Langsung ke konten utama

Mengupas High Functioning Anxiety Lewat Buku “I Want To Die But I Want To Eat Tteokpokki”

  Menjadi perempuan muda yang aktif, punya banyak kegiatan organisasi, dan tetap menjaga nilai akademik biar selalu lancar tentu jadi hal yang membanggakan. Gak heran kalau kita selalu berusaha memberikan yang terbaik dan tetap tersenyum ramah di tengah padatnya jadwal sehari-hari. Tapi jujur deh, pernah gak sih Puan merasa kalau semua keproduktifan dan senyuman itu sebenarnya cuma tameng biar kita kelihatan tangguh? Begitu malam tiba dan sendirian di kamar, rasa hampa dan lelah yang luar biasa itu sering kali datang dan susah untuk dihindari. Fenomena ketika kita tetap bersikap normal di luar padahal yang sebenarnya sedang merasa cemas ini disebut sebagai masking atau high functioning anxiety . Isu inilah yang dibahas secara gamblang dalam buku “I Want To Die but I Want To Eat Tteokbokki” karya Baek Sehee. Setiap Luka Punya Hak untuk Merasa Sakit Sering kali kita merasa cemas atau bersalah karena menganggap masalah kita sepele dibanding orang lain. Padahal, buku ini mengingatkan ...

Soft Skill dan Hard Skill yang Wajib Dipelajari Untuk Bekal Penting Karir Impian!




Kenapa Kita Harus Belajar Skill Sebelum Masuk Dunia Kerja?

Masuk dunia kerja itu beda banget dengan dunia kuliah, Puan. Kalau di kampus yang dinilai adalah tugas, maka di pekerjaan yang dinilai adalah output, attitude, kemampuan bekerja sama, dan keahlian yang bisa memberikan dampak nyata.

Itulah kenapa “bekal” sebelum masuk dunia kerja itu penting, dan bekalnya bukan cuma ilmu teori, tapi juga soft skill dan hard skill.

Menurut laporan dari World Economic Forum (Future of Jobs Report 2024), kandidat yang punya kombinasi soft skill dan hard skill yang kuat punya peluang lebih cepat diterima kerja dan lebih cepat naik posisi, lho!

Apa Itu Hard Skill?

Hard skill adalah kemampuan teknis yang biasanya bisa diukur, dipelajari, dan diuji, contohnya: belajar software tertentu, kemampuan analisis data, atau membuat presentasi profesional. Hard skill biasanya dicantumkan dalam CV karena sifatnya jelas dan spesifik.

Hard Skill yang Lagi Banyak Dicari Saat Ini:

  • Microsoft Office & Google Workspace: Minimal bisa Excel dasar, Word, dan PPT. Ini basic banget, Puan.

  • Digital Literacy: Mampu menggunakan platform digital untuk kerja: email profesional, cloud, sistem kolaborasi.

  • Data Handling & Research Skill: Dunia kerja saat ini semakin berbasis data, dapat membaca, memahami, dan mengambil keputusan dari data itu merupakan aset besar.

  • Content Creation & Marketing Tools (Opsional Tapi Bernilai Tambah): Canva, CapCut, atau basic media plan: berguna banget terutama untuk pekerjaan kreatif atau marketing.

  • Language Skill (English Minimal Passive Use): Banyak perusahaan butuh komunikasi internasional yaitu email, meeting, atau laporan.

  • Software sesuai industri
    Contoh:

    • HR: HRIS / payroll tools

    • Finance: Accurate, SAP

    • Creative: Adobe, Figma

    • IT: Python, SQL

Hard skill ini akan terus berkembang seiring posisi dan industri yang Puan jalani.

Lalu, Apa Itu Soft Skill?

Soft skill adalah kemampuan personal dan interpersonal yaitu bagaimana Puan berpikir, bersikap, berkomunikasi, dan bekerja dengan orang lain, dan kabar pentingnya soft skill hampir selalu menentukan siapa yang dapat kesempatan, bukan hanya hard skill.

Menurut LinkedIn Learning Report, 80% rekruter menyatakan bahwa soft skill lebih sulit diajarkan dibandingkan hard skill, karena itu kandidat dengan soft skill yang kuat lebih dihargai.

Soft Skill Wajib untuk Dunia Kerja:

  • Communication Skill: Cara Puan menyampaikan ide dengan jelas dan profesional baik verbal maupun tulisan.

