Langsung ke konten utama

3 Buku Fiksi Bertema Mental Health untuk Puan Baca

Source: Bookshop.org Hai Puan!  Puan suka baca buku? Atau suka dengan isu-isu terkait mental health? Pengetahuan seputar topik mental health bukan hanya bisa didapatkan dari buku ilmiah atau nonfiksi, tetapi juga dari buku fiksi. Selain bisa menghibur Puan, buku fiksi juga bisa bikin Puan larut dan merasakan emosi serta perasaan dari tokoh-tokohnya.  Nah, buat Puan yang lagi cari rekomendasi buku fiksi tentang mental health, baca terus artikel ini sampai habis ya! 1. Challenger Deep karya Neal Shusterman Cerita dalam buku ini berdasarkan kisah dari putranya sendiri yang mengalami gangguan mental. Challenger Deep bercerita tentang Caden Bosch, yaitu seorang siswa SMA yang mengidap skizofrenia. Masalah tersebut membuatnya sering mengalami halusinasi. Alur cerita terbagi ke dalam dua dunia: kehidupan sekolah Caen sehari-hari dan sebuah pelayaran di atas kapal laut menuju Challenger Deep (titik terdalam di Palung Mariana). Perjalanan di atas kapal merupakan gambaran dari halusinas...

Passive Aggressive: Cara Toxic untuk Mengekspresikan Kemarahan



Image by: Applauz.me

Puan pernah nggak sih ketemu sama orang yang kalau lagi kesel, bukannya ngomong langsung malah ngeledek halus, ngasih silent treatment, atau bilang "gapapa kok" padahal jelas-jelas ada apa-apa? Atau Puan sendiri juga kadang begitu? Nah, perilaku kayak gini namanya passive-aggressive. Meskipun kelihatan sepele, passive-aggressive bisa bikin hubungan jadi toxic dan penuh salah paham kalau nggak ditangani dengan baik.


Apa Itu Passive-aggressive?

Passive-aggressive adalah perilaku yang terlihat biasa aja, bahkan seperti nggak disengaja atau netral, tapi sebenarnya menunjukkan sikap agresif secara tidak langsung. Menurut Verywell Mind, orang yang passive-aggressive cenderung menampilkan sifat agresif mereka secara tidak langsung daripada terang-terangan. Misalnya, mereka bisa nunjukin ketidaksetujuan dengan cara menunda-nunda pekerjaan, dingin, atau dengan sengaja jadi keras kepala. Jadi, ketika mereka punya masalah atau perasaan negatif, mereka nggak mau ngomong secara langsung dan lebih memilih cara-cara halus yang bikin orang lain bingung dan frustasi.


Contoh Perilaku Passive-Aggressive

Passive-aggressive bisa muncul dalam berbagai bentuk, dan kadang kita nggak sadar kalau kita lagi ngalamin atau bahkan ngelakuin hal ini.

Bayangin situasi ini: Puan tanya temen, "Mau makan di mana?" dia jawab "Terserah deh,” tapi begitu Puan pilih tempat, dia malah bilang "Oh... disitu? Ya udah deh" dengan muka cemberut dan sepanjang jalan diem aja. Ini contoh klasik passive-aggressive. Temen Puan sebenernya punya preferensi dan nggak setuju sama pilihan Puan, tapi dia nggak mau ngomong langsung. Alih-alih bilang "Aku maunya ke tempat lain nih,” dia malah bilang "terserah,” lalu nunjukin ketidakpuasannya lewat sikap dan body language. Ini yang bikin Puan jadi bingung, Puan disuruh milih sendiri tapi ujung-ujungnya malah dibikin ngerasa salah.


Cara Deal dengan Orang Passive-Aggressive

Dealing dengan orang passive-aggressive emang challenging, tapi bukan berarti nggak mungkin. Ini beberapa cara yang bisa Puan coba:

  • Tetap tenang dan jangan ikutan emosi 

Kalau Puan ikutan kesel atau balas dengan passive-aggressive juga, situasinya bakal makin ribet. 

