Langsung ke konten utama

Cara Mengelola Stres: Teknik Sederhana yang Bisa Membantu Saat Pikiran Penuh

image by freepik   Puan pernah merasa capek, tapi nggak tau kenapa? Ada momen ketika tubuh sebenarnya nggak terlalu lelah, tetapi pikiran terasa penuh dan sulit berhenti. Hal-hal kecil tiba-tiba terasa berat, dan malam yang seharusnya menjadi waktu istirahat justru dipenuhi overthinking . Dalam kondisi seperti ini, banyak orang merasa kewalahan tanpa benar-benar tau penyebabnya. Sering kali kita menganggap stres sebagai sesuatu yang harus dihilangkan. Padahal, stres adalah respon alami tubuh. Ketika Puan berada di bawah tekanan, tubuh melepaskan hormon seperti Kortisol ( stress hormone ) yang meningkatkan kewaspadaan. Masalahnya, dalam kehidupan sehari-hari, “ancaman” sering kali berasal dari pikiran sendiri—bukan situasi nyata—sehingga tubuh terus berada dalam keadaan siaga. Teknik Sederhana untuk Mengelola Stres Berbagai teknik seperti pernapasan, olahraga, dan meditasi sebenarnya memiliki dasar ilmiah yang kuat. Namun, efektivitasnya sangat bergantung pada cara kita menerapkanny...

Passive Aggressive: Cara Toxic untuk Mengekspresikan Kemarahan



Image by: Applauz.me

Puan pernah nggak sih ketemu sama orang yang kalau lagi kesel, bukannya ngomong langsung malah ngeledek halus, ngasih silent treatment, atau bilang "gapapa kok" padahal jelas-jelas ada apa-apa? Atau Puan sendiri juga kadang begitu? Nah, perilaku kayak gini namanya passive-aggressive. Meskipun kelihatan sepele, passive-aggressive bisa bikin hubungan jadi toxic dan penuh salah paham kalau nggak ditangani dengan baik.


Apa Itu Passive-aggressive?

Passive-aggressive adalah perilaku yang terlihat biasa aja, bahkan seperti nggak disengaja atau netral, tapi sebenarnya menunjukkan sikap agresif secara tidak langsung. Menurut Verywell Mind, orang yang passive-aggressive cenderung menampilkan sifat agresif mereka secara tidak langsung daripada terang-terangan. Misalnya, mereka bisa nunjukin ketidaksetujuan dengan cara menunda-nunda pekerjaan, dingin, atau dengan sengaja jadi keras kepala. Jadi, ketika mereka punya masalah atau perasaan negatif, mereka nggak mau ngomong secara langsung dan lebih memilih cara-cara halus yang bikin orang lain bingung dan frustasi.


Contoh Perilaku Passive-Aggressive

Passive-aggressive bisa muncul dalam berbagai bentuk, dan kadang kita nggak sadar kalau kita lagi ngalamin atau bahkan ngelakuin hal ini.

Bayangin situasi ini: Puan tanya temen, "Mau makan di mana?" dia jawab "Terserah deh,” tapi begitu Puan pilih tempat, dia malah bilang "Oh... disitu? Ya udah deh" dengan muka cemberut dan sepanjang jalan diem aja. Ini contoh klasik passive-aggressive. Temen Puan sebenernya punya preferensi dan nggak setuju sama pilihan Puan, tapi dia nggak mau ngomong langsung. Alih-alih bilang "Aku maunya ke tempat lain nih,” dia malah bilang "terserah,” lalu nunjukin ketidakpuasannya lewat sikap dan body language. Ini yang bikin Puan jadi bingung, Puan disuruh milih sendiri tapi ujung-ujungnya malah dibikin ngerasa salah.


Cara Deal dengan Orang Passive-Aggressive

Dealing dengan orang passive-aggressive emang challenging, tapi bukan berarti nggak mungkin. Ini beberapa cara yang bisa Puan coba:

  • Tetap tenang dan jangan ikutan emosi 

Kalau Puan ikutan kesel atau balas dengan passive-aggressive juga, situasinya bakal makin ribet. 