  • Time Management & Work Discipline: Mengatur prioritas, deadline, dan konsistensi.

  • Critical Thinking & Problem Solving: Tidak hanya bertanya, tapi juga bisa memberi solusi.

  • Teamwork & Collaboration: Karena tempat kerja bukan perlombaan tapi sistem kerja bersama.

  • Growth Mindset: Mau belajar, terbuka dengan feedback, dan nggak mudah menyerah.

  • Emotional Intelligence: Paham perasaan diri, menghargai orang lain, dan tetap tenang ketika tekanan datang.

Jadi, Mana yang Lebih Penting: Soft Skill atau Hard Skill?

Keduanya penting dan saling melengkapi, Puan. Bayangkan seperti ini:
Hard skill adalah “alat”. Soft skill adalah “cara menggunakan alat itu untuk memberikan hasil terbaik.”

Contohnya:

  • Bisa desain (hard skill)
    tapi nggak bisa komunikasi dengan klien (soft skill), maka pekerjaannya bisa salah arah.

  • Bisa analisis data (hard skill)
    tapi nggak bisa presentasi hasilnya (soft skill), maka skill-nya nggak terbaca.

Kombinasi keduanya yang membuat Puan unggul.

Bagaimana Mulai Membangun Skill Ini?

Mulailah dari langkah kecil:

  • Ikut event workshop atau pelatihan profesional

  • Belajar lewat platform online (gratis atau berbayar)

  • Minta feedback dari mentor atau atasan

  • Latihan lewat pengalaman kecil: organisasi, freelance, magang

Semakin Puan berlatih, skill ini akan semakin terasa manfaatnya.

Puan, dunia kerja bukan tentang siapa yang paling cepat masuk tapi siapa yang masuk dengan bekal terbaik. Soft skill akan membentuk cara Puan bekerja. Hard skill akan membuat pekerjaan Puan bermakna dan berkualitas.

Dan kombinasi keduanya?
Itulah yang membawa Puan bukan cuma bekerja tapi bertumbuh.

Jadi, mulai hari ini, yuk siapkan diri Puan.
Karena masa depan tidak hanya menunggu, tetapi bisa Puan kejar, bangun, dan miliki.



Referensi:


Author & Editor: Irda Adelina Dalimunthe

Komentar

Rubik Puan Popular

Mengupas High Functioning Anxiety Lewat Buku “I Want To Die But I Want To Eat Tteokpokki”

  Menjadi perempuan muda yang aktif, punya banyak kegiatan organisasi, dan tetap menjaga nilai akademik biar selalu lancar tentu jadi hal yang membanggakan. Gak heran kalau kita selalu berusaha memberikan yang terbaik dan tetap tersenyum ramah di tengah padatnya jadwal sehari-hari. Tapi jujur deh, pernah gak sih Puan merasa kalau semua keproduktifan dan senyuman itu sebenarnya cuma tameng biar kita kelihatan tangguh? Begitu malam tiba dan sendirian di kamar, rasa hampa dan lelah yang luar biasa itu sering kali datang dan susah untuk dihindari. Fenomena ketika kita tetap bersikap normal di luar padahal yang sebenarnya sedang merasa cemas ini disebut sebagai masking atau high functioning anxiety . Isu inilah yang dibahas secara gamblang dalam buku “I Want To Die but I Want To Eat Tteokbokki” karya Baek Sehee. Setiap Luka Punya Hak untuk Merasa Sakit Sering kali kita merasa cemas atau bersalah karena menganggap masalah kita sepele dibanding orang lain. Padahal, buku ini mengingatkan ...

Sambut Tahun Ajaran Baru, Hoshizora Foundation Kembali Perluas Kesempatan Anak Lanjut Sekolah Lewat Pembukaan Beasiswa Mimpi Anak Negeri 2026

