Langsung ke konten utama

Intentional Pause: Berhenti Sejenak Bukan Berarti Menyerah

  Sumber: pexels.com Halo, Puan! Puan pernah gak sih merasa harus selalu produktif? Baru selesai satu target, Puan udah langsung memikirkan target berikutnya. Apalagi kalau Puan lihat pencapaian orang lain di media sosial, rasanya jadi pengen ikut lari lebih cepat biar gak ketinggalan. Bahkan ketika sedang beristirahat pun, bisa muncul perasaan bersalah karena merasa gak cukup produktif. Tanpa sadar, Puan telah hidup dalam ritme yang menuntut semuanya serba cepat, cepat sukses, cepat berkembang, cepat mengambil keputusan, dan cepat mencapai tujuan. Padahal, sometimes, the most productive thing you can do is simply pause. Di tengah kehidupan yang serba cepat ini, mengambil jeda secara sadar atau intentional pause bisa menjadi cara untuk refleksi dan kembali terhubung dengan diri sendiri. Bukan sekadar berhenti dari kesibukan, tapi memberi ruang untuk berpikir, merefleksikan keadaan, dan menentukan step atau goals berikutnya dengan lebih bijak. Intentional pause dapat membantu Puan...

Sering Mengabaikan Jam Tidur? Awas Sleep Deprivation!



Di umur segini, setuju ga sih kalo kita jadi sering begadang? Kapan terakhir kali Puan punya waktu tidur yang cukup? Eits, hati-hati ya sama sleep deprivation!

Sering kali, sleep deprivation ini dianggap sepele. Padahal, kurang tidur bisa bikin kita susah fokus, gampang marah, dan sulit mengendalikan emosi. Jadi, jangan heran jika setelah begadang, kita jadi gampang sensitif atau sulit konsentrasi saat bekerja maupun belajar.


Apa itu Sleep Deprivation?

Kondisi saat seseorang kurang tidur atau tidurnya kurang berkualitas disebut sleep deprivation. Idealnya, kita yang sudah dewasa (usia 18 tahun ke atas) butuh tidur 7-9 jam setiap malam.

Dampak dari sleep deprivation ini lumayan mengganggu. Puan jadi susah fokus saat bekerja, belajar, atau menyetir. Selain itu, seseorang yang mengalami sleep deprivation juga bisa jadi sulit memahami emosi orang lain dan mudah merasa kesal, marah, atau cemas.

Sleep deprivation memang bisa bikin aktivitas sehari-hari berantakan. Namun, sering kali kondisi ini disamakan dengan insomnia, padahal keduanya berbeda.


Perbedaan Sleep Deprivation dengan Insomnia

Singkatnya, insomnia itu kondisi di mana Puan susah sekali tidur, meskipun sudah mencoba. Sementara sleep deprivation lebih merujuk pada akibatnya, yaitu ketika Puan memang tidak  tidur dengan waktu yang cukup.

Jadi, insomnia bisa menjadi penyebab sleep deprivation, tapi tidak semua sleep deprivation disebabkan oleh insomnia. Lalu, apa saja penyebab lain dari sleep deprivation?

 

Penyebab Sleep Deprivation

Kebanyakan sleep deprivation disebabkan oleh gaya hidup atau kondisi medis tertentu.

  • Pekerjaan shift, terutama yang dilakukan di malam hari.
  • Konsumsi stimulan seperti kafein, khususnya di sore atau malam hari.
  • Kebiasaan tidur atau sleep hygiene yang buruk.
  • Tingkat stres yang tinggi.
  • Tidur di tempat baru atau asing, misalnya di hotel.
  • Kondisi medis seperti sleep apnea atau napas berhenti saat tidur.
  • Masalah kesehatan mental seperti depresi dan anxiety.

Jika Puan mengalami salah satu dari kondisi di atas, jangan langsung panik. Priska punya beberapa tips yang bisa dicoba untuk memulihkannya.

 

Tips Memulihkan Gejala Sleep Deprivation

Sleep deprivation itu masalah umum dan sering kali bisa diatasi sendiri, selama belum terlalu parah. Namun, kalau gejalanya terus-menerus muncul, sebaiknya segera konsultasikan dengan dokter, ya.