Set boundaries yang jelas 

  • Kasih tau kalau Puan lebih menghargai komunikasi yang jujur dan langsung. 

Bilang juga kalau perilaku passive-aggressive itu bikin Puan kurang nyaman.

  • Kalau perlu, keep your distance

Kalau orang tersebut nggak mau berubah dan hubungannya bikin Puan mentally exhausted, nggak apa-apa kok untuk kasih jarak.

Passive-aggressive mungkin terlihat sebagai cara yang "aman" untuk menghindari konflik, tapi sebenernya malah bikin masalah jadi makin rumit dan hubungan jadi nggak sehat. Komunikasi yang jujur, terbuka, dan asertif itu jauh lebih baik daripada nyimpen perasaan terus ngeluarinnya lewat cara-cara yang bikin orang lain bingung dan sakit hati.

Remember, everyone deserves to be heard. Jadi mulai sekarang, yuk practice untuk lebih direct dan jujur dalam berkomunikasi. It's okay to express your feelings, as long as you do it respectfully


Author & Editor: Anisa Zahara

Referensi:

Cherry, K. (2025, January 30). How to recognize passive-aggressive behavior. Verywell Mind. https://www.verywellmind.com/what-is-passive-aggressive-behavior-2795481

Adrian, K. (2024, November 13). Berkenalan dengan perilaku pasif-agresif. Alodokter. https://www.alodokter.com/berkenalan-dengan-perilaku-pasif-agresif

Komentar

Rubik Puan Popular

Siaran Pers From Visible to Stand Out: Cara bikin HR “Ngeh” sama Profilmu di Puan Bisa Learning Space

28 Maret 2026 - Puan Bisa kembali hadirkan Learning Space bertema “ Early Career Branding: Crafting Your CV & LinkedIn for Visibility and Opportunity ” yang mengundang Kak Maria Qibtiyah, Human Capital Consultant dari PT Bitama sebagai pembicara. Program ini berhasil menjangkau puluhan peserta dari seluruh Indonesia melalui Online Zoom . Puan Bisa juga menggaet komunitas Grow Bareng sebagai kolaborator. Learning Space ini menjadi cara meningkatkan kemampuan personal branding , khususnya dalam pembuatan CV dan optimalisasi LinkedIn agar dapat membantu mahasiswa maupun pekerja muda untuk siap bekerja. Learning Space dihadirkan sebagai respons dari kebutuhan untuk meningkatkan personal branding di kalangan mahasiswa dan pekerja muda. Sebanyak 50 perempuan muda menerima dampak acara ini dan memberikan banyak feedback positif “ Dampak yang saya rasakan adalah dengan lebih mengetahui kelebihan dan kelemahan diri sendiri, yang memungkinkan peningkatan kualitas hidup ”,  ucap Ka...

Ibu2Canggih Moms Gathering Ramadan Moments Hadirkan Inspirasi dan Kebersamaan Bersama 100 Momfluencers

  Ibu2Canggih Moms Gathering Ramadan Moments Hadirkan Inspirasi dan Kebersamaan Bersama 100 Momfluencers  Lebih dari 100 momfluencer merayakan kebersamaan dalam suasana Ramadan yang hangat melalui acara bertajuk “Ibu2Canggih Moms Gathering Ramadan Moments”, Sabtu (7/3). Jakarta, 7 Maret 2026 - Komunitas Ibu2Canggih kembali menghadirkan ruang inspiratif bagi para ibu. Kali ini, lebih dari 100 momfluencer merayakan kebersamaan dalam suasana Ramadan yang hangat melalui acara bertajuk “Ibu2Canggih Moms Gathering Ramadan Moments”, Sabtu (7/3). Bertempat di The Hub Sinar Mas Land, Kuningan, Jakarta Selatan, Ibu2Canggih menghadirkan berbagai aktivitas yang dikemas secara edukatif dan interaktif. Meski berlangsung di tengah puasa, para momfluencer sangat antusias mengikuti rangkaian acara. Beberapa aktivitas adalah educative talkshow , menjelajahi berbagai booth corner , hingga berpartisipasi dalam aktivitas booth hunt . Mereka pun berkesempatan memenangkan berbagai hadiah melalui ses...