Poster pembukaan pendaftaran Beasiswa Mimpi Anak Negeri (hoshizora.org) Yogyakarta, Juli 2026 – Setiap anak berhak memiliki kesempatan yang sama untuk meraih masa depan melalui pendidikan berkualitas. Untuk mewujudkan komitmen tersebut, Hoshizora Foundation kembali membuka pendaftaran Beasiswa Mimpi Anak Negeri (BMAN) 2026 yang berlangsung pada 6 hingga 19 Juli 2026. Program beasiswa ini ditujukan bagi siswa/i kelas IV SD hingga kelas X SMA yang akan segera memasuki tahun ajaran baru 2026/2027. Fokus menargetkan anak-anak dari keluarga pra sejahtera di seluruh Indonesia, Hoshizora Foundation membuka kesempatan dukungan pendidikan bagi siswa yang memiliki semangat belajar tinggi dan memiliki keinginan kuat meraih cita-cita, walaupun di tengah keterbatasan ekonomi.  Beasiswa Mimpi Anak Negeri merupakan salah satu program utama Hoshizora Foundation sejak 2006 yang tidak hanya memberikan bantuan biaya pendidikan, tetapi juga memfasilitasi pendampingan secara berkelanjutan kepada pener...

Membaca Buku: Cara Mudah dan Murah untuk Menjaga Mental Health

Ilustrasi seseorang yang sedang membaca buku (unsplash.com) Hai Puan! Akhir-akhir ini, kegiatan membaca buku jadi tren yang dinikmati oleh berbagai kalangan. Banyak orang yang mulai tertarik dengan tren literasi di media sosial. Apalagi saat ini banyak sekali akun influencer pecinta buku yang aktif mengunggah konten terkait ulasan buku di media sosial, seperti Instagram, TikTok, dan X.  Hal ini menyebabkan seseorang yang awalnya belum suka atau belum tertarik membaca buku dapat terpengaruh. Tak jarang, beberapa orang hanya membaca karena ikut-ikutan dan takut tertinggal tren. Padahal, meneruskan kebiasaan membaca tidak hanya meningkatkan pengetahuan, tetapi juga bisa bermanfaat untuk kesehatan, khususnya kesehatan mental. Beberapa manfaat membaca buku bagi kesehatan mental yang harus Puan ketahui: 1. Membaca buku dapat mengurangi stres.   Penelitian menunjukkan bahwa membaca hanya enam menit dalam sehari dapat mengurangi tingkat stres hingga 60% dengan menurunkan detak jantun...

“I Wish I Knew When I Was 20” Memahami Hidup Mulai dari Usia 20 Tahun

  Buku "What I Wish I Knew When I Was 20" karya Prof. Tina Seelig (Amazon.com) Menginjak usia 20 terlihat menyenangkan karena Puan telah memiliki kebebasan atas diri sendiri. Di usia muda, tubuh Puan masih bertenaga maksimal dan optimal, pikiran masih fresh , ide-ide yang dikeluarkan masih up to date , intinya Puan lagi ada di masa-masa emas untuk mengembangkan suatu hal. Namun, yang jarang terlihat adalah masa saat Puan merasa clueless akan hidup Puan sendiri untuk memutuskan karir dan perjalanan hidup Puan ke depannya. Baca juga: Motivasi Bukan Ditunggu, tapi Dicari Lewat Aksi Lalu, apa saja sebenarnya hal yang harus dipahami untuk menjalani hidup saat menginjak usia 20 tahun? Mengutip dari buku “What I Wish I Knew When I Was 20” karya Prof. Tina Seelig ada beberapa hal yang dapat Puan lakukan: Jangan Menunggu, Tapi Ciptakan! Seringkali Puan berpikir untuk menunggu kesempatan datang, menunggu orang lain yang membukanya, menunggu offering yang datang. Padahal, Puan bisa men...

Tidak Semua Zona Nyaman Perlu Ditinggalkan

                                                                                   Image by: Pinterest   Puan pernah denger nggak sih satu nasihat ini: “keluar dari zona nyaman kalau mau berkembang.” Masalahnya, tidak semua orang bertahan di zona nyaman itu stagnan. Dan tidak semua orang yang keluar dari zona nyaman benar-benar bertumbuh. Jadi, pertanyaannya bukan lagi harus keluar atau tidak, tapi: Apakah Puan tahu kapan harus tetap tinggal, dan kapan harus melangkah? Baca Juga:   Dealing dengan Comparison Trap Saat Lebaran Zona Nyaman Tidak Selalu Musuh Zona nyaman sering digambarkan sebagai tempat yang “menjebak.” Padahal, dalam banyak kasus, justru di sanalah Puan dapat membangun stabilitas. Zona nyaman bisa berarti: rutinitas ...