  1. Agar sleep deprivation cepat pulih, Puan dapat menerapkan beberapa tips di bawah ini.
  2. Jadwalkan waktu tidur. Jam tidur yang konsisten bisa meningkatkan kualitas tidur kita.
  3. Sediakan waktu tidur yang cukup. Sesibuk apa pun, tidur itu penting. Ingat, tubuh yang produktif dimulai dari tidur yang cukup.
  4. Jauhi gadget atau lampu terang menjelang tidur. Cahaya dari layar HP dan laptop bisa mengacaukan jam biologis tubuh.
  5. Hindari makan berat sebelum tidur agar tubuh bisa beristirahat dengan sempurna.
  6. Rajin berolahraga. Aktivitas fisik, bahkan sekadar jalan kaki, bisa membantu meningkatkan kualitas tidur.
  7. Jangan ketergantungan obat tidur. Penggunaan obat tidur dalam jangka panjang, bahkan yang dijual bebas, bisa berdampak buruk bagi kesehatan.


Dengan memahami apa itu sleep deprivation dan bagaimana dampaknya, kita bisa lebih sadar akan pentingnya menjaga kualitas tidur. Memiliki jadwal tidur yang teratur, menghindari gadget sebelum tidur, dan berolahraga rutin adalah langkah sederhana yang bisa sangat membantu memulihkan gejala sleep deprivation.

Tidur bukan cuma soal memejamkan mata, tapi juga investasi untuk kesehatan dan produktivitas kita di hari mendatang. Yuk, mulai sekarang kita lebih peduli pada waktu tidur!


Referensi

Cleveland Clinic

National Heart, Lung, and Blood Institute of United States


Author & Editor

Dwi Khumaeroh Saadah


Komentar

Rubik Puan Popular

Raih Motivasi dan Kenikmatan Kerja: Mengatasi Rasa Jenuh dengan Tips-Tips Menarik!

Hey, Puan! Pernah nggak sih kamu merasa seperti waktu berjalan terlalu lambat saat melakukan pekerjaanmu? Yah, rasa bosan memang suatu hal yang bisa membuat kita bingung, apakah harus melanjutkannya atau berhenti saja. Tapi tahu nggak, terlalu memikirkannya justru bisa membuat pekerjaan kita nggak maksimal. Jangan khawatir, Puan! Rasanya jenuh saat bekerja itu wajar. Bayangkan aja, melakukan hal yang sama tiap harinya pasti bisa membuat rasa jenuh datang. Nah, biar Puan nggak bingung lagi menghadapi rasa jenuh yang kadang datang, simak deh tips-tips menarik berikut ini! Yuk, kita mulai dengan langkah awal untuk mengatasi rasa jenuh saat bekerja: 1. Ingat tujuan awalmu saat memulai pekerjaan ini Ketika Puan mengingat kembali tujuan awal yang mendorongmu memulai pekerjaan ini, ada kemungkinan besar semangat dan motivasi akan kembali menggelora. Hal ini pastinya akan mengurangi rasa jenuh saat Puan menjalankan tugas-tugasmu. 2. Berikan waktu untuk dirimu sendiri, coba ambil cuti liburan! ...

Mindfulness 101: Finding Your Focus in a World Full of Distractions

  sumber: magnific.com Puan pernah ngalamin nggak, lagi ngerjain tugas, terus ada satu notifikasi masuk, kemudian cek notifnya, balas satu chat, eh lanjut buka TikTok dan akhirnya lupa kalau tadi sebenarnya Puan lagi ngapain? Di tengah dunia yang full of distractions ini, perhatian kita rasanya gampang banget berpindah dari satu hal ke hal lainnya. Belum selesai satu informasi, sudah muncul informasi baru. Belum selesai proses berita satu, sudah ada berita lainnya. Tanpa sadar, kita bisa menghabiskan banyak waktu dengan gadget tanpa benar-benar sadar sedang melakukan apa. Di sinilah mindfulness bisa menjadi salah satu cara untuk membantu Puan lebih sadar terhadap bagaimana Puan menggunakan teknologi dan ke mana perhatian Puan pergi. Mindfulness Itu Apa, Sih? Mindfulness secara sederhana adalah kemampuan untuk menyadari dan benar-benar hadir terhadap apa yang sedang kita lakukan saat ini, tanpa langsung menghakimi pikiran atau perasaan yang muncul. Menurut Meegasdeniya dan Dulnath (...