Cara Mengelola Stres: Teknik Sederhana yang Bisa Membantu Saat Pikiran Penuh

image by freepik   Puan pernah merasa capek, tapi nggak tau kenapa? Ada momen ketika tubuh sebenarnya nggak terlalu lelah, tetapi pikiran terasa penuh dan sulit berhenti. Hal-hal kecil tiba-tiba terasa berat, dan malam yang seharusnya menjadi waktu istirahat justru dipenuhi overthinking . Dalam kondisi seperti ini, banyak orang merasa kewalahan tanpa benar-benar tau penyebabnya. Sering kali kita menganggap stres sebagai sesuatu yang harus dihilangkan. Padahal, stres adalah respon alami tubuh. Ketika Puan berada di bawah tekanan, tubuh melepaskan hormon seperti Kortisol ( stress hormone ) yang meningkatkan kewaspadaan. Masalahnya, dalam kehidupan sehari-hari, “ancaman” sering kali berasal dari pikiran sendiri—bukan situasi nyata—sehingga tubuh terus berada dalam keadaan siaga. Teknik Sederhana untuk Mengelola Stres Berbagai teknik seperti pernapasan, olahraga, dan meditasi sebenarnya memiliki dasar ilmiah yang kuat. Namun, efektivitasnya sangat bergantung pada cara kita menerapkanny...

Mengenal Impulsive Buying: Faktor Pemicu dan Cara Mengatasinya

  Ilustrasi seseorang yang melakukan impulsive buying (beyondfinance.com) Pernah nggak sih, Puan lagi asyik scrolling media sosial, terus tiba-tiba muncul iklan barang yang menurut Puan lucu banget? Tanpa pikir panjang, Puan langsung masukkin ke keranjang , masukin PIN, dan check out! Transaksi berhasil. Eh, pas barangnya sampai tiga hari setelahnya, Puan malah bingung sendiri, "Kemarin kepikiran apa ya sampai beli ini?" Berarti, Puan baru saja terjebak dalam fenomena impulsive buying . Tenang, Puan nggak sendirian kok. Tapi kalau dibiarin terus, dompet bisa nangis di akhir bulan. Yuk, Priska bedah kenapa ini terjadi dan gimana cara mengatasinya tanpa harus ngerasa tersiksa. Kenapa Kita Suka Banget Belanja Tiba-Tiba? Secara psikologis, belanja itu memicu hormon dopamin alias hormon bahagia di otak Puan. Saat Puan melihat barang baru yang menarik, otak langsung ngebayangin betapa senengnya Puan kalau punya barang itu. Apalagi kalau ada tulisan "Diskon 70%" atau ...

Mengubah Pikiran Negatif Menjadi Positif: Membangun Mindset Penuh Keyakinan dan Optimisme

Apakah Puan sering merasa terjebak dalam pikiran negatif yang menghalangi Puan meraih potensi dan kebahagiaan? Jika iya, maka Puan berada di tempat yang tepat. Artikel ini akan membahas cara mengubah pikiran negatif menjadi positif dengan membangun mindset yang penuh keyakinan dan optimisme. Mindset, atau pola pikir, merupakan pondasi penting dalam menjalani kehidupan yang sukses dan membangun kebahagiaan. Pikiran negatif seperti keraguan, rasa tidak berharga, dan kecemasan dapat merusak mindset Puan dan menghalangi Puan mencapai potensi terbaik.  Namun, Puan tidak perlu putus asa. Ada beberapa langkah praktis yang dapat Puan lakukan untuk mengubah pikiran negatif menjadi positif: Kesadaran akan pikiran negatif: Puan perlu mengenali dan menyadari pola pikir negatif yang muncul dalam diri Puan. Coba identifikasi pikiran-pikiran tersebut dan berikan pengertian bahwa Puan memiliki kendali atas pikiran-pikiran itu. Reframing: Saat Puan menghadapi pikiran negatif, coba ubah perspektif...