilang "gapapa kok" padahal jelas-jelas ada apa-apa? Atau Puan sendiri juga kadang begitu? Nah, perilaku kayak gini namanya passive-aggressive. Meskipun kelihatan sepele, passive-aggressive bisa bikin hubungan jadi toxic dan penuh salah paham kalau nggak ditangani dengan baik.


Apa Itu Passive-aggressive?

Passive-aggressive adalah perilaku yang terlihat biasa aja, bahkan seperti nggak disengaja atau netral, tapi sebenarnya menunjukkan sikap agresif secara tidak langsung. Menurut Verywell Mind, orang yang passive-aggressive cenderung menampilkan sifat agresif mereka secara tidak langsung daripada terang-terangan. Misalnya, mereka bisa nunjukin ketidaksetujuan dengan cara menunda-nunda pekerjaan, dingin, atau dengan sengaja jadi keras kepala. Jadi, ketika mereka punya masalah atau perasaan negatif, mereka nggak mau ngomong secara langsung dan lebih memilih cara-cara halus yang bikin orang lain bingung dan frustasi.


Contoh Perilaku Passive-Aggressive

Passive-aggressive bisa muncul dalam berbagai bentuk, dan kadang kita nggak sadar kalau kita lagi ngalamin atau bahkan ngelakuin hal ini.

Bayangin situasi ini: Puan tanya temen, "Mau makan di mana?" dia jawab "Terserah deh,” tapi begitu Puan pilih tempat, dia malah bilang "Oh... disitu? Ya udah deh" dengan muka cemberut dan sepanjang jalan diem aja. Ini contoh klasik passive-aggressive. Temen Puan sebenernya punya preferensi dan nggak setuju sama pilihan Puan, tapi dia nggak mau ngomong langsung. Alih-alih bilang "Aku maunya ke tempat lain nih,” dia malah bilang "terserah,” lalu nunjukin ketidakpuasannya lewat sikap dan body language. Ini yang bikin Puan jadi bingung, Puan disuruh milih sendiri tapi ujung-ujungnya malah dibikin ngerasa salah.


Cara Deal dengan Orang Passive-Aggressive

Dealing dengan orang passive-aggressive emang challenging, tapi bukan berarti nggak mungkin. Ini beberapa cara yang bisa Puan coba:

  • Tetap tenang dan jangan ikutan emosi 

Kalau Puan ikutan kesel atau balas dengan passive-aggressive juga, situasinya bakal makin ribet. 

Set boundaries yang jelas 

  • Kasih tau kalau Puan lebih menghargai komunikasi yang jujur dan langsung. 

Bilang juga kalau perilaku passive-aggressive itu bikin Puan kurang nyaman.

  • Kalau perlu, keep your distance

Kalau orang tersebut nggak mau berubah dan hubungannya bikin Puan mentally exhausted, nggak apa-apa kok untuk kasih jarak.

Passive-aggressive mungkin terlihat sebagai cara yang "aman" untuk menghindari konflik, tapi sebenernya malah bikin masalah jadi makin rumit dan hubungan jadi nggak sehat. Komunikasi yang jujur, terbuka, dan asertif itu jauh lebih baik daripada nyimpen perasaan terus ngeluarinnya lewat cara-cara yang bikin orang lain bingung dan sakit hati.

Remember, everyone deserves to be heard. Jadi mulai sekarang, yuk practice untuk lebih direct dan jujur dalam berkomunikasi. It's okay to express your feelings, as long as you do it respectfully


Author & Editor: Anisa Zahara

Referensi:

Cherry, K. (2025, January 30). How to recognize passive-aggressive behavior. Verywell Mind. https://www.verywellmind.com/what-is-passive-aggressive-behavior-2795481

Adrian, K. (2024, November 13). Berkenalan dengan perilaku pasif-agresif. Alodokter. https://www.alodokter.com/berkenalan-dengan-perilaku-pasif-agresif

Komentar

Rubik Puan Popular

Raih Motivasi dan Kenikmatan Kerja: Mengatasi Rasa Jenuh dengan Tips-Tips Menarik!

Hey, Puan! Pernah nggak sih kamu merasa seperti waktu berjalan terlalu lambat saat melakukan pekerjaanmu? Yah, rasa bosan memang suatu hal yang bisa membuat kita bingung, apakah harus melanjutkannya atau berhenti saja. Tapi tahu nggak, terlalu memikirkannya justru bisa membuat pekerjaan kita nggak maksimal. Jangan khawatir, Puan! Rasanya jenuh saat bekerja itu wajar. Bayangkan aja, melakukan hal yang sama tiap harinya pasti bisa membuat rasa jenuh datang. Nah, biar Puan nggak bingung lagi menghadapi rasa jenuh yang kadang datang, simak deh tips-tips menarik berikut ini! Yuk, kita mulai dengan langkah awal untuk mengatasi rasa jenuh saat bekerja: 1. Ingat tujuan awalmu saat memulai pekerjaan ini Ketika Puan mengingat kembali tujuan awal yang mendorongmu memulai pekerjaan ini, ada kemungkinan besar semangat dan motivasi akan kembali menggelora. Hal ini pastinya akan mengurangi rasa jenuh saat Puan menjalankan tugas-tugasmu. 2. Berikan waktu untuk dirimu sendiri, coba ambil cuti liburan! ...

Mindfulness 101: Finding Your Focus in a World Full of Distractions

  sumber: magnific.com Puan pernah ngalamin nggak, lagi ngerjain tugas, terus ada satu notifikasi masuk, kemudian cek notifnya, balas satu chat, eh lanjut buka TikTok dan akhirnya lupa kalau tadi sebenarnya Puan lagi ngapain? Di tengah dunia yang full of distractions ini, perhatian kita rasanya gampang banget berpindah dari satu hal ke hal lainnya. Belum selesai satu informasi, sudah muncul informasi baru. Belum selesai proses berita satu, sudah ada berita lainnya. Tanpa sadar, kita bisa menghabiskan banyak waktu dengan gadget tanpa benar-benar sadar sedang melakukan apa. Di sinilah mindfulness bisa menjadi salah satu cara untuk membantu Puan lebih sadar terhadap bagaimana Puan menggunakan teknologi dan ke mana perhatian Puan pergi. Mindfulness Itu Apa, Sih? Mindfulness secara sederhana adalah kemampuan untuk menyadari dan benar-benar hadir terhadap apa yang sedang kita lakukan saat ini, tanpa langsung menghakimi pikiran atau perasaan yang muncul. Menurut Meegasdeniya dan Dulnath (...

Kenali Machiavellianism: Red Flag yang Sulit Banget Dideteksi

  Image by: WikiHow Pernah nggak sih ketemu orang yang bikin Puan selalu mikir dua kali? Yang di permukaan keliatan baik, supportive , bahkan charming , tapi entah kenapa ada yang terasa aneh. Puan nggak bisa jelasin kenapa, tapi setelah berinteraksi sama mereka, Puan sering merasa lelah, bingung, atau malah meragukan keputusan sendiri. Nah, kemungkinan Puan baru aja ketemu sama orang yang punya sifat Machiavellianism . Ini adalah salah satu red flag paling susah dideteksi karena mereka pandai banget menyamarkannya. Machiavellianism Itu Apa Sih? Istilah ini berasal dari buku Machiavelli , " The Prince" , ia berpendapat bahwa “tidak masalah melakukan apa pun untuk mendapatkan kekuasaan dan pengaruh.” Orang dengan kepribadian Machiavellian dapat memahami situasi sosial dan memanipulasinya untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan, meskipun tidak etis atau tidak mempertimbangkan dampaknya terhadap orang lain. Dalam keseharian, mereka selalu punya agenda tersembunyi dan pandai...

Learning Space Puan Bisa : Kenapa Banyak Perempuan Muda Susah Keluar Dari Problematika Karir?

Jakarta, 7 Februari 2026 - Puan Bisa, komunitas berbasis pemberdayaan perempuan muda Indonesia, memetakan permasalahan terkait dengan dinamika psikologi perempuan muda dalam menghadapi crisis identity khususnya berkaitan dengan arah karir. Hal ini mengakibatkan lebih dari 80% perempuan muda Indonesia mengalami demotivated, overthinking, resah, tidak percaya diri, dan dampak buruk lainnya. Berangkat dari pemetaan permasalahan tersebut, Puan Bisa mengadakan acara Learning Space Puan Bisa 2026 berkolaborasi dengan awardee Puan Bisa Festival 2025 dengan tema "Gap Between Hustle & Reality: Why Young Professionals Feels Stucks in Their Careers" yang dihadiri oleh dari 10 perempuan muda. Puan Bisa merupakan komunitas pemberdayaan perempuan muda Indonesia yang berdiri sejak 1 Oktober 2020. Puan Bisa memiliki fokus pada self-improvement, career, dan mental health. Melalui berbagai program pemberdayaan, Puan Bisa hadir memiliki tujuan untuk menginspirasi dan mengedukasi perempuan m...

Siaran Pers From Visible to Stand Out: Cara bikin HR “Ngeh” sama Profilmu di Puan Bisa Learning Space

28 Maret 2026 - Puan Bisa kembali hadirkan Learning Space bertema “ Early Career Branding: Crafting Your CV & LinkedIn for Visibility and Opportunity ” yang mengundang Kak Maria Qibtiyah, Human Capital Consultant dari PT Bitama sebagai pembicara. Program ini berhasil menjangkau puluhan peserta dari seluruh Indonesia melalui Online Zoom . Puan Bisa juga menggaet komunitas Grow Bareng sebagai kolaborator. Learning Space ini menjadi cara meningkatkan kemampuan personal branding , khususnya dalam pembuatan CV dan optimalisasi LinkedIn agar dapat membantu mahasiswa maupun pekerja muda untuk siap bekerja. Learning Space dihadirkan sebagai respons dari kebutuhan untuk meningkatkan personal branding di kalangan mahasiswa dan pekerja muda. Sebanyak 50 perempuan muda menerima dampak acara ini dan memberikan banyak feedback positif “ Dampak yang saya rasakan adalah dengan lebih mengetahui kelebihan dan kelemahan diri sendiri, yang memungkinkan peningkatan kualitas hidup ”,  ucap Ka...