Fenomena Doom Scrolling, Kebiasaan yang Bikin Burn Out

  " Scroll bentar deh.." Terus tanpa sadar mata mulai berat, tangan pegal, dan lupa waktu sendiri. Pernah ngalamin hal serupa? Kalau iya, berarti Puan lagi ngalamin yang namanya doom scrolling . Doom scrolling itu kalau Puan terus-terusan mengonsumsi informasi, terutama berita negatif yang ada pada sosial media. Menurut Cambdrige Dictionary , kata "Doomscr oll" mengacu kepada tindakan  terlalu sering menatap layar  untuk membaca berita buruk atau kurang  berbobot.  Nah, dari sini mungkin banyak Puan yang jadi ngerti apa itu doom scrolling , istilah yang belakangan sering muncul di internet. Kalau kita teliti, lagi  penyebabnya nggak bakalan lepas dari ketergantungan kita  pada handphone .  Hampir setiap hari kita menerima banyak pesan notifikasi. Terlepas  isinya penting atau tidak terlalu penting secara refleks pasti kita cek kalau dibiarkan menimbulkan rasa cemas atau anxiety,   seakan ada hal tertinggal jika kita tidak membuka lay...

Emotional Agility: Cara Bijak Mengelola Emosi

Sumber:  aventislearning.com Puan, bagaimana kalau emosi bukan musuh yang harus dihindari, melainkan sahabat yang bisa memandu kita untuk mengambil keputusan yang lebih bijak? Setiap hari Puan berhadapan dengan emosi yang beragam: senang, cemas, marah, kecewa, sampai rasa tidak berdaya. Sering kali, Puan diajarkan untuk menekan emosi tertentu dan menampilkan emosi lain agar terlihat “baik-baik saja”. Masalahnya, cara ini justru membuat jadi makin lelah. Emosi jadi menumpuk dan akhirnya meledak. Di sisi lain, ada juga yang membiarkan emosi menguasai dirinya. Sedikit kritik bisa membuat patah semangat, atau kegagalan kecil terasa seperti bencana yang besar. Padahal, emosi bukan musuh yang harus dihindari maupun hal yang harus ditaati. Yang kita butuhkan bukan “ positivity berlebihan ”, melainkan keterampilan untuk merespons emosi secara sehat dan fleksibel. Keterampilan inilah yang disebut emotional agility . Apa Itu Emotional Agility? Konsep ini diperkenalkan oleh psikolog Susan Dav...

Membuka Kembali Memori Melalui Pameran ACE 5.0: INNER CHILD

  Masa kecil sering kali menjadi sumber kepolosan, kekreatifan, dan keajaiban yang mungkin telah kita lupakan di tengah kesibukan dan tekanan kehidupan dewasa. Namun, di tengah gemuruh kota metropolitan, ada suatu perayaan yang mengundang kita untuk merenungkan kembali sisi kecil yang mungkin telah kita lupakan: ACE 5.0: INNER CHILD . Pameran seni tidak selalu hanya tentang memamerkan karya, tetapi juga tentang membuka pintu menuju introspeksi dan penemuan diri. Di tengah sorotan pameran kreatif yang diselenggarakan oleh Klub LSPR Advertising Society , ACE 5.0: INNER CHILD, pengunjung diajak untuk membenamkan diri dalam dunia kepolosan dan kekreatifan masa kecil. Setiap tahun, Klub LSPR Advertising Society menggelar Advertising Creative Exhibition (ACE) , sebuah pameran seni yang memamerkan karya-karya kreatif dari para anggotanya. Setelah suksesnya ACE sebelumnya yang mengangkat tema 'Gender Equality' dengan tajuk SETARA “Setingkat dan Sederajat”, kini ACE kembali hadir dalam ...