Set boundaries yang jelas 

  • Kasih tau kalau Puan lebih menghargai komunikasi yang jujur dan langsung. 

Bilang juga kalau perilaku passive-aggressive itu bikin Puan kurang nyaman.

  • Kalau perlu, keep your distance

Kalau orang tersebut nggak mau berubah dan hubungannya bikin Puan mentally exhausted, nggak apa-apa kok untuk kasih jarak.

Passive-aggressive mungkin terlihat sebagai cara yang "aman" untuk menghindari konflik, tapi sebenernya malah bikin masalah jadi makin rumit dan hubungan jadi nggak sehat. Komunikasi yang jujur, terbuka, dan asertif itu jauh lebih baik daripada nyimpen perasaan terus ngeluarinnya lewat cara-cara yang bikin orang lain bingung dan sakit hati.

Remember, everyone deserves to be heard. Jadi mulai sekarang, yuk practice untuk lebih direct dan jujur dalam berkomunikasi. It's okay to express your feelings, as long as you do it respectfully


Author & Editor: Anisa Zahara

Referensi:

Cherry, K. (2025, January 30). How to recognize passive-aggressive behavior. Verywell Mind. https://www.verywellmind.com/what-is-passive-aggressive-behavior-2795481

Adrian, K. (2024, November 13). Berkenalan dengan perilaku pasif-agresif. Alodokter. https://www.alodokter.com/berkenalan-dengan-perilaku-pasif-agresif

Komentar

Rubik Puan Popular

Rasa Bosan Bisa Dijadikan Teman? Ini Manfaat Boredom yang Jarang Disadari

Sumber:  Magnific   Puan pernah nggak langsung membuka TikTok, Instagram, atau X hanya karena timbul rasa bosan akibat menunggu sesuatu? Kebiasaan seperti ini sangat umum terjadi karena otak Puan terbiasa mencari stimulasi setiap kali ada waktu kosong.  Mungkin, Puan sering kali menganggap rasa bosan sebagai sesuatu yang buruk, sehingga banyak dari Puan yang yang berlomba-lomba untuk menghilangkan perasaan tersebut dengan menjadi produktif Alih-alih mencerminkan bahwa diri Puan tidak produktif, rasa bosan dapat memberi kesempatan bagi otak untuk beristirahat dari banyaknya informasi yang silih berdatangan, memunculkan ide baru, hingga membantu Puan mengenali apa yang benar-benar bermakna.  Oleh karena itu, sesekali merasa bosan bukanlah hal yang buruk, selama terjadi dalam kadar yang wajar. Jika Puan merasa demikian, lalu Puan  tahu nggak sih apa itu boredom dan fakta lain dari boredom yang mungkin belum Puan ketahui. Apa Itu Boredom? Dalam psikologi, boredom a...

Hasty Generalization: Kesalahan Berpikir yang Sering Kita Lakukan

Image by: Grammarly.com Pernahkah Puan langsung bilang "Semua produk merek ini jelek," cuma gara-gara beli satu barang yang rusak? Atau mungkin Puan pernah denger temen cerita, "Nggak usah ke resto itu deh, pelayanannya buruk banget!" Padahal dia cuma sekali ke sana? Nah, ini dia yang namanya hasty generalization atau kesimpulan terburu-buru. Apa Sih Hasty Generalization Itu? Menurut Detik.com , Hasty Generalization adalah kekeliruan yang terjadi ketika seseorang menarik kesimpulan yang luas berdasarkan bukti yang tidak mampu atau tidak cukup. Dengan kata lain, kesimpulan tentang suatu hal terlalu terburu-buru diambil dan hanya didukung beberapa atau tidak cukup bukti yang jelas. Jadi, Hasty generalization adalah kesalahan logika yang terjadi ketika Puan mengambil kesimpulan umum dari sampel yang terlalu kecil atau tidak cukup mewakili. Bayangin gini, Puan cuma ketemu dua kucing yang galak, terus langsung bilang, "semua kucing itu galak!" Padahal di lu...

How to Stay Productive While Grieving

  Source: https://pin.it/5b4AbRDlY   Pernah nggak, Puan merasa harus tetap menjalani aktivitas seperti biasa, sementara hati dan pikiran masih memproses duka? Ketika sedang berduka, hal-hal sederhana seperti bangun dari tempat tidur, membalas chat atau sekadar fokus selama beberapa menit saja bisa terasa jauh lebih berat dari biasanya. Bukan karena Puan malas atau nggak mampu, tetapi karena grief dapat menguras energi kita. Namun, di sisi lain, hidup harus tetap berjalan. Ada tugas yang harus dikumpulkan, pekerjaan yang perlu diselesaikan, atau tanggung jawab yang nggak bisa begitu saja ditinggalkan. Lalu, bagaimana caranya tetap produktif tanpa memaksa diri untuk "baik-baik saja"? 1. Redefine What "Productive" Means Hal pertama yang perlu Puan perhatikan adalah definisi produktif itu sendiri. Produktif saat sedang berduka nggak melulu berarti menyelesaikan semua pekerjaan dalam satu hari. Karena ketika sedang berduka, kapasitas seseorang memang bisa berubah dari se...

Konsisten: Kunci Keberhasilan Perubahan

Image by: Tamasia.co.id Puan, pernahkah ngerasain susah banget buat konsisten? Misalnya, sudah bikin resolusi tahun baru untuk tidak begadang, tapi setelah dua bulan, balik lagi deh ke kebiasaan scroll TikTok sampai tengah malam. Kok susah banget ya buat tetap konsisten? Kenapa kita susah konsisten? Sebelum bahas lebih jauh, yuk pahami dulu apa itu konsistensi. Menurut KBBI, konsisten berarti tetap, nggak berubah-ubah, taat asas, atau selaras. Namun, kita sering menyamakan konsistensi dengan kesempurnaan. Contohnya, seseorang punya target tidur jam 9 malam setiap hari. Namun suatu waktu ia harus ngerjain tugas sampai jam 11, lalu langsung merasa gagal. Padahal sebenarnya, kalau dia masih bisa tidur sebelum jam 12, itu tetap jauh lebih baik daripada begadang. Nah, mindset “harus selalu sempurna” inilah yang sering bikin kita cepat menyerah saat ada satu hari bolong. Konsistensi bukan berarti 100% Puan, konsistensi itu nggak harus 100% setiap hari, kok. Ada kalanya kita cuma bisa kasih...

Lazy Ambitious: Melihat Ketakutan dalam Perencanaan

Apakah Puan pernah merasa stuck pada tahap perencanaan dan selalu merasa belum cukup maupun ragu untuk memulai rencana? Nah, fenomena ini disebut dengan Lazy Ambitious. Istilah Lazy Ambitious akhir-akhir ini ramai dibicarakan di media sosial karena menggambarkan fenomena anak muda yang terjebak dalam perencanaan yang telah dibuat, tetapi nggak mencoba untuk merealisasikan rencananya tersebut. Istilah Lazy Ambitious juga erat kaitannya dengan pembahasan psikologi procrastination yakni perilaku yang nggak bisa memanajemen waktu dan perasaan takut untuk gagal saat ingin melakukan sesuatu. Baca juga: "I Wish I Knew When I Was 20" Memahami Hidup Mulai dari Usia 20 Tahun Mengapa demikian? Yuk Priska kupas penyebab dari Lazy Ambitious ! Overthinking Dalam tahap perencanaan, jika Puan terlalu memikirkan banyak kemungkinan yang akan terjadi dari rencana Puan akan mengurangi waktu yang Puan miliki dan energi Puan akan habis untuk berpikir serta menganalisis segala kemungkinan tanpa